Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Snow White. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Snow White. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2020

Samori Blusukan ke Purwodadi

 "The Journey is the destination"

 

Sejak Juni -- setelah bergrandfondo ke Kudus sendiri naik Snow White -- aku sudah kepingin bersepeda seratusan kilometer lagi. Ternyata baru di bulan Agustus 2020 aku mendapatkan mood yang tepat. :)

 


Sabtu 08-08-2020

 

Meski Jumat malam aku baru bisa tertidur di jam yang cukup larut, pagi ini aku terbangun pukul setengah lima, memiliki kesempatan beberapa puluh menit untuk menimbang-nimbang aku akan bersepeda di pagi hari atau engga. Beberapa minggu ini aku rada males bersepeda di pagi hari, lebih memilih molor gegara hawanya sejuk, enak buat terus memeluk guling. Hihihi …

 

Pukul lima pagi aku ke toilet, pipis, ke dapur sebentar untuk menyiapkan air minum dalam bidon, kemudian ganti baju. Jam 05.15 aku keluar. Aku sudah menetapkan hati untuk ke arah Purwodadi; aku akan menyambangi 'Api Abadi Mrapen'.

 

Tahun 2016 terakhir ke Mrapen, aku ingat jarak yang tercatat adalah 80 kilometer.  Jika ingin mencapai jarak tempuh 100 kilometer, berarti aku harus menambah jarak dong. Ini sebabnya aku tidak langsung menuju arah Simpanglima dan seterusnya setelah meninggalkan Pusponjolo. Aku ke arah Indraprasta, Imam Bonjol, Kota Lama, Pengapon, Kaligawe, kemudian belok ke kanan di pertigaan Bangetayu. Dari sini jika lurus aku akan sampai jalan arteri Sukarno Hatta, kemudian 'njedul' ke Jl. Majapahit atau sekarang disebut Jalan Brigjend Sudiarto.

 


Atas pertimbangan itu, ketika bertemu dengan pertigaan, aku langsung belok kiri; aku berharap akan bertemu jalan yang kulewati sekian bulan lalu saat bergrandfondo ke Demak, jalan yang akan membawaku sampai pasar Mranggen. Belum jauh aku belok, ada seorang pesepeda laki-laki yang menjajariku, mengajak bareng. (Sedikit obrolan dengannya akan kuunggah di tulisan terpisah ya?)

 


Meski yakin aku akan menemukan jalan yang akan tembus ke Mranggen, aku tetap bertanya kepada si laki-laki itu. Dia mengiyakan, jika kita lurus terus di jalan yang kita lewati, kita akhirnya akan sampai Demak. Di perempatan yang nantinya kita lewati akan ada papan petunjuk, jika belok kiri kita akan ke arah Onggorawe, belok kanan Mranggen, lurus Demak, disitu lah aku nanti belok kanan, sedangkan laki-laki itu belok kiri, rumahnya di daerah yang bernama Bulusari katanya.

 

Kita bersepeda bareng sampai di perempatan yang kusebut di atas. Dia belok kiri, aku belok kanan. Luruuus sampai jalan raya, akuakan  sudah sampai di jalan raya yang menghubungkan Semarang dan Purwodadi. Aku pun belok kiri.

 

Jika bulan Juni lalu, perutku rasanya anteng sampai aku bersepeda sejauh 50 kilometer, kali ini perutku telah meronta-ronta meski jarak yang kutempuh baru sekitar 25 kilometer. Maka, aku pun mulai melihat ke kiri kanan untuk mencari rumah makan yang bisa kuampiri. Di kilometer 29 kilometer, aku berhenti di satu rumah makan yang bertuliskan SOTO SEGER KAHURIPAN.

 



Aku kaget ketika pesananku datang karena ternyata soto daging sapi, bukan soto ayam. Haduw. Aku bukan vegetarian yang anti makan daging dari binatang berkaki empat sih, tapi aku lebih memilih soto ayam. Tapi, ya sudahlah. Aku makan satu mangkuk soto daging, satu tempe goreng, satu krupuk, kemudian minum segelas teh hangat. Untuk itu, aku membayar Rp. 13.000,00. wah, murah yah?

