Cari Blog Ini

Senin, 29 Juli 2019

11 tahun bersepeda ke kantor



Semakin 'kesini' aku semakin merasa berhutang budi pada seorang kawan yang telah 'menjawilku' untuk bergabung membentuk komunitas B2W Semarang pada tanggal 26 Juni 2008 dulu. (Check tulisanku disini.) karenanya, aku jadi mulai bersepeda ke kantor, juga bersepeda ke tempat-tempat lain, misal toko buku, kulineran, dolan ke rumah teman, dll.



Bersepeda tidak hanya memberiku alternatif olahraga yang lebih praktis ketimbang olahraga kecintaanku sebelumnya (berenang), namun bersepeda telah memberiku banyak pengalaman yang sangat mengasyikkan, misal dolan ke kota-kota di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur, hingga bersepeda di Bali dan Lombok. Thanks a bunch to my biking soul mate for this.



Kemarin aku membaca kisah seseorang yang dishare di satu grup. Dia divonis terkena 'fatty liver' oleh dokter dua tahun lalu. Penyakit ini disebabkan oleh kadar trigliserida yang tinggi. Kata dokter belum ada obatnya. Jika 'fatty liver' ini tak segera ditangani, dia bisa menyebabkan sirosis alias kanker hati. Namun dokter juga bilang ada salah satu pasiennya yang bisa menghilangkan 'fatty liver' ini dengan cara minum kopi hitam tanpa gula dua kali sehari (note: bukan kopi sachetan). Di salah satu komen di postingan itu, seseorang menulis bahwa dia juga pernah divonis kena 'fatty liver'; namun lambungnya ga kuat jika dia minum kopi. Oleh dokter, dia disarankan untuk olahraga berjalan kaki selama 30 menit setiap hari. And, voila … it worked well on her.



Aku jadi berpikir, pastinya tubuhku ini telah terlindungi dari berbagai jenis penyakit ya karena aku biasa bersepeda setiap hari, minimal 30 menit lah. Sebut saja obesitas, diabetes, sampai 'fatty liver' yang kusebut di paragraf atas. Thank God. Memang, untuk sehat, kita harus mengupayakannya. Seperti juga untuk merasa bahagia, begitu kan?



Btw,

Setelah 11 tahun aku bersepeda ke kantor, sampai sekarang aku masih gagal menulari kawan-kawan kerja lain untuk melakukan hal yang sama, meski ada yang pernah ngikut, tapi ga lama. Namun, aku akan terus melakukannya, meski aku berharap akan mampu menulari orang-orang lain di sekitarku.

Sabtu, 27 Juli 2019

Segowangi 65

di bulan Juli 2019 ini penyelenggaraan Segowangi alias Semarang Gowes Jemuwah Bengi telah mencapai angka ke-65. alhamdulillah selama lebih dari 5 tahun, segowangi telah menjadi salah satu ajang silaturrahmi para (pecinta) (pe)sepeda malam hari. 😍

kebetulan ada tamu-tamu yang datang dari luar kota, e.g. Jakarta yang bergabung dalam komunitas HURA-HURA CYCLISTS dimana beberapa anggota dari mereka bersepeda bersamaku dan Ranz dalam event J150K ENDURANCE 2019 (maksudku sebagian dari mereka bersepeda dengan speed super damai sepertiku waktu itu, hihihihi). Mereka sedang bertamu ke Semarang, dan digawangi oleh kawan-kawan pecinta sepeda lipat gust (fnhon) mereka bergabung dengan segowangi 65. well, meski mereka 'hanya' bergabung di awal sih, waktu kumpul-kumpul dan berfoto bersama di halaman Balaikota 😜

kebetulan rute yang kubuat malam ini cukup pendek, kurang dari 10 kilometer, karena Ranz harus buru-buru balik ke Solo seusai segowangi, dan dia akan naik KA Joglosemarkerto yang berangkat dari stasiun Poncol pukul 21.25.

berikut beberapa foto jepretan Ranz.

















Selasa, 23 Juli 2019

Spending one (long) weekend in Solo


Sebelum berangkat dolan ke Dieng, (kisah bisa dibaca disini), aku, Ranz dan beberapa gadis pelor sempat membahas untuk dolan ke tempat lain, mumpung libur agak lama, buat kita. Namun, ternyata ga jadi. :D akhirnya, untuk menghabiskan libur, aku dolan ke Solo.



