Selasa, 28 Mei 2013

B2WC - Bike to Waisak Ceremony (Day 1)



TOUR DE BOROBUDUR FOR WAISAK
 
foto dijepret hari Minggu, jelang gowes ke Jogja
Sudah lumayan lama aku ‘nyidam’ berkunjung ke Candi Borobudur, entah naik kendaraan bermotor atau pun sepeda, untuk merasakan sensasi ‘solitude’ di puncaknya, di sore/senja hari maupun pada waktu fajar. ‘Keriuhan’ beberapa teman yang bercerita tentang pemandangan menakjubkan saat pelepasan ribuan lampion sebagai penanda berakhirnya prosesi upacara Waisak membuatku ingin mewujudkan keinginan itu pada peringatan Hari Raya Trisuci Waisak tahun ini. (FYI, di akhir kisah, aku tak merasakan sensasi yang kuidamkan. :( Next time deh. :) )

My biking soul mate – Ranz – selalu antusias dengan ideku untuk gowes kemana pun juga sehingga dia langsung setuju ketika kuajak ke Borobudur. Sempat bingung apakah kita akan berangkat dari kota masing-masing (aku dari Semarang dia dari Solo) dan bertemu di Magelang atau berangkat bareng, entah dari Solo atau dari Semarang. Akhirnya Ranz yang memang punya waktu lebih luang setuju untuk menjemputku terlebih dahulu baru kita berangkat bareng. Hari Kamis 23 Mei 2013 sekitar pukul 19.00 dia telah sampai di Semarang.

Jumat 24 Mei 2013 (Semarang – Borobudur)

Aku berangkat ke kos Ranz pukul lima pagi, sementara Ranz sedang melaksanakan ritual paginya. :) Kita meninggalkan kos Ranz sekitar pukul 05.30. Pagi nan mendung, situasi traffic masih belum menggila, perjalanan kita pun lancar sampai di pos pemberhentian pertama, RM Bu Surti di dekat alun-alun Ungaran pukul 08.00. (Thanks to OmIrwan yang telah memperkenalkan warung murah meriah namun makanannya lezat ini.)
 
W.M Bu Surti dekat alun-alun Ungaran
Usai sarapan kita melanjutkan perjalanan. Sampai Bawen kita sudah lumayan ‘berpengalaman’ karena beberapa kali melewati tanjakan Lemahbang yang elevasinya tidak jauh beda dari tanjakan Gombel namun trek lebih pendek. Dari Bawen kita belok kanan ke arah Ambarawa. Ternyata trek dipenuhi turunan baik tajam maupun halus. Beberapa kali berhenti untuk kepentingan dokumentasi alias narsis diri LOL di beberapa titik; sekali untuk membeli memory card buat kamera Ranz; sekali ke mini market untuk membeli air mineral dimana kita disapa oleh seorang polisi bertanya kita mau kemana; sembari mengundang kita untuk beristirahat di polsek terdekat jika kita butuh rehat. Tak lupa juga berpesan agar hati-hati karena jalanan ramai.




Sekitar pukul 11.00 kita sampai di tanjakan pertama di daerah Jambu, dimana disitu ada ‘peringatan’ AWAS TANJAKAN SIAPKAN GANJEL BAN. LOL. Jalanan benar-benar ramai hari itu meski tidak sampai macet, namun kita harus benar-benar ekstra hati-hati. Sekitar 45 menit kemudian kita sampai EVA COFFEE HOUSE dimana kuputuskan untuk mampir beristirahat sembari ngemil sesuatu. Kwetiau gorengnya enak lho disini (to my taste lah), juga tahu goreng yang entah mengapa diberi kuah yang enak juga disrutup. LOL. Ranz sempat nunut shalat dzuhur di musholla yang terletak di belakang restauran.
 
arrived at Eva Coffee House!
Ambarawa!

siapkan ganjel ban! :D

tanjakan di daerah Jambu

Setengah jam kemudian kita melanjutkan perjalanan. Melewati trek rolling yang berkelok-kelok ini sangat membuat diriku sendiri amazed karena trek ini zaman kuliah kulewati seminggu sekali naik bus. Beberapa kali naik motor. Dan ... kali ini aku melewatinya naik sepeda! Wow to myself! wkwkwkwk ...
 
di gerbang selamat jalan Kabupaten Semarang

foto jepretan Ranz ini keren yaaa? :)

di belokan!

Akhirnya kita pun sampai di terminal Secang dimana aku telah meyakinkan Ranz bahwa dari Secang menuju Magelang, trek akan sangat amat menyenangkan: menurun halus! YAY! Masuk kota Magelang, aku pun bernostalgia zaman awal aku kuliah S1, saat terminal Magelang terletak di dekat pusat kota, di Jalan Pemuda. (Semenjak terminal pindah, otomatis aku sangat jarang lewat Jalan Pemuda karena bus yang dari Semarang harus belok kiri di pertigaan Kebon Polo, yang dari Jogja belok kanan dari Mertoyudan.) Ranz sempat mengutarakan keinginan untuk malam pertama kita menginap di kawasan kota saja, untuk ‘sedikit’ mengeksplor kota. Namun sejak awal aku sudah ingin langsung saja menuju Borobudur, maka kita hanya berfoto-foto ria saja di alun-alun Magelang, menyusuri jalan utama Magelang pelan-pelan, hingga kita sampai Mertoyudan, dan mulai memacu sepeda dengan lebih cepat sampai Mungkid.
 
di satu tempat yang kita lewati :)

Magelang, here we come! :)

Di pertigaan Mungkid ada petunjuk arah dan jarak menuju Bobobudur: kurang lebih 20 kilometer. Lhah, berarti jarak Semarang – Borobudur sekitar 100 kilometer yak? Setelah belok kanan, ‘bonus’ jalan menurun tetap menanti kita, sehingga kita pun mengirit tenaga dan waktu. Sekitar pukul setengah lima sore kita tiba di depan papan bertuliskan TAMAN WISATA CANDI BOROBUDUR. Setelah foto-foto secukupnya, kita hunting penginapan. Well, kita tahu bakal sulit mencari penginapan di kawasan Borobudur pas/jelang hari Waisak, namun kita tidak patah semangat. Lumayan kita mendapatkan penginapan yang tidak begitu jauh tempat wisata, meski biaya sewa menginapnya bisa dianggap mahal: sebuah kamar ukuran sekitar 3 x 4, dengan fasilitas berupa kipas angin, double bed, dan kamar mandi luar Rp. 250.000,00. Namun kamar ini hanya kosong satu malam, karena pagi harinya telah dipesan seseorang. 
 
(tumben) Austin mejeng sendirian yaaa? :D

jelang di pertigaan Mungkid

gaya Ranz yang sok cool :-P

yayyy! we are at Borobudur again!!!
Setelah mandi dan minum es teh sebagai ‘welcoming drink’ dari guest house tempat kita menginap, kita keluar untuk makan malam. Si empunya guest house memberi informasi dimana kita bisa makan malam, meski sebenarnya tidak sulit mencari warung makan di daerah itu. Setelah makan (sepiring nasi goreng + satu porsi ayam bakar untuk kita berdua), kita mampir ke mini market untuk membeli air mineral. Disini Ranz kehilangan sebuah lampu yang dia tinggal di seatpost sepeda. 
 
malam yang cerah
Dari mini market, kita hanya duduk-duduk di depan tulisan TAMAN WISATA CANDI BOROBUDUR, ngobrol sambil menikmati rembulan yang bersinar dengan indah. Cuaca malam itu sangat cerah. Kita pun tentu berharap pada malam berikutnya, saat dilaksanakan perayaan seremonial Waisak, cuaca pun juga cerah. Saat ngobrol, kita melihat banyak mobil yang parkir di daerah situ, dimana kata seorang penduduk sekitar mereka adalah pengunjung yang tidak mendapatkan hotel untuk menginap, atau merasa cukup beristirahat dan tidur di dalam mobil saja. Orang yang sama juga mencoba membujukku dan Ranz untuk ikut dia ke satu tempat yang disebut ‘Punthuk Setumbu’ jka kita ingin mendapatkan pemandangan sunrise yang spektakuler. Untuk itu, dia minta kita membayar masing-masing Rp. 15.000,00, sebagai ganti biaya mengantar. Namun tawaran itu kita tolak. Orang yang sama mengatakan bahwa jika kita ingin mengadakan ‘sunrise tour’ ke Borobudur, kita harus membeli tiket khusus, harganya Rp. 280.000,00 per orang. (Nah, ini yang kuimpikan, but kok mahal ya tiketnya? :( )

Sekitar pukul 21.30 kita kembali ke penginapan untuk beristirahat.

To be continued.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar