Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Lopen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lopen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Mei 2016

Gowes Sejarah bersama KomseliS dan Lopen

Untuk ikut menyambut dengan gembira HUT kota tercinta Semarang yang ke-469, Komselis (Komunitas Sepeda Lipat Semarang) menggandeng Lopen sebagai komunitas kumpulan pecinta sejarah mengadakan satu event khusus yang diberi tajuk #GowesSejarah. Diselenggarakan pada hari Minggu 1 Mei 2016 tema yang diusung tahun ini adalah menelusuri jejak rel trem yang pernah dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda di awal abad ke 20.


Taman Pandanaran dipilih sebagai titik kumpul, mungkin karena ada icon yang bisa dipamerkan di foto, warak. :D Sebagai road captain ada Yogi dari Lopen yang mengaku grogi gegara harus nyepeda bersama para pesepeda karena dia tak biasa bersepeda. :D Ada kang Dur sebagai toa, lol. Ada Dany Saputra dan Victor Riu sebagai marshall. Well, kulihat hanya mereka berdua sih yang mengenakan rompi marshall. Meski tak ada sweeper, dan 2 orang marshall tentu terlalu sedikit untuk peserta yang melebihi 75 orang, semua partisipan berbaris rapi di sepanjang perjalanan. Motto SHARE THE ROAD tetap kita pegang teguh. Uhuk! Banyak wajah baru yang sebelumnya tak pernah kita lihat di event-event sebelum ini, mungkin karena embel-embel SEJARAH event ini menarik mereka-mereka yang biasanya tidak tertarik ikutan event yang diselenggarakan Komselis maupun B2W Semarang.

Selain Komselis dan B2W Semarang, terlihat beberapa komunitas sepeda lain yang bergabung, misal FedSemar alias Federal Semarang, Brompton Semarang, dll. Lowrider Semarang tidak terlihat karena mereka memiliki acara sendiri : menerima tamu Lowrider Kendal. :)

Setelah foto bersama untuk kepentingan dokumentasi, kita mulai gowes ke arah Barat, kemudian belok ke Jalan Kyai Saleh. Di ujung Jalan Kyai Saleh kita belok ke kiri, menyusuri Jalan Veteran. Tempat pertama yang kita kunjungi adalah Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal. Disini kita mendapatkan penjelasan bahwa yang nampak seperti 'selokan' di pinggir Jalan Sriwijaya adalah Kanal Siranda peninggalan pemerintahan kolonial Belanda. Kanal ini dibuat untuk mengurangi kemungkinan banjir di kawasan kota Semarang. (Shhhttt ... sejak zaman Belanda masih 'berkuasa' di kota kelahiranku ini Semarang telah mengalami masalah banjir ternyata!)

Dari Kanal Siranda kita melanjutkan perjalanan ke arah Timur. Di ujung Jalan Sriwijaya kita belok kanan, dan berhenti di depan Java Mall. Disini Yogi menjelaskan bahwa dulunya tepat di depan bangunan yang sekarang digunakan untuk Optik 55 terletak stasiun trem.

Dari sana kita balik kanan, menyusuri Jalan MT Haryono a.k.a Jalan Mataram. Titik berhenti berikutnya di depan sekolah SMA Sultan Agung Semarang. Ada apa ya? Aku sudah lupa. LOL. Satu yang kuingat, gapura yang ada di samping gedung sekolah ini adalah gapura duplikat karena yang asli telah dihancurkan. :(

Kita kembali melanjutkan menyusuri Jalan MT Haryono. Berikutnya kita mampir ke stadion Diponegoro. Stadion ini ternyata juga merupakan peninggalan pemerintahan kolonial Belanda. (Akibat ga langsung menuliskannya, lupa deh aku detilnya apa aja yang dijelaskan oleh Yogi dari Lopen. :( )

Selanjutnya kita dibawa mampir ke sebuah gedung peninggalan S.I. (Sarekat Islam).

Titik berhenti berikutnya di dekat bunderan Bubakan. Di daerah situ dulunya merupakan terminal/stasiun yang cukup besar, namun sekarang tidak ada bekas-bekasnya sama sekali. :( A very big loss buat pihak KAI maupun pemerintah karena kita telah kehilangan saksi (mati) sejarah. :(

Gedung terakhir yang kita kunjungi adalah gedung Sobokarti yang terletak di Jalan Dr. Cipto. Disini pihak panitia bagi-bagi hadiah dan door prize bagi yang beruntung.

Berikut ini foto-foto yang dihasilkan oleh tangan dingin Ranz. :)

Mari kita nantikan event selanjutnya dari KomseliS. Yuhuuuuu

IB 11 - 21 Mei 2016

ketiga kawanku ini bukan pesepeda, tertarik gabung gegara tema SEJARAH yang diusung :)
 ki-ka Mima, Kiki, Yudi































foto ini menunjukkan gerbang/gapura asli di dekat SMA Sultan Agung

gerbang duplikat

di dalam gedung S.I. (lihat tulisan di lantai)

di luar gedung S. I.




di ujung dekat bunderan Bubakan



om AB yang ketiban sampur bagi-bagi hadiah ... (baik banget yaaa? :D
Paketu Komselis dan istri 

Kamis, 11 Desember 2014

BLUSUKAN MAGELANG BERSAMA LOPEN SEMARANG

BLUSUKAN MAGELANG BERSAMA LOPEN SEMARANG

Ternyata tak butuh waktu yang lama bagiku dan Ranz untuk kembali berweekend-ria tanpa sepeda. J Kurang lebih dua bulan kemudian – setelah trekking ringan ke Gedong Songo – kita mendapatkan kesempatan untuk blusukan ke Magelang. Kali ini kita tidak hanya berdua, melainkan bergabung bersama LOPEN SEMARANG, sebuah komunitas di Semarang yang mengaku sebagai pecinta sejarah.

Ini adalah kali pertama aku dan Ranz mengikuti event yang diadakan oleh LOPEN SEMARANG. You can guess, akan ada kali kedua, ketiga, dan selanjutnya, I believe. J Lopen menamai event ini “Blusukan #kota1000Candi”

Aku dan Ranz sampai di tikum – BCA Universitas Diponegoro – pukul 06.30 karena Ranz khawatir kita terlambat. And ternyata, kita adalah peserta pertama yang datang. Horeeee. LOL. Bus yang akan membawa kita menjelajah kota Magelang pun belum datang.

Singkat cerita, kita baru meninggalkan tikum pukul 08.00. Di antara 30 orang peserta, “hanya” ada 6 peserta yang telah secara resmi bergabung dengan  LOPEN, yang lain peserta “luar”. Ini luar biasa karena biasanya jika LOPEN mengadakan acara, lebih banyak LOPENers yang ngikut dibanding peserta luar. J

Beberapa destinasi yang ada dalam daftar adalah (1) Paroki  (2) Candi Ngawen (3) Masjid Agung yang terletak tak jauh dari alun alun kota (4) Museum Diponegoro (5) Masjid Tiban (6) Candi Selogriyo. Dari keenam lokasi tersebut, kita tidak jadi ke Paroki karena ternyata waktu itu sedang ada kebaktian. Kita juga tidak bisa masuk ke Museum Diponegoro karena yang membawa kunci sedang keluar kota.

Sesampai alun-alun Magelang, dan komunitas KOTA TOEA MAGELANG yang menjadi tour guide kita bergabung dalam bus, kita langsung menuju Candi Ngawen. Karena aku dan Ranz sempat mampir kesini waktu gowes dari Borobudur ke Jogja, bulan Mei 2013, ini adalah kali kedua kita ke Candi Ngawen. Satu hal menarik – bagiku dan Ranz – adalah tanah di bawah candi yang mengandung banyak air, sehingga jika kita menjejakkan kaki di atas rumput, kaki kita akan merasa “nyut-nyutan”. J Namun ternyata saat itu, di atas tanah tak ada lagi rerumputan. Agar permukaan tanah tidak tersedot kedalam – dan mungkin akan merusak candi – rerumputan itu ditimbuni oleh pasir.

Kita tidak bisa menikmati suasana Candi Ngawen dengan leluasa karena hujan yang mendadak datang. FYI, curah hujan di kota Magelang ternyata lebih tinggi dibandingkan kota Semarang.

Dari Candi Ngawen, kita kembali ke alun-alun. Waktu telah menunjukkan jelang pukul 12.00. Sebagian dari kita  masuk ke masjid Agung untuk shalat, sebagian yang lain jalan-jalan di alun-alun. Masjid Agung ini ternyata telah berusia ratusan tahun.  Pertama dibangun pada tahun  1650 oleh seoran g ulama yang berasal dari Jawa Timur, KH Mudakir. Kemudian berulang kali mengalami pemugaran tahun 1797, 1810, 1835, dan 1871. Pemugaran besar-besaran dilakukan pada tahun 1934. Sedangkan menara setinggi  24 meter dibangun pada tahun 1991.

Aku dan Ranz menyempatkan diri jajan kupat tahu satu porsi yang kita makan bersama. FYI, di pinggir alun-alun Magelang, banyak orang berjualan berbagai jenis makanan sehingga jika merasa lapar akan mudah mendapatkan asupan makanan. J

Menjelang kita meninggalkan alun-alun, hujan kembali turun. Dari alun-alun kita lanjut ke  Museum Diponegoro. Untunglah sesampai lokasi Museum Diponegoro, hujan mereda, hanya tinggal gerimis tipis. Seperti yang sudah kutulis di atas, kita tidak bisa masuk ke dalam museum, namun kita masih bisa menikmati pemandangan yang cantik di belakang museum. Sayangnya waktu itu sedang mendung sehingga kita tidak bisa memandang gunung Sumbing dari kejauhan. Bagiku pribadi yang sangat menarik dari kunjungan ke lokasi ini adalah aku menjadi tahu bahwa disini dulu pernah ada satu fakultas dari Universitas Gadjah Mada. Sampai sekarang kita masih bisa melihat tugu yang bertuliskan “UNIVERSITAS GADJAH MADA CABANG MAGELANG”. Namun tidak jelas kapan fakultas ini didirikan dan mulai kapan tidak lagi dimanfaatkan sebagai tempat belajar dan mengajar.

