Cari Blog Ini

Selasa, 09 Oktober 2012

Jalan-jalan ke Jogja - Gunung Kidul

Kali ini aku 'terpaksa' meninggalkan sepeda di rumah karena aku berweekend bersama anak semata wayangku. Aku belum sempat menulis jalan-jalanku ke Kalisuci -- dalam rangka cavetubing -- dan dolan ke Pantai Indrayanti, karena sekalian menunggu kiriman foto-foto dari panitia, plus menunggu film di kamera Angie -- anakku -- habis, baru akan kita cuci scan. :) Aku dan Angie sama-sama tidak berani mempertaruhkan 'keselamatan' hp dan kamera (pinjaman) milik Ranz untuk dibawa cavetubing sehingga kita belum punya dokumentasi ketika kita cavetubing. :) Mohon maklum. :-D

Di bawah ini beberapa foto jepretan aku atau pun Angie ketika dolan ke Jogja dan Gunung Kidul tanggal 6-7 Oktober 2012. :)

Happy watching. :)

habis belanja di Malioboro :)

Malioboro

do you call this 'mural'?

graffiti?

dalam bus menjelang berangkat ke Gunung Kidul

Angie dalam bus menjelang berangkat ke Gunung Kidul

ruang tunggu di pombensin yang berhotspot dan ada tv nya di daerah Wonosari

menuju sekretariat cavetubing Kalisuci

sekretariat cavetubing Kalisuci

daerah sekeliling sekretariat

daerah sekeliling sekretariat

jalan setapak menuju Kalisuci


Pantai Indrayanti yang penuh pengunjung

Angie mejeng :)

senja di Pantai Indrayanti

narcist is my middle name :-D

Angie bermain pasir

Angie and her GG

senja di Pantai Indrayanti

Angie dan senja

no comment yak? :)

we both are in red :)

karang di Pantai Indrayanti

bukit di lapangan parkir 
C-net 20.43 091012

Gomingpai: Gowes ke Jembatan Londo


MINGGU 30 September 2012

Aku ingin gowes ke arah waduk Cengklik dimana kata Ranz di dekat situ ada jembatan irigasi peninggalan pemerintah kolonial Belanda, pulangnya aku ingin mampir ke soto seger Mbok Giyem. Namun ketika kita meninggalkan Jongke, Ranz mengajak lewat CFD di Jalan Slamet Riyadi dulu. Kebetulan waktu itu Railbus kebanggaan warga Solo sedang berhenti dimana sebuah stasiun televisi sedang mewawancarai Jokowi atas keberhasilannya memenangi Pilkada DKI Jakarta. Bisa dibayangkan ramainya suasana waktu itu.
Ketika meninggalkan CFD, Ranz menyarankan untuk langsung ke kawasan jembatan irigasi yang terkenal dengan sebutan “Jembatan Londo” dan tak perlu gowes ke Waduk Cengklik karena aku ingin kembali ke Semarang di siang hari sehingga kita perlu mengirit waktu. Ya aku mengiyakan saja.

Mungkin Jembatan Londo terletak kurang lebih 10 – 12 kilometer dari Jongke. Beberapa bulan lalu Ranz sempat ‘adu argumentasi’ dengan seseorang yang mengatakan bahwa jembatan irigasi ini tidak bakal cukup dilewati jika seseorang membawa ‘bronjong’ di sepeda/sepeda motornya dikarenakan sempitnya jembatan ini. Ranz tidak perlu repot-repot berargumentasi sebenarnya karena dia punya foto sebagai bukti bahwa jembatan ini bisa dilewati orang yang membawa bronjong. Ketika aku sampai dan melongok ke arah jembatan, aku tahu bahwa jembatan tidak lah sebegitu sempit sehingga orang yang membawa bronjong tidak bisa melewatinya. BISA.

