Cari Blog Ini

Rabu, 02 September 2026

Biking to Cenklik Coffee, Cengklik

menapaki 'tanjakan' flyover di Purwosari

 

Hari Minggu 30 Agustus 2026, aku dan Ranz kembali bersepeda ke arah Waduk Cengklik. Jika 4 minggu sebelumnya Ranz mengajak ke Honai, kali ini aku mengusulkan ke Cenklik Coffee: aku sudah melihat reels orang tentang Cenklik Coffee ini sejak beberapa minggu yang lalu. Kirain Ranz sudah tahu, ternyata belum, dia malah melihat reel Honai terlebih dahulu. 

Jika Honai terletak di arah Barat Laut dari waduk, Cenklik Coffee terletak satu deret dengan Omah Prahu, yakni di sebelah Timur waduk.  Lebih dekat ketimbang jika kami bersepeda ke arah Honai, plus tidak perlu melewati 2 tanjakan yang aku tulis di kisah sebelum ini 😁 kami hanya perlu melewati 'tanjakan' yang berupa flyover; flyover pertama di stasiun Purwosari, flyover yang kedua kami sudah dekat area lapangan udara Adi Sumarmo, flyover di atas jalan tol. 

Kami berangkat dari rumah Ranz sekitar pukul 07.00. Seperti kisah sebelumnya, aku naik Astro, Ranz naik Petir. Sesampai de Tjolomadoe, kami pun berhenti untuk foto-foto sejenak. kami sampai Cenklik sekitar pukul 08.30. Sampai sana, ternyata Cenklik sudah lumayan ramai pengunjung. Bahkan di tempat parkir, aku melihat 3 sepeda yang diparkir di tempat parkir khusus sepeda. 

flyover di atas jalan tol, Boyolali
sebelah 'sana' itu Waduk Cengklik

 

Cenklik Coffee ini bukan satu-satunya cafe/resto yang ada di daerah 'itu'. Di sebelah kiri dan kanan masih ada tempat nongkrong lain. Tapi, sebagian dari resto/cafe itu bukanya setelah jam 3 sore karena mereka mengusung tema 'sunset' yang indah sebagai tajuk untuk mengundang orang datang. 

Kami sepedaan hanya sekitar 26 kilometer hari ini. 

Sorenya, kami dolan ke Lokananta Bloc, naik taksi online, Ranz ogah kuajak naik sepeda lagi 😂 aku ingin melihat kedai buku Mata Patjar yang ada di sana. Harapanku ini seperti Lana Singgah atau cafe Slari yang menyediakan lumayan banyak buku untuk dibaca di tempat. Ternyata, tidak sebanyak yang ada di Lana Singgah maupun di Slari. Plus, variasi makanan/minuman di Mata Patjar ini tidak sebanyak yang ada di Lana maupun Slari. Tapi, jika anda tipe orang yang suka menjelajah cafe yang menyediakan buku untuk dibaca di tempat, it is worth visiting dan foto-foto 😀 

PT56 11.23 02 September 2026 

Sabtu, 08 Agustus 2026

Biking to Honai, Cengklik

 

Tanpa rencana ribet, di hari Minggu 02 Agustus 2026 aku dan Ranz bersepeda ke Waduk Cengklik , kali ini tujuan kami adalah Honai, yang terletak di sebelah Barat Laut waduk. So, jika biasanya jarak yang kami tempuh dari rumah Ranz ke waduk hanya 13 km, kali ini untuk mencapai Honai, kami masih harus mengayuh pedal sepeda yang kami naiki 4 kilometer lagi.

Aku naik Astro -- sudah cukup lama Austin tidak aku ajak bepergian ke luar kota -- sedangkan Ranz naik Petir yang mungil dan single gear. Meski sudah cukup lama kami tidak bersepeda (lumayan) jauh, Ranz tetap perkasa di tanjakan meski 'hanya' naik Petir yang single gear. oh ya, jika dari Laweyan menuju Cengklik, kami hanya perlu nanjak di flyover, namun ada 2 tanjakan yang lumayan menantang jika kami perlu melanjutkan perjalanan menuju Honai.

