Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Solo Raya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Solo Raya. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Juli 2023

Solo - Jogja - Nanggulan - Bhumi Merapi 1

 

bulan Maret 2013, di jembatan ini kami kehujanan, day 1 bikepacking Solo - Purwokerto

Kadang, saat berbincang tentang bikepacking, Ranz bilang, dengan nada seperti mengeluh, "sudah lama ya kita tidak bikepacking," atau dia mengunggah satu fotonya yang sedang sepedaan di IG, dengan kepsyen, "aku masih tetap sepedaan," yang aku 'baca' sebagai dia kangen sepedaan jarak jauh, selama beberapa hari in succession.

 

Dan saat ikut event J150K bulan Maret 2023, dia bilang bahwa pemandangan di Nanggulan -- rute yang harus kita lewati setelah check point bayangan entah yang keberapa, aku lupa -- bagus sekali untuk foto-foto. Aku setuju, tapi karena waktu itu, aku sudah ngambeg dan meninggalkan Ranz di belakang, dan aku harus ngebut untuk mengejar CUT OFF TIME yang jam 17.00, jelas aku ga menyempatkan diri berhenti di kawasan Nanggulan untuk foto-foto.

 

Dua hal inilah yang melatarbelakangi mengapa aku mengajak Ranz bersepeda ke Jogja lagi saat libur kenaikan kelas.

 

Semula aku berencana berangkat ke Solo hari Minggu 2 Juli 2023. Hari Senin 3 Juli 2023 bersepeda Solo - Jogja. Hari Selasa 4 Juli 2023 bersepeda ke Nanggulan. Hari Rabu 5 Juli, Ranz ogah bersepeda balik ke Solo, dia mengajak naik KRL dari stasiun Tugu. Tapi, aku berusaha merayunya untuk tetap susur selokan sampai area Kalasan, dan naik KRL dari Stasiun Brambanan. Ini karena katanya jalan tol Solo - Jogja ada yang akan melewati Selokan Mataram, sekitar 4 kilometer. Rencana jalan tol ini dibangun 'di atas' Selokan Mataram. Ranz nampaknya setuju. Namun, kemudian aku ingat, bahwa dia masih ingin ke Bhumi Merapi, satu destinasi wisata yang terletak di Jakal km 21/22. so? Aku bilang, "Ga usah susur Selokan deh. Di hari ketiga kita ngegrab saja ke Bhumi Merapi. Pulangnya langsung kita naik KRL dari Stasiun Tugu."

 

Mengapa ngegrab? Jelas Ranz pasti ogah aku ajak bersepeda nanjak Jakal sampai kilometer 21/22. Dan, ya kita akan menghemat waktu jika kita ngegrab, ketimbang gowes.

 

Kenyatannya aku berangkat ke Solo di hari Sabtu 1 Juli 2023. ada event 'patjar merah' dimana di salah satu sesinya, Gibran Rakabuming -- walikota Solo -- dijadualkan datang mengisi sebagai salah satu nara sumber dengan topik pembicaraan, "Melihat Solo dari dekat sekali". Seperti biasa, aku berangkat naik travel Citi***** pukul 09.30. mobil yang aku tumpangi sampai di pool Solo pukul 11.10. dari sana aku menjemput Ranz yang sedang ngegym.

 


Sorenya Ranz mengajakku ke Ndalem Djojokoesoeman yang terletak di kawasan Pasar Kliwon naik grab. Jarak venue ini 5 kilometer dari rumah Ranz, dan … dia menganggap jarak ini jauh! Ya wis lah, manut. Tapi, ada satu hal lagi yang perlu kami perhatikan: apakah aman jika kita memarkir sepeda di pelataran parkir Ndalem Djokokoesoeman. Ya sudah, aku manut. Aku sempat ikut panel bincang-bincang dengan topik yang aku sebut di atas, meski ternyata karena sesuatu hal, Gibran tidak bisa datang. Oh ya, saat datang ke event ini, aku membeli novel LAUT BERCERITA karya Leila S. Chudori yang latar belakangnya terhubung dekat dengan peristiwa 1998.

 

Malamnya, kami berdua 'ngangkring' di Wedangan Pak Basuki. Setelah beberapa kali kesana, aku pikir teh nasgitelnya berubah rasa, tidak lagi 'sedahsyat' yang aku ingat/harapkan, saat itu, rasa tehnya kembali nikmat seperti sebelumnya.

 

Minggu 2 Juli 2023 pagi, aku menemani Ranz dan Deven dolan ke CFD. Aku sarapan nasi liwet. Siangnya aku ikut keluarga Ranz menghadiri arisan keluarga besar. Sore, Ranz mengajakku ngopi di 'kedai' kopi 1956. (Semula aku janjian dengan seorang kawan facebook yang bertemu di 'patjar merah' di sini. Tapi ternyata kemudian Vika ga bisa datang, Ranz tetap mengajakku ke kedai kopi ini, ya aku mau dong ya.)  Malamnya, kami makan ke food court 'Kenangan' yang terletak di daerah Gentan, bareng mas Martin dan mbak Niken. Aku naik motor boncengan Ranz, mas Martin, dan mbak Niken bocengan motor juga, plus Deven. Karena di kampung Ranz sedang ada yang membangun rumah, ada tumpukan material, mas Martin ogah ngeluarin mobil. Hoho …

 

Senin 3 Juli 2023

 

Kami memulai perjalanan dengan keluhan vertigo yang diderita Ranz. :( Bad vertigo left a bad taste in her mouth: bulan Desember 2022 kami bersepeda ke Jogja, tapi kemudian Ranz 'diserang' vertigo, hingga 3 malam menginap di hotel, kami tidak ngapa-ngapain, karena bahkan keluar dari kamar saja Ranz ga mampu. Aku 'hanya' sempat keluar sepedaan di kawasan Bulaksumur, plus sekali sampai Tugu, dan beli makan plus obat untuk Ranz.

 

Kami berangkat dari rumah Ranz sekitar pukul 06.20. Meski sang surya bersinar cerah, angin yang berhembus terasa dingin. Seperti biasa, kami sarapan di satu warung makan yang terletak tak jauh dari SMP N 1 Gatak, Sukoharjo. Kami memesan timlo tanpa nasi.

 

Di awal perjalanan, Ranz mengayuh pedal Hezel dengan cepat, kadang aku keteteran mengejarnya. Namun, setelah kami mulai masuk kabupaten Klaten, Ranz nampak santai sekali. Well, ini bukan sepedaan ikut event apa pun, jadi kami bisa mengayuh pedal sepeda sesantai yang kita ingini.

 

 




Kami sempat mampir pom bensin dua kali untuk pipis. Well, sakit perut yang mulai menggangguku sejak bulan November 2022 memaksaku untuk segera pipis jika aku merasa kebelet, tidak boleh ditahan jika aku tidak ingin diserang rasa sakit lagi.

 

Oh ya, ini adalah perjalanan pertama Solo - Jogja Ranz naik Hezel, sepeda camp hazy yang dia beli di awal tahun 2023 untuk dia naiki di event J150K, maka dia dengan suka cita berhenti di spot-spot tertentu untuk memotret Hezel.

 

To our disappointment, saat kami sampai di lokasi jualan es dawet Ngudi Roso, si penjual libur. Well, memang sebelumnya sudah aku perkirakan sih. Sebelumnya kan ada long weekend libur Hari Raya Idul Adha. Pasti ramai sekali. Dan, banyak penjual makanan atau apa pun juga yang memilih libur di hari Senin untuk istirahat. Apa boleh buat? Ranz menawari mampir di kedai dawet lain, aku menolak. Kapan dulu itu kami mencoba mampir di kedai lain, tapi rasanya mengecewakan. So? Mending ga usah sekalian.

 



 

Sesampai di Candi Kalasan, kami mulai merasakan titik-titik gerimis. Ranz mengeluh; di bulan Desember 2022, kami kehujanan saat akan masuk kota Jogja. Dan … Ranz pun sakit parah. Tapi, untunglah gerimis kali ini ya hanya gerimis, tidak membesar menjadi hujan.

 


 

Perjalanan lancar hingga kami sampai di bunderan UGM. As one 'ritual' kami mampir, aku memotret Austin dengan latar belakang tulisan UNIVERSITAS GADJAHMADA, dan Ranz pun memotretku di sini. Saat itu, lumayan banyak orang yang mampir dan antri foto. Ada beberapa mahasiswa yang menawarkan sewa jaket almamater untuk berfoto. Aku tidak tertarik karena warna jaketnya tidak seperti jaket almamater yang aku dapatkan di tahun 1986 duluuu. Entah mengapa kok warnanya berubah ya.

 

Aku blas tidak merasa lapar sampai di situ. Yang ada di benakku adalah: segera sampai penginapan, aku mau mandi keramas, kemudian … TIDUR! Tapi Ranz lapar dan dia menyebutkan ingin makan sesuatu yang rasanya terasa banget (I was thinking of nasi padang dengan rendangnya), hangat, dan berkuah. Nah, bingung kan aku, nasi padang kan biasanya kering, ga pakai kuah banyak. Dan, aku benar-benar tidak bisa menerjemahkan keinginan Ranz untuk makan apa. Jelas aku juga tidak tahu mau mengajak Ranz mampir di rumah makan mana?

 

Dan, jawabanku, "terserah kamu mau makan dimana. Aku ga lapar kok," memicu kekesalan Ranz. (haha, kami memang sering bertengkar!) setelah meninggalkan bunderan UGM, dia mengayuh pedal Hezel dengan cepat, menuju Jalan Kaliurang km 5. Aku ngikutin dari belakang. Dan, ini adalah untuk kesekian kali kami menginap di satu hotel yang terletak di Gang Megatruh, Ranz sudah hafal jalan menuju ke sana. Untunglah sebelum sampai hotel, ada outlet mie Yamin Panda. Ranz pun mampir ke situ. Dia memesan satu jenis mie ayam, dan minuman es choco oreo. Dia sama sekali tidak menawariku apa-apa, dan, aku belum ngeh bahwa dia marah padaku. (I was too insensitive, eh?)

 

Setelah makan, kami ke hotel, check in. untuk pertama kali kami mendapatkan kamar di lantai 3! Waduh. Untunglah kakiku baik-baik saja, jadi naik turun tangga sampai lantai 3 okay-okay saja. Dan seperti yang sudah aku bayangkan, aku langsung mandi keramas, kemudian leyeh-leyeh di tempat tidur. Ranz sibuk dengan gadgetnya. We didn't talk to each other at all, lol.

 

Ketika malam tiba, kebetulan perutku juga tidak lapar. Aku menunggu apakah Ranz akan mengajakku keluar makan malam, ternyata dia tetap tidak mengatakan apa pun juga padaku. Dia keluar sebentar, kemudian balik lagi membawa air mineral dan sedikit cemilan. Aku tidak merasa butuh ngemil, so aku langsung tidur.

 To be continued.

Selasa, 13 Juni 2023

One Weekend in Surakarta

 

kaos baru, hadiah dari 'juara buncit' top contributor satu grup alumni

Jumat 9 Juni 2023 Ranz datang ke Semarang bersama keponakannya, Deven. Ranz bilang dia ingin mengajak Deven ke Pantai Marina, terutama ke La Playa, satu tempat makan yang ditata sedemikian rupa seolah-olah terletak di satu pantai dengan pasir putih. Ha ha … aku sih senang-senang saja diajak ke sini (lagi) karena aku ditraktir. Sebagai 'ganti', aku cukup selalu siap diminta untuk memotret maupun menyuting Ranz. Gampang lah iniii.

 

aku berdua dengan Deven


 
Deven's lunch

Ranz's lunch

my lunch


Dari tiga jenis makanan yang kami pesan, hanya pesananku yang habis, lol. Yang dua lain dibungkus dan kami bawa pulang.


Malamnya, setelah aku selesai mengajar, aku ikut Ranz dan Deven ke Solo. Kami naik travel Ci**trans. Mobil yang kami tumpangi meninggalkan pool jam 18.30, dan sampai di pool Surakarta pukul 20.10. Perjalanan ke luar dari gerbang tol Colomadu sampai Jl. Slamet Riyadi Solo cukup tersendat karena padatnya jalan raya.

 

Sabtu 10 Juni 2023

 

Karena aku tidak membawa Austin, pagi ini aku bersepeda naik Astro. Semula kupikir Ranz sudah libur di hari ini, ternyata dia malah sibuk mengerjakan tugas ini itu karena kebetulan tempat kerjanya malah ada kegiatan di luar. Ya sudah, gapapa, aku kan sudah biasa sepedaan sendiri di Solo.

 

soto dkk 😋

Seperti biasa, tujuan pertamaku adalah RM soto Hj. Fatimah yang terletak di Jl. Bhayangkara. Setelah kenyang, aku lanjut sepedaan ke arah Jl. Veteran, lurus mentok sampai perempatan di mana jika aku belok kiri, aku akan sampai Jl. Kapten Mulyadi.

 

foto dijepret oleh Ranz di hari Minggu 11 Juni 2023

 

Tujuanku berikutnya adalah Balaikota Surakarta. Sejak akhir Mei, gedung balaikota dihiasi pernak pernik khas agama Buddha untuk turut menghormati perayaan Waisak yang jatuh pada tanggal 4 Juni 2023. Saat akan memotret Astro aku baru ngeh, lah, ngapain aku memotret Astro coba? Astro kan bukan sepedaku? Hoho … harusnya aku bawa Austin!

 

foto hasil keisengan di dalam stadion Manahan 😎

 Dari balaikota, aku melanjutkan mengayuh pedal Astro, entah aku tidak ingat aku menuju arah mana, pokoknya bersepeda. Hingga aku sampai ke satu lokasi yang membawaku ke Taman Balekambang. Wah, boleh juga lah ke sana. Tapi, ternyata renovasi yang dilakukan di Taman Balekambang belum selesai. Sekian bulan lalu aku juga ke sini, dan tidak bisa masuk. Akhirnya aku melanjutkan perjalanan. Sesampai stadion Manahan, aku ingat aku kepengen masuk ke stadion ini. Aku pun iseng masuk. Setelah di dalam, ada suara raungan mobil banyak sekali! Ternyata di arena sirkuit sedang ada lomba balap mobil. Wah!

 

Aku sempat nongkrong di area di mana ada pepohonan jadi tidak panas, bahkan anginnya lumayan terasa sepoi-sepoi. Aku membaca novel RASINA dua bab, kemudian scribbling ga penting di diary. :) sekitar satu jam kemudian aku ke luar, bersepeda lagi.

 

Selat Solo, es teh, dan novelnya SDD 😅

Aku sebenarnya ingin jajan es dawet. Nah, es dawet gempol pleret yang enak itu di satu warung makan dekat tempat kerja Ranz. Tapi, tempatnya sempit dan tidak banyak tempat duduk. Kalau sedang penuh, ga bisa duduk nyaman menikmati jajananku. So? Aku ke Tenda Biru saja, maksi selat Solo dan cukup minum es teh.

 

Saat masih menikmati maksiku, Ranz ngabarin dia sudah pulang. So, setelah aku selesai maksi, aku pun pulang ke rumah Ranz.

 

Sorenya, aku terapi ke mbak Rina.

 

Malam, aku menemani Ranz jajan susu, aku hanya menontonnya. Hoho …

 

Minggu 11 Juni 2023

 

Kami tidak punya rencana sepedaan ke satu lokasi hari ini. Kupikir Ranz hanya akan mengajakku sepedaan ke arah CFD Jl. Slamet Riyadi.

 

Di tengah area CFD yang ramai, aku disapa seseorang. Ternyata dia teman dari Seli Solo. Dia menawariku untuk bergabung; ternyata Komunitas Seli Solo sedang ada acara gowes Minggu pagi. (Later on aku tahu, kawan-kawan Seli Solo sedang merayakan ultah ke-13 pagi itu sekaligus mengadakan pemilihan ketua komunitas yang baru.)

 

nasi liwet sarapanku
 

Aku sarapan nasi liwet di satu pedagang di CFD. Dari sana, kami ke balaikota. Kali ini Ranz memotretku -- bersama dengan Astro -- dengan dekorasi replika patung Buddha tidur.

 


 

Dari sana, aku ngikut Ranz saja ke arah mana. Ternyata, dia mengajakku ke vihara Dhamma Sundara. Beberapa hari sebelumnya, Ranz tahu tentang vihara ini dari akun IG Pemkot Solo. Vihara ini terletak di Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Surakarta. Vihara ini diresmikan pada tanggal 24 Maret 2002! Wah, sudah lebih dari 20 tahun, dan Ranz baru ngeh tahun ini. Hihi …

 

Jika Pagoda Buddhagaya alias Avalokitesvara yang terletak di Pudak Payung Semarang memang juga dibuka untuk para wisatawan, jadi para turis pede saja masuk ke dalam, aku dan Ranz sempat ragu-ragu boleh ga kami masuk ke vihara Dhamma Sundara. Tapi setelah bertemu dengan seseorang -- not clear who -- dan aku bertanya apakah kami boleh memotret, orang itu bilang boleh, akhirnya aku dan Ranz berani memotret dan dipotret di dalamnya.

 

patung Buddha di ruang utama untuk beribadah



Dari vihara, Ranz mengajakku ke satu lokasi yang disebut sebagai 'Taman Sunan Jaga Kali'. Ranz sarapan soto di sini, aku menemaninya dengan ngemil beberapa gorengan.

 

Dari sana, kami pulang ke arah Jongke. Pokoknya aku ngikutin Ranz dari belakang saja, manut ke mana dia belok ke kiri atau ke kanan atau lurus. :)

 

tahu kupat ala Solo

Siang itu aku bilang ke Ranz aku ingin maksi tahu kupat ala Solo. Bumbunya bukan sambal kacang, seperti kupat tahu Magelang, namun ada juruh/kinca katanya. Eh, kirain itu kecap. Rasanya lumayan. Karena perut kami berdua tidak benar-benar lapar, kami hanya pesan satu porsi dan kami makan seporsi berdua.

 

bakso, makan soreku

Sore Ranz mengajakku makan bakso di dekat lapangan Sriwaru. Aku pulang ke Semarang naik travel jam 19.00.

 

Kapan-kapan dolan ke Solo lagiii.

 

PT56 13.24 13/06/2023

 

N. B.:


Foto-foto di bawah ini aku donlod dari link ini.

 




Kamis, 05 November 2020

Napak tilas bersepeda Solo - Jogja - Solo day 4-5

 Sabtu 31 Oktober 2020

 


 

Jika sehari sebelumnya Ranz memulai ritual paginya pukul enam, hari ini dia baru memulainya pukul setengah delapan, lol. Aku? Tentu setelah Ranz selesai. Tapi, eh, sebelum Ranz selesai urusan di kamar mandi, aku sudah packing, memasukkan barang-barang yang akan kubawa pulang (Ranz sudah packing semalam). Jadi setelah Ranz selesai, aku tinggal mandi, ganti baju, packing terakhir kali, ngecek kamar semoga tidak ada barang yang tertinggal, dan kita berdua siap meninggalkan kamar.

 

Jam 09.29 kita sudah turun dari lantai 2, check out, kemudian berfoto di depan hotel, dan mulai mengayuh pedal. Semalam, Ranz bilang dia ingin segera sampai Solo, dia beli komputer online dari Bandung, dan komputer sudah sampai rumah, dia ingin segera lihat mainan barunya! Maka? Dia bilang mau ngajak aku ngegrab saja. Aku jawab, "Mbok minimal kita bersepeda susur Selokan Mataram deh ya." Ranz diam saja. Kenyataannya?

 



Pagi itu kita kembali sarapan gudeg yang warungnya terletak di pinggir Selokan Mataram. Sempat ngomel2 karena harus ngantri lama karena 'bersaing' dengan mereka yang beli untuk dibungkus dibawa pulang (mereka bisa beli puluhan dos!) toh Ranz tetap memakan sarapannya. :D Menjelang pukul 11.00 kita baru melaju menyusuri Selokan Mataram.

 

Kita baru sampai Fakultas Peternakan ketika tiba-tiba aku ingat sesuatu: aku belum foto di Bunderan UGM! :D Aku mengajak Ranz memutar lagi ke arah jalan Kaliurang. Untung dia mau, hihihi. Setelah foto di salah satu spot favorite para wisudawan UGM, aku memilih rute ke arah Timur, kemudian belok kiri ke jalan "perbatasan" UGM + UNY sampai bertemu Selokan Mataram lagi.

 





 

Seperti hari Jumat saat bersepeda ke Kaliurang, perjalanan kali ini hanya kadang dihiasi sinar sang surya yang terik, lebih sering mendung. Dan, masih seperti biasanya, kita mampir angkringan yang terletak di depan pintu gerbang Candi Sambisari, meski sebenarnya kita sudah melewati belokannya, hihihi. Berulang kali lewat Selokan Mataram, kita ga kunjung hafal di jalan mana kita harus belok kiri untuk menuju Candi Sambisari.

 




Dari Candi Sambisari, Ranz sempat ngecek google map rute menuju Candi Sari. Aku sudah gembira Ranz bisa 'membacaku': aku pingin mampir berfoto di depan Candi Sari. Eh, ternyata oh ternyata, dia lewatkan begitu saja Candi Sari. Aku ga ngeh, tahu-tahu sudah sampai di depan masjid yang bentuk struktur menaranya ala masjid Rusia (konon). Ahhh … ya sudahlah, kita terus melaju ke arah Candi Prambanan, Candi Plaosan, dst.

 

Ranz sudah wanti-wanti tidak mau kuajak mampir Candi Plaosan karena jarak masuknya lumayan jauh dari jalan raya. Ya sudah. Dari area Candi Plaosan ini, mendung sudah nampak di depan mata. Aku yang terus menjaga kayuhan pedal Austin agar terus berada di belakang Ranz mengikuti Ranz saja. Dan, di kilometer 27,5 akhirnya Ranz memutuskan menepi, di bawah sebuah pohon, untuk berkemas, menutupi tas pannier dengan tas kresek (bag cover yang paling murah meriah dan jelas anti air, lol), mengenakan mantel, dan … melanjutkan perjalanan.

 




Tak lama setelah kita mengenakan mantel, hujan menderas, genangan air yang cukup dalam di sepanjang jalan yang kita lewati. Memasuki kota Klaten, kondisi tetap sama. Lah, padahal aku pingin berfoto di depan masjid megah di jalan yang kita lewati. Ga enak lah kalau hujan-hujan begitu berhenti untuk berfoto. Kita juga tidak bisa berfoto di depan ex pabrik gula Gondang. Hmmm … ya sudah.

 

Terus terang rada tidak nyaman bersepeda di bawah hujan deras di jalan yang penuh dengan kendaraan besar, bus antar kota. Hmft … (jadi mimpi ada jalur sepeda dimana para pesepeda bisa mengayuh pedal di jalur yang terpisah dari kendaraan bermotor) tapi, ya apa boleh buat? Maka, ketika sampai di satu area dimana Ranz mengajakku belok kanan dan memasuki kawasan persawahan (Pakis?) aku lega sekali.

 

Btw busway, aku baru beli sadel baru untuk Austin, yang tidak terlalu lebar, jadi sungguh menyiksa untuk pantatku yang ukurannya cukup lebar, lol. Aku ga ngeluh capek, tapi, duh pantatku perih banget! Lol. Maka, ketika kulihat Ranz tidak memberi tanda-tanda untuk mengajak berhenti istirahat, aku yang mengajaknya berhenti di satu minimarket yang kita lewati.

 

Ranz, "Minummu habis?" tanyanya inosen.

 

Aku, "Engga, masih sih, Cuma aku butuh 'jeda' untuk mengistirahatkan pantat yang perih."

 

Ngakaklah dia, lol. "Kamu beli sadel yang ga tepat. Harusnya beli yang lebih lebar dari ini." katanya. Hohoho … ya wis lah, mau gimana lagi?

 

Aku sudah mulai merasa bosan dengan rasa perih di pantat, tapi kulihat tanda-tanda kita kayaknya masih berada di area Klaten, dan aku terus menerus mengambil nafas panjang, lol, ketika akhirnya kita melewati sebuah jembatan kecil, dan … tataaaaa … kulihat nama 'Sukoharjo' terpampang di satu bangunan. Yeayyyy. Sudah sampai Sukoharjo kitaaaaaaaaaaa.

 

 

Sekitar pukul setengah enam kita sampai di Jongke, Laweyan. Alhamdulillaaah. Saatnya mandi, ganti baju yang kering dan bersih, plus istirahat.

 

 

Selepas jam 19.00, kita keluar makan malam di warung makan adiknya Ranz. Dari sana, kembali aku minta ke Wedangan Pak Basuki untuk menikmati teh nasgitelnya yang lezat.

 

Jam 21.30 kita sudah balik ke rumah Ranz. Saatnya istirahat.

 

 

Minggu 1 November 2020

 

Pagi ini aku super males bangun pagi, lol. Ranz juga. Hahahah … kebetulan memang kita tidak punya rencana mau dolan kemana. Akhirnya pukul 08.30 aku mandi, kemudian siap-siap keluar. Ranz mengajak ke Balekambang. Ah yaaa … sudah lama juga aku tidak dolan kesana.

 



Pukul 09.50 kita sudah sampai di rumah makan Tenda Biru, aku ingin makan Selat Solo. Dari sana kita ke Balekambang. But, to our disappointment, ternyata Taman Balekambang tutup karena sedang direnovasi. Kita jadinya foto-foto di halaman parkir mobil yang terletak di sebelah kanan pintu gerbang masuk taman. Dari sana, karena Ranz masih pingin foto-foto dengan background pepohonan, dia mengajakku ke Taman Banjarsari. Tapi, ternyata sampai sana, juga ada pengumuman taman tutup karena covid 19. meski kita lihat ada lumayan banyak orang di dalam taman, (ada satu pintu kecil yang terbuka), Ranz tidak setuju kuajak masuk.

 





"I don't want to break the rules," katanya. Ha hah … ya sudah. Kita pun balik ke rumahnya. Istirahat, dan packing terakhir sebelum aku balik ke Semarang.

 

Pukul lima sore, mobil travel yang kunaiki sudah meninggalkan poolnya yang terletak tak jauh dari flyer (baru) di kawasan Purwosari. Pas saat itu turun hujan deras.

 

Travel sampai di pool di Jalan Trilomba Juang pukul 18.50. dalam perjalanan pulang, banyak genangan air di jalan-jalan yang kulewati. Sebelum pukul 19.30 aku telah sampai rumah. Tak lama kemudian turun hujan yang cukup lebat. Syukurlah aku jadi naik travel yang pukul 17.00, dan bukan yang pukul 19.00.

 

Sampai jumpa di kisah mbolang Nana dan Ranz berikutnyaaa.

 

PT56 11.20 November 3-5 2020