Aku sendiri sebagai seseorang yang pertama kali ke situ dengan naik sepeda hardtail – dan bukan sepeda lipat yang cekli – terus terang kesulitan untuk lewat dengan menaiki sepeda. Honestly, ketika lewat, aku menuntun Cleopatra. Hihihihi ... Hanya demi kebutuhan untuk unjuk narsis saja kemudian ketika lalu lintas lumayan sepi, aku mejeng di atas sadel Cleopatra. Ranz yang mengaku berani lewat jembatan ketika dia naik Shaun – sepeda lipat dahon da bike 16 inchi – ternyata tidak berani menaiki Pockie untuk lewat jembatan.
Pulang dari Jembatan Londo itu, Ranz langsung mengajakku ke arah kita berangkat tadi untuk sarapan bakmi toprak, konon kalau kita mampir ke soto seger Mbok Giyem waktunya ga cukup. Hadeeeehhh ... Terpaksa ngiler deh, nunggu kapan-kapan lagi dolan ke Solo.

Pulang dari gowes minggu pagi ini, menjelang kepulanganku ke Semarang, aku diserang kantuk, maka aku pun tidur, kurang lebih satu jam.

Jam 13.10 aku telah berada di bus yang membawaku pulang ke Semarang. J
in action bersama railbus di CFD Solo


menuntun Cleopatra melewati Jembatan Londo :)

hati-hati, euy, maklum baru pertama kali lewat :)

narsis yaaa :)

Ranz! :)

ehem :)

mejeng forever :-D


GL7 16.45 041012

Jumat, 05 Oktober 2012

Gowes ke Alas Bromo


GOWES AKHIR PEKAN : KE ALAS BROMO

Untuk mengisi libur akhir pekan, pada tanggal 28 September 2012 aku ke Solo. Semula aku menawari Ranz untuk gowes ke Tlatar pada hari Sabtu 29 September – beberapa bulan lalu waktu komunitas @seli Solo mengadakan gowes ke Tlatar aku tidak bisa ikut – namun kemudian Ranz menemukan ‘trek baru’, yakni gowes ke Alas Bromo Karanganyar. Aku setuju saja.

Hari Jumat 28 September aku berangkat ke Solo seusai bekerja. Sekitar jam 15.30 bus yang kutumpangi meninggalkan Sukun. Perjalanan cukup lancar dan bus sampai di Kerten sekitar pukul 18.30. Sampai di sana, Ranz menjemputku dengan naik ‘Hedy’ city bike yang biasa dia naiki berangkat bekerja.

Dari Kerten kita mampir di sebuah ‘hik’ tak jauh dari stasiun Purwosari, untuk minum teh. Sayang, teh yang kuminum tak se-yummy yang kuharapkan, maka sesampai rumahnya, Ranz pun memesankan segelas teh panas di warung dekat rumahnya. Selain itu, Ranz memesan sepiring nasi goreng dari seorang penjual yang kebetulan lewat. Kebetulan, rasa nasgornya tidak sesuai dengan lidahku, maka aku hanya mencicipi dua-tiga sendok.

Setelah itu, aku mengajak Ranz berjalan kaki ke mini market terdekat untuk membeli beberapa barang kebutuhan yang lupa kubawa: pasta gigi, sikat gigi, sabun cair, dan pembalut. Dalam perjalanan pulang, kita mampir ke ‘hik’ yang katanya semakin laris setelah Jokowi sempat mampir. Di sini, teh nasgitel-nya benar-benar to my taste: yummy! J

Malam itu kita ngobrol sampai menjelang pukul 23.30 karena aku menyempatkan diri bercerita tentang “Manjali dan Cakrabirawa” novel tulisan Ayu Utami yang sedang kubaca ulang sebelum mulai membaca “Lalita”. Maklum, aku agak lupa cerita detilnya. J
SABTU 29 September 2012


di pertigaan
Seperti biasa di pagi hari kita terkena sindrom malas bangun pagi sehingga kita berangkat setengah jam terlambat dibanding yang kita rencanakan semula. J Pukul 06.30 meninggalkan rumah Ranz yang berlokasi di Jongke kita lewat jalan Slamet Riyadi, dan terus menuju Palur, Karanganyar. Karena aku tidak membawa sepeda dari Semarang, aku pinjam Cleopatra, sepeda cleo 2.0 yang didapatkan Ranz waktu gowes Srikandi bulan April lalu, sedangkan Ranz menaiki Pockie, sepeda lipat pocket rocket yang sering menemaninya bikepacking bersama Snow White. Meski Ranz dan beberapa teman ‘srikandi’nya tidak begitu menyukai cleo 2.0, aku merasa baik-baik saja menaikinya. Jika waktu gowes Solo – Semarang Mei lalu aku perlu beberapa saat untuk ‘klik’, kali ini aku langsung klik sejak meninggalkan Jongke.

Di daerah Karanganyar, kita mampir di sebuah rumah makan untuk sarapan. Aku memilih menu ‘timlo’ sedangkan Ranz ‘soto’. Aku sengaja tidak memilih soto karena pada hari Minggu aku berharap bisa mampir ke soto seger Mbok Giyem yang terletak di Jalan Bhayangkara Solo.

narsis yaaa? :D
Ketika melanjutkan perjalanan, Ranz sempat bertanya kepada seorang tukang becak arah menuju Alas Bromo. Di traffic light di sebuah daerah yang bernama Bijen, ada tiga jalan di depan; sebelah kanan menuju Tawangmangu, sebelah kiri menuju Sragen, sedangkan untuk menuju Alas Bromo, kita diminta memilih jalan yang di tengah, agak serong ke arah kiri. Setelah mengambil jalan tengah ini, traffic agak berkurang padatnya. Ketika sampai di pertigaan, dimana jika kita belok kiri kita bisa menuju Sragen lewat jalur alternatif, kita sempat berhenti untuk foto-foto tanpa tahu bahwa di sini kita seharusnya belok kiri. Kenyataannya kita melanjutkan perjalanan dengan mengambil arah terus.

trek 1
Sekitar 3 kilometer dari pertigaan itu, jalan yang kita lewati bertemu dengan jalur utama yang menuju Tawangmangu dimana kita bertemu dengan serombongan orang yang naik mtb/road bike menuju Tawangmangu. Kita langsung sadar bahwa kita telah salah jalan. Setelah bertanya dengan orang, kita balik lagi menuju traffic light Bijen. Untunglah jalannya sedikit menurun. J Dari traffic light kita belok ke kanan.

trek 2

trek 3
Beberapa kilometer dari situ, Ranz bertanya lagi pada seseorang yang menunjukkan jalan dengan suka cita; kita pun suka cita karena ternyata kita salah jalan lagi; kita harus kembali dan belok ke kanan dimana jalannya menurun dengan cukup tajam. Ranz dengan ‘rela’ membiarkanku turun terlebih dahulu sehingga dia bisa memotretku dari atas sedangkan aku tak sempat memotret dia dari atas karena tentu aku malas harus gowes balik, mana menanjak pula jalannya. J

Wana Wisata Gunung Bromo
Setelah beberapa kali bertanya, kita menemukan petunjuk WADUK DELINGAN. Waduk Delingan memang merupakan salah satu tujuan namun yang utama adalah Alas Bromo, maka kita meneruskan perjalanan, yang kita perkirakan – atau harapkan – hanya terletak sekitar 100 – 200 meter dari petunjuk Waduk Delingan. But we were wrong. J Kita harus gowes lebih satu kilometer dengan panorama yang lumayan sejuk di mata dengan permukaan jalan yang naik turun. Ranz sempat ingin kembali ke arah Waduk Delingan – maklum dalam perjalanan kita tidak bertemu satu pun manusia yang bisa kita tanyai. Untunglah akhirnya kita bertemu dua orang yang sedang bekerja – entah mengerjakan apa – yang memberitahu kita bahwa Alas Bromo terletak tak jauh lagi, hanya sekitar 50 – 75 meter di depan kita.

trek di dalam Alas Bromo
Foto-fiti di depan tulisan WW Gn Bromo dan ngobrol dengan seorang petugas dari Perhutani dimana kemudian ketahuan bahwa si petugas itu pernah bertemu dengan Ranz waktu gowes ke Astana Mangadeg. Si Bapak pun mempersilakan kita masuk ke kawasan Alas Bromo (alias Wana Wisata Gunung Bromo), meski tentu tak lupa beliau mengatakan bahwa trek kurang bersahabat jika dilewati naik sepeda lipat. Kalau mtb atau downhiller sih oke-oke saja. Aku yang naik Cleopatra tentu tak keberatan meski bannya tidak sesuai untuk XC/DH, Ranz yang naik Pockie juga tidak keberatan, karena toh kita selalu bisa TTB alias tuntun bike. J
trek 2 di dalam Alas Bromo

Trek memang tidak mudah dilewati, namun kita diuntungkan dengan musim kemarau sehingga kita tidak perlu melewati trek yang berlumpur. Pemandangan di dalam Alas Bromo juga sangat menawan dimana pada satu titik terlihat sebagian pohon-pohon yang meranggas namun di bagian lain pohon-pohon itu masih terlihat hijau.
nunut narsis 2 :D
Orang kota masuk hutan maka bisa dibayangkan bahwa ada sedikit rasa waswas bagaimana jika kita tersesat di dalam hutan. Plus kita tidak tahu seberapa luas kah hutan ini. Maka, kita benar-benar mencoba mengikuti petunjuk si Bapak petugas: jika bertemu dengan perempatan, belok kanan; bertemu dengan perempatan lagi, belok kanan lagi. Dengan cara begitu kita akan kembali ke arah jalan raya yang akan membawa kita ke Waduk Delingan.
Sempat bertemu dengan satu dua orang yang geleng-geleng kepala melihat kita yang menyusuri hutan naik sepeda – mereka naik sepeda motor – kita tidak berani explore hutan jauh-jauh. Rasa lega langsung menghampiri ketika kita melihat rumah tinggal penduduk: kita telah dekat dengan peradaban! J Merupakan satu kebetulan jika dari kawasan rumah tinggal penduduk ini, tak jauh kita gowes kita telah sampai ke Waduk Delingan alias Waduk Tirtomarto yang kering karena musim kemarau yang lumayan panjang tahun ini.
trek 3 di dalam Alas Bromo
Kita beristirahat di pendopo waduk sambil memperhatikan truk-truk yang lalu lalang di sekitar situ. Dan kita menyadari ternyata kita kurang explore Alas Bromo, waktu yang kita habiskan di dalam hutan hanya sebentar. Next time lagi deh. J Usai istirahat, Ranz mengajak ke arah dimana truk-truk itu masuk, tentu kita akan keluar dan bertemu petunjuk jalan yang bertuliskan WADUK DELINGAN yang kita lewati beberapa jam sebelumnya.
Ranz di pintu air waduk

Waduk Delingan tanpa air
Siang itu sangat terik sehingga kita memutuskan untuk ngebut tanpa berhenti untuk beristirahat kecuali ketika aku merasa butuh mampir sebuah pom bensin untuk buang air kecil. Pada kesempatan yang sama Ranz pun shalat Dzuhur.

Melanjutkan perjalanan sampai Pasar Gede Solo dimana Ranz mengajak mampir untuk makan di sebuah rumah makan mie ayam. Usai makan, kita langsung pulang ke Jongke. Sebenarnya aku ingin mampir ke Balekambang, sekedar nongkrong dan membeli lekker di Mas Daryono, namun karena sampai rumah Ranz aku langsung masuk kamar, beristirahat, bisa dibayangkan jika aku malas keluar lagi untuk gowes. J Sekitar pukul 15.00 kita sampai rumah Ranz.

Malam, kita keluar makan malam di rumah makan di daerah Jongke. Cukup jalan kaki saja.


Kamis, 04 Oktober 2012

Gowes ke Alas Bromo

Believe it or not, I have written something about my biking to Alas Bromo alias Bromo forest located somewhere in Karanganyar. However, I forgot to save it in my flash disk!!! So forgetful of me. Huuuu ... :'(((

Since now I am already in a cyber cafe, I don't want to waste my time, I already saved some photos I want to post in my flash disk -- photos taken when I went biking to Alas Bromo last Saturday 29 September 2012 -- now I want to upload those photos here. Hopefully the access is fast enough so that I can upload them. :) The story? It will be uploaded next time I have time to go online. :)