 


Setelah itu, aku melanjutkan perjalanan. Aku sampai di pabrik sarung tangan ZUNA ketika jarak di strava menunjukkan angka 39 kilometer, hanya beberapa puluh meter dari gerbang perbatasan masuk Gubug! Wahhh …

 

Setelah melewati pertigaan Gubug, aku ambil jalan ke kiri. (Jika ke kanan aku akan sampai stasiun Kedung Jati, tapi ogah ah kesana, lha treknya rolling banget je dari pertigaan itu, lol.) sempat ragu kok ga sampai-sampai setelah ambil jalan ke kiri dari pertigaan Gubug, aku sempat ngecek google map. Tapi ternyata arah yang kupilih benar. Aku tinggal melanjutkan perjalanan.

 


Aku sampai di pintu gerbang masuk Api Abadi Mrapen saat jarak tempuh di strava menunjukkan angka 49 kilometer.

 

To my disappointment, Api Abadi Mrapen belum dibuka untuk umum. :( aku sempat bertanya kemungkinan memotret Snow White di dalam, ke satpam yang jaga, namun mendapatkan jawaban yang cukup menyebalkan, lol. Ya sudah. Toh, dalam perjalanan ini mottoku adalah THE DESTINATION IS THE JOURNEY. Bukan melulu 'Api Abadi Mrapen' atau apa kek. Yang penting adalah 'bersepeda sejauh 100 kilometer'. :D

 

Setelah bertanya dua tiga hal ke satpam, aku langsung kembali ke arah jalan raya. Aku juga langsung mengayuh pedal Snow White ke arah Semarang. Dalam perjalanan balik, aku sempat tergoda belok dua kali. Yang pertama, ketika aku melihat ada petunjuk WISATA TENGAH SAWAH 200 meter. Ini di sebelah kanan (aku menuju arah Barat ya) ketika memotret Snow White, ada seorang laki-laki naik sepeda motor yang lewat, dia berhenti melihatku memotret Snow White. Kemudian dia menyapa,

 

"Sendirian saja Bu?"

 

"Iya." jawabku.

 

"Rumahnya mana?"

 

"Semarang."

 

"Wah … Semarangnya mana?"

 

"Karangayu." jawabku, berpikir bahwa nama pasar ini tentu lebih dikenal ketimbang Pusponjolo. :D

 

"Wah … jauh juga ya? Biasanya orang malas bersepeda sendirian. Apalagi tiyang putri," katanya heran.

 

"Selama pandemi, saya lebih memilih sepedaan sendirian, Pak."

 

"Tapi njenengan ikut komunitas sepeda kan?"

 

"Nggih. Tapi memang selama pandemi saya menghindari sepedaan ramai2. khawatir jika ramai2, saya akan lupa diri, lupa jaga jarak, lupa melepas masker, misal ketika foto bareng atau jajan bareng."

 

"Iya sih, tapi kalau sepedaan sejauh ini sendiri kan orang biasanya malas."

 

"Memang. Ini kebetulan mood saya sedang bagus buat sepedaan jauh."

 

Dia mengangguk-angguk sambil mengundangku mampir ke WTS. Aku pun mengayuh pedal Snow White ke arah dia melaju, hingga sampai di kawasan itu. Entah dia pemilik WTS atau siapa, tapi dia mengizinkanku masuk tanpa beli tiket. (Tiket masuk Rp. 2000,00 untuk weekdays, untuk akhir pekan/hari besar Rp. 5.0000,00)

 

Setelah mengitari kawasan WTS, sambil memotret beberapa spots, aku keluar, minta pamit ke Bapak itu, kemudian melanjutkan perjalanan.

 

Sesampai perbatasan Gubug, aku melihat petunjuk TANGGUNGSARI. Ah, tiba-tiba aku ingat stasiun Tanggung yang pernah kukunjungi bareng beberapa kawan 4 tahun lalu. Well, demi menambah jarak di strava, lol, aku pun belok kiri. Kucek di google maps, stasiun Tanggung terletak kurang lebih 6 kilometer dari jalan raya. Hmmm … jauh juga ya? Tapi, yaaah … gapapa deh.

 

Aku sempat ngecek google map 2 kali untuk memastikan aku berada di jalan yang benar, lol, akhirnya aku pun sampai di stasiun Tanggung. Alhamdulillaaah.

 


Aku ga sempat masuk ke tempat menunggu penumpang. Aku hanya memotret Snow White 3 kali disana, kemudian langsung balik kanan, kembali ke jalan yang kulewati semula. Sebelum sampai jalan raya, aku mampir ke satu warung es degan. Siang yang panas begitu tentu enak minum es degan. Lumayan lo, ternyata harganya murah banget! Hanya tigaribu rupiah per gelas!

 

Cukup minum segelas es degan saja. Aku terus melanjutkan perjalanan. Karena air di bidon habis waktu dalam perjalanan ke stasiun Tanggung, aku mampir ke satu minimarket, beli air mineral dan teh kotak dingin. Setelah itu, aku terus melanjutkan perjalanan, tanpa sekali pun beristirahat. Sempat ada kemacetan yang cukup panjang, namun aku bisa terus mlipir lewat kiri.

 

Sesampai Semarang, kebetulan setiap kali lewat traffic light, lampunya terus berwarna hijau, sampai Tugumuda! Akhirnya aku memiliki kesempatan untuk beristirahat karena traffic light berwarna merah disini. Aku ngecek strava, jarak yang telah kutempuh 97,7 kilometer. Setelah lampu berubah hijau, aku melanjutkan perjalanan, aku belok ke Jalan Jayengan, untuk mampir belanja dapur sebentar.

 

Menuju rumah, aku lewat jalan Suyudono, terus hingga jembatan Lemah Gempal, masuk ke Jalan Pusponjolo Selatan. Sesampai di depan pintu gerbang rumah, aku ngecek strava, jarak tempuh 100,4 kilometer. Alhamdulillah, grandfondo tercapai!

 

Dengan lega, aku masuk rumah. Yeay. Next time lagi yuk Na! demi ngeksis! Hihihi …

 

PT56 16.23 10 Agustus 2020

Senin, 27 Juli 2020

Snow White versus Austin

Note:

 

Snow White adalah nama sepeda lipat saya merk polygon urbano 3.0 yang dibelikan oleh kakak di tahun 2010. Sedangkan Austin sepeda lipat saya merk downtube nova yang saya beli di tahun 2011.

 

 

Awal mula saya 'bikepacking' (baca => dolan dari satu kota ke kota lain dengan naik sepeda) saya 'mengajak' Snow White. Ranz -- soulmate biking saya -- naik Pockie, sepeda lipat pocket rocket yang dia beli di tahun 2009. Pertama kali kita 'mbolang' bareng di bulan Juni 2011, dari Solo ke Jogja. Karena waktu itu, Pockie tidak memiliki rak boncengan, hingga tidak bisa membawa tas pannier, Ranz mempersilakan saya naik Pockie, sedangkan dia naik Snow White yang kita 'bebani' tas pannier di rak boncengan.

 

 

Austin di Kota Lama


Situasi yang sama -- saya naik Pockie sedangkan Ranz naik Snow White -- kita lakukan lagi dalam 'petualangan' bersepeda Solo - Pantai Nampu yang terletak di perbatasan Wonogiri dan Pacitan di bulan September 2011, saat bersepeda Solo - Tawangmangu di bulan Desember 2011. pertama kali dalam petulangan kita berdua saya naik Snow White dan Ranz naik Pockie -- yang telah dipasangi rak boncengan sehingga bisa membawa tas pannier ketika kita bersepeda dari Semarang menuju Tuban, bulan Agustus 2012. Yang berikutnya saat kita bersepeda dari Solo ke Surabaya di bulan November 2012.

 

Snow White 


 

Mulai tahun 2013, tepatnya bulan Maret, saya ganti naik Austin dan 'membiarkan' Snow White jaga kandang. Ha ha … alasannya sepele: Austin hak milik saya hingga jika terjadi 'kerusakan' karena sering dibawa keluar kota, naik turun bagasi bus (biasanya saya dan Ranz pulang bikepacking naik bus, hanya waktu berangkat saja kita bersepeda), saya sendiri yang menangis pilu. Lol. Snow White bisa dikatakan milik bersama -- saya dan adik-adik saya -- karena kakak saya yang membeli sepeda ini. Di bulan Maret 2013 itu saya dan Ranz bersepeda dari Solo ke Purwokerto.

 


Enakan mana naik Snow White atau Austin?

 

 

Sepeda keluaran polygon memiliki kekuatan dalam hal stabil saat kita bawa 'lari' di jalan panjang. Ini berdasarkan pengalaman saya naik Snow White dan Cleopatra -- sepeda polygon cleo 2.0 yang memiliki ban 26". Ini berarti Snow White cocok diajak 'turing' menempuh jalan panjang, terutama jika trek tidak begitu rolling alias naik turun ya. Kelemahannya di awal akan mulai mengayuh pedal, Snow White terasa lebih berat jika dibandingkan Austin.

 

 

'Berat' Austin lebih ringan ketimbang Snow White, jadi lebih enak membawa Austin saat saya harus sering menggotongnya; misal naik turun kereta api. Well, saya belum pernah menimbangnya sih, hanya 'terasa' saat menggotong. Karena lebih ringan. Austin pun terasa lebih ringan ketika dinaiki dan meluncur di jalan raya. Tetapi, karena ringan inilah, Austin terasa lebih mudah terdorong angin saat menapaki jalan panjang; akibatnya larinya terasa kurang stabil.

 

 

Karena lebih ringan pula Austin lebih enak dinaiki saat melewati tanjakan, dibandingkan Snow White. Hal ini menimbulkan sugesti dalam diri saya sendiri saat naik Snow White saya bakal ngos-ngosan berat jika harus nanjak. Eh, padahal naik Austin nanjak ke Umbul Sidomukti juga saya ngos-ngosan banget, dan nuntun di beberapa tanjakan. Hahahah … apa kabar jika saya naik Snow White? :D

 

 

Ah ya, ada satu 'kelebihan' lain dari Snow White: frame yang melengkung ke bawah membuatnya lebih nyaman dinaiki buat mereka yang memiliki kaki yang pendek, seperti saya dan adik-adik saya.

 

 

Untuk kunci lipatan; baik Snow White maupun Austin sama-sama aman. Snow White yang hampir berusia 10 tahun dan Austin yang hampir 9 tahun memiliki kunci lipatan yang bisa diandalkan. Meskipun begitu, Austin lebih mudah dilipat hingga tidak butuh waktu lama. Tapi, eh, Snow White terakhir saya lipat itu di tahun 2013, saat saya bawa field trip ke Jogja bersama siswa-siswa saya. Jadi bisa dibayangkan susahnya melipat Snow White sekarang.

 

 

Berbicara tentang upgrade, Austin lebih 'siap' di-upgrade karena di frame sudah disediakan 'dudukan' ketimbang Snow White. Jika ingin upgrade Snow White ya harus beli 'dudukan' terlebih dahulu, lumayan lho harganya ratusan ribu rupiah. (Ini dalam konteks 'biasa' ya bukan dalam konteks pandemi covid 19 yang mendadak memviralkan sepeda; dimana-mana orang mendadak bersepeda membuat harga sepeda -- dan spare parts yang menyertai -- gila-gilaan.

 

 

PT56 11.50 23-Juli-2020

Selasa, 12 November 2019

Kisah pertama kali membawa sepeda lipat naik kereta api




Postingan terinspirasi postingan Tayux :)

Januari 2011 pertama kali aku membawa Snow White -- sepeda lipat pertama yang kupunya dibelikan kakakku -- naik kereta api Banyubiru, menuju Jogja, hasil komporan Cipluk alias Diah untuk turut menghadiri gathering Korwil Bike 2 Work se-Jateng dan DIY. Karena kangen Jogja, aku menuruti komporan ini, lol. (haseek, ada 'kambing hitam' yang bisa kupakai, lol.) Cipluk yang mengajak naik kereta api waktu itu.

Entah mengapa aku pede saja menaiki Snow White ke stasiun Poncol, padahal aku belum bisa melipat sepeda, hihihi … antisipasiku adalah bakal bertemu Cipluk di stasiun (waktu itu aku belum tahu dia kudu berangkat dari Kudus pagi itu) Cipluk tentu akan membantuku melipat sepeda. (Eh, Cipluk juga yang memberi nama Snow White karena seli polygon urbano 3.0 itu berwarna putih.)

Ternyata sesampai Poncol, setelah membeli tiket kereta, aku bertemu dengan Tayux dan Riu, yang juga akan berangkat ke Jogja untuk menghadiri event yang sama. Mereka ditolak masuk peron karena mereka membawa sepeda fixie.

Riu, "Mbak, sepeda boleh dibawa masuk peron setelah dilipat."
Tayux, "Sudah bisa melipat sepedanya belum?"
Aku, "Belum." (hihihi …)
Tayux, "Riu, nih sepedanya Mbak Nana tolong dilipatin."

Kemudian dengan cekatan, Riu melipat Snow White.

Aku pun masuk ke peron, sendiri. (NOTE: aku menggendong Snow White sendiri loooh. Lol.) menggendong Snow White masuk ke satu gerbong KA Banyubiru, dan mendudukkannya di dekat tempat aku duduk, ga sampai melihat petugas 'melempar' Snow White masuk gerbong khusus barang, seperti pengalaman Tayux. :) Ga lama kemudian Cipluk nyusul. Dia ga bawa sepeda karena rencana dia mau mampir Solo dulu untuk mengambil sepeda fixie-nya yang dia titipkan di rumah Ranz. (NOTE: waktu itu aku dan Ranz belum solmetan, kekekekeke …)

Cipluk, "Bun, beli tiketnya ke Solo kan?"
Aku, "Loh, waktu ditanyain petugas loket aku bilang beli tiket ke Jogja."
Cipluk, "Lhaah, kan sudah kubilang kita turun di Solo dulu, aku harus ambil sepeda dulu di rumah Ranz."

KA Banyubiru itu seperti kereta commuter Prameks (lawas), tempat duduknya di pinggir kiri dan kanan, menempel 'dinding' gerbong kereta. Aku bisa meletakkan Snow White di dekat aku duduk. Waktu itu kita masih bisa menikmati orang-orang yang jualan pecel dll waktu kereta berhenti sebentar di stasiun-stasiun yang kita lewati. Cipluk sempat membeli dua pincuk sego pecel.

Cipluk turun di Purwosari, ga jauh dari Laweyan, rumah Ranz. Aku melanjutkan perjalanan ke Jogja, turun di stasiun Tugu. Sesampai sana, dengan tabah, lol, aku mencoba unfold Snow White. I did it! Yeay! Dari area Malioboro, aku gowes ke rumah seorang sahabat, di Jalan Kaliurang km 7.

Keesokan harinya, dari Gedong Kuning, aku dan Cipluk gowes ke arah Jombor. Aku mengantar Cipluk membeli tiket bus Nusantara untuk balik ke Kudus. Dari terminal Jombor, setelah membeli tiket bus, Cipluk mengantarku ke pool Joglosemar, dia menawari melipat Snow White sebelum aku naik bus Joglosemar. Sampai pulang Semarang, Snow White aman, ga terlempar-lempar. Hihihi …

Dua bulan kemudian, Maret 2011, aku ke Jogja lagi, naik Joglosemar. Mau naik KA Banyubiru, eh, sesampai stasiun Poncol, yang antri beli tiket panjaaaaaaaaaaaaaaaaang, ga kuat aku melihatnya. Saat itu, aku sudah berani mencoba melipat Snow White sendiri. Yeay!

LG 14.14 07112019

untuk kisah selengkapnya bisa klik link ini.

Kamis, 08 September 2016

Sepeda Lipat

Wikipedia menjelaskan bahwa sepeda lipat mulai diproduksi sekitar akhir abad 19. Di link yang sama juga disebutkan bahwa ternyata sepeda lipat sangat berguna di zaman perang, terutama pada Perang Dunia kedua, tahun 1942 - 1945. Ga nyangka kan? :)

foto kuimpor dari sini

Namun, semoga dipahami, jika secara pribadi aku baru ngeh ada jenis sepeda yang bisa dilipat di tahun 2008, di tahun pertama kali aku mengenal beberapa orang yang kemudian dengan mereka kita kita berkumpul di bawah satu 'organisasi', yakni B2W Semarang. Om Budianto a.k.a Om Budenk adalah orang pertama yang kukenal memiliki sepeda lipat. (Eh, better late than never kan ya? :D )

Maka, di tahun 2008 itulah pertama kali aku mencoba menaiki sepeda lipat. Rasanya? Aneh! LOL. Setang yang bisa dilipat itu tentu jauh lebih ringan ketimbang setang jenis sepeda lain yang pernah kunaiki, misal sepeda mini atau sepeda gunung.

Setelah Om Budi, aku mencoba sepeda lipat milik seorang teman lain, Firman. Sepedanya rasanya jauuuh lebih mengerikan dinaiki, ketimbang sepeda milik Om Budi. LOL. Akhirnya kuketahui, ternyata jargon 'ana rega ana rupa' alias harga mahal tentu dibarengi dengan kualitas yang lebih baik, pun berlaku pada jenis sepeda lipat. LOL. Konon, sepeda milik Om Budi harganya lebih dari 3 juta rupiah (waktu itu! coba bayangkan berapa harganya sekarang.) Sedangkan sepeda milik Firman (ketua pertama B2W Semarang) harganya di bawah satu juta rupiah. Waktu menaikinya, rasanya aku bakal dengan mudah diombang-ambingkan angin. LOL. Sangat ringkih. LOL.

Austin waktu masih anyar gres! :D fresh from the box :p

Waktu itu, sepeda lipat belum lazim ditemukan di komunitas pesepeda, apalagi di masyarakat luas. Aku sendiri ga pernah berpikiran bakal punya sendiri. :) Harganya mahal je. :( Maklum, sebagai seseorang yang tidak begitu memperhatikan harga sepeda (waktu itu), lumrahnya harga sepeda kan ya paling-paling cuma beberapa ratus ribu rupiah. :) Hanya orang gila sepeda yang bakal mengeluarkan uang jutaan rupiah hanya untuk membeli sepeda. LOL. Pikirku waktu itu. :D

Ternyata ... semesta berkehendak lain. Kakakku satu-satunya yang tinggal di Cirebon menawari adik-adiknya yang tinggal di Semarang untuk memiliki sebuah sepeda lipat. Untuk apa? Ya ... hanya sekedar untuk memiliki. LOL. Desember 2010 sebuah sepeda lipat dengan diameter ban 20 inchi, mulai menghuni garasi rumah. Meskipun begitu, aku sama sekali tidak, atau belum, tertarik untuk menaikinya. :)

FYI, menurut artikel ini, sepeda lipat mulai populer di Indonesia semenjak komunitas bike to work alias komunitas para pekerja bersepeda merambah di banyak kota. Well, masuk akal ya jika kukatakan aku mulai mengenal jenis sepeda lipat di tahun 2008. :)

Snow White

Akhirnya aku tergoda menaiki sepeda lipat yang dibelikan kakakku, yang kuberi nama Snow White, ketika ada event gathering korwil B2W Jateng - DIY di Jogja di bulan Januari 2011. Eh, ternyata not bad lho! :D (Aku datang ke event ini karena dipacu kangen Jogja :D ) Berikutnya ikut event Jogja Attack Maret 2011.

Dan ... aku ga bisa berhenti mbolang naik sepeda lipat semenjak itu. Hahahahahah ...

Btw busway, sekarang sudah banyak jenis dan merek sepeda lipat, tidak hanya yang harganya berjuta-juta, namun yang hanya sekian ratus ribu rupiah. Meski nampaknya para pengguna sepeda lipat di masyarakat belum tentu mereka yang butuh sepeda lipat untuk meringankan mereka menempuh jarak jauh, dimana sepeda bisa dilipat dan dimasukkan dalam moda transportasi lain, misal bus atau kereta api. Banyak anak-anak yang kulihat naik sepeda lipat berangkat ke sekolah, atau hanya sekedar sepedaan di sekitar rumah. I bet, orangtua mereka mungkin berpikir sepeda lipat ini cocok untuk anak-anak karena diameter bannya yang hanya 16 inchi atau 20 inchi sehingga dianggap sepeda anak-anak.

Apa pun itu, biar sajalah yaaa?

IB180 20.20 08/09/2016

Sabtu, 18 Juni 2016

Snow White

SNOW WHITE adalah nama sepeda lipat yang pertama kali kupakai mbolang ke luar kota. Check this link. Snow White dibelikan kakakku yang baik hati dan tidak sombong plus rajin menabung di bulan Desember 2010, Alasannya simpel, dia ingin adik-adiknya di Semarang pun bisa menikmati rasa naik sepeda lipat, setelah dia sendiri beli satu sepeda lipat untuk di rumahnya di Cirebon.

Karena telah ada sepeda lipat inilah, aku mengiyakan ajakan Cipluk untuk menghadiri gathering B2W korwil Jateng DIY di bulan Januari 2011. Ini adalah debut Snow White mbolang ke luar kota.

Kesempatan kedua mbolang bersama Snow White, kita kembali ke Jogja dua bulan kemudian, Maret 2011. Kali ini aku bergabung bersama KomseliS (komunitas sepeda lipat Semarang) untuk menghadiri satu event yang diberi tajuk JOGJA ATTACK yang konon merupakan embrio event jambore untuk sepeda lipat se Indonesia. Jika di event yang pertama dipicu oleh rasa kangen Jogja (plus komporan Cipluk) yang kedua ada menu yang super menggoda : bersepeda dari bunderan UGM menuju Candi Borobudur.


Kesempatan ketiga, aku memenuhi undangan Ranz untuk berkunjung ke kotanya, Solo. Setelah itu, kita melanjutkan perjalanan dengan gowes ke Jogja lagi! hohohoho ... Dan ternyata oh ternyata ... mbolang ke Solo + Jogja ini menjadi embrio kisah bikepacking kita selanjutnya. Yuhuuu ... :) Ini kita lakukan di bulan Juni 2011.

Mbolang kali keempat bersama Snow White adalah dolan ke Karimun Jawa. Tertarik dengan rencana adikku dolan ke KJ bersama teman-temannya, tapi aku ga mau dolan bareng mereka, aku mengajak Ranz ke KJ. Ranz yang mengaku phobia air, namun godaan dolan KJ lebih menggiurkan, dia pun menerima ajakanku ke KJ. Bahkan dia pun mengajak bawa sepeda. Nah! Saatnya Snow White beraksi lagi. :) Awal Juli 2011 kita pun mbolang ke KJ.

gowes di Karimun Jawa

Ternyata bikepacking alias mbolang naik sepeda memang benar-benar bikin ketagihan. :D Usai mbolang ke KJ, kita pun merencanakan perjalanan selanjutnya.

Di bulan September 2011 kita kembali beraksi. Uhuk :D Karena aku suka pantai, Ranz pun mengajakku ke pantai lagi. Usai berlebaran di awal September itu, kita kembali mengayuh pedal sepeda lipat kita ke arah Wonogiri. Pantai Nampu menjadi tujuan kita. Bikepacking ke Pantai Nampu ini akan tetap menjadi sangat memorable gegara kurang informasi, kita terpaksa menginap di lobi satu hotel di kota kecamatan Pracimantoro. Hohohoho ...

Di masa libur akhir tahun 2011, kita kembali mbolang. Akhir ini kita tidak ke pantai, melainkan ke ... gunung. LOL. Gegara tertarik satu artikel di satu media nasional tentang Candi Cetho, aku pun mengajak Ranz kesana. Karena ketidaktahuan Ranz bahwa kita bisa langsung gowes ke Candi Cetho, kita gowes dulu ke Tawangmangu. Lha malah muter jauh lah kita. hihihihi .. Tapi malah di bulan Desember 2011 itu kita mengunjungi 3 lokasi, Grojogan Sewu di Tawangmangu, beserta Candi Cetho plus Candi Sukuh.

Snow White dan Pockie di pelataran camping ground Tawangmngu
Awal tahun 2012, mendadak kita mbolang ke Wonosobo + Dieng. Ini tanpa rencana. Setelah mendapatkan undangan pernikahan dari seorang rekan kerja yang aslinya Wonosobo di bulan Januari 2012, aku mengajak Ranz untuk ikut menghadiri pesta pernikahan ini. Kebetulan ada tambahan satu hari libur di hari Senin, kita pun melanjutkan perjalanan ke Dieng. Ini kali pertama kita mbolang bersama Angie, dan kita hanya membawa 2 sepeda lipat, hingga kita tidak bisa bebas bergerak. But it was okay. :)

Juni 2012 aku kembali mengajak Snow White dolan, kali ini untuk menghadiri gathering korwil B2W Jateng dan DIY yang diselenggarakan di Jepara. Jika di bulan Januari 2011 aku dikompori Cipluk, kali aku tidak ada yang mengomporiku. LOL. Ranz yang baru saja mengikuti event gowes Srikandi 2 mewakili kota Jepara (meski asli Solo) diundang langsung oleh om Andang, salah satu panitia. Dan ... tentu saja Ranz mengajakku. :)

Snow White kembali beraksi di bulan Agustus 2012, saat kita bikepacking Semarang - Rembang - Lasem - Tuban. Pertama kali aku benar-benar menaiki Snow White dalam perjalanan karena sebelum ini aku biasanya menaiki Pockie. Snow White yang memiliki rak boncengan biasanya dibebani tas pannier tempat kita menaruh segala peralatan yang kita butuhkan dalam perjalanan. Oleh karena beban ini, yang menaiki Snow White pun Ranz. hihihihi ... Kali ini Ranz telah memasang rak boncengan di Pockie untuk dibebani tas pannier. Oh ya, ini juga kali pertama kita mbolang nyebrang propinsi, ke Jawa Timur :)

Di bulan November 2012 kita kembali menyeberangi batas propinsi, ke Jawa Timur lagi. :) Tatkala kita ke Tuban, beberapa teman facebook-ku memamerkan Trowulan yang penuh dengan peninggalan kerajaan Majapahit. Mereka mengompori untuk melanjutkan perjalan dari Tuban ke Trowulan. Akhirnya di bulan November 2012 kita memiliki kesempatan untuk mengunjungi candi-candi di Trowulan, sekaligus mengikuti jambore sepeda lipat nasional yang kedua. Jadi setelah mbolang di Mojokerto, kita melanjutkan perjalanan sampai Surabaya. :)

Dan ... mbolang ke Surabaya ini adalah mbolang Snow White terakhir keluar kota. Mulai tahun 2013 aku mbolang keluar kota dengan menaiki Austin. :)

Snow White kujepret di seberang Lawang Sewu, waktu bike to home

Kadang aku masih menaiki Snow White, untuk berangkat kerja ke kantor, kadang bersepeda di hari Minggu pagi, dll. Setelah Austin ku-upgrade di bulan Januari 2014, dengkulku kian manja :D hihihi ... padahal harus tetap kuakui, jika di jalan datar, dan kecepetan tertentu telah kucapai, Snow White larinya jauh lebih stabil ketimbang Austin. Namun, setelah lamaaaa Snow White tidak terlipat, jangan-jangan lipatannya kian berat ya? Dan malah menjadi ga bisa dilipat? Wew ... Btw, aku bermimpi satu kali nanti mengajak Angie mencoba mbolang dengan bawa sepeda lipat, misalnya ke Trowulan - Mojokerto, atau susur selokan Mataram - Jogja.

IB180 13.13 18/06/2016