Jumat, 03 Februari 2012

Libur Akhir Tahun : Bikepacking Menantang Tanjakan (Day 1)


LIBUR AKHIR TAHUN, BIKEPACKING MENANTANG TANJAKAN

Aku sempat berkeinginan menghabiskan libur akhir tahun 2011 dengan berbikepacking Solo – Surabaya (Solo menjadi starting point karena Ranz berdomisili disana, Surabaya menjadi destination karena seorang online buddy berjanji untuk ngajakin wisata kuliner), atau Solo – Purwokerto (setelah berhasil bikepacking Solo – Jogja – Kaliurang bulan Juni kemarin, rasanya aku ingin berbikepacking lebih jauh lagi.) Hingga rencana yang lumayan lama kugodog dengan Ranz – bikepacking Solo – Jogja – Parangtritis – Jogja. (ini ceritanya aku nyidam menghabiskan malam tahun baru di pantai.) Namun ternyata, tiga minggu menjelang the D-day, aku tergoda untuk menyambangi Candi Sukuh dan Candi Cetho yang terletak di Tawangmangu setelah membaca sebuah artikel di TJG. Dan ternyata gayung pun bersambut, Ranz pun nyidam gowes ke Cetho.

DAY 1 29 December 2011

usai sarapan

Kita meninggalkan kediaman Ranz sekitar pukul 07.00. Seperti sebelum berangkat ke Wonogiri September lalu, kita pun sarapan di rumah makan ‘wajib didatangi olehku ketika berkunjung ke Solo’: Soto Seger Mbok Giyem. :) Seusai sarapan, kita meninggalkan Soto Seger pukul 07.50.

di perbatasan Solo - Karanganyar

Perjalanan cukup lancar meski aku tidak bisa mengayuh pedal secepat yang diharapkan Ranz. :-P (Lah, dia kan ga punya udel? Sementara udelku lobangnya gede. :-D) Seperti biasa, aku menaiki Pockie, sepeda lipat pockrock, sedangkan Ranz menaiki Snow White, sepeda lipat urbano 3.0 karena di boncengan Snow White bertengger tas panier berisi pakaian dll kebutuhan kita berdua. Kita ke arah Timur, menentang angin, maka ya mohon dimaafkan jika laju Pockie tidak kencang. :-P

istirahat

Ranz sempat berharap kita hanya membutuhkan waktu dua jam dari starting point sampai ke terminal Karang Pandan. (hadeeeehhhh ... kalo gitu jangan ngajakin akuuuuuu :-P) Kenyataannya kita sampai di terminal Karang Pandan sekitar pukul 12.20 setelah sebelumnya mampir di sebuah masjid yang letaknya tidak jauh dari terminal untuk istirahat sejenak dan shalat Dzuhur.

terminal Karang Pandan

Kita sempatkan narsis di depan tulisan “terminal Karang Pandan”, dan minum es degan Ndlik yang yummy. Kita tidak lapar, namun sadar bahwa asupan makanan bisa sangat membantu menambah energi maka kita pun pesan satu porsi mie ayam yang kita makan berdua.

Sekitar pukul 13.00 kita meninggalkan pertigaan Karang Pandan dimana kita sempat melihat beberapa downhiller lewat. Langit mulai gelap. Sempat terjadi percakapan apakah kita akan naik bus saja dari terminal KP menuju terminal Tawangmangu atau gowes saja mengingat hujan sewaktu-waktu akan turun. Namun, jiwa petualang kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan gowes. :)

Berteduh untuk memakai mantel sebelum melanjutkan perjalanan

Betul saja, baru beberapa ratus meter mengayuh, mendaki tanjakan yang kian terjal, hujan mendadak turun dengan deras. Untung tak jauh dari sejak pertama tetes-tetes air menyapa, ada sebuah tempat yang nampak seperti tempat pangkalan ojek namun tanpa ada tukang ojek satu pun, Serasa memang kita ditakdirkan untuk berteduh di situ. J Hujan turun dengan amat deras. Sementara menunggu hujan sedikit mereda, kita melihat beberapa mobil lewat yang sopirnya ugal-ugalan. Sempet ngeri juga membayangkan mendaki uphill di tengah hujan deras ‘berteman’ mobil-mobil yang melaju sangat kencang. Beberapa bus jurusan Tawangmangu yang lewat nampak seperti melambai-lambai, “Hey, naik bus aja! Ga kehujanan, ga kecapekan, ngirit waktu pula!

Kenyataannya 30 menit kemudian setelah hujan sedikit mereda, kita melanjutkan perjalanan dengan gowes. Aku dan Ranz mengenakan mantel. Sayangnya cover bag hanya ada satu, maka panier yang ‘terlindungi’ hanya satu sisi saja. Sisi yang lain kehujanan. :( but, the show must go on.

FYI, jarak antara terminal KP ke terminal TW kurang lebih 16 kilometer dengan tanjakan yang lumayan menantang terjalnya, berkelok-kelok pula. Terpaksa Ranz tidak bisa banyak mengabadikan perjalanan KP ke TW karena kamera harus masuk tas.

gerbang selamat datang

Ketika kita sampai ke gerbang “Selamat Datang”, aku rasanya sudah sangat lega: kita akan segera sampai! Namun ternyata aku salah sangka. :( Terminal TW tak kunjung kelihatan. Aku mulai kepayahan. Omigod, tentu tanjakan ga bakal kunjung usai, that’s for sure. But, tolong lah segerakan kita sampai ke tempat tujuan. :-D

Meski aku mengenakan mantel, baju yang kupakai basah kuyup karena keringat. :-P Karena lelah, aku pun bilang ke Ranz, “Hotel pertama yang kita lewati, langsung saja kita mampir, menginap disitu.” Aku bayangkan Tawangmangu seperti Kaliurang dimana sebelum kita sampai ke terminal Kaliurang, sudah banyak hotel bertebaran di kiri kanan jalan.

Sekitar pukul 16.00 hujan benar-benar reda, namun aku memilih tetap mengenakan mantel. Ketika melewati sebuah bangunan yang sedang dibangun, beberapa tukang memandang kita berdua dengan sorot mata heran. Dengan ramah, aku menyapa, “Monggo Pak ...” yang dijawab, “Monggo Bu. ... Nopo mboten sayah to Bu?” hihihihi ... “Nggih sayah to Pak,” jawabku, jujur. :-P Seorang teman tukang menyahut, “Oh, kalau orang-orang seperti itu sih sudah biasa. Ga bakal ngerasa capek.” Wedew ... bikepacker kan manusia juga yah? LOL.

unjuk eksis sambil istirahat dong :)

Tak jauh dari situ, aku dan Ranz berhenti, minum dan ngemil jajan yang kita bawa. Ketika melihat ada masjid yang terletak di seberang jalan, aku langsung melakukan hajat yang lama kupendam: p*p*s. :-D Betapa rasanya gowes Solo – Wonogiri – Pracimantoro bulan September kemarin ga ada apa-apanya. LOL.

Sekitar pukul 17.00 kita sampai di terminal TW. AKHIRNYA!!! Tempat pertama kita hampiri adalah masjid. Bajuku basah kuyup, aku harus ganti dengan baju yang masih kering. Sampai di situ, tak satu pun hotel yang terlihat olehku. Ketika menunggu Ranz shalat Ashar, aku sempat ngobrol dengan seseorang yang kemudian memberi petunjuk ada jalan tembus dari Grojogan Sewu menuju Candi Sukuh. Kita ga perlu turun menuju terminal KP untuk kemudian nanjak lagi ke arah Sukuh. Wow, that’s cool!

Usai shalat dan istirahat, gerimis turun lagi. Kita melanjutkan perjalanan untuk mencari hotel. Tak jauh dari situ, aku melihat tanjakan terjal! Oh noooooo ... Kali ini, aku berkata dalam hati, aku ga akan jaim. Kalo ga kuat, ya sudah, kutuntun saja Pockie. :) Untunglah tak jauh dari situ, kita melihat hotel.

“Mau menginap di hotel ini? Atau mau cari yang lain lagi? Dengan catatan nanjak lagi?” tawar Ranz.

Sekilas melihat hotel itu, aku kurang sreg. Namun,teringat ucapanku sendiri, “I will stop at the first hotel we pass by, and stay there!” Akhirnya aku mengajak Ranz belok. :) Keuntungannya, hotel itu tak jauh dari pasar maka bakal gampang bagi kita jika kita akan mencari makan.

Kekhawatiran Ranz bahwa bakal sulit bagi kita mencari hotel karena akhir tahun nampaknya tak terbukti. Dengan mudah kita mendapatkan kamar. Wuuuaaahhh ... leganya!!!

di warung, menunggu pesanan makan malam

Kalau ga ingat Ranz mudah lapar, rasanya malam itu aku males banget keluar. :) Aku ga butuh makan, aku hanya butuh istirahat. Namun Ranz butuh makan. Maka, kita sempatin keluar untuk makan malam dan membeli beberapa kebutuhan lain.

Sekitar pukul 21.30 kita pun tidur.

To be continued.


martoart wrote on Jan 3
Perjalanan yang keren.
Apa aku masih sanggup ga kalo melakukannya.
(secara masih jadi perokok gini).

Dan jadi tahu gunanya masjid bagi masyarakat.
;)

afemaleguest wrote on Jan 3
martoart said
Dan jadi tahu gunanya masjid bagi masyarakat.
;)
wekekekekeke ...

onit wrote on Jan 3
gile ya kalo jadi ke surabaya beneran. :D

afemaleguest wrote on Jan 3
onit said
gile ya kalo jadi ke surabaya beneran. :D
Ranz memperkirakan kita butuh waktu sekitar tiga hari untuk nyampe Surabaya dari Solo
^__^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar