Jumat, 09 Februari 2018

R O M L I

R O M L I

Praktek mengikuti satu event sepedaan tanpa mendaftar resmi sebenarnya telah kulakukan di awal-awal aku ikut sepedaan bersama kawan-kawan B2W Semarang angkatan jadul. FUN BIKE yang kita kadang ikuti bersama. Zaman itu masih belum banyak event sepedaan yang diselenggarakan oleh komunitas. Yang paling penting waktu itu adalah kumpul bersama dan sepedaan bareng; dari pada pusing mikir rute, kita mengikuti saja rute yang ditentukan oleh panitia FUN BIKE. Memiliki kaos/jersey yang diselenggarakan panitia itu tidak penting; apalagi untuk sekedar mendapatkan kudapan/snack di akhir bersepeda. Kita sadar diri lah, kita kan tidak mendaftar, jadi yaaa ... ga dapat snack lah, apalagi door prize. J


Itulah yang disebut sebagai ROMLI alias ROMbongan LIar. Konon, ada lho komunitas ROMLI, yang berisi orang-orang yang hobinya mengikuti event namun tidak mendaftr secara resmi.

Aku sendiri tahu istilah ROMLI baru di awal tahun 2016, ketika ikut event Tour de Pangandaran 7; satu event besar yang diselenggarakan oleh B2W Tasikmalaya, didukung penuh oleh B2W Indonesia (pusat). Waktu mendengar istilah ROMLI pertama kali itu aku dan Ranz tertawa-tawa, yaolooh, ternyata ada namanya juga yak. LOL.

Tour de Pangandaran 7

Tour de Pangandaran 8

Tour de Pangandaran itu sendiri, menurutku pribadi, mirip dengan event FUN BIKE, meski jarak tempuhnya mencapai 107 kilometer. Jarak 107 kilometer itu dibagi menjadi dua etape. Pistop pertama di halaman depan TOSERBA SAMUDRA, untuk makan siang, setelah para peserta menempuh jarak kurang lebih 60 kilometer. Peserta resmi mendapatkan jatah makan siang disini. Untuk mengambilnya, peserta diberi kupon makan. Pitstop yang kedua di Pantai Pangandaran, peserta kembali mendapatkan jatah makan malam disini, dengan terlebih dahulu menyerahkan kupon makan.

Berhubung tata cara penyelenggaraannya seperti FUN BIKE, bisa dipahami jika ada buanyaaaaaaaaaaaak pesepeda yang menjadi ROMLI. Pertama, mereka tidak merasa butuh memiliki/mengenakan jersey resmi peserta. Kedua, mereka dengan mudah bisa mendapatkan warung untuk membeli makan/minum di sepanjang perjalanan Tasikmalaya – Pangandaran.

Sampai disini, aku berpikir bahwa para peserta ROMLI itu tidak menyebabkan masalah pada panitia. Dengan catatan mereka tahu diri bahwa mereka tidak memiliki hak apa pun yang diberikan oleh panitia kepada peserta resmi: misal evak dan makan/minum. Konon, ada juga lho peserta ROMLI yang membawa sendiri armada untuk evak rombongan mereka sendiri.

7AMSELINAS 2017 SEMARANG

Jamselinas a.k.a jambore sepeda lipat nasional yang merupakan satu event bergengsi para pehobi sepeda lipat adalah satu event yang selalu ditunggu-tunggu penyelenggaraannya setiap tahun. Biaya pendaftaran yang dikenakan kepada para peserta, konon, disayangkan oleh sebagian pesepeda lipat di Nusantara, karena dianggap cukup tinggi. Mereka tidak memikirkan bahwa uang sekian ratus ribu rupiah itu worth spending  lah ya dengan fasilitas yang diberikan oleh panitia : mulai dari armada evak hingga jamuan makan malam yang biasanya penuh dengan hidangan yang memanjakan perut peserta. (ditanggung energi yang dikeluarkan waktu acara bersepeda sepanjang jambore akan langsung kembali berikut bunganya di acara makan malam. LOL.)

Event jamselinas yang telah diselenggarakan sejak tahun 2011, menurutku mencapai puncak ‘kejayaan’nya di penyelenggaraan yang ketujuh, ditandai dengan ribuan orang mendaftar sebagai peserta hanya dalam tempo sekian hari pendaftaran dibuka. Akhirnya untuk membatasi peserta – agar panitia tidak terlalu repot J -- pendaftaran ditutup setelah jumlah peserta mencapai angka seribu orang. Hal ini membuat banyak pesepeda (lipat) yang berpikir untuk menjadi romli saja.

rombongan Komselis dalam Jogja Attack Maret 2011, cikal bakal jamselinas

Namun ternyata, para peserta romli itu tidak semuanya paham statusnya yang hanya seperti benalu. Di event Tour de Pangandaran – sebelum mencapai TdP7, jadi di event2 TdP sebelumnya – para panitia berbaik hati menyediakan evak untuk peserta romli yang keser-keser di jalan. Ini berarti mengurangi jatah bantuan yang diberikan kepada peserta resmi. Nah, bisa jadi kebaikhatian ini akan terus menerus ‘diharapkan’ orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dan, terkadang, memang panitia merasa tidak enak hati jika ada peserta romli yang, misal, mengalami kendala dalam perjalanan.

7amselinas



Dalam event 7amselinas 2017 di Semarang, diketahui bahwa ada sekian gelintir (atau mungkin puluh, panitia tidak sempat mendata) peserta romli. Kesibukan mengurus peserta resmi tentu membuat panitia tidak sempat meneliti peserta romli satu per satu, apalagi tidak semua peserta resmi berkenan mengenakan jersey resmi yang dibagikan panitia sebelum hari H, hingga menyulitkan panitia untuk mengenali. Belum tentu peserta yang tidak mengenakan jersey resmi adalah peserta romli. Tidak masalah jika peserta romli ini paham bahwa dia hanya benalu, hanya ikutan bersepeda di rute yang sama yang ditentukan panitia, tanpa meminta hak-hak yang hanya pantas diberikan kepada peserta resmi. Namun jika kemudian dia ikutan mengambil makanan yang disediakan (yang ditata secara terbuka, pesepeda boleh ambil sendiri sesampai di lokasi, tanpa perlu menunjukkan/menyerahkan kupon snack), bisa dipahami lah jika panitia kesal. Hal ini akan menyebabkan peserta resmi yang sampai di lokasi belakangan bisa tidak mendapatkan snack yang disediakan secara pas-pasan.

Bisa dipahami lah jika di event-event sejenis lain di kesempatan berikutnya para romli ini membuat panitia kesal.

So? Silakan saja jika ingin menjadi peserta romli. Hanya sekedar ikut bersepeda di rute yang ditetapkan oleh panitia, ya oke-oke saja. Tapi, please, sadar diri lah bahwa anda itu benalu bagi panitia. Jangan mengambil hak-hak yang hanya layak diberikan kepada peserta resmi.

Begitu lho. J


LG 10.35 08/02/2018 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar