Cari Blog Ini

Rabu, 30 September 2026

Sunday 27 September 2026 Biking

ada tempat parkir untuk sepeda loh 

 

Kali ini, aku tidak mengajak Ranz bersepeda ke arah Waduk Cengklik (lagi). Kami hanya bersepeda ke arah CFD, jajan selat Solo (buatku) dan timlo Solo (buat Ranz). Setelah itu, aku mengajak Ranz bersepeda ke arah stadion Manahan; di satu media sosial aku 'menemukan' satu cafe yang juga menyediakan buku-buku untuk dibaca di tempat. 

Dengan bantuan gmap, dengan mudah Ranz menemukan lokasi Red Shoes/Kuhate Books, di Jl. Manyar, di belakang sekolah Kalam Kudus. Aku suka sekali area sini karena terasa sangat quiet, padahal terletak tidak jauh dari stadion Manahan. Sesekali terdengar suara kereta api yang lewat, tapi tidak terlalu mengganggu konsentrasi mereka yang sedang membaca.

aku tidak membaca yang karangan Haruki 😂

 

Red Shoes cafe ini mengkhususkan kopi klasik, tidak bakal kita menemukan macam-macam kopi seperti hazelnut latte, caramel macchiato, bla bla bla. Apa yang membuatku tertarik untuk berkunjung ke sini? Cafe/bookstore ini menyediakan buku-buku yang bisa dibaca di tempat, sembari menikmati kopi dan pastry yang dijual, selain juga menyediakan buku-buku yang bisa dibeli. Karena aku dan Ranz sudah sarapan di area CFD, di sini, kami hanya pesan kopi, demi bisa melihat-lihat buku-buku yang tersedia. Oh ya, aku menyempatkan membaca 1 buah buku yang kebetulan memang telah menarik minatku: Ibuisme Negara karya Julia Suryakusuma. Pucuk dicinta ulam tiba ini ceritanya! 😍

Setelah selesai membaca, kami pulang. Jarak tempuh hanya 10 kilometer.

nasgor bestiknya uenaaak 

 

Sorenya, kembali aku mengajak Ranz sepedaan ke arah Jebres, meski dia sebenarnya enggan sepedaan lagi. Satu resto yang menghiasi interiornya dengan tema Harry Potter menarikku untuk mengunjunginya. And you know what? Ranz juga senang dong foto-foto di sini: KAFFEE ADLER. Eh, yang tidak dia sukai bersepedanya ding, bukan foto-fotonya. hihi ...

Sesampai rumah Ranz, jarak tempuh 12,6 km.  

 PT56 15.38 30 September 2026

 

Rabu, 16 September 2026

Gomingpai ke Cenklik Coffee (2)

Astro dan Shaun

 Waktu bersepeda ke Cenklik Coffee tanggal 30 Agustus, aku bilang ke Ranz bahwa aku tidak akan keberatan jika diajak dolan ke situ lagi 😀 tempatnya nyaman, banyak instagramable spots, jenis makanan yang ditawarkan lumayan enak dengan harga terjangkau, plus tidak perlu nanjak-nanjak seperti saat kami bersepeda ke Honak 😂

Maka, ketika aku dolan ke Solo lagi, dengan tegas aku bilang ke Ranz, "Ke Cenklik Coffee lagi saja yuk?"

Minggu 13 September 2026 kami berdua kembali menyusuri jalan menuju Waduk Cengklik. Kali ini, aku tetap naik Astro sedangkan Ranz naik Shaun. Saat kami melewati Jl. Adi Sucipto menuju area Colomadu, ada yang mengherankan: event car free day di sini 'libur'. 😅

"Apa-apaan nih, CFD kok libur?" komplain Ranz, lol. 

jalan ini biasanya full orang lalu lalang

 

Namun karena tidak ada CFD, perjalanan kami lancar, tidak tersendat seperti biasanya. CFD di area Colomadu ini dipenuhi dengan orang-orang yang berjualan beraneka ragam makanan, minuman, maupun barang-barang lain. Waktu kami bersepeda ke Honai, di area CFD ini Ranz beli sosis 'bedug' asli Boyolali. Waktu bersepeda ke Cenklik, Ranz beli susu. Kali ini, ternyata Ranz berencana akan beli 'manset' karena manset punyanya aku pakai (aku lupa bawa manset waktu berangkat ke Solo) di area CFD ini. eh, ternyata, libur 😀

 

Perjalanan lancar sampai di Cenklik Coffee. Sesampai sana, ternyata baru ada event lari. (Kami sampai di sana sekitar pukul 08.30, event sudah selesai.) Masih terlihat banyak peserta lari yang sedang duduk-duduk menikmati suasana. Sayangnya, banyak dari mereka yang merokok 😕 dengan bercanda aku bilang ke Ranz, "mereka (olahraga) lari agar mereka tetap bisa bebas merokok kali ya?" lol.  Well, seperti seorang rekan kerja yang bilang, dia rajin olahraga ke fitness center demi bisa bebas makan apa pun yang dia inginkan, lol.

Kami ngobrol sampai menjelang pukul 12.00. Ranz ternyata agak enggan pulang karena membayangkan tangannya bakal terbakar sinar matahari yang terik sekali hari itu. (Well, duluuuu Ranz tidak pernah peduli hal seperti ini loh! lol.) Dan ... saat kami memutuskan untuk pulang, Ranz baru ngeh kalau ban belakang Shaun bocor! Aku bertanya ke pada tukang parkir di mana ada tukang tambal ban. Lalu aku bilang ke Ranz, "Hadeeeh, kok terdengar jauh sekali!" katanya, lol.

So? Akhirnya kami pulang naik taksi online! 

*****

Sorenya Ranz mengajak ke luar naik sepeda lagi. (Asyiiik.) Ranz naik Petir, aku naik Jean Grey, sepeda mini milik Ranz. Kami makan sore di bakmi Penumping. Pulangnya Ranz sempat mengajak memutar sebentar, sampai lewat area Pura Mangkunegaran.

PT56 14.54 16 September 2026 

Rabu, 02 September 2026

Biking to Cenklik Coffee, Cengklik

menapaki 'tanjakan' flyover di Purwosari

 

Hari Minggu 30 Agustus 2026, aku dan Ranz kembali bersepeda ke arah Waduk Cengklik. Jika 4 minggu sebelumnya Ranz mengajak ke Honai, kali ini aku mengusulkan ke Cenklik Coffee: aku sudah melihat reels orang tentang Cenklik Coffee ini sejak beberapa minggu yang lalu. Kirain Ranz sudah tahu, ternyata belum, dia malah melihat reel Honai terlebih dahulu. 

Jika Honai terletak di arah Barat Laut dari waduk, Cenklik Coffee terletak satu deret dengan Omah Prahu, yakni di sebelah Timur waduk.  Lebih dekat ketimbang jika kami bersepeda ke arah Honai, plus tidak perlu melewati 2 tanjakan yang aku tulis di kisah sebelum ini 😁 kami hanya perlu melewati 'tanjakan' yang berupa flyover; flyover pertama di stasiun Purwosari, flyover yang kedua kami sudah dekat area lapangan udara Adi Sumarmo, flyover di atas jalan tol. 

Kami berangkat dari rumah Ranz sekitar pukul 07.00. Seperti kisah sebelumnya, aku naik Astro, Ranz naik Petir. Sesampai de Tjolomadoe, kami pun berhenti untuk foto-foto sejenak. kami sampai Cenklik sekitar pukul 08.30. Sampai sana, ternyata Cenklik sudah lumayan ramai pengunjung. Bahkan di tempat parkir, aku melihat 3 sepeda yang diparkir di tempat parkir khusus sepeda. 

flyover di atas jalan tol, Boyolali
sebelah 'sana' itu Waduk Cengklik

 

Cenklik Coffee ini bukan satu-satunya cafe/resto yang ada di daerah 'itu'. Di sebelah kiri dan kanan masih ada tempat nongkrong lain. Tapi, sebagian dari resto/cafe itu bukanya setelah jam 3 sore karena mereka mengusung tema 'sunset' yang indah sebagai tajuk untuk mengundang orang datang. 

Kami sepedaan hanya sekitar 26 kilometer hari ini. 

Sorenya, kami dolan ke Lokananta Bloc, naik taksi online, Ranz ogah kuajak naik sepeda lagi 😂 aku ingin melihat kedai buku Mata Patjar yang ada di sana. Harapanku ini seperti Lana Singgah atau cafe Slari yang menyediakan lumayan banyak buku untuk dibaca di tempat. Ternyata, tidak sebanyak yang ada di Lana Singgah maupun di Slari. Plus, variasi makanan/minuman di Mata Patjar ini tidak sebanyak yang ada di Lana maupun Slari. Tapi, jika anda tipe orang yang suka menjelajah cafe yang menyediakan buku untuk dibaca di tempat, it is worth visiting dan foto-foto 😀 

PT56 11.23 02 September 2026