What's so special from Honai? my personal opinion? there is nothing special, kecuali yaaah ... namanya juga destinasi yang baru kami tahu, tentu kami penasaran untuk mengetahuinya. 

di Honai ada sederet warung-warung yang berjualan berbagai minuman, gorengan, mie instant goreng/rebus, sampai pecel. Bagi mereka yang ingin mencoba keliling danau, ada 2 perahu yang muat dinaiki mungkin sekitar 30 orang, di mana tiap orang hanya perlu membayar sepuluh ribu rupiah. (Bandingkan dengan 'boat party' di Cafe Minoa yang terletak di waduk Cengklik sebelah Timur, penumpang dikenai biaya duapuluh ribu rupiah.) Selain perahu ini, ada 'speed boat' yang biasa ada di beberapa destinasi wisata waduk dengan harga seratus ribu rupiah untuk maksimal 4 orang. 

Trek terakhir menuju Honai itu turunan yang cukup tajam, yang membuat mereka yang akan meninggalkan Honai harus melewati tanjakan. Nah, saat kami sampai destinasi, kami membeli tiket masuk (satu orang Rp. 2000,00), si penjual tiket memberi info bahwa ada trek yang bisa kami lewati yang akan membawa kami sampai di jembatan kayu. what a very nice info! 

Saat kami foto-foto dengan waduk sebagai background, ada petugas yang membantuku menggendong Astro untuk turun. Petugas ini pun memberitahu kami bahwa saat akan meninggalkan lokasi, kami tidak perlu melewati rute yang kami lewati saat datang, namun bisa lewat trek lain yang terhubung dengan jembatan kayu. YESSS!!!

Beberapa bulan lalu, aku dan Ranz sempat dolan ke jembatan kayu ini, kami naik taksi online, bertiga dengan Deven, tidak naik sepeda. Saat mendekati jembatan kayu dari arah Selatan, kami melihat tulisan "sepeda dilarang masuk". Karena ini lah, kami mengambil inisiatif bahwa saat melewati jembatan kayu, kami tidak akan menaiki sepeda kami, namun cukup berjalan sambil menuntun sepeda. 

Setelah melewati jembatan kayu, di ujung (Selatan) ada satu angkringan. Kami berencana untuk mampir dan jajan. Namun, kami tidak jadi karena si pedagang langsung ngomel-ngomel melihat kami datang dengan menuntun sepeda. Well, jika kami lewat trek sebelah sini saat berangkat menuju Honai, tentunya si pedagang melihat kami datang kan ya? Tentu dia sudah melarang kami lewat situ. Dengan santai aku menjelaskan bahwa kami dari Honai, oleh petugas Honai, kami ditunjukkan trek penghubung Honai dengan jembatan kayu ini, itu sebab kami lewat situ.

Ya wis lah. yang penting, aku dan Ranz sudah melewati jembatan kayu ini dengan menuntun sepeda. 😁 

Setelah balik ke rumah Ranz, jarak yang kami tempuh hari ini: 34 kilometer.

PT56 13.46 08 August 2026 

otw ke arah Barat waduk Cengklik

 

terima kasih bapak petugas yang memotretkan kami
menggeser eceng gondok
hanya acting loh ini 😁

 

Rabu, 27 Agustus 2025

26 August 2025 morning biking

Honestly, recently I haven't gone out biking with the sole purpose was just biking for months. Instead, I go swimming more often. The 'excuse' was still the same as what I wrote some years ago (some where in my blog): my right knee was sometimes painful after biking, especially if I ride Cleopatra or Austin. The pain is just so so if I ride Snow White, my polygon urbano folding bike I bought in 2010. And as many people say that swimming is the best exercise for people (between a certain age bracket, and my age already belongs to this bracket 😝), I choose to swim more often than go biking.

However, honestly, because I don't have time to go swimming in the afternoon/evening, I do it in the morning. You can guess: swimming in the morning makes my complexion get darker and darker in no time! I started feeling worried: "will some people (especially old friends) find it difficult to recognize me when we happen to meet somewhere?" 😜😛😎 (as if I am a fan of reunion while in fact I am NOT 😁😄😎)  oh ... how I wish I lived in European countries or America where people with tanned skin are considered exotic and beautiful 😉😆😜

and ... voila! today, 26 August 2025, I took Austin out, to 'date my hometown', lol. I biked for 20 kilometers today.

















Rabu, 11 Juni 2025

Ngepit ke Sukoharjo (lagi!)

 


Well, aku berangkat ke Solo hari Kamis 29 Mei 2025 yang bertepatan dengan peringatan Hari (Raya) Kenaikan Isa Al-Masih. Ranz berjanji akan menemaniku bersepeda ke Waduk Cengklik. FYI, selain Omah Prahu yang pernah kami sambangi dengan naik sepeda 2 tahun lalu, di lokasi sekitar situ sudah banyak kafe-kafe lain yang dibangun, dengan pemandangan unggulan berupa sunset di Waduk Cengklik. Satu tahun yang lalu, aku, Ranz beserta mbak Niken, Deven dan Rama ke Waduk Cengklik juga -- naik taksi online -- untuk menikmati pemandangan sunset, namun kami tidak ke Omah Prahu, melainkan ke Amanat Café.

 

Tapi, eh, tapi, sesampai aku di Solo tanggal 29 Mei yang lalu, Ranz menjemputku bersama Deven, sarapan nasi liwet di samping pool shuttle yang kutumpangi, lalu ke Taman Balekambang, naik taksi online. (padahal aku membawa backpack! Ranz ga memberi kesempatan untuk balik ke rumah dulu untuk meletakkan backpack yang kubawa di rumahnya.) Kebetulan Deven belum pernah ke Taman Balekambang setelah direnov, dan sekalian pas ada pameran museum-museum (tidak hanya ada museum-museum dari Solo, tapi juga ada museum-museum dari kota dan propinsi lain.)

 

di stand Museum Mulawarman, Kal-Tim
 

 

di Minoa Cafe

Pulang dari Balekambang, istirahat sebentar, Ranz langsung mengajak ke Waduk Cengklik, bersama Deven lagi. Nah lo, kalau sama Deven jelas tidak mungkin kami bersepeda. Aku setuju-setuju saja karena kebetulan cuaca cerah, bisa berharap bakal dapat pemandangan sunset. Kami bertiga ke Waduk Cengklik naik taksi online, (it cost Rp. 73.000,00, berangkat dan pulang harga sama.) Kali ini kami ke Minoa Café, satu kafe baru lagi, yang kebetulan lokasinya bersebelahan persis dengan Amanat Café.

 

Walhasil, keesokan hari, aku MEMAKSA Ranz untuk menemaniku sepedaan ke Sukoharjo! Well, better biking to Sukoharjo than nothing at all, lol. Aku hampir saja 'menantang' Ranz bersepeda ke arah Karanganyar: ke Alas Bromo! Hohoho. Tapi, ke Sukoharjo yang pp hanya sekitar 35 kilometer saja Ranz ogah-ogahan, apalagi ke Alas Bromo yang bakal menempuh jarak sekitar 80 kilometer pp. awokawokawok.

 

Hari Jumat 30 Mei 2025, kami meninggalkan rumah Ranz sekitar pukul 07.00, aku naik Astro, Ranz memilih naik Shaun entah apa yang terjadi pada Petir, kok Ranz tidak naik Petir. Well, actually, I would prefer to ride Hazel than Astro, tapi, Ranz ngeluarin Astro, ya wislah, manut. Lol.

 


 

Sesampai Sukoharjo, seperti biasa, Ranz terus melaju menuju alun-alun, baru kemudian balik ke arah Jl. Jaksa Agung A. Suprapto, tempat di mana RM Ayam Goreng Mbah Karo Tembel terletak, ini warung ayam goreng kesukaan Jan Ethes, cucu pertama Presiden ke-7, Joko Widodo. :)

 

Pulangnya, Ranz mengajak mampir di satu gerai fast-food resto di satu mall di Solo Baru. Aku jajan iced coffee, Ranz memilih jajan es McFlurry, dan cheeseburger yang dibungkus dibawa pulang buat Deven.

 

Pulang dari sepedaan ke Sukoharjo ini, kami hanya leyeh-leyeh di kamar. Sorenya aku pulang ke Semarang.

 

PT56 13.40 11 June 2025

 

Senin, 13 Januari 2025

Bersepeda ke Sukoharjo Akhir 2024

 


Akhirnyaaa ,,, Ranz kangen bersepeda (rada jauh) ke Sukoharjo, tepatnya ke RM Ayam Goreng Mbah Karto, salah satu rumah makan kesukaan Jan Ethes, cucu Presiden ke-7, Joko Widodo. Horraaayyy.

 

Sabtu 28 Desember 2024 aku berangkat ke Solo naik shuttle Ara*** jam 14.00. (shhhttt … aku masih masuk kerja loh hari itu! Keren kaaan? Hohoho … padahal biasanya di bulan Desember itu, paling akhir aku masih kudu mengajar itu sehari menjelang Natal. Lha ini, 3 hari setelah Natal, aku masih masuk kerja! Envy me!!! Perjalanan lancar, hingga sampai Solo.

 

Sesampai pool Ara***, cuaca mendung, namun belum turun hujan. Namun karena ojek online yang kupesan cukup lama ga sampai -- lebih dari 5 menit! -- dan ternyata duluan hujan yang datang ketimbang ojolnya. Wahhh, aku bawa mantel sih, tapi you know lah, aku males banget jika harus pakai mantel! Tanpa babibu, si ojek rider out of the blue meng-cancel pesananku. Untunglah ga lama setelah itu, sudah ada ojek rider lain yang mengambil pesananku. Untungnya lagi, saat this second rider datang, hujan berhenti! YAY!!! Yaaa … tinggal gerimis tipis. Saat si ojek rider ini menawariku apakah aku akan mengenakan mantel, aku jawab ga perlu. Tentu dalam perjalanan ke rumah Ranz, aku umak-umik, semoga hujan ga turun lagi, sampai aku tiba di rumah Ranz. And … it came true! Alhamdulillah.

 

Semula kami berencana bersepeda ke Sukoharjo hari Minggu 29 Desember 2024, namun out of the blue Ranz menawariku ikut dolan keluarga besar mas Martin ke Ibarbo Park. Well, out of curiosity, aku ikut saja ke Ibarbo Park. Aku kangen Jogja! Well, meski ga ke Jakal km 5, meski ga sepedaan ke Malioboro. Gapapa lah. Yang penting, aku 'menengok' Jogja sebentar.

 

(Kisah dolan ke Ibarbo Park bisa dibaca di link sini yaaa.)

 

Senin 30 Desember 2024

 

Kami sudah siap bersepeda menuju Sukoharjo sekitar pukul 07.00. (ga perlu pagi-pagi, toh, kami hanya akan sepedaan ke arah Sukoharjo.) Dari rumah Ranz kami langsung menuju Sukoharjo. Padahal seingatku, sebelum ini jika kami berencana jajan di RM Mbah Karto, aku merengek ke Ranz untuk sarapan dulu, misal, mampir ke soto Hj. Fatimah. Entah kali ini perutku aman tentram damai sentosa, cacing-cacingnya sedang tidur nyaman, lol.

 


Kali ini, aku naik Hezel, kembali aku tidak membawa Austin saat berangkat ke Solo. Austin sudah tidak merasa iri jika tidak kuajak dolan ke luar kota, dan di Solo aku malah naik sepeda lain. Hoho … entah kalau di tahun 2025 ini aku dan Ranz punya kesempatan untuk bersepeda Solo - Jogja - Solo lagi. Mungkin aku tetap akan mengajak Austin. Jika aku naik Hezel, Ranz naik Petir.

 

Sesampai Sukoharjo, Ranz mengajakku menuju alun-alun dulu, tidak langsung ke RM Mbah Karto. Ya aku manut saja, kan malah senang, bisa menambah kilometer di strava, meski hanya 3 - 4 kilometer.

 


Kami sampai ke RM Mbah Karto sekitar pukul 08.30. to our surprise, meski hitungannya masih cukup pagi, di dalam sudah cukup ramai pengunjung! Untunglah, kami masih mudah mendapatkan tempat duduk.

 

Sekitar pukul 10.00, kami meninggalkan RM Mbah Karto. Perjalanan lancar, dan kami tiba di rumah Ranz sekitar pukul 11.20

 

Semoga di tahun 2025 ini, aku dan Ranz memiliki kesempatan untuk bikepacking lagi yaaa. Aamiin RYA.

 

PT56 13.06 13 January 2025

 



Rabu, 18 September 2024

Long time no biking: Another visit to Gajahmungkur Dam

 


Terakhir aku dan Ranz sepedaan bareng ke luar kota itu di bulan Juli 2023, kami bersepeda ke Jogja, satu rute 'biasa' kami tapaki, semenjak pandemi covid 19. Setelah itu, setiap kami dolan ke luar kota, kami mengajak Angie dan Deven, yang berarti kami tidak bersepeda.

 

Bulan Agustus lalu mendadak Ranz bilang, "kalau kamu mau ke Solo pas long weekend 15 - 16 September, aku mau menemanimu bersepeda ke Waduk Gajahmungkur." weh! Tumben! Padahal aku ga memintanya loh, biasanya dulu itu aku harus memohon-mohon dulu, lol, baru Ranz mau. Kali ini malah dia nawarin. WAW.

