Senin, 19 Agustus 2013

GOWES LIBUR LEBARAN 2013 : KE PANTAI KLAYAR DAN GOA GONG

dengan latar belakang karang berbentuk layar 

GOWES LIBUR LEBARAN 2013 : KE PANTAI KLAYAR DAN GOA GONG

PROLOG

Mengapa Klayar?

Bermula dari aku unggah foto trek Pracimantoro ke Giribelah (Wonogiri) yang kita lewati pada libur lebaran tahun 2011, dimana Ranz bilang, “I miss this track,” akhirnya nama Pantai Klayar muncul sebagai salah satu pilihan tujuan gowes menghabiskan libur lebaran. Beberapa pilihan lain – Cirebon, Lamongan, dan Lasem – mendadak langsung terhapus dari daftar pilihan setelah Ranz mengirimiku foto suasana Pantai Klayar yang dia unduh dari blog seseorang! Klayar beach is stunningly beautiful! I MUST go there!

Sempat ragu ketika terdengar kabar Pacitan diguncang gempa bumi pada hari Jumat 9 Agustus 2013. Namun setelah tak ada kabar lanjutan tentang korban maupun kerusakan yang disebabkan gempa bumi tersebut, aku dan Ranz memutuskan untuk meneruskan rencana ini.

Day 1: Gowes Solo – Baturetno 11 Agustus 2013

Aku berangkat ke Solo pada hari Sabtu 10 Agustus. Ketiba-tibaan Ranz terserang demam pada hari itu sempat membuatku ragu dia bisa atau tidak. Meski ga yakin – namun berharap dengan gowes jauh tubuhnya menjadi fit – kita tetap melanjutkan rencana.

Hari Minggu 11 Agustus kita meninggalkan kediaman Ranz di kawasan Laweyan sekitar pukul 06.00, terlambat satu jam dibanding rencana semula karena Ranz merasa perlu lebih lama beristirahat.

warung makan tempat kita sarapan Minggu pagi

Di awal gowes, Ranz nampak sehat, kecepatan gowesnya seperti biasa, meski harus membawa beban tas pannier di rak boncengan Pockie dan trek menanjak halus. Namun selepas lewat kawasan Solo Baru, Ranz sudah mulai nampak keteteran. Yah ... padahal baru berangkat. L

Sekitar jam 07.00 kita berhenti untuk sarapan di sebuah pasar (yang tidak kuperhatikan namanya.) Aku memesan timlo sedangkan Ranz nasi, kering tempe plus perkedel. Kita berhenti untuk sarapan sekitar 30 menit. Alhamdulillah usai sarapan Ranz nampak lebih bersemangat dibanding sebelumnya.

masuk Kab. Wonogiri
tugu apa yaa? :)

Tidak lama kemudian kita sudah masuk Kabupaten Wonogiri. Tanjakan mulai terasa, apalagi setelah masuk kawasan kota. Jika dua tahun lalu dalam perjalanan ke Pantai Nampu kita lewat jalur yang menuju Pracimantoro, kali ini Ranz memutuskan untuk menuju Baturetno. Setelah bertanya pada seorang pegawai di sebuah mini market, kita terus melaju menuju Ngadirojo.
Karena berencana akan mendirikan tenda setiba di Pantai Klayar – yang berarti kita tidak akan mendapatkan aliran listrik – di hari pertama perjalanan ini aku tidak banyak menggunakan hape untuk memotret, aku juga tidak menyalakan ‘sportstracker’ untuk ngecek berapa kilometer jarak yang kita tempuh. Sesampai di pertigaan Ngadirojo dimana kita harus belok kanan untuk menuju Baturetno, hape sudah kumatikan.

mini market tempat bertanya arah ke Baturetno

trek rolling

Trek terus menerus rolling, naik turun tanpa henti. Pengalaman gowes ke Pantai Nampu dua tahun lalu membuatku sangat sadar bahwa trek memang akan terus menerus naik turun sehingga aku tidak kaget. J Yang ‘mengagetkan’ adalah kondisi kesehatan Ranz yang memburuk so that she felt that she needed to curse the track! Menurutku pribadi trek belum apa-apa dibandingkan dengan trek menuju Candi Cetho, padahal saat gowes ke Candi Cetho bulan Januari 2013 lalu Ranz naik Shaun – sepeda lipat 16” single gear – yang seharusnya lebih berat dibandingkan naik Pockie. Akhirnya Ranz pun “sadar” yang bermasalah bukan treknya, melainkan kesehatannya. LOL.

