Kamis, 02 Februari 2012

Bikepacking to Nampu Beach


BIKEPACKING TO NAMPU BEACH
AN UNENDING SERIES OF UPHILL AND DOWNHILL JOURNEY

Berbekal informasi (yang ternyata tidak sepenuhnya) benar, Ranz dan aku memulai perjalanan bikepacking ke Pantai Nampu yang terletak di desa Dringo kelurahan Gunturharjo, kecamatan Paranggupito, kabupaten Wonogiri dengan penuh semangat. Informasi awal yang kita terima adalah jarak Solo – Wonogiri 40 kilometer dan Wonogiri (kota) – Pantai Nampu juga sekitar 40 kilometer dengan kondisi jalan yang ‘biasa saja’. Dengan informasi ini kita berharap akan sampai di Pantai Nampu di sore hari, paling lambat pukul 17.00

Kita berdua berangkat hari Sabtu 3 September 2011. Meninggalkan rumah Ranz yang terletak di daerah Laweyan sekitar pukul 09.00 kita mampir dulu di Soto Seger yang terletak di Jalan Bhayangkara, seberang jalan dari LBPP LIA Solo. J Bagi seorang ‘newbie’ sepertiku, soto di rumah makan ini memang benar-benar ‘seger’ dan maknyus maka tidaklah heran jika seluruh tempat duduk di dalam rumah makan yang berukuran sekitar 10 x 10 meter penuh! Jika semula aku ingin memesan teh manis panas, aku terpaksa mengurungkan niat itu karena hawa di dalam ruangan cukup ‘hangat’ sehingga membuatku berkeringat. Ada dua jenis soto yang disediakan yakni soto daging sapi dan soto daging ayam. Beberapa lauk yang terletak di atas meja panjang yaitu tempe goreng, mendoan, tahu goreng, bakwan, sate telor puyuh, sate paru, sate hati ayam, dan perkedel. Semua enak.


Selesai sarapan kita langsung gowes ke arah Sukoharjo setelah mampir di sebuah minimarket untuk membeli bekal minuman dan masker. Kita meninggalkan mini market ini sekitar pukul 10.00

Perjalanan cukup lancar sampai gerbang masuk Kabupaten Wonogiri. Dengan semangat narsissisme, kita pun berfoto ria dan menjadi tontonan orang-orang yang naik kendaraan bermotor yang lewat. :) Sampai salah satu dari mereka tiba-tiba menghampiri kita sambil berbicara, “Eh, ikut foto dong!” Ranz dan aku tentu saja heran ada orang ‘nekad’ seperti ini. Namun ternyata si orang nekad ini adalah mas Tunggal, rekan sepeda yang kebetulan diberi tanggung jawab sebagai ketua Komunitas Sepeda Lipat Semarang (Komselis). Dia sedang dalam perjalanan meninggalkan Wonogiri menuju Jogjakarta.

Beberapa saat kemudian sekitar tengah hari kita pun memasuki gerbang kota Wonogiri dan kita mulai disambut dengan tanjakan! Ternyata tanjakan ini adalah awal tanjakan yang tak kenal habis sampai akhir tujuan: Pantai Nampu.

Semangat dan tenaga kita berdua masih penuh sehingga kita pun melahap tanjakan demi tanjakan sampai kita melewati Waduk Gajahmungkur. Tanjakan yang panjang dan tak habis-habis sementara kondisi jalan penuh kendaraan bermotor yang mungkin merupakan para pemudik yang akan balik ke kota masing-masing. Tak jarang kita mendapatkan acungan jempol yang tentu dikarenakan kita berdua menanjak dengan sepeda lipat.



Karena tak mau melewatkan kesempatan bernarsis ria di daerah waduk, kita pun mampir berfoto-foto sekalian beristirahat.

Meninggalkan waduk Gajahmungkur sekitar pukul 15.00. Aku dan Ranz mulai menambah laju kecepatan sepeda agar bisa sampai di tempat tujuan sebelum matahari terbenam. Sementara itu aku mulai merasa lapar sehingga ketika melewati sebuah rumah makan di daerah Wuryantoro kita mampir untuk makan siang yang kesorean. Tak lupa kita bertanya kepada si pemilik rumah makan apakah kita berada di track yang benar menuju Pantai Nampu, dan kita mendapatkan jawaban, “Iya benar. Tinggal lurus saja mengikuti jalan ini.” Namun dia tak bisa memberikan estimasi jarak berapa kilometer lagi yang harus kita tempuh. Kita meninggalkan rumah makan ini sekitar pukul 16.10.



Ada beberapa pertigaan yang kita lewati, dan kita tetap memilih jalan utama yang menuju kecamatan Pracimantoro.

Frankly speaking semangat mulai mengendur apalagi ternyata track yang kita lewati full tanjakan turunan melulu dan sampai lebih dari pukul 17.00, kita masih tak melihat tanda-tanda akan sampai di pantai.

Kita akhirnya sampai di pusat kecamatan Pracimantoro sekitar pukul 18.30 dalam kondisi lelah fisik dan mental. What were we supposed to do? Mencari penginapan adalah jawaban satu-satunya. Kita sendiri masih ‘blank’ berapa kilometer lagi yang harus kita tempuh untuk mencapai tujuan. Setelah bertanya kepada beberapa orang, kita pun menemukan satu-satunya hotel di dekat pusat kecamatan itu: hotel Aji Mantoro. Dengan hati yang lega kita pun memasuki areal parkir hotel yang penuh dengan mobil-mobil yang tentu milik para tamu hotel.

“Ada kamar kosong, Pak?” tanyaku pada si receptionist.

“Penuh mbak,” tentu merupakan jawaban yang sangat mematahhatikan. :(

Namun kita tetap bergeming. Dengan wajah yang memilukan dan nada suara yang memelas, aku bertanya, “Kita boleh numpang duduk-duduk di ruangan ini pak?”

“Oh boleh saja,” jawabnya.

Maka aku dan Ranz masuk dan duduk di sofa. Sempat terjadi percakapan dengan dua orang tamu hotel yang waktu itu sedang duduk di ruangan itu, maka terbukalah informasi yang ‘lebih benar’. Dari pusat kecamatan Pracimantoro, kita masih harus memacu sepeda dengan jarak sejauh 40 kilometer! Tetap dengan kondisi jalan yang menanjak dan menurun. OMIGOD! We were both fatigued!

Untunglah sang receptionist itu baik hati sehingga kita pun bisa numpang mandi, shalat, dan ngecharge hape plus tentu saja istirahat. Dan di sofa yang lumayan empuk itu pun kita menghabiskan malam, berusaha mengembalikan kondisi tubuh. Aku duduk berselonjor dengan menyandarkan punggung di sisi sofa sebelah kanan sedangkan Ranz di sisi sebelah kiri.

Malam pun berlalu.


Hari Minggu pagi 4 September sekitar pukul 06.00 kita meninggalkan hotel menuju terminal Pracimantoro untuk mencari sarapan.

Kita mulai melaju menempuh kilometer demi kilometer, tanjakan demi tanjakan sekitar pukul 07.00. Kita sampai di perempatan Giribelah (Pacitan, Baturetno, Pracimantoro, Paranggupito) sekitar pukul 09.00. Dan ... kita disambut dengan kejutan yang sangat manis! Tanjakan curam berbelok-belok yang tak habis-habis. Oh my! Oh my! Tenagaku tinggal sisa-sisa, bekal minuman tinggal separuh botol 1,5 liter, meski semangatku tetap menyala. Dari Giribelah menuju Pantai Nampu ternyata masih ‘tersisa’ jarak 30 kilometer lagi dengan tanjakan dan turunan yang sangat curam.



Dengan tertatih-tatih kita menapaki tanjakan yang honestly memupuskan semangat. Aku lebih memilih menuntun sepeda (WHAT??? Menuntun sepeda di tanjakan curam sejauh 30 kilometer???) dari pada memaksa dengkul untuk mengayuh pedal. (Note: waktu kita belok ke arah Pantai Nampu dari perempatan Giribelah, kita belum tahu bahwa jarak yang harus kita tempuh masih sekitar 30 kilometer lagi.) Pada prakteknya, Ranz bergantian menaiki Pockie dan Snow White sekitar 100 meter per 100 meter sedangkan aku berjalan mengikuti di belakang.

Kita terus melakukan itu sampai sekitar 5 kilometer ketika akhirnya Ranz memutuskan mencari tumpangan karena dilihatnya tanjakan tak habis-habis, berkelok-kelok. (Namanya saja ‘giribelah’ yang artinya gunung yang dibelah, jadi tak heran kalau tracknya naik – naik – naik – turun – naik – naik – turun, dst.)  Kita pun melipat sepeda dan mulai melambaikan tangan. Luck was in fact still with us. Sebuah mobil melaju dimana di dalamnya adalah tetangga Ranz yang juga menuju Pantai Nampu. We were saved!

Akhirnya kita pun sampai di tujuan – Pantai Nampu yang berpasir putih dan penuh dengan karang – sekitar pukul 10.30. Ah ... akhirnya kita pun bisa mejeng dengan Pockie dan Snow White di pinggir pantai.

Dari tempat parkir untuk menuju bibir pantai kita harus menuruni tangga yang juga berkelok-kelok dan lumayan sempit. Sambil menenteng Snow White dan Pockie dalam keadaan terlipat.

Aku memang hobby memandang laut lepas di pinggir pantai. Namun karena waktu yang tidak memungkinkan untuk tinggal lama, aku tidak menyempatkan untuk membasahi diri dengan bermain-main dengan air laut yang ombaknya cukup besar itu. Kondisi air sedang pasang sehingga karang yang terletak di bawahnya tidak terlihat jelas.

Aku dan Ranz sempat minum es degan dan memesan mie goreng untuk mengganjal perut. Berfoto-foto sejenak, tanpa benar-benar bisa meluangkan waktu untuk menikmati pasir putih yang butiran-butirannya tidak sehalus pasir putih yang terletak di pantai-pantai Karimun Jawa.

Kita meninggalkan lokasi sekitar pukul 12.00 dengan menumpang mobil yang sama sampai di perempatan Giribelah. Dari Giribelah aku dan Ranz mengayuh pedal Snow White dan Pockie lagi sampai pusat kecamatan Pracimantoro dimana terminal terletak. Sebuah bus ekonomi jurusan Praci – Wonogiri – Solo menyambut kita. Tak lebih dari lima menit setelah kita naik, bus langsung meninggalkan terminal.

Kita sampai di rumah Ranz sekitar pukul 15.30.

Mandi dengan air dingin yang sangat menyegarkan kemudian tidur mendengkur adalah dua hal yang kulakukan kemudian. :)

What a crazily blind journey!

RH - Jongke, 06.31 5 September 2011 







P.S.:
Solo - Wonogiri = 40 kilometer jalan datar
Wonogiri - Pracimantoro = 50 kilometer jalanan full tanjakan turunan 
Pracimantoro - Giribelah = 7 kilometer jalanan tanjakan turunan (full juga lah)
Giribelah - Nampu = 30 kilometer full tanjakan sadissssss

P.S. (2):
kita tetap tidak kapok berbike-packing, tetap dengan semangat menunggu kesempatan berikutnya. YAY!!!









































pantai Nampu dari atas tebing




3 komentar:

  1. pantainya memang superrr ...
    tapi perjuangan kesananya hadehhhh
    jauh dan nanjakkk

    salut untuk perjuangannya

    BalasHapus
  2. aku selalu pengin touring spt ini ....tapi kapan mau memulainyah....
    cerita ini selalu jd penyemangat saya ...spy jgn hilang tertelan waktu & usia...

    BalasHapus