Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Ananda Ranz. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ananda Ranz. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Desember 2019

Seberapa sakti dengkulmu?

waktu ngikut Tour de Pangandaran 7


Guys, tentu pernah dengar kan komentar orang, "sing penting dengkule" ketika membahas tentang sepeda 'bagus' versus sepeda "kurang bagus" hingga butuh upgrade sepeda. Setelah upgrade sepeda, ternyata tetap ga mampu "mengikuti" kecepatan kawan bersepeda, misalnya, maka candaan berikutnya adalah "upgrade dengkul". lol.


Beberapa hari lalu ada satu pertanyaan di grup id-fb alias Indonesia FoldingBike, "yang biasa komen yang penting dengkulnya, tolong jelaskan teknisnya bagaimana?"


Well, aku ga sempat baca komen-komen lain secara serius, tapi hal ini langsung mengingatkan pengalamanku sendiri. Aku bersepeda (hampir) tiap hari, jauh lebih sering bike to work ketimbang naik motor ke kantor (ini bisa saja terjadi biasanya mungkin karena janjian bertemu Ranz di kantor, dia langsung dari Solo menuju kantorku; atau dulu ketika kadang pulang kerja langung ke rumah sakit menunggui Ibu yang sedang sakit). Semenjak tahu bahwa di strava ada challenges yang bisa menaikkan minatku gowes lebih rajin, (honestly, beberapa tahun terakhir gairah bersepeda ini turun drastis) aku kembali rajin bersepeda, menantang diri sendiri, misal, seminggu minimal bersepeda sejaun 200 km. Apalagi semenjak tahu bahwa ada 'reward' yang bisa kita pajang di akun strava, misal dengan ikut challenge grand fondo, bersepeda 100 km sehari. aku kian bersemangat. Di bulan Oktober 2019, aku mencatat rekor bersepeda sejauh 1000 kilometer sebulan. pencapaian yang wow buat diriku sendiri, lol.


Ranz juga bike to work setiap hari. Tapi dia aslinya jauh lebih malas bersepeda dibandingkan aku. lol. Beberapa kali dulu dia mengajakku loading ketika dolan bersepeda, misal saat kita gowes ke Umbul Sidomukti, dia sempat ngeluh ngajak cari loadingan, tapi aku yang keeukeuh untuk lanjut gowes, meski tentu kadang harus nuntun di tanjakannya yang spektakuler itu. lol. Kalau sRanz edang ke Semarang, aku tentu lebih suka mengajaknya naik sepeda saat pergi kemana-mana, tapi dia kadang kumat malesnya, dia akan merayuku untuk naik motor saja. lol.


Tapi, as you know, ketika kita gowes bareng, bikepacking antar kota kadang antar propinsi, dia jauh lebih perkasa lah ketimbang aku. Bahkan kadang saat dia dalam kondisi drop, misal saat kita gowes ke Klayar, tetap dia yang membawa pannier full-loaded berisi barang-barang kita. dia ga sampai hati jika aku yang membawanya.


Padahal jika sepeda lipat yang kita naiki dibandingkan, Austin jauh lebih mumpuni upgrade-annya ketimbang Pockie, sepeda lipat andalan Ranz (dulu) buat mbolang berhari-hari. Aku juga bersepeda jauh lebih sering ketimbang Ranz. Namun, tetaplah, dia jauh lebih perkasa ketimbang aku.


Apa karena dia lebih muda 20 tahun ketimbang aku? Hmmm ... belum tentu perempuan seusianya sekuat dirinya jika mereka naik sepeda dengan 'kualitas' sepeda-sepeda yang dimiliki Ranz. hohoho ... (dia pernah gowes Solo-Semarang-Solo naik dahon da bike 16" single speed, pernah gowes Solo - Semarang naik sepeda bmx)


lalu, ga bisa lah aku menjawab pertanyaan iseng (bagiku iseng) di grup id-fb itu. "teknisnya bagaimana?"


ketika aku membahas hal ini dengan Ranz sambil tertawa-tawa, dia bilang, "Kurasa ini mirip dengan membandingkan bakat dan latihan." Untuk 'mencapai' kemampuan Ranz bersepeda, aku kudu rajin latihan terus menerus, dia ga perlu latihan namun tetap saja bisa mengalahkan aku. 😜😛😝


Jadi ingat beberapa minggu lalu dia cerita dia menemukan satu obrolan di milis id-fb sekian tahun lalu. ternyata Ranz menjadi bahan obrolan di milis itu tentang pengalamannya bersepeda Solo - Semarang- Solo (2 hari) dengan naik Shaun, dahon da bike 16" single speed. di obrolan itu, ada yang bilang, "saya dengar dia nuntun sepedanya di tanjakan." Ranz bercerita ke aku tentang hal ini sambil bersungut-sungut, kenapa laki-laki merasa terancam dengan kenyataan bahwa aku bersepeda Solo-Semarang-Solo naik single speed sehingga memfitnah seperti itu?" kekekekekekeke ...


Kadang, Ranz memang suka bercanda dengan berkata, "ini karena otakku tuh adanya di dengkul". wakakakakakakakaka ...


IB 11.45 21-Desember-2019

Rabu, 28 Agustus 2019

Dipalak!

penampakan Shaun di tahun 2012



Ini kisah pribadi Ranz. dan tanpa seijinnya, saya menulis kisahnya. 😆

Jadi begini. Salah satu tukang foto kesayangan kawan-kawan B2W Semarang maupun Komselis ini tinggal di Solo, namun dia sangat sering ikut event yang ada di Semarang. Yang saya ingat, saya pertama kali bertemu dengannya di event Deklarasi B2W Salatiga bulan September 2010, dimana saat itu B2W Semarang berkolaborasi bersama Komselis untuk bersama turut meramaikan. Berarti sejak 9 tahun yang lalu Ranz sudah sering wira-wiri Solo - Semarang - Solo, kadang sepedanya dinaiki, kadang loading naik bus, atau akhir-akhir ini, kereta api.

penampakan Pockie dengan tas pannier dan oleh-oleh, waktu itu kita bebas biaya bagasi waktu naik bus Nusantara dari Purwokerto ke Semarang, tahun 2013

Sejak awal loading bus dengan membawa sepeda lipat, Ranz tidak pernah dimintai uang berlebih untuk 'bagasi'. Bahkan saking seringnya, para kondektur yang baik hati malah yang menatakan selinya di dalam bagasi. Free.

Ini juga pengalaman saya di tahun-tahun 2011 - 2015, membawa sepeda lipat ke dalam bus, tanpa dikenai biaya tambahan, naik bus dari Semarang ke Solo, maupun sebaliknya.

Saya lupa mulai kapan kadang saya dimintai biaya tambahan ini, mungkin sejak 3 tahun yang lalu, sejak semakin banyak orang yang melakukan hal yang sama, membawa sepeda lipat ketika naik bus. Jika ongkos bus Rp. 30.000,00 saya beri tambahan sepuluh ribu rupiah, jika sang kondektur meminta. Ranz dan saya pernah menganalisis mengapa para kondektur mulai meminta biaya tambahan ini. Kita menyimpulkan bahwa mungkin ada para kawan pehobi sepeda lipat yang memberikan tips kepada kondektur, sebagai ucapan terima kasih. Bermula dari tips, hingga berkembang menjadi 'wajib bayar'. Mungkin lo ya.

Jika saya kadang diminta biaya tambahan ketika naik bus dengan membawa Austin, sepeda lipat saya yang sudah dengan sangat setia menemani saya dolan kemana-mana, hingga frame-nya penuh goresan disana-sini, lol, Ranz tetap 'sakti', ga pernah dimintai biaya tambahan.

Namun akhirnya Ranz pun kudu mengalami hal baru dalam hidupnya. Lebay. Lol. Hari Sabtu 24 Agustus 2019, ketika naik bus Safari LUX dari Kerten menuju Semarang, dia diminta membayar TUJUH PULUH RIBU RUPIAH, yang berarti sama dengan biaya perjalanan untuk 2 orang, yang satu untuk Ranz sendiri, yang satu biaya bagasi untuk Shaun, seli yang dia bawa. Ketika Ranz tidak mau membayar sejumlah itu, dia pun diturunkan dari bus! Ranz lebih memilih turun dari pada harus membayar sejumlah itu. Dari Ngasem, tempat Ranz turun dari bus, dia gowes ke arah terminal Boyolali. Dari sana, dia naik bus TARUNA, hingga turun di Kaligawe Semarang, bebas biaya.

Jika sekarang kita merasa lega bahwa kita bisa bebas membawa sepeda lipat naik ke dalam gerbong kereta api, karena memang KAI sudah sangat bersahabat dengan sepeda lipat, mungkin sudah saatnya ya ada kesamaan persepsi pada seluruh kru bus. Jika memang harus membayar, ada kriterianya.

Note:

Untuk naik bus Semarang - Jogja, maupun sebaliknya, selama ini saya bebas biaya tambahan. Pernah satu kali saya akan dimintai biaya tambahan (waktu itu di terminal Jombor), dengan roman wajah galak, saya berkata, "Tidak ada itu biaya tambahan. Selama ini gratis. Lagian sepeda lipat ini beratnya hanya 15 kg, bukankah peraturan biaya tambahan untuk bagasi itu jika lebih dari 20kg?" lol.

Demikian curhat saya siang hari ini. Barangkali ada yang akan ikut curhat?

LG 12.12 28-Aug-2019

Jumat, 18 September 2015

Who is your inspirator for LDR?

Who is your inspirator for LDR? a.k.a long distance riding

Di awal ‘nyemplung’ ke dunia sepedahan tahun 2008, tentu ga terpikirkan bahwa satu saat nanti dari sepedahan ini aku akan memiliki pengalaman bikepacking alias mbolang naik sepeda. Meski sebelum itu aku sudah bermimpi untuk backpacking, alias mbolang berjalan kaki, atau jika beruntung mendapatkan tumpangan orang yang baik hati, seperti yang ditulis oleh Andrea Hirata di bukunya yang berjudul “Edensor”.

Akhir tahun 2009, aku kenal seseorang yang mengaku pernah bersepeda all the way dari Jakarta ke Nepal. (Entah benar atau ga kisah yang dia ceritakan ini. Hihihi …) Waktu itu dia menjanjikan satu saat dia akan mengajakku bertualang bersama, entah naik sepeda, atau naik motor.

Mimpi yang dia tanam di kepalaku ini nampaknya begitu ajaib. Aku benar-benar ingin melakukannya, bertualang seperti Lima Sekawan, kisah empat remaja plus seekor anjing yang menemaniku menapaki masa remaja, meski tanpa kisah ala detektif. Yang penting bertualang, bersepeda, merambah kota-kota. Mimpi ini, kian dipupuk oleh seorang (atau dua orang) kawan sepedaan yang di tahun 2010 itu kadang posting foto waktu dia mbolang ke satu tempat dengan naik sepeda. Sebut saja namanya Riu, bukan nama sebenarnya. LOL. (Bukan Bunga. LOL.) Riu terkadang ditemani Tayux dalam mbolangnya. Juga bukan nama sebenarnya. LOL.

Walhasil, mimpiku pun kian menggelitikku. Aku kian tak sabar. Kapan si seseorang yang berjanji padaku untuk mengajakku mbolang merealisasikannya?

Awal tahun 2011, pertama kali mencoba turing ringan, ramai-ramai dengan para seliers dari beberapa kota, bersepeda dari bunderan UGM ke Candi Borobudur, Magelang, tanggal 6 Maret 2011. Thank god kakakku telah membelikan adik-adiknya sebuah sepeda lipat, sehingga akubisa ikut event ini di Jogja. “Keberhasilan”ku (keberhasilan! Xixixixi) mengikuti turing ini membuatku merasa, “oh … aku bisa lho mbolang naik sepeda.”J

Turing ringan ini dilanjutkan dengan turing ramai-ramai bersama kawan-kawan pesepeda Semarang (B2W Semarang, B2C Semarang, B2S Semarang, Komselis, dll.) Pertama ke Kudus bulan April 2011. Kedua ke Jepara, Mei 2011.

Ternyata, bersepeda jarak jauh (“jauh” buatku lhoo) ini begitu membuatku ketagihan. :D Maka, ketika aku dolan ke Solo untuk mengunjungi sobat lama yang tinggal di Palur (thanks god, aku sudah kenal Ranz yang terus menerus mengundangku dolan ke rumahnya yang tak jauh dari stasiun Purwosari), dan berencana dolan ke Jogja setelah itu untuk mengunjungi kawan lama yang lain, aku sangat bersuka cita ketika Ranz menawariku bersepeda saja ke Jogjanya, ga usah naik kereta api. Ini terjadi di bulan Juni 2011. Dan … ternyata aku telah merealisasikan mimpi mbolang dari satu kota ke kota lain dengan naik sepeda! Tanpa si seseorang yang berjanji untuk menemaniku bertualang.J

Kisah mbolang berdua di bulanJuni ini ternyata berlanjut ke bulan Juli waktu kita mengikuti trip ke Karimun Jawa yang diadakan oleh sebuah agen travel.Meski pun mengikuti itinerary agen itu, kita tetap membawa sepeda lipat sehingga kita tetap bisa bersepeda tatkala tidak sedang mengikuti boat riding.

Berlanjut lagi di bulan September 2011 ketika Ranz mengajakku ke pantai Nampu, satu pantai indah yang terletak di balik sebuah bukit di Wonogiri: a blind biking adventure karena kita berdua masih buta trek, masih belum berpengalaman melakukan satu bikepacking trip.

Jadi, siapa dong yang menginspirasiku ber-long-distance-riding?

Tentu bukan Paimo dong, yang konon telah menjadi inspirator banyak pesepeda lain untuk turing (bukan turu miring lhoya. #garing). Sebelum menulis ini, aku selalu ‘menuduh’  Riu yang telah membuatku ngiler untuk mbolang. Namun setelah menulis ini, oh … ternyata … si seseorang itu yak.LOL. Mau tahu siapa si seseorang itu? Mau tahu aja atau mau tahu banget? #garing (kedua). LOL. Ga usah deh ya.LOL.


Kebayang, jika sejak tahun 2008 lalu aku tahu sepak terjang Paimo yang nekad bersepeda dari satu Negara ke Negara lain bahkan sampai mendaki pegunungan Andes dengan sepeda, well, mungkin aku malah tidak akan terinspirasi untuk berbikepacking. Apa yang dia lakukan terlalu ekstrim bagiku, sehingga aku ga bakal ingin menirunya. (mana mungkin? Aku kan hanya penggembira di sepedaan, Cuma bisa bergembira ketika nyepeda. LOL. Cuma bisamenaiki sepeda dan ga bisa ngapa-ngapain jika terjadi apa-apa dengan sepedaku.Paling mentok menuntunnya ke bengkel sepeda. LOL. Mungkin aku malah hanya akan bersepeda dari rumah ke kantor ajah, kemudian pulang. Sesekali ngikut event funbike. Sudah.

*****

Dua tahun kemudian setelah memiliki pengalaman mbolang ke beberapa kota naik sepeda, aku dan Ranz dolan ke Jogja untuk yang ke sekian kali untuk ngikut event J150K. Waktu gowes, seseorang (aku ga perlu sebut namanya ya? J ) berbicara kepada Ranz, “Kalian tahu ga sih bahwa kalian berdua telah merusak tatanan turing? Sebelum kalian turing naik sepeda lipat, kita para turinger memiliki ‘standard’ ketika turing. Pertama, sepeda harus blab la bla … kedua, turinger harus blab la bla … Lha kalian? Seenaknya aja turing naik sepeda lipat.Itu menyalahi kaidah turing.Bla blab la … dan seterusnya dan seterusnya. LOL. (Shhhttt … bacanya dengan nada bercanda ya? Jangan serius.)

Kian tahun, kian banyak orang bertualang dengan naik sepeda.Entah siapa pun itu yang telah menginspirasi mereka. Apakah itu Paimo atau siapa pun juga. Secara pribadi, akusenang, karena justru bisa berbagi pengalaman dengan banyak orang, bisa melihat orang lain yang memiliki passion yang sama. (Beberapa tahun lalu, a student of mine, a woman, older than me a few years, who has  a doctor’s degree, bertanya padaku, “What did you get from such a trip, Miss Nana? Besides feeling exhausted?” nah lo, aku mblongong kan dengernya? LOL.)

LG 15.33 17/09/2015


Selasa, 05 Agustus 2014

Gowes ke Jembatan Landa

4 Juli 2014

Sesampe rumah Ranz -- sekitar pukul 04.00 pagi -- kebetulan kita berdua sama-sama dikaruniai 'monthly guest', kita ga perlu sahur, kita langsung molor! (Padahal di bus aku juga sudah molor mulu!)

Pukul 09.00 kita bangun, mandi, dan ... siap gowes! Kali ini aku pengen ke Jembatan Landa yang terletak tak jauh dari Waduk Cengklik, ga jauh juga dari bandara Adi Sumarmo - Solo. Setelah puas foto di Jembatan Landa, kita balik ke arah Solo, untuk nongkrong di Taman Balekambang. Malemnya, Ranz ngajak aku gowes ke arah Solo baru, untuk menraktirku di sebuah restoran yang berbentuk double decker, alias bus tingkat. :)

Berikut foto-foto narsis kita berdua :)



siap-siap sebelum in action :D













Sabtu, 15 Juni 2013

Biking Soul Mate

Satu hal 'syarat' yang paling penting -- bagiku -- ketika bersepeda (terutama ketika menempuh jarak jauh, let's say lebih dari 50 kilometer) adalah a company alias teman bersepeda. Satu hal yang entah mengapa aku 'lupakan' ketika menulis "Bikepacking : what on earth is that?" (I am sorry ya Ranz? heheheh ...)

kita berdua mengenakan kaos disain Ranz di foto ini

Why a biking (soul) mate?



Om Eddy -- seorang senior cyclist di kota Semarang yang satu pagi kutemui ketika dalam perjalanan bike to work -- mengatakan bahwa bersepeda sendiri itu sunyi dan bakal mudah membuat kita terserang bosan. Jika ada seseorang yang bersepeda bersama kita, paling tidak ada seseorang yang akan kita kejar, jika kita tertinggal di belakang, yang akan membuat kita terus bersemangat untuk mengayuh pedal. Atau jika kita bersepeda terlalu bersemangat dan teman bersepeda kita tertinggal di belakang, kita akan memelankan diri untuk menunggu agar kita bisa bersepeda bersama lagi.



Well, more or less, aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh Om Eddy. Namun aku punya banyak alasan lain mengapa aku butuh seorang Ranz untuk menjadi biking soul mate.



Pertama, hobi Ranz yang fotografi membuat perjalanan yang kita jalani bersama akan terdokumentasikan dengan baik. (Sedikit ngeles bahwa aku sangat narsis. xixixixixi ...) Ranz jagoan menjepret dengan kamera meski dia sedang bersepeda, apa pun sepeda yang dia naiki, Febby (sepeda BMX yang dia miliki), Shaun (seli 16"), Pockie (seli 20") maupun Karen (fixie), di segala medan yang kita lalui, tanjakan, turunan, offroad, apalagi jika trek halus mulus. Kebetulan belum pernah Ranz menaiki Cleopatra (polygon cleo 2.0) ketika gowes bersamaku. Yang pernah, aku naik Cleopatra, Ranz naik Austin (di kisah gowes Solo - Semarang), aku naik Cleopatra, Ranz naik Shaun (di kisah gowes ke Candi Cetho) atau aku naik Cleopatra, Ranz naik Pockie (di kisah gowes ke Alas Bromo)


di foto ini kita mengenakan kaos yang kita beli maupun kaos event

Kedua, Ranz lebih paham sepeda dengan spareparts-nya ketimbang aku yang hanya tahu menaikinya doang. LOL. So? kalau terjadi hal-hal di luar perkiraan, Ranz merupakan 'penolong pertamaku'. :) Misal (yang paling mudah namun aku belum pernah mencoba menanganinya sendiri): rantai lepas. heheheheh ...



Ketiga, Ranz sangat awas dengan rute yang telah maupun akan kita lewati. Praktis aku tinggal mengayuh pedal saja melewati rute yang harus kita lalui. Kadang kita butuh GPS atau ... yahhh ... cukup bertanya pada orang-orang yang kita lewati, tapi dengan adanya Ranz, aku tinggal ngikut. hahahah ...



Keempat, terutama ketika harus packing (ketika bertamasya naik sepeda alias bikepacking), Ranz sangat piawai mengatur bawaan kita sehingga semua barang bisa diatur dengan rapi (meski aku kadang 'menuduhnya' suka memperkosa tas pannier karena mengisinya dengan amat sangat fully-loaded. lol)



Kelima, mungkin karena Ranz merasa lebih muda dariku sehingga lebih kuat dariku, ketika berbikepacking, Ranz selalu yang merasa perlu bertanggungjawab untuk mengayuh pedal sepeda yang di boncengannya terbebani tas pannier kita. Di awal kita bersepeda (berdua) dulu, dia naik Snow White dengan tas pannier di boncengan, aku naik Pockie. Kemudian berlanjut hingga aku naik Snow White Ranz naik Pockie yang telah dipasangi rak boncengan di belakang, atau aku naik Austin, Ranz naik Shaun. Waktu gowes Solo - Semarang, berhubung aku naik Cleopatra dan Austin yang dinaiki Ranz belum ada rak boncengan di belakang untuk menaruh tas pannier, Ranz membawa backpackku di gendongannya. Tas pannier yang nangkring di Cleopatra isinya ga seberapa. Ranz is very loving and sweet, isn't she? :)



Selain Ranz, kita juga kadang ditemani si mungil namun perkasa Tami. Misal, ketika gowes ke Nglimut (kita juga ditemani Om Nasir yang jadi road captain), ketika kita gowes ke kawasan Mangrove di Mangkang, atau ketika kita gowes ke kawasan Tinjomoyo.



Selain Tami, aku dan Ranz pernah sekali bersepeda ditemani Andra, dalam kisah gowes ke Candi Ngempon.


kita mengenakan kaos yang kita beli, kecuali yang paling bawah sebelah kanan

How to get a biking (soul) mate?



Pertama tentu harus kenal dan tahu karakter teman-teman kita yang punya hobi yang sama : bersepeda. Untuk ini mungkin kita bisa gabung dengan komunitas atau pun klub bersepeda. Kemudian mencari pesepeda yang kira-kira memiliki karakter yang bisa klop dengan kita. Dalam tulisannya yang berjudul "The Black and White Adventure" Ranz menulis karakter kita yang bisa jadi bertolak belakang, aku kadang merasa kita justru saling mengisi. Misal: Ranz suka memotret aku suka dipotret. xixixixixi ... Aku suka membaca Ranz suka kubacakan cerita. Aku kurang rapi dalam packing, Ranz rapi sekali kalau packing.



Kedua, setelah mendapatkan beberapa teman yang berhobi sama, selanjutnya ya cobalah melakukan perjalanan bersama, untuk mengeklopkan karakter. Jelas butuh waktu untuk saling 'adjust', but it is worth trying. 😃



Ketiga, sering-seringlah bersepeda berdua agar kita semakin paham karakter masing-masing. Jangan mudah patah semangat yak? 😍



Tblg 11.32 150613



P.S.:


especially written for my one and only Ranz. We have been a (biking) soul mate for 2 years! Happy anniversary!



di Kaliurang Juni 2011, our first bikepacking
on Pulau Kecil beach, Karimun Jawa, our second travelling
near Gajahmungkur dam, on our (third) bikepacking to Nampu beach, September 2011



Nampu beach, Wonogiri, September 2011




Tawangmangu camping ground, our fourth travelling December 2011
at Sikidang crater, Dieng, our fifth journey January 2012


perbatasan kota Salatiga dari arah Boyolali Mei 2012
at one vihara Gunung Pati, June 2012
Kartini museum, Rembang, August 2012
masuk perbatasan propinsi Jawa Timur, bikepacking to Tuban, August 2012
gapura Wringin Lawang, Trowulan, November 2012 
on the way to Umbul Sidomukti, January 2013


on the way to Cetho temple, at Karang Pandan bus station, 26 January 2013
Kemuning tea plantation, Karanganyar, January 2013


di 'puncak' tanjakan Buntu, Banyumas
Baturraden, bikepacking to Purwokerto, March 2013


Ambarawa, on the way to Borobudur 24 May 2013
jelang tanjakan Jambu - Ambarawa 24 Mei 2013
Borobudur, before leaving for Jogja 26 May 2013