Dari Museum Diponegoro kita melanjutkan perjalanan menuju Masjid Baitul Muttaqien yang terletak di Desa Trasan, Kecamatan Bandongan Kabupaten Magelang. Dalam perjalanan  dari alun-alun ke Desa Trasan, tour guide kita sempat menjelaskan beberapa gedung peninggalan zaman colonial Belanda.  Sayangnya aku tidak sempat mencatatnya jadi terlupa semua. LOL. Satu hal yang kuingat, di beberapa lokasi di Magelang, kita masih bisa menemukan rel kereta api. Zaman dulu ada kereta api dari Semarang ke Jogja, juga ada dari Magelang ke Temanggung.

Apa yang istimewa dari Masjid Baitul Muttaqien sehingga worth visiting? Tak ada catatan yang jelas kapan masjid ini didirikan. Namun konon masjid ini dibangun oleh salah satu wali songo sehingga mungkin seusia dengan masjid  Agung Demak. Masjid ini juga dikenal sebagai “masjid tiban” karena katanya masjid ini mendadak ada di lokasi yang bisa kita temukan sekarang. Dulu, konon, masjid ada di lokasi yang berjarak 200 meter dari lokasi yang sekarang. Masjid ini “terpindah” 200 meter dari lokasi semula hanya dalam waktu semalam. J Warga sekitar masih sangat percaya bahwa jika ada pedagang yang menjual dagangan untuk sahur para Jemaah di bulan Ramadhan, dagangan mereka akan semakin laris.

Destinasi terakhir yang kita kunjungi adalah Candi Selogriyo. Candi ini terletak di Dusun Campurejo, Desa Kembangkuning, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Apa yang istimewa dari candi ini? PEMANDANGAN SEPANJANG PERJALANAN! J Dari  tempat kita turun dari bus, kita harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 2,5 kilometer, dengan trek menanjak yang terkadang curam. Karena musim hujan, kita tidak bisa menikmati pemandangan di bawah cerahnya sinar mentari. Sebaliknya, kita menikmati kabut yang menyelimuti keadaan sekitar. J Namun, trust me, pemandangannya tetaplah spektakuler. So? Jangan terus menerus focus ke trek yang kita tapaki, kita tetaplah harus mengedarkan pandangan kita ke sekeliling kita; lembah dengan sawah yang dibangun terasering.

Satu hal yang paling wah, menurut tour guide kita, adalah pemandangan sunrise yang bisa kita nikmati jika kita berdiri di candi Selogriyo sambil memandang lembah di depan mata. Namun karena kita tidak datang di waktu fajar, ya bukan sunrise yang kita dapatkan, melainkan kabut. J

Menurut panitia sebenarnya dari Candi Selogriyo kita akan ke satu curug yang terletak kurang lebih 1 kilometer. Akan tetapi karena hari itu cuaca tidak terlalu mendukung kita untuk melakukan trekking yang lebih menantang, dan sudah terlalu sore, maka setelah menikmati makan siang (yang kesorean) dengan menu sop senerek, mendengarkan penuturan tour guide tentang candi Selogriyo, kita kembali trekking menuju bus.

Kita sampai di lokasi tikum – BCA Universitas Diponegoro – safe and sound sekitar pukul 20.30.

Dengan sukacita, aku dan Ranz menunggu event LOPEN SEMARANG selanjutnya. Yuhuuuuuu.


GG 12.12 11 December 2014

QQ dan yayangnya :)

suasana dalam bus

Tami dengan kenalan barunya 

sarapan nasgor :)

suasana dalam bus

kenalkan, nama saya ....


Tami

Candi Ngawen

tour guide kita dari komunitas KOTA TOEA Magelang

patung Pangeran Diponegoro di alun-alun Magelang

Ranz kumat difoto dari belakang :P

Masjid Agung Magelang

in action berdua

ini di belakang Museum Diponegoro

mulai berjalan menuju Candi Selogriyo

Mima dan Qq


di belakang Museum Diponegoro

ada lingga dan yoni!

tugu penanda bahwasanya satu kali dulu ada UGM Cabang Magelang :)

salah satu gazebo yang terletak di belakang tugu UGM

Tami yang kian centil :P

Tami dan Dwi di depan Masjid Trasan

kabut yang menemani sepanjang trekking ke Candi Selogriyo

trek tanjakan yang cukup curam

gerbang penanda menuju Candi Selogriyo

kabuuuuutttt




siapa ya namanya? dia mengaku hobi lari (dari kenyataan :) )

patung agastya tanpa kepala di Candi Selogriyo

Candi Selogriyo


seluruh peserta dengan latar belakang Candi Selogriyo