Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label gowes tour. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gowes tour. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 Februari 2023

Samori ke Omah Prahu

 


Tanggal 18 February 2023 yang jatuh pada hari Sabtu adalah hari libur isra' Mi'raj. This is really something buat saya dan Ranz karena hari Sabtu adalah hari kerja buatnya! So? Mari kita dolan! Hihihi … Semula saya mau mengajaknya bersepeda Solo - Jogja di hari Sabtu, dan hari Minggunya bersepeda balik lagi ke Solo, itung-itung latihan endurance lah buat J150K. (biasanya kami menginap 2 malam di Jogja, baru balik lagi ke Solo.) Namun ternyata Ranz yang sudah lama pengen dolan ke Srambang Park - Ngawi lagi malah bilang, "Nanti hari Minggunya kita ke Srambang Park yuk!" hohoho … ya jelas saya tidak menolak diajak ke Srambang Park lagi!

 

Hari Jumat 17 February 2023 saya ke Solo naik travel, seperti biasa. Perjalanan kali ini sekalian saya niatkan untuk terapi di hari Jumat itu juga. Namun ternyata mbak Rina -- therapist saya maupun Ranz -- pergi ke Bali bersama keluarga. Ya sudah, akhirnya di hari itu, saya hanya menemani Ranz latihan di fitness center langganannya.  Siangnya sekitar pukul 13.00, Solo diguyur hujan. Ya sudah.

 

Sabtu 18 February 2023

 

Awalnya Ranz bilang mau mengajak saya bersepeda ke arah Sukoharjo, sarapan di RM Mbah Karto yang ayam gorengnya terkenal, apalagi Jan Ethes suka makan di sini. Wah, sudah bertahun-tahun kami tidak kesana, tentu saya tidak menolak. Jarak yang akan kami tempuh kurang lebih 35 kilometer pp. Ya lumayanlah.

 



 

Akan tetapi mendadak rencana ini berubah total. Ranz malah mengajak ke Waduk Cengklik, satu destinasi wisata yang pertama kali kami kunjungi saat saya pertama kali dolan ke Solo bawa sepeda lipat, 12 tahun yang lalu! Kali ini, ada tempat nongkrong baru yang bernama OMAH PRAHU. Jarak tempuhnya mungkin kurang lebih sama dengan ke arah RM Mbah Karto. Ya sudah, saya ngikut saja

 

Sabtu itu kami berdua sama-sama molor, lol. Hawa sejuk jelas membuat kami berdua malas bangun pagi. Hihihi. Di strava tercatat bahwa kami memulai gowes itu pukul 08.00 pagi. Makanya ga heran di perjalanan kami berpapasan dengan banyak pesepeda yang nampaknya juga baru berkunjung ke area Cengklik. Ternyata jarak yang kami tempuh dari rumah Ranz ke Omah Prahu hanya sekitar 13,5 km!

 



 

Di Omah Prahu kami hanya jajan gorengan karena perut saya tidak lapar sama sekali. (Jumat malam saya 'ngemil' mihun di Wedangan Pak Basuki, sementara biasanya saya 'puasa' makmal.) Foto-foto lebih penting di sini. Hohoho. Setelah kami rasa cukup, Ranz mengajak saya meninggalkan area, dan … dia mengajak ke Waduk Cengklik di arah yang berbeda: di titik yang pertama kali kami kunjungi.

 

Pulangnya Ranz mengajak sedikit memutar, dan kami 'brunch' di satu warung ayam bakar Taliwang di kawasan Banjarsari.

 

Sesampai rumah, jarak tempuh kami 31 kilometer. Ya gapapa, better than nothing lah. :D

 

MS48 20.38 27.02.2023

 beberapa foto lawas saat pertama kali saya dan Ranz ke Waduk Cengklik, di bulan Juni 2011, bisa dibaca di link ini. Link yang ini tentang gowes kami yang kedua ke lokasi yang sama. (hah! saya malah sudah lupa! hohoho)



Senin, 18 Oktober 2021

Ke Wonogiri (lagi!)

 Background:

 

Sekitar akhir September, Ranz ke Semarang, setelah 3 bulan kita sama sekali tidak bertemu gegara PPKM Darurat. Waktu itu dia merayuku untuk dolan ke Solo lagi. (Aku terakhir ke Solo bulan April 2021, saat aku dan Ranz kemudian bersepeda ke Umbul Pelem/Manten.)

 

Aku: "Kalau aku ke Solo, kamu mau ngajakin aku kemana?"

Dia: "Emang kamu mau bersepeda kemana?"

Aku: "Terserah sih, pokoknya sepedaan."

Dia: "Ke Waduk Cengklik mau?"

Aku: "Ya, gapapa."

 

********

 

Aku berangkat ke Solo hari Jumat 8 Oktober 2021, naik travel. Setelah menemani Ranz latihan fisik di satu fitness center, aku diajak maksi di Tenda Biru; aku memilih menu Selat Solo dan es gempol. Sorenya, Ranz menemaniku berjalan kaki di sekitar daerah yang disebut 'Pajang', kalau tidak salah, sejauh 5 km. pulangnya mampir ke Wedangan Pak Basuki, yang sampai sekarang aku belum bisa move on dari rasa teh nasgitelnya yang lezat tiada duanya. :)




 

selat Solo Tenda Biru

soto ayam Hj. Fatimah



Hari Sabtu 9 Oktober, Ranz sibuk seharian di tempat dia bekerja. 'Terpaksa' aku keluar bersepeda sendiri. Untunglah, sekarang aku sudah berani, lol. Tujuan pertamaku adalah sarapan soto segeer Hj. Fatimah di Jl. Bhayangkara. "Salah satu soto terenak di dunia," pujiku sendiri, lol. Rasa es tehnya juga enak loh. Kemudian aku bersepeda sejauh kurleb 27 km. nanggung yak, kok ga sekalian kugenapi 30 km. ini karena aku kebelet pipis, tapi entah kok sepanjang jalan yang kulewati, aku tidak melihat ada pom bensin.



nyoba flyover Purwosari

keblasuk ini judulnya :D

underpass Transito


 


Sabtu sore, Ranz mengajakku bersepeda ke arah Gentan, dia pingin beli pentol, katanya. Dari sana, dia mengajakku makmal di satu warung bakmi di daerah Penumping. Kemudian, Ranz kembali menraktirku di satu kafe yang baru berdiri, tak jauh dari tempat Ranz berlatih fitness.

 

Minggu 10 Oktober 2021

 

Sebelum tidur, Ranz sempat bertanya aku ingin berangkat jam berapa, kujawab jam 06.00. meski aku ga yakin, aku bakal tidak mager, lol. Ternyata Ranz sudah memulai melakukan ritual paginya bahkan sebelum jam 05.00. waaah … bakal jadi kita berangkat jam 06.00 nih, ga pake molor, lol.

 

Jam 05.40 aku sudah selesai mandi dan siap2. Sebelum berangkat, kita baru 'ngeh' ternyata Ranz berpikir kita berdua akan ke Waduk Gajahmungkur, sedangkan aku tetap berpikir kita akan bersepeda ke Waduk Cengklik. Lol. Ketahuannya ketika Ranz bertanya, "Kira-kira waduk Gajahmungkur sudah buka belum untuk wisatawan?"

 

"Loh? Bukannya kita mau ke Waduk Cengklik?" tanyaku heran, lol. Aku sudah membayangkan kita bakal mampir ke Jembatan 'Londo' meski katanya sekarang sudah ditutup, tidak boleh dilewati lagi.




Ranz naik Petir, si bungsu

 


Akhirnya, setelah berunding sejenak, kita jadi ke Wonogiri, lol. Namun, berhubung tangan dan bahuku masih pegal gegara menemani Ranz latihan fisik di fitness center hari Jumat, aku mengajaknya berburu tiket KA BATARA KRESNA.

 

(Tahun lalu, 17 Agustus 2020, Ranz mengajak naik KA BATARA KRESNA, tapi gegara pandemi KA BATARA KRESNA dihentikan sementara operasinya. Kali ini, Ranz siap full gowes, aku gantian yang mengajaknya naik KA BATARA KRESNA. Well, terakhir aku naik KA Joglosemarkerto tahun  2019 je, kangen, pingin naik kereta. Setelah ngecek jadual pemberangkatan di KAI ACCESS, kita dapati KA BATARA KRESNA berangkat dari stasiun Purwosari pukul 06.00. lah, telat kita kalau jam segitu. Akhirnya Ranz mengajak berburu tiket dari stasiun Solo Kota. Nothing to lose sih. Kalau tetap terlambat ya gapapa, kita ganti arah saja, mungkin jadi ke Waduk Cengklik, atau, ke Alas Bromo lagi juga gapapa.

 

Kita berangkat ke stasiun Solo Kota naik grab. Sesampai sana, Ranz langsung berburu tiket. Kita tidak perlu swab antigen, hanya calon penumpang harus sudah punya kartu tanda vaksin 1 dan2. setelah beli tiket, kita melipat sepeda, dan … 1 menit kemudian KA BATARA KRESNA masuk peron stasiun Solo Kota. Horeeee …)

 

KA BATARA KRESNA sampai di stasiun Wonogiri pukul 07.45. setelah melepas hajat di toilet, lol, kita keluar stasiun. Aku merayu Ranz untuk mampir satu warung makan untuk sarapan ala kadarnya, karena aku ingat trek menuju waduk itu rolling. Setelah sarapan sepiring berdua (ngirit kita nih, lol) kita pun melaju meninggalkan area stasiun. Tak lama dari situ, kita sudah sampai di Jl. Jendral Sudirman, Wonogiri.

 







Bersepeda sejauh kurleb 5,5 km dari stasiun, kita telah sampai di jembatan dimana dari situ kita bisa memandang waduk dengan leluasa. Setelah berfoto beberapa kali, kita mau langsung mampir rumah makan Bu T**, tapi kok ternyata perut masih kenyang yak? Lol. Akhirnya aku mengajak Ranz menuju pintu gerbang masuk Waduk Gajahmungkur, kurang lebih 1,5 km dari situ.

 

Sesampai pintu gerbang masuk waduk, kita baru ngeh kalau ternyata Waduk Gajahmungkur masih ditutup untuk umum. Ya sudah, kita foto-foto saja. Seperti tahun lalu, ada beberapa orang yang 'kecelik' karena ternyata waduk masih tutup. Setelah merasa cukup foto-foto, kita kembali ke rumah makan Bu T. disana, ada rombongan pesepeda yang juga baru datang. Mereka kebanyakan naik sepeda balap.

 




Seperti tahun lalu, Ranz memesan menu yang sama, ikan nila bakar dua ekor, 1 es kelapa muda, 2 gelas es teh dan 1 gelas es jeruk. Bedanya, jika tahun lalu aku bisa menghabiskan2 ekor ikan nila bakar itu, kali ini aku hanya mampu makan 1 ekor, perutku masih kenyang. Padahal waktu sarapan, kita Cuma makan sepiring berdua, lol. Mungkin karena berangkat kita naik kereta ya, ga full gowes.

 

Pulangnya, jelas, kita full bersepeda. Meski mengaku sudah lama tidak bersepeda, as always Ranz tetap perkasa, dia naik Petir, sepeda lipat 14 inchi single speed, meski dia mengayuhnya pelaaaan, lol, gosong dah kulit kitaaaaaaaaaa, setelah lama tidak bersepeda berpanas-panas, lol.

 

Otw pulang, kita mampir sekali di pom bensin, aku kebelet pipis. Kemudian mampir juga di satu minimarket karena air mineral bekal kita habis. Sampai rumah Ranz pukul 15.30.



 


Aku pulang ke Semarang naik travel C***trans pukul 18.00. sebelum pukul 20.00 aku sudah sampai rumah. Alhamdulillah.

 

Next time dolan lagiiiiiii. Ben ora edan. Lol.

 

PT56 11.29 13/10/2021

 

Senin, 05 April 2021

Main air ke Umbul Pelem/Manten

 

Hari Jumat 02 April 2021 adalah hari libur  Good Friday. Angie anakku pingin dolan ke Umbul Cokro, Klaten. Tentu saja aku pingin ikut dong. Tapi, aku pingin bersepeda kesana, sementara Angie dan Fitri tentu saja berangkat ke Klaten naik sepeda motor. So? Hari Kamis 01 April 2021 aku berangkat ke Solo terlebih dahulu, tanpa membawa Austin.

 

Jumat 02  April 2021

 

timlo yang mengenyangkan

penampakan warung dan Astro

 

 

Kita memulai perjalanan dari rumah Ranz yang terletak di Laweyan sekitar pukul 06.30. kali ini aku naik Astro, sepeda polygon urbano yang dibeli Ranz tahun 2017 sedangkan Ranz naik Shaun, sepeda lipat da bike 16 inchi yang dia buat jadi single speed. Untunglah Ranz cukup familiar dengan lokasi Umbul Cokro jadi kita ga perlu sering-sering ngecek google map. Kita sarapan di satu warung makan yang terletak di seberang (samping) SMP N 1 Gatak, Sukoharjo, setelah menempuh jarak 7,5 kilometer. Menu timlo yang kita pilih dengan suwiran ayam yang lumayan besar2, plus sosis dan irisan wortel, daun bawang, sledri dan soun. Enak juga dan mengenyangkan. Harga per porsi cukup Rp. 8000,00 saja. Dan warung itu memiliki program "Jumat Barokah" yang berarti kita dapat minum gratis. Alhamdulillah. Teh panasnya tidak terlalu mengecewakan loh.

 

Ketika kita sampai di satu pertigaan -- belok ke kanan akan kita temukan Umbul Manten, jika belok kiri kita akan menuju Umbul Cokro, Ranz menawarkan untuk melihat Umbul Manten dulu. Aku setuju. Namun, ternyata kita tidak 'menemukan' Umbul Manten, sebagai ganti kita melihat Umbul Pelem. Rada ragu-ragu apakah Umbul Pelem itu sama dengan Umbul Manten (tapi kok penampakannya berbeda), Ranz mengajak lanjut menuju Umbul Cokro. Aku manut saja.

 


 

 

Setelah sampai satu kawasan yang kita 'kira' Umbul Cokro, kita heran, suasananya sepi sekali. Ranz tetap mengajak memasuki area parkir, sampai ke tempat penjualan tiket. Sesampai sana, kita melihat ada sekitar 2 orang disitu, salah satu dari mereka memberitahu bahwa Umbul Cokro sudah tutup selama setahun karena pandemi. Di saat ini, saat umbul-umbul lain sudah mulai buka kembali, Umbul Cokro yang dikelola oleh dinas pariwisata Klaten tetap tutup. Konon, bahkan tidak ada perawatan yang dilakukan sehingga kondisinya sudah rusak disana sini. Sayang sekali. :(

 

Aku pun mengabari Angie yang sedang dalam perjalanan menuju Klaten. Setelah itu, aku dan Ranz kembali ke Umbul Pelem/Manten.

 

Saat membeli tiket masuk, Ranz bertanya kepada petugasnya, "apakah umbul Pelem ini sama dengan umbul Manten?" ternyata bukan! Umbul Manten terletak di sebelah. Namun karena kita sudah telanjur beli tiket masuk, ya sudah kita masuk.

 




 

 

Ada beberapa kolam (renang) yang tersedia. Namun, seperti biasa, aku akan tertarik pada kolam renang yang besar dan kedalamannya mencapai 2 meter. Karena kolam ini relatif cukup sepi dibandingkan kolam-kolam yang lain, aku pun tergoda nyemplung, berenang! Alhamdulillah aku berkesempatan berenang lagi!

 

Airnya cukup dingin saat pertama kali aku menceburkan diri. Namun setelah aku berenang-renang ya rasa dingin pun berkurang. Setelah sekitar 30 menit aku berenang, ada pengumuman bahwa pintu masuk akan tutup pada pukul 11.15 dan buka lagi pada pukul 12.45 mengingat ini adalah hari Jumat.

 

Menjelang pukul 11.00 aku keluar dari kolam. Aku menawari Ranz untuk pindah ke Umbul Manten. Angie dan Fitri jauh-jauh ke Klaten untuk bermain air di 'umbul' yang kupikir pastinya umbul yang suasananya masih alami dong, bukan umbul berupa kolam renang biasa seperti di Umbul Pelem (well, meski airnya pun terasa segar tanpa ada campuran kaporit). Ternyata Ranz pun pingin segera pindah ke Umbul Manten.

 



 

 

20 menit kemudian Angie mengabarkan bahwa dia telah sampai di tempat parkir. Kukabari bahwa aku telah pindah ke Umbul Manten, plus jam itu pintu gerbang masuk/keluar Umbul Pelem tutup. Maka Angie dan Fitri pun masuk ke Umbul Manten. Suasana di Umbul Manten lebih ramai ketimbang Umbul Pelem, dan seperti yang kuprakirakan, umbul-umbul disini masih nampak alami, tidak dalam bentuk kolam renang seperti di umbul sebelah.

 


 

 

Sekitar pukul 13.40 kita meninggalkan lokasi. Angie dan Fitri menuju penginapan yang telah mereka booking, di kawasan Karanganom, Klaten, aku kembali bersepeda bersama Ranz ke Laweyan, Solo. Semula rencana Ranz mau ngegrab balik ke Solo, sedangkan aku langsung bonceng Angie. Namun ternyata tidak ada penampakan pengemudi ojek online di daerah situ.

 

Setelah sempat kehujanan beberapa saat, meski hujan tidak sederas saat kita gowes balik dari Jogja di bulan Maret lalu, aku dan Ranz sampai di Laweyan menjelang pukul 15.00.

 

Setelah adzan maghrib berkumandang, aku diantar Ranz ke Karanganom, aku ikut menginap di hotel bersama Angie dan Fitri.

 

The End

 

PT56 19.28 04/02/2021

 

Legenda Umbul Manten, Misteri Hilangnya Sepasang Pengantin