 

Meski ga begitu yakin Ranz beneran mau menemaniku bersepeda ke Wonogiri, hoho, di hari Sabtu 14 September 2024 waktu berangkat ke Solo setelah selesai mengajar, aku membawa helm, tapi aku tidak mengajak Austin. Gear Austin ga bisa bergerak, bakal susah buatku karena trek Wonogiri itu rolling je, naik turun melulu. Ranz menawariku naik Hezel, tapi aku bilang, aku memilih naik Astro, polygon urbano yang dia beli di tahun 2016. kok ga kubawa ke bengkel? Iya, masih males ke bengkel, lol.

 

Minggu 15 September 2024

 

Ranz bangun sekitar pukul 04.30 dan memulai melakukan ritual paginya. Ini berarti dia beneran mau mengajakku ke Wonogiri nih. Yuhuuuu.

 

Sekitar pukul 05.45 kami sudah sampai di Stasiun Purwosari. Seminggu sebelumnya aku bilang ke Ranz aku mau saja diajak ngepit pp, atau berangkat naik KA Batara Kresna baru pulangnya gowes. Untuk itu, Ranz harus hunting tiket KA Batara Kresna seminggu sebelum 15 September via KAI Access. (FYI, sekarang tiket KA Batara Kresna bisa dibeli di KAI Access seminggu sebelum hari H.)

 

Terakhir kami naik KA Batara Kresna membawa sepeda itu di awal Oktober 2022. Nampaknya waktu itu KA Batara Kresna belum begitu menjadi pilihan masyarakat untuk berangkat ke Wonogiri, masih relatif kosong. Di sekitar tahun 2023, (aku lupa mencatatnya, jadi lupa tepatnya kapan), Ranz mengajakku dan Deven naik KA Batara Kresna, dengan membeli tiket 'go show' on the D day. Ternyata, kami kehabisan tiket! Kami hanya bisa membeli tiket sampai di Stasiun Solo Kota. Waktu itu, Ranz mendapat info dari petugas di stasiun bahwa mulai saat itu, masyarakat bisa membeli tiket via KAI Access, minimal jam 00.00 on the D day.

 

Naaah, di tanggal 15 September 2024 itu, kami hanya mendapatkan 1 seat kosong, hanya aku yang bisa duduk, sementara Ranz harus berdiri. Kebetulan waktu itu, ada rombongan -- ada sekitar 40 orang -- yang mau 'piknik' ke Waduk Gajahmungkur. Pasti mereka inilah yang menyebabkan tempat duduk penuh! Ho ho …  Ranz baru mendapatkan tempat duduk di Stasiun Nguter.

 

Oh yaaa, aku jadi naik Astro, sementara Ranz naik Hezel.

 

Beda dengan 2 tahun lalu, aku mengajak Ranz sarapan dulu di satu warung di luar stasiun Wonogiri, kali ini aku langsung mengajak bersepeda ke arah Waduk Gajahmungkur. Aku bersyukur ternyata menapaki trek rolling menuju waduk, kondisi kakiku baik-baik saja, setelah lumayan lama aku ga berani menjajal tanjakan, demi 'ngeman' kaki.

 





 

Kirain Ranz mau langsung berhenti di RM Bu Trie, langganan kami makan siang saat dolan ke Waduk Gajahmungkur, ternyata Ranz tetap mengajak ke pintu masuk waduk, untuk foto-foto. Ya wis, aku manut. Dari sana, baru kami ke RM Bu Trie.

 

Karena sejak pagi kami belum sarapan, kami habiskan satu porsi ikan nila bakar yang kami pesan (ada 2 ikan dengan ukuran cukup besar untuk kami berdua), plus 2 gelas es teh dan es kelapa muda. Yang tidak kami makan hanya 2 bungkus bothok ikan.

 

Menjelang pukul 12.00, kami kembali mengayuh pedal sepeda yang kami naiki, kembali menuju kota Wonogiri. Aku sempat berpikir kira-kira Ranz beneran mau mengajak gowes balik sampai Solo, atau mau mengajak naik Trans Jateng. Meski tentu aku pengennya gowes full balik ke Solo, aku manut Ranz saja. Dan … ternyata kami benar-benar bersepeda kembali ke Solo! Waw, aku senang sekali! Oh ya, di tengah jalan, kami tukeran sepeda, karena aku sempat tertinggal di belakang sampai sekitar 100 meter. Namun, setelah aku naik Hezel, perjalanan kami lancar, aku malah sering harus mengerem Hezel agar aku selalu berada di belakang Ranz.

 

Sesampai Solo Baru, aku sempat mengajak mampir di satu gerai fastfood, tapi ga jadi karena Ranz tidak bawa gembok. Akhirnya kami mampir ke Saudagar Laweyan. Awalnya kami mau beli gelato, tapi ternyata gelatonya tutup, ya sudah, aku pesan es kopi cendol, as usual. Ranz pesan apa, aku lupa. Hahaha …

 

Pulang dari Saudagar Laweyan, Ranz langsung balik ke rumah, aku masih merasa perlu lanjut bersepeda sebentar, untuk 'crushing' es kopi cendolnya. Hahahaha …

 

Thanks a billion dear Ranz. Kapan-kapan kita gowes AKAP lagi yuuuk.

 

PT56 15.05 18/09/2024

 

I love this gate!




Selasa, 03 September 2024

ada masanya

 

Austin di pinggir pantai Serangan, Bali

"Tiap orang ada masanya. Tiap masa ada orangnya."

 

(ini khusus kutulis untuk menjawab pertanyaan orang-orang, "kok sekarang ga pernah (mengunggah foto) sepedaan lagi?")

 

Ini adalah Austin, yang di bulan September 2024 ini menginjak usia ke-13 dalam kepemilikanku. Aku membelinya di awal September tahun 2011. Pertama kali aku ajak keluar kota bersepeda di Jogja - Solo - Semarang di tahun 2012 dalam rangka mengikuti event JOGLO ATTACK yang diselenggarakan oleh kawan-kawan Jogja Foldingbike (saat di Jogja) dan kawan-kawan Seli Solo Raya (saat di Solo). Sedangkan dalam perjalanan Solo - Semarang, Austin dinaiki Ranz, aku naik Cleopatra yang masih terhitung kinyis-kinyis tahun itu.

 

Meskipun begitu, Austin secara resmi kunubuatkan sebagai sepeda menemaniku bikepacking antar kota antar propinsi (plus antar pulau di tahun 2015 saat bikepacking ke Bali + Lombok) mulai bulan Maret 2013, saat aku dan Ranz menapaki jalan propinsi dari Solo ke Purwokerto.

 

Sejak saat itu, lumayan banyak lah orang-orang yang mengatakan padaku bahwa perjalananku bersepeda menginspirasi mereka, entah untuk bike to work maupun bikepacking antar kota / antar propinsi / antar pulau. Bahwa kisah-kisah yang kutulis di blog memberi mereka ide untuk bersepeda kemana dengan komunitasnya. Apakah aku sengaja 'menginspirasi' mereka? Tentu saja TIDAK. Aku ngeblog sejak tahun 2005. Aku menulis kisah-kisah itu untuk pengingat diri sendiri.

 

Awal tahun 2016 sempat ada sekelompok orang yang nampaknya iri dengan ke-exist-anku di dunia sepeda ini, hingga keluar pernyataan, "Si tante itu tidak mau pudar bintangnya." lol. Ahaaaay … belum masanya kawan!

 

Pandemi covid 19 ternyata menandai surutnya hasratku 'pamer' sepedaan di media sosial ini. Namun blog tempat aku menulis kisah sepedaanku masih cukup ramai dikunjungi orang, mungkin orang-orang yang mencari ide mau sepedaan kemana di kota Semarang yang terkenal memiliki daerah bawah dan daerah atas ini.

 

Meskipun begitu, dari sekian 'banyak' kisah bikepacking yang kujalani bersama Ranz, satu hal yang tetap akan membuatku bangga pada diri sendiri sebagai seorang 'bike-to-worker' adalah tetap konsisten bersepeda ke tempat beraktifitas: ke kantor, ke pasar, ke toko buku, dll. Karena dengan menjadi seorang 'bike-to-worker' aku selalu merasa ikut peduli pada lingkungan dengan mengurangi penggunaan BBM. Sebagai seseorang yang merasa 'cukup kenyang' memiliki pengalaman bersepeda, saya merasa sudah saatnya saya tidak perlu pamer di media sosial seperti facebook.

 

Sudah saatnya orang-orang yang merasa terinspirasi dari kisahku sepedaan gantian menginspirasi orang-orang lain. SEMANGAATTT!

 

PT56 12.52 03/09/2024

 

otw dari Ubud ke Pantai Sanur, Juli 2015