Cari Blog Ini

Selasa, 28 Februari 2023

Sunmori ke Waduk Cengklik

 


Karena aku kembali harus 'rajin' dolan ke Solo untuk terapi, weekend tanggal 24 - 26 Februari 2023 aku berada di Solo lagi. Di hari Sabtu 25 Februari, aku sepedaan sendiri, sarapan di warung soto Hj. Fatimah yang terletak di Jl. Bhayangkara, kemudian muter lewat jalan-jalan yang aku merasa 'aman' aku ga bakal tersesat, hihihi. Sesampai stadion Manahan dan melihat street food court baru yang tertata rapi, aku berhenti dan nongkrong lumayan lama di sana.

 

Ranz bertanya aku pengen bersepeda kemana di hari Minggu, aku manut dia sajalah mau bersepeda ke mana. Seminggu sebelumnya kan dia sempat bilang mau mengajak ke Sukoharjo, ke RM ayam goreng Mbah Karto, tapi malah jadinya ke Omah Prahu Waduk Cengklik. One thing dari perjalanan itu: lumayan asyik juga lewat jalan yang jarang kita lewati. Aku dan Ranz kan cukup sering bersepeda ke arah Sukoharjo (plus lanjut Wonogiri), dan ke arah Jogja. Terakhir ke Waduk Cengklik (sebelum tahun ini) kalau tidak salah itu tahun 2015, waktu mengajak Dwi dan Tami ke Jembatan Landa.

 

Ranz menawari ke Waduk Cengklik lagi, tapi bukan ke Omah Prahu. Aku ya oke-oke sajalah, gapapa. Tapi waktu dia bertanya apakah aku ada ide, aku bilang aku pengen ke Alas Bromo (lagi). Terakhir ke sana waktu gowes virtual Jamselinas 2020. Ranz nampak rada ragu-ragu ke sana, dia bilang, "Tapi ini musim hujan, bla bla bla." Ya sudahlah, makanya aku manut dia mau nemenin aku bersepeda ke mana.

 

Minggu 26 February 2023

 

Seperti seminggu sebelumnya, pagi ini kami berdua sama-sama mager, lol. Setelah mandi, Ranz bertanya tujuan kita ke mana, lol. Piyeee, aku sudah membayangkan ke Waduk Cengklik (bahkan juga sudah membayangkan ke Omah Prahu lagi, aku juga tidak keberatan), malah Ranz ga jelas begitu. Lol.

 

Menjelang jam 8 baru kami meninggalkan rumah, menuju arah Colomadu untuk lanjut ke Waduk Cengklik. To our surprise, setelah melewati gapura Makuta Dewa, di sepanjang jalan (duh, aku lupa nama jalannya) ada CFD Colomadu. Perjalanan jadi tersendat, tapi ya gpp, toh kami ga terburu-buru mau kemana.

 


 

Di perempatan setelah melewati kawasan AU, Ranz mengajak belok kiri. Seminggu yang lalu, kami lurus masuk ke Kabupaten Boyolali. Oh ya, aku bilang ke Ranz aku pengen masuk ke Waduk Cengklik Park. Sesampai area Waduk Cengklik, ternyata suasana jauuuh lebih ramai ketimbang seminggu sebelumnya! Kami sarapan di satu warung di dekat WCP. Usai sarapan, aku mengajak Ranz masuk ke WCP, tapi melihat kerumunan para pengunjung yang banyak sekali di pintu masuk, Ranz ogah. Ya sudah, manut. (Aku manutan ya? Hihihi)

 

nasi pecel wader

 

Otw balik ke Solo, Ranz mengajak memutar ke arah Omah Prahu dulu. Kirain dia mau mengajak ke sana lagi, foto-foto lagi! Ternyataaaa engga! Cuma mlipir lewat sana doang. Ranz malah mengajak mampir foto-foto di De Tjolomadoe. Hokeee.

 

Setelah foto-foto di De Tjolomadoe (di tempat parkirnya doang, ga masuk gedung, so ga perlu beli tiket masuk), kami langsung pulang. Jarak tempuh 31 kilometer. Sesampai rumah, hujan turun, sampai malam!

 

MS48 18.06 28.02.2023

 




Senin, 27 Februari 2023

Samori ke Omah Prahu

 


Tanggal 18 February 2023 yang jatuh pada hari Sabtu adalah hari libur isra' Mi'raj. This is really something buat saya dan Ranz karena hari Sabtu adalah hari kerja buatnya! So? Mari kita dolan! Hihihi … Semula saya mau mengajaknya bersepeda Solo - Jogja di hari Sabtu, dan hari Minggunya bersepeda balik lagi ke Solo, itung-itung latihan endurance lah buat J150K. (biasanya kami menginap 2 malam di Jogja, baru balik lagi ke Solo.) Namun ternyata Ranz yang sudah lama pengen dolan ke Srambang Park - Ngawi lagi malah bilang, "Nanti hari Minggunya kita ke Srambang Park yuk!" hohoho … ya jelas saya tidak menolak diajak ke Srambang Park lagi!

 

Hari Jumat 17 February 2023 saya ke Solo naik travel, seperti biasa. Perjalanan kali ini sekalian saya niatkan untuk terapi di hari Jumat itu juga. Namun ternyata mbak Rina -- therapist saya maupun Ranz -- pergi ke Bali bersama keluarga. Ya sudah, akhirnya di hari itu, saya hanya menemani Ranz latihan di fitness center langganannya.  Siangnya sekitar pukul 13.00, Solo diguyur hujan. Ya sudah.

 

Sabtu 18 February 2023

 

Awalnya Ranz bilang mau mengajak saya bersepeda ke arah Sukoharjo, sarapan di RM Mbah Karto yang ayam gorengnya terkenal, apalagi Jan Ethes suka makan di sini. Wah, sudah bertahun-tahun kami tidak kesana, tentu saya tidak menolak. Jarak yang akan kami tempuh kurang lebih 35 kilometer pp. Ya lumayanlah.

 



 

Akan tetapi mendadak rencana ini berubah total. Ranz malah mengajak ke Waduk Cengklik, satu destinasi wisata yang pertama kali kami kunjungi saat saya pertama kali dolan ke Solo bawa sepeda lipat, 12 tahun yang lalu! Kali ini, ada tempat nongkrong baru yang bernama OMAH PRAHU. Jarak tempuhnya mungkin kurang lebih sama dengan ke arah RM Mbah Karto. Ya sudah, saya ngikut saja

 

Sabtu itu kami berdua sama-sama molor, lol. Hawa sejuk jelas membuat kami berdua malas bangun pagi. Hihihi. Di strava tercatat bahwa kami memulai gowes itu pukul 08.00 pagi. Makanya ga heran di perjalanan kami berpapasan dengan banyak pesepeda yang nampaknya juga baru berkunjung ke area Cengklik. Ternyata jarak yang kami tempuh dari rumah Ranz ke Omah Prahu hanya sekitar 13,5 km!

 



 

Di Omah Prahu kami hanya jajan gorengan karena perut saya tidak lapar sama sekali. (Jumat malam saya 'ngemil' mihun di Wedangan Pak Basuki, sementara biasanya saya 'puasa' makmal.) Foto-foto lebih penting di sini. Hohoho. Setelah kami rasa cukup, Ranz mengajak saya meninggalkan area, dan … dia mengajak ke Waduk Cengklik di arah yang berbeda: di titik yang pertama kali kami kunjungi.

 

Pulangnya Ranz mengajak sedikit memutar, dan kami 'brunch' di satu warung ayam bakar Taliwang di kawasan Banjarsari.

 

Sesampai rumah, jarak tempuh kami 31 kilometer. Ya gapapa, better than nothing lah. :D

 

MS48 20.38 27.02.2023

 beberapa foto lawas saat pertama kali saya dan Ranz ke Waduk Cengklik, di bulan Juni 2011, bisa dibaca di link ini. Link yang ini tentang gowes kami yang kedua ke lokasi yang sama. (hah! saya malah sudah lupa! hohoho)



Road to J150K 2023

 

dari event J150K 2019

Ini postingan curhat ya gaes :)

 

Semenjak Ranz mulai ngegym di pertengahan tahun 2020, dia nampak sangat menikmatinya, dia mulai kurang enjoy sepedaan. Semula hal ini tidak begitu saya rasakan; di tahun 2020 itu kami sudah daftar jamselinas 10, yang gagal terselenggara gara-gara pandemi, para peserta diminta melakukannya secara 'virtual'. So, kami hanya melakukannya berdua saja. You may check this link.

 

Saya mulai merasakan keengganan Ranz ikut event saat kami ikut event ultah Seli Solo yangke-12. Ranz ngomel sejak awal mulai gowes, lol, dan berulang kali bilang mau pulang saja, ga ikut bersepeda sampai tujuan, Bale Rancah di Boyolali. Herannya, saat pulang, bukannya dia mengajak saya loading, dia tetap menemani saya bersepeda kembali ke Solo, karena "kamu pasti mau ngepit baliknya kan?" tuduhnya, lol. Memang iya sih. Hohoho.

 

Saat merayunya untuk ikut jamselinas 11, saya kembali merasakan keengganan Ranz. Pertengkaran-pertengkaran kecil gegara keengganannya ini membuat saya berkata pada diri sendiri, "sudahlah, ini adalah event terakhir kami ikut. Setelah ini ga usah ikut event apa-apa lagi. Sepedaan berdua saja. Atau kalau dia beneran sudah enggan bersepeda, ya sudah, saya sepedaan sendiri."

 

Ternyata waktu jamselinas di Purwokerto itu, saya mendapat info bahwa JogjaFoldingBike akan menyelenggarakan J150K untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-14. mendengar info itu, ternyata o ternyata, saya TERGODA untuk ikut, lol. Maka, saya pun kembali merayu Ranz, hohoho. "Let's see how much the registration fee is," katanya. "Kalau lebih dari 400ribu, ga usah!" lanjutnya. Hoke!

 

Saat JFB mengumumkan kapan dibuka pendaftaran dan biaya pendaftaran yang mencapai jumlah Rp. 600.000,00 Ranz langsung bilang "mahal! Ga usah!" tapi kemudian dia bertanya, J150K 2019 berapa biaya pendaftarannya, saya jawab Rp. 500.000,00. "Dapatnya apa saja?" tanyanya lagi. "Jersey, cycling cap, dan medali." setelah tahun J150K 2023 biaya pendaftarannya Rp. 600.000,00 namun peserta akan mendapatkan "jersey, cycling cap, medali, dan sling bag," saya pun merayu Ranz lagi. Wakakakakaka … meski, Ranz tetap terkesan ogah-ogahan.

 

Entah mengapa saat pendaftaran menjelang dibuka, Ranz memberi saya lampu hijau untuk mendaftar, dengan catatan saya yang harus 'bertarung' cepat-cepatan mendaftar, dia ga mau repot-repot rebutan mendaftar. Akan tetapi, saat saya bilang, "peraturan pendaftarannya sekarang setelah berhasil memasukkan data-data, kita harus segera membayar, hanya diberi waktu sekitar 15 menit sesudahnya. Padahal waktu pendaftaran itu saya berada di kelas, mengajar. Plus, saya yang masih conventional ini belum punya m-banking! Akhirnya? Ranz yang 'rebutan' mendaftar! Hohoho …

 

Ok. Nama kami berdua sudah fixed terdaftar. Then what? Menyadari bahwa saya sudah semakin malas sepedaan selain bike-to-work atau saat Ranz mau saya ajak bikepacking -- yang hanya bersepeda Solo - Jogja doang, lol -- saya tahu bahwa mulai bulan Januari saya harus memaksa diri untuk 'latihan'. Sehari harus bersepeda minimal 30-50 kilometer terus menerus. Hingga menjelang hari H.

 

Akan tetapi rencana tinggal rencana. Kenyataan tidak menyenangkan terjadi pada kami berdua.

 

Saat dolan ke Jogja akhir tahun 2022, Ranz terserang vertigo yang parah hingga kami praktis hanya bersepeda di hari pertama: Solo - Jogja. Rencana bersepeda ke Gumuk Pasir dan bersepeda balik Jogja - Solo gagal karena sampai di hari ketiga kami di Jogja, Ranz tetap dalam kondisi buruk. Dan kondisi ini terus berkepanjangan hingga akhir bulan Januari. Sementara itu, kondisi kesehatan saya juga ikut-ikutan memburuk, terutama keluhan di perut yang sangat amat tidak nyaman. Mana cedera kaki tahun lalu belum beneran pulih. Ditambah lagi kondisi Austin yang sudah tidak seprima beberapa tahun yang lalu, entah kok berulang kali saya bawa ke bengkel, kondisinya tidak terlalu berubah.

 

Di bulan Januari lalu, saya sempat bilang kepada Ranz jika tidak yakin dengan kondisi kesehatannya, dan dia membatalkan ikut event ini, saya akan 'menjual' dua tiket pendaftaran kami di grup id-foldingbike, di pertengahan bulan Februari. Namun ternyata Ranz nampak tidak kepengen menjual tiket pendaftaran kami, meski dia juga aras-arasen booking kamar hotel buat kami menginap di tanggal 3-5 Maret 2023. wis ta, pokokmen parah ra karuan. Lol.

 

Well, J150K 2023 akan segera diselenggarakan, tinggal 5 hari lagi. Wish us luck yaaa.

 

MS48 19.49 27.02.2023

 

Jumat, 06 Januari 2023

Sharing, flexing, and ruining

 

Candi Cetha, Januari 2013

Dari postingan saya kemarin yang berjudul "flexing, healing dan baper" ada yang menulis komen bahwa tidak pas jika kata 'flexing' dikontraskan dengan 'healing'; namun lebih pas jika kata 'flexing' dikontraskan dengan 'sharing'.

 

Komentar ini mengingatkan saya pada satu obrolan ringan dengan Radit, tentang destinasi wisata. Sekitar 11 tahun yang lalu, setelah saya mendapatkan partner dolan bersepeda, kami suka blusukan mencari lokasi yang menarik untuk dikunjungi dengan naik sepeda. Setelah itu, saya akan mengunggahnya di media sosial. Saya bermaksud sharing tentu saja, memberi ide para pembaca tulisan saya tujuan untuk bersepeda. Saya dengan suka cita akan menjelaskan letak lokasi sekaligus rute dan trek yang akan dilewati, jika ada yang bertanya secara detil.

 

Sebaliknya, Radit biasanya -- kadang -- hanya mengunggah foto lokasi yang dia tuju, atau yang dia lewati saat sepedaan, atau juga saat 'turing' naik motor lawasnya. Alasannya adalah: di zaman dimana orang-orang hobi foto, kemudian mengunggahnya di medsos, lokasi-lokasi eksotis seperti itu akan cepat diburu untuk dikunjungi, dan dijadikan background maupun objek foto.

 

Permasalahan bisa saja muncul setelah itu: jika para pengunjung itu tidak memedulikan kebersihan atau memelihara tempat tersebut, maka lokasi itu akan cepat menjadi lokasi yang kotor, rusak, dlsb.

 

Satu contoh. Tahun 2013 saya bersepeda dari Solo ke Candi Cetho, yang terletak di ketinggian sekitar 1400 mdpl. Orang-orang yang tahu saya -- perempuan, tak lagi bisa dikatakan masih berusia muda -- bisa kok mencapai Candi Cetho dengan naik sepeda. Masak yang laki-laki tidak bisa? Sekitar satu tahun kemudian, saya melihat unggahan foto serombongan orang bersepeda ke Candi Cetho. Yang saya sayangkan adalah mereka membawa serta (mengangkat melewati tangga) sepeda mereka, dan dengan sembarangan memarkirkan sepeda di tempat yang tidak semestinya: disandarkan di satu patung yang terletak tak jauh dari pintu pagar masuk. Itu patung pasti usianya sudah ratusan tahun. Mengapa mereka tidak punya kesadaran untuk turut menjaga peninggalan nenek moyang.

 

Candi Ngempon, Desember 2012

 

Contoh lain. Tahun 2012 saya bersepeda ke Candi Ngempon, yang terletak di daerah Bergas, Kabupaten Semarang. Saat itu, saya hanya berdua dengan pasangan dolan saya. Kami bebas membawa sepeda kami masuk area. Sebagai pecinta candi, tidak mungkin saya akan sembarangan memarkir sepeda saya dengan, misalnya, menyandarkan ke batu candi. Saya mengunggah kisah ini di blog saya.

 

Tahun 2017 saya ke Candi Ngempon sendiri. Si penjaga dengan galak melarang saya membawa masuk sepeda dengan alasan banyak orang yang sembarangan memarkir sepedanya saat masuk ke area yang seharusnya dijaga kelestariannya itu. Saya tahu setahun sebelumnya seorang kawan sepedaan menyelenggarakan event sepedaan rame-rame dengan tujuan Candi Ngempon, terinspirasi dari kisah saya bersepeda kesana.

 

 

Masih ada kisah lain lagi sih. Tapi nanti tulisan saya jadi terlalu panjang.

 

Salam ngeteh nasgitel di sore yang hujan.

 

PT56 17,18 06/01/2023

 

Flexing, healing, dan baper

 


Flexing, healing, dan baper

 

Dua diksi ini -- flexing dan healing -- jelas memiliki sifat yang sangat relatif, dan sangat kuat hubungannya dengan baper

 

Misal: foto saya ini.

 

Bagi yang tau lokasi Srambang Park ini, dan merasa dirinya ga mampu mencapai lokasi ini dengan naik sepeda, ada kemungkinan dia akan baper, dan menuduh saya flexing.

😆

 

bagi yang merasa lokasi Srambang Park itu mudah dicapai dengan naik sepeda, mereka akan memandang kegiatan saya ini: "healing"

😁

 

Setiap R berkunjung ke Semarang, biasanya kami berdua akan nongkrong di cafe Starf*cks untuk ngopi (saya) dan nyoklat (R). Kami akan ngobrol sekitar satu hingga dua jam di satu pojok cafe itu. Dan seringnya saya akan mengunggah foto makanan dan minuman yang kami pesan. Saya tidak bermaksud flexing, namun hanya untuk meninggalkan jejak genital, eh, digital yang saya bisa lihat lagi di tahun-tahun depan.

 

Namun, hal "sepele" (bagi saya) ini bisa jadi merupakan flexing bagi orang-orang tertentu.

Apakah saya peduli? Tidak! Hahaha ...

 

Merunut ke status saya kemarin: "flexing hanya untuk orang yang gagal" memang sangat relatif maknanya. Hal ini berhubungan dengan

 

(1) si pengunggah yang merasa hal yang dia lakukan itu membuat prestise-nya naik di mata kawan-kawan medsosnya. Padahal mungkin di mata kawan-kawan medsosnya, hal yang dia lakukan itu hal yang biasa-biasa saja

 

(2) seberapa baper kawan medsos melihat yang diunggah seorang thread starter

 

Segini saja dulu yaa.

 

IB180 11.00 05/01/2023

 

Minggu, 01 Januari 2023

Christmas Holiday 2022 ~ 3

 


Rabu 28 Desember 2022

 

To our disappointment, Ranz didn't get better at all. 😞 'kemajuan' hari ini adalah akhirnya dia mau mencoba minum omeprazol, obat aslam yang biasa diminum Angie maupun adikku ketika aslamnya kambuh. Selama ini, ga pernah dia minum obat apa pun ketika aslamnya kambuh. Pagi itu, dia memintaku ke apotik untuk beli obat omeprazol dan vometa. Dia ternyata sempat browsing obat untuk mengurangi mual dan muntah yang disebabkan oleh aslam.

 

Aku pun keluar ke apotik terdekat, di Jakal situ, dan beli roti O, Ranz pengin itu. Aku keluar hanya sebentar untuk beli itu, kemudian langsung balik ke hotel.

 

enak ini spaghetti-nya 😋

 

 

Siangnya Ranz menawariku mau makan apa. Aku bilang pengen spaghetti, gegara lihat postingan teman di medsos anaknya sedang makan spaghetti, kayaknya kok enak sekali. Hahahaha … maka Ranz pun memesankannya lewat aplikasi online. Selain memesan spaghetti, dia juga pesan chicken wings dan pisang goreng. Aku makan spaghetti-nya sendiri, Ranz ga ingin mencicipinya. Sore itu, dia aku suapi pisang goreng.

 

Malam, aku keluar sebentar ke Gading Mas untuk membeli beberapa kebutuhan.

 

Kamis 29 Desember 2022

 

Pagi itu aku meminta izin Ranz untuk keluar sepedaan sebentar. Aku memasuki area kampus UGM lagi, memotret Austin di satu gedung yang ada tulisan ALUMNI UGM. Kemudian aku sempat memutari perumahan dosen (dulu itu perumahan dosen) Bulaksumur. Dulu, aku suka sekali berjalan-jalan lewat sini, memandangi rumah-rumah yang mungkin dibangun sekitar dekade 1960an. Sampai sekarang aku masih suka melihat disain rumah lawas seperti ini.

 


 

 

Dari Bulaksumur, aku mengayuh pedal Austin ke arah Tugu. Sudah lama aku tidak memotret Austin dengan latar belakang Tugu. Padahal bulan Mei 2022, aku dan Ranz bersepeda ke arah Malioboro, baliknya ya kami memilih jalur 'contra flow' balik ke arah Tugu, tapi waktu itu ga kepikiran untuk memotret Austin dengan latar belakang Tugu.

 


 Setelah memotret Austin, aku memilih jalan AM Sangaji, kemudian di perempatan pertama belok kanan, ke arah Terban. Saat kuliah S1 akhir -- KKN dan menulis skripsi -- aku ngekos di daerah Terban situ. Apa satu saat perlu juga aku bernostalgia di kawasan ini dengan menginap di hotel somewhere here? Hihihi … dari situ, aku terus ke arah perumahan dosen Sekip. Kemudian belok ke arah RS Dr. Sardjito, hingga tembus Selokan Mataram.

 

Sekembali aku di hotel, Ranz memesan nasi gudeg 'langganan' kami berdua jika dolan ke Jogja. Hari ini selera makan Ranz lumayan, menurutku. Menurutnya: dia mulai merasakan aslamnya kumat gegara perutnya kosong. Iyalah, dia hanya makan sedikit, setelah makan, dia muntahin itu karena perutnya mual sekali. Hiksss …

 

Waktu menyuapinya sarapan, aku mengajak Ranz keluar kamar, makan di 'ruang tamu' yang tersedia di lantai 2 hotel.

 

Ranz meminta kakak iparnya untuk menjemput ke Jogja. 

 


 

 

Kami meninggalkan hotel sekitar pukul 12.00. Ranz yang mendadak pengen bakso, membawa kami ke satu RM yang berjualan bakso 'Pak Tikno' di kawasan Maguwo.

 

Otw back to Solo, aku baru ngeh, betapa banyak traffic light yang harus dilewati yang membuat perjalanan tersendat dan membosankan. Hahahaha … kami sampai rumah Ranz sekitar pukul 14.30.

 

Honestly aku tidak tega meninggalkan Ranz sendiri, (dia terbiasa mandiri jadi anggota keluarganya ga akan ngeh bahwa dia itu sedang sakit dan butuh dilayani), tapi aku sudah kadung janji Angie untuk pulang ke Semarang hari Kamis. Beberapa kali aku 'terpaksa' mblenjani janji karena ini itu, aku ga enak jika harus melakukan itu lagi. Hiksss …

 

Sore itu, aku kembali ke Semarang dengan naik travel pukul 17.00. Sesampai pool travel di Semarang, sekitar pukul 18.45, ada tanda-tanda habis turun hujan lebat. Syukurlah aku tidak perlu mengenakan mantel saat kembali mengayuh pedal Austin balik ke rumah.

 

Note:

(1) honestly, aku menyesal karena belum jadi mewujudkan keinginan bersepeda ke Gumuk Pasir. Sudah lamaaaaaaaa, aku pengen bersepeda kesini, tapi Ranz ogah melulu. Ketika dia mau, eh, dia malah jatuh sakit. Hiksss …

 

(2) aku juga pengen menginap lagi di kawasan Candi Prambanan, entah mengapa kok aku juga suka ya saat menginap di kawasan ini. Terakhir aku dan Ranz menginap di hotel Galuh Desember 2020. seperti aku juga suka menginap di kawasan Candi Borobudur.

 

(3) satu hal yang aku sukai dari perjalanan ini adalah aku sempat bernostalgia masuk kampus UGM sendiri! Well, biasanya Ranz juga mau sih kuajak masuk blusukan di kawasan UGM. Tapi ternyata sendirian kok rasanya seperti saat aku kuliah dulu ya. Hohoho …

 

(4) I feel grateful bahwa Ranz ga pernah menolak kuajak bernostalgia menginap di kawasan Jakal km 5. Dia selalu mau (dan turut menikmati) kuajak bersepeda Solo - Jogja demi aku yang akan bernostalgia. plus dia mau-mau saja kuajak menginap somewhere di Jakal km 5, area saat aku kuliah dulu. 'blusukan di kawasan ini juga sangat menyenangkan buatku.

 

PT56 10.16 01/01/2023

 

Christmas Holiday 2022 ~ 1

 

my almamater, my pride

This is the 'worst' holiday ever for me. :(

(pakai tanda kutip yak)

 

Sebelum the D day, aku dan Ranz membahas kami akan pergi kemana. Ini mengingat pandemi covid 19 bisa kita anggap (nyaris) usai ya jadi kami berpikir boleh lah pergi rada jauh. (selama pandemi kami berdua 'hanya' dolan ke Jogja doang saat punya waktu luang untuk sepedaan keluar kota.) Mulai dari kota Surabaya, Jepara, hingga Magelang kami bahas sebagai calon destinasi. Namun, akhirnya kita kembali ke kota klangenan buatku: Jogja.

 

Hari Minggu tanggal 25 Desember 2022 aku berangkat ke Solo dengan naik travel Cititrans yang memberi keleluasaan membawa sepeda gratis. Waktu berangkat, cuaca cukup mendung di kota Semarang. Setelah mobil travel yang kunaiki meninggalkan pool (I was the only passenger!) dan masuk jalan tol, hujan mulai turun. Sepanjang jalan tol, hujan datang dan pergi.

 

Saat mobil keluar dari jalan tol daerah Colomadu, gerimis yang menyertai. Meskipun begitu, genangan air dimana-mana menunjukkan bahwa sebelumnya hujan deras tentunya. Out of my expectation, tiba-tiba Ranz menelpon mengabari bahwa dia akan menjemputku di pool travel dikarenakan hujan. Wah! Tumben ini! :)

 

Ranz menjemput bersama kakaknya + suami + Deven, keponakannya yang kecil. Dari pool Cititrans, kami ke area Solo Baru; tujuannya satu warung mie ayam + bakso. Ternyata ada yang nyidam mie ayam disini, entah siapa.

 


 

Malamnya, Ranz dan aku ke Wedangan pak Basuki; as usual, aku pesan teh nasgitel dan sebungkus mihun. Dari Wedangan Pak Basuki, Ranz mengajakku minum susu di kedai susu langganannya. Aku tidak minum susu, so disana aku hanya menemani Ranz saja.

 

Senin 26 Desember 2022

 

Pagi itu Ranz tidak bangun gasik seperti biasa jika kami berdua akan bersepeda keluar kota. Aku pun memulai mandi dan siap-siap sekitar jam 05.30. setelah aku selesai mandi, baru Ranz bangun dan mandi dll. Baru sekitar pukul 07.00 kami meninggalkan rumah Ranz di kawasan Jongke. (mungkin ini 'pertanda' bahwa Ranz was not really well ya? :( )

 

Seperti biasa Ranz memilih rute yang memungkinkan kami berdua sarapan timlo di kawasan tak jaauh dari SMP N 1 Gatak. Oh ya, di perjalanan kali ini, aku tetap naik Austin, sementara Ranz naik sepeda barunya yang dia beri nama 'Hazel': camp hazy edisi wonderful Indonesia Toraja Sulawesi. 

 


 


 

Setelah sarapan, perjalanan lancar seperti biasa. Menjelang sampai 'gerbang' pertanda masuk kota Klaten, gerimis tipis mulai menyapa. Tapi kulihat Ranz tidak siap-siap mengenakan mantel. Aku pun tidak mengenakannya, sambil 'ndremimil' semoga gerimis segera berhenti, dan bukannya menderas. Tentu kami berdua membawa mantel, tapi bersepeda jarak jauh dengan mengenakan mantel itu kurang nyaman, honestly.

 

as usual, aku 2 gelas, Ranz cukup satu gelas

 

Sesampai kawasan Bogem, Kalasan, seperti biasa kami mampir jajan es dawet Ngudi Roso yang sudah kondang. Untuk 'teman' minum es dawet, as usual (juga) Ranz beli tahu petis yang berjualan di samping warung es dawet. Dan seperti sebelum-sebelumnya, aku minta dibelikan 2 gelas es dawet. Segelas pertama itu bisa aku habiskan sekali minum loh. Setelah habis minum segelas es dawet, aku baru ngemil tahu beberapa potong, kemudian minum es dawet gelas kedua.

 

Dari jajan es dawet Ngudi Roso, kami mampir ke Candi Kalasan. Aku ga perlu minta Ranz, dia sendiri berinisiatif belok; iya, ini adalah perjalanan perdana Hazel, jadi perlu didokumentasikan! :)

 

 



 

Tak lama setelah kami meninggalkan kawasan Candi Kalasan, gerimis turun, dan lama-lama kian menderas. Ranz mengajakku berhenti di satu minimarket. Aku pikir untuk mengenakan mantel dan segera melanjutkan perjalanan. Toh, bisa dianggap kami sudah sampai Jogja. Setelah menunggu sekitar 15 menit dan tak ada tanda-tanda hujan mereda, Ranz mengenakan mantel dan mengajakku melanjutkan perjalanan.

 

Melewati Jalan Solo, jalanan padat dengan kendaraan, namun karena kami naik sepeda, kami bisa mlipir hingga bisa berhenti di 'ruang tunggu pesepeda' yang terletak tak jauh dari traffic light. Kami belok ke Jalan Gejayan (eh, nama barunya apa? Lupa!) kemudian belok ke Jalan Kolombo. Menjelang bunderan UGM, Ranz bertanya apa aku merasa perlu berhenti untuk foto, aku jawab ga usah, langsung ke hotel saja.

 

Masuk Jalan Kaliurang selepas Selokan Mataram, as usual jalanan pun padat kendaraan. Ranz yang sudah hafal jalan, dia bisa langsung 'menemukan' Gang Megatruh; kali ini kami menginap di hotel Sellinas yang terletak di Gang Megatruh. FYI, Gang Megatruh terletak di samping Gang Mijil, tempat aku dulu pernah ngekos selama 4 tahun saat kuliah S1, dan 1,5 tahun saat kuliah S2: "daerah kekuasaanmu ya?" tanya seseorang, lol. That's why aku selalu merasa excited saat 'kembali' ke area ini.

 

Setelah check in, Ranz mempersilakanku mandi terlebih dahulu, kemudian gantian dia. Meanwhile, Raditya mengajakku ketemuan. Semula aku mengusulkan malam hari, setelah maghrib, namun sekitar jam 4, Ranz yang sudah kelaparan mengajakku keluar, kebetulan pas hujan berhenti. Aku mengajak Ranz ke 'Angkringan 5rawung'.

 

ternyata sudah cukup lama Radit pengin tahu ini apa, hahaha

jika kau suka teh nasgitel, teh ini cucok!

 

 

Tak lama setelah aku dan Ranz nangkring di angkringan, Radit menyusul. Kami bertiga ngobrol sembari ditemani hujan yang datang dan pergi sesuka hati. :D sekitar pukul 7pm kami pulang. Otw back to our hotel, kami mampir minimarket membeli air mineral. It was raining, tapi karena aku berpikir lokasi dari angkringan ke hotel tidak jauh, aku tidak mengenakan mantel, dan waktu kami balik, hujannya ga begitu deras, so I thought. Sesampai hotel, kami keluar lagi, Ranz butuh membeli beberapa 'barang'. Aku mengajaknya jalan kaki ke minimarket Gading Mas (zaman aku kuliah S1 dulu, minimarket ini namanya PAMOR), dengan meminjam payung dari hotel. Aku lihat Ranz membeli counterpain, panadol (dia ternyata sudah merasa kurang sehat, hiksss …) kapur semut dan beberapa cemilan.

 

to be continued.