Kamis, 31 Juli 2014

BIKEPACKING BLITAR – MALANG: A DREAM-COME-TRUE (Day 3 & 4)



BLITAR – MALANG (3rd day 1 Juli 2014)

Di hari Senin pagi kita mendapatkan timlo (Solo) untuk menu sahur (sarapan) kita, sedangkan di hari Selasa pagi kita kebagian rawon. Dua-duanya sama-sama lezat! :)

Kita check out dari hotel sekitar pukul 07.00, kembali menyusuri jalan yang kita tempuh di hari Minggu pagi menuju Candi Sawentar, nanjak halus. Ya memang, Candi Sawentar terletak di jalan raya antara Blitar – Malang. (tidak tepat di pinggir jalan raya sih, kita masih harus masuk kurang lebih 2 kilometer. 









Perjalanan cukup lancar sangat lambat dikarenakan kita harus menghemat energi agar tidak kehabisan tenaga. Kita sampai kota Malang sekitar pukul 18.45. Juli – sobat lamaku yang tinggal di Malang – menjemput kita di kawasan stasiun Kota Baru. Dari sana kita bertiga iring-iringan menuju rumah Juli: kita berdua naik sepeda, Juli naik motor. :)

Malam itu kita tidur sangat nyenyak, karena kelelahan. 

Jarak tempuh : 85 km



MALANG – BATU (4th day 2 Juli 2014)

Sekitar pukul 08.30 Juli mengantar kita berdua sampai di satu titik dimana kita tinggal lurus saja dan kita akan sampai di Universitas Brawijaya. Sesampai di pertigaan itu, Juli memberi kita petunjuk agar kita belok kanan. Dari situ, tinggal lurus saja kita akan sampai di kota Batu. Dalam prakteknya kita agak kesulitan karena ternyata jika kita belok kanan itu, diberlakukan peraturan satu arah (kecuali angkot) kita muter-muter dulu mencari jalan yang akhirnya akan nembus ke jalan situ juga. (meski ‘hanya’ naik sepeda, aku ga berani melawan arus). 

Tujuan utama memang vihara DHAMMADIPA. Sangat mudah menemukan vihara yang bangunannya membuat kita serasa berada di Myanmar ini, selain memang karena Ranz sudah mencari alamat vihara di internet, dan ... bertanya dari mulut ke mulut. :)

Sekitar pukul 10.00 kita sudah sampai di vihara. 


VIHARA DHAMMADIPA

Dengan keberanian penuh – bahwa vihara ini dibuka untuk umum – kita pun masuk, memarkirkan sepeda di bawah sebuah pohon. Tak lama kemudian seorang laki-laki berusia sekitar duapuluhan tahun datang menghampiri kita dan bertanya apa tujuan kita. Aku jawab kita adalah turis bersepeda yang khusus datang Semarang/Solo untuk memotret. Dengan ramah laki-laki yang semula ternyata duduk di pos penjaga dekat pintu masuk membolehkan kita masuk, dengan syarat kita menunjukkanKTP. Setelah aku ulurkan KTP-ku, kita langsung diperbolehkan masuk.
Padepokan Dhammadipa Arama merupakan pusat latihan meditasi Vipassana, yang dilengkapi dengan gedung ‘Patirupaka Shwedagon’ yang ternyata adalah replika Pagoda Patirupaka Shewedagon Myanmar. Gedung yang megah ini berada di bagian belakang padepokan, dekat dengan tempat bermeditasi/dhammasala. Ada juga museum dimana di dalamnya ada ruang-ruang yang mengkhususkan wilayah penyebaran agama Buddha di seluruh dunia. Akan tetapi aku dan Ranz tidak berani masuk ke museum mengingat pintunya tertutup, dan kita tidak ada guide yang menemani.

replika Pagoda Patirupaka Shewedagon Myanmar














Satu hal yang sangat membuat aku dan Ranz bermimpi untuk berkunjung ke vihara ini adalah ... PATUNG (RAKSASA) BUDDHA YANG SEDANG BERBARING! Yay! Setelah kita mengunjungi patung raksasa Buddha yang sedang berbaring di Semarang (Pagoda Buddhagaya alias Vihara Avalokitesvara yang terletak di Watugong), dan di Mahavihara Majapahit yang terletak di Trowulan – Mojokerto, kita akhirnya mengunjungi patung Buddha raksasa yang sedang berbaring ketiga! (Ada tiga lokasi terkenal di Indonesia dengan patung Buddha raksasa yang sedang berbaring. Semuanya ada di Pulau Jawa.

Karena merupakan pusat latihan meditasi Vipassana, bisa dibayangkan betapa sunyi dan damai suasana Dhammadipa Arama. Lokasinya yang sudah dekat kawasan Batu tentu membuat suhu udara lumayan sejuk sehingga sangat menyenangkan. Di ruang khusus bermeditasi, kita melihat lumayan banyak mereka yang sedang bermeditasi, semua mengenakan baju berwarna putih, terlihat begitu suci dan damai. Tidak ada orang-orang yang berteriak-teriak. :)
 
Setelah merasa cukup puas berfoto-fiti, kita berdua pun undur diri. Pukul 10.50 kita keluar padepokan. Karena waktu masih cukup pagi, aku mengajak Ranz melanjutkan perjalanan ke arah Batu. Yang aku tahu di kawasan Batu minimal ada empat destinasi wisata: Jatim Park I, Jatim Park II, BNS (Batu Night Spectacular) yang buka mulai pukul 15.00, dan ... Museum Angkut.
Tanjakan tidak begitu tajam, meski tak lagi se’landai’ dari Malang ke Vihara Dhammadipa. J Pas tengah hari – sekitar pukul 12.00 – kita sampai di (nampaknya) pusat keramaian kota wisata Batu. J Sempat bertanya ke seorang pedagang es kelapa muda di pinggir jalan arah ke Jatim Park I/II, kita mendapatkan informasi yang heartbreaking! “Semua destinasi wisata di Batu tutup di bulan Ramadan!” HAH! APAAA? TUTUP? Hadeeehhh ...

Tapi aku bilang ke Ranz, “Ga usah putus asa! Kita coba aja ke lokasi.” Dan ... aku memutuskan ke Jatim Park I dimana tak jauh dari situ terletak Museum Angkut. Sekali gowes, dua lokasi bisa kita kunjungi. (Siapa tahu buka. Ya kan?)

Akhirnya kita sampai di Jatim Park I. Suasana di luar sangat sepi, aku sempat khawatir jangan-jangan memang tutup nih destinasi wisata. L Tapi, toko-toko yang jualan makanan minuman dan merchandise di luar arena kok buka? Aku bertanya pada penjaga, oh, ternyata buka! Tapi ... setelah buka, aku malah ragu-ragu masuk ke Jatim Park I (yang penuh dengan wahana mainan) atau ke Museum Angkut yak? Dengan harapan bahwa mungkin ga bakal makan waktu lama jika ke berkunjung ke Museum Angkut – jadi pulangnya masih bisa mampir ke Jatim Park I – aku mengajak Ranz ke Museum Angkut dulu. Maka, kita lanjut ke Museum Angkut.

MUSEUM ANGKUT

Sekitar pukul 12.25 kita sampai sana. Mampir dulu ke masjid yang terletak di luar arena museum untuk shalat dzuhur. Pukul 12.50 kita mulai memasuki kawasan museum dengan melewati Pasar Apung terlebih dahulu. Di tengah perut lapar, kita harus mencium bau masakan nan lezat. Hadeeehhh. 

Tiket masuk Museum Angkut Rp. 50.000,00 di hari Senin – Kamis, sedangkan Jumat – Minggu Rp. 75.000,00. Aku pun menyiapkan uang Rp. 100.000,00 untuk dua tiket, aku dan Ranz. Antrian tiket lumayan panjang. Namun ternyata oh ternyata, tanggal 2 Juli waktu kita kesana termasuk ‘high season’, dianggap sama dengan ‘weeken’, maka aku harus merogoh kocek lebih dalam! Kita berdua harus mengeluarkan uang Rp. 150.000,00 untuk dua tiket, dan ... Rp. 30.000,00 khusus untuk ‘izin’ membawa kamera masuk ke dalam arena. Mahal ya? Tapi apa boleh buat? Sudah jauh-jauh gowes Malang – Batu mosok ga masuk ke tempat wisata?
Di awal masuk, kita dibuat terpesona dengan berbagai macam mobil, sepeda motor, dan sepeda onthel yang berusia dari puluhan tahun, bahkan hingga ratusan tahun. Ih wow! Aku bukan pecandu otomotif aja sangat suka melihatnya, apalagi mereka yang keranjingan otomotif ya?
Kita pun terus menerus dibuat terpesona dengan segala jenis kendaraan angkut yang dimiliki museum, dari satu ruang ke ruang lain. Helikopter pertama yang dimiliki oleh , Indonesia – dan tentu pernah dinaiki oleh Sang Proklamator kita Bung Karno – pun dipamerkan. Di ruangan berikutnya juga dipamerkan berbagai jenis becak – becak dari Semarang berbeda dari becak khas Cirebon, juga berbeda dengan becak khas Blitar yang mungil, berbeda juga dengan becak khas kota Solo, dll. Ada juga gerobag lengkap dengan (patung) sapinya. 


helikopter kepresidenan pertama yang dimiliki Indonesia







Yang di luar ekspektasiku adalah zona MOVIE STAR dimana ruang-ruang itu diset sedemikian rupa sehingga kita seolah-olah berada di kawasan Kota Tua Betawi lengkap dengan bajaj, oplet, hingga warung-warung zaman lama. :) Setelah ‘meninggalkan’ kawasan Kota Tua Betawi, kita dibawa menuju Gangster Town. Setting Gangster Town membuat kita seolah-olah berada di kawasan kota-kota Eropa/Amerika, lengkap dengan patung-patung gangster, penggarong, hingga penjara, sekaligus juga minibar, barbershop, broadway, dll.

Selepas meninggalkan zona Gangster Town, kita menuju zona Italia, lengkap dengan replika menara Eiffel-nya. Dari Italia kita menyeberang ke Jerman yang khas dengan mobil VW-nya. Dari Jerman kita menuju Inggris! Bisa kita dapati setting London Market Place, Harrods, booth telephone umum, hingga patung penjaga istana, dan ... istana Buckingham itu sendiri, dimana di satu sudut terlihat Ratu Elizabeth sedang duduk di sebuah kursi. Tak ketinggalan juga tentu replika double decker, alias bus tingkat khas London. 













Keluar dari zona Inggris, kita terbang menuju Las Vegas! Waw! Di zona Las Vegas ini kita bisa menemukan replika Sphinx, dan Miss Liberty. Disini juga kita bisa berfoto-ria dengan background bukit Hollywood dengan mobil khas ala Amerika. Selain itu juga ada Hulk, keluarga Scooby Doo, replika kendaraan-kendaraan yang muncul di film Ghost Rider, mobil yang muncul dalam film Batman, mobil imut milik Mr. Bean, keluarga The Flinstone, dll.
















Zona Hollywood adalah zona terakhir sebelum kita keluar museum. Untuk keluar dari museum, kita masuk ke sebuah lorong yang dimodifikasi sedemikian rupa hingga kita seolah-olah sedang naik kereta api! Lengkap dengan suara jus jus jus jus ngooook. LOL.

Tebak jam berapa kita keluar? Kita mulai masuk ke ruang pertama museum pukul 12.50, dan kita keluar museum pukul 17.10! Wow! 3 jam 20 menit saudara-saudarai! Puaaasss.

Alhasil siang hingga sore itu kita hanya sempat menjelajah Museum Angkut. Tak jadi kita mampir ke Jatim Park I. Ketika meninggalkan tempat parkir museum, adzan maghrib sudah berkumandang! Sebenarnya aku pengen ngajakin Ranz berbuka puasa di Pasar Apung, namun nampaknya dia tidak tergoda. Dalam keadaan gerimis, kita turun menuju Malang! Jika berangkat nanjak ke Batu kita butuh waktu kurang lebih dua jam (50 menit mampir di Vihara Dhammadipa), untuk turun – dalam keadaan (mulai) gelap dan gerimis – kita butuh waktu 40 menit. 

Untuk buka puasa + makan malam kita mampir ke WS, rumah makan yang tak asing lagi! setelah kenyang kita baru pulang ke rumah Juli.

Jarak gowes 50 km.

To be continued.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar