Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label gowes smart. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gowes smart. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Januari 2021

Grandfondo perdana 2021

 


Sudah cukup lama aku mager banget untuk keluar sepedaan di pagi hari. Musim penghujan dengan hawa sejuknya membuatku enggan meninggalkan kenyamanan tempat tidur nan hangat, lol. Terakhir aku nge-grandfondo tanggal 29 November 2020, bulan Desember 'blank', lol. (Sempat berharap saat bersepeda Solo - Jogja, Ranz mau kuajak sedikit 'ngaya' menambah jarak 30 km, ternyata malah dia sakit saat event gowes virtual Gamago.) mungkin ya tanggal 29 November itu terakhir aku bangun pagi, sebelum pukul setengah 6 pagi saat weekend, lol.

 

(Curhat: selama pandemi di pagi hari aku nganggur total. Meskipun begitu, aku tetap harus bangun pagi untuk nyiapin sarapan dan bekal Angie ke kantor. :D)

 

17 Januari 2021

 

Pagi itu aku masih sedikit mager, lol. Jam 5.15 kulihat lewat ventilasi jendela, di luar masih nampak gelap. Jam setengah enam aku baru ke kamar mandi, pipis. Sempat maju mundur mau keluar sepedaan atau menyibukkan diri di dapur saja, akhirnya aku memutuskan ganti baju dan keluar sepedaan.

 

Menjelang pukul enam pagi, aku menuntun Snow White keluar, masih dengan mood "ngepit sakmadya wae, ora usah ngaya". Dari rumah aku menuju jalan raya, kemudian belok kiri ke arah Kalibanteng. Memutari Kalibanteng, aku belok ke arteri, Jl. Yos Sudarso. Bersepeda sepanjang jalan ini memberiku sensasi positif negatif, lol. Positif karena rasanya seperti bersepeda antar kota karena 'kawan seperjalanan' adalah truck. Negatif karena truck-truck itu membuatku was was andai sopirnya tidak melihatku, posisiku sangat lemah. :( Dan, Ranz sangat tidak suka bersepeda barengan truck-truck seperti itu, lol.

 




Sesampai Kaligawe, aku masih mikir mau belok ke Bangetayu. Toh, kalau hanya sekedar mengejar angka 100 kilometer, aku tetap bisa melakukannya dengan nyepeda dalam kota. (tahun 2019 aku melakukannya 2 kali kalau tidak salah, naik Larung.) namun kemudian aku berpikir, jika aku ingin mengejar grandfondo di saat lain dengan bersepeda ke luar kota, aku harus mampu mengusir rasa mager besok-besok lagi, lol. Berangkat dari pikiran itu, aku tidak jadi belok ke Bangetayu, lurus menuju alun-alun Demak.

 





Aku beneran tidak ngaya, mengayuh pedal Snow White nyantai saja. Ketika menjelang sampai alun-alun, mungkin kurang 5 kilometer, aku melihat penampakan seorang kawan pesepeda dari Demak, aku melambaikan tangan dengan hangat. Eh, ga nyangka om Rona mengenaliku meski aku menutupi wajah dengan buff, lol. Dia mengejarku dan mengajak foto bareng, rupanya dia sedang bersepeda dengan istrinya.

 

Sesampai alun-alun Demak, aku memotret Snow White dengan latar belakang tulisan SIMPANG ENAM DEMAK, kemudian memindah Snow White ke depan masjid Agung Demak yang legendaris itu. Lah, disana aku melihat Kikie Qiut, seorang kawan sepeda dari Semarang, yang rupanya sedang 'angon' cewe-cewe yang lagi nyidam makan swikee katanya, lol. Juga ada kang Duryanto yang katanya juga bersepeda sendirian ke arah alun-alun Demak.

 





Dengan harapan aku tidak kehilangan hasrat untuk mengejar grandfondo, aku menolak diajak gowes balik bareng ke Semarang. Setelah Kikie memotretku dengan Snow White di depan masjid, aku pamit. Aku sarapan di warung soto ayam Semarang langganan sejak Gowes Kartini tahun 2016 lalu.

 





Pulangnya, setelah menyusuri jalan raya yang menghubungkan Demak - Semarang beberapa kilometer, aku belok ke jalan yang menuju Karangawen. (Jalan yang kulewati bulan November lalu, tapi dari arah yang berlawanan.) Namun entah bagaimana kisahnya, lol, aku memilik belokan yang akhirnya malah membawaku masuk Kecamatan Tegowanu, Grobogan. Loh, kok malah ke Timur lagi? Lol. Yang membedakan adalah, aku pede-pede saja dengan jalan yang kupilih secara intuitif, sama sekali tidak ngecek google map. (Ini jika dibandingkan dengan saat nge-grandfondo bulan November 2020 maupun  saat satu kali aku nge-grandfondo di akhir tahun 2019 dengan naik Cleopatra. Waktu itu aku sedikit khawatir andai aku justru akan keblasuk ke negeri antah berantah, lol.) jika sampai terjadi trouble di sepeda, aku yakin akan bertemu dengan orang-orang baik yang akan membantuku.

 





Dan, setelah bersepeda di antara persawahan nan hijau meneduhkan pandangan puluhan kilometer, aku sampai juga di jalan yang menghubungkan Gubug - Semarang. Guess what? Aku sempat takjub dengan intuisiku, lol. Dari jalan kecil tempat aku 'keluar' aku melihat 'tugu' penanda pertigaan GUBUG, oh mai god, sebegitu dekat aku ke pertigaan Gubug? Akhirnya kukayuh pedal Snow White ke arah pertigaan, untuk memotret Snow White dengan background tulisan I LOVE GUBUG itu. Jarak yang telah kutempuh sampai situ adalah 61 kilometer. Kalau tidak salah, dari pertigaan Gubug ini sampai Puspanjolo sekitar 35 kilometer. Wah, lumayan, aku ga perlu mutar2 lagi untuk menggenapinya sampai angka 100! Yeay!

 

Matahari bersinar cukup terik dibandingkan hari-hari sebelumnya. Hawa panas dan suhu tinggi begini biasanya bakal dengan cepat menguras energi, aku harus slow mengatur emosi, lol. Aku mampir ke satu minimarket yang terletak di seberang jalan yang menuju stasiun Tanggung yang kukunjungi saat nge-grandfondo bulan Agustus 2020.

 

Kayuhan pedal Snow White mulai terasa berat setelah aku sampai Mranggen, setelah menyeberang rel kereta api yang biasanya menyebabkan kemacetan ratusan meter: angin berhembus ke arah Timur dengan kuat membuatku merasa bersepeda menantang angin. 18 kilometer terakhir yang terasa berat, mana sang mentari tetap ramah sekali menjamah kulit tubuhku, lol. (padahal ini belum apa-apa dibandingkan bulan Agustus tahun lalu, aku masih ingat, cuaca waktu itu panas sekali saat aku mampir ke WISATA TENGAH SAWAH maupun mengayuh pedal ke arah stasiun Tanggung.)

 

Sesampai perempatan Milo (Jl. Dr. Cipto), aku belok kiri sampai pasar Peterongan, kemudian belok menyusuri Jl. Sriwijaya - Jl. Veteran - RSUP Dr. Kariadi - Jl. Dr. Soetomo - Tugumuda - Jl. HOS Cokroaminoto - Barusari - Suyudono - BKB - Puspanjolo Selatan. Sampai rumah jarak tempuh di strava menunjukkan angka 100,4 km. Alhamdulillah, tujuan grandfondo tercapai!

 

Semoga diikuti dengan grandfondo-grandfondo berikutnya di tahun 2021 ini. Amiiiin.

 

PT56 14.27 18-Januari-2021

 

Selasa, 28 Juli 2020

Turing di tengah pandemi covid 19

Bagi orang yang sudah 'biasa' dolan jauh dengan bersepeda -- atau istilah kerennya turing, yang bukan singkatan dari turu miring lho yaaa -- tentunya sudah kangen bersepeda antar kota antar propinsi dong ya setelah semenjak Maret 2020 terpaksa ngendon di rumah saja mematuhi himbauan pemerintah. Aku tentu hanya salah satunya di antara ribuan turinger lain.

 

Setelah pemerintah memberlakukan 'new normal' sudah amankah kita turing? Atau satu diksi yang biasa kupilih: bikepacking.

 

Mulai awal bulan Juni aku sudah mulai berani bersepeda rada jauh -- minimal 20 kilometer sekali mengayuh sepeda -- setelah selama bulan Maret - April - Mei aku mengganti kegiatan bersepeda dengan berjalan kaki di sekitar rumah. 20 kilometer itu ga jauh asal kita membawa bekal minum sendiri hingga kita tidak perlu mampir minimarket atau warung untuk beli minum. Pertengahan bulan Juni aku memberanikan diri bersepeda ke Demak, sekali mengayuh pedal aku menempuh jarak sekitar 30 kilometer hingga alun-alun Demak. Dengan nekad, aku mampir satu warung soto ayam karena kalau hanya minum air dari bidon yang kubawa kurang. Warung dalam kondisi cukup ramai pengunjung, dan Demak termasuk zona merah loh. Alhamdulillah aman. (entah jika aku mendadak jadi OTG ya, tapi setelah seminggu berlalu, aku baik-baik saja, demikian juga orang rumah.) Seminggu setelahnya aku kembali nekad bersepeda ke Kudus. Sempat mampir minimarket untuk membeli air mineral dan rumah makan untuk sarapan. Aku 'hanya' mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum masuk minimarket/rumah makan dan setelah selesai. Alhamdulillah aman.

 

di situs Watumeja, Purwokerto, 2016



Namun, ternyata hasrat dolan antar kota yang lebih jauh -- hingga butuh menginap semalam atau dua malam di penginapan -- terus menggelora. :( Ranz masih belum berani menyanggupi ajakanku ini. :( meski dia sudah berani dolan ke Semarang, seperti dia berani menerimaku yang menginap di rumahnya.

 


Kebetulan pada hari Minggu 26 Juli 2020 dokter Aristi Madjid (pendiri 'Bianglala Tour'), seorang kawan pesepeda senior yang juga hobi turing bersepeda (antar negara!) dan Nugroho F Yudho (pendiri Jelajah Lintas Nusa) mengadakan zoominar dengan tema "JLN Ngobrol Bike: Touring Sepeda di Era New Normal, Amankah? Protokol Pencegahan Covid 19 Saat Bersepeda". Mari simak apa kata mereka berdua.


 

Sebagai seorang dokter yang berjibaku langsung dengan kasus-kasus covid 19, jelas dokter Aristi lebih menganjurkan untuk tetap tinggal di rumah saja. (haha … anti climax kaaaan.) Dolan bersepeda antar kota itu bukan kebutuhan primer, juga bukan kebutuhan sekunder. Well, mungkin untuk beberapa orang tertentu turing termasuk kebutuhan tersier; tapiiii Cuma tersier loooh, dimana tanpa memenuhi kebutuhan tersier ini orang masih tetap bisa survive. :D Ini mengingat banyaknya OTG bertebaran dimana-mana, kita tidak akan pernah tahu bahwa orang yang kita temui di jalan adalah OTG, bahkan jangan-jangan kita sendiri adalah carrier yang mungkin akan menularkan ke orang-orang yang kita temui.

 


"Beberapa hari lalu 80 persen pasien yang positif covid 19 adalah OTG setelah dirapid-test maupun di-swab." katanya.

 

Bikepacking ke Ngawi, Desember 2019



Lah, kalau dokter Aristi menganjurkan tetap tinggal di rumah saja, berangkat turingnya menunggu hingga new normal yang sesungguhnya tercapai alias kasus baru covid 19 turun hingga ke angka 0, yang sudah kadung kebelet dan sakaw (seperti aku) bagaimana dong?

 

Dokter Aristi menyarankan hal-hal berikut ini, ga jauh-jauh amat sih dari praktek GOWES SMART

 

  1. Pergi sendiri atau dalam kelompok kecil

 

Kalau berani pergi sendiri menempuh jarak ratusan kilometer, sila. Yang tidak pede, sila mengajak soulmatenya atau handai tolan atau kawan sepedaan, asal jumlah dalam satu kelompok tidak lebih dari 5 orang. Idealnya 2-3 orang deh. Jelas harus memilih rute yang aman -- sepi -- jangan ke lokasi yang ramainya seperti kumpulan orang dalam car free day.

 

  1. Perhatikan rute

 

Kalau bisa, lewatlah kota yang aman dilewati, yakni yang berzona hijau, atau oranye; jangan seperti 'ula marani gebuk' alias malah memasuki kota yang berzona merah tua. Ini jika kota yang berzona hijau itu bisa dimasuki mereka yang penduduk di kota berzona merah ya. (Siapa tahu masih diberlakukan PSBB di kota-kota tertentu.) Usahakan untuk lebih sering berada di ruang terbuka.

 

  1. Membawa perlengkapan

 

Selain sepeda jelas harus dalam kondisi prima, dan perlengkapan 'biasa' saat turing di luar masa pandemi, perlengkapan untuk memenuhi protokol kesehatan jelas juga wajib dibawa. (a) masker kain yang berlapis, bawa lebih dari satu. Jika dalam perjalanan butuh mampir minimarket atau rumah makan sila sediakan masker medis.

 

Selain masker, perlu juga membawa hand sanitizer dan disinfektan yang berbentuk spray. Ketika mampir ke rumah makan, atau hotel, untuk memastikan tempat yang akan kita pakai untuk makan/menginap hygienis, kita bisa menyemprotkan disinfektan. Disinfektan juga kita butuhkan untuk memastikan bahwa sepeda dan tas pannier yang kita bawa aman dari percikan droplet orang lewat.

 

Turinger juga dianjurkan membawa obat-obatan dan termometer digital, jika perlu. (duuuuh, ribetnyaaa)

 

  1. Melakukan rapid test atau swab test

 

Nah lo. Ini mungkin jika kita pergi dalam kelompok besar ya, meski kemudian dibagi-bagi lagi dalam kelompok-kelompok kecil. Misalnya JLN mengadakan turing bersama, tentu saja pesertanya ingin diyakinkan bahwa tidak ada peserta dalam kelompok mereka yang positif covid 19. (Kalau 'Bianglala Tour' kan tidak akan mengadakan turing dalam waktu dekat, orang dokter Aristi sendiri menganjurkan untuk tetap tinggal di rumah dari pada dolan tanpa juntrungan, lol.)

 

bikepacking Sidoarjo - Semarang, 2017



Kalau aku yang hanya akan 'mbolang' berdua dengan Ranz saja, ga perlu lah rapid test test atau swab test. Kecuali jika ketika pulang kita akan naik angkutan umum, semisal kereta api. Sekarang sebelum naik kereta api kita diminta menunjukkan hasil negatif rapid test atau swab test kan ya. Tapi kalau berangkat gowes pulang juga gowes ya tidak perlu dokumen negatif covid 19 ini.

 

Laluuu, kapan aku dan Ranz akan bikepacking lagi? Entaaaah. Hmft …

 

PT56 11.59 28/07/2020


Minggu, 14 Juni 2020

Pandemi Covid 19 dan Pesepeda

Di "awal2" pandemi (pertengahan bulan Maret 2020, saat pemerintah mulai menghimbau rakyatnya untuk 'stay at home') beberapa kawan yang berbisnis sepeda mengeluh penjualan mulai seret. (Well, sebenarnya (hampir) semua usaha seret ya? Tapi di tulisan ini saya cuma fokus ke bisnis penjualan sepeda.) Baik mereka yang memiliki toko sepeda (fisik) maupun mereka yang berjualan sepeda online.

 


Yang mengherankan mendadak sekitar awal /pertengahan bulan Mei seorang kawan menulis status di timeline-nya, "maaf, yang menelpon tidak bisa saya layani karena saya sibuk di toko." Selidik punya selidik ternyata saat itu mulai banyak orang tertarik membeli sepeda. Dan saya mulai memperhatikan jika saya sepedaan di pagi hari setelah sahur, apalagi jika di hari Minggu, saya berpapasan dengan banyak pesepeda.

