Cari Blog Ini

Jumat, 09 Oktober 2020

Virtual Jamselinas X: Sunmori ke Alas Bromo Karanganyar

Minggu 04 Oktober 2020

 

 

Sempat ragu-ragu hari ini jadi bersepeda ke Alas Bromo - Karanganyar atau tidak gegara dadaku yang terasa sakit setelah terjatuh kemarin, makanya aku rada malas bangun pagi. :D Ranz juga. Namun, toh akhirnya kita berangkat juga. Jika sehari sebelumnya kita berangkat meninggalkan rumah Ranz pukul 07.30, hari ini kita baru berangkat pukul 07.50.

 


 


Melewati Jalan Slamet Riyadi yang panjang, yang sebelum pandemi merupakan area 'car free day', aku mengacungkan jempol pada rakyat Surakarta yang tidak nampak berkerumun di jalan ini di Minggu pagi itu. Di Semarang, ada maupun tidak ada 'car free day' setelah pandemi berjalan kurang lebih 2 bulan, area Simpanglima tetaplah ramai di hari Minggu pagi. Pak Ganjar sempat mengunggah vlog di instagram pribadinya menegur orang-orang yang tetap saja berkerumun tanpa mengenakan masker di Simpanglima maupun area Kota Lama di hari Minggu pagi, dan memberi edukasi, namun toh rakyat Semarang tetap saja ndableg. Makanya tidak heran jika Semarang termasuk zona merah pandemi covid 19, sedangkan Surakarta tidak.

 

 

Sesampai di kawasan Jebres, saat melewati sebuah warung makan yang berjualan timlo, selat, dll, Ranz menawariku berhenti untuk sarapan. Aku setuju. 'Langganan' kita sarapan di kawasan Karanganyar jika kita bersepeda ke arah sini terasa jauh sekali, soalnya. Lol.

 

 

Oh ya, di hari Sabtu 03 Oktober 2020, aku dan Ranz sama-sama mengenakan jersey resmi jamselinas X. Namun strava di gadget Ranz error, karena kegaptekan Ranz cara mengoperasikannya, lol. Maka di hari Minggu ini, aku menyemangati Ranz untuk mengenakan jersey itu lagi, kebetulan jersey miliknya sudah sempat dicuci dan cukup kering untuk dikenakan lagi. Di hari kedua ini, aku pastikan strava di gadget Ranz bekerja dengan sebagaimana mestinya, agar dia bisa setor hasil sepedaan ke panitia jamselinas X. hohoho …

 

 

Setelah sarapan dan melanjutkan perjalanan, Ranz mencoba mencari peruntungan barangkali akan berpapasan dengan para peserta jamselinas X lain, mereka yang juga mengenakan jersey resmi. Tapi, ternyata ga ketemu juga, lol.

 

 

Sudah lama tidak bersepeda ke arah sini, ternyata kantor bupati Karanganyar terletak lebih jauh dari yang kuingat, wkwkwkwkwk. Heran kok ga sampai-sampai yaaa. Padahal kita sudah cukup beruntung lho karena mendung sehingga sinar mentari tidak bersinar begitu terik. Beberapa kali kita mampir ke pom bensin karena Ranz butuh ke toilet berkali-kali. :D

 

 

Ketika akhirnya kita sampai di pertigaan dimana jika mengambil jalan di sebelah kanan kita akan menuju Karangpandan, dan ke kiri ke arah jalan alternatif ke Sragen, aku nyicil ayem, kita sudah hampir sampai. Akan tetapi, ternyata treknya kok naik turun naik turun yang lumayan bikin deg degan yak gegara RD Austin bermasalah. Mana kata Ranz roda belakang Austin nampak goyang ketika dikayuh. Waduwww … mana kita mau masuk hutan kok malah Austin bermasalah.

 

 

Setelah sempat ketar ketir selama beberapa kilometer karena mulai terdengar suara-suara yang tidak kuharapkan dari crank Austin, karena aku sering memindah-mindah gear pas tanjakan/turunan (dibandingkan sehari sebelumnya, bersepeda ke Sukoharjo yang flat treknya), akhirnya kita sampai di Alas Bromo. Alhamdulillaaah.

 

 

Pintu masuk ke Alas Bromo nampak tertutup. Waduw, apa sekarang orang awam dilarang masuk yak? Sementara aku memotret Austin di papan nama Alas Bromo, aku melihat 3 motor berhenti di jalan raya, tak jauh dari pintu masuk ke Alas Bromo. Ada beberapa gadis remaja yang duduk-duduk di atas motor itu. Ranz sempat khawatir kita bakal dilarang masuk. Ketika Ranz sedang memotret Petir, aku melihat 2 petugas Alas Bromo sedang ngobrol di dalam. Kemudian aku melihat 3 - 4 motor trail keluar dari arah dalam hutan. Lah, mereka yang naik motor trail saja boleh menjelajah, mosok kita yang 'Cuma' naik sepeda onthel tidak boleh? Tapi, eh, siapa tahu mereka 'kerabat petugas' ya? Meskipun begitu, aku mencoba peruntungan dengan bertanya pada petugas, apakah kita diizinkan masuk untuk foto-foto. Dan … ternyata BOLEH! Leganyaaaa.

 

 

Kita pun masuk. Tak lama kemudian, beberapa motor pun masuk, termasuk 3 motor yang kulihat sebelumnya. Mereka nampak nyantai memarkir motor di balik pagar, kemudian ngobrol dengan petugas. Mereka mengenakan baju ala orang-orang yang sedang latihan olahraga beladiri. Di antara mereka ada yang membawa kamera dslr, mungkin juga akan foto-foto di dalam sambil mengenakan baju latihan bela diri.

 



 

Lumayan lama kita berada di dalam, Ranz asyik sekali memotret Petir dan Austin, hohoho … saat keluar, kita kembali menyusuri jalan yang 4 tahun lalu juga kita lewati. Dari jalan 'setapak' kita masuk, kita terus lurus sampai bertemu dengan sungai (treknya naik turun). Setelah bertemu sungai, trek naik, sampai bertemu belokan, kita belok kanan, kemudian ngikutin jalan, sampai di satu perempatan, kita belok kanan lagi. Tak jauh dari situ, kita melihat perkampungan, kita pun belok menuju perkampungan. Tak jauh dari situ, kita bertemu pintu masuk menuju Waduk Tirtomarto. Namun ternyata pintunya terlihat ditutup, akhirnya kita tidak lewat situ, kita lewat jalan yang dekat perkampungan penduduk.

 

 


 

Otw balik ke arah pertigaan dimana jika belok kiri kita ke arah Karangpandan, rantai Austin mogok. Bukan hanya lepas rantainya, Ranz telah memasangnya kembali namun tetap susah memutar. Kata Ranz RD-nya Austin bermasalah. Untunglah Ranz masih bisa mengakalinya sehingga aku tetap bisa mengayuh pedal Austin.

 

 

Kita mampir makan di sebuah rumah makan yang menu utamanya ayam goreng, mirip dengan rumah makan Mbah Karto Tembel. Kita sampai sini pukul dua siang. Pukul tiga siang kita selesai makan. Kemudian kita langsung kembali ke arah Surakarta.

 

 

Sekitar pukul lima kurang seperempat, kita sampai di daerah Purwosari. Ranz menawariku sekalian booking travel untuk balik ke Semarang. Aku memilih pemberangkatan pukul tujuh malam. Pukul sembilan malam aku telah sampai rumah Semarang. Alhamdulillah.

 

 

Kapan-kapan dolan lagiiiii. :D tanpa dolan, hidupku hampa. Uhuk.

 

 

PT56 17.46 05-Oktober-2020

  

Virtual Jamselinas X: Samori ke Tara Farm Sukoharjo

 Samori ke Tara farm, Sugihan Bendosari Sukoharjo


 


Akhirnya, waktu yang ditentukan oleh panitia Jamselinas X Magelang untuk bersepeda dalam rangka berjambore namun (disarankan) sepedaannya di kota masing-masing pun tiba! Yippeee!  Aku bisa saja sih bersepeda di kota Semarang, sendiri. Akan tetapi, aku memilih dolan ke Solo, dan bersepeda bersama Ranz di kota kelahirannya itu.

 

 

Sebenarnya panitia 'mewajibkan' para peserta jamselinas X untuk hanya sekali bersepeda dengan jarak tempuh minimal 30 kilometer, tanpa ada batasan minimal/maksimal waktu bersepeda. Namun, aku dan Ranz menyempatkan diri bersepeda dua kali, hari Sabtu 03 Oktober 2020 dan Minggu 04 Oktober 2020.

 

 

Sabtu 03 Oktober 2020

 

 

Dengan semangat bersepeda namun terhalangi rasa malas bangun pagi, lol, pagi itu aku dan Ranz baru meninggalkan rumahnya yang terletak di Laweyan pukul setengah delapan. Aku sudah ketularan Ranz malas bangun pagi saat weekend. Hihihi …

 

 

Seperti biasa, kita sarapan di rumah makan soto Hj. Fatimah yang terletak di Jl. Bhayangkara, sekitar 2,5 kilometer jauhnya dari rumah Ranz. Aku yakin rasa nikmat soto ayam disini mengalahkan rasa nikmat soto ayam dimana pun juga. Hohoho … saking nikmatnya, aku tak merasa perlu menuangkan kecap dalam mangkuknya. Es teh/teh hangat disini pun khas rasa nikmat teh Solo yang ada rasa sepet namun sedap itu. Setelah sarapan, kita langsung melanjutkan perjalanan menuju arah Sukoharjo. Satu tujuan kupilih karena aku tergoda setelah melihat unggahan satu akun di instagram, yakni Tara Farm yang terletak di kawasan Sugihan, Bendosari, Sukoharjo.

 

 

Baru bulan Agustus 2020 lalu kita bersepeda ke Wonogiri -- yang jika kesana kita lewat Sukoharjo -- maka rasanya (sebenarnya) kurang ada greget bersepeda ke arah sini (lagi dan lagiiii). Akan tetapi, rasanya aku sudah dipelet rasa ayam goreng Mbah Karto Tembel je, yang membuatku selalu ingin mengajak Ranz kesini. Hihihi … untunglah aku 'menemukan' Tara Farm, hingga, well, minimal kita ada tujuan baru.

 

 

Ranz sama sekali tidak merasa perlu ngecek google map, hingga kita masuk daerah 'perkotaan' Sukoharjo. Tak jauh dari kantor Bupati Sukoharjo, Ranz baru mengajak aku berhenti sebentar untuk ngecek google map. Setelah ngecek peta, kita melanjutkan perjalanan, Ranz mengajak belok kiri lewat Universitas Veteran Bangun Nusantara, yang kebetulan terletak tak jauh dari kita berhenti untuk ngecek google map.

 

 

Setelah beberapa kali ngecek google map, dan foto-foto dong dalam perjalanan mencari lokasi Tara Farm, akhirnya tibalah kita berdua di satu dukuh yang namanya membuatku terpesona: 'Sugihan'. Apakah nama ini serupa doa agar orang-orang yang tinggal di dukuh itu menjadi 'sugih' alias kaya? Hihihi … daerah yang benar-benar masih mengesankan desa! Meski tentu jalan menuju kesana telah diaspal, kecuali jalan yang menuju Tara Farm, kurang lebih 500 meter.

 

 

Tara Farm merupakan satu kebun jahe, banyak tanaman jahe di lokasi wisata utama disitu. Untuk dekorasi agar lokasi tersebut cukup instagrammable, pengelolanya (orang-orang lokal?) memasang payung-payung cantik selain hiasan seperti bola-bola yang digantung. Untuk masuk ke lokasi utama, seorang pengunjung hanya dibebani membayar duaribu rupiah. Di samping lokasi utama, ada lokasi kuliner sederhana, jenis makanan yang dijual misal cilok, mie ayam, bakso, kethoprak,; sedangkan jenis minuman seperti es teh, es degan, es nutrisari, dll. Untuk parkir, pengunjung bebas memberi uang berapa saja asal ikhlas.

 

 

Kita disini sekitar satu jam, untuk jajan dan foto-foto. Setelah itu, kita melanjutkan perjalanan, kembali ke arah kita datang, di jalan raya propinsi yang menghubungkan Surakarta dan Wonogiri. Ranz menawari untuk mampir makan siang di satu gerai fastfood di Solo Baru, tapi aku tetap memilih ke rumah makan ayam goreng Mbah Karto dong. Gerai fastfood itu ada dimana-mana, Semarang juga banyak. Tapi rumah makan ayam goreng Mbah Karto kesayangan Jan Ethes cucu presiden Jokowi, hanya ada di Sukoharjo! Hahahahah …

 

 

Ketika kita berada di Tara Farm, sempat gerimis sebentar, namun ternyata di pusat kota Sukoharjo hujan yang turun cukup membuat genangan air di banyak lokasi! Dan, saat aku dan Ranz makan siang, hujan pun turun lagi. Usai makan, hujan telah berhenti, kita pun melanjutkan perjalanan, kembali ke Solo.

 

 

Di kawasan Solo Baru, tak jauh dari lokasi satu gerai fastfood yang biasanya kita mampir untuk aku beli iced coffee, aku terjatuh; ban depan Austin kesangkut ban belakang Petir. Aku yang meleng melihat ke arah antrian mereka di drive thru fastfood itu, ga lihat Ranz memelankan kayuhan pedalnya. Perasaan jatuhku ga terlalu keras, namun dada sebelah kananku sakit banget je. :(  ambil nafas panjang terasa berat sekali. :( untunglah aku masih bisa melanjutkan gowes sampai Laweyan.

 

 

Malam itu kita tidak kemana-mana, leyeh-leyeh saja.

 

 

PT56 14.21 05-Oktober-2020

 


Rabu, 30 September 2020

Sepeda lipat resmi boleh masuk BRT

Konsultasi Publik III

Urban Mobility Plan

Rencana Aksi dan Implementasi

 

 Hari Senin 29 September 2020 saya dan Arif Daeng menghadiri acara yang bertajuk "Konsultasi Publik III Urban Mobility Plan Rencana Aksi dan Implementasi" yang diselenggarakan di Hotel Novotel pukul 12.00 - 16.30. Kami berdua mewakili komunitas sepeda kota Semarang.

  

Berdasarkan visi misi kota Semarang, yakni "Kota Semarang Kota Perdagangan dan Jasa yang Hebat Menuju Masyarakat Semakin Sejahtera", Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang tahun 2011 - 2031 meliputi

  

1.     Mewujudkan kehidupan masyarakat yang berbudaya dan berkualitas

2.     Mewujudkan pemerintahan yang semakin handal dalam meningkatkan layanan publik

3.     Mewujudkan kota metropolitan yang dinamis dan berwawasan lingkungan

4.     Memperkuat ekonomi kerakyatan berbasis keunggulan lokal dan membangun iklim usaha yang kondusif

 

Hasil skenario komitmen kebijakan transportasi berkelanjutan bisa dibaca di bawah ini:

 

1.     Perbaikan layanan angkutan umum ke simpul-simpul utama transportasi

2.     Pembangunan infrastruktur dan simpul angkutan barang dengan kapasitas yang memadai untuk menjamin ketahanan warga kota

3.     Perbaikan kinerja dan kualitas jalan arteri primer dan sekunder

4.     Pengembangan jalan lingkar luar, tengah, dan dalam

5.     Pembangunan fasilitas dan kawasan transportasi tidak bermotor

6.     Pembangunan Intelligent Transport System

7.     Pembatasan penggunaan kendaraan pribadi

8.     Meningkatkan pangsa penggunaan angkutan umum menjadi 20% pada tahun 2030

9.     Penurunan polusi transportasi melalui pembangunan sistem transportasi rendah karbon

10.      Peningkatan keselamatan jalan

  

Dari pembahasan sekian strategi dan target Urban Mobility Plan, saya akan melaporkan yang paling penting diketahui oleh kawan-kawan pesepeda.

  

Rencana aksi fisik untuk strategi kendaraan tidak bermotor yaitu

 

1.     Peningkatan fasilitas trotoar dan penyeberangan di jalan arteri dan kolektor dalam kota

2.     Perbaikan akses pejalan kaki dan pesepeda pada simpul-simpul angkutan massal

3.     Pengembangan satu kawasan Transportasi Tidak Bermotor baru (selain seperti 'rahasia umum' yakni area Kota Lama)

4.     Pengembangan jaringan fasilitas pesepeda di koridor angkutan massal

 


UMP merencanakan akan dibangun jalur khusus sejauh 12,8 kilometer untuk BRT dari Simpang Ngaliyan sampai Simpang Sukarno Hatta. Jalur sepeda direncanakan juga disediakan berdampingan dengan jalur khusus untuk BRT ini. Seperti kita tahu area Krapyak memiliki badan jalan yang sangat lebar sehingga bisa dibagi untuk jalur khusus BRT dan jalur sepeda.

 

 Berita menggembirakan dari pihak Trans Semarang yakni mereka akan mengeluarkan peraturan yang jelas bahwa sepeda lipat boleh dibawa naik bus Trans Semarang, terutama jika bus dalam kondisi tidak penuh penumpang. Seperti yang kita tahu selama ini, ada kawan-kawan pesepeda yang 'beruntung' bisa naik BRT dengan membawa sepeda lipat, sedangkan ada juga kawan-kawan yang ditolak. Pihak Trans Semarang berdalih bahwa belum semua petugas di lapangan tahu peraturan baru bahwa SEKARANG sepeda lipat boleh dibawa naik BRT.

 

 (FYI, sekitar 3/4 tahun lalu saya dan Tami menghadiri Forum Group Discussion yang membahas hal ini juga, pihak dishub propinsi membolehkan sepeda lipat dibawa masuk BRT, namun dishub kota melarang, dengan alasan BRT yang menjadi angkutan massal primadona sering penuh dengan penumpang jadi sudah menyediakan ruang untuk mereka yang membawa sepeda lipat.)

 

Untuk sementara ini, masih sepeda lipat yang bisa dibawa naik BRT, sepeda jenis lain belum bisa.

  

Ketika membahas jalur sepeda, UMP sudah merencanakan seperti yang saya tulis di paragraf atas, yakni dibangun bersamaan dengan jalur khusus untuk BRT. Saya mencoba menyatakan bahwa jalur sepeda yang benar-benar aman dan nyaman untuk pesepeda kebanyakan (bukan pembalap ya) misal para bike-to-worker adalah seperti yang di beberapa dekade lalu kita kenal sebagai 'slow lane' alias jalur lambat, yang terpisah dari fast lane alias jalur cepat. Jika ada target di tahun 2030 penggunaan angkutan massal akan mencapai 20% dari total perjalanan orang, dan cakupan layanan angkutan umum mencapai 80% dari luas wilayah kota, pemerintah bisa mengeluarkan peraturan agar kian banyak warga beralih ke angkutan massal, maka jalan raya tidak akan dipenuhi kendaraan pribadi sehingga mengurangi kepenuhan jalan raya atas kendaraan pribadi yang mungkin bahan bakarnya tidak ramah lingkungan.

 

Perwakilan dari Kasatlantas menyatakan bahwa pihak Satlantas telah melakukan kajian menyediakan jalur sepeda di sekitar Simpanglima, Jalan Gajahmada, Jl. Depok, Jalan Pemuda (dari Paragon sampai Tugumuda), Tugumuda, Jalan Pandanaran.


Demikianlah point-point yang bisa saya laporkan. Terima kasih.

 

Nana Podungge

Ketua B2W Semarang

 

PT56 21.58 30 September 2020

 

Jumat, 25 September 2020

Pitnik, ngeloop, atau gowes kluwer?

Seingatku, di awal-awal sepedaan, sekitar tahun 2008 - 2009, beberapa kawan sepeda mengajak 'pitnik' alias bersepeda untuk 'piknik' atau untuk 'berdarmawisata': jadi mengunjungi satu destinasi wisata, kemudian bersepeda balik. Ini selain ngikut funbike lho ya. Sebagai contoh: di hari Minggu pagi bersepeda ke Pantai Maron (yang waktu itu masih ada area berpasir secara alami), atau yang cukup esktrim, ke stasiun Kedungjati. Ini di bulan November 2008 kalau tidak salah. Waktu aku dan beberapa kawan bersepeda di Jogja, tujuan sepedaan kita ke Tamansari, dari rumah mertuanya Om Dar a.k.a Boil Lebon di Jakal km 8.

 


November 2008, di benteng Vredeburg


Januari 2015, pitnik rame2


 

Maka, tahun-tahun berikutnya, aku pun 'istiqomah', lol, alias mengikuti kebiasaan ini. Pertama gowes keluar kota 'duet' berdua dengan Ranz, kita bersepeda dari Solo ke Jogja. Semula tujuanku adalah Ganjuran, Bantul, namun akhirnya kita malah nanjak ke Kaliurang. Hihihi … Gowes dalam kota di hari Minggu pagi pun, kita juga 'pitnik', misal ke Pantai Cahaya, Weleri, ke Nglimut, area hutan mangrove di Tapak dan Mangkang, Sekatul, dll.

 

 


Entah mulai kapan istilah 'ngeloop' mulai populer. Mungkin saat sekelompok pesepeda di Jakarta ngeloop lapangan Monas ya, sekian tahun yang lalu. Aku yang 'buta' daerah geografi Jakarta, tidak tahu seberapa jauh sekali bersepeda memutari lapangan Monas. Satu kali, aku iseng mencoba 'ngeloop' jalan sekitar sungai Banjirkanal Barat, karena kulihat banyak pesepeda naik road bike di pagi hari 'latihan' ngebut di jalan Basudewo - Bojongsalaman ini. Ternyata, aku bosan sekali, kawans! Sekali memutari jalan Basudewo - Bojongsalaman ini kuhitung jaraknya sekitar 2,4 kilometer. Dua kali memutar, aku bisa dapat jarak 4,8 kilometer, tapi, oh mai god, jenuh sekali hanya memandang jalan yang sama, pemandangan yang sama. Rasanya nyaris ingin muntah-muntah. Lol. Kayaknya aku memang cocok masuk tipe gowes piknik. Hahahah … Well, meski pernah juga satu kali aku mencoba berbicara pada diri sendiri untuk mencoba ngeloop BKB, minimal 8 kali laah, agar bisa mencapai jarak hampir 20 kilometer, tanpa perlu pergi jauh-jauh. Ternyata, sore itu, aku sanggup ngeloop hingga 12 kali, dengan tambahan sekali bersepeda ke arah Tugumuda untuk beli semangka di tukang 'hik' dekat pasar Bulu. Aku bisa 'menghipnotis' diri tanpa merasa perlu muntah-muntah, lol. Aku menempuh jarak 30 kilometer. Wow. Aku meng-WOW-i diri sendiri. Kekekekekeke …

 

ini bukan 'gowes kluwer' melainkan turing AKAP :D


Beberapa bulan terakhir ini aku mengamati kawan-kawan pesepeda di dunia maya, mulai menggunakan istilah 'kluwer'. Aku menerjemahkannya sebagai bersepeda ke kota yang dituju (misal "Kendal Kluwer"), yaitu Semarang - Kendal, begitu sampai sana, langsung balik lagi ke Semarang, tanpa berkunjung kemana-mana. Kalau pun mampir ke satu tempat, ya mungkin itu rumah makan untuk mampir sarapan dan minum. Kalau ini, berarti aku juga pernah melakukannya; saat 'latihan' gowes jauh, aku dan Ranz dulu kadang bersepeda Semarang - Demak - Semarang, berhenti hanya untuk (1) mampir pom bensin buat nunut ke toilet (2) motret di depan masjid agung Demak. :D Atau di tahun 2017 dulu, aku dan para gadis pelor, bersepeda Semarang - Kudus - Semarang untuk latihan J150K.

 

pitnik ke Baluran, gratis, dibayari Ranz, hihihi


di hutan Penggaron, Maret 2015

 

Kalau kamu, mana yang paling kamu sukai? Kalau aku, paling suka bersepeda turing antar kota, dibayarin pulak. Haghaghaghag …

 

 

PT56 11.44 25 September 2020

  

Kamis, 24 September 2020

Jamselinas X

 


Sebenarnya, tanggal 10 Oktober 2020 para lipaters seluruh Nusantara -- yang telah tercatat sebagai peserta -- bakal membanjiri kota Magelang untuk saling bersilaturrahmi dalam event "jamboree sepeda lipat nasional" yang kesepuluh. Namun, ternyata segala yang telah direncanakan oleh ribuan orang ini "berkembang" ke arah yang sama sekali tidak kita harapkan. :(

 

 

 

Seperti yang kita semua sudah tahu, pandemi covid 19 telah mengubah kehidupan banyak negara di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Event-event yang telah direncanakan sejak bulan Maret 2020 (event-event yang dipandang bakal menyebabkan kerumunan orang) terpaksa dibatalkan satu per satu.

 

 

Waktu pendaftaran jamselinas X dibuka di bulan Maret 2020 sebenarnya pandemi sudah 'say hello', tapi kita yang kurang 'ngeh' tidak menganggap pandemi ini bakal ngendon lama. Aku pikir, "Oktober masih lama, 6 bulan lagi, pasti virus corona sudah kabur dari bumi Indonesia."  Maka, ya itulah, masih ribuan orang pede mendaftar, bahkan di awal2 pembukaan pendaftaran, 'rebutan' mendaftar paling awal pun terjadi. :D

 

 

Di pertengahan bulan Maret itu, pemerintah mengeluarkan pengumuman untuk mengadakan 'karantina' mandiri di kediaman masing-masing selama 2 minggu; anak-anak sekolah pun mempraktekkan pjj, alias pelajaran jarak jauh. Namun ternyata, yang semula hanya 2 minggu, diundur hingga akhir Mei, sekitar 2 bulan. Juni awal, pemerintah kembali menghimbau terus mempraktekkan pjj untuk anak-anak sekolah, dan work from home alias bekerja dari rumah bagi sebagian (besar) ASN.

 

 

 

Awal Juli (event Tour de Pangandaran X yang rencana diselenggarakan tanggal 4 Juli akhirnya resmi dibatalkan juga) pemerintah mulai memasyarakatkan gerakan "New Normal"; alias kembali mengerjakan kegiatan sehari-hari seperti biasa namun dengan mempraktekkan protokol kesehatan dengan ketat: (1) mengenakan masker (2) jaga jarak (3) cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer sesering mungkin.

 

 

 

Aku pribadi masih optimis, bulan Oktober masih 3 bulan lagi (dari bulan Juli). Namun menjelang akhir bulan Juli suara-suara untuk tetap menyelenggarakan jamselinas X atau 'membatalkannya' mulai kerap menghiasi grup FB Indonesia-FoldingBike a.k.a ID-FB. Aku tengarai para 'newbie' yang di awal-awal sempat ikut gontok-gontokan mendaftar duluan waktu pendaftaran dibuka di bulan Maret, mereka pula yang getol menyuarakan 'batalkan saja, kembalikan uang yang telah kita bayarkan'. Para 'pemain lama' tentu akan dengan sabar menunggu pengumuman resmi dari panitia, tanpa merasa harus ikut campur berpolemik di media sosial.

 

 

 

Duh, kebayang sedihnya para panitia kawan2 Sepedalipat Magelang menghadapi suara-suara miring seperti itu. Merek tentunya ingin Magelang tetap dibanjiri para seliers, ingin para pendonor event -- misal hotel-hotel atau Dinas Pariwisata Magelang -- tetap merasa bahagia, selain mendapatkan keuntungan secara finansial dengan kedatangan para seliers. Namun, di sisi lain, jika ribuan seliers tetap memadati kota Magelang, kemungkinan terjadi klaster baru pasien positif covid 19 sangat besar.

 

 

Mengembalikan uang pendaftaran?

 

 

You must be kidding!

 

 

Uang pendaftaran sudah masuk sejak bulan Maret. Dengan harapan besar plus kepercayaan diri bahwa di bulan Oktober Magelang akan menjadi tuan rumah perhelatan akbar lipaters seluruh Nusantara, tentu panitia telah menyiapkan segala hal: misal, merancang dan mendisain merchandise (jersey, tas slempang, cangkir, sticker, medali finisher, dll) yang akan dibagikan pada para peserta, kebutuhan administrasi ini itu itu ini, jelas ini butuh dana. Karena tentu panitia tetap berharap event 'naik hajinya para pesepeda lipat seluruh Nusantara' ini tetap terselenggara sebagaimana mestinya.

 

 

Aku ingat di bulan Agustus -- sebelum panitia mengumumkan secara resmi bahwa event akan diubah menjadi 'virtual ride' -- ada beberapa 'status' di grup ID-FB yang kembali memojokkan panitia, dan ternyata yang menulis bukan 'newbie' jamselinas. :( :( :( sebagai 'mantan' (salah satu) panitia 7amselinas, aku bersyukur KomseliS tidak mengalami hal seperti ini. Lelah fisik dan psikis selama beberapa bulan menjelang penyelenggaraan 7amselinas satt itu terasa terbayarkan setelah event akbar itu usai, meski tentu tetap ada suara-suara sumbang di antara ribuan peserta. Tapi, menurutku pribadi, itu jauh lebih mending ketimbang beban psikis panitia jamselinas X ini.

 

 

Aku menulis ini tanggal 24 September 2020. "Racepack" jamselinas X telah kuterima beberapa hari lalu, ya, panitia akhirnya memutuskan untuk tetap menyelenggarakan event, namun secara 'virtual'; artinya para peserta diharapkan tetap bersepeda di kota masing-masing, atau tetap datang ke Magelang, namun bersepeda sendiri-sendiri untuk menghindari kerumunan dengan cara mengikuti aturan main yang telah ditentukan oleh panitia.

 

 

 

Dan, akhirnya, jamboree sepeda lipat nasional kesepuluh ini menjadi jamboree pertama yang diadakan secara virtual. Akankah diikuti oleh jamselinas XI? Seandainya, tahun 2021 nanti kondisi Indonesia belum jauh berubah dari tahun ini, tetapkah ada satu kota (yang diwakili satu komunitas sepeda lipat kota itu) mem-volunteer-kan diri menjadi host?

 

 

Secara pribadi, aku tidak keberatan jamselinas X ini diselenggarakan secara 'virtual', di antara beberapa merchandise dalam 'racepack' yang paling kusukai adalah tas slempangnya! Ouww … imuuuut, kayak akyuuuh. Hahahahah … Dolan ke Magelang bisa dilakukan kapan-kapan lagi; bersilaturrahmi dengan para lipaters dari seluruh penjuru Nusantara juga bisa dilakukan secara virtual kok, lewat medsos, ye kaaan? Hohoho …

 

 

Yuuuk tetap semangat bersepeda lipat!!!

 

 

PT56 17.14 24 09 2020

 

Senin, 14 September 2020

Busana untuk bersepeda

 "Busana untuk bersepeda"

Sejak kegiatan bersepeda "naik daun" di tengah masyarakat, iklan2 "baju yang nyaman untuk bersepeda" muncul di medsos. Dan satu foto Radit yang dia beri kepsyen "saat bersepeda belum seribet sekarang" 😅😅😅 mengingatkanku pada obrolan kita sekian tahun lalu. Bagi dia, baju yang biasa kupakai waktu bersepeda (kaos/jersey lengan panjang, kalau lengan pendek aku pakai "manset" sejak berangkat dari rumah, dan celana panjang, lihat di foto bawah ini) itu sangat tidak nyaman karena satu hal: SUMUK 😅 Dia bilang kalau sepedaan ya pakailah celana pendek dan kaos/jersey lengan pendek, dijamin nyaman karena silir 😂 kaki dan tangan pun bebas bergerak.



Ranz setuju dengan pendapat Radit ini. Mereka berdua nampak ga peduli jika hasilnya warna kulit lengan dan kaki bakal belang 🤣🤣🤣 kadang Ranz pakai kaos/jersey lengan panjang, biasanya ini kaos/jersey event atau kembaran denganku, tapi seperti biasa, lengan akan dia gulung sampai sesiku 😁


Well, sebenarnya aku setuju juga. Hihihi ... kalau sepedaan sore/malam hari aku juga suka pakai kaos lengan pendek dan celana pendek, tubuh terasa lebih ringan 😛 tapiiiii, aku (masih) perempuan yang sedih jika warna kulit lengan dan kakiku blang blonteng 🤪🤪🤪 jangankan pakai kaos/celana pendek, sekian tahun lalu waktu aku rajin bersepeda setiap pagi, mengenakan jersey dryfit, setelah sebulan full punggungku belang 😝😝😝 you know bagian mana yang "membentuk garis malang" ya 🤭🤭🤭


Tapi, eh, ngomong2, kata seorang sobat sepeda (yang namanya lebih baik kusamarkan), paling enak itu saat nyepeda ga pakai cd (I am serious, don't think it nasty or what), ga ada yang nyelip2 di pantat soalnya. Kalau ga percaya, sila coba sendiri.


FYI, sejauh apa pun aku bersepeda, aku belum pernah pakai celana padding.