Cari Blog Ini

Kamis, 16 November 2017

Bersama Austin, dolan ke Masjid Kapal

Bersama Austin, dolan ke Masjid Kapal

Setelah dua kali nyambangi masjid kapal yang terletak di daerah Palir (nama daerahnya, aku lupa) naik Cleopatra, aku kepingin mengunjunginya dengan naik Austin. Ini judulnya aku mulai ga pede apakah aku masih mampu nanjak naik sepeda lipat 20”. :D


Untuk mengisi perut agar bertenaga menapaki tanjakan sepanjang jalan selepas pertigaan pasar Jrakah, aku mampir beli burjo di Jalan WR Supratman. (burjonya enak, pas untuk seleraku. Sayangnya, karena jalan ini sedang diperbaiki, sekarang si penjual burjo pindah, entah kemana, dan aku belum berani pindah ke lain hati. LOL.) setelah itu, langsung tancap gas, eh, pedal ke arah Barat. Dari Kalibanteng menuju pertigaan Jrakah, jalan lumayan ‘bergelombang’, untuk pemanasan.

Setelah belok kiri selepas pasar Jrakah, trek mulai didominasi tanjakan, meski ada turunan juga. Alhamdulillah aku masih mampu melewati tanjakan BPI maupun Esperanza tanpa berhenti.

Aku sengaja tidak langsung belok kanan setelah bertemu jalan belok yang ada tulisan “VILLA LON JATEN”. Aku terus ke arah BSB, untuk memotret Austin di kawasan yang ditata indah itu. Aku juga sempat belok ke arah danau buatan milik perumahan BSB. Setahun yang lalu aku bersama beberapa kawan kesini, tapi ga menunggu lama, seorang satpam langsung menegur kita, dan meminta kita pergi. J namun, kali ini ga ada seorang satpam pun yang datang mengampiriku. Mungkin karena aku sendirian ya? J


Aku sempat memotret Austin dengan latar belakang danau dua kali. Setelah mengaplotnya ke sosmed, aku melanjutkan perjalanan, kembali ke arah semula aku datang. Aku mengambil jalur yang sama, ke jalan belokan menuju villa Lon Jaten. Jika terakhir kesini naik Cleopatra aku beberapa kali berhenti memotret Cleopatra dengan latar belakang ‘hutan’, kali ini aku terus saja. Tidak pake berhenti.

Aku lupa jam berapa sampai di masjid kapal. Tapi kulihat sudah ada satu dua warung yang buka. (Pertama kali kesini sekian bulan lalu, aku sampai sini belum ada jam 07.00 pagi, belum ada satu warung pun yang buka.) Aku tidak masuk ke masjid karena sudah pernah. Aku hanya memotret Austin dengan latar belakang masjid. (Ini hukumnya wajib! J untuk dokumentasi.)


Usai memotret Austin, aku mampir ke satu warung makan, beli es teh, dan pecel tanpa nasi. Semangkuk burjo yang kumakan sebelum berangkat, sudah menguap dalam perjalanan. LOL.

Sampai aku meninggalkan lokasi, kulihat area masjid kapal masih sepi. Mungkin karena bukan hari Minggu.

Aku kembali mengambil trek yang sama dengan sebelum ini, yakni begitu keluar dari area masjid, aku belok kanan. Mengikuti jalan yang ada, sampai di satu lokasi, belok kanan. Terus menyusuri jalanan yang ada, aku sampai ke satu perempatan, dimana ada petunjuk jalan. Jika lurus, kita akan sampai di kawasan Kedungpane, belok kanan Palir, belok kiri Mangkang. Terakhir kali lewat sini, aku memilih lurus. Kali ini, karena masih ingin dolan, lol, aku belok kiri, menuju Mangkang, tinggal siapin mental saja jika ternyata ketemu dengan tanjakan. Lol.


Jalannya lumayan sempit, meski masih bisa jika dua mobil berpapasan. Di kiri kanan hutan, yang berarti jalan ‘alternatif’ ini dibuat dengan memapras hutan. L meski trek sedikit ‘bergelombang’, kebanyakan trek turunan, bonus dari tanjakan sepanjang Jrakah menuju BSB.

Aku pun melewati jembatan yang di bawahnya sedang dibangun jalan tol yang menghubungkan Batang – Semarang. Wuiiiih.

Di ujung jalan, trek menyempit, dan ... aku muncul di samping pasar Mangkang. Ahhh ... dulu, ada seseorang yang ngompori aku untuk mencoba tanjakan Palir (aku sudah lupa siapa LOL), dengan belok ke jalan di samping pasar Mangkang. Namun, waktu itu, aku ragu-ragu, melihat jalan yang sangat sempit. Apalagi itu dekat pasar, sehingga penuh dengan orang-orang yang lalu lalang. Dan ... ternyata memang benar jalan itu! J

Dengan pede, aku belok kanan, menuju kota Semarang, meski aku kepengen memotret Austin dengan latar belakang tulisan KOTA SEMARANG. Setelah mengayuh pedal beberapa kilometer, aku ga menemukan tulisan itu, aku baru ngeh, aku salah. Seharusnya aku belok kiri waktu keluar dari jalan sempit itu. LOL.


Setelah mampir di satu pom bensin untuk ke toilet, aku kembali ke arah Barat, ketemu dengan tulisan KOTA SEMARANG, memotret Austin, dan ... lega. LOL.

Aku sempat mampir ke satu warung untuk minum es teh sambil menonton kendaraan2 yang lewat (segerombol polisi sedang mengadakan razia, tak jauh dari tempat aku duduk, entah razia apa, karena waktu itu belum saatnya OPERASI ZEBRA.)

Kalau tidak salah itu masih sekitar pukul 10.00, tapi panasnya terasa seperti sudah pukul 12.00. L

Setelah habis satu gelas es teh, dan puas menonton kendaraan yang lewat, aku kembali mengayuh pedal Austin, kembali ke arah kota.

Sepedaan sendirian, di bawah terik sinar matahari, dengan traffic yang padat, kita harus tabah. LOL.

Ketika melewati Jalan Tapak (sebelah kiri), aku ingat, aku ingin mampir kesini, tapi panasnya hawa siang itu, dengan mudah menyedot tenagaku. LOL. Akhirnya kuputuskan terus saja, langsung pulang. J


LG 14.54 15/11/2017 

Selasa, 14 November 2017

Gowes Menengok Tapak dan Candi Tugu

Kawasan mangrove yang terletak di Tapak - Jrakah telah menjadi salah satu tujuan kita gowes sejak beberapa tahun lalu, baik hanya aku dan Ranz, maupun bareng-bareng yang lain. (Kisah gowes narsis ke Tapak empat tahun lalu bisa dibaca di link ini.)

Sekian tahun berlalu. Awal November kemarin, akhirnya aku mengadakan acara bersepeda bareng di hari Minggu pagi kesana lagi karena ternyata oh ternyata, seorang Hesti belum tahu dimanakah lokasi mangrove Tapak itu. LOL. (Well, beberapa bulan terakhir ini aku semakin malas mengadakan migoreng a.k.a hari Minggu Pagi Gowes Bareng, malah seringnya sepedaan sendirian, gegara Ranz jarang ke Semarang. Ini bukan ngeles. LOL.)

Tanggal 5 November 2017 itu pun kita sepedaan tanpa Ranz, ga ada yang motretin kita. Om Budenk -- salah satu fotografer handal kita di event 7amselinas -- ikut, tapi beliau berangkat agak siang, sehingga menyusul. Well, mungkin bukan om Budenk yang kesiangan, kita aja yang berangkatnya kepagian. LOL.

Dan ... seperti yang kita lakukan empat tahun lalu, setelah bersepeda ke kawasan Tapak (berhubung sehari sebelumnya turun hujan yang cukup deras, kita ga sempat blusukan sampai ke dalam), kita mampir ke Candi Tugu dalam perjalanan pulang.

Catatan untuk Candi Tugu : lokasinya kian menyedihkan, dengan rumput ilalang yang tumbuh disana sini, nampaknya kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah kota Semarang. :(









Rabu, 01 November 2017

Segowangi 45

Penyelenggaraan segowangi di bulan Oktober 2017 ini berbeda dengan sgowangi di bulan Oktober tahun-tahun lalu. Biasanya aku stuck dengan tema halloween, kali ini aku menggunakan tema BERSEPEDA TUNGGAL IKA. Well, istilah ini bukan asli buatanku. Sekian tahun lalu beberapa kawan pesepeda dari B2W Kudus telah menggunakan istilah ini ketika membuat kaos bertema bike to work mereka. BERSEPEDA TUNGGAL IKA ... dengan makna naik sepeda dengan berbagai jenis sepeda yang kita miliki, tetap saja kita ngonthel bareng. :)

Segowangi ke-45 kita selenggarakan pada hari Jumat tanggal 27 Oktober 2017. Seperti biasa kita berkumpul di Balaikota, baru kemudian bersama-sama kita bersepeda keliling kota Semarang.

Hujan sempat cilukba dengan kita malam itu, sehingga bisa dipahami jika tidak begitu banyak kawan pesepeda yang datang.

Di ujung sepedaan, kita diajak mampir ke warung ayam geprek Om Tatang (kembarannya Om Leo) yang beralamat di Jalan Gajahmada no. 7 Semarang. :)






Selasa, 31 Oktober 2017

Vlog Biketrekking to Semirang Waterfall

Below is the vlog of our biketrekking to Semirang waterfall :) Enjoy it

while the writing can be viewed here.


Selasa, 17 Oktober 2017

Menjemput Minul

Menjemput Minul

Latar belakang

Hari Minggu 8 Oktober 2017 aku menemani Ranz membawa kembali dua sepeda lipatnya ke Solo, yang dia bawa ke Semarang beberapa minggu sebelumnya untuk dipakai dalam 7amselinas. Pockie – sepeda lipat pocket rocket 20” – dipakai oleh Dwi karena Oddie – sepeda lipat miliknya – telah dia bawa ke Tangerang. (Dwi pindah ke Tangerang sejak Juli 2017 demi menyongsong masa depan.) Astro – sepeda lipat terbaru milik Ranz; polygon urbano 3.0 – untuk dinaiki Ranz sendiri. Ternyata ketika tahu kita berdua akan ke Solo pagi itu, Avitt ngikut, mengajak Minul, sepeda lipat urbano 2.0.

Ternyata hari Minggu malam waktu kita NR, ban depan Minul bocor. L ketika kita memutuskan tetap berangkat NR : aku naik Pockie, Ranz naik Jean Grey, dan Avitt naik Shaun, ternyata hujan kembali turun. Terpaksa kita tidak jadi keliling Solo. Kita hanya makan malam ayam geprek, kemudian mampir ke wedangan Pak Basuki yang kelezatan teh nasgitel-nya tidak ada duanya. Keasyikan ngobrol disini lah – bersama dua kawan pesepeda dari Solo, Awan dan Fuad – kita pulang terlalu malam, dan tukang tambal ban tempat kita menambalkan ban depan Minul sudah tutup. Akhirnya Senin pagi aku dan Avitt balik ke Semarang tanpa membawa sepeda. J

Jumat 13 Oktober 2017


Ranz berinisiatif membawa Minul ke Semarang, dan tidak menunggu Avitt menjemput ke Solo. Dan, kita ngedate di Kampung Kopi Banaran. J Ketika aku bilang ke Ranz ingin naik Cleopatra dari Semarang, dia menahanku melakukannya. Sebagai ganti, dia minta aku loading saja, dan ini berarti aku membawa Austin. Aku setuju, sekalian aku ingin ‘berdandan ala’ peserta 7amselinas. J Sejak mendapatkan goodie bag berisi pernak-pernik peserta 7amselinas, jersey peserta 7amselinas belum kupakai. Ranz pun setuju mengenakan jersey peserta 7amselinas. DEAL!

Austin di Gombel

Aku berangkat dari kawasan Banjirkanal Barat sekitar pukul 06.30. Perjalanan lancar sampai Sukun, sekitar satu jam kemudian. Di Gombel tidak ada kemacetan. Sesampai Sukun, kebetulan ada sebuah bus jurusan Solo yang sedang ngetem, aku langsung naik. Sedikit ketidaknyamanan karena mendadak Austin sulit dilipat ternyata tidak membuatku kesulitan; sang kondektur malah memintaku tidak usah melipat Austin, kecuali setangnya. Akhirnya Austin pun naik ke dalam badan bus (bukan di bagasi) dan diletakkan di antara deretan kursi paling belakang dengan kursi yang ada di depannya. Aku pun duduk di bangku di deretan belakang. Aku cukup membayar Rp. 10.000,00. Wah ... J

FYI, suasana bus cukup sepi. Mungkin karena sudah bisa mengira bahwa bus bakal sepi, sang kondektur menyuruhku langsung menaikkan Austin ke dalam bus, tanpa perlu melipatnya.

Bus sampai di terminal Bawen sekitar pukul setengah sembilan. Setelah turun dari bus, aku melihat 2 bus Trans Jateng sedang ngetem. Wah ... andai boleh membawa sepeda lipat ke dalam bus Trans Jateng, para lipaters dari kota Semarang bagian bawah ga perlu repot menaiki sepedanya ke Sukun yak? J


Setelah keluar dari terminal Bawen, trek turunan menyambutku, menuju Kampung Kopi Banaran. J ini berarti aku harus siap-siap menanjak waktu meninggalkan KaKoBa nanti. J

Aku sampai di KaKoBa sebelum jam sembilan. Ranz datang sebelum jam 10. Dan ... ternyata dia tidak loading! Dia naiki Minul dari Solo ke KaKoBa. Hmft ... curang dia! Aku ga dia bolehin nyepeda dari Semarang, dia sendiri ngonthel. Hadeeeeh ...





Kita meninggalkan KaKoBa sekitar pukul satu siang. Perjalanan menuju Semarang kita disuguhi cuaca yang sangat variatif: mulai dari panas, mendung, hingga hujan. Untunglah hujan tidak pernah turun terlalu lama, hingga kita tak perlu repot-repot merasa perlu mengenakan mantel. Kita memang harus berhenti, namun agar Ranz bisa menyelamatkan kamera yang dia bawa ke dalam tasnya yang water proof.

Kita sampai kos Ranz sekitar pukul setengah empat sore, sempat mampir ke angkringan dua kali. Yang pertama di Ungaran, yang kedua di jalan Suyudono.

LG 13.48 17/10/2017

Ini dia penampakan Minul :)



Rabu, 11 Oktober 2017

Video 7amselinas 2017

Di bawah ini bisa kita saksikan video resmi dari panitia, Komunitas Sepeda Lipat Semarang.

Jika tidak anda temukan wajah anda di video ini, jangan putus asa. Carilah di video-video lain yang diunggah oleh para peserta 7amselinas 2017. Search ajah di youtube. :)



7amselinas 2017 Day 3

Day 3 Minggu 17 September 2017

Khusus di hari ketiga ini, panitia menyediakan dua pilihan acara. Yang pertama, gowes Minggu pagi nyantai ke Maerakaca miniatur Jawa Tengah yang pernah sangat terkenal di pertengahan dekade sembilanpuluhan, namun kemudian terbengkalai sepuluh tahun kemudian. Syukurlah setelah para pesepeda kembali dolan kesini, membuat foto-foto ngehits – thanks to sosial media – membuat pemerintah kota Semarang kembali melirik tempat ini lagi. (Ge-er boleh dong ya? LOL.) Tahun 2017 ini Maerakaca kembali bersolek. Area mangrove yang telah ada pun dihiasi dengan jembatan bambu yang nampak artistik jika difoto.

Pilihan kedua adalah bersepeda 7up, alias 7 tanjakan. Adalah satu kebetulan jika angka 7 ini pas dengan penyelenggaraan jamselinas ketujuh di Semarang. J 7 tanjakan itu yakni Jalan Kawi, Jalan Siranda, Jalan Sumbing, Jalan S. Parman (yang juga dikenal sebagai jalan Gajahmungkur), Jalan Bendan yang melewati Stikubank, Jalan Bendan yang melewati Unika, dan terakhir yang paling terkenal yakni Gombel. Di antara ketujuh tanjakan ini, yang terkenal paling curam adalah jalan Sumbing. Khusus untuk pilihan kedua ini, peserta hanya dibatasi sejumlah 125 orang, karena akan ada reward khusus bagi yang lulus 7up.

Karena pilihan kedua ini diusulkan oleh om Ariyanto, maka dia lah yang mengurusi hal ini. Dan karena waktu pelaksanaan ini tidak meminta bantuan dari panitia lain, selain fotografer (Om Budenk dan Om Agung Tridja menyediakan diri menjadi fotografer). Panitia lain pun tumplek bleg menuju Maerakaca. Meskipun yang lain tumplek bleg, jumlah kita jauh lebih sedikit ketimbang ratusan peserta yang ikut ke Maerakaca. Jadi, jika di antara peserta yang merasa kurang dibantu dalam hal difoto maupun diberitahu titik-titik bagus mana untuk berfoto ria di dalam Maerakaca, mohon maaf.

Setelah Maerakaca, kita kembali melanjutkan perjalanan, menuju Kota Lama, untuk memberi kesempatan mungkin ada yang belum sempat berfoto-foto waktu night ride Jumat malam, bisa memuaskan diri untuk foto-foto kali ini.

Peserta bubar di Kota Lama. Mereka pun kembali ke hotel masing-masing untuk persiapan check out dan kemudian kembali ke kota tinggal masing-masing.

Setelah meninggalkan Kota Lama, aku dkk sempat mampir ke hotel Novotel dimana Om Mada menginap, untuk melihat kondisinya. Dari sana, sebagian dari kita mampir ke hotel Amaris, untuk melihat kondisi terakhir Shabrina.

‘Pesta’ naik haji para lipaters Nusantara yang ketujuh telah selesai digelar. Semoga kenangan-kenangan indah terus dikenang. Jika ada yang mengganjal di hati, mohon dimaafkan. Seperti kata pepatah, tak ada gading yang retak; sekuat apa pun panitia mencoba mempersiapkan acara ini, tentu ada bolong disana sini.

Thanks a million all folding bike lovers. WE ROCK!


LG 15.07 10 / 10 / 2017