Kamis 4 Juli 2019


Aku meninggalkan rumah menjelang pukul tujuh pagi, naik Austin. Tujuanku adalah stasiun Poncol, berharap akan bisa mendapatkan tiket KA Kalijaga yang berangkat pukul 09.00. Namun ternyata di musim libur sekolah begitu, KA Kalijaga termasuk KA primadona! Sesampai stasiun, di loket yang khusus menjual tiket tujuan Solo dan Ngrombo ini ada tulisan bahwa tiket KA Kalijaga untuk hari itu telah habis. Aku langsung balik kanan, mengayuh pedal ke arah Selatan kota Semarang, siap mendaki tanjakan Jl. S. Parman, Jl. Sultan Agung, Kaliwiru, hingga 'puncak'nya adalah Gombel.


Kebetulan ketika sampai di Sukun ada 2 bus tujuan Solo, Ta**na dan Mu**ul. Bus yang pertama langsung berangkat tak lama setelah aku sampai. Sementara itu, ketika aku sedang melipat Austin, kernet bus Mu**ul nyamperin aku, merayuku untuk naik bus-nya; bahkan dia nampak akan buru-buru mengangkat Austin, padahal aku belum selesai melipatnya. :(


Perjalanan lancar. Aku baru tahu kalau bus Mu**ul lewat jalan tol, itu sebab kita sampai Solo sebelum pukul 11.30. Tapi, sayangnya setelah aku turun di Kerten, dan akan membuka lipatan Austin, lipatan setangnya bermasalah. :( Itu sebab sesampai rumah Ranz di kawasan Laweyan, aku langsung mengajaknya ke bengkel sepeda. (Aku bayangin Ranz bakal mengajakku ke Wonogiri naik KA Batara Kresna, seperti yang pernah kita rencanakan, maka jelas Austin harus segera 'beres'.)


Sebelum ke bengkel, Ranz mengajakku makan siang di satu warung makan tak jauh dari pasar oleh-oleh Jongke. Aku memilih garang asem, karena tergoda orang lain yang makan menu itu ketika kita baru sampai. Ahaha … aku mudah terprovokasi. Lol. Untungnya, garang asemnya memang enak, ga beda jauh dengan garang asem yang asli Kudus. Dari sana kita ke bengkel, kurang lebih terletak sekitar 2,5 kilometer. Kebetulan waktu itu sedang ramai, jadi kita meninggalkan Austin dan Petir disana (ya! Petir juga kebetulan sedang butuh dibelai sang mekanik sepeda langganan Ranz. Lol.)  karena masih ingin olahraga, aku memilih pulang ke rumah Ranz jalan kaki, meski sebenarnya kita bisa naik BST, sejenis bus Trans Semarang.


Jam 15.30 kita kembali ke bengkel untuk mengambil Austin dan Petir. Syukurlah lipatan setang Austin bisa 'diakali' hingga setangnya ga goyang-goyang (oglak-aglik, Jawa-red). Kita beristirahat setelah itu. Eh, aku leyeh-leyeh di kamar, Ranz harus momong keponakannya.



Pukul 19.00 kita bersepeda ke Wedangan Pak Basuki, yang teh nasgitel-nya juara menurut lidahku. Well, satu alasan utamaku ke Solo adalah jajan teh nasgitel disini. :D Kita nongkrong disini sambil ngeteh sampai pukul 22.00.


Jumat 5 Juli 2019


Kukira hari ini Ranz akan mengajakku ke Wonogiri, dolan ke Waduk Gajahmungkur sambil makan di pinggir waduknya, seperti 2 tahun yang lalu. Ternyata, pagi-pagi Ranz malah nawarin aku gowes ke Pengging - Boyolali, salah satu sepupunya menikah selepas shalat Jumat. Ya … gapapa lah, yang penting bersepeda. :)






Untuk sarapan pagi ini, aku minta diajak ke warung soto langganan Pak Jokowi dan keluarga. Dari Laweyan kita bersepeda sejauh kurang lebih 6 kilometer menuju Jl. Brigjend Sudiarto, tempat warung soto GADING 1 terletak. Sotonya yang berkuah bening enak, tanpa perlu dicampuri apa-apa, menurut lidahku, karena jika dikucuri kecap, rasa segarnya berkurang. Tempe gorengnya enakkk, tidak kalah dengan tempe garit yang kusuka di warung soto Mbak Tiah yang terletak tak jauh dari Gunung Pati kilometer 0, hanya agak kurang asin sedikit. Rasa tehnya istimewa, bahkan ketika dicemplungi es batu, rasa tehnya tetap terasa istimewa. :)


Usai sarapan, kita balik ke Laweyan. Sekitar pukul 10.30 kita mulai bergerak menuju Boyolali, aku sengaja mengajak Ranz berangkat agak pagi agar kita tidak perlu mengayuh pedal buru-buru.



Angin yang berhembus masih terasa dingin. Meski siang itu sang matahari bersinar lumayan menyengat, angin yang mengenai tubuh kita tetap terasa dingin. Ranz memberiku kesempatan berhenti sekali untuk memotret Austin ketika kita melewati hamparan sawah yang berwarna hijau agak sedikit menguning. Pemberhentian kedua adalah di satu angkringan, kita minum es teh. Alhamdulillah tehnya juga terasa enak, menurut lidahku. :)  Pemberhentian ketiga di satu warung yang khusus berjualan sosis yang maknyussss, apalagi jika dimakan setelah turun dari penggorengan.


Tak jauh dari warung sosis itu, kita sampai di satu balai tempat resepsi pernikahan diselenggarakan. Sesampai sana, aku dan Ranz mencari toilet tempat kita berganti baju.  Setelah ganti baju, kita duduk di kursi-kursi yang disediakan untuk tamu.



Acara pesta pernikahan ala Solo itu berlangsung secara semestinya: bukan standing party, namun para tamu duduk manis di kursi masing-masing; saat makan datang, ada serombongan orang yang disebut sinoman menyebar di antara tamu-tamu untuk membagikan makanan, mulai dari minuman berupa the manis hangat yang ditaruh di atas meja, kemudian snack yang terdiri dari 2 jenis; dilanjut dengan sup manten, kemudian main dish (nasi, cap cay, dll) dan diakhiri dengan es puter (sejenis es krim jadul).


Pulangnya tentu saja aku dan Ranz kembali bersepeda ke Solo, meski Ibunya Ranz menawari kita nebeng mobil. :)


Dalam perjalanan pulang, Ranz sempat menawari mampir ke satu tempat yang mirip de Tjolomadoe, namun ketika Ranz ngecek tiket masuk di internet, ternyata bayarnya mahal, sampai Rp. 75.000,00. Hmmm … ga usah saja deh. Lol. Kita langsung balik menuju kawasan Laweyan. Dalam perjalanan, kita malah 'menemukan' satu bangunan yang menarik: pura Indraprasta!




Malamnya aku kembali meminta Ranz untuk ke Wedangan Pak Basuki lagi. Asyiiik.


Sabtu 6 Juli 2019


Hari ini Ranz menawariku untuk bersepeda ke Sukoharjo, untuk mencicipi ayam kampung goreng Mbah Karto, langganan Pak Jokowi sekeluarga.


Kita bangun pagi rada santai dibanding sehari sebelumnya. Usai mandi, kita menempuh rute yang mirip dengan kemarin, menuju Jl. Brigjen Sudarto. Waktu melewati warung soto segeer Hj. Fatimah, aku iseng-iseng bilang ke Ranz, "Eh, mampir yuk? Sudah lamaaa kamu ga mengajakku sarapan disini." tapi ternyata ajakanku ga ditanggapi Ranz. Lol. Kita terus lanjut gowes.




Ketika melewati Jl. Veteran, area Serengan dimana warung selat Solo Mbak Lies terletak, aku kembali merajuk mengajak Ranz mampir. Eh, kali ini berhasil. Hihihi … Kita sudah lama juga tidak kesini dengan naik sepeda. Seperti biasa jika disini aku memilih selat galantin kuah segar. Kali ini Ranz justru memilih timlo sebagai sarapannya.




Usai sarapan, kita lanjut bersepeda ke arah Solo Baru, lanjut teruuuus sampai pusat kota Sukoharjo. Kayuhan kita berhenti setelah kita sampai di masjid Baiturrahmah. Dari jauh waktu melihat menaranya, aku sudah tertarik, maka aku mengajak Ranz mampir untuk memotret. Setelah memotret Austin dengan latar belakang masjid, ternyata Ranz langsung mengajak balik kanan, ke arah alun-alun Sukoharjo.





Ternyata lokasi rumah makan ayam kampung goreng Mbah Karto tidak begitu jauh dari alun-alun ini. Sekitar pukul sebelas kita sampai. Untuk sampai disini, kita bersepeda sejauh kurang lebih 20 kilometer dari warung selat Mbak Lies. Ya, bisa dimaklumi jika kita merasa lapar lagi, lol.


Bangunan utamanya terlihat klasik dari luar, seperti bentuk joglo yang berbentuk kotak dan luas. Semula Ranz menolak ketika kuajak masuk, (jangan-jangan dia 'melihat sesuatu' ya? Lol) namun akhirnya dia mau. Di dalam aku melihat ada sekitar 5 meja besar, di tiap-tiap meja ada kursi-kursi yang ditata mengelilingi. Ini berarti, kita tidak bisa meng'occupy' satu meja (kecil) dengan hanya dua kursi yang membuat kita merasa sedikit private. Kita harus berbagi meja seluas itu dengan orang-orang lain.




Rasa ayam gorengnya standard enak. (oh ya, kita memilih ayam broiler, bukan ayam kampung.) sambalnya yang istimewa (sambal 'blondo' namanya). Namun, karena sebelum makan disini, kita beli rujak (cacah) waktu mampir ke alun-alun, dan rujaknya pedas sekali, waktu makan di Mbah Karto, aku ga begitu maniak makan sambal. Hohohoho …





Usai makan, kita pulang, karena semakin siang, pengunjung semakin banyak, ga enak jika tetap duduk nongkrong disitu.


Otw, ketika lewat pusat perbelanjaan Solo Baru, aku ditawari mampir ke satu gerai makanan cepat saji, aku langsung mau, bukan untuk makan (lagi) tapi untuk minum iced coffee-nya. Lumayaaaan. Dalam perjalanan ngantuk jeee. :D


Kita sampai Laweyan sekitar pukul tiga sore. Saatnya istirahat!


Dan … malamnya, aku kembali minta diajak ngeteh lagi di Pak Basuki. 😍


Minggu 7 Juli 2019


Pagi ini kita nyantai bersepeda ke Jl. Slamet Riyadi, lokasi pelaksanaan CFD Solo. Aku sarapan nasi liwet Solo di satu pedagang kaki lima, di tempat yang sama Ranz memilih cabuk rambak untuk sarapan. Setelah itu Ranz mengajak mampir ke satu toko sepeda. Dan … aku tergoda untuk membeli helm baru. Yuhuuu.


Menjelang pukul 09.00 kita balik ke rumah. Aku packing, kemudian mengajak Ranz ke tempat beli oleh-oleh langganan. Setelah itu, aku ikut keluarga Ranz pergi ke Kemuning untuk menghadiri arisan keluarga besar.


Pulang dari sana, kita sampai Laweyan pukul 15.15. terlambat lah jika aku ingin naik kereta api. Padahal aku sedang rada kapok naik bus gegara lipatan setang Austin yang bermasalah. 😓akhirnya, aku malah pulang ke Semarang diantar Ranz naik mobil. Wuaaahhhhhhhhhhhh …


Begitulah kisah wikenku di wiken pertama bulan Juli 2019.


IB180 20.40 18-Juli-2019

Rabu, 26 Juni 2019

Yang layak diingat dari J150K Endurance 2019



Yang paling spektakuler dari event ini adalah jumlah peminat yang gila-gilaan. Sebelum pendaftaran dibuka, sudah banyak kawan yang menanyakan tentang event ini, para newbie tentu saja, yang belum pernah ikut event J150K sebelumnya. Mereka kasak kusuk tentang


  1. berapa biaya pendaftarannya
  2. dengan biaya pendaftaran sejumlah itu, kita dapat apa saja
  3. bagaimana treknya
J150K kedua tahun 2017, biaya pendaftaran Rp. 200.000,00, kita mendapatkan sebuah kaos dan tas kecil yang bisa kita cantelkan di setang. Asupan minum dan cemilan berupa pisang cukup tersedia di sepanjang jalan. Trek tidak terlalu sulit, di awal ada tanjakan menuju area Gunung Merapi (Jalan Kaliurang kilometer 15), kemudian belok ke arah Kulon Progo, kemudian ke arah Bantul, hingga Pantai Baru, check point 2 tempat makan siang. 

Itulah sebabnya kawan-kawan langsung (sedikit) patah hati ketika dengar rumor bahwa biaya pendaftaran kali ini meningkat cukup signifikan, yakni Rp. 500.000,00. Kita berharap ini hanya sekedar rumor, bukan kabar yang sesungguhnya.

Bahkan Ranz langsung bilang, "Tidak!" ketika kutanyai apakah tetap akan ikut J150K jika biaya pendaftaran benar-benar limaratus ribu rupiah. Aku juga mikir limaratur ribu rupiah dikalikan dua bisa kita pakai mbolang beberapa hari ke satu lokasi yang belum pernah kita datangi.

Itu sebab waktu pendaftaran dibuka dan biaya pendaftaran benar-benar mencapai angka setengah juta rupiah, aku bingung. lol. eman-eman uangnya, tapi kok pingin ikut. dengan setengah hati, aku iseng mendaftar, kira-kira setelah bingung mendaftar atau tidak selama 5 menit. lol. Aku terdaftar, dengan nomor pendaftaran 368. Aku 'jeda' sekitar 2 menit untuk menimbang-nimbang ndaftarin Ranz atau tidak, akhirnya aku mendaftarkannya. Ternyata, nama Ranz tidak terdaftar.

Panitia menyediakan 'tiket' 500 orang dengan biaya pendaftaran limaratus ribu rupiah, ternyata langsung SOLD OUT dalam waktu kurang dari 10 menit. AJIGILEEEEE ...

dan peserta hanya diberi waktu satu minggu saja untuk melunasi biaya pendaftaran. jika tidak dibayar, langsung dicoret, karena panitia akan memberikan 'slot' itu pada calon peserta lain yang merengek-rengek minta ikut karena gagal mendaftar. 

Jika kalian baca artikelku disini, aku ragu-ragu jadi ikut atau tidak. lebih ke ga jadi ikut ya? :)

Namun ternyata, 'akal sehat'ku kalah dengan nafsu untuk membuktikan pada diri sendiri bahwa aku mampu menempuh jarak 150 kilometer dengan naik sepeda lipat. 😜

Dalam waktu seminggu, aku berusaha merayu Ranz untuk mau ikut. Aku harus yakin dulu dong bahwa dia mau ikut, baru aku membayar biaya pendaftaran. 

Ranz akhirnya bersedia ikut setelah aku kompori dia bahwa Aristi ikut, bahwa Aristi bakal njewer telinganya jika dia ga ikut J150K. hahahahaha ... Tapi, dia ga mau repot 'rebutan' mendaftar, hingga itu tetap menjadi tanggung jawabku.

Waktu panitia mengumumkan membuka pendaftaran kloter 2, aku sudah siap-siap dengan gadget di tangan. Detik panitia membuka, saat itu juga aku langsung mengisi formulir. 2 menit kemudian ku-submit. Dan aku lega waktu ada balasan dari panitia memberitahu data yang kusubmit sudah diterima. Plus, aku bisa ngecek di daftar peserta di web yang tersedia. 

Dan ... pendaftaran kedua ini ditutup dalam waktu 5 menit! Konon panitia hanya membuka untuk sekitar 200 peserta lagi. (Namun ternyata, di hari H, ada 933 nama yang terdaftar ikut J50K 2019 ini.) Dengan jumlah peserta hampir seribu, dimana mereka harus menempuh jarak 150 kilometer tentu bukan satu event yang mudah dikontrol. 

'Karakter' J150K dengan Tour de Pangandaran beda. Peserta J150K memiliki waktu terbatas, mereka dipatok harus sudah sampai di check point 1 pada jam tertentu, begitu seterusnya hingga titik finish. Jika lebih dari target yang ditentukan, peserta akan 'digaruk' dan diangkut kendaraan evak. Sedangkan TdP sifatnya 'turing', tidak ada target harus sudah sampai di check point 1 jam berapa, waktunya benar-benar fleksibel. Panitia menyediakan kendaraan evak di tempat makan siang (Toserba Samudra) sampai pukul 15.00. Jika sampai di titik ini lebih dari jam itu, peserta harus bertanggung jawab pada diri sendiri, bagaimana akan sampai di Pantai Pangandaran. 


Aku belum pernah ikut event Tour de Borobudur yang konon peserta juga dibatasi waktunya, atau event-event lain sejenis.

*****

Selain menarik minat peserta yang begitu spektakuler, catatan lain adalah panitia mempersiapkan segalanya dengan jauh lebih profesional.

Ada 3 check point yang telah dipilih oleh panitia. Check point pertama di kilometer 50 (kalau tidak salah ingat.) Check point kedua di kilometer 89. Check point ketiga di kilometer 134. Selain di 3 titik itu, panitia juga menyediakan check point bayangan dengan menyediakan 'water station' plus cemilan sehat berupa coklat (di check point bayangan 1) dan pisang (check point lain).

Selain itu, para pengibar bendera alias penunjuk jalan ada dimana-mana. Kita tidak akan tersesat, meski kita tidak mengenal area yang kita lewati dengan baik. Kru panitia juga terlihat mondar-mandir, 'menjemput' masalah, andai ada peserta yang terkena masalah, misal kaki kram, atau masalah teknis dengan sepeda. Plus tenaga fisioterapi dalam jumlah lebih dari 10 orang disediakan.


******

Banyak peserta yang terlihat ikut event ini secara rombongan. Mereka tetap terlihat solid dalam rombongannya. Jika ada satu yang terpaksa harus berhenti, anggota rombongan lain ikut berhenti. (Salut buat mereka!) Namun, aku juga melihat banyak peserta lain yang nampak sendirian. Ketika mereka lelah dan butuh istirahat, mereka akan duduk di pinggir jalan -- dimana pun -- untuk sekedar meluruskan kaki, mengistirahatkan pantat.

Dan aku bersyukur Ranz terus menerus mengawalku,  meski cerewet. hahahahaha ... Meski kadang kecerewetannya membuatku kesal. lol. but I love her that way. 😀


To be continued.

J150K Endurance 2019

dengan medali J150K yang ketiga 😍

Setelah penyelenggaraan J150K yang kedua di tahun 2017, ternyata para pehobi sepeda lipat tak perlu menunggu lama untuk ikut event serupa yang ketiga. Nampaknya pengurus JogjaFoldingBike ngerti banget keinginan para pesepeda lipat untuk unjuk eksis di event yang rada bergengsi. :D


(Note: J150K pertama diselenggarakan pada tanggal 9 November 2013. J150K yang kedua diselenggarakan pada bulan Februari 2017, dibarengkan dengan event ultah kedelapan JFB.)


Meski sempat hampir patah hati karena biaya pendaftaran yang mencapai setengah juta (loooh, apa beda dengan event sejenis AUDAX dong yang selama ini aku (dan Ranz) hindari karena biaya pendaftaran yang mihil ternyata aku tergoda untuk mendaftar. Setelah (berhasil) mendaftar (butuh usaha serius untuk ndaftar karena animo calon peserta yang membludak dibandingkan target panitia), ragu-ragu lagi untuk jadi ikut atau tidak. :) Setelah tahu bahwa panitia mungkin akan membuka pendaftaran kloter kedua, jika ternyata 500 peserta pertama yang telah terdaftar tidak semua bisa memenuhi syarat (baca => membayar biaya pendaftaran dalam jangka waktu yang ditentukan). Maka, aku kembali mencoba merayu Ranz, siapa tahu dia akhirnya mau ikut. Hohoho …


Dengan bantuan 'komporan' beberapa kawan, akhirnya Ranz menyatakan kesediaan untuk kudaftarkan di kloter kedua. Maka, aku pun mentrasfer uang sejumlah Rp. 500.000,00 untuk mendaftar. 'struggle' berikutnya adalah mantengin pembukaan pendaftaran kloter kedua, dan berjibaku dengan ratusan calon peserta lain untuk mendaftarkan Ranz. :D dan … alhamdulillah aku bisa memasukkan nama Ranz. Dia dapat nomor 625, padahal begitu panitia membuka pendaftaran, aku langsung mengisi formulir (online) dan submit, kurang dari 2 menit laaah, eh, ternyata dapat nomor jauh di atas angka 500. :D


H-1 Jumat 21 Juni 2019


Seperti biasa, aku naik KA Kalijaga yang meninggalkan stasiun Poncol pukul 09.00. Kali ini aku sendirian, dua tahun lalu, aku berangkat bareng Avitt, Dwi, Hesti, dan Lambang. Kali ini aku berangkat sendiri, Avitt berangkat sehari sebelumnya, yang lain tidak ikut. Ranz menungguku di stasiun Balapan.


KA Kalijaga yang kutumpangi sampai di stasiun Balapan sekitar pukul 11.44, sesuai dengan yang tertera di tiket. Ranz sudah menungguku di peron 2, tempat KA Prameks yang akan kita naiki menuju Jogja akan berangkat. Kita naik KA Prameks yang berangkat pukul 12.15.


Kita turun di stasiun Lempuyangan. Dari sana kita bersepeda menuju satu hotel yang terletak di area Timoho, kuang lebih 1,5 kilometer dari Balaikota Jogja, tempat diselenggarakannya event. Kita check in dulu di hotel, baru ke tempat pengambilan racepack. Dari sana, kita balik lagi ke hotel, beristirahat sejenak.


Menjelang pukul lima sore Raditya datang. Kita makan malam bertiga. Ada warung Bakmi Gunung Kidul yang lumayan enak tak jauh dari hotel tempat kita menginap. Setelah makan malam, aku dan Ranz sempat bersepeda ke arah Balaikota, kemudian terus gowes ke arah Barat, menuju Malioboro. Namun kita tidak sampai Malioboro. Kita berhenti di depan kantor Gubernuran, dan foto-foto disana. Setelah itu kita balik lagi ke penginapan.



Sesampai hotel, (un)surprisingly, Ranz bilang dia lapar (lagi). Kekekekeke … perutnya memang tak ada duanya. Hohoho … setelah memasukkan sepeda ke dalam area hotel, kita jalan kaki, mencari tempat dimana Ranz bisa beli camilan untuk mengisi perut. Eh, ternyata kita malah bertemu dengan rombongan Aristi, Evie, Tense, Novi, dll. Saat kita sampai, Avitt dan Adhit masih disana. Aku dan Ranz pun ikutan duduk-duduk disana. Ranz (bantuin) Aristi menghabiskan bakmi gorengnya, aku memilih tidak ikut makan (lagi). Ketimbang merasa kekenyangan lagi, dan memaksa Ranz gowes lagi. Wakakakaka …


Menjelang pukul 22.30 kita balik ke hotel. Saat beristirahat mengumpulkan stamina. The following day was the D day!


22 Juni 2019


Ranz bangun jam 04.00, dan mulai ritual kamar mandinya sepagi itu. Lol. 45 menit kemudian aku mandi dan siap2. Kita berdua sampai di venue -- Balaikota DIY -- sebelum pukul setengah enam pagi. Suhu udara masih dingin, angin yang berhembus membuatku menggigil. Disana sudah terlihat puluhan orang mengenakan jersey peserta J150K Endurance 2019. aku ikut ngantri untuk berforo di "wall of fame" J150K yang disediakan panitia, mumpung masih nampak segar, belum loyo usai gowes ratusan kilometer. Lol.


Panitia tidak 'memanfaatkan' jam karet. Lol. Tidak lama setelah pukul 06.00, peserta J150K yang konon mencapai 933 orang diberangkatkan.


Keluar dari Balaikota, kita menuju Jalan Ipda Tut Harsono, terus ke arah Utara, kemudian belok ke arah Timur menyusuri Jalan Solo. Hari masih pagi. Hembusan angin masih terasa dingin, bahkan tanganku tetap menggigil karenanya. Peserta nampak lupa bahwa tema event ini adalah ENDURANCE, karena semua nampak RACING, kebut-kebutan, semua ingin berada di barisan peleton terdepan, mengejar sang road captain, lol.


Karena sudah lama aku ga latihan bersepeda jarak jauh -- tiap hari Cuma bike to work doang, jarak ga ada 10 kilometer, lol -- aku ga mau ngoyo, ga mau malah kram kakiku, tambah repot nantinya, meski panitia menyediakan tim fisioterapi di tiap check point, bahkan ada juga yang mobile, pro active pokoknya.


Nampaknya Ranz rada ga sabar dengan keleletanku, lol, dia nyindir-nyindir, "katanya pingin finish?" kekekekeke … lho, yang penting kan ENDURANCE toh? Dari pada ngebut tapi ga finish? Lol.



Angin yang menerpa tetap terasa dingin bahkan ketika waktu sudah menunjukkan lebih dari jam 10.00. tanganku tetap terasa menggigil. Di bayangan check point pertama kita mendapatkan coklat yang enak, menambah energi, selain air mineral. Sesampai check point pertama, ada cemilan berupa arem-arem dan pisang rebus, selain pisang yang bukan rebus, lol, merk s*nprid*, selain minuman hydro**** dari sponsor.


Angin yang terus menerus menyapa, sering juga membuatku merasa mengantuk. Liyer liyer daah. Seandainya tidak dibatasi waktu agar harus sudah kembali ke titik finish sebelum pukul 17.00, rasanya aku ingin mengajak Ranz mlipir ke satu mini market atau masjid dimana aku ingin berbaring sejenak, barang 15 menit, mengistirahatkan mata, seperti saat kita mbolang hanya berdua. Tapi, pasti nanti Ranz tambah ngomel-ngomel. Lol.


Kita sampai di check point 2 sebelum pukul 12.00. wah, catatan waktu ini jauuuh lebih bagus ketimbang J15OK 2 tahun lalu. Kalau tidak salah, kita sampai check point 2 jam 13.00 waktu itu. Waktu sampai di check point 2 ini sebenarnya perutku ga terlalu lapar, sepanjang jalan aku sempat ngemil pisang s*nprid* yang dibagikan panitia, namun aku berharap siapa tahu ada kopi hitam yang disediakan untuk peserta. Ngantukku gawat banget, ada saat-saat aku mengayuh pedal Austin sambil merem je. :(


Aku sempet ikut ngantri ambil makan siang yang disediakan panitia, berupa soto Kudus. Aku ambil satu mangkok, kumakan berdua dengan Ranz. Enak banget ternyata sotonya. Jempol dua deh. Tapi, harapanku mendapatkan kopi ternyata sangat muluk-muluk. Lol. Adanya minuman herbal*** dari sponsor. Ah ya sudah lah.


Kita ga lama disini, Ranz langsung mengajakku lanjut. Kena terpaan angin lagi, ngantuk lagi. Haduuuww …


Aku senang ketika bertemu dengan check point bayangan, ini berarti kesempatan beristirahat, meski hanya 2 - 3 menit. Ranz ga mau kuajak berhenti je. Galak banget dia. Lol. Di check point (bayangan) ketiga, kita mendapatkan gelang berwarna abu-abu, namun tanpa 'contrengan' di gelang. Ini sekitar pukul 13.10. aku sempat pipis disini. Ranz juga. Lumayan, aku bisa menyelonjorkan kaki barang sekitar 5 menit. Sebelum meninggalkan lokasi ini, aku bertanya lagi pada panitia, "Kok kita tidak mendapatkan tanda 'contreng' di gelang?" dijawab, "ini belum check point tiga tante, kita Cuma membagi gelang. Contrengan nanti di check point 3." owalaaah 
…

Dengan khusyuk aku melanjutkan mengayuh pedal Austin. Jika ada yang nyalip dan berteriak menyemangati, "Hayuk semangat tante …" rasanya aku langsung bertambah semangat gowes, meski paling-paling hanya untuk 1 kilometer, setelah itu, tetap dengan 'kecepatan' yang lelet. Lol.






