Selasa, 28 Mei 2013

B2WC - Bike to Waisak Ceremony (Day 3)

Minggu 26 Mei 2013 (Borobudur – Jogja)
 
sebelum meninggalkan Taman Wisata Candi Borobudur
Hujan lebat yang turun semalam (dan membuat upacara Waisak tambah ricuh :() dan kelelahan membuat aku dan Ranz membatalkan rencana untuk kembali ke Punthuk Setumbu untuk menikmati sunrise yang katanya spektakuler itu. Alasan utama jelas: malas bangun pagi-pagi sekali dan gowes nanjak di tengah hawa dingin dan mata mengantuk. hihihihi ... 
 
handle bar Austin sekalian untuk tiang jemur handuk yang basah LOL
Setelah melakukan ‘ritual’ pagi dan packing, juga sarapan pagi yang disediakan tuan rumah yang ramah, aku dan Ranz meninggalkan guest house sekitar pukul 07.30. Sempat berfoto ria di papan nama TAMAN WISATA CANDI BOROBUDUR – untuk keperluan dokumentasi sekaligus narsis diri – kita sempat mampir ke sebuah toko pakaian karena aku butuh beli legging panjang. (Celana panjangku yang tinggal satu basah kuyup dan aku tidak mau mengenakan celana pendek waktu gowes jauh.)  Setelah mampir mini market untuk membeli air mineral, kita langsung bertolak menuju Candi Mendut.
 
Ranz menyapa Stephan (yang tidak kita sangka ternyata bule LOL)

kita bertiga di Candi Mendut

What a surprise dalam perjalanan, kita bertemu dengan seorang bikepacker yang mengaku berasal dari Jerman, bernama Stephan. Kita pun melanjutkan perjalanan bersama, kebetulan Stephan belum sempat mampir ke Mendut maka dia pun mengikuti kita mampir. (Jika tertarik pada kisah bikepacking Stephan, you can visit his blog at www.cyclingeurasia.com ) Di Mendut masih ada ‘sisa-sisa’ yang menunjukkan ada upacara ritual keagamaan yang dilakukan satu/dua hari sebelumnya. Stephan yang mengaku hanya bertemu dengan seorang bule dalam perjalanan lintas Sumatra selama kurang lebih 3 bulan, terheran-heran melihat begitu banyak turis bule di kawasan Borobudur dan Mendut. :)
 
Mendut temple

altar di dalam Mendut

di sisi lain di kawasan Candi Mendut

Dari Mendut, aku dan Ranz mengantar Stephan mencari Candi Ngawen yang terletak di Desa Ngawen Muntilan, sekitar 6 kilometer dari Candi Borobudur. Honestly, kita tahu Candi Ngawen dari peta yang dibawa Stephan. Kita ‘hanya’ membantu mencari lokasinya dengan bertanya kepada penduduk sekitar. Kebetulan aku dan Ranz penikmat turing menuju lokasi dimana candi-candi berada jadi kita senang-senang saja melakukannya. Yang sangat menarik dari Candi Ngawen adalah di bawah candi mengalir air yang tidak pernah berhenti sepanjang tahun sehingga jika kita menginjakkan kaki di atas tanah yang terletak di sekitar candi akan terasa tanahnya gembur. Menurut Om Wiki, Candi Ngawen merupakan candi yang dibangun oleh wangsa Syailendra (sama dengan Candi Borobudur). Candi ini terdiri dari 5 buah candi kecil, dua di antaranya mempunyai bentuk yang berbeda dengan dihiasi oleh patung singa pada keempat sudutnya. Sebuah patung Buddha dengan posisi duduk Ratnasambawa yang sudah tidak ada kepalanya nampak berada pada salah satu candi lainnya.


aku dan Stephan di belakang

jelang pertigaan Magelang - Borobudur - Muntilan

di Candi Ngawen
salah satu candi di kawasan Ngawen yang tinggal dasarnya

aliran air dari bawah candi


Dari Candi Ngawen, kita langsung gowes menuju jalan utama – Jalan Raya Magelang – Jogja. Di tengah jalan kita sempat mampir di sebuah rumah makan Padang yang bangunannya sederhana (yang bumbu masakannya aku yakin telah tercampur dengan bumbu masakan Jawa namun perpaduannya membuat rasa masakannya sangat enak). Satu lagi keistimewaan dari rumah makan ini adalah satu porsi makan, lauk apa pun yang kita ambil, semua berharga Rp. 7000,00. Stephan yang mengaku menyukai masakan Indonesia makan dengan lahap dan terheran-heran dengan harga yang murah. Dia bilang mungkin jika dia mampir sendiri ke rumah makan itu, dia akan harus membayar lebih mahal karena pengalamannya selama ini dia sering ‘dipalak’ untuk membayar makanan.
 
Stephan

Ranz di belakang selain sebagai sweeper juga sebagai fotografer :)

Stephan tidak bermasalah dengan masakan Indonesia :)

serba 7000! murah yaa?
 Kita sangat diuntungkan dengan trek yang terus menurun dari Muntilan sampai terminal Jombor sehingga kita mengirit tenaga. Atas petunjuk Cipluk, kita mengantar Stephan ke rumah Pak Jo di daerah Pajeksan (Dagen) Malioboro. Sekitar pukul 14.30 kita sampai di tempat yang kuingat kukunjungi bersama teman-teman B2W Semarang ditemani teman-teman B2W Jogja di bulan November 2008 lalu dan diperkenalkan sebagai “Bike Clinic”. Sayang ketika kita sampai disana Pak Jo sedang keluar dan baru akan pulang sekitar jam 18.00. Kita tidak bisa terus menerus menemani Stephan (meski kita sebenarnya tidak keberatan) karena kita harus segera kembali ke kota masing-masing. If only it were long holiday for both of us ... Kita terpaksa berpisah dengan Stephan disitu.
 
fotonya keren, ih! :)
Karena ketinggalan kereta P****x yang meninggalkan stasiun Tugu pukul 15.30, (aku juga tidak mendapatkan tiket bus J*gl*s*m*r, plus aku juga ga yakin apakah akan dapat tiket bus patas jika aku gowes ke Jombor) dan untuk mengirit waktu agar aku bisa tetap pulang ke Semarang pada hari itu (I have to go back to my lovely and loving Angie), aku dan Ranz melanjutkan perjalanan ke Solo naik taksi (hohohoho ... keren ya kita? LOL.) 
 
akhirnyaaa, aku punya foto di lokasi ini! :P
di rumah Pak Jo
 Sampai di Kerten sekitar pukul 18.10. Aku dapat bus sekitar duapuluh menit kemudian. Bus penuh, dan aku harus berdiri sampai Bawen, but I didn’t mind. yang penting aku pulang! Aku sampai rumah – safe and sound – sekitar pukul 21.30.

Thanks a million for my one and only beloved Ranz for everything.

Sampai jumpa di kisah gowes Nana dan Ranz berikutnya. Yeay!!!

GL7 08.22 280513

P.S.:
you can read the English version of this post here. :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar