Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Juni 2020

Semarang - Kudus pp

Bersepeda Semarang - Kudus -- Semarang sendirian bukanlah hal yang 'wow' bagi saya. (Duh, bukan bermaksud sombong ya, apa sih yang disombongin dari gowes dengan trek datar melulu ini? Hihihi …) Meskipun begitu, kisah ini layak saya tulis sebagai satu apresiasi pada diri sendiri karena beberapa hal.

 


 

Sekitar 3 tahun yang lalu mendadak saya juga mendapatkan 'urge' untuk bersepeda ke Kudus, sampai alun-alun Simpang 7, sendiri, naik Cleopatra, sepeda hardtail polygon cleo 2.0 milik Ranz yang saya pinjam sejak tahun 2014. saya lupa dari mana dan mengapa saya mendapat 'urge' itu. ('urge' mungkin semacam 'desakan' dari dalam diri. Atau mungkin semacam 'obsesi' ya.) Sejak itu, sebenarnya pingin melakukannya lagi kapan-kapan, dan ternyata saya mewujudkannya baru di bulan Juni 2020 ini.

 

 


Yang membedakan dari perjalanan kali ini dengan perjalanan 3 tahun lalu tentu saja karena waktu itu naik sepeda dengan ban 26", sekali kayuh, sepeda langsung terasa melaju wuuuushhh, lumayan. Kali ini saya mendapatkan 'bisikan dari langit (halah) untuk naik Snow White, sepeda lipat polygon urbano 3.0. karena diameter ban hanya 20" hingga jelas, sekali kayuh sepeda melaju pelan. Lol.

 

 

Perjalanan ini terutama terdorong dari hasrat dolan bersepeda dari satu kota ke kota lain yang terpendam gegara pandemi covid 19. andai tidak ada pandemi, minimal saya akan menjalani bersepeda Semarang - Solo lagi (tentu saja dengan ditemani Ranz yang menjemput saya di Bawen) di sekitar bulan Maret atau awal Juni untuk menghadiri ulang tahun komunitas Seli Solo. Selain itu, Ranz dan saya sudah berencana untuk bersepeda menyusuri pantai Selatan setelah mengikuti Tour de Pangandaran yang akan dilaksanakan pada tanggal 4 Juli 2020.

 


 


Sudah biasa dolan antar kota naik sepeda, dan terpaksa menahan hasrat dolan seperti ini bisa bikin seseorang sakaw lho gaes. Seperti mereka yang kecanduan sesuatu yang lain. Lol. Dan karena saya dan Ranz termasuk rakyat Indonesia yang mematuhi himbauan pemerintah untuk tidak kumpul-kumpul dulu, atau dolan keluar kota dulu, tentu Ranz tidak bisa ke Semarang. Oleh karena itu, solusinya adalah saya bersepeda sendiri. Hohoho …

 

 

Bagi seseorang yang hanya tahu menaiki sepeda, tidak tahu harus ngapain jika terjadi hal-hal yang tidak diharapkan pada sepeda, memang hal ini termasuk satu hal yang nekad. Lha wong hanya masalah sepele, misal rantai lepas saja saya tergantung pada Ranz kok. Lol. Tapi ya itulah, saya memang termasuk kaum nekad.

 

 

Beberapa tips bagi mereka yang ingin bersepeda (rada) jauh sendirian (dan seperti saya tidak bisa membetulkan sepeda jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan):

 

  1. Siapkan sepeda sebaik mungkin. Harus yakin bahwa sepeda dalam kondisi prima untuk dinaiki
  2. Siapkan mentalmu jika terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.
  3. Yakinkan diri bahwa kondisi tubuh fit. Untuk saya pribadi, malamnya saya harus tidur cukup.
  4. Siapkan uang yang cukup untuk antisipasi
  5. Siapkan bekal (makan dan minum) yang cukup siapa tahu tidak akan bertemu dengan warung makan atau minimarket

 

Untuk tip nomor satu, ini sebaiknya berlaku jika seseorang ingin melakukan perjalanan jauh, baik sendirian maupun rombongan ya. Untuk tip yang kedua ini MUTLAK wajib. Sebagai contoh, 3 tahun lalu saya bersepeda ke kawasan Candi Ngempon di daerah Pringapus (pasar Karangjati belok ke arah Timur). Saya terpelanting jatuh ketika melewati satu jalan yang licin. Waktu jatuh ini ternyata menyebabkan 'bb' patah. Karena kesulitan mendapatkan bengkel sepeda, saya menuntun Cleopatra sampai kurang lebih 6 kilometer dengan trek rolling. Ini pun saya terbilang beruntung karena menemukan seorang tukang tambal ban yang baik hati mau membantu di kawasan Lemahbang. Jika tidak, saya masih harus terus menuntunnya sampai pusat kota Ungaran dimana ada toko sepeda plus mekaniknya. Ketika hal ini terjadi, saya butuh tip nomor 2 dan 3.

