Cari Blog Ini

Rabu, 16 September 2026

Gomingpai ke Cenklik Coffee (2)

Astro dan Shaun

 Waktu bersepeda ke Cenklik Coffee tanggal 30 Agustus, aku bilang ke Ranz bahwa aku tidak akan keberatan jika diajak dolan ke situ lagi 😀 tempatnya nyaman, banyak instagramable spots, jenis makanan yang ditawarkan lumayan enak dengan harga terjangkau, plus tidak perlu nanjak-nanjak seperti saat kami bersepeda ke Honak 😂

Maka, ketika aku dolan ke Solo lagi, dengan tegas aku bilang ke Ranz, "Ke Cenklik Coffee lagi saja yuk?"

Minggu 13 September 2026 kami berdua kembali menyusuri jalan menuju Waduk Cengklik. Kali ini, aku tetap naik Astro sedangkan Ranz naik Shaun. Saat kami melewati Jl. Adi Sucipto menuju area Colomadu, ada yang mengherankan: event car free day di sini 'libur'. 😅

"Apa-apaan nih, CFD kok libur?" komplain Ranz, lol. 

jalan ini biasanya full orang lalu lalang

 

Namun karena tidak ada CFD, perjalanan kami lancar, tidak tersendat seperti biasanya. CFD di area Colomadu ini dipenuhi dengan orang-orang yang berjualan beraneka ragam makanan, minuman, maupun barang-barang lain. Waktu kami bersepeda ke Honai, di area CFD ini Ranz beli sosis 'bedug' asli Boyolali. Waktu bersepeda ke Cenklik, Ranz beli susu. Kali ini, ternyata Ranz berencana akan beli 'manset' karena manset punyanya aku pakai (aku lupa bawa manset waktu berangkat ke Solo) di area CFD ini. eh, ternyata, libur 😀

 

Perjalanan lancar sampai di Cenklik Coffee. Sesampai sana, ternyata baru ada event lari. (Kami sampai di sana sekitar pukul 08.30, event sudah selesai.) Masih terlihat banyak peserta lari yang sedang duduk-duduk menikmati suasana. Sayangnya, banyak dari mereka yang merokok 😕 dengan bercanda aku bilang ke Ranz, "mereka (olahraga) lari agar mereka tetap bisa bebas merokok kali ya?" lol.  Well, seperti seorang rekan kerja yang bilang, dia rajin olahraga ke fitness center demi bisa bebas makan apa pun yang dia inginkan, lol.

Kami ngobrol sampai menjelang pukul 12.00. Ranz ternyata agak enggan pulang karena membayangkan tangannya bakal terbakar sinar matahari yang terik sekali hari itu. (Well, duluuuu Ranz tidak pernah peduli hal seperti ini loh! lol.) Dan ... saat kami memutuskan untuk pulang, Ranz baru ngeh kalau ban belakang Shaun bocor! Aku bertanya ke pada tukang parkir di mana ada tukang tambal ban. Lalu aku bilang ke Ranz, "Hadeeeh, kok terdengar jauh sekali!" katanya, lol.

So? Akhirnya kami pulang naik taksi online! 

*****

Sorenya Ranz mengajak ke luar naik sepeda lagi. (Asyiiik.) Ranz naik Petir, aku naik Jean Grey, sepeda mini milik Ranz. Kami makan sore di bakmi Penumping. Pulangnya Ranz sempat mengajak memutar sebentar, sampai lewat area Pura Mangkunegaran.

PT56 14.54 16 September 2026 

Rabu, 02 September 2026

Biking to Cenklik Coffee, Cengklik

menapaki 'tanjakan' flyover di Purwosari

 

Hari Minggu 30 Agustus 2026, aku dan Ranz kembali bersepeda ke arah Waduk Cengklik. Jika 4 minggu sebelumnya Ranz mengajak ke Honai, kali ini aku mengusulkan ke Cenklik Coffee: aku sudah melihat reels orang tentang Cenklik Coffee ini sejak beberapa minggu yang lalu. Kirain Ranz sudah tahu, ternyata belum, dia malah melihat reel Honai terlebih dahulu. 

Jika Honai terletak di arah Barat Laut dari waduk, Cenklik Coffee terletak satu deret dengan Omah Prahu, yakni di sebelah Timur waduk.  Lebih dekat ketimbang jika kami bersepeda ke arah Honai, plus tidak perlu melewati 2 tanjakan yang aku tulis di kisah sebelum ini 😁 kami hanya perlu melewati 'tanjakan' yang berupa flyover; flyover pertama di stasiun Purwosari, flyover yang kedua kami sudah dekat area lapangan udara Adi Sumarmo, flyover di atas jalan tol. 

Kami berangkat dari rumah Ranz sekitar pukul 07.00. Seperti kisah sebelumnya, aku naik Astro, Ranz naik Petir. Sesampai de Tjolomadoe, kami pun berhenti untuk foto-foto sejenak. kami sampai Cenklik sekitar pukul 08.30. Sampai sana, ternyata Cenklik sudah lumayan ramai pengunjung. Bahkan di tempat parkir, aku melihat 3 sepeda yang diparkir di tempat parkir khusus sepeda. 

flyover di atas jalan tol, Boyolali
sebelah 'sana' itu Waduk Cengklik

 

Cenklik Coffee ini bukan satu-satunya cafe/resto yang ada di daerah 'itu'. Di sebelah kiri dan kanan masih ada tempat nongkrong lain. Tapi, sebagian dari resto/cafe itu bukanya setelah jam 3 sore karena mereka mengusung tema 'sunset' yang indah sebagai tajuk untuk mengundang orang datang. 

Kami sepedaan hanya sekitar 26 kilometer hari ini. 

Sorenya, kami dolan ke Lokananta Bloc, naik taksi online, Ranz ogah kuajak naik sepeda lagi 😂 aku ingin melihat kedai buku Mata Patjar yang ada di sana. Harapanku ini seperti Lana Singgah atau cafe Slari yang menyediakan lumayan banyak buku untuk dibaca di tempat. Ternyata, tidak sebanyak yang ada di Lana Singgah maupun di Slari. Plus, variasi makanan/minuman di Mata Patjar ini tidak sebanyak yang ada di Lana maupun Slari. Tapi, jika anda tipe orang yang suka menjelajah cafe yang menyediakan buku untuk dibaca di tempat, it is worth visiting dan foto-foto 😀 

PT56 11.23 02 September 2026 

Sabtu, 08 Agustus 2026

Biking to Honai, Cengklik

 

Tanpa rencana ribet, di hari Minggu 02 Agustus 2026 aku dan Ranz bersepeda ke Waduk Cengklik , kali ini tujuan kami adalah Honai, yang terletak di sebelah Barat Laut waduk. So, jika biasanya jarak yang kami tempuh dari rumah Ranz ke waduk hanya 13 km, kali ini untuk mencapai Honai, kami masih harus mengayuh pedal sepeda yang kami naiki 4 kilometer lagi.

Aku naik Astro -- sudah cukup lama Austin tidak aku ajak bepergian ke luar kota -- sedangkan Ranz naik Petir yang mungil dan single gear. Meski sudah cukup lama kami tidak bersepeda (lumayan) jauh, Ranz tetap perkasa di tanjakan meski 'hanya' naik Petir yang single gear. oh ya, jika dari Laweyan menuju Cengklik, kami hanya perlu nanjak di flyover, namun ada 2 tanjakan yang lumayan menantang jika kami perlu melanjutkan perjalanan menuju Honai.

What's so special from Honai? my personal opinion? there is nothing special, kecuali yaaah ... namanya juga destinasi yang baru kami tahu, tentu kami penasaran untuk mengetahuinya. 

di Honai ada sederet warung-warung yang berjualan berbagai minuman, gorengan, mie instant goreng/rebus, sampai pecel. Bagi mereka yang ingin mencoba keliling danau, ada 2 perahu yang muat dinaiki mungkin sekitar 30 orang, di mana tiap orang hanya perlu membayar sepuluh ribu rupiah. (Bandingkan dengan 'boat party' di Cafe Minoa yang terletak di waduk Cengklik sebelah Timur, penumpang dikenai biaya duapuluh ribu rupiah.) Selain perahu ini, ada 'speed boat' yang biasa ada di beberapa destinasi wisata waduk dengan harga seratus ribu rupiah untuk maksimal 4 orang. 

Trek terakhir menuju Honai itu turunan yang cukup tajam, yang membuat mereka yang akan meninggalkan Honai harus melewati tanjakan. Nah, saat kami sampai destinasi, kami membeli tiket masuk (satu orang Rp. 2000,00), si penjual tiket memberi info bahwa ada trek yang bisa kami lewati yang akan membawa kami sampai di jembatan kayu. what a very nice info! 

Saat kami foto-foto dengan waduk sebagai background, ada petugas yang membantuku menggendong Astro untuk turun. Petugas ini pun memberitahu kami bahwa saat akan meninggalkan lokasi, kami tidak perlu melewati rute yang kami lewati saat datang, namun bisa lewat trek lain yang terhubung dengan jembatan kayu. YESSS!!!

Beberapa bulan lalu, aku dan Ranz sempat dolan ke jembatan kayu ini, kami naik taksi online, bertiga dengan Deven, tidak naik sepeda. Saat mendekati jembatan kayu dari arah Selatan, kami melihat tulisan "sepeda dilarang masuk". Karena ini lah, kami mengambil inisiatif bahwa saat melewati jembatan kayu, kami tidak akan menaiki sepeda kami, namun cukup berjalan sambil menuntun sepeda. 

Setelah melewati jembatan kayu, di ujung (Selatan) ada satu angkringan. Kami berencana untuk mampir dan jajan. Namun, kami tidak jadi karena si pedagang langsung ngomel-ngomel melihat kami datang dengan menuntun sepeda. Well, jika kami lewat trek sebelah sini saat berangkat menuju Honai, tentunya si pedagang melihat kami datang kan ya? Tentu dia sudah melarang kami lewat situ. Dengan santai aku menjelaskan bahwa kami dari Honai, oleh petugas Honai, kami ditunjukkan trek penghubung Honai dengan jembatan kayu ini, itu sebab kami lewat situ.

Ya wis lah. yang penting, aku dan Ranz sudah melewati jembatan kayu ini dengan menuntun sepeda. 😁 

Setelah balik ke rumah Ranz, jarak yang kami tempuh hari ini: 34 kilometer.

PT56 13.46 08 August 2026 

otw ke arah Barat waduk Cengklik

 

terima kasih bapak petugas yang memotretkan kami
menggeser eceng gondok
hanya acting loh ini 😁