Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label destinasi wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label destinasi wisata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Agustus 2020

Destinasi wisata pasca instagram

 Sebenarnya, aku tipe orang yang "murah hati" memberi info tentang tempat2 yang sudah kukunjungi kepada mereka yang kepengen berkunjung ke tempat yang perrnah kukunjungi itu. Misal, ketika aku dan Ranz dolan ke Wana Wisata Alas Bromo di bulan September 2012, banyak kawan yang bertanya dimana lokasi Alas Bromo, karena mereka tertarik melihat foto-foto yang kuunggah, aku menjelaskan tanpa rasa pelit. ๐Ÿ˜…


Di bulan Oktober 2013, aku dan Ranz pertama kali dolan ke Telaga Madirda -- yang merupakan satu rangkaian bersepeda ke Candi Sukuh -- aku pun memberikan info dimana lokasi telaga ini saat kawan-kawan medsos bertanya.


Hingga sekian tahun lalu, seorang sobat sepeda nampak pelit berbagi info. Alasannya, "Biar tempat itu tetap alami. Jika kian banyak orang datang kesana, dan mereka tidak peduli dengan kebersihan, pasti pantai-pantai yang masih 'perawan' itu tak lama lagi akan penuh dengan sampah." ๐Ÿ˜” 


Hmmm ... that makes sense ๐Ÿ˜๐Ÿค”๐Ÿ™„


Namun akhirnya aku menemukan alasan lain: "Agar tempat itu tetap terjaga keasliannya. Di zaman orang2 kian narsis dengan spot2 instagrammable, kian banyak destinasi wisata menjadi tak lagi alami."


2 tahun lalu ketika mengunjungi Kawah Sikidang, aku lihat kondisi kawah yang tidak lagi "normal" karena terlalu banyak spot2 instagrammable yang terkesan terlalu dipaksakan "hadir"; belum lagi sewa2 ATV. Ga cocok banget ๐Ÿ˜‘๐Ÿ˜๐Ÿคจ



Bulan lalu, aku berkesempatan ke Telaga Madirda lagi. Air telaga masih nampak jernih, tapi bermunculannya spot2 "aneh" dan "bebek bebekan" di tengah telaga ini terasa sangat tidak pas berada di destinasi wisata yang terletak di tengah lembah ini ๐Ÿ˜”๐Ÿ˜Œ foto yang di atas dijepret tahun 2013, yang di bawah Juli 2020.


I was broken-hearted ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฐ






Rabu, 05 Agustus 2020

Vihara Dhammadipa - Batu Malang

Padepokan vihara Dhammadipa terletak di Jalan Ir. Sukarno no. 44 (Mojorejo) Batu. Sangat mudah menemukan vihara ini, asal teliti ketika dalam perjalanan dari (kota) Malang menuju Batu. Dan jika telah menemukan lokasinya, jangan ragu-ragu untuk masuk karena meski vihara ini adalah pusat latihan meditasi Vipassana, vihara juga terbuka untuk turis yang ingin mengagumi keindahan bangunan yang ada.

Padepokan Dhammadipa Arama merupakan pusat latihan meditasi Vipassana, yang dilengkapi dengan gedung ‘Patirupaka Shwedagon’ yang ternyata adalah replika Pagoda Patirupaka Shewedagon Myanmar. Gedung yang megah ini berada di bagian belakang padepokan, dekat dengan tempat bermeditasi/dhammasala. Ada juga museum dimana di dalamnya ada ruang-ruang yang mengkhususkan wilayah penyebaran agama Buddha di seluruh dunia. Akan tetapi aku dan Ranz tidak berani masuk ke museum mengingat pintunya tertutup, dan kita tidak ada guide yang menemani.

jangan lupa di bagian belakang kawasan padepokan ini, kita juga akan menemukan patung Buddha dalam ukuran raksasa yang sedang berbaring. Patung Buddha inilah merupakan daya tarik utama bagiku pribadi. :)

Karena merupakan pusat latihan meditasi Vipassana, bisa dibayangkan betapa sunyi dan damai suasana Dhammadipa Arama. Lokasinya yang sudah dekat kawasan Batu tentu membuat suhu udara lumayan sejuk sehingga sangat menyenangkan. Di ruang khusus bermeditasi, kita melihat lumayan banyak mereka yang sedang bermeditasi, semua mengenakan baju berwarna putih, terlihat begitu suci dan damai. 

Berikut beberapa foto yang dijepret waktu kita kesana.













Museum Sangiran nan Menawan

Museum situs purbakala Sangiran secara administratif terletak di wilayah Kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen, sekitar kurang lebih 20 kilometer dari terminal bus Tirtonadi Solo. 

Dari Tugu Selamat Datang di Sangiran, kita berbelok ke arah kanan. Kita masih harus gowes sekitar 3-4 kilometer. Jalanan beraspal sehingga tidak sulit dilewati. Daerah ini memang sudah lama dikhususkan untuk daerah kunjungan wisata maka bisa dipastikan semua layak dikunjungi, baik turis lokal maupun luar negeri. 

























GOA KREO DAN WADUK JATIBARANG: PELEPAS PENAT DI AKHIR PEKAN


Bagi mereka yang tinggal di daerah Semarang dan sekitarnya, jika ingin melepas penat dari kejenuhan bekerja sehari-hari dan ingin menikmati udara segar dan pemandangan hehijauan tentu tak asing lagi dengan nama tempat wisata Goa Kreo. Satu hal yang mungkin belum mereka ketahui adalah tempat wisata – yang sedikit bernuansa mistis ini – telah bersolek jauh lebih memesona dengan dibangunnya Waduk Jatibarang di sekitar lokasi Goa Kreo ini.

GOA KREO


Goa Kreo

Goa Kreo terletak di Dukuh Talun Kacang, Kelurahan Kandri, kecamatan Gunung Pati, Semarang. Goa ini diyakini sebagai salah satu jejak petilasan Sunan Kalijaga saat mencari kayu jati untuk membangun Masjid Demak. Setelah mendapatkan kayu jati yang dibutuhkan, Sunan Kalijaga kesulitan untuk membawanya ke Demak. Sementara bersemedi di goa mencari wangsit, Sang Sunan meminta bantuan kera-kera yang jumlahnya memang cukup banyak di daerah itu untuk menjaga kayu-kayu tersebut.

foto dijepret dari dalam goa

Kata “Kreo” berasal dari kata “mangreho” yang berarti “peliharalah” atau “jagalah”. Sejak saat itu, kawanan kera ini dianggap sebagai penunggu Goa Kreo. Setelah ratusan tahun berlalu, kera-kera tersebut terus beranak pinak dan tetap tinggal di kawasan tersebut tanpa terganggu penduduk sekitar maupun para wisatawan yang datang berkunjung.

WADUK JATIBARANG

Waduk Jatibarang mulai dioperasikan pada tanggal 5 Mei 2014, bertepatan dengan Hari Air Dunia setelah dibangun selama kurang lebih empat tahun. Waduk dengan daya tampung 20,4 juta meter kubik ini selain diharapkan mampu mengatasi masalah banjir, juga untuk dijadikan satu destinasi wisata yang baru. Waduk ini mengelilingi Goa Kreo, yang bisa dilewati oleh para pengunjung dengan menyeberangi jembatan nan artistik.



jembatan yang menghubungkan tempat parkir kawasan wisata ini ke Goa Kreo, di bawahnya terlihat waduk Jatibarang

jembatan yang artistik

siap-siap ngos-ngosan bagi mereka yang tidak pernah berolahraga
satu dari banyak kera yang bebas berkeliaran di kawasan wisata ini

nunut narsis :D

Waduk Jatibarang ini kian menambah kerasan bagi mereka yang suka berkunjung ke Goa Kreo, entah untuk menikmati udara segarnya, suara gemericik air, kicau burung-burung yang beterbangan, atau pun untuk bermain-main dengan kera yang sangat jinak kepada manusia.

Goa Kreo + Waduk Jatibarang bisa diakses dari arah Kalibanteng, ambil arah ke Jalan Abdul Rahman Saleh, ikuti terus jalan menuju Gunung Pati. Sesampai Desa Sadeng, cari pintu gerbang yang bertuliskan “DESA WISATA KANDRI”, kemudian belok kanan. Bagi pesepeda yang gemar trek jalan naik turun, Goa Kreo tentu menjadi salah satu destinasi yang menantang, dimana di tujuannya, kita bisa sekaligus berwisata.

