Cari Blog Ini
Senin, 14 Agustus 2017
SEGOWANGI 42
SEGOWANGI 42
Segowangi 42 kita
selenggarakan pada hari Jumat 28 Juli 2017. Untuk memberi kesempatan yang ingin
latihan nanjak, aku memilih tema “Nanjak Yuk Nanjak”.
Sungguh satu hal
yang sangat membahagiakan waktu melihat begitu banyak wajah baru yang datang
kali ini. Apa karena tema dan rutenya nanjak yak? Si kembar Om Leo dan Om
Tatang yang jarang kelihatan di segowangi pun muncul. Yuhuuuuu ... Atau karena
Om Leo ikutan promosi event ini di beberapa grup yang dia ikuti? Well, sudah
lama sih aku tidak woro-woro di grup sepeda, semenjak si pembuat poster – Riu –
menikah tahun lalu. J Kalau pas
Avitt punya waktu senggang dan membuatkan poster, ya kupasang di akun instagram
‘b2wsemarang’. J
Di antara
wajah-wajah ‘baru’ namun sebenarnya wajah lama yang datang kali ini selain si
Kembar Om Leo dan Om Tatang, ada Tuhu dan istrinya yang datang jauh-jauh dari
kawasan Pudak Payung, dan Om Steven Susilo, yang mengaku sudah cukup lama
vacuum dari sepedaan.
Rute segowangi
kali ini : Balaikota – Tugumuda – Jl. Dr. Sutomo – RSUP Dr. Kariadi – Jl. S.
Parman – Jl. Rinjani – Jl. S. Parman – Taman Diponegoro – Jl. Kawi – Jl.
Sriwijaya – Jl. MT Haryono – Bubakan – Kota Lama – Jl. Pemuda – Balaikota.
Sampai jumpa lagi
di segowangi 43 ya kawan pesepeda!
LG 15.25
03/08/2017
Sabtu, 22 Juli 2017
LIVE! Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 4
LIVE!
Bikepacking Sidoarjo –
Semarang Day 4
Jumat 7 Juli 2017
Bersepeda Rembang – Semarang 122 kilometer
Kita siap-siap
mulai jam 05.30, mandi, ganti baju, packing yang terakhir kali, dan siap-siap.
Pukul setengah tujuh kita turun (kamar kita di lantai 2), mengeluarkan sepeda,
memasang pannier di sepeda masing-masing, kemudian menuntun sepeda ke dekat
tempat makan (dining room) yang terletak di belakang lobby hotel.
Pukul tujuh pagi
kita masuk ke dining room. Di dalam sudah penuh para tamu lain yang sedang
makan, maupun antri ambil makan. Menu yang disediakan biasa saja, nasi putih,
bakmi goreng, seafood soup, sosis, dan kerupuk. Juga ada roti dan selai di
samping pemanggang. Untuk minuman, disediakan jus jambu (plus es batu, bagi
yang ingin dingin), teh, kopi, dan air mineral. Semangka berwarna merah dan
kuning disediakan buat yang ingin sarapan buah. Rencana mau meninggalkan hotel
pukul tujuh pagi molor dah. LOL.
Usai makan, kita
check out di resepsionis.
Jelang pukul
delapan pagi kita keluar hotel. Angin kencang langsung menyapa kita. Waduh,
angin pantura yang kencang ini bakal memperlambat laju sepeda nih. L Ranz yang langsung terkesan ingin
buru-buru meninggalkan lokasi – menolak keinginanku memotret diri di depan
hotel dengan Cleopatra dalam kondisi siap melanjutkan perjalanan – langsung
memperburuk mood-ku. Fine. Angin kencang, Ranz yang maunya buru-buru. Good
start, eh? L
Benar saja, aku
tak bisa menggeber Cleopatra secepat sehari sebelumnya. Jika dalam perjalanan
WBL – Rembang aku bisa melaju dengan kecepatan sekitar 25 – 28 kilometer per
jam (kucek di cyclometer di handle bar Cleopatra), hari ini mentok hanya di 22
kilometer per jam, itu pun lebih sering hanya di kecepatan 18 – 20 kilometer
per jam. Jika aku terus dipaksa untuk mencapai kecepatan 22 kilometer per jam,
aku bakal tumbang di jalan. L
Bagi Ranz angin
yang berhembus kencang itu sama sekali tidak dia rasakan. Makanya dia heran
ketika aku tak mengayuh pedal Cleopatra secepat sehari sebelumnya. Beberapa
kali dia nanya, “Kamu kenapa?”
“Emang kenapa?”
tanyaku balik akhirnya, bete. LOL.
“Kok lajumu ga
secepat kemarin?” tanyanya, lugu, namun nyebelin. LOL.
“Ya ampuuun. Mosok
kamu ga ngerasain angin ini berhembus kencang sekali? Ga kayak kemarin??” aku
nyolot. LOL.
“Aku ga mau
kemalaman di jalan,” katanya lagi. Hadeeeh ... kalo pun kemalaman kan kita
bakal sudah sampai Semarang kan ya?
Akhirnya aku pun
mengancamnya, LOL, “Kalo kamu paksa aku cepat, tenagaku akan cepat habis, aku
ga bakal bisa sampai Semarang lho! Entar kamu sendiri yang repot!”
“Lihat di cyclo!
Kecepatan kita sekarang berapa?” tanyanya.
“Sembilan belas,”
jawabku, setelah melirik ke cyclo.
“Owh ... lumayan
juga ya? Tapi kok rasanya pelan sekali?” tanyanya heran.
“Ya iyalah ... lha
wong kita dihadang angin? Meski kecepatan kita lumayan, rasanya ya lelet!”
jawabku.
Akhirnya Ranz
ngalah. Mengimbangi kecepatanku mengayuh pedal Cleopatra. Namun ya gitu deh,
dalam perjalanan kita sama sekali tidak berhenti. Kita baru berhenti setelah
menempuh jarak 25 kilometer, kita mampir di satu mini market, posisi kita sudah
sampai di pusat keramaian Juwana. Aku beli teh botol di dalam kotak yang
dingin. LOL. Ranz beli susu kotak. Ga pake lama, setelah habis, kita langsung
melanjutkan perjalanan lagi.
Entah mengapa,
setelah mampir mini market ini, mood Ranz melunak. Dia tak lagi terlihat maunya
buru-buru. Di gapura selamat datang Pati, dia menawari untuk berfoto. (Sejak
meninggalkan hotel Kencana, ini kali pertama kita foto) J Kemudian setelah kita menambah jarak 10
kilometer dari minimarket, dia bertanya apakah aku tidak ingin ngopi. HWAAAAH!
Dia baik sekali!!! LOL. Aku langsung terus terang aku mengantuk, dan butuh
ngopi! LOL. Waktu sarapan di hotel Kencana, aku ga ngopi karena ingin minum jus
jambu.
You know why Ranz
melunak? Dia pun ternyata mulai diserang kantuk. LOL.
Kita pun
memperlambat laju sepeda, berharap menemukan satu warung kopi atau apa kek
dimana kita bisa mampir ngopi. Ketika kita melaju dengan lambat sambil ngobrol
itu, tiba-tiba seseorang menyapa, bertanya kita sedang dalam perjalanan dari
mana mau kemana. Dia naik motor dengan memboncengkan seseorang. Mungkin karena
dia melihat tulisan di kaos yang kita pakai “Bike 2
Work Semarang”, dia pun bercerita mengenal satu punggawa B2W Pusat,
Jakarta, Om Poetoet. Waaaa ... dia kenal Om Poetoet!
Kita sedikit
ngobrol sambil tetap melaju di jalan, aku dan Ranz naik sepeda, dia naik motor.
Saat itu kita sudah masuk pusat keramaian kota Pati. Seseorang yang kemudian
memperkenalkan diri sebagai Onthelis dari Pemalang, bernama Abu Amar itu mengajak kita mampir di
satu tempat untuk ngobrol-ngobrol sejenak. Wah, mumpung aku memang sedang butuh
ngopi nih.
Kita pun mampir di
satu warung makan. Jam menunjukkan pukul 10.30. Om Abu cerita dia dan istrinya
sedang dalam perjalanan dari Tuban menuju Pemalang. Mereka memang biasa
menempuh rute Tuban – Pemalang, maupun sebaliknya, naik motor. Jika om Abu
sendirian, dia akan naik sepeda onthelnya. Hwahhh ... LOL. Itu sebabnya dia
langsung tertarik menyapa aku dan Ranz ya? Hobinya sama. J
Pukul 11.00 kita
berpisah. Om Abu dan istrinya melaju terlebih dahulu. Aku yang habis minum
segelas es kopi – sedangkan Ranz minum 2 gelas es teh – langsung merasa jauh
lebih bergairah, tak lagi mengantuk. Apalagi, angin tak lagi terasa sekencang
di pagi hari. Horeee.
Menjelang masuk
Kudus, Ranz menawari untuk berhenti untuk berfoto di gapura selamat datang. Pukul
11.29. Namun waktu melewati alun-alun Kudus, Ranz tidak mengajak berhenti,
katanya toh aku sudah punya foto Cleopatra di Simpang 7 Kudus itu. LOL.
Jelang pukul 12.30
kita berhenti di hypermart, seseorang telah menunggu kehadiran kita, Riu.!
Yeay! Riu
yang di tahun 2010 dulu membuatku iri dengan perjalanan-perjalanannya naik
sepeda, LOL, yang sekarang ditempatkan kerja di Kudus, menunggu kita untuk
menraktir kita makan siang. Alhamdulillahhh. Jika sudah rejeki, ga akan lari
kemana yak? LOL. Tidak tanggung-tanggung, Riu menraktir kita di *stana *ie dan
Es.
Kita makan sambil
ngobrol sampai pukul 13.30. Untunglah kantor Riu terletak tak jauh dari hypermart,
dia cukup jalan kaki dari kantornya untuk menemui kita. Selama makan siang,
kita menitipkan sepeda pada satpam, di belakang pos satpam. J
Usai makan siang,
kita melanjutkan perjalanan. Ada seorang kawan lagi yang ingin menyambut kita
lewat, om Joko, punggawa OOT singkatan “Onto Onto Thok” alias pasukan sepeda
onthel Kudus. Rumahnya terletak sekitar 1 kilometer setelah melewati perbatasan
Kudus – Demak (jika kita dari arah Kudus).
Siang itu cuaca
panas sekali. Dan, bahwa rumah om Joko ada di sebelah kanan, dari arah Kudus,
plus ada “pulau jalan” yang memisahkan jalur kiri dan kanan, hingga kita tidak
begitu mudah menyeberang membuat Ranz enggan kuajak mampir. Akhirnya, kita
hanya berhenti di seberang rumah om Joko, dan memintanya menemui kita
menyeberang. J Kita
sempat ngobrol sejenak dan berfoto bersama. Setelah itu, kita melanjutkan
perjalanan.
Tak jauh setelah
kita mengayuh pedal kembali, aku sudah merasakan kehausan yang amat sangat,
disebabkan cuaca panas. Akhirnya kita mampir satu minimarket untuk membeli
minum.
Rute Kudus –
Semarang kita tempuh tanpa banyak berhenti untuk foto. Eh, malah kita sama
sekali tidak berhenti untuk foto, bahkan ketika melewati alun-alun Demak, Ranz
pun enggan kuajak mendokumentasikan keberadaan kita di depan tulisan SIMPANG 6
DEMAK. Alasannya sama : malas menyeberang. LOL.
Mendekati arah
Semarang, jalanan penuh kendaraan, traffic padat merayap. Namun masih untung
kita bisa terus melaju, meski tak sekencang yang kita inginkan.
Jelang pukul lima
sore kita telah sampai Balaikota Semarang. Yeayyy! We are back home!
Sampai bertemu di
kisah bikepacking kita berikutnya yaaa!
IB 10.00
22/07/2017
LIVE! Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 3
LIVE!
Bikepacking Sidoarjo –
Semarang Day 3
Kamis 6 Juli 2017 Bersepeda
WBL – Rembang 141 kilometer
Karena semalam sudah
packing, pagi ini kita ga terlalu terburu-buru. Ranz bangun pukul 05.00,
kemudian langsung melakukan ‘morning ritual’nya yang bisa butuh waktu 30 menit.
J Setelah itu baru gantian aku yang mandi,
kemudian mempersiapkan diri.