 

Selepas Idul Fitri 24 Mei 2020, jalanan kian ramai dengan pesepeda, pagi dan sore, apalagi jika hari Sabtu/Minggu. Kebetulan hari Minggu 14 Juni 2020 saya lewat Kota Lama Semarang, yang menjadi destinasi wisata idola baru setelah direnovasi oleh pemerintah Kota Semarang. Situasinya ramai sekali, banyak pesepeda lewat, apalagi yang nongkrong untuk berfoto-foto. Selepas Kota Lama, sepanjang jalan Pemuda hingga Tugumuda pesepeda bertebaran dimana-mana, tidak jauh beda dengan kondisi ketika ada funbike.

 

Ini adalah fenomena yang menarik untuk dikaji menurut saya. Ada apa?

 

Saya sempat ngobrol tentang hal ini dengan adik saya yang juga memilih sepeda sebagai moda transportasi untuk pergi ke tempat-tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah, sekaligus berolahraga.

 

Kota Lama 14 Juni 2020 pagi


Untuk anak-anak yang masih usia sekolah -- sekitar 8 - 18 tahun -- mungkin mereka telah mencapai titik jenuh untuk terus berada di rumah. Bermain game online pun lama-lama membosankan. Akhirnya mereka memilih keluar rumah dengan bersepeda. Dua tiga anak, akhirnya mereka menularkan kegiatan satu ini ke kawan-kawan yang lain. Sekelompok anak-anak mengundang berkelompok-kelompok anak lain untuk melakukan hal yang sama. Yang mengherankan, ini tidak hanya terjadi di satu kota. Semarang, Solo, Pemalang, Bandung, dan mungkin juga kota-kota lain terjadi hal yang sama. Ranz yang tinggal di Solo bilang harga sepeda di Solo meningkat tajam!

 

Bagaimana dengan mereka yang berusia dewasa?

 

Beberapa hari lalu kebetulan saya membaca status seorang kawan facebook: dia berhasil 'ngompori' kawan-kawan sekolahnya dulu untuk bersepeda! Tentu ini ada hubungan dengan pandemi dimana pemerintah menghimbau rakyatnya untuk jaga jarak. Beberapa lokasi yang biasa menjadi tujuan untuk berolah raga (misal di Semarang lapangan 'Tri Lomba Juang' yang juga sempat menjadi primadona tempat berolahraga yang murah meriah) tutup; kolam renang umum juga tutup. Sementara itu, rakyat diharapkan untuk meningkatkan imun tubuh dengan salah satu caranya adalah berolahraga.  Bersepeda adalah salah satu solusi yang lebih menyenangkan ketimbang jalan kaki atau jogging. Dengan bersepeda kita bisa mencapai jarak yang lebih jauh dengan mudah ketimbang jalan kaki atau jogging, terutama bagi pemula. Selain itu, jogging lebih memberatkan tubuh dibandingkan bersepeda. Bersepeda santai -- misal dengan kecepatan rata-rata 10km/jam -- lebih disarankan untuk dilakukan mereka yang sudah berusia di atas 40 tahun ketimbang jogging.

 

Bersepeda sangat disarankan untuk dilakukan di masa pandemi seperti sekarang ini terutama jika kita melakukannya sendirian, atau maksimal dengan sekelompok orang tak lebih dari 5 orang, dan tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat: mengenakan masker, memilih tempat yang sepi, waktu yang tepat, biasanya di pagi hari setelah Subuh dimana hawa masih segar dan belum banyak orang beredar di jalan raya. Usahakan untuk tidak mampir kemana-mana, misal angkringan/warkop; jika sampai harus mampir, lakukan protokol kesehatan seperti cuci tangan yang bersih menggunakan sabun dan air mengalir sebelum mulai makan/minum, dan selalu ingat untuk tidak menyentuh hidung, mulut, dan mata dengan tangan yang belum dicuci.

 

Pantai Cipta 14 Juni 2020


Sampai pertengahan Juni ini, saya masih tetap memilih bersepeda sendiri. Eh, lha memang biasanya sendiri, kecuali jika sedang bikepacking dengan Ranz. Dan kecuali-kecuali yang lain. Lol.

 

PT56 17.00 14-Juni-2020


Tata cara gowes New Normal bisa diklik disini


Senin, 08 Juni 2020

Gowes SMART menyambut NEW NORMAL

Le génie humain a des bornes, Mais la sottise n’en a pas.

 

"Humans genius has its limits, but stupidity does not." (Alexander Dumas)

 



Entah mungkin pemerintah 'hanya' latah untuk mengaplikasikan 'new normal' karena negara-negara lain mulai mengaplikasikannya, atau memang pemerintah telah mempertimbangkannya secara masak-masak saat menyatakan Indonesia akan segera memasuki era new normal.

 

Mengapa saya mengatakan begitu? Karena seperti kita tahu sampai tanggal 7 Juni 2020 peningkatan jumlah pasien positif covid 19 ada 672, sedangkan penambahan jumlah pasien yang dinyatakan sembuh ada 591; sehari sebelumnya tanggal 6 Juni 2020 malah peningkatan jumlah pasien positif covid 19 ada 993, nyaris mencapai angka seribu, sedangkan peningkatan jumlah pasien sembuh ada di angka 464. (Data yang disampaikan oleh Bapak Achmad Yurianto.)

 

Satu alasan yang pasti mengapa pemerintah sudah ingin memberlakukan 'new normal' adalah untuk menyelamatkan keterpurukan sektor ekonomi. Seperti contoh yang saya tulis di artikel sebelum ini, contoh keterpurukan sektor ekonomi di daerah saya tinggal, Semarang, seorang pedagang soto ayam yang sebelum masa pandemi biasa memasak nasi 5 kilogram sehari dan habis dibeli orang, setelah masa pandemi dia memasak hanya 1,5 kg saja kadang tidak habis dia jual. Contoh lain banyak orang yang terpaksa dirumahkan dari tempat mereka bekerja karena memang perusahaan tempat mereka bekerja mendapatkan pesanan barang yang jauh berkurang ketimbang sebelumnya; satu portal berita memberitakan banyak PRT yang tidak lagi dipekerjakan karena banyak keluarga yang terpaksa mengirit  pengeluaran bersama dengan menurunnya income keluarga.

 

Akan tetapi nampaknya banyak masyarakat yang berpikir bahwa pemberlakuan new normal menandakan bahwa virus corona tak lagi semengerikan seperti yang digembar-gemborkan media di awal ditemukannya pasien pertama covid 19 di Indonesia. Apalagi dengan viralnya beberapa tulisan orang di media sosial tentang ketidakpercayaan mereka bahwa virus corona ini benar-benar ada, dan menuduh pemerintah hanya menakut-nakuti rakyat. :(

 

Entah karena masyarakat mulai bosan 'dikurung' terus dalam rumah, bosan merasa takut pada hal yang tak terlihat (virus), atau alasan yang saya tulis di paragraf sebelum ini, new normal ini ditandai dengan kembalinya jalan-jalan ramai (dan macet!), lokasi-lokasi tertentu dipenuhi masyarakat (misal GBK dikunjungi puluhan ribu orang pada hari Minggu 7 Juni untuk melakukan olahraga).

 

PESEPEDA

 

Kekhawatiran bahwa new normal akan membawa 'gelombang kedua' covid 19 (lah, gelombang pertama saja jumlah pasien covid 19 belum menurun!) kawan-kawan yang berkecimpung dalam gerakan moral BIKE TO WORK mengadakan diskusi virtual mengenai apa-apa yang sebaiknya dilakukan oleh para pesepeda untuk membantu pemerintah menekan laju penyebaran covid 19. ini disebabkan melihat kian banyak para pesepeda yang melakukan kegiatan bersepeda beramai-ramai dengan komunitas masing-masing.

 

Dokter Aristi (yang juga seorang pesepeda senior) merumuskan gowes SMART.

 

S merupakan singkatan dari Solo (sendirian) atau Small group; jangan bergerombol. Kalau pun kebelet bareng, jangan lebih dari 5 orang. Jaga jarak sekitar 2 meter antar pelari atau 20 meter antar pesepeda. Pak Yuri mengatakan bahwa ada sekitar 80% penderita covid 19 itu OTG (orang tanpa gejala). Bisa bayangkan bahayanya jika kita bersepeda ramai-ramai karena kita tidak tahu bahwa selalu ada kemungkinan OTG dalam peleton kita.

 

M merupakan singkatan dari Masker; bawalah dan biasakan pakai masker. Jika kita bersepeda di satu jalur yang cukup ramai dilewati orang, kemudian ada seorang pemotor / pesepeda lain menyalip kita, dan kebetulan dia tidak mengenakan masker, plus mendadak dia bersin, atau mungkin meludah, minimal kita telah melindungi diri sendiri dengan mengenakan masker. Bagi para pesepeda profesional -- mungkin atlit yang butuh latihan olahraga dengan serius -- masker bisa dibawa, dan dipakai saat dibutuhkan. Jika kita bersepeda menyusuri sawah yang sepi, ya boleh lah masker kita lepas untuk sementara.

 

 

A merupakan singkatan dari Arm protection; kenakan jersey lengan panjang atau gunakan manset. Pesepeda bisa pakai gloves. Hindari virus menempel di kulit lengan. Kalau memungkinkan, kita tidak perlu mampir warung ya, bawa minum sendiri. Jika butuh cemilan ya bawa sendiri dan ngemil saat melewati tempat yang sepi. Cuci tangan dengan sabun jika hendak makan. Nah, jadi tambah kudu bawa sabun deh. Lol. Ya, pokoknya kalau dirasa butuh mampir warung, dan yakin bahwa warung itu terjaga kebersihannya, kita tetap harus mencuci tangan dengan sabun.

 

 

R merupakan singkatan dari Rute; pilih rute atau lintasan yang tidak ramai. Hindari keramaian, agar tidak berpapasan dengan orang banyak. Jika memungkinkan, perhatikan zona-zona merah di daerah kita, hindari lewat zona-zona tersebut.

 

 

T merupakan singkatan dari Timing; pilih waktu lebih pagi, jam 05.00 - 06.00, jam segini biasanya belum terlalu banyak orang yang keluar rumah, dan udara pun juga masih segar. Jika bersepeda untuk meningkatkan imun tubuh, kita tidak perlu melakukannya sampai lebih dari 60 menit kan ya. Satu jam dengan kecepatan rata-rata 15 km / jam sudah cukup. Jika targetnya lebih dari 15 menit, bisa berangkat lebih pagi lagi, setelah shalat Subuh jam 04.30, kita bisa langsung keluar rumah, dengan catatan pilih rute yang aman, dan jangan kenakan/bawa aksesoris yang tidak penting untuk menghindari kejahatan seperti penodongan.

 

 




Dokter Aristi sebenarnya telah mencoba memasyarakatkan ide "Gowes SMART" ini via media sosial sekitar sejak awal Juni 2020, kemudian diviralkan oleh kawan-kawan pesepeda lain, entah lewat facebook, instagram, maupun twitter. Ini karena dia gemas melihat masih banyak postingan kawan2 pesepeda yang bersepeda dalam gerombolan dengan jumlah orang yang cukup banyak, kemudian berfoto bersama sambil nampak haha hihi tanpa mengenakan masker, konon DEMI EKSIS. Jika yang melakukan ini para pesepeda baru alias baru bersepeda setelah pandemi atau mungkin baru 1-2 tahun terakhir, masih bisa dipahami, (meski juga mengesalkan) mungkin karena mereka butuh eksis. Namun jika yang melakukannya para pesepeda yang sudah lama bersepeda -- entah untuk olahraga entah untuk yang lain -- kira-kira di atas 6 tahun, rasanya memang membuat tangan gatal, untuk mengetik kata-kata kasar di keyboard. Lol.

 

Melalui tulisan ini, saya menghimbau, mari kita yang waras, lol, turut serta memasyarakatkan ide "Gowes SMART" ini, demi Indonesia yang lebih sehat dan membaik secara ekonomi maupun di sektor-sektor yang lain. Be genius. No need to spread stupidity.


LG 14.55 08 June 2020