Tiket masuk Rp. 5000,00. (tahun 2015)

Oktober 2015
Nana Podungge
Pehobi sepeda antar kota sambil berwisata

KEELOKAN UMBUL SIDOMUKTI : NEGERI DI AWAN

umbul alias kolam renang alam di ketinggian 1200 mdpl

pemandangan indah di depan mata jika nongkrong di ketinggian 1200 mdpl

Inginkah anda menikmati sensasi pemandangan menakjubkan laksana dari atas awan sementara berenang di kolam renang dengan air bening nan sejuk segar? Datanglah ke Umbul Sidomukti!

Umbul Sidomukti merupakan kawasan wisata alternatif yang sedang naik daun di kawasan Bandungan lereng gunung Ungaran, selain kawasan candi Gedong Songo, pasar Bandungan yang terkenal dengan pasar bunga dan sayur juga buah, dan kolam pemancingan ikan di daerah Jimbaran. Selain kolam renang alam yang airnya berasal dari sumber mata air alami yang terletak di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut, ada banyak fasilitas lain: outbound training dengan permainan yang menantang adrenalin seperti flying fox dan marine bridgeATV, trekking, rappelling, juga tersedia persewaan kuda untuk mengitari kawasan Umbul Sidomukti. Ada juga camping ground, pondok lesehan, dan meeting room.

setelah menyeberang dari pom bensin Lemah Abang

Rawapening yang kelihatan dari ketinggian

salah satu jalan menanjak sempit yang harus dilewati

jalan yang sempit tak memungkinkan bus bisa sampai ke lokasi

mejeng dulu sambil mengumpulkan nafas :D

Untuk masuk kawasan kolam renang, kita harus membeli tiket seharga rp. 10.000,00. Untuk parkir sepeda motor Rp. 2000,00, untuk mobil Rp. 3000,00.

Flying fox terdiri dari dua lintasan. Lintasan pertama sejauh 110 meter, dengan jarak ketinggian sekitar 70 meter dari titik terendah lembah. Lintasan kedua – terutama untuk mereka yang menginginkan tantangan yang lebih – sejauh 160 meter dan jarak ketinggian sekitar 100 dari titik terendah lembah. Flying fox ini menyeberangi lembah hingga ketika kita bergantung pada dua utas tali serta pengaman, seolah-olah kita melayang dari bukit yang satu ke bukit yang lain! Sangat menantang! Untuk satu lintasan, kita harus membeli tiket seharga Rp. 15.000,00. Jika ingin mencoba kedua lintasan tersebut, tentu kita harus beli dua tiket.


persewaan kuda di dalam kawasan Umbul

marine bridge, anyone?


salah titik awal untuk mendaki Gunug Ungaran, tak jauh dari Pondok Kopi

Selain kawasan kolam renang,kawasan Umbul Sidomukti juga menawarkan area yang lebih ke atas lagi – dipakai sebagai titik awal untuk mendaki Gunung Ungaran – dimana disana bisa kita temui Pondok Kopi, tempat kita bisa menikmati berbagai tawaran minuman dan makanan di halamannya sehingga kita juga sekaligus memanjakan mata memandang pemandangan nan elok di kejauhan. Kita bisa jalan kaki menuju Pondok Kopi ini dari kawasan kolam renang, atau menyewa kuda. Bisa juga naik sepeda motor dan mobil, asal hati-hati karena tanjakan yang sangat terjal. Untuk masuk kawasan Pondok Kopi, kita harus membeli tiket lagi, seharga R. 4000,00.

suasana di Pondok Kopi di pagi hari

Jika kita ingin ke Umbul Sidomukti, kita bisa mulai dari pom bensin yang terletak di Lemah Abang (terletak antara Ungaran dan Bawen) di sisi kiri jalan, belok kanan menuju arah Bandungan. Ikuti jalan ini hingga sampai Pasar Jimbaran di sisi kiri jalan. Di seberang pasar Jimbaran, ada gang yang bertuliskan UMBUL SIDOMUKTI, masuk ke gang itu. Jalannya sempit dan nanjak tinggi hingga hanya bisa dilewati oleh sepeda onthel, sepeda motor dan mobil. Bus tidak bisa sampai lokasi. 

Oktober 2015
Nana Podungge
Pehobi sepeda antar kota sekaligus berwisata