Sekitar pukul 06.15
kita sudah siap. Kita turun, mengeluarkan sepeda, kemudian memasang tas pannier
di sepeda masing-masing. Pak Imron kaget melihat kita sudah siap begitu pagi. Dia
berharap kita mau menunggu hingga sarapan diantar ke penginapan, baru kita
meninggalkan Wisma Bintang Maharani. Kita pun mengiyakan. Menunggu sarapan
datang, aku membuat kopi hitam di pantry, berharap aku ga bakal diserang rasa
kantuk dalam perjalanan. J
Sehari sebelumnya
sarapan datang pukul 06.30, namun pagi ini sarapan baru diantar ke penginapan
hampir pukul tujuh pagi. Aku yang lapar, langsung memakannya (aku tidak makan
malam malam sebelumnya); Ranz yang tidak bisa makan dalam waktu cepat memilih
untuk tidak langsung makan sarapannya. Menu sarapan pagi ini nasi + pecel +
telur ceplok + perkedel kentang.
Pukul 07.10 kita
pamitan pada pak Imron. Setelah memotret sepeda di depan penginapan, kita pun
mulai melaju meninggalkan kawasan WBL.
Kita melanjutkan
perjalanan dalam diam. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri. J Kita sempat berhenti sekali tatkala kita
melihat hamparan laut di sisi kanan (utara) untuk berfoto-ria. Kita berhenti
lagi setelah menempuh jarak 12 kilometer, kembali untuk memotret. Kebetulan
kita berada di atas jembatan Bengawan Solo yang melintas Lamongan. Di tiap
pemberhentian, kita hanya melewatkan waktu tak lebih dari 10 menit.
Trek ternyata masih
rolling, naik turun, hingga masuk Tuban. Namun, trek turunan lebih mendominasi,
ketimbang tanjakan. Disitu aku merasa bersyukur, kita memilih gowes Sidoarjo –
Semarang, dan bukan sebaliknya. LOL.
Spot berikut adalah
ketika kita akan masuk Kabupaten Tuban. Kita melihat ada tugu selamat datang. Rasanya
hatiku dag dig dug, kita akan napak tilas rute kita bikepacking Semarang –
Tuban di bulan Agustus tahun 2012. Di alun-alun kembali kita berhenti untuk
memotret sepeda. 5 tahun lalu kita makan malam di satu warung disamping
alun-alun itu.
Beberapa kilometer
dari alun-alun, sampailah kita di klenteng Kwan Sing Bio! Kita telah menempun
jarak 40 kilometer! Yeay! Berhenti untuk memotret sepeda jelas wajib hukumnya. J bahkan semula aku berharap aku bisa
menyempatkan diri untuk masuk klenteng dan mengabadikan keberadaanku di
klenteng Kwan Sing Bio di tahun 2017! Waktu menunjukkan pukul 09.40.
Rasa haus mulai
menyerangku. Seingatku 5 tahun lalu di seberang klenteng, di sisi pantai, ada
banyak orang jualan berbagai jenis makanan. Namun pagi itu suasana sepi. Tak
kulihat satu pun penjual. Aku dan Ranz memilih beristirahat di trotoar di
seberang kelenteng. Ranz pun membuka bekal yang dia dapatkan dari penginapan,
dan sarapan. Tak lama kemudian sekelompok orang yang mengenakan seragam satpol
pp berhenti, tak jauh dari kita. Oh ... mungkin sudah ada peraturan baru bahwa
orang-orang dilarang berjualan di trotoar, di sisi pantai itu. Hmmm ...
Beberapa satpol pp
itu menyapa kita dan bertanya kita sedang dalam perjalanan dari mana kemana. Aku
pun menjawab kita naik sepeda dari Sidoarjo dengan tujuan Semarang.
“Tujuannya apa?”
tanya seseorang.
“Tujuan kita ke
Semarang, pak,” jawabku sopan.
“maksud saya,
bersepeda dari Sidoarjo ke Semarang itu tujuannya apa?” tanyanya lagi.
Aku terhenyak. J Kita ngapain ya? LOL. Jadi ingat seseorang,
sekian tahun lalu, menulis status bahwa mereka yang bersepeda jarak jauh
niscaya sedang mendekatkan diri pada Tuhannya, jika setiap kayuhan mereka
persembahkan pada Tuhan. Well, tepatnya bagaimana, aku lupa. Tapi, ada
kaitannya dengan spiritual lah. J
Aku dan Ranz tidak
muluk-muluk sih. Perjalanan ini terjadi karena aku #sakaw, keinginan bersepeda
jauh antar kota itu begitu menggerogoti sukma (duh, lebay. LOL) hingga aku bakal depresi jika kembali bekerja
tanpa bikepacking terlebih dahulu. (lebay
kwadrat) LOL. Alasan Ranz jauh lebih simpel, menemaniku yang sedang
sakaw gowes jauh. LOL.
Meskipun begitu, aku
pun menjawab pertanyaan satu bapak satpol pp itu dengan sopan, “Oh, tujuan
perjalanan ini? Untuk mengisi liburan sih pak.” J Semoga jawabanku ini cukup memuaskan keingintahuan si bapak,
dan bukannya membuatnya semakin penasaran. LOL.
Usai sarapan, Ranz
ngecek jarak yang masih harus kita tempuh dari klenteng Kwan Sing Bio ke
Rembang. Ternyata google map menyatakan bahwa kita masih harus mengayuh pedal
sejauh 90 kilometer! Hal ini membatalkan keinginanku untuk sedikit eksplor
klenteng. L Dengan sangat terpaksa, kita langsung
melanjutkan perjalanan.
Sepanjang
perjalanan, Ranz bergeming. Dengan galak dia menolak permintaanku untuk
berhenti di spot-spot tertentu untuk foto-foto. Ketika melewati satu kawasan
wisata pantai, Ranz tidak mau mampir, meski hanya untuk satu dua kali jepretan.
Padahal sisi pantai di balik hutan bakau itu terlihat jelas dari jalan pantura
yang kita lewati. Hadeeehhh ...
Mendekati Alas Jati
Peteng, aku sudah ribut ingin berhenti untuk foto. Tapi Ranz menahanku, dia ingin
foto-foto di spot dimana ada posko mudik satu mie instant. Waktu kita lewat
daerah itu hari Senin dini hari, Ranz melihat posko itu masih ada. Bawelnya
Ranz ini kadang ngeselin. LOL.
Namun, ternyata,
setelah kita sampai di spot yang digunakan posko mudik itu, lokasi tersebut
sudah bersih, tak ada bekas-bekas bahwa disitu pernah digunakan posko mudik.
LOL. Hmfffttt ... Satu sisi positifnya adalah, kita ga berhenti untuk waktu
yang lama, hanya 5 – 10 menit untuk memotret sepeda, kemudian kita melanjutkan
perjalanan.
Sementara itu,
kerongkonganku terasa kian kering. Sejak meninggalkan kwan Sing Bio, di
sepanjang perjalanan aku berharap menemukan keberadaan warung kopi atau mini
market, namun ternyata aku tak melihat satu pun. Air minum dalam bidon pun telah
habis. Ternyata kita melewati daerah yang tidak ada mini marketnya dalam jarak
belasan kilometer. LOL.
Di satu warung
kelontong di kawasan Jenu, akhirnya kita berhenti untuk membeli minum.
Kebetulan di warung ini ada kulkas sehingga bisa membeli air mineral dingin.
Eitt, biasanya aku tidak pernah mau minum air mineral dingin jika sedang
menggeber sepeda dalam jarak puluhan kilometer. Namun siang itu aku begitu haus,
hingga aku memilih minum air mineral dingin.
Saat kita akan
meninggalkan warung, seseorang datang naik motor, dan langsung menyapa kita!
Wahh ... Yoni yang kuberitahu lewat sosmed bahwa aku sedang melewati Tuban
mengejar kita, untuk sekedar menyapa dan berfoto bersama. J Dia memang tinggal di Tuban. 5 tahun lalu
pun dia nyamperin kita ke hotel, mengajak kita mampir rumahnya, kemudian
menemani kita gowes ke Goa Akbar.
Setelah beramah
tamah dengan Yoni sebentar, kita kembali melanjutkan perjalanan. Ranz kembali
‘pelit’ ga mau begitu saja kuajak berhenti untuk foto-foto. LOL. Dia mau berhenti
untuk foto lagi ketika kita melewati gapura perbatasan Jawa Timur – Jawa
Tengah. Nah, ini spot penting soalnya, maka Ranz mengiyakan keinginanku. J Meskipun begitu, tak banyak foto yang kita
hasilkan kali ini, tak ada foto dimana kita berpose bersama, dengan Orenj dan
Cleopatra. Beda dengan 5 tahun lalu. :D
Tak lama kemudian
kita pun melanjutkan perjalanan kembali. Setelah melewati perbatasan Jawa Timur
– Jawa Tengah, trek cenderung datar, meskipun begitu hal ini tidak dengan mudah
membuatku jenuh maupun ngantuk. Mungkin kopi hitam yang kuminum sebelum
meninggalkan penginapan masih menyisakan efeknya. J Plus cyclometer yang nangkring di handle bar
Cleopatra memudahkanku ngecek sudah berapa kilometer jarak yang kita tempuh, ga
perlu mataku nanar mencari-cari petunjuk jarak yang biasanya ada di sisi jalan.
J Aku dan Ranz sama-sama fokus mencari
spot-spot dimana kita dulu mampir untuk berfoto maupun makan siang, 5 tahun
lalu. Ranz makan di satu rumah makan Padang, sedangkan aku di satu rumah makan
yang bersemboyan, “rasa bintang lima, harga kaki lima”. Namun ternyata setelah
membayar, harganya minimal dua kali lipat lah dibanding harga warung di kaki
lima yang sesungguhnya. LOL.
Kita berhenti di
satu warung sederhana untuk membeli es teh. Si penjual seorang perempuan yang
sudah cukup berumur, dibantu oleh anak perempuannya yang mengenakan cadar. (Jadi
kepikiran, di desa seperti ini ada juga perempuan yang mengenakan cadar ya?
LOL. Maafkan kenyinyiranku ini. LOL.) Hawa panas yang terus menerus mendera
membuatku merasa minum segelas es teh tidak cukup membasahi kerongkongan. LOL.
Maka, aku pun pesan gelas kedua. Harganya cukup murah, segelas hanya duaribu
rupiah.
Usai membasahi
kerongkongan, kita melanjutkan perjalanan.
Sorot sinar sang
surya yang terlalu ramah menyapa dengan mudah menguapkan basah di
kerongkonganku. Alias dengan cepat aku merasa haus lagi, ingin minum air dingin
lagi. LOL. Sekitar satu jam kemudian, kita mampir di satu warung mie ayam
bakso. Kali ini kita tidak hanya memesan es teh, namun sekaligus mie ayam satu
porsi yang kita makan berdua. Jadi teringat jika kita dalam perjalanan melewati
Karang Pandan – entah mau ke Tawangmangu maupun ke Candi Cetho / Sukuh, kita
biasa mampir di satu warung mie ayam di pertigaan Karang Pandan itu, membeli
satu porsi dan memakannya berdua. J Kita tidak terlalu merasa lapar, namun haus sekali. J
Sekitar pukul tiga
sore, usai makan siang itu, kita melanjutkan mengayuh pedal sepeda. Kali ini
kita tak lagi merasa perlu untuk mampir somewhere untuk beli minum maupun foto.
Apalagi mendekati Lasem, jalanan dipenuhi truck-truck besar. Ranz kian tidak
mengizinkanku berhenti untuk foto, meski laut yang menghampar di sisi utara
begitu mengundang untuk foto. Kita mengayuh pedal sembari menikmati pemandangan
laut, terkadang hamparan ladang garam, dengan sang mentari yang mulai turun di
sisi Barat.
Ketika melewati
jalan masuk menuju Pasujudan Sunan Bonang, mendadak Ranz berhenti dan
menawariku foto. Uhuyyyyy. Lumayan, buat dokumentasi, aku mampir disini dengan
naik Cleopatra! J
Aku cukup lega
setelah sampai di Pasujudan Sunan Bonang.
Ini berarti sekitar 4 kilometer lagi kita sampai di Masjid
Agung Lasem. Ini juga berarti alun-alun Rembang akan kita capai tak
lebih dari 12 kilometer lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Ga bisa
unjuk narsis di Masjid Agung Lasem nih, apalagi mampir ke klenteng Tju Ang Kiong atau Rumah
Candu. LOL. Ranz ga mau saingan di jalan raya bersama dengan truck-truck
berbadan besar itu selepas maghrib.
Syukurlah jelang
pukul lima sore, kita telah sampai di alun-alun Rembang. Kita sudah sampai!
Yeay! Usai memotret Cleopatra dan Orenj dengan latar belakang tulisan ALUN ALUN
REMBANG, kita menuju hotel Kencana, yang terletak di seberang pantai Dampo
Awang, tempat kita menginap 5 tahun lalu. Aku senang Ranz mau memilih menginap
di hotel ini lagi, napak tilas dong. J
Syukurlah di hotel
Kencana kita mendapatkan kamar dengan harga yang paling murah, Rp. 240.000,00
dengan fasilitas twin beds, AC, kamar mandi dalam dengan air panas, dan
sarapan. Air panas sangat membantu kita mengembalikan organ-organ tubuh rileks
setelah mengayuh pedal sejauh 141 km hari itu.
Malam itu, aku
menemani Ranz jalan ke alun-alun untuk makan malam. 5 tahun lalu kita cukup
menyeberang dari hotel, sudah ada para penjaja makanan kaki lima. Sekarang
sisi-sisi jalan raya itu sudah bersih. Tak apalah, meski ini berarti kita harus
berjalan kaki sejauh 2 kilometer pulang pergi.
Sebelum tidur, kita
packing terlebih dahulu, agar di keesokan hari kita bisa langsung cusss.
To be continued
To be continued
LIVE! Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 2
LIVE!
Bikepacking Sidoarjo –
Semarang Day 2
Rabu 5 Juli 2017 Jelajah Wisata Bahari
Lamongan dan Goa Maharani
Background:
Ketika kita
bikepacking Semarang – Tuban di bulan Agustus 2012, kita tergoda untuk
melanjutkan perjalanan menuju WBL setelah tahu bahwa jarak antara Tuban – WBL
hanya sekitar 40 kilometer. Namun karena keterbatasan waktu saat itu, kita
hanya dolan ke Goa Akbar, gowes keliling Tuban sedikit, kemudian langsung
pulang ke Semarang. Sempat terbetik keinginan kapan-kapan akan ke WBL dengan
naik sepeda dari Tuban, kita akan naik bus dari Semarang – Tuban, baru kemudian
bersepeda ke WBL. Ternyata ... keinginan ini menjadi nyata setelah 5 tahun
berlalu. LOL.
Di hari kedua ini
kita tidak punya agenda mengayuh pedal sama sekali. Kita akan menikmati liburan
dengan main-main di Wisata Bahari Lamongan! Yeayyy. Karena itulah, kita sangat
santai. Ranz bangun jam 06.00, kemudian melakukan kegiatan ‘wajib’ pagi hari di
kamar mandi. J Sementara
menunggu, aku keluar dari kamar, menikmati udara pagi nan segar di balkon.
Penginapan ini menghadap ke Timur. Kebetulan pagi itu mendung sehingga tak
nampaklah sang surya di langit.
Sekitar pukul
setengah tujuh, pak Imron – yang diberi tugas menjaga penginapan ini oleh si
pemilik – datang ke kamar kita, mengantarkan sarapan. Menunya nasi rames dengan
lauk daging bumbu pedas dan perkedel kentang. Lumayan enak.
Pukul delapan, aku
dan Ranz turun ke lantai satu. Aku membuat secangkir kopi hitam di pantry,
kemudian nongkrong di kursi yang disediakan di tengah-tengah lantai satu itu.
Di lobby, Pak Imron sedang duduk dengan seseorang, dan asyik mengobrol. Sekitar
pukul setengah sembilan, kita berjalan keluar, menuju WBL.
Setelah mampir ke
minimarket yang terletak di seberang WBL (ssshhhttt ... mesin ATM satu bank
swasta yang ada di dalam minimarket ini mengeluarkan uang limapuluh ribuan
baru, masih kinclong! Sejak semalam kulihat banyak orang mengantri di ATM ini
dan mengambil setumpuk uang limapuluh ribuan yang masih gres itu) dan mengambil
beberapa lembar uang limapuluh ribuan dari ATM, aku dan Ranz menyeberang ke
WBL.
Meski kemarin sore
kita sudah mampir untuk foto-foto bersama Cleopatra dan Orenj, sepeda yang kita
naiki, dengan wajah lusuh setelah menempuh jarak hampir 100 kilometer, sebelum
membeli tiket, kita foto-foto lagi di halaman depan WBL. Meski masih pukul
sembilan pagi, sudah banyak pengunjung yang datang. Sebagian dari mereka adalah
anak-anak sekolah dari beberapa kota di Jawa Tengah maupun Jawa Timur yang
sedang mengadakan ‘field trip’. Sebagian adalah pengunjung yang datang dengan
keluarga besar maupun keluarga kecilnya.
Tanggal 5 Juli 2017
masih masuk ke masa libur lebaran, hingga harga tiket pun ikut harga tiket di
masa lebaran. Kita berdua memilih tiket terusan yang berharga Rp. 145.000,00
untuk tiga lokasi: (1) Wisata Bahari Lamongan (2) museum 4 D (museum Sejarah
Islam) (3) Goa Maharani.
Ada banyak wahana
yang bisa kita nikmati di WBL. Meski telah menyediakan sehari penuh untuk
menjelajah WBL, ternyata kita tak punya cukup waktu untuk menikmati semuanya.
Ada lebih dari 35 jenis wahana gratis yang tersedia, namun kita hanya mencoba
tak lebih dari 11. (1) istana kucing (2) bioskop 3 Dimensi (3) istana boneka
(4) space shuttle (5) jet coaster (6) sarang bajak laut (7) planet kaca (8)
anjungan Walisongo (9) Texas (10) kano (11) bumper car. Di arena ketangkasan,
Ranz mencoba menembak. Untuk ini, kita harus membeli ‘peluru’ dengan harga Rp.
2000,00 untuk 3 butir peluru.
Kita makan siang di
dalam arena WBL. Ada beberapa lokasi food court di dalam, kita tinggal memilih
mau makan dimana. Oh ya, untuk masuk kedalam arena WBL, kita tidak
diperbolehkan membawa makanan berupa nasi dan bakmi. Kalau hanya cemilan sebangsa
biskuit, boleh.
Satu hal yang
membuatku sedih dan tak berani menjepret foto adalah ketika kita masuk kedalam
istana kucing. 10 tahun yang lalu, seingatku, yang kulihat adalah kucing-kucing
lucu, menawan, dan bahagia, meski mereka berada dalam satu ruangan tertutup
dengan kaca di satu sisi agar para pengunjung bisa ‘menonton’ kucing-kucing
yang banyak didatangkan dari luar negeri itu. Namun kali ini yang kulihat
adalah kucing-kucing yang nampak tertekan, tidak bahagia, karena terkungkung. L banyak dari mereka juga nampak tidak
terawat.
Waktu pun cepat
berlalu. Tahu-tahu waktu telah menunjukkan pukul 15.00. Maka kita pun
cepat-cepat keluar dari area WBL menuju area Goa Maharani. Kita melewati
deretan orang-orang penjual merchandise khas WBL. Kita sempat mampir ke satu
penjual dan membeli beberapa t-shirt untuk oleh-oleh orang rumah. Usai membeli
oleh-oleh, kita langsung menuju Goa Maharani, melewatkan museum 4 D karena
waktu yang sudah mepet, hampir jam tutup.
Di kawasan Goa
Maharani – yang ternyata namanya ditulis “Maharani Zoo dan Goa” (mengapa harus
menggunakan kata ‘zoo’ ya? Bukan ‘kebun binatang’? LOL) – kita bisa melihat
beberapa jenis binatang, mungkin itu sebabnya ada kata ‘zoo’ dalam namanya. J Namun, bagiku yang paling menarik dari
kawasan ini ya Goa Maharani.
Menurut www.wisatajatim.info Goa Maharani terkenal di awal dekade
sembilanpuluhan. Sejak tahun 2008, kawasan wisata ini menjadi dikelola menjadi satu
dengan Wisata Bahari Lamongan, dan para wisatawan bisa membeli tiket terusan
sehingga harganya bisa lebih rendah, dibanding beli tiket WBL sendiri kemudian
beli tiket Goa Maharani sendiri.
Menurutku, keindahan
stalaktit dan stalakmit goa Maharani tak kalah dengan goa
Gong di Pacitan. ‘Kalahnya’ hanya jika di goa Gong stalaktitnya bisa menghasilkan suara ‘gong’ jika dipukul, dan stalaktitnya pun panjang-panjang sehingga mudah diraih tangan, bahkan oleh seseorang sepertiku yang tingginya hanya 150 cm. J masuk akal sih karena konon stalaktit dan stalakmit goa Gong masih ‘hidup’; konon jka diukur, tiap tahun ukurannya memanjang.
Gong di Pacitan. ‘Kalahnya’ hanya jika di goa Gong stalaktitnya bisa menghasilkan suara ‘gong’ jika dipukul, dan stalaktitnya pun panjang-panjang sehingga mudah diraih tangan, bahkan oleh seseorang sepertiku yang tingginya hanya 150 cm. J masuk akal sih karena konon stalaktit dan stalakmit goa Gong masih ‘hidup’; konon jka diukur, tiap tahun ukurannya memanjang.
Namun, tetap,
keindahan goa Maharani tetap bisa bersaing dengan goa Gong. Untuk menjelajahi
goa Maharani, pihak pengelola telah menyiapkan trek sepanjang kurang lebih 350 meter.
Di beberapa titik dalam goa telah disediakan lampu sehingga kita tidak perlu
membawa senter. Dengan mudah kita bisa menikmati keindahan bentuk stalaktit dan
stalakmit yang ada.
Yang tak kalah
menarik adalah keberadaan Gallery Gemstone yang terletak tepat disamping Goa
Maharani. Disini, para pengunjung bisa mngamati berbagai macam koleksi batu
dari seluruh penjuru dunia, mulai dari amethys, emerald, jade, dan fosil kayu
yang usianya sudah ribuan tahun! Cukup membuatku ternganga melihatnya. Amazing!
Yang sangat istimewa adalah keberadaan beberapa batu mutiara yang dilengkapi
kaca pembesar sehingga kita bisa melihat keindahan di dalam batu secera detail.
Ada satu lokasi yang
juga menarik menurutku; yakni keberadaan ‘Mayan Village’. Kawasan ini ditata sedemikian
rupa hingga menyerupai satu daerah Afrika (African look) dengan dibangun
beberapa icon yang mengingatkan pengunjung tentang satu suku bangsa Afrika yang
telah punah suku Maya. Selain patung-patung berwajah Afrika dalam ukuran besar,
kita juga bisa mendapati miniatur kuil Aztec, yang bentuknya mirip Candi Sukuh.
Bagi anak-anak yang
ingin belajar tentang jenis-jenis satwa, tentu mempelajari satwa-satwa yang sebagian
khusus didatangkan dari luar negeri menjadi satu hal yang cukup menarik. Misal
ada beberapa macam binatang albino, seperti ular, tikus, dan kanguru; selain
juga ada berbagai macam jenis burung.
Pukul setengah lima
sore, kita berdua telah lelah. J kita pun keluar dari kawasan Maharani Zoo dan Goa; kita kembali
ke penginapan. Untunglah Wisma Bintang Maharania terletak hanya sekitar 300
meter dari situ. Kita cukup jalan kaki, tak lebih dari 15 menit. Saatnya
istirahat.
Malam itu, usai
mandi, kita packing. Keesokan hari kita akan melanjutkan perjalanan, mengayuh
pedal sepeda dengan menempuh jarak lebih dari 100 kilometer. Usai packing, aku
mengantar Ranz keluar untuk beli makan malam. Aku sendiri hanya perlu minum
wedang jeruk hangat.
To be continued.
Selasa, 18 Juli 2017
LIVE! Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 1
LIVE!
Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 1
Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 1
Aku menyadari bahwa
aku begitu alive, begitu hidup dengan
sepenuh kegairahan, tatkala mengayuh pedal dengan jarak tempuh ratusan
kilometer di depan, dalam sehari. Bersama soulmate-ku, Ranz. J
Senin 3 Juli 2017
Hari Senin 3 Juli
2017 kita sampai di rumah Simbok Poncokusumo sekitar jam 08.00 untuk mengambil
sepeda. Ini adalah kali pertama aku dan Ranz bersepeda antar kota dengan naik
mtb. Biasanya kita naik sepeda lipat, berangkat kita naiki, pulangnya sepeda
kita lipat, masuk ke dalam bagasi bus atau kereta.
Sekitar pukul 11.00
kita telah sampai Wonoayu, rumah sepupu Ranz dimana kita akan menginap semalam.
Waktu bersepeda dari rumah Simbok ke Wonoayu, kita tidak berhenti untuk
berfoto, kupikir hari Selasa waktu mulai gowes antar kota, kita akan lewat
Sidoarjo lagi, buat foto2, namun ternyata tidak. Ya sudahlah. Jadi ada alasan
next time main ke Sidoarjo lagi. heheheheh ...
Siang itu aku bobo J meski semalam aku kadang tertidur kadang
melek selama perjalanan Semarang – Sidoarjo, mataku tetap butuh tidur yang
sungguh-sungguh tidur. J sorenya aku
dan Ranz jalan-jalan di kompleks perumahan itu, bersama 2 keponakan Ranz. Kata
Ranz, perumahan ini dibangun sebagai ganti tempat tinggal para korban lumpur Lapindo.
Selasa 4 Juli 2017 Gowes Sidoarjo - WBL 98 kilometer
Dari google map,
kita dapati bahwa jarak yang akan kita tempuh hari ini sekitar 90 kilometer,
jika dari Wonoayu kita langsung menuju arah Krian – Gresik. Namun jika kita ke
arah kota Sidoarjo terlebih dahulu, kemudian lewat Surabaya, jarak yang kita
tempuh sekitar 110 km. Seperti biasa, aku dan Ranz ‘suut’ untuk menentukan
siapa yang akan memutuskan. Kekekekeke ... Ranz menang, jadilah kita langsung
belok ke arah Krian, tidak kembali ke arah Sidoarjo.
Pukul 06.30 kita
sudah siap untuk mulai bersepeda. Namun sepupu Ranz meminta kita untuk
menunggunya mempersiapkan sarapan.
![]() |
| di depan rumah sepupu Ranz |
Pukul 08.00 kita
meninggalkan rumah sepupu Ranz, setelah sarapan nasi pecel. Tak lupa kita juga
dibekali satu plastik kacang telor dan tiga buah jeruk. Sebenarnya kita juga
diminta membawa bekal nasi + pecel dan lauknya, tapi dengan sangat terpaksa
kita tolak karena tas pannier sudah penuh, tak bisa kita selipin apa pun lagi.
Seperti yang kutulis
di atas, kita langsung belok menuju arah Krian, lanjut ke Legundi. Trek yang
kita lewati lumayan berkontur, rollingnya cukup terasa. Yang agak ‘mengganggu’
adalah sepanjang jalan, kita terus menerus dipepet oleh truck-truck yang
melewati jalan yang sama. Kita benar-benar harus ekstra hati-hati. Matahari
yang bersinar super cerah pun dengan mudah membuat kita berkeringat. J yeay.
Now and again, kita mengecek google map untuk memastikan kita berada di rute yang tepat. Ranz
memilih jalur pantura untuk mempermudah perjalanan, karena jika lewat kota,
meski terkadang mempersingkat jarak tempuh, namun jika tidak tahu, kita malah
justru berputar-putar. J
Ranz tidak terlalu
memacu sepeda dengan kencang, cukup dengan kecepatan rata-rata 25 kilometer per
jam (menurut cyclometer yang menempel di handle bar Cleopatra). Setelah
menempuh kurang lebih 15 kilometer kita mampir di satu mini market untuk
membeli air mineral, air di bidon telah habis. (waktu berangkat bidon tidak
terisi penuh.) meski baru sekitar jam setengah 10, panasnya terasa sekali.
Di satu bunderan
(terminal kota Gresik, kalo tidak salah), kita salah belok. Bukannya menyusuri
jalan pantura, namun kita justru masuk kota. Ranz baru ngeh ketika kita
melewati pintu masuk tol, dan setelah sekian kilometer kita tidak berpapasan
maupun dilewati truck. Nah lo. LOL. Kejadian ini membuat Ranz semakin rajin
ngecek google map, khawatir kita kian ‘tersesat’. LOL. ‘keblusuk’ ini justru
membuat kita lewat Taman Makam Pahlawan kota Gresik, kemudian arah yang kita
tuju membawa kita masuk ke perumahan Gresik Kota Baru, dimana kita bertemu
dengan spot cantik untuk foto-foto. J (nampaknya icon GKB ini masih baru, sehingga masih banyak orang
lewat yang menyempatkan berhenti untuk berfoto-foto, bukan hanya kita yang
passerby dari luar kota.
Sebenarnya aku
sedikit merasa ngantuk. Ketika melihat penampakan satu gerai fastfood ketika
melewati pusat keramaian GKB, aku ingin mengajak Ranz mampir, untuk membeli
iced coffee-nya yang lumayan enak. Tapi, ketika aku bertanya apakah dia sudah
lapar dan ingin makan, Ranz dengan tegas bilang tidak mau berhenti untuk makan
sebelum kita mencapai jarak 50 kilometer, lebih dari setengah jarak yang harus
kita tempuh. Ya sudah. Bye bye iced coffee.
Setelah kita keluar
dari perumahan Gresik Kota Baru, kita segera menemukan kembali jalur pantura,
jalur yang membuat kita tak perlu sering-sering ngecek google map karena
tinggal (nyaris) lurus saja. Meski di jalur ini kita kembali bersaing dengan
kendaraan-kendaraan berbadan besar, Ranz tetap terlihat riang gembira karena
kembali ke jalur yang dia harapkan. J Tidak hanya itu, tak lama kemudian, sekitar 15 menit berlalu,
Ranz menawari apakah aku mau makan siang, saking leganya dia. Ranz mengajak
mampir ke warung ‘Warung Bebek Urap Cak Ipul” di jalan raya Manyar. Ini pukul
12.40, jarak yang telah kita tempuh 48 kilometer.
Aku belum pernah
pesan bebek untuk diri sendiri selama ini. Namun karena nama warungnya “bebek
urap” dan aku kurang perhatian bahwa di daftar menu juga ada pilihan ayam, aku
pesan bebek urap dua porsi, satu buatku, satu buat Ranz. Satu porsi bebek urap
plus nasi Rp. 25.000,00; satu gelas jumbo es teh Rp. 5000,00. Penasaran apakah
‘bebek urap’ itu? Daging bebek dibakar, kemudian diberi urap / gudangan sebagai
sayurannya. Hanya begitu. LOL. Untunglah, rasanya nikmat, sambalnya juga enak,
tehnya pun pas dengan seleraku.
Setelah maksi, kita
mencari tukang tambal ban karena ban depan Cleopatra mendadak gembos, ketika
aku memarkirnya di depan warung Cak Ipul. Untung tak jauh dari situ ada tukang
tambal ban, aku hanya perlu menuntun Cleopatra sekitar 300 meter. Setelah
dicek, ternyata oh ternyata, ban dalam Cleopatra tidak hanya bocor, namun sobek
sekian sentimeter. Entahlah apa penyebabnya. Untunglah (kita ‘beruntung’ lagi
LOL) si bapak tukang tambal ban bersedia membelikan ban dalam. Problem solved!
Kemudian kita
melanjutkan perjalanan. Trek kembali terasa rolling, naik turun terus menerus.
Tak ada rasa kantuk maupun jenuh. Cleopatra terasa ringan dikayuh. Ranz
menawari berhenti untuk foto-foto ketika kita melewati Alas Jati Panceng. Ini
sekitar pukul 15.45, jarak yang telah kita tempuh sekitar 85 kilometer.
Di pagi hari kita
memperkirakan jarak yang kita tempuh sekitar 90 kilometer, dari Wonoayu sampai
WBL. Setelah melewati kilometer 90 (menurut cyclometer yang nangkring di handle
bar Cleopatra) aku bilang ke Ranz yang katanya ingin ‘live’ di facebook. Namun
ternyata, sesampai kita di pintu gerbang WBL, jarak yang kita tempuh kurleb 97
kilometer. LOL. Well, mung kin karena kita masuk ke kota Gresik, dan
berputar-putar mencari jalan keluar. Setelah memotret sepeda dan diri sendiri
LOL di depan WBL, kita ke penginapan Wisma Bintang Maharani. Penginapan ini
terletak sekitar 300 meter sebelah Timur Goa Maharani, masuk gang.
Ranz telah booking
satu kamar disini. Dia booking kamar non-AC dan kamar mandi luar, dengan harga
Rp. 200.000,00, untuk mengirit budget. Namun kemudian Ranz sendiri memutuskan
untuk meng-upgrade kamar yang akan kita tempati, menjadi kamar ber-AC. Aku sih
senang-senang saja. Harganya terpaut Rp. 100.000,00 dan kita dapat sarapan
gratis. Lumayan lah.
Untuk minuman
selamat datang, kita mendapatkan dua botol air mineral dan sebungkus biskuit
kelapa. Pak Imron – si penjaga penginapan – mempersilakan kita untuk ke pantry
di lantai satu jika ingin membuat teh maupun kopi. Teh, kopi, dan gula
disediakan disana. Tidak ada kompor, namun ada dispenser dengan air panas dan
dingin.
Setelah check in,
mandi, istirahat sebentar, sekitar pukul 19.00 kita keluar: Ranz butuh makan
malam. Aku hanya butuh minum es teh. J Kita keluar berjalan kaki, mampir ke satu minimarket terdekat
untuk beli pasta gigi dan air mineral, sebelum ke satu warung penyetan.
To be continued!
Sabtu, 01 Juli 2017
SEGOWANGI 41
SEGOWANGI 41
Baru tahun ini,
B2W Semarang tidak mengadakan segowangi di sepanjang bulan Ramadhan. Ya
kebetulan aja waktu kita mengadakan segowangi ke 40, 25 Mei 2017, belum masuk
Ramadhan; pelaksanaan segowangi ke-41, 30 Juni 2017, bulan Ramadhan sudah usai.
J
Segowangi ke-41
yang kita laksanakan pada hari Jumat 30 Juni 2017 kita beri tema : halal bi halal, mumpung suasana Idul
Fitri masih hangat. J dan karena
bulan Juni adalah bulan ‘lahir’nya B2W Semarang, kupilih kaos/jersey warna
kuning sebagai dress code. J
Di antara mereka
yang datang, ada seorang ‘wajah lama’ yang sayangnya aku malah belum kenal. :D Namanya
om Aryo. Dia bilang dia beli jersey ‘legendaris’ B2W Semarang (aku menyebutnya
‘legendaris’ karena ini adalah jersey pertama yang kita buat di tahun 2008) dan
biketag B2W Semarang (yang pertama, yang bentuknya masih kotak) di tahun 2008
itu. Wuiiihhh ... Om Aryo datang karena ingin mengucapkan salam perpisahan
karena beliau mau pindah ke Jember. Walaaahhh ... aku baru kenal malam itu, dia
malah mau ninggalin kota Semarang. J
Satu wajah lama
yang juga hadir adalah om Budenk, yang mencetuskan pembentukan B2W Semarang
maupun Komselis. Selain itu, ada juga beberapa wajah yang sudah mulai jarang
datang karena kesibukan masing-masing. Mungkin karena temanya ‘halal bi halal’
ya ... sekalian J
Ranz tidak datang
kali ini karena masih ada acara keluarga di Solo – maklum lebaran. Aku minta
tolong Avitt untuk memotret, menggunakan hapenya. Pak Guru Primazan juga
membantu memotret, menggunakan hape Avitt. J
Rute : Balaikota –
Tugumuda – Jl. Sugiyopranoto – Jl. Jendral Sudirman – Jl. Anjasmoro – PRPP –
Semarang Indah – Jl. Indraprasta – Jl. Imam Bonjol – Jl. Tanjung – Jl. Thamrin
– Jl. Pandanaran – Tugumuda – Jl. Imam Bonjol – Jl. Pierre Tendean – Jl. Pemuda
– Balaikota.
LG 15.15
03/08/2017
Langganan:
Postingan (Atom)






















