Kamis, 10 Januari 2013

INCREDIBLY FUN BIKING TO UMBUL SIDOMUKTI : KOLAM RENANG ALAM DI NEGERI AWAN


INCREDIBLY FUN BIKING TO UMBUL SIDOMUKTI : KOLAM RENANG ALAM DI NEGERI AWAN

Setelah melewatkan libur akhir tahun 2012 tanpa kisah gowes yang ‘mendebarkan hati’ (lebay!), akhirnya pada tanggal 5 Januari 2013 aku dan Ranz berkesempatan menorehkan kisah baru: gowes ke Umbul Sidomukti. YAY!
Umbul Sidomukti yang terletak di Desa Sidomukti Kecamatan Bandungan Kabupaten Semarang merupakan salah satu wisata alam pegunungan di Semarang yang menawarkan berbagai fasilitas yang sangat memadai, selain pemandangan alam yang spektakuler. Fasilitas yang bisa ditemukan disana di antaranya Pondok Wisata plus Meeting Room, Pondok Lesehan (Ikan Bakar yang yummy), taman renang alam, plus outbound (flying fox, marine bridge, rapeling) dan permainan yang meningkatkan adrenalin (misal: ATV). Bagi mereka yang menyukai trekking, ada kawasan hutan pinus. 

Meski telah googling untuk browsing bagaimana mencapai lokasi ini dari Semarang, dan mengetahui bahwa Umbul Sidomukti terletak sekitar 1200 meter di atas permukaan laut, tak urung aku dan Ranz tetap kaget juga melihat kemiringan jalan menuju kesana, yang mungkin mencapai sektar 75 derajat. 

Sabtu pagi 5 Januari 2013 itu Semarang diguyur hujan rintik-rintik sejak malam sebelumnya, membuat hawa cukup dingin bagi warga Semarang yang biasanya kepanasan. Itu sebabnya bisa dimaklumi jika kemudian aku dan Ranz sempat (hampir) membatalkan rencana gowes ke Sidomukti. Jam lima pagi, aku dan Ranz ragu-ragu untuk segera bangun maka kita lanjutkan molor. J Jam enam, Ranz berbisik, “Hujan sudah reda. Bagaimana? Jadi ga?” Jam tujuh, akhirnya kita berdua sudah mandi. Ranz mengulang pertanyaan yang sama, “Jadi ga gowes ke Umbul Sidomukti?”

Akhirnya, setelah sarapan di warung sebelah gang, packing dan tetek bengeknya, kita meninggalkan kos Ranz sekitar menjelang pukul 08.30. Cuaca cukup bersahabat karena mendung tanpa hujan tanpa terik sinar mentari. Sangat cocok untuk menemani kita gowes ke arah Ungaran yang ‘mungkin’ sekitar 90% berupa tanjakan. 

Istirahat pertama (untuk ke toilet, beli air mineral, dll) di SPBU Lemah Abang sekitar pukul 11.15. Suasana cukup ramai disana karena banyak orang yang (nampaknya) dalam perjalanan jauh mampir untuk beristirahat pula. Untuk meyakinkan diri arah yang benar, Ranz membeli bakpau dan bertanya kepada sang penjual arah menuju Bandungan. Sebelum meninggalkan area SPBU, Ranz bertanya lagi ke penjaga toilet. Dari SPBU, kita menyeberang, dimana di seberang ada jalan masuk yang akan membawa kita ke arah Bandungan. Di tengah perjalanan, kita akan menemukan Pasar Jimbaran. Di daerah pasar itu, kita akan menemukan jalan masuk yang menuju Umbul Sidomukti. 

“Siap-siap dengan tanjakan yang ‘tidak manusiawi’ ya?” kata Ranz menggodaku, menjelang kita menyeberang. 

Beberapa ratus meter setelah meninggalkan ‘gerbang’ penanda arah ke Bandungan, di sisi kiri aku melihat tanda lalu lintas ‘tanjakan curam’. Lhah, dari tadi tanjakannya belum termasuk curam ya? Hadeeehhh ... 

Tak perlu banyak cerita ya? Mereka yang sudah pernah ke Bandungan tentu tahu trek yang full rolling. Oh no. Lebih banyak tanjakan lah dibanding turunan. J Tentu paham dong ya kalau di sana sini aku dan Ranz butuh berhenti untuk berfoto-ria, plus istirahat, mengumpulkan nafas yang ngos-ngosan. Hohoho ... Kali ini Ranz dengan baik hati (dan tidak sombong) memberiku kesempatan untuk merasa (lebih) perkasa karena sepeda yang dia naiki – dahon da bike dengan roda 16” – hanya bergear tunggal. Maka aku lebih sering berada di depannya, dan memotretnya dari depan (menggunakan hapeku). LOL. Sedangkan Ranz lebih sering memotretku dari belakang (menggunakan kameranya). Satu kali, ketika aku sedang menunggu Ranz, ada sebuah truk lewat, sopirnya tersenyum centil kepadaku. LOL. Tak lama kemudian, ketika Ranz sampai di tempatku menunggunya, dia bercerita, si sopir itu bilang ke dia, “Ayo cepet Dik. Tuh ditunggu Maminya di atas!” wkwkwkwkwk ... 

Sekitar pukul 12.30 akhirnya kita sampai juga di Pasar Jimbaran. Karena ga yakin akankah kita menemukan mini market di jalanan menuju Umbul Sidomukti, di pasar itu kita masuk ke sebuah toko kelontong untuk membeli air mineral. Aku bertanya kepada si ibu penjual untuk memastikan kita berada di jalur yang tepat. 

“Mau ke Umbul Sidomukti Mbak? Lihat gang itu kan? Yang ada gapura bertuliskan ‘Umbul Sidomukti’? Nah, belok saja di situ. Terus saja ikuti jalannya yang menanjak.”

Ya ampyuun. Kenapa juga perlu diberitahu kalau jalannya menanjak? Apa dikira dari Semarang menuju Pasar Jimbaran kita ga nanjak? LOL. Setelah kita foto-fiti, dan mulai masuk ke gang ... OUCH!!! Tanjakannya memang lebih tidak manusiawi dibanding tanjakan-tanjakan yang telah kita lewati sebelumnya. LOL. Baiklah. Don’t worry. Be happy. Kita masih penuh semangat kok. Meski t-shirt yang kupakai sudah basah kuyup kena keringat. LOL. 

Sayang dalam perjalanan Ranz menerima kabar yang kurang menggembirakan dari teman kuliahnya mengenai dosennya yang killer (baca รจ hobinya ngiler. LOL). L Hal ini agak mengurangi mood Ranz. Waktu menunjukkan sekitar jam 13.00 waktu itu. Kita berada di posisi yang tidak enak. Mau pulang, nanggung, paling juga Ranz ga bisa mengejar kuliah hari itu. Mau lanjut, mood Ranz terganggu, meski akhirnya kita tetap melanjutkan perjalanan. 

Semakin tinggi tanjakan yang kita daki, pemandangan tentu semakin menakjubkan. Kita bisa memandang Rawapening dari kejauhan, juga kota Semarang. 

“Kejutan” terakhir yang menunggu kita: tanjakan yang paling curam sepanjang 900 meter (tertulis di papan penunjuk 900 meter, namun jarak yang terekam di sports tracker di hapeku lebih dari 1 kilometer) dan jalannya sempit. Di awal tanjakan di kiri dan kanan jalan berupa pemukiman penduduk yang lumayan padat. Ini sebabnya, bus badan besar tidak akan bisa mencapai Umbul Sidomukti. Untuk mobil pribadi pun dibutuhkan pengemudi yang mahir mengemudikan mobil yang dikendarai. 

Sekitar pukul 14.30 akhirnya kita sampai di Umbul Sidomukti. Pemandangan yang menakjubkan langsung menghilangkan pegal-pegal di tubuh. :) Di antara beberapa pilihan tujuan, kita menuju kawasan kolam renang alam dimana di kawasan yang sama juga ada fasilitas outbound, gazebo dan sebuah kantin. Untuk masuk ke dalam kawasan ini, kita perlu membeli tiket masuk terlebih dahulu. Harganya waktu itu, Rp. 8000,00 per orang, sudah termasuk berenang. Sebelum sampai pintu masuk, ada beberapa orang yang menawarkan sewa kuda untuk berkeliling kawasan Umbul Sidomukti. 

Kolam renang yang ada terbagi menjadi beberapa tingkat. Airnya konon diambil dari air asli pegunungan sehingga airnya dingin, namun tentu segar. Aku yang semula berencana ingin berenang tidak jadi karena airnya dingin. Selain itu, karena Ranz menolak ajakanku untuk menginap di penginapan yang tersedia (pikirannya terfokus pada kuliah dan dosennya yang unhelpful pada mahasiswa), dan membayangkan waktu untuk menikmati pemandangan yang indah itu harus dikurangi dengan mandi setelah berenang, akhirnya aku hanya bermain-main air saja. 


Ranz dan aku meninggalkan tempat sekitar pukul 16.30, agar tidak terjebak kabut yang mungkin sewaktu-waktu turun. Menjelang turun, gerimis tipis mulai menetes, sehingga kamera Ranz pun langsung dimasukkan ke dalam tas pannier, setelah dibungkus oleh tas plastik terlebih dahulu agar aman dari curahan air hujan.
Dari kawasan kolam renang Umbul Sidomukti sampai Pasar Jimbaran tercatat jaraknya kurang lebih 3,5 km; untuk berangkat (full nanjak), kita butuh sekitar 2 jam, untuk turun (full turun), kita hanya butuh sekitar 15 menit. J Untuk turun, dibutuhkan rem yang pakem tentu saja karena turunan curam.
Dalam perjalanan menuju Semarang, hujan datang dan pergi berulang kali sehingga kita pun berulang kali berhenti untuk mengenakan mantel, melepas mantel dan melipatnya dengan rapi untuk dimasukkan ke dalam tas pannier; kemudian berhenti untuk mengenakan mantel lagi, melepasnya lagi ketika hujan berhenti. Akhir perjalanan kita mengenakan mantel di pertigaan Tembalang hingga sampai kos Ranz, sekitar pukul 19.00.

Perjalanan gowes yang menambah pengalaman bermain-main di tanjakan. Both Ranz and I were proud of ourselves. Hihihihi ...

Semoga kita ada waktu dolan ke Umbul Sidomukti lagi, untuk memuaskan keingin explore tempat-tempat yang belum terjamah kaki, misal trekking di hutan pinusnya. :)

GL7 13.25 10/10/13
P.S.:
Untuk foto-foto klik link ini ya? :)

4 komentar:

  1. kalau dipikir pikir aku belummaeeeeeeeeeeeeeeeeeeeem huuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah ya, pagi hari itu kita sarapan di warung depan smp 40, meski cuma sedikit, itu sarapan namanya :)

      Hapus