Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Gowes bareng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gowes bareng. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 Juni 2022

Foto-foto S12AWUNG SELI SOLO 2022

 Untuk tulisan, bisa dilihat di unggahan sebelum ini ya disini.





















S12AWUNG SELI SOLO RAYA

 


 

Akhirnya, setelah 2 tahun aku dan Ranz tidak ikut event bersepeda di 'luar' kota (bukan kota Semarang maksudku) bulan Juni ini kami berdua terdaftar sebagai peserta event ulang tahunnya SELI SOLO RAYA yang ke-12, yang oleh penyelenggara diberi tajuk SRAWUNG SELI SOLO RAYA. Mengapa 'S12AWUNG'? Ini karena setelah 2 tahun terpisah karena pandemi, para pesepeda (lipat) akhirnya bisa berkumpul kembali di satu lokasi, bersepeda bersama lagi. Kembali 'srawung'.

 

Jumat 10 Juni 2022

 

Seperti biasa, jika ada event di Solo yang diselenggarakan pada hari Minggu, aku berangkat ke Solo hari Jumat, dengan catatan aku tidak ada kewajiban mengajar di hari Sabtu. Ini karena hari Jumat Ranz libur dari kantor, jadi lumayan kami berdua bisa makan siang bareng.

 

Seperti biasa (lagi), lol, aku memilih travel Cititrans sebagai moda loading aku dengan Austin. Aku memilih keberangkatan pukul 10.00 (karena tidak ada travel yang berangkat jam 09.00). Cuaca cukup 'sunny' dibandingkan saat aku berangkat ke Solo tanggal 26 Mei, aku kehujanan! :) dalam mobil, hanya ada 2 penumpang, aku dan seorang penumpang lain. Sementara itu, ada seorang sopir mengenakan seragam yang sama dengan sopir Cititrans yang sedang bekerja turut nebeng sampai pool Solo.

 

Sesampai pool Cititrans Solo, aku langsung menuju DNA fitness center, tempat Ranz rajin ngegym sejak tahun 2020. dari sana, kami ke Tenda B*** untuk makan siang; setelah sekian bulan Ranz selalu komplain bosan aku selalu mengajak kesana demi makan selat Solo, saat itu, dia malah rada maksa, "Udah ke TB saja, gapapa." wkwkwkwk … Usai makan, kami balik ke rumah Ranz di kawasan Jongke. Tapi, sebelumnya, kami ngangkring dulu di angkringan langganan Ranz: Kholil , tehnya lumayan enak, dan pisang gorengnya favoritku banget: terbuat dari pisang kepok!

 

Sorenya, sekitar pukul lima, aku terapi. Kaki kananku kembali 'nagih' dipijat mbak Rina. Aku ga ingat apa penyebabnya, tapi kupikir ya memang cedera di kakiku -- terutama kaki kanan -- belum sembuh 100%. So? Aku mencoba menerapinya sendiri dengan berenang -- ini juga berdasarkan saran mbak Rina -- namun once in a blue moon aku masih tetap harus terapi ke mbak Rina.

 

Malamnya Ranz nawarin apakah aku mau ke Wedangan Pak Basuki. Wohooo … sudah berbulan-bulan dia ga mau kuajak kesana loh, dengan alasan bosan, lol. Tapi aku memilih makan malam dengan menu nasi liwet saja, dengan harapan Sabtu malam aku bisa mengajak Ranz ke Pak Basuki.

 

Sabtu 11 Juni 2022

 

Ranz masuk kerja hari ini. So? Aku keluar sepedaan sendiri.

 

Sekitar pukul 08.20 aku meninggalkan Jongke dengan tujuan warung soto Hj. Fatimah yang terletak di Jl. Bhayangkara. Ini juga menjadi alasan mengapa aku memilih berangkat ke Solo hari Jumat, agar aku bisa nyoto disini. :D Aku nongkrong disini cukup lama, sekitar satu jam.