Akhirnya check point 3 pun kita capai, jam 15.27. Kita mendapatkan 'tanda cinta' dari panitia di gelang yang kita pakai. Jika di check point pertama panitia menggunakan spidol warna merah, check point kedua hijau, di check point 3 ini warna biru. Kata Om Gareng, salah satu panitia, peserta mendapat toleransi sampai di sini sebelum jam 16.00. jika lebih dari jam itu, peserta tidak berhak mendapatkan contreng. Dih, pelit yaaa. Lol. Tak ada gelang yang dibagikan, tapi kita bisa mengambil air mineral maupun pisang, jika butuh asupan energi.


Panitia bilang kita tinggal menempuh jarak 16 kilometer lagi. Syukurlah. Sebelum meninggalkan CP 3, salah satu panitia 'membocorkan' pesan, "Nanti akan ada gelang keempat berwarna pink yang akan dibagikan." aku bertanya, "Dimana? Di balaikota kah?" dijawab, "Bukan, balaikota kan titik finish. Gelang pink dibagikan di tempat yang tersembunyi."


Pesan lain, "Toleransi sampai di balaikota jam 17.00 lho ya. Ini masih 16 kilometer lagi."


Bocoran pesan ini melunturkan harapanku mengajak Ranz nge-grab hingga titik finish. Kekekekeke … Ranz yang semula "membakar semangat'ku dengan membuli, "kamu bisa ga? Kalo ga bisa kita nge-grab saja!" malah ga lagi menawariku nge-grab, meski dia ga dengar bocoran pesan itu.


Jalan Raya Pleret Bantul yang kita lewati sempit dengan permukaan jalan yang tidak rata sama sekali. Bikin pantat kian pegal, dengkul kian mengepul panas, lol, dan Ranz komplain berulang kali, ini kenapa panitia ga memilihkan jalan yang enak untuk dilewati? Aku ga sempat mikir komplain, meski mbatin juga sih. Hahahahaha … tinggal 16 kilometer lagi. Dibandingin jarak sekitar 135 kilometer yang telah kita lewati, hanya remah-remah lah ya … (Nggayaaaa. Lol.)


Aku terus mengayuh pedal Austin sambil sesekali berpikir bisa ga ya aku minta Ranz beristirahat barang 5 menit, aku butuh menyelonjorkan kaki, dan mengistirahatkan pantat yang jika bisa protes pasti sudah berteriak minta istirahat. Lol. Tapi, aku ga kesampaian minta Ranz istirahat. Lha wong ngeliat kayuhan pedalku kian lelet -- gegara jalan yang nganu itu -- dia membuli lagi, "Kok kecepatannya malah jadi 10 kilometer per jam?" lol. Aku emosi. Lol. "Aku lelaaaah," protesku. Lol.





Hingga akhirnya kita sampai di satu pertigaan, dimana sang 'pengibar bendera' memberi kabar baik, "tinggal 3 kilometer lagi. Hayuk terus semangat!" waaaahhh … tinggal 3 kilometer lagi! Sudah dekaaat. Tapi, dimana panitia yang akan membagikan gelang pink bersembunyi? Kok kita belum bertemu?


Ternyata, 3 kilometer kemudian, kita baru bertemu panitia yang membagikan gelang warna pink. Disini, sekaligus kita diberi tahu, "Tinggal 3 kilometer lagi sampai Balaikota. Ini tinggal lurus, nanti bertemu dengan Bonbin, belok kanan. Ikuti jalan."


Yuhuuuuu … semangatku kembali! Jalanan juga sudah mulus, enak buat ngebut, ga bikin pantat kian njarem.


Aku dan Ranz sampai di titik finish sekitar pukul 16.50. horeeeeee. Kita pun mendapatkan medali J150K Endurance 2019 dengan resmi! Medali ketiga yang kita miliki! Yeaaaaayyyy …

4 gelang warna warni, gelas penanda peserta dengan tiga jenis contrengan, dan medali! yeay!

Setelah foto-foto, kita kembali ke hotel, untuk mandi. Setelah mandi, kita berangkat ke balaikota lagi, dengan nge-grab. Dengkul sudah protes untuk dipakai mengayuh pedal lagi. Hihihihi …




GALA DINNER


Ada beberapa jenis makanan yang disediakan, mulai dari bakmi Jawa, gudeg, tengkleng, sate klathak, dan buffet dengan menu 'standard' buffet kondangan. :) aku mengambil gudeg dan buffet. Setelah itu buah semangka dan melon, plus es krim.


Pembagian door prize berjalan dengan seru, seperti biasa. Dan … kali ini kita tidