Cari Blog Ini

Sabtu, 30 Maret 2013

Bikepacking Solo - Purwokerto (Day 2)



Day 2 : 20 Maret 2013 Gowes Melintasi desa waktu KKN (Wates – Gombong)

Rencana semula yakni hari kedua kita harus sudah sampai Gombong tetap kita ikuti. Setelah sarapan (menu yang disediakan oleh hotel: nasi goreng dan teh panas), kita meninggalkan hotel sekitar pukul tujuh pagi. Sayangnya, kita tidak bisa langsung gowes karena ban belakang Pockie bocor. Untunglah, tak jauh dari hotel ada tambal ban, hingga tak perlu mendorong Pockie jauh-jauh untuk mencari tambal ban. meski si Bapak tukang tambal ban bekerja dengan lamban, and Ranz kept complaining. LOL.


Si Bapak tukang tambal ban :)
Sekitar jam 9 kita mulai gowes meninggalkan ‘pusat’ kota Wates. Mengikuti rute yang diambil oleh Ranz dan rombongan Srikandi #2 tahun lalu, hingga yakin bahwa trek-nya ‘friendly’, perjalanan cukup lancar hingga masuk kota Purworejo. Aku pribadi sempat terserang kejenuhan (ternyata! astaga!) apalagi ditambah kabar dari Angie bahwa harddisk laptopnya rusak total membuat mood-ku sangat buruk. (tambah diperparah aku terserang PMS. LOL.) Tak lama kemudian, aku melihat tulisan ‘BAYAN’, wahhh ... tak terasa ternyata kita sudah masuk kecamatan tempat aku KKN sekian puluh tahun lalu! Kejenuhan pun sedikit berkurang. Desa Bandung Kidul tempat aku KKN dulu terletak tepat di sebelah sungai yang menjadi pembatas antara Purworejo dan Kutoarjo. 

masuk wilayah kota Wates :)
Memasuki kawasan Kab. Purworejo
Karena telah berlalu kian puluh tahun, bisa dimaklumi jika aku ga ingat apa-apa tentang kecamatan ini. Namun untunglah aku masih ingat lokasi Desa Bandung Kidul. :) Setelah melewati desa satu ini, kita akan melewati sebuah jembatan yang nampak jauh lebih kokoh dibanding dulu. Masuk kawasan kota Kutoarjo, aku melihat lapangan tempat aku dan teman-teman KKN dulu jogging di pagi hari. Wahhh ... :)

Pockie dan fully-loaded pannier di jembatan sungai Bogowonto
 
aku jelang melewati jembatan yang memisahkan Purworejo dan Kutoarjo
Sebenarnya perutku sudah mulai melilit kerna lapar sejak gowes di pusat kota Purworejo, namun aku belum menemukan warung makan yang membuatku ingin mampir. Ranz setuju jika kita mencari warung makan di daerah Kutoarjo. Namun terjadi sedikit salah paham antara kita disini. Aku menunggu Ranz memberiku kode mampir dimana, sementara Ranz juga menungguku memberi kode mampir dimana. Walhasil, kita malah meninggalkan ‘kota’ Kutoarjo dan belum juga mampir makan. LOL. Akhirnya karena kelaparan, di antara banyak warung yang berjualan dawet ireng, Ranz langsung mampir tanpa meminta persetujuanku, sekitar pukul 12.30. LOL. Aku sih oke-oke saja. 
dawet ireng
masuk kawasan Kabupaten Kebumen
masakannya lumayan lho, es tehnya juga enaaak :)
Usai menghabiskan satu mangkuk dawet ireng, dan sebungkus kecil kacang goreng, kita lanjut gowes. Setelah memasuki kabupaten Kebumen, kita mampir ke sebuah warung makan yang menyediakan ayam/bebek goreng/bakar untuk makan siang, sekitar pukul 14.30. Kita berdua memilih menu yang sama: ayam bakar + es teh manis. (Semalam di Wates, kita makan bebek goreng.) 

handle bar Pockie
masuk gerbang kota Kebumen

narsis forever :D
Setelah masuk kota Kebumen – dan sempat narsis di ujung sebuah pertigaan, kata Ranz tahun lalu dia dan rombongan Srikandi #2 juga foto-fiti di situ – kita pun berhenti untuk narsis. Ada polisi yang ‘menyapa’ kita dengan sempritan dari pos polisi di seberang jalan. Kirain dia ga boleh kita berhenti disitu untuk foto-foto, eh, ternyata setelah kita menoleh, si Bapak polisi malah mengacungkan jari ke arah kita. 

cool, huh? :D

dalam kota Kebumen
mampir untuk beli es teh sekaligus bertanya arah ke Gombong
Sekitar jam empat sore, kita mampir lagi di sebuah angkringan yang terletak di alun-alun kota Kebumen untuk bertanya kepada si penjual arah menuju Gombong sekaligus mengisi kerongkongan yang mudah kering karena cuaca yang sangat panas. Disini baru kita sadar ternyata kita memilih jalur memutar. Pengalaman di hari pertama terulang. Namun untunglah kita tidak terlalu jauh memutar. Setelah mendapatkan arah yang pasti menuju Gombong, kita melanjutkan perjalanan.

Gombong! We are coming! :)

:)

Sekitar pukul lima sore kita melewati gapura selamat datang di kota Gombong. Di pusat kota, kita menemukan petunjuk sebuah hotel tempat kita bisa menginap di malam kedua ini: Hotel Dunia.
Malamnya kita sempat keluar untuk makan malam: Ranz memesan nasi goreng kambing, aku Cuma ‘membantu’ dua tiga sendok. :) Catatan: nasi goreng kambingnya lumayan lezat tapi pedesssss buatku yang orang Semarang dan Ranz yang orang Solo, padahal dia dilarang makan masakan pedas dikarenakan penyakit asam lambungnya yang parah di bulan Februari.  Sebelum balik ke hotel, kita mampir ke warnet (yang sekaligus berfungsi sebagai wartel) untuk ngecek elevasi rute Gombong – Purwokerto di keesokan hari. (Wartel masih laku yak di daerah sini? :) )

Jarak yang kita tempuh kurang lebih sama dengan yang di hari pertama, sekitar 100 km.

To be continued.

Bikepacking Solo - Purwokerto (day 1)



aku memotret Pockie dan Austin ketika Ranz membeli jajanan


Aku sudah lupa kapan aku punya ide ini: bikepacking Solo – Purwokerto. Alasannya apa ya mengapa ke Purwokerto? Mungkin karena aku punya seorang sobat yang tinggal disana, yang bisa kukunjungi sekaligus menyediakan kita tempat menginap. 😊 Namun ‘sayangnya’ dia masih bermukim di negeri Paman Sam sono untuk menimba ilmu. Itulah sebabnya ide ini tetap ngendon di pikiranku; tidak kucetuskan pada Ranz, my biking soul mate. 

Sekitar akhir Februari aku mengatakan ide ini ke Ranz. As usual, dia langsung antusias untuk segera merealisasikannya. Kebetulan aku libur satu minggu tanggal 18 – 23 Maret 2013 (libur mid semester). Ketika aku mengatakan hal ini ke Ranz, dia ngecek jadual di tempat kerjanya; dan ... ternyata dia pun bisa meliburkan diri. LOL. Nah, jadilah kita merealisasikan rencana bikepacking Solo – Purwokerto, much sooner than I expected.

Aku dan Ranz berangkat ke Solo pada hari Senin 18 Maret – mundur satu hari dari rencana semula karena pada hari Minggu 17 Maret kita mengikuti gowes latihan atau seleksi (calon) Srikandi #3 perwakilan Jawa Tengah. (Check postingan sebelum ini disini.) Hari Senin ini kita gunakan untuk beristirahat, checking sepeda, packing, dan ... kulineran di kota Solo. (I love ‘selat Solo’ a lot, selain soto seger Mbok Giyem a.k.a soto Hj. Fatimah.)

selat Solo yang yummy!


Day 1 : 19 Maret 2013 Biking as well as shopping (Solo – Wates)

Kita meninggalkan rumah Ranz di daerah Laweyan Solo sekitar pukul 06.30. Bisa dikatakan ini adalah perjalanan napak tilas gowes Solo – Jogja yang kita lakukan pertama kali di pertengahan bulan Juni 2011. Hanya, jika pada waktu itu Ranz menaiki Snow White, sepeda lipat urbano 3.0 warna putih milikku dengan tas pannier fully loaded di rak boncengan, aku menaiki Pockie, sepeda lipat pocker rocket milik Ranz tanpa tas pannier, kali ini Ranz naik Pockie dengan tas pannier fully loaded di rak boncengan; aku naik Austin, sepeda lipat downtube nova warna oranye dengan tas pannier mungil di rak boncengan. 😀 (Kenalkan, pasangan bikepacking baru: Austin dan Pockie. 😀 )


Ketika berangkat cuaca sangat mendung, meski tidak ada tanda-tanda bakal turun hujan. Cuaca yang sangat membantu kita mengadakan perjalanan jauh. Rencana rute yang akan kita jalani hari ini adalah Solo – Jogja – Purworejo, sekitar 116 kilometer. Ranz yang sudah pernah menapaki rute ini – ketika gowes Srikandi # 2 tahun lalu – kupercayai sebagai penunjuk jalan. Kita sengaja tidak sarapan agar nanti bisa mampir ke rumah makan Djatayu yang berlokasi di dekat candi Prambanan, tempat kita had brunch bulan Juni 2011 dulu. Sebagai pengganti sarapan, Ranz membeli beberapa jajanan, seperti pukis, sosis dan capcay (ala Solo) dalam bungkusan kecil. Ranz juga sudah menyediakan pisang rebus untuk bekal. Kita bisa ngemil sekaligus minum dari atas sepeda sehingga bisa mengirit waktu. Btw, untuk minum, kita hanya bawa satu bidon yang nangkring di Austin, sehingga jika Ranz butuh minum, aku harus menyerahkan bidon ke tangan Ranz, setelah selesai, Ranz menyerahkannya kembali kepadaku yang akan segera meletakkannya di frame Austin.

Ranz iseng :D

di perbatasan masuk kota Klaten

Ketika melewati kota Klaten, Ranz melihat sebuah toko sepeda dan kita mampir untuk membeli gembok sepeda, karena kita lupa membawa gembok. (shopping pertama.)  Keluar dari Klaten, Ranz yang telah kelaparan – namun belum juga sampai ke RM yang kita tuju langsung ngebut. Lah, kelaparan, yang berarti butuh tenaga, naik Pockie yang ‘terbebani’ fully-loaded pannier, Ranz bisa ngebut lho. Wkwkwkwk ... Aku sih yang sibuk ngemil sepanjang perjalanan (lha makanan nangkring di tas plastik yang nggantung di setang Austin LOL), ga begitu kelaparan, naik Austin yang ringan, tanpa beban berarti, dengan suka cita mengejar Ranz yang ngebut. Aku tahu dia pasti lapar, tapi kuanggap aja dia ngajak aku ‘racing’. xixixixixi ... 

our yummy brunch :)
 
 Sampai di satu titik, Ranz sudah tak mampu lagi menahan lapar, akhirnya dia berhenti. Aku heran, karena aku yakin jarak dari titik itu ke RM yang kita tuju paling tinggal 3 – 4 km lagi. But, ya gapapa lah, dari pada Ranz pingsan. (lebay. hahahaha ...). Ranz langsung ngemil capcay yang dia beli pagi harinya. Setelah selesai, kita melanjutkan perjalanan. Benarlah, tak lama kemudian, sekitar 3 kilometer lagi, kita sampai ke RM Djatayu, kita langsung mampir, to take a rest as well as to have brunch.


Sembari makan, Ranz ngecek google map untuk mencari rute menuju Purworejo. Jika tahun lalu dia dan rombongan Srikandi # 2 muter ke arah Wates, google map memberi alternatif lain, yakni dari Jalan Solo, masuk kota Jogja, kita lurus saja hingga masuk ke Godean. Dari arah Godean lurus terus, kita akan sampai Purworejo. Karena tertarik dengan jalur ini, Ranz menyarankan untuk memilih lewat Godean, aku manut saja.

Keluar dari RM, mendung yang menggayuti langit sejak pagi telah tersaput bersih. Matahari bersinar sangat terik. Aku pun memaksa Ranz untuk membeli manset untuk melindungi lengannya dari sengatan matahari. Kita memang butuh sinar matahari, namun jika terlalu banyak, justru sinar yang mengandung ultraviolet ini bisa menyebabkan kanker kulit, bukan? Untung tak jauh dari RM, kita melewati sebuah toko yang berjualan alat-alat perlengkapan kaum muslim. Kita pun mampir. (shopping kedua).

dengan latar belakang Candi Sari

ruang dalam Candi Sari

Setelah melewati kawasan Candi Prambanan, Ranz mengajakku mampir ke Candi Sari yang terletak di sebelah kanan, jika kita dari arah Timur. Candi ini terletak tak jauh dari jalan raya, bangunannya bisa terlihat dari arah jalan raya. Candi Sari ini sekilas bentuknya seperti candi-candi yang ada di Dieng, yakni candi Hindu, namun uniknya ada bentuk stupa di atasnya yang menunjukkan ada asimilasi dengan agama Buddha. Candi Sari terdiri dari tiga ruangan. Meski bangunan candi sedang dalam perbaikan, bagi seorang Nana, kemegahannya tetaplah menarik untuk dikunjungi.

di ruang tunggu pesepeda

Meninggalkan Candi Sari, kita terus masuk kota Jogja, lurus dari Jalan Solo, dimana kita mampir ke sebuah mini market untuk membeli minuman dingin, untuk membasahi kerongkongan. Saat berhenti inilah, aku ingat kalau aku meninggalkan tas kresek berisi belanjaan kita sebelum ini di kawasan Candi Sari. Wew. Maka, Ranz pun berinisiatif balik untuk mengambil barang kita, dengan naik Austin yang tak terbebani tas pannier. Hmmm ... Ranz gowes ekstra 4 kilometer lebih untuk bolak-balik ini. :P 

masuk kota Ngayogyakarta

Dari mini market ini, kita terus gowes ke arah Tugu, Pingit, lanjut ke arah Barat. Ketika memasuki daerah Godean, aku melihat ada sebuah toko berjualan sarung tangan, mantel, dan perlengkapan para ‘peturing’, kita mampir lagi, aku butuh membeli sarung tangan. (shopping ketiga). 

jembatan di atas Kali Code - Jogja

Beberapa kilometer dari shopping ketiga, di ujung Barat kita melihat mendung yang sangat tebal; sinar mentari mulai melemah. Beberapa kali kita berpapasan dengan beberapa ‘motorists’ dari arah Barat yang telah mengenakan mantel: di kawasan Barat hujan sudah turun. Sementara itu untuk memastikan kita berada on the right track, kita berulang kali bertanya pada orang yang kita lewati, apakah rute yang kita pilih akan membawa kita ke Purworejo. “Ya betul sih mbak. Tapi, kalau lewat rute ini, mbak akan melewati daerah pegunungan.” Meski telah diberitahu ‘lewat daerah pegunungan’, aku tetap saja tidak ‘ngeh’ bahwa nanti trek yang akan kita lewati bakal naik turun. khas trek pegunungan. 

mendung di ujung Barat

Sebelum memasuki areal yang telah dicurahi hujan lebat, kita sempat menepi untuk menyelamatkan kamera dan tetek bengek lain, termasuk memasang cover bag untuk ‘menyelimuti’ tas pannier. Ranz pun berganti mengenakan sendal jepit dan ‘mengamankan’ sepatu kets-nya dalam tas plastik agar tidak basah. (Ini berdasarkan pengalaman waktu gowes ke Candi Cetho, dimana dalam perjalanan turun hujan yang sangat lebat, hingga Ranz terpaksa gowes dengan telanjang kaki karena sepatu kets diamankan dalam tas plastik. 

pegunungan di depan mata!
 
foto dijepret menggunakan hape yang dibungkus plastik karena hujan
 
Seperti biasa, kita selalu menarik perhatian orang-orang yang kita lewati maupun yang berpapasan dengan kita. Alasan utama jelas: tas pannier fully-loaded yang nangkring di rak boncengan Pockie. :) Dan ... Kita terus keukeuh melanjutkan perjalanan di trek yang menuju pegunungan, hingga Ranz dengan matanya yang awas melihat trek di depan: kita harus membelah gunung. Dan, gunung yang ada di hadapan tidak hanya satu, melainkan banyak. Gunung-gunung itu dari kejauhan nampak bertumpuk-tumpuk. Waktu itu sudah sekitar pukul 14.30. Untuk kesekian kali kita berhenti untuk bertanya pada seseorang. Kali ini si Bapak yang kita tanyai (yang nampaknya juga kadang bersepeda), menyarankan kita untuk memutar balik, lewat Wates. “Ini sudah sore mbak, sudah jelang jam tiga. Dari pada nanti kemalaman di jalan, dan di sana (sambil menunjuk arah pegunungan), tidak ada rumah penduduk, tidak ada penerangan. Apalagi setelah sampai puncak, nanti jalan menurunnya sangat curam. Saya sendiri ga berani lewat pegunungan itu jika naik sepeda. Kalau naik motor sih gapapa. Mbak mending kembali dan ambil arah ke Wates saja. Disana malah lebih aman, melewati rumah-rumah penduduk, juga melewati jalan propinsi yang tentu akan selalu ramai orang lewat. Kalau sekarang masih jam 8 pagi, misalnya, dan njenengan mau tetap lewat pegunungan itu, ya monggo. tapi ini kan sudah sore?”

ketika hujan agak mereda, hp tak perlu diselimuti plastik :)

Akhirnya kita pun menggunakan akal sehat. LOL. Kita memutar balik, mengikuti petunjuk si Bapak untuk menuju kota Wates. Trek ternyata tidak semudah yang kita bayangkan. (FYI, kita tidak kembali melewati arah yang kita lewati semula, namun langsung memutar, belok ke arah Selatan.) Hujan tetap tercurah, kadang rerintik, kadang menderas. Kita berulang kali harus bertanya pada orang untuk memastikan jalan yang kita pilih benar-benar akan membawa kita ke arah Wates kota. Syukurlah orang-orang itu dengan ramah menunjukkan arah. Trek terus menerus rolling. Satu kali kita dilewati seorang motorist yang menyapa, “Akhirnya ga jadi lewat pegunungan mbak? Balik ke arah Wates?” HAH!!! Ternyata benar, kita selalu menarik perhatian orang yang berpapasan maupun kita lewati dalam perjalanan. LOL.

Sekitar pukul lima sore, kita yakin kita telah berada di kawasan kota Wates, kita mampir ke sebuah RM Padang untuk mengisi perut. Hujan semakin deras di luar. Kita pun mencari informasi tentang penginapan di google. Untunglah ada satu penginapan yang terletak tak jauh dari tempat kita makan sore itu. Untuk meyakinkan diri letak penginapan itu, kita bertanya pada pegawai RM tersebut. Lepas Maghrib, kita sudah sampai di Wisma Kusuma yang terletak di belakang pasar Wates. Lega.

Jarak yang kita tempuh sekitar 100 km.

To be continued.

Rabu, 27 Maret 2013

Night Ride Earth Hour 2013

Seperti biasa, setiap tahun, pada tanggal 23 Maret kita 'merayakan' hari bumi yang istilah kerennya EARTH HOUR. Bagaimana cara kita -- yang peduli pada lingkungan -- merayakan hari bumi ini? Sangat simpel: matikan lampu secara serentak selama satu jam, mulai pukul 20.30 - 21.30. Harus diakui banyak orang yang tidak peduli memang, dengan alasan yang -- meski ada benarnya -- namun bagiku pribadi sangatlah mengesalkan: "TOH PLN SUDAH BERULANG KALI MATIIN LISTRIK. LALU NGAPAIN KITA REPOT-REPOT MATIIN LISTRIK SEGALA?" (Check postinganku disini tentang protesku :) )


Om AB sedang diwawancarai

Tahun ini, untuk ikut manghayubagyo perayaan Earth Hour, Komunitas B2W Semarang -- yang digawangi oleh ketua baru (yang belum dilantik, :-D ) Om Ari Bjo -- ikut serta dengan cara bersepeda malam-malam keliling kota, alias City Nite Ride. Dengan didukung bantuan berupa snack 600 bungkus dari PemKot pada hari H, para pangurus B2W Semarang bersibuk-sibuk ria woro-woro di segala linimasa yang bisa dijangkau sejak minimal dua minggu sebelumnya.

menunggu peserta lain
jelang meninggalkan Balaikota, mulai NR

Hari Sabtu 23 Maret 2013 Semarang diguyur hujan lebat, di seluruh kawasannya, Semarang Timur, Barat, Tengah, Utara, hingga kawasan Semarang atas sejak siang hari. Tidak tanggung-tanggung, hujan lebat ini disertai angin kencang. Bisa dipahami jika kita sempat ketar-ketir bagaimana nanti pelaksanaannya. Alhamdulillah, jelang pukul 5 sore, di kawasan Jalan Pemuda -- dimana Balaikota berada, titik kumpul para pesepeda untuk bersama melakukan gowes bareng -- hujan sudah reda, meski di kawasan lain masih diguyur hujan. Usai maghrib (baca --> setelah jam 6 sore) hujan reda, tinggal titik-titik halus, dan tentu saja genangan air di jalan-jalan. Namun tentu hal ini tidak menyurutkan semangat para pemerhati.


Dany Saputra menjelaskan rute NR

Sangat menggembirakan ketika melihat di halaman Balaikota -- jelang pukul 7 malam -- telah berkumpul ratusan pesepeda dari segala penjuru Semarang! Mereka siap ikut meramaikan nite ride untuk mengkampanyekan gaya hidup sehat: bersepeda! Dipimpin oleh Om Dany Saputra, pesepeda mengayuh pedal sepeda masing-masing melewati rute : Tugumuda, Pandanaran, Thamrin, Kampungkali, Mataram, kawasan Kota Lama, Pemuda, kembali ke Tugumuda untuk bergabung bersama anggota komunitas Earth Hour yang sedang mengadakan acara. Mereka juga didampingi para marshall yang dikomandani oleh Yasto dari B2C Semarang.

di Gereja Blenduk, kawasan Kota Lama

Beberapa menit sebelum pukul 20.30 rombongan pesepeda telah sampai di kawasan Tugumuda. Teman-teman yang kebagian peran sebagai seksi konsumsi -- termasuk yang membawakan ratusan dus snack -- mulai membagikan konsumsi kepada para peserta nite ride. Setelah berbaris rapi untuk foto-foto (:-D ) listrik mulai dipadamkan, termasuk traffic light yang ada di sekitar Tugumuda. Meski listrik mati, lalu lintas tetap berjalan dengan lancar dan rapi. Sekitar pukul 21.15 listrik kembali dinyalakan. Meski listrik mati kurang dari satu jam -- mungkin 'hanya 'demi menggugurkan kewajiban -- it is better than nothing lah. :)



dengan latar belakang Lawangsewu, salah satu landmark kota Semarang

Tak lama kemudian para pesepeda undur diri untuk kembali ke rumah masing-masing. Sementara itu, Andra yang diberi tugas sebagai seksi konsumsi melaporkan jumlah dus snack yang tersedia masih sangat banyak. Kita berinisiatif untuk membagikannya pada peserta dari komunitas Earth Hour yang ternyata tidak mendapatkan sponsor untuk konsumsi. :)

Sampai jumpa di acara berikutnya! Salam gowes.

Nana Podungge
B2W Semarang

C-net 16.46 260313