Sekitar jam satu siang lebih sekian menit kita mampir di sebuah pom bensin untuk nunut buang hajat kecil, istirahat, plus shalat. Kita melanjutkan perjalanan. Ketika bertanya pada seorang penjaga toilet pom bensin, Ranz mendapatkan informasi bahwa Baturetno terletak tak jauh lagi, “Naik sepeda sekitar setengah jam,” katanya. Ranz pun lega, kira-kira jam dua siang kita bakal sudah sampai Baturetno. “Seperti perkiraan,” katanya.

pom bensin tempat kita nunut buang hajat dan shalat


salah satu trek menuju Baturetno

Ranz dan Om Taufik :)

Namun ternyata setelah gowes hampir satu jam kita tak melihat penampakan bahwa kita akan sampai di sebuah kota kecamatan. L Mood Ranz drop.

Di satu pojok jalan dimana hanya ada satu arah rute belok kanan – namun Ranz ga yakin apakah kita berada pada rute yang benar – aku bertanya pada seorang perempuan yang sedang memasak di warung makan miliknya. Perempuan itu mengatakan bahwa kita memang pada rute yang benar, kita tinggal belok kanan, lurus ... kurang lebih 15 menit lagi sampai Baturetno.

Sementara itu karena membaui harum masakan yang sedang dimasak oleh perempuan itu, mendadak aku terserang penyakit lapar nan akut. Bau harum masakan lezat itu menstimulasi otakku yang kemudian mengirim perintah kepada perutku bahwa aku butuh asupan makanan! Untuk mengurangi rasa lapar itu, aku langsung ngemil selembar roti tawar coklat, berharap aku masih bisa melanjutkan perjalanan hingga sampai Baturetno; hingga kita sampai di satu tempat dimana banyak pilihan warung makan. Toh, tinggal 15 menit lagi.

kelaparan sangat tapi tetap senyum manis waktu difoto :D

Mood Ranz yang drop dan melihat jalan di depan yang nampak sunyi, kita hanya melihat deretan persawahan, membuatnya tidak yakin bahwa 15 menit lagi kita akan sampai di pusat kota kecamatan Baturetno.

They fooled us around!!” tuduhnya, kesal. LOL.

Oh well, jangan-jangan ketika kita bilang, “Naik sepeda,” mereka berpikir bahwa kita naik sepeda motor kali ya? Bukan sepeda onthel. Gosh, mereka tidak memperhatikan bahwa kita gowes sepeda lipat? Dan bukan hanya duduk manis di atas sepeda motor dimana kita hanya tinggal menekan gas dan kita akan langsut melesat ratusan meter? Hadeeehhh ...

Usai ‘menstimulasi’ perutku bahwa dia belum perlu makan besar aku kembali menikmati kayuhan pedal Austin. Mood Ranz sedang buruk, aku harus tetap bersemangat!

Sekitar 45 menit kemudian – trek tetap rolling up and down – kita mulai melihat papan bertuliskan “Baturetno”. Di sisi kiri kanan jalan kita pun mulai melihat deretan gedung maupun rumah. Kita menuju ke peradaban perkotaan. Ketika melihat sebuah mini market, kita mampir untuk membeli air mineral sekaligus bertanya pada pegawainya apakah (pusat kota) Baturetno masih jauh. “!0 menit lagi sampai kok,” jawab salah seorang pegawai. J

Sekitar pukul 15.15 sampailah kita di perempatan pusat kota Baturetno dimana di sebelah kiri kita menemukan terminal bus. Sempat muter-muter sejenak untuk menentukan kita mau makan dimana, hingga akhirnya kita mampir di sebuah warung makan yang berjualan tongseng dan sate kambing (yang ternyata merupakan makanan khas Baturetno).

Sembari makan kita berdiskusi apakah kita akan menginap di Baturetno atau mencari carteran mobil untuk segera melanjutkan perjalanan ke Pantai Klayar. Namun karena sudah terlalu sore (pukul 16.00), kita tidak mendapatkan carteran mobil yang kita cari. Maka kita putuskan kita menginap saja di Baturetno. Kebetulan tidak jauh dari perempatan, Ranz melihat ada sebuah hotel.

Malam itu kita menginap di Hotel Asri, dengan tarif yang sangat murah, hanya lima puluh ribu rupiah, dengan fasilitas satu bed yang cukup dipakai tidur dua orang, sebuah meja kecil dan satu buah kipas angin. Kamar mandi + toilet ada di luar kamar.

Malam itu kita makan nasi goreng seporsi berdua.

Day 2 : Gowes Baturetno – Pantai Klayar 12 Agustus 2013

Di awal hari kedua kita gowes ini kita nyantai. Keputusan semalam yang kita ambil kita akan mencari carteran mobil untuk melanjutkan perjalanan ke Pantai Klayar. Atau, kalau kita tidak mendapatkan mobil, kita akan naik bus jurusan Solo – Batu – Pacitan yang lumayan banyak kita lihat dalam perjalanan. Semata-mata karena kesehatan Ranz yang memburuk di satu hari sebelumnya.

hotel sederhana tempat kita menginap

Kita baru bangun tidur jam 06.00, kemudian mandi dan packing. Usai packing, tiba-tiba Ranz mengejutkanku dengan mengatakan bahwa dia merasa lebih sehat dibanding kemarin. Dengan mantap hati dia mengajakku gowes! Ya sudah, aku ngikut saja.

“Nanti kita gowesnya Cuma sedikit? Ya kalau kita dapat carteran mobil. Kalau ga? Ya kalau kita diperbolehkan naik bus, kalau engga? karena kita bawa dua sepeda lipat,” kata Ranz. Yaelah ... LOL.

Kita keluar hotel sekitar pukul 07.45, mencari sarapan di luar terminal, dan siap melanjutkan gowes sekitar pukul 08.30. It was very late, tapi ga papa lah.

mejeng dulu tanda telah lewat Baturetno :D



Di awal gowes, trek menanjak sangat halus. Permukaan jalan tidak begitu halus, kadang berlubang disana sini. Traffic pun tidak terlalu sepi. Baturetno memang jauh lebih besar ketimbang Pracimantoro yang kita lewati dua tahun lalu ketika kita akan ke Pantai Nampu. (Check this link.)

pertigaan Baturento - Pracimantoro - Pacitan
Hingga kita sampai di pertigaan yang menghubungkan Baturetno – Pacitan – Pracimantoro. Tanjakan mulai meninggi namun permukaan jalannya halus dan badan jalan lebar, seperti khas jalan raya propinsi. Semenjak pertigaan ini, tanjakan tak kunjung usai hingga kurang lebih 25 kilometer. Semakin tinggi jalan yang kita lewati, pemandangan di sebelah kiri kanan semakin indah dipandang mata. Akan tetapi yang indah ini berbanding terbalik dengan mood Ranz yang kembali drop. Perjalanan pun menjadi tertatih-tatih.

memulai tanjakan yang panjangnya kurang lebih 25 kilometer

mejeng sekaligus istirahat, Ranz ya tetep akting ya? hihihi

Menanjak kilometer demi kilometer dengan pelan. Memotret pemandangan di depan maupun di kiri dan kanan, plus merekam perjalanan mengggunakan video pun kita lakukan untuk menghibur diri. LOL.

trek rolling

pemandangan indah di sisi kiri jalan

gowes teruuuusss

Dan akhirnya kita sampai di sebuah warung sederhana dimana di jendelanya tertulis “Puncak Pass”. Wahhh ... Ranz lega bukan kepalang! Kita mampir untuk ‘merayakan’ Puncak Pass ini (lebay!) dengan minum segelas teh buat Ranz, sedang buatku segelas kopi susu. LOL.

Ranz di Puncak Pass

Setengah jam kemudian kita melanjutkan perjalanan. Kadang masih ada tanjakan namun tak lagi tanjakan itu setinggi tanjakan-tanjakan sebelum Puncak Pass.

masuk propinsi Jawa Timur (y)


masih ada tajakan di depaaan :P


Sekitar pukul sebelas kita sampai di Punung, dimana ada tanda “Goa Gong 3 kilometer” dan “Pantai Klayar 19 kilometer”. Kita belok kanan. Alamaaakkk ... kita kembali menemukan ‘tantangan’ yang sesungguhnya! Badan jalan sempit, permukaan jalan tidak halus, dan tanjakan-tanjakan curam menunggu di depan mata.

Akhirnya sampai juga di Punung :)
Ranz kembali mengeluh. Namun toh dia tetap menolak ketika kutawari mencari mobil angkutan yang bisa kita carter di kawasan terminal Punung. Semangatnya oye banget, tapi ya itulah, aku harus terus menerus mendengarkan omelannya. LOL.

salah satu contoh trek gila Punung - Pantai Klayar

Jalan sempit dengan permukaan jalan kasar plus tanjakan curam itu – yang mungkin satu-satunya jalan yang bisa kita lalui untuk menuju Pantai Klayar dari arah Punung – ternyata penuh dengan kendaraan-kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat. Rupanya banyak orang yang memiliki niat sama denganku dan Ranz : menikmati liburan dengan berkunjung ke Pantai Klayar.

Kita gowes sambil rajin bertanya pada orang-orang sekitar tentang rute menuju Pantai Klayar karena banyak pertigaan maupun perempatan yang kita temui. (Pantai Klayar bukan satu-satunya pantai di kawasan ini, masih ada Pantai Srau, Pantai Watu Karung, dll.)

akhirnyaaaa ... Pantai Klayar pun di depan mata!

Ranz in action :P

Pantai Klayar dari atas bukit

Kurang lebih jelang pukul tiga sore kita telah melihat biru laut di kejauhan. Tak lama kemudian kita telah menemukan sebuah halaman nan luas dan bangunan yang bertuliskan “Restaurant dan homestay Larasati”. Menemukan sebuah penginapan yang tak jauh dari pantai, aku memutuskan untuk menginap di penginapan saja dari pada camping di pinggir pantai. Ranz butuh tempat tidur yang nyaman (aku juga! hehehehe ...) dan kehangatan, plus kamar mandi yang bersih. Juga kita bisa menikmati listrik sehingga kita bisa ngecharge hape maupun powerbank. (Maklum, produk zaman globalisasi, kita ga bisa hidup tanpa listrik. LOL.)

turunan curam menuju Pantai Klayar dari atas bukit

tempat kita menginap semalam

Setelah memilih kamar yang akan kita sewa semalam, menaruh barang-barang di dalam kamar, kita langsung menuju pantai beserta Pockie dan Austin! Yay.

Kali ini kita memang memutuskan untuk menginap semalam di pantai karena dua tahun lalu setelah gowes dua hari menuju Pantai Nampu dan menghabiskan waktu di pantai hanya kurang lebih 2 jam saja, tentu kita merasa sangat sayang.

Pantai Klayar nan berkarang

isn't it breathtaking? :)

karang yang nampak bak karang di gurun pasir

Klayar beach is totally awesome! Pantai berpasir putih keabu-abuan dipadu dengan karang-karang nan eksotis plus rerimbunan pepohonan. Juga ditingkahi ombak yang tak kunjung usai membelai bibir pantai. Itulah Klayar.
Waktu kita datang, tempat parkir di pinggir pantai penuh dengan mobil, kurang elok dipandang dari atas. LOL. Tapi tidak apa-apa, kan kita akan menginap semalam. Semoga di pagi hari kita akan bisa mendapatkan pemandangan Pantai Klayar tanpa mobil-mobil itu dari atas bukit (dimana homestay Larasati terletak.)

saatnya narsis! :P

kita berdua dengan latar belakang ombak dan karang berbentuk layar

awesome!


Di pinggir pantai ada beberapa warung yang menyediakan berbagai jenis makanan dan minuman. Juga ada warung yang khusus menyediakan baju-baju untuk dijual. Bagi yang menyukai tantangan naik ATV di lokasi berpasir, juga ada persewaan ATV.  

Air laut sedang pasang, ombak pun meluncur deras ke bibir pantai dan banyak spot yang berkarang sehingga sangat tidak disarankan untuk berenang. Bahkan jika kita bermain-main di karang yang ada, kita juga harus hati-hati dikarenakan ombak yang begitu besar kadang menghempaskan apa saja yang ada di karang tersebut.

Pantai Klayar sangat terkenal dengan karang yang terletak di sisi Timur dimana karang itu berbentuk seperti layar di atas perahu. Konon itu sebabnya pantai ini disebut Pantai Klayar. Di balik karang berbentuk seperti layar ini ada sebuah spot dimana ada lubang yang akan menyemburkan air ombak ke atas, jika ada ombak besar yang menghempas ke karang. Semburan air ini disebut “seruling samudera”. Akan tetapi kawasan ini merupakan kawasan yang berbahaya jika orang awam berkunjung kesini tanpa pengawasan petugas pemandu pantai. Sebabnya adalah jika ombak besar datang menghempas karang, dan pengunjung tidak tahu ada ombak besar datang, maka bisa jadi dia akan terhempas ke karang-karang yang terletak di bawah karang berbentuk layar itu karena tersapu ombak yang berkekuatan sangat besar.

aliran air yang berasal dari ombak besar yang 'menyeberang' karang


seruling samudera dan aku di saat senja :)

Sore itu, aku dan Ranz sampai di kawasan karang berbentuk layar ini menjelang pukul setengah enam. Salah satu petugas pemandu menawari kita naik ke atas karang. Dengan bersukacita, aku bersedia, karena aku ingin melihat “seruling samudera” itu. Namun belum sempat kita naik ke atas karang, mendadak petugas pemandu yang ada di karang di sebelah sana memberi peringatan kepada kita untuk berlindung di beberapa titik yang tidak akan terhempas ombak. Betul saja, kurang lebih 5 menit kemudian, ombak pun datang, menghempas karang, hingga di balik karang di sebelahnya. Setelah keadaan cukup aman, aku dibimbing naik karang. Ranz sendiri memutuskan untuk tidak ikut ‘ekspedisi’ untuk melihat seruling samudera ini karena dia tiba-tiba merasa takut jika ombak besar datang lagi.

Aku menikmati pemandangan di balik karang plus seruling samudera selama kurang lebih 15 menit. Setelah merasa cukup puas, aku kembali. Kemudian aku dan Ranz beriringan kembali ke penginapan. Perjalanan ga begitu mudah karena kita harus menuntun sepeda di pantai berpasir. J

Kita sampai di penginapan sekitar pukul 18.10. Di penginapan ternyata kita menemukan beberapa rombongan lain yang baru datang untuk menginap. Homestay Larasati menawarkan dua jenis kamar. Yang pertama bertarif seratus ribu rupiah dengan fasilitas bed yang cukup luas dan sebuah lemari kecil, tanpa kipas angin, kamar mandi ada di luar. Yang kedua bertatif seratus lima puluh ribu rupiah dengan fasilitas bed yang cukup luas, lemari kecil, kipas angin dan kamar mandi dalam. Enaknya jika kita menginap di sini, kita tak perlu kerepotan masalah makan karena kita bisa memesan makanan dari restorannya. J

Malam itu kita hanya menikmati bintang yang bertaburan di langit. Langit sangat cerah sehingga kita bisa menikmati bulan dan bintang yang nampak menggantung di langit di kegelapan malam.

Day 3 : Pantai Klayar – Goa Gong - Solo 13 Agustus 2013

Kita keluar kamar sekitar pukul lima pagi. Kita ingin menikmati suasana pantai di pagi hari, meski kita tak bisa menikmati sunrise dari Pantai Klayar. Kali ini kita menuju gardu pandang untuk menikmati pemandangan Pantai Klayar dari sisi Barat. Pagi ini pantai sangat sepi, meski ada rombongan lain yang menginap di pinggir pantai, di dalam tenda. Ada juga yang cukup menginap di dalam mobil. Ada rombongan pehobi vespa yang mungkin datang semalam, karena ketika meninggalkan pantai sore sebelumnya kita belum melihat tenda mereka.

pemandangan dari gardu pandang di pagi hari

Pantai Klayar difoto dari atas gardu pandang di pagi hari


Situs Pantai Klayar ...

Pagi ini aku tidak berani untuk menyambangi seruling samudera lagi karena belum ada petugas pemandu pantai yang datang. Ombak yang menghempas pantai tetap ada, meski tidak sebesar kemarin sore.

kamar tempat kita menginap :)

Pukul delapan kita kembali ke penginapan untuk sarapan dan packing. Pagi ini kita tidak mengikuti hasrat tantangan untuk gowes balik di jalanan nan sempit tanjakan curam berkelok-kelok dan permukaan jalan yang kurang bersahabat: kita menyewa mobil carteran untuk membawa kita balik ke Punung! Yeay! LOL.

Pukul sembilan Pak Hak – sopir mobil carteran itu – datang menjemput kita. Dalam perjalanan balik ke Punung kita mampir ke Goa Gong, goa yang meski tidak sebesar Goa Akbar yang ada di Tuban, namun stalaktit dan stalakmitnya sangat amat mempesona! Bahkan konon stalaktit dan stalakmit di dalam Goa Gong masih tumbuh memanjang jika diukur dari tahun ke tahun.

situs Goa Gong

bersiaplah kegerahan ketika masuk Goa Gong :)

Pengunjung tidak sebanyak sehari sebelumnya nampaknya. Orang yang menginap di homestay Larasati bercerita bahwa mereka mampir ke Goa Gong terlebih dahulu sebelum sampai ke Klayar. Pengunjung begitu banyak hingga untuk berjalan menyusuri goa mereka harus antri satu persatu. Sedangkan pada hari aku dan Ranz mampir ke situ, tidak sebegitu penuh.
Pak Hak mengantar kita sampai ke Punung. Kita gowes lagi dari Punung menuju Baturetno. Rute Punung – Baturetno lebih ‘bersahabat’ ketimbang dibalik Baturetno – Punung karena lebih banyak turunan, meski tetap ada tanjakan. Dari Baturetno, kita naik bus jurusan Solo.

stalaktit dan stalakmit yang panjang

pukullah di stalaktit yang berwarna hitam itu, maka akan terdengar bunyi 'gong'

Kita sampai rumah Ranz di kawasan Laweyan sekitar pukul empat sore. Setelah mandi dan packing, aku ke Kerten, tentu diantar Ranz. Tak menunggu lama, bus jurusan Semarang sudah datang.

Aku sampai rumah sekitar pukul 20.30. Dan ... siap bertualang lagiiii. LOL.


PT56 0701 180813

10 komentar:

  1. Asiknya.. Lebaran bisa gowes ke pantai dan goa! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. maklum, kita gowesnya lelet, jadi nunggu libur yang rada panjang dulu ...

      kalo Om Bagus kan gowesnya wusshhh wusshhh wusshhh ... tahu-tahu udah sampe Wonosobo ... hedeeehhhh :D

      Hapus
  2. Mantap nte (y)
    Dulu saya lewat Ponorogo-Wonogiri jadi ga liat view semenarik Pacitan

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sendiri ga nyangka kalau pemandangan sepanjang Pacitan seindah itu ... :)

      Hapus
    2. Banyak yang bilang kalau mulai dari pantai di Gunung Kidul hingga Banyuwangi itu masih menarik karena belum tereksplorasi....

      Hapus
  3. mantab... bener2 ke sana gowesan hahahah.. :D

    http://rnoers.blogspot.com/

    BalasHapus
  4. gyaaaa.... kereeen ih mbak nana...
    udah gowes2 sampe klayar,
    kmaren pas ke klayar saya lewat paranggupito, lewat rumah temen trek nya lebih sepi tapi ya sempit.
    btw, salam kenal :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waahhh ... aku pernah lewat Paranggupito, waktu ke Pantai Nampu, naik sepeda juga :)

      Hapus