 

Dari Jl. Bhayangkara aku lanjut ke arah Timur, mungkin nama jalannya Jl. Veteran daerah Tipes. Luruuus ke arah Timur sampai melewati kawasan kraton, kemudian belok kiri. Aku memilih berhenti di lapangan dekat benteng Vastenburg untuk memotret Austin. Kemudian lanjut lagi, entah pokoknya aku pede saja mengayuh pedal Austin, meski aku ga terlalu kenal area Solo. Wkwkwkwk …

 

Siang itu cuaca Solo cukup terik. Karena ga jelas Ranz bakal pulang dari kantor jam berapa, aku mampir ke satu gerai fastfood untuk nunut ngadhem dan beli iced coffee-nya. Sekitar satu jam kemudian, Ranz ngabarin dia sudah selesai mengerjakan yang harus dia kerjakan di kantor. So, aku pun balik mengayuh pedal Austin ke arah Jongke.

 

Sorenya, Ranz berangkat ngegym sekitar pukul 15.30. aku menyusul ke DNA fitness center pukul lima sore, kemudian kami ke café Pixel untuk ambil 'ride pack' yang harus kami pakai di event S12AWUNG SELI SOLO keesokan hari. Dari sana kami makan malam di Bakmi Jawa Penumping. Pulangnya mau mampir ke Wedangan Pak Basuki ga jadi karena mendadak turun hujan. Apa boleh buat? Sudah setengah tahun lebih loh aku tidak ke Pak Basuki. Ya wis lah. Next time deh.

 

Minggu 12 Juni 2022

 

The D DAY!

 

Aku dan Ranz sudah sampai venue -- di tempat parkir hotel Diamond yang terletak di Jalan Slamet Riyadi -- pukul 05.30 sesuai harapan panitia. :) ternyata? You can guess, kami berdua termasuk yang rajin, belum banyak peserta lain yang datang. Mendekati pukul 06.00 baru tempat parkir itu nampak nyaris penuh peserta S12AWUNG SELI SOLO.

 

Panitia menyediakan teh panas dan kopi susu panas untuk peserta, disertai arem-arem dan serabi (atau apem ya? Aku lupa, lol.) aku cukup ambil satu biji arem-arem dan segelas teh panas.

 

Pasukan peserta S12AWUNG SELI SOLO mulai berangkat meninggalkan tikum sekitar pukul 06.15. semula Ranz mengira panitia memilih jalur menuju Gatak - Klaten, ternyata tidak. RC membawa kami menuju arah lapangan udara Adi Sumarmo. Sesaat meninggalkan rumah Ranz sudah mengeluhkan ban Petir yang terasa kempes, padahal semalam sebelumnya dia sudah memompanya. Jika kempes lagi, ini berarti ban Petir bocor halus. So? Setelah meninggalkan tikum, Ranz mengeluhkan hal yang sama: Petir berat dikayuh => something must be wrong.

 

FYI, sejak Ranz menemukan keasyikan olahraga fitness, memang dia ga begitu menikmati bersepeda lagi. Hiksss … imagine sedihnya aku. Hiksss … kalau pun dia mau menemaniku bersepeda Solo - Jogja - Solo ya karena dia committed menemaniku bersepeda. Jadi saat dia mengeluh Petir begini begitu, aku ya diam saja. (lha piye? Tak suruh nyiapin Astro untuk dinaiki, dia ga mau, dengan alasan Astro terlalu besar, lol. Ya iyalah, Astro berban 20 inchi sedangkan Petir Cuma 14 inchi. Shaun yang berban 16 pun kondisinya tidak terlalu mendukungnya untuk bersepeda jauh. Bagaimana dengan Pockie? Entahlah ya, kok aku lupa nanyain Pockie kemarin. Hahahaha …

 

Sebelum sampai area waduk Cengklik, Ranz berulang kali bilang dia mau pulang saja, dan menyuruhku terus ikut rombongan. Ya aku tegaskan saja, jika dia memilih pulang, aku ikut pulang. Ga ikut sampai tujuan -- Bale Rantjah -- gapapa. Toh kalau memang mau, kami berdua bisa kok bersepeda kesana sendiri. Namun, ternyata Ranz tetap lanjut sampai check point 1. sesampai sana, dia memutuskan untuk loading, dan membiarkanku terus bersepeda. Ya wis .

 

Jika di rute sebelum check point 1, aku dan Ranz berada di barisan paling belakang -- dikawal sweeper plus mobil loading, lol, selepas check point 1, aku menempel kawan-kawan Komselis. Kami berada di tengah-tengah rombongan, tidak paling depan, juga tidak paling belakang. Ternyata, hanya Petir yang masuk mobil loading, Ranz membonceng nte Astrid yang bertugas sebagai sweeper. Karena dia di belakang, dan aku agak di depan, dia tidak bisa memotretku dalam perjalanan. Ya gapapa, aku rela tidak difoto selama event ini. Wkwkwkwk … duluuuu, aku jarang melototin foto-foto yang dibagi panitia event karena aku cukup mengandalkan foto-foto jepretan Ranz. Setelah lama tidak memotret event dan tidak ikut event, rupanya Ranz pun kehilangan mood untuk melakukan itu. Apa boleh buat? Hmfttt …

 

Kalau tidak salah, aku sampai di tujuan -- Bale Rantjah -- pukul sembilan. Masih cukup pagi, mengingat cuaca cukup mendung pagi itu. Hidangan yang disediakan panitia cukup beragam, mulai dari nasi ayam bakar Taliwang, ayam panggang, ayam Tohjoyo, dll. Untuk buah ada pisang dan jeruk. Untuk minuman ada the plus es batu jika ingin minum yang dingin, dan tentu saja air mineral.

 

Hiburan berupa tarian asli Boyolali, dan musisi yang aku tidak perhatikan namanya. Lol. Oh ya, juga ada anak kecil yang dulu kadang nyanyi bareng almarhum Didi Kempot, suaranya sangat mencengangkan mengingat usianya masih relatif muda. Banyak juga door prize yang dibagikan, sayangnya tak satu pun aku dapatkan. Hikss … padahal biasanya kalau event-event seperti ini, minimal aku dapat hadiah hiburan botol minuman kek, ini sama sekali ga dapat. Hiksss …

 

Acara ditutup pukul 11.30. kirain Ranz mau ngajak loading baliknya ke Solo. Ternyata dia mau menemaniku gowes, meski cuaca panas menyengat. Alhamdulillaaah. So? Hari itu, aku full gowes sejauh 54,54 kilometer.

 

Sesampai Jongke Ranz mengajak mampir ke angkringan Kholil, minum es the. Di tas aku masih menyimpan pisang rebus 1 biji yang kuambil di check point 1. lumayan buat cemilan.

 

Kapan-kapan aku dan Ranz ikut event bersepeda berikutnya. Yang nyantai-nyantai saja. Ranz sudah ogah kuajak ikut event yang ngoyo, misal seli 100 km. (eh, ini kata Ning Tia Surabaya ada event ini di bulan Juli nanti.)

 

PT56 13.13 21 Juni 2022

 

 

 















Kamis, 25 Juni 2020

Bersepeda dalam peleton?

Sebagai seorang 'bike to worker' a.k.a pekerja bersepeda, jelas saya tidak punya banyak pengalaman bersepeda dalam peleton. Peletonan dengan siapa? Lol. Jam kerja saya berbeda dari kebanyakan orang yang mungkin memilih berangkat bekerja dengan naik sepeda. Misal: dulu waktu masih bekerja di satu sekolah yang terletak di bukit Gombel, saya biasa berangkat dari rumah pukul lima pagi jika naik sepeda. Di jalan kadang bertemu dengan orang yang bersepeda untuk berolahraga, tapi tidak banyak. Di sore hari saya bekerja di tempat lain, masuk jam 17.00, biasa meninggalkan kantor yang terletak di Gombel pukul empat sore, 30 menit kemudian sampai di kantor yang terletak di Jl. Imam Bonjol. Bukan jam berangkat bekerja yang lazim kan ya. :)

 

 

Akhir-akhir ini -- Juni 2020 -- pesepeda sedang banyak disorot orang karena mendadak pamor sepeda melonjak tinggi di tengah masyarakat yang jenuh terus menerus harus tinggal di rumah. Entah bagaimana awalnya, mendadak banyak orang beralih ke bersepeda sebagai alternatif olahraga yang cukup 'aman' karena bisa dilakukan sendirian, dan bukan dalam kelompok (misal: basket, voli, sepakbola, dll.) Namun ternyata, orang-orang itu tetap bersepeda dalam kelompok, kebanyakan dari mereka. Dan bayangan bahwa sepeda itu tidak perlu mengikuti peraturan yang ada untuk para pemotor/pengendara mobil "mentang-mentang" tidak bermesin itu tetap mereka imani; hasilnya? Mereka bersepeda bergerombol, namun ketika melewati lampu merah, mereka merasa tetap boleh menerabas lampu merah itu, tanpa peduli bahwa apa yang mereka lakukan akan mencelakakan diri mereka sendiri, dan juga orang lain.

 


 

Maka tidak heran jika postingan saya di grup Bike to Work Semarang tentang pentingnya SHARE THE ROAD viral hingga lebih dari 1200 kali dibagikan orang. Entah yang membagikannya itu juga pehobi sepeda, atau justru malah orang-orang yang kesal karena kian sering menemui kasus orang yang bersepeda memenuhi badan jalan, plus merasa lampu merah di traffic light itu hanya tanda untuk pemotor/pengendara mobil.

 

 

Di satu acara yang dipandu oleh majalah Intisari dan National Geographic Magazine Indonesia, Om Poetoet -- ketua umum Bike to Work Indonesia -- bercerita tentang satu kasus yang terjadi di Tangerang, kota tempat tinggalnya. Di satu pagi, ada rombongan pesepeda sedang latihan (dilihat dari jenis sepeda yang mereka naiki, plus outfit lengkap yang mereka kenakan) menerobos lampu merah. Pemotor yang datang dari arah yang lampunya telah berubah hijau, tidak menyangka bahwa peleton ini cukup panjang, hampir menabrak pesepeda yang berada di belakang. Dia berhasil menghindari menabrak sang pesepeda, namun ternyata dia menabrak pihak lain sehingga tetap menyebabkan kecelakaan.

 

 

Beberapa hari lalu, saya melihat beberapa kelompok peleton sepeda seperti ini di Jl. Dr. Cipto, jalan yang lumayan panjang di kota Semarang. Mungkin karena jalan ini panjang, banyak pesepeda suka 'latihan' kecepatan disini. Saya yang bersepeda santai pun kaget melihat kecepatan mereka. Ketika menjelang lewat perempatan dimana lampu merah sedang menyala, pesepeda yang paling depan terus mengayuh pedal dengan kencang, sambil berteriak, "terus … terus …". Di satu traffic light (yang lain), dari arah Barat saya lihat seorang pemotor melaju, untungnya dia pelan, sehingga tidak terjadi tabrakan. :(:(:(  Ini membuat saya berpikir, apa tidak sebaiknya mereka yang latihan kecepatan dalam peleton yang lumayan panjang ini memilih waktu yang 'tepat' (baca => sepi, masih jarang orang-orang berlalu lalang di jalan raya) atau area yang sepi, untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan?


 

SHARE THE ROAD itu berarti semua orang berhak menggunakan jalan raya bersama, dengan saling menghormati pengguna jalan lain. Jangan mentang-mentang berada dalam satu kelompok besar, kemudian menguasai jalan untuk kelompok sendiri.

 

PT56 11.55 25-Juni-2020


Tulisan yang senada bisa diklik





Rabu, 12 Februari 2020

Back to Dahon




9 Februari 2020 terpilih sebagai tanggal terselenggaranya gathering para dahoners -- pecinta sepeda lipat dahon -- dan Semarang terpilih sebagai host karena sekalian launching pabrik "dahon ion" (dahon rakitan pabrik di Indonesia). Guess why? Yesss, karena pabrik dahon ion terletak di Kendal, tak jauh dari kota Semarang. Om Sinar dari "Sinar Baik" yang bersedia berepot-repot ria menyiapkan ini itu setelah ditelpon oleh nte Shinta, presiden Id-Dahon.



Oh ya, event ini KHUSUS hanya untuk mereka yang naik dahon pada saat event; ga peduli apakah itu sepeda milik sendiri, atau pinjam. Aku? Pinjam laaah … kan aku punyanya Cuma downtube nova (bukan DAHONtube nova loh yaaa) dan polygon urbano. Atau bagi yang duitnya banyak, kayak tinggal metik daun di pohon, boleh juga beli seperangkat sepeda dahon.ion di "Sinar Baik" langsung bisa ikut event!


Sebenarnya Dr. Hon sang founder dahon sudah mempersiapkan diri untuk hadir dan langsung menyapa para pecinta seli dahon, sayangnya karena beliau sedang berada di Cina, dan karena virus corona, Indonesia mencekal traveler yang datang dari Cina masuk ke Indonesia, Dr. Hon ga jadi datang deh.


8 Februari 2020


Para peserta event "Back to Dahon" yang ingin bersepeda di malam hari, diharapkan berkumpul di balaikota pukul 19.00. Aku ke balkot naik Shaun, dahon da bike klasik milik Ranz. Ranz sendiri datang kesini naik ojek, hihihi … Well, aku janjian dengan Riu untuk meminjam sepedanya!








Mungkin ada sekitar 50 - 60 pesepeda berkumpul di Balaikota malam itu. Setelah sesi foto oleh fotografer dari Sinar Baik, kita berangkat. Rute yang dipilih oleh panitia adalah Balaikota -- Tugumuda - Jl. Dr. Sutomo -- RSUP Dr. Kariadi -- Jl. Menteri Supeno -- Taman Indonesia Kaya -- Jl. Pahlawan -- Simpanglima -- Jl. Gajahmada -- Jl. Pemuda -- Jl. Agus Salim -- bundaran Bubakan -- Kota Lama. Di Kota Lama acara bebas, terserah para pesepeda ingin berfoto-foto di sebelah mana.


Setelah itu, panitia mengajak ke satu warung nasi goreng yang terletak di Jl. Kranggan Dalam untuk makan malam bersama. Bagi yang ingin menu lain, dipersilakan pergi ke tempat lain.


9 Februari 2020



Tikum gowes "Back to Dahon" di Sinar Bike Coffee Corner yang terletak di seberang danau BSB, terletak kurang lebih 12 kilometer dari rumahku, di ketinggian yang lumayan bikin keringetan dan nafas bakal ngos-ngosan jika kita gowes kesana. Orang-orang Semarang tentu paham lah trek dari pusat kota menuju BSB. Karena lokasi yang lumayan jauh dari pusat kota, sementara panitia (yang dari luar kota) plus peserta banyak yang menginap di hotel-hotel yang terletak di pusat kota, melalui WAG khusus peserta dan panitia event "Back to Dahon" panitia yang dari Semarang menganjurkan untuk loading saja ke BSB pagi itu.


Ranz yang sudah lama tidak bersepeda di area Semarang -- apalagi nanjak sampai BSB -- tentu juga enggan kuajak gowes nanjak begitu pagi-pagi sekali. Plus aku yang menaiki sepeda Riu, (masih butuh waktu lebih lama untuk beradaptasi sebetulnya); maka pagi itu kita berdua pun loading naik taksi online.



Kita berdua sampai sana sekitar pukul 06.20. sesampai tikum, sudah lumayan banyak peserta yang datang. Berbagai jenis sepeda dahon berkeliaran disana sini, mulai dari yang bannya berdiameter 14" hingga yang berdiameter 26", dari yang klasik (buatan tahun 1980-an - 1990-an) hingga yang terkini, keluaran pabrik dahon.ion Kendal. Surprising kaaan.


Meski Dr. Hon -- founder dari sepeda lipat dahon -- tidak jadi hadir ke Kendal karena terkendala kasus virus corona (kebetulan dia saat ini berada di Cina), antusiasme para undangan tetap bisa terlihat dari body language mereka. Event sepedaan seperti ini merupakan ajang silaturrahmi yang menyenangkan karena bertemu dengan para pehobi sepeda (lipat) (khusus dahon kali ini) nyaris dari seluruh Indonesia Raya. Untuk event ini, Om Sinar -- owner dari Sinar Bike Coffee Corner -- mengundang 300 orang, yang dibagi ke kota-kota tertentu, baik dari pulau Jawa maupun dari luar Jawa.


aku dan Boil, di perempatan Palir

"Pasukan" dilepas oleh Om Sinar dan Pak Hendra (CEO PT Roda Maju Bahagia) sekitar pukul 07.15 setelah acara dibuka oleh MC dan mendengarkan sambutan Om Sinar, Pak Hendra, dan Om Poetoet dari B2W Indonesia. Pagi itu cuaca mendung, lumayan melindungi dari hawa panas yang biasanya memapar kita yang berada di kota Semarang. Ada sekitar 10 road captain (naik sepeda dahon), 19 marshall  (naik motor) yang mengiringi peserta sehingga diharapkan tidak akan ada peserta yang tersesat. Panitia juga telah membagikan nomor telpon marshall, mekanik, dan dokter kepada peserta, in case mereka butuh bantuan.


Fotografer? Komselis menyediakan minimal 3 tukang poto, belum lagi masih ada dari pihak Sinar Baik. Kalau aku sih, ada Ranz yang akan mengabadikan, meski tentu dia tidak sebebas mereka yang naik motor, karena Ranz juga naik sepeda, apalagi dia naik Shaun, sepeda lipat dahon 16" classic yang dia buat menjadi single speed. 10 kilometer pertama dengan trek yang turun terus menerus membuatnya juga tidak leluasa memotret ketika di perjalanan. (Kalau begini, mending trek tanjakan deh. Biasanya Ranz akan ngebut, kemudian di depan dia akan berhenti untuk memotret kita-kita yang sedang ngos-ngosan nanjak. Lha kalau trek turun, semua juga wushhh wushhh wushhh … hihihi …)





Setelah meninggalkan BSB, kita berada di turunan Silayur (entah nama jalannya apa ya? Jl. Prof. HAMKA?) Setelah melewati Lapas Kedungpane, kita belok kiri. Jika kita terus menuruni jalan ini, kita akan sampai perempatan Palir. Jika belok kiri, kita akan sampai perumahan Beranda Bali BSB, jika lurus kita akan sampai Masjid Kapal, jika belok kanan, kita akan sampai Mangkang. Nah, kita belok kanan.


Di perempatan ini, para road captain mengarahkan para dahoners yang naik seli 20" untuk lanjut belok kanan, sedangkan yang naik 16" plus classic, diminta untuk berkumpul dahulu di perempatan itu. Kita memberi kesempatan dahoners 20" untuk menikmati turunan dengan leluasa. Setelah itu, baru dahoners 16" dan classic menyusul turun.