 

 

Menjelang bersepeda Semarang - Kudus - Semarang saya yakin Snow White dalam kondisi baik-baik saja karena sejak lebaran, saya lebih sering naik Snow White ketika bersepeda di dalam kota. (Untuk sementara Austin dan Cleopatra saya istirahatkan.) karena ini pula lah, saya ingin bersepeda ke Kudus naik Snow White, dan bukan dengan Austin maupun Cleopatra meski keduanya juga dalam kondisi baik dan enak dinaiki.

 

 

Sabtu 27 Juni 2020

 

Saya meninggalkan rumah sekitar pukul 05.20, masih dalam kondisi mengantuk, lol. Masih belum yakin apakah saya jadi mewujudkan keinginan saya bersepeda ke Kudus hari itu. Namun setelah saya sampai Kaligawe, dengan yakin saya terus melaju menuju Demak. Kebetulan seminggu sebelumnya (hari Minggu 21 Juni)saya telah bersepeda ke Demak, jadi saya sudah tahu kondisi jalan, yang tidak terlalu mulus setelah melewati area 'Bates'. Sedikit berbeda dengan ketika bersepeda ke Demak, waktu itu 'mood' saya bagus jadi bisa bersepeda dengan kecepatan yang lumayan (untuk ukuran saya sendiri), waktu bersepeda ke Kudus ini mood saya biasa-biasa saja, jadi ya saya mengayuh pedal sepeda nyantai saja.

 

 


Mendekati alun-alun Simpang Enam Demak, jalan ditutup, namun sepeda masih bisa melaju. Ternyata di depan LP ada upacara, maka traffic dialihkan lewat jalan lain. Meski ada upacara, banyak orang yang berada di alun-alun tidak 'diusir' sehingga saya merasa aman tetap memotret Snow White dengan latar belakang tulisan SIMPANG ENAM DEMAK. Kemudian saya mlipir ke arah kiri, memotret Snow White dengan latar belakang Masjid Agung Demak. Dari sana saya belok ke jalan Muka Kabupaten (nama jalan yang unik, hohoho) hingga tembus ke pasar Bintoro, kemudian melaju ke arah Kudus.

 

 

Biasanya saya mampir sarapan dulu di satu warung soto ayam yang terletak tak jauh dari alun-alun, tapi di depan LP ada upacara, saya tidak kesana. Tentu saja selepas meninggalkan alun-alun, mata saya jelalatan mencari warung tempat saya bisa berhenti untuk sarapan. Namun ternyata hingga sampai perbatasan Kudus - Demak, saya tidak 'berjodoh' dengan satu warung pun untuk sarapan. Lol. Wow, saya bersepeda sejauh 52 kilometer tanpa minum! Air dalam bidon masih utuh. Istimiwir, biasanya paling pol saya minum sesampai alun-alun Demak.

 

 

Saya memang tidak berniat melanjutkan perjalanan hingga alun-alun SIMPANG 7 KUDUS, karena target saya hanya mencapai jarak tempuh 100 kilometer. (untuk 'membukukan' trophy virtual grandfondo di strava. Hihihi) Itu sebab setelah memotret Snow White di perbatasan Kudus - Demak, saya langsung kembali mengayuh pedal sepeda balik ke arah Demak. Nah, tak jauh dari situ, saya mampir satu minimarket untuk membeli air mineral dan roti.

 

 

Setelah istirahat sekitar 15 menit -- nunut ke toilet dan ngemil roti plus minum air mineral -- saya melanjutkan perjalanan. Thank god saya sama sekali tidak diganggu rasa kantuk padahal saya sering lho diganggu rasa kantuk jika sedang gowes jauh. Lol. Semula saya berencana untuk mampir di warung soto ayam Semarang yang ada tak jauh dari alun-alun Demak. Tapi ketika saya melewati resto ayam bakar 'Mbak Tari', saya mampir untuk sarapan. Saya ingat saya dan Ranz pun mampir di resto ayam bakar 'Mbak Tari', tapi yang berlokasi tak jauh dari pertigaan Trengguli ketika kita on the way dari Semarang ke Kudus untuk menghadiri pernikahan seorang sahabat, tahun 2014.

 

ayam bakar, tahu dan tempe goreng
 


Usai sarapan ayam bakar, dan minum segelas teh hangat, saya melanjutkan perjalanan. Sempat 'bertemu' kemacetan di kawasan Sayung, tapi masih ada ruang untuk sepeda agar bisa terus melaju. (Jadi ingat saya dan Ranz pernah juga bertemu kemacetan seperti ini sewaktu pulang dari Demak, karena terjadi kebakaran di satu lokasi.)

 

 

Thank god saya sampai rumah mungkin sekitar pukul 12.30. next time lagi ah gowes dengan Snow White. Lumayan 'mengobati' sakaw mbolang.

 

PT56 16.07 29-Juni-2020


Jumat, 19 Juni 2020

Keselamatan di Jalan Raya

Dari obrolan virtual yang diselenggarakan oleh National Geographic Magazine Indonesia pada hari Kamis 18 Juni 2020 yang saya ikuti, saya ingin menggarisbawahi apa yang disampaikan oleh Om Poetoet sebagai ketua Bike to Work Indonesia : keselamatan pengguna jalan raya itu tanggung jawab kita semua.

 

 


Mumpung sepedaan sedang ngetren setelah pemerintah Indonesia membuka diri menuju 'new normal' lifestyle, obrolan ini sangat menarik diikuti. Obrolan diawali oleh dokter Aristi yang seorang pesepeda dan peturing antarnegara menyampaikan pentingnya mengikuti protokol kesehatan yang ketat ketika bersepeda: memakai masker itu penting untuk melindungi diri sendiri, sekaligus juga melindungi orang lain, siapa tahu kita adalah OTG alias orang tanpa gejala. Selain itu, dia juga menyarankan mengenakan face shield agar kita merasa lebih aman dari 'serangan' droplet orang-orang yang mungkin kita temui di jalan. Selain mengenakan masker (dan face shield), kita juga sebaiknya bersepeda sendirian, atau maksimal dengan 4 orang lain, itu pun kalau bisa ya orang-orang yang serumah dengan kita, yang kita tahu pasti kesehariannya bagaimana, apakah dia positif/negatif covid. Memilih rute yang sepi dan waktu yang tepat juga penting agar kita bisa terhindar dari kemungkinan ketularan covid 19.

 

 

Om Poetoet yang diberi kesempatan untuk berbicara setelah dokter Aristi menyoroti pentingnya menjaga keselamatan diri dan orang lain.

 


 

"Saat kita keluar rumah kita harus memastikan bahwa dalam perjalanan nanti kita tidak celaka -- ini ada hubungannya dengan persiapan yang harus kita lakukan, misal ngecek sepeda yang prima kita naiki dll -- juga kita jangan sampai menyebabkan orang lain celaka disebabkan oleh kita."

 

 

Seperti yang kita tahu bahwa sepedaan yang ngetren beberapa minggu terakhir ini tentu melibatkan para 'pemain baru'. Para 'newbie' yang sedang senang-senangnya sepedaan (dan biasanya mereka melakukannya beramai-ramai, yang berarti melanggar kebijakan new normal (karena justru berkerumun) nampaknya berpikir bahwa mentang-mentang sepeda ini tidak memiliki mesin, mereka bisa sesuka hati melanggar lampu lalu lintas. (Eh, bukan  hanya newbie ya yang melanggar lampu merah? Lol) Mereka juga kadang terlihat enak saja bersepeda berjajar tiga sampai empat orang hingga memakan badan jalan dan pengguna jalan lain kesulitan untuk menyalip.

 

 

Hal ini membuat jagad dunia maya seolah terbelah menjadi tiga: orang-orang yang sama sekali tidak tertarik bersepeda mengatakan para pesepeda ini semacam hama di jalan raya sehingga mereka harus dibasmi (duh, rasane pingin ngumpat 'your grandpa!"); pesepeda yang secara inosen mengajukan 'excuse' "loooh, kita kan pesepeda, boleh dong ga ngikutin aturan?" dan jenis ketiga: pesepeda yang mengikuti aturan sehingga mereka terjepit antara kelompok satu dan dua.

 

 


Mengacu ke keluhan orang-orang dari kelompok pertama, Om Poetoet mengambil sikap, "ya silakan kalau pesepeda juga akan ditindak jika melanggar lalu lintas, tapi ingat, pesepeda juga dilindungi UU loh." UU lalu lintas nomor 22 tahun 2009 pasal 62 mengatakan bahwa (ayat 1) pemerintah harus memberikan kemudahan berlalu lintas bagi pesepeda; (ayat 2) pesepeda berhak atas fasilitas pendukung keamanan, ketertiban dan kelancaran berlalu lintas; dalam hal ini bisa berupa jalur sepeda.  Pasal 106 ayat 2 menyatakan "setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor dengan tidak mengutamakan keselamatan pejalan kaki atau pesepeda dipidana dengan pidana kurungan paling lama dua bulan atau denda paling banyak Rp. 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah)".

 

 


Nah, jika tidak ada jalur sepeda, terpaksa pesepeda memakai jalur umum yang dipakai oleh kendaraan bermotor. Secara hirarki, di jalan raya, di Indonesia pejalan kaki dan difabel itu pihak yang paling harus dilindungi, yang kedua adalah pesepeda. Trotoar dibangun utamanya untuk pejalan kaki dan difabel, namun jika tidak ada jalur sepeda, pesepeda boleh menggunakan trotoar, terutama jika trotoar dalam kondisi memungkinkan pesepeda untuk lewat trotoar (pas jarang ada pejalan kaki atau difabel) dan badan jalan dipenuhi kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor roda di atas 4 yang seyogyanya berada di jalur kanan yang paling harus menghargai keberadaan kendaraan bermotor roda 4 dan roda 2.

 

Keluhan mereka yang tidak bisa memahami pesepeda biasanya disebabkan mereka merasa ruang gerak mereka di jalan raya berkurang karena pesepeda. Nah, setelah tahu UU lalu lintas nomor 22 tahun 2009 harusnya paham dong bahwa pesepeda juga manusia, eh, pesepeda juga BERHAK menggunakan jalan raya bersama pengendara kendaraan bermotor.  Seandainya ada jalur sepeda namun pesepeda menggunakan jalur kendaraan bermotor, sila ditilang. Sebaliknya juga pengendara kendaraan bermotor menggunakan jalur sepeda, mereka juga harus ditilang.

 

Mengenai mereka yang melanggar traffic light saat lampu merah menyala, kira-kira berapa jumlah pesepeda / motorist yang melanggar? Mana yang lebih banyak? Lol. But, anyway, kita semua tahu bahwa melanggar lampu merah bisa jadi akan mencelakakan diri kita, namun bisa juga justru akan mencelakakan orang lain. Kembali ke pernyataan Om Poetoet, saat di jalan raya, jangan sampai kita mencelakakan diri kita, maupun mencelakakan diri orang lain. Kita SEMUA BERHAK selamat sampai tujuan.

 

PT56 16.04 19 Juni 2020


Senin, 25 Maret 2019

ROMLI & J150K 2019


Ngeromli sih oke-oke saja, tapi lihat-lihat event dan rutenya dong ah. :D plus tahu diri lah batas-batasnya


Kata yang bisa bermakna ganda ini -- positif dan negatif -- kembali ngetrend beberapa hari terakhir ini di kalangan pesepeda gegara event J150K ENDURANCE 2019. Panitia mematok "hanya" 500 calon peserta, naik 200 ketimbang tahun 2017. (Meski tahun itu akhirnya membengkak ke angka di atas 600 perserta) Jika di tahun 2017 300 nomor peserta itu ditutup dalam waktu sekitar 2 - 3 jam, tahun ini jauh lebih spektakuler. Angka 500 langsung terlampaui hanya dalam waktu kurang dari 10 menit! Walhasil, banyak calon peserta kecewa, baik calon peserta veteran (yang sudah pernah ikut J150K tahun 2013 maupun 2017) maupun newbie. Bagi yang mengenal JFB a.k.a Jogja Folding Bike yang 'tegas' terhadap peserta liar, tentu pasrah menerima nasib. Namun, tidak bagi mereka yang penasaran pada J150K tapi tidak "kenal" JFB, dengan ringan mereka menulis komen "kalo ga bisa daftar resmi, ngeromli saja deh."


J150K 2013
Nah … jadi polemik deh kata yang bisa jadi dianggap positif bagi penyelenggara event sepeda yang menurutku tidak terlalu butuh pengawasan khusus dan bisa cuek pada peserta romli. Namun, kata ini bisa bermakna negatif jika panitia mengerti bahwa event yang mereka selenggarakan sangat beresiko. Bersepeda mengendarai sepeda lipat dengan lingkar diameter ban di bawah 22 sangatlah tidak dianjurkan jika dilakukan oleh mereka yang belum berpengalaman, plus jarak yang ditempuh lumayan melelahkan, 150 kilometer. Jika terjadi apa-apa, panitia tentu akan terkena imbasnya, meski yang 'terkena apa-apa' itu peserta liar, yang tidak terdaftar secara resmi.


 Seperti yang kutulis di artikel ini, panitia Tour de Pangandaran pernah berbaik hati 'mengurusi' peserta romli, sekian tahun lalu. Namun, di tahun-tahun terakhir ini, mereka mulai tegas dengan peserta romli, karena tidak ingin konsentrasi mengurusi peserta remsi terganggu.

J150K 2017

Selain TdP, ada banyak event sepedaan lain yang menurutku tidak masalah jika ada peserta romli, misal Tour de Borobudur. Sekian tahun lalu aku pernah ditawari seseorang untuk bergabung dengan komunitasnya yang ngikut TdB secara tidak resmi, jadi tidak perlu membayar. Namun, komunitas ini menyediakan armada evak sendiri, mungkin juga sekaligus untuk kebutuhan makan dan minum mereka sendiri. Penyelenggaraan TdB berbeda dengan TdP yang bersifat fun touring, tidak ada batas minimal peserta harus sudah sampai di garis finish pada jam tertentu. Peserta TdB sudah harus sampai garis finish sebelum pukul 12.00. panitia menyediakan armada evak untuk 'menyapu' peserta yang masih keleleran di jalan, sehingga dipastikan semua peserta resmi sudah sampai di garis finish di jam yang sudah ditentukan. Event sebesar TdB maupun TdP akan selalu terbuka untuk peserta romli karena (1) jalan yang dilewati jalan umum, dimana pada saat yang bersama siapa pun bisa lewat. (2) kedua event besar ini sudah diselenggarakan lebih dari 7 kali, jadi para 'penggemar' sudah hafal tata cara penyelenggaraannya, meski bisa jadi rute yang dipilih sedikit berbeda dibanding tahun tahun sebelumnya. Para romli bisa 'ngeles' mengatakan, "orang saya sepedaan sendiri kok, ga ngikut event, kebetulan saja rute yang saya pilih sama." iya, terutama TdP, rute sepedaan dari Tasikmalaya menuju Pantai Pangandaran ya satu itu saja, jika lewat kawasan Banjar.


Ngeromli di J150K?


Tahun 2013 waktu pertama kali ngikut event ini, beberapa kawan kuliah berkomentar, "Mosok bisa sih Na,  sepedaan di Jogja sejauh 150 kilometer? Lha wong jalan (Utama)nya ga sampai 150 kilometer.


DIY memang luas, tapi tentu jarak dari titik terbarat sampai titik tertimur ga bakal sampai 150 kilometer. Agar bisa tercapai jarak 150 kilometer, tentu panitia harus berpikir keras menentukan rute muter kesana kesini kesitu dan lain lain. Dan, untuk memandu peserta agar tidak tersesat bukan hal yang mudah. Belum lagi menyediakan kudapan yang dibutuhkan peserta.


Rute yang tentu tidak hanya 'lurus' tentu menjadi alasan yang sangat jelas ga mungkin jika seorang peserta liar bilang, "Kebetulan saya juga sedang sepedaan lewat sini kok." Mosok sepedaan sejauh 150 kilometer dengan rute berputar-putar mengitari Jogja kok bisa sama persis dengan rute yang telah ditentukan panitia? Kekekekeke …


Mungkin bagi para newbie di komunitas sepeda lipat, sepedaan sejauh 150 kilometer dengan naik sepeda lipat sangat menantang. Namun, apa pun itu, ini 'hanya' acara sepedaan kok, kita bisa sepedaan sejauh apa pun yang kita mau, kalau hanya sekedar menantang diri sendiri mampu atau tidak.


P.S.


Waktu tahu biaya pendaftaran J150K limaratus ribu rupiah, aku membahas dengan Ranz. Kesimpulan yang kita ambil adalah "skip this event". Namun, ketika pendaftaran dibuka oleh panitia, aku 'gatal' pingin mencoba mendaftar, dan siapa tahu Ranz akhirnya berubah pikiran. Hihihi …


Hari Rabu 20 Maret 2019 pukul 20,19 itu aku sedang menguji lisan (oral examination) di tempat kerja. Setelah selesai, aku menimbang-nimbang, ndaftar ga ya … Well, akhirnya iseng-iseng aku ndaftar untuk diriku sendiri. Setelah mengklik tombol 'kirim' data-data yang dibutuhkan, aku pikir-pikir lagi, ndaftarin Ranz ga ya. Kalau kudaftarin dia bakal ngomel ga ya, "Kamu tuh, sudah dibilangin ga usah ikut, pake iseng2 daftar, nomor kita kan bisa dipake mereka yang benar-benar pingin ikut. Huh." LOL. Meski berpikir begitu, aku akhirnya memutuskan mendaftarkan Ranz. Kalau tidak salah, aku melihat penampakan, "selamat, anda berhasil mendaftar" setelah aku klik tombol 'kirim'.


Keesokan hari, Kamis 21 Maret 2019. aku ngecek email, ada email pemberitahuan panitia bahwa namaku terdaftar di nomor 368. namun waktu aku ngecek email yang kupakai untuk mendaftar Ranz, tidak ada email pemberitahuan dari panitia. Hmmm …


Waktu panitia mengumumkan nama-nama calon peserta di web resmi, aku menemukan namaku, namun tidak menemukan nama Ranz. Hmmm … baiklah. Nampaknya aku 'manut' Ranz saja deh. Skip J150K 2019. :D dari pada maksain diri jadi romli, mending dolan sendiri somewhere else. :D


PT56 22.15 24 Mar 2019

Selasa, 06 Juni 2017

Tips Bersepeda ke Kantor



Memasuki bulan Juli 2017 ini, aku akan memasuki tahun kesembilan mempraktekkan bersepeda ke kantor, atau yang bahasa kerennya bike to work. Alhamdulillah ternyata aku termasuk tipe mereka yang tetap keukeuh dengan pilihan moda transportasi yang menyehatkan ini.

di satu kesempatan, mumpung ada yang motret :)

Dalam postingan ini, aku akan memberi beberapa tips untuk mempersiapkan diri para newbie bersepeda ke kantor. (FYI, background, aku tinggal di kota Semarang, kota yang tidak begitu besar jika dibandingkan dengan Jakarta, asal mula gerakan moral ini dimulai.)


  1. Yakinkan diri bahwa tubuh kita telah terbiasa bersepeda 'sejauh' jarak rumah - kantor, sehingga kita tidak akan kepayahan. Ini penting agar ketika kita sampai di kantor, kita tidak akan kelelahan dimana nantinya justru akan mengurangi performa kerja kita. 
  2. Selain itu, kita juga harus tahu berapa lama kita bakal butuh mengayuh pedal dari rumah ke kantor hingga kita tidak akan datang terlambat. Sesampai kantor masih ada waktu untuk mandi dan berganti busana kerja. Ini terutama jika jarak rumah - kantor lumayan jauh, apalagi jika harus melalui tanjakan sehingga sesampai kantor kita bakal berkeringat. Namun, jika kita 'beruntung' karena jarak rumah - kantor kurang dari 5 kilometer, kita cukup mendinginkan tubuh dari hawa panas jalan, sebelum memulai bekerja. Kita bisa langsung mengenakan busana kerja saat mulai meninggalkan rumah. Atau, bisa juga waktu berangkat, baju kerja kita letakkan di backpack, atau di tas pannier, jika kita punya. 
  3. Jika kita merasa butuh melakukan ujicoba dulu untuk mengetahui seberapa lama kita butuh waktu bersepeda dari rumah ke kantor, kita bisa melakukannya terlebih dahulu di akhir pekan.
  4. Pastikan bahwa kondisi sepeda yang akan mengantar kita ke kantor dalam kondisi prima, terutama jika kita harus mendaki tanjakan. :) Jika perlu, kita bisa mengenakan bandana/masker untuk melindungi wajah dari paparan asap knalpot kendaraan bermotor. Helm dan sarung tangan jangan lupa ya.
  5. Jika kita butuh mandi terlebih dahulu sesampai kantor, kita harus yakin bahwa kantor kita menyediakan tempat mandi yang cukup memadai. Ada beberapa kawan yang mengatakan mereka cukup membawa kanebo untuk membersihkan tubuh. Ini, tergantung dari masing-masing kita ya.
  6. Pastikan bahwa tempat parkir kantor kita aman. Ini penting karena telah sering kita dengar kasus pencurian sepeda di tempat-tempat parkir kantor di Jakarta. Kita juga harus melakukan tindakan preventif dengan menggembok sepeda. Atau jika kita menaiki sepeda lipat, kita bisa mencari space yang cukup lapang di dalam gedung kantor untuk menyimpan sepeda. 
  7. Sayangnya sekarang bus Trans Semarang tidak 'ramah' sepeda sehingga para pekerja bersepeda di kota Semarang akan kesulitan jika kita ingin menyambung moda transportasi. Misal, jika kita tinggal di daerah atas, Pudak Payung. Waktu berangkat, kita cukup nyaman karena akan dimanjakan dengan turunan. Namun, saat pulang, kita tak semudah 5 tahun lalu, karena kita bisa naik bus Trans Semarang (jika kita naik sepeda lipat.) 
  8. Bagiku pribadi sepeda jauh lebih fleksibel di musim hujan karena meskipun turun hujan dan banjir di beberapa ruas jalan, kita tidak perlu kerepotan bakal mesin mati. Satu hal penting yang tidak boleh lupa adalah mempersiapkan mantel, terutama bagi mereka yang tubuhnya tidak "waterproof". LOL.


Hayuk, jadilah orang yang peduli dengan kesehatan lingkungan. Mari bersepeda ke kantor.

IB 20.20 060617

Sabtu, 13 Mei 2017

Tips buat Ngeksis


Aku mulai blogging sekitar pertengahan tahun 2005 (better late than never dong yah? :) ) Awalnya aku nulis postingan untuk blog menggunakan Bahasa Inggris, karena waktu itu aku sedang pursuing my studies di American Studies dimana aku sering harus menulis artikel dalam Bahasa Inggris. Setahun kemudian, aku baru mulai menulis blog dalam Bahasa Indonesia, hal-hal remeh temeh dalam kehidupanku sehari-hari.

Aku ngeblog untuk '
catharsis' -- salah satu jalan keluar untuk meluapkan emosi, pikiran dan sebagainya -- tak ada (atau belum ada kali ya? LOL) -- keinginan untuk ngeksis. Blas ga ada lah untuk itu.


Adalah satu hal yang membanggakan bagiku ketika seseorang yang tidak kukenal secara pribadi memasukkan blog-ku dalam daftar blog-blog yang dia 'feature' dalam blognya. (Click 
this link.) Aku sudah lupa awalnya bagaimana hingga aku tahu aku 'ditulis' di blog orang. LOL. Fatih Syuhud ini 'hanya' mengamati tulisan-tulisanku di blog, kemudian menulis tentangku. Herannya, tulisannya benar banget mencerminkan memang begitulah aku, cara pandangku.


Akhir tahun 2008, satu hal lain lagi yang membanggakan buatku, kala aku dimasukkan dalam kategori 
TOP TEN BLOGGER INDONESIA 2008, masih menurut versi orang yang sama, Fatih Syuhud.

Hobi blogging ini tentu tak hanya berhenti di menulis hal-hal yang 'disturbing my conscience'. Hampir segala hal yang kualami kutulis, termasuk awal-awal aku bergabung dengan Bike 2 Work Semarang, 'kepanjangan' tangan dari Bike 2 Work Indonesia. Kutulis juga kisah-kisah sepedaanku, kuunggah di blog 
ini maupun itu.

saat Mbolang ke Klayar


Awal tahun 2012, aku putuskan untuk membuat blog tersendiri untuk memudahkan pengarsipan tulisan-tulisan tentang sepedaan. Kuberi judul blog itu 
MY BIKING DIARY.  Adalah satu hal di luar ekspektasiku bahwa blog ini di kemudian hari akan menjadi lebih lively ketimbang blog-blog lain. (Saya lelah! LOL. Eh, salah, Saya telah tumpul. :( )

Aku menulis di blog sepedaan itu murni untuk pengarsipan kisah perjalananku bersepeda. Bahwa di kemudian hari seorang Nana Podungge lebih dikenal sebagai 'goweser' ketimbang sang feminis yang romantis, yaaa apa boleh buat? LOL. Bahwa ketika mengikuti event sepedaan di luar propinsi aku bertemu dengan orang-orang yang ramah menyapa, "Mbak Nana ... saya pembaca blog anda." atau "Mbak Nana ... saya terinspirasi pengalaman njenengan turing naik sepeda lipat gegara membaca blog anda." menjadi satu bukti bahwa ... itulah, saya lumayan tercemar, ups ... terkenal. LOL.

Aku kenal sepedaan ya gara-gara berkecimpung di orang-orang yang mendirikan Bike to Work Semarang. Namun, aku dikenal orang (jadi NGEKSIS dong eikeh LOL) bukan karena keterlibatanku dengan kumpulan orang-orang yang ingin menginspirasi orang lain untuk menggunakan sepeda sebagai moda transportasi ke kantor, namun karena aku mbolang kesana kemari dengan bersepeda. (Thanks to my bikepacking soulmate Ananda Ranz, tanpa dia aku mah apa tuh. LOL.) Dan ... NGEBLOG!

Kesimpulannya adalah ... jika ingin ngeksis di dunia sepedaan, coba saja caraku.
(1) Cari solmet mbolang. Enakan mbolang berdua (bagiku) ketimbang sendirian. LOL.
(2) Tulis kisah mbolangmu itu di blog.
(3) Aktif di dunia maya, untuk ngiklanin blog-mu itu dong
(4) Ikut event skala nasional, eh, regional juga boleh kok

Sampun. Cekap mekaten nggih :)


Rabu, 24 Agustus 2016

Sepeda Turing?

Tulisan ini berangkat dari keprihatinan ketika ada orang-orang di sekitarku yang mengatakan belum bisa turing a.k.a bikepacking a.k.a mbolang naik sepeda hanya gegara belum punya "sepeda turing".

Lhah. Sebegitunya kah sepeda turing ini bakal menghambat seseorang dari keinginan merambah kota-kota lain dengan naik sepeda?

Karena pada prakteknya, selama lima tahun terakhir ini aku dan Ranz -- soulmate mbolangku -- ga pernah berpikir tentang hal ini, kecuali satu hal. Sepeda lipat.

Mengapa sepeda lipat?

Seperti yang kutulis di link ini, sepeda lipat kita pilih karena kepraktisannya. Selama ini, memang pengalaman dolan kita adalah berangkat naik sepeda, sejauh yang kita rencanakan, kemudian pulangnya kita akan naik angkutan umum, misalnya bus. Lebih banyak bus yang 'welcome' pada sepeda lipat ketimbang sepeda berban 26'. Apalagi kereta api. :)

Austin di Pantai Serangan Bali. Pemandangan yang jarang lho ini Austin 'terbebani' pannier. Karena biasanya semua pannier nangkring di Pockie. kekekekeke ...

Satu hal yang wajib ada di sepeda lipat kita adalah rak boncengan. Rak haruslah dipilih yang cukup tinggi sehingga ketika kita meletakkan tas pannier di atasnya, tas tidak akan menyentuh tanah, plus tidak akan mengganggu gerak kaki kita mengayuh pedal.

Mengapa tas pannier? Karena konon ketika kita bersepeda jarak jauh, punggung haruslah terbebas dari beban apa pun. Dengan meletakkan tas pannier di rak boncengan memang akhirnya menyebabkan kayuhan pedal lebih berat ketimbang tanpa beban. Namun, oleh para pakar turing, kaki lebih tahan terbebani ketimbang punggung dalam jangka waktu lama.

Pockie, otw mbolang ke Tuban

Dalam petualangan bersepeda kita berdua selama kurang lebih lima tahun ini, kita berdua memang lebih sering naik sepeda lipat, karena ogah repot mengirim sepeda (besar) lewat ekspedisi, misalnya, setelah selesai mbolang. Jika jarak yang kita tempuh lumayan jauh, butuh waktu 4-5 hari, Ranz akan menaiki Pockie, sepeda lipat 20"nya. Jika hanya butuh waktu 2-3 hari, Ranz naik Shaun, sepeda lipat 16"nya.

Namun, tahun lalu, Ranz naik Haro, sepeda bmx-nya waktu kita mbolang ke Jepara dan menginap semalam disana, setelah dia membeli tas pannier yang khusus dipasang di bawah sadel. (Check this link.)

Haro dengan gembolannya

Bagaimana denganku? Aku lebih sering naik sepeda lipat, Awal mulanya aku naik Snow White, sepeda lipat polygon urbano 3.0. (Eh, Ranz yang naik Snow White, aku naik Pockie yang waktu itu belum dipasang rak boncengan yang memadai.) Kemudian naik Austin, sepeda lipat downtube nova. Dua kali aku naik Cleopatra, waktu dolan ke Candi Cetho dan Candi Sukuh.  Di saat yang sama, Ranz naik Shaun. LOL.



So?

Masihkah kamu memaksa dirimu sendiri untuk terlebih dahulu memiliki "sepeda turing" sebelum mengeksekusi keinginanmu bikepacking? Karena sebenarnya sepeda apa pun oke, asal nyalimu siap untuk itu. (ssshhhtttt ... teman-teman lowrider Semarang juga ada yang punya pengalaman mbolang luar kota lho? Naik sepeda jenis lowrider! hebat kan mereka?)

LG 13.13 24/08/2016

Untuk tips sebelum bikepacking, klik link ini yaaa?

Senin, 03 Agustus 2015

Tips Membawa Sepeda Lipat ke Kabin KA

Sebenarnya PT KAI telah mengeluarkan peraturan bahwa bagi para penumpang kereta api yang membawa sepeda lipat, mereka bisa membawa seli mereka ke dalam kabin penumpang dengan syarat sepeda dalam kondisi terlipat. Peraturan yang tertulis di pasal 14 itu berbunyi:

"Khusus sepeda lipat atau sepeda biasa yang dikemas sedemikian rupa dalam keadaan komponen - komponennya tidak dirakit menjadi sepeda utuh dapat dibawa kedalam kabin kereta penumpang dan ditempatkan pada tempat yang tidak mengganggu atau membahayakan penumpang lain serta tidak akan menimbulkan kerusakan pada kereta tidak dikenakan biaya "

perhatikan yang distabilo kuning

Namun dalam prakteknya, masih ada kesulitan yang dihadapi oleh para penumpang KA ketika membawa seli mereka kedalam gerbong penumpang, terutama kereta ekonomi. Mungkin tidak di semua stasiun KA, namun hanya di beberapa kota saja. Dalam pengalamanku bersama Ranz selama ini, kita mendapatkan "sedikit" ketidaknyamanan ketika kita akan naik kereta dari stasiun Banyuwangi Baru - Ketapang.

Austin dan Pockie di lorong yang sama,  kebetulan pintu yang di ujung sana rusak sehingga tidak bisa dibuka. Oleh karena itu, kita bisa meletakkan dua seli di satu lokasi. Ini di KA Matarmaja, otw ke Blitar dari Solo

Pockie di ujung satu gerbong KA Sritanjung

Austin di sisi gerbong yang lain KA Sritanjung

Ranz sedang menali Pockie di rak atas tempat duduk KA Sritanjung, dari stasiun Banyuwangi Baru


Austin tergeletak tak berdaya di bawah kursi :D di KA Sritanjung, dari stasiun Banyuwangi Baru
Maka, berikut inilah tips, yang ditulis oleh Ranz dalam blognya di link ini. :) Dengan sedikit modifikasi :)


1.     Bawa lembar formulir pendaftaran tiket yang berisi peraturan KA yang tertulis pasal 14, sebagai “senjata” jika kita perlu “berargumentasi” dengan petugas KA yang belum tahu peraturan ini. Jangan lupa ketika terlibat “argumentasi”, kita jangan emosi (misal merasa “sok” mengerti peraturan dibolehkannya membawa seli di hadapan petugas yang “kok” tidak tahu peraturan ini.)
2.    Lipat sepeda lipat kita sebelum melewati meja pemeriksaan sehingga ketika petugas melihat, seli kita telah nampak "ringkas” hingga memudahkan pengecekan barang bawaan.
3.    Jika memungkinkan pesanlah tempat duduk yang terletak di gerbong 1 karena sebelum gerbong 1 ada gerbang 0, dan gerbong tersebut tidak digunakan untuk penumpang umum sehingga kita dapat meletakkan seli di ujung lorong antara gerbong 1 dan gerbong 0. Di ujung sini tidak akan terjadi “lalu lintas” penumpang dari satu gerbong ke gerbong yang lain.
4.    Jika kita tidak mendapatkan tempat duduk di gerbong 1, kita bisa meletakkan seli di lorong gerbong di samping toilet karena disitu ada space yang sedikit lebih lebar dibanding di lorong sebelah lain.
5.    Jika kita berangkat dari stasiun awal mula kereta berangkat, dan mau sedikit kerepotan namun tidak akan bermasalah dengan petugas KA, kita bisa meletakkan seli di bawah kursi. FYI, seli tidak perlu kita lipat, kecuali handle-nya saja. Atau jika memiliki tenaga lebih dan waktu cukup, kita bisa mengangkat seli dan meletakkan di rak di atas tempat duduk. Jangan lupa menalinya ke rak dengan kuat. Permasalahan tip nomor 4 ini adalah kita butuh waktu yang lebih lama saat kita akan turun, untuk mengeluarkan seli dari bawah tempat duduk, maupun menurunkan seli dari rak di atas tempat duduk.
6.    Atau kita bisa meletakkan seli di gerbong restorasi. Gerbong ini hanya digunakan sebagai restoran tempat penumpang makan, sehingga cukup longgar. Namun jangan lupa untuk meminta ijin ke pihak KA terlebih dahulu.
7.    Jika cara-cara di atas tidak “mempan” kita bisa meletakkan seli di gerbong barang, dimana berarti kita perlu membayar kelebihan bagasi.
8.    Jika anda pergi berdua, bisa juga memesan empat tiket dengan memilih tempat duduk yang berhadapan (2 tempat duduk berhadapan dengan 2 tempat duduk), sehingga bisa meletakkan seli di sela-sela dua tempat duduk yang berhadapan ini.
9.    Aku dan Ranz selama ini tidak pernah menggunakan tas seli. Namun jika anda ingin menggunakannya, untuk lebih praktis, silakan saja.
10.  Sila mencoba :)


P.S.:
Semua foto kucomot dari blognya Ranz di link ini.  

LG 15.35 03/08/2015