Setelah tiga tahun berlalu, (klik link ini yang bercerita kita gowes dari Solo ke Purwokerto) kita berkesempatan kembali lagi. Kali ini kita tidak bersepeda ke Purwokerto, namun naik kereta api dari Semarang. What matters most is not the journey but the destination. :D Yang membuat berbeda memang agenda di balik perjalanan. Jika tiga tahun lalu, aku kepengen bersepeda dari Solo ke Purwokerto, kali ini karena aku ingin mengunjungi sobat lama, kawan kuliah semasa mengejar cita-cita (lebay boleh lah ya sekali-sekali ... lol) di American Studies UGM.
Dua hari libur nasional yang berjejer di awal bulan Mei (tanggal 5 dan 6) adalah waktu yang tepat bagi kita untuk mbolang, jadi ga perlu mbolos kerja lama. :D
Day 1 5 May 2016
Kita telah sampai di Stasiun Poncol pukul 04.50. KA Kamandaka datang dari arah stasiun Tawang pukul 05.05. Syukurlah letak gerbong 1 tidak begitu jauh dari lokasi kita berdiri sehingga ga perlu repot menggotong seli dalam waktu lama. Tepat pukul 05.15 KA meninggalkan stasiun Poncol, persis seperti yang tertera di tiket.
Perjalanan lancar. Kita sampai di stasiun besar Purwokerto pukul 09.45. Sepanjang perjalanan gerbong 1 selalu penuh penumpang. Mungkin demikian juga adanya di gerbong-gerbong lain. Jika ada satu atau dua penumpang turun di satu stasiun, tak lama kemudian akan ada penumpang baru naik dan menduduki tempat duduk yang sempat kosong itu.
Pertama kali yang kita lakukan setelah meninggalkan stasiun adalah mencari rumah makan: kita butuh sarapan. :) Usai sarapan, Ranz mengajak gowes ke arah Museum Panglima Besar TNI Jendral Sudirman. Disana ada beberapa diorama yang mengisahkan tentang perjuangan Jendral Sudirman memimpin perang gerilya di zaman Perang Kemerdekaan. Kita tidak lama disini karena tidak banyak yang bisa kita lihat meski taman hijau yang ada di sekitar gedung museum cukup mengundang untuk leyeh-leyeh. :) Oh ya, tiket masuk Rp. 3.000,00, dan parkir sepeda gratis :)
Dari sana, Ranz langsung mengarah ke arah Dukuh Waluh dimana terletak kampus UMP. Asih, sobat lama yang menjadi 'alasan pertama' kita mbolang ke Purwokerto lagi tinggal di daerah ini. Namun kita tidak menginap di rumah Asih. Jauh-jauh hari Ranz sudah mengajakku menginap di rumah saudara (jauhnya) jika kita dolan ke Purwokerto. Merupakan satu kebetulan jika rumah Asih dan Tyas (nama saudara Ranz) terletak di lokasi yang sama, Dukuh Waluh. :)
Setelah meninggalkan stasiun, kita gowes hingga sampai di kawasan Dukuh Waluh, kita menempuh kurang lebih 20 km. Not bad, huh? :D
Malamnya kita ke rumah Asih yang terletak tak jauh dari Dieng Swalayan. Namun karena Asih sedang tidak enak badan, dan dia khawatir akan menulari kita, kita belum bertemu. Sebagai ganti, aku dan Ranz nongkrong di satu gerai es krim. :) Kita ngobrol disana sampai sekitar pukul 21.00 kemudian balik ke rumah Tyas.
To be continued :)
IB 20.34 17/05/2016
P.S. :
Dalam perjalanan menuju Dukuh Waluh, kita melewati Jalan Jendral Sudirman dan mendapati hotel Mulia tempat kita menginap 3 tahun lalu telah berubah nama menjadi Hotel Besar. Ada kerinduan untuk menginap di hotel yang suasananya jadul ini, namun kita lebih memilih mengirit, menginap di rumah saudara. Hihihihi ...
Cari Blog Ini
Selasa, 17 Mei 2016
Kamis, 12 Mei 2016
Gowes Sejarah bersama KomseliS dan Lopen
Untuk ikut menyambut dengan gembira HUT kota tercinta Semarang yang ke-469, Komselis (Komunitas Sepeda Lipat Semarang) menggandeng Lopen sebagai komunitas kumpulan pecinta sejarah mengadakan satu event khusus yang diberi tajuk #GowesSejarah. Diselenggarakan pada hari Minggu 1 Mei 2016 tema yang diusung tahun ini adalah menelusuri jejak rel trem yang pernah dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda di awal abad ke 20.
Taman Pandanaran dipilih sebagai titik kumpul, mungkin karena ada icon yang bisa dipamerkan di foto, warak. :D Sebagai road captain ada Yogi dari Lopen yang mengaku grogi gegara harus nyepeda bersama para pesepeda karena dia tak biasa bersepeda. :D Ada kang Dur sebagai toa, lol. Ada Dany Saputra dan Victor Riu sebagai marshall. Well, kulihat hanya mereka berdua sih yang mengenakan rompi marshall. Meski tak ada sweeper, dan 2 orang marshall tentu terlalu sedikit untuk peserta yang melebihi 75 orang, semua partisipan berbaris rapi di sepanjang perjalanan. Motto SHARE THE ROAD tetap kita pegang teguh. Uhuk! Banyak wajah baru yang sebelumnya tak pernah kita lihat di event-event sebelum ini, mungkin karena embel-embel SEJARAH event ini menarik mereka-mereka yang biasanya tidak tertarik ikutan event yang diselenggarakan Komselis maupun B2W Semarang.
Selain Komselis dan B2W Semarang, terlihat beberapa komunitas sepeda lain yang bergabung, misal FedSemar alias Federal Semarang, Brompton Semarang, dll. Lowrider Semarang tidak terlihat karena mereka memiliki acara sendiri : menerima tamu Lowrider Kendal. :)
Setelah foto bersama untuk kepentingan dokumentasi, kita mulai gowes ke arah Barat, kemudian belok ke Jalan Kyai Saleh. Di ujung Jalan Kyai Saleh kita belok ke kiri, menyusuri Jalan Veteran. Tempat pertama yang kita kunjungi adalah Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal. Disini kita mendapatkan penjelasan bahwa yang nampak seperti 'selokan' di pinggir Jalan Sriwijaya adalah Kanal Siranda peninggalan pemerintahan kolonial Belanda. Kanal ini dibuat untuk mengurangi kemungkinan banjir di kawasan kota Semarang. (Shhhttt ... sejak zaman Belanda masih 'berkuasa' di kota kelahiranku ini Semarang telah mengalami masalah banjir ternyata!)
Dari Kanal Siranda kita melanjutkan perjalanan ke arah Timur. Di ujung Jalan Sriwijaya kita belok kanan, dan berhenti di depan Java Mall. Disini Yogi menjelaskan bahwa dulunya tepat di depan bangunan yang sekarang digunakan untuk Optik 55 terletak stasiun trem.
Dari sana kita balik kanan, menyusuri Jalan MT Haryono a.k.a Jalan Mataram. Titik berhenti berikutnya di depan sekolah SMA Sultan Agung Semarang. Ada apa ya? Aku sudah lupa. LOL. Satu yang kuingat, gapura yang ada di samping gedung sekolah ini adalah gapura duplikat karena yang asli telah dihancurkan. :(
Kita kembali melanjutkan menyusuri Jalan MT Haryono. Berikutnya kita mampir ke stadion Diponegoro. Stadion ini ternyata juga merupakan peninggalan pemerintahan kolonial Belanda. (Akibat ga langsung menuliskannya, lupa deh aku detilnya apa aja yang dijelaskan oleh Yogi dari Lopen. :( )
Selanjutnya kita dibawa mampir ke sebuah gedung peninggalan S.I. (Sarekat Islam).
Titik berhenti berikutnya di dekat bunderan Bubakan. Di daerah situ dulunya merupakan terminal/stasiun yang cukup besar, namun sekarang tidak ada bekas-bekasnya sama sekali. :( A very big loss buat pihak KAI maupun pemerintah karena kita telah kehilangan saksi (mati) sejarah. :(
Gedung terakhir yang kita kunjungi adalah gedung Sobokarti yang terletak di Jalan Dr. Cipto. Disini pihak panitia bagi-bagi hadiah dan door prize bagi yang beruntung.
Berikut ini foto-foto yang dihasilkan oleh tangan dingin Ranz. :)
Mari kita nantikan event selanjutnya dari KomseliS. Yuhuuuuu
IB 11 - 21 Mei 2016
Taman Pandanaran dipilih sebagai titik kumpul, mungkin karena ada icon yang bisa dipamerkan di foto, warak. :D Sebagai road captain ada Yogi dari Lopen yang mengaku grogi gegara harus nyepeda bersama para pesepeda karena dia tak biasa bersepeda. :D Ada kang Dur sebagai toa, lol. Ada Dany Saputra dan Victor Riu sebagai marshall. Well, kulihat hanya mereka berdua sih yang mengenakan rompi marshall. Meski tak ada sweeper, dan 2 orang marshall tentu terlalu sedikit untuk peserta yang melebihi 75 orang, semua partisipan berbaris rapi di sepanjang perjalanan. Motto SHARE THE ROAD tetap kita pegang teguh. Uhuk! Banyak wajah baru yang sebelumnya tak pernah kita lihat di event-event sebelum ini, mungkin karena embel-embel SEJARAH event ini menarik mereka-mereka yang biasanya tidak tertarik ikutan event yang diselenggarakan Komselis maupun B2W Semarang.
Selain Komselis dan B2W Semarang, terlihat beberapa komunitas sepeda lain yang bergabung, misal FedSemar alias Federal Semarang, Brompton Semarang, dll. Lowrider Semarang tidak terlihat karena mereka memiliki acara sendiri : menerima tamu Lowrider Kendal. :)
Setelah foto bersama untuk kepentingan dokumentasi, kita mulai gowes ke arah Barat, kemudian belok ke Jalan Kyai Saleh. Di ujung Jalan Kyai Saleh kita belok ke kiri, menyusuri Jalan Veteran. Tempat pertama yang kita kunjungi adalah Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal. Disini kita mendapatkan penjelasan bahwa yang nampak seperti 'selokan' di pinggir Jalan Sriwijaya adalah Kanal Siranda peninggalan pemerintahan kolonial Belanda. Kanal ini dibuat untuk mengurangi kemungkinan banjir di kawasan kota Semarang. (Shhhttt ... sejak zaman Belanda masih 'berkuasa' di kota kelahiranku ini Semarang telah mengalami masalah banjir ternyata!)
Dari Kanal Siranda kita melanjutkan perjalanan ke arah Timur. Di ujung Jalan Sriwijaya kita belok kanan, dan berhenti di depan Java Mall. Disini Yogi menjelaskan bahwa dulunya tepat di depan bangunan yang sekarang digunakan untuk Optik 55 terletak stasiun trem.
Dari sana kita balik kanan, menyusuri Jalan MT Haryono a.k.a Jalan Mataram. Titik berhenti berikutnya di depan sekolah SMA Sultan Agung Semarang. Ada apa ya? Aku sudah lupa. LOL. Satu yang kuingat, gapura yang ada di samping gedung sekolah ini adalah gapura duplikat karena yang asli telah dihancurkan. :(
Kita kembali melanjutkan menyusuri Jalan MT Haryono. Berikutnya kita mampir ke stadion Diponegoro. Stadion ini ternyata juga merupakan peninggalan pemerintahan kolonial Belanda. (Akibat ga langsung menuliskannya, lupa deh aku detilnya apa aja yang dijelaskan oleh Yogi dari Lopen. :( )
Selanjutnya kita dibawa mampir ke sebuah gedung peninggalan S.I. (Sarekat Islam).
Titik berhenti berikutnya di dekat bunderan Bubakan. Di daerah situ dulunya merupakan terminal/stasiun yang cukup besar, namun sekarang tidak ada bekas-bekasnya sama sekali. :( A very big loss buat pihak KAI maupun pemerintah karena kita telah kehilangan saksi (mati) sejarah. :(
Gedung terakhir yang kita kunjungi adalah gedung Sobokarti yang terletak di Jalan Dr. Cipto. Disini pihak panitia bagi-bagi hadiah dan door prize bagi yang beruntung.
Berikut ini foto-foto yang dihasilkan oleh tangan dingin Ranz. :)
Mari kita nantikan event selanjutnya dari KomseliS. Yuhuuuuu
IB 11 - 21 Mei 2016
![]() | ||
| ketiga kawanku ini bukan pesepeda, tertarik gabung gegara tema SEJARAH yang diusung :) | ki-ka Mima, Kiki, Yudi |
![]() |
| foto ini menunjukkan gerbang/gapura asli di dekat SMA Sultan Agung |
![]() |
| gerbang duplikat |
![]() |
| di dalam gedung S.I. (lihat tulisan di lantai) |
![]() |
| di luar gedung S. I. |
![]() |
| di ujung dekat bunderan Bubakan |
![]() |
| om AB yang ketiban sampur bagi-bagi hadiah ... (baik banget yaaa? :D |
![]() |
| Paketu Komselis dan istri |
Segowangi 27
Usai euphoria #GowesKartini (halah, lebay LOL), kita pun
kembali ke event bulanan, bersilaturrahmi bersama para penggemar bersepeda di
hari Jumat terakhir di waktu malam hari. Alhamdulillah pada hari Jumat tanggal
29 April 2016 sejak siang hari Semarang cerah, tak terlihat mendung sedikit pun
di langit. Berbeda dengan hari Jumat terakhir di bulan Februari dan Maret, kali
ini peserta Segowangi alias Semarang Gowes Jemuwah Bengi kembali lumayan
banyak.
Meski di pintu masuk Balaikota ada panggung pertunjukan untuk
mempromosikan event Loenpia Jazz, kita tetap berkumpul di tempat yang sama.
Kita hanya bergeser beberapa meter kea rah Selatan, persis di depan tulisan
KANTOR WALIKOTA SEMARANG. Satu hal istimewa : sembari menunggu berkumpulnya
para pesepeda, kita dihibur lagu-lagu yang dinyanyikan secara live di panggung.
J
Dengan mengambil tema “BERSEPEDA ITU BAHAGIA” (seperti slogan
yang tertulis di punggung salah satu kaos B2W Semarang) kita harapkan para
pesepeda pun merasa bahagia. J Rute
gowes kali ini : dari Balaikota kita ke arah Jalan Gajahmada, kemudian
menyusuri Kampung Kali, lurus hingga Jembatan Kartini yang tembus ke Jalan
Gajah. Kita sempat berfoto-foto di depan pintu gerbang MAJT, kemudian lanjut
kea rah arteri. Sesampai Bubakan kita kea rah Kota Lama. Begitu masuk Jalan
Pemuda, kita belok kanan kea rah Jalan Imam Bonjol. Menyusuri Jalan Imam Bonjol
hingga depan Stasiun Poncol kita belok kiri menuju Jalan Tanjung. Dari sana
kita balik ke Balaikota.
Sesampai Balaikota, suasana panggung Loenpia Jazz kian
semarak. Kita bahkan diundang untuk ikut menyaksikan dari dekat dan
diperbolehkan memarkir sepeda tepat di belakang kursi-kursi yang ditata rapi
untuk penonton. Dan … aku diberi kesempatan untuk sedikit memperkenalkan
#Segowangi kepada para penonton. Lumayaaannn … promosi sekalian. J
Sampai jumpa di Segowangi ke-28 bulan Mei!
Salam kring kring
Satu sepeda sejuta sahabat … satu sepeda satu Indonesia J
LG 16.35 11/05/2016
Langganan:
Postingan (Atom)




























