Di jalan yang masih sejuk plus di pinggir kiri kanan masih penuh hutan, kita bertemu dengan para pesepeda yang mencoba tanjakan Palir yang lumayan terkenal itu. Sebagian dari mereka terlihat menuntun sepedanya dan terlihat iri pada kita yang tinggal turun. (atau ini hanya perasaanku saja yak? Hihihi …)


Satu masjid yang terletak kurang lebih 100 meter dari pasar Mangkang dipilih sebagai tempat untuk pitstop dan regrouping. Jika di BSB panitia menyediakan arem-arem dan jagung (dua-duanya uenag!), di pitstop ini panitia menyediakan pisang dan bolu gulung plus air galon. Oh ya, peserta diharap membawa tempat minum sendiri-sendiri hingga kita tidak perlu membuang botol plastik. Kulihat waktu menunjukkan pukul 08.05 waktu kita sampai sini.




15 menit kemudian pasukan diberangkatkan kembali. Patwal yang mengawal kita bertugas 'membuka jalan' ketika melewati pasar Mangkang, sehingga kita tidak terputus.


Alhamdulillah semua berjalan lancar, hingga semua peserta mencapai garis finish, di pabrik Roda Maju Bahagia, KIK, sekitar pukul 09.30.


Panitia menyediakan sarapan berupa nasi pecel, bakso Malang, dan mie kopyok. Es sirsat dipilih untuk dessert. Enak enak semua pokoknya.




Oh ya lupa, sebagai ganti Dr. Hon yang tidak bisa datang, panitia mengundang Nugie, sang musisi yang terkenal juga sebagai pesepeda. Nugie didampingi oleh sang keponakan, Anit. Keduanya ikut bersepeda sejauh kurleb 20,5 kilometer lho. Bahkan mereka di-endorse oleh Pak Hendra, menaiki sepeda dahon.ion baru gress. Selain mereka berdua, Om Poetoet dan Nte Ria juga naik sepeda dahon.ion lhooo. Kehadiran Nugie yang tidak diumumkan sebelumnya menjadi a surprising gift buat para pesepeda yang ikut. Sesampai pabrik RMB, Nugie pun dikerubuti para pesepeda yang ingin mengajak foto bareng. :)



Selain itu, sebagai ganti Dr. Hon yang tidak bisa datang, panitia mengadakan video call dengan Dr. Hon yang langsung dishare ke semua peserta. Dr. Hon yang masih tetap nampak sehat dan awet muda di usianya yang ke-80 nampak sangat antusias berbicara di telpon. Dr. Hon terlihat sangat bahagia melihat para dahoners yang berkumpul di satu lokasi, dan antusias memamerkan rumah/pabriknya di Cina bagaimana dia begitu mencintai sepeda-sepeda yang dia produksi.


aku dapat door prize! yuhuuuu

Selain video call dengan Dr. Hon, panitia menyediakan sesi tanya jawab dengan Mr. Chang yang mewakili Dr. Hon. (untuk sesi ini, mungkin akan kutulis di postingan tersendiri, jika ga malas. Hihihi …) Bagaimana dengan door prizes? Oh jelaaaaas … ada banyak door prizes dibagi-bagikan dalam event ini. Door prize utama berupa sepeda dahon.ion full bike, alhamdulillahnya merupakan rezeki tak terdua Dimas Adhi Luhung, satu member komselis yang hobinya mencari jodoh. Hihihi …


Dimas (bawah, tengah) dengan door prize-nya

Last but not least, nte Shinta sang presiden ID-Dahon bilang akan ada gathering dahoners berikutnya lhooo. Entah akan diselenggarakan di kota mana. Eh, who knows akan bisa mendatangkan Dr. Hon yaaa?


(aku? Ah, aku tetap istiqomah datang ke jamselinas sajaaa, hihihi … lha piye? Aku ga punya sepeda dahon jeee. Kecuali kalau diselenggarakan di Semarang/Kendal lagi, dan Komselis menjadi panitia lagiiiii. Hohoho …)


Panitia menyediakan 2 buah bus untuk mengangkut peserta untuk kembali ke pusat kota Semarang. Aku dan Ranz? Seperti biasa, kita lanjut gowes lagiii. Alhamdulillaaah tetap diberi kesehatan dan semangat yang tak padam. Uhukkk …


LG 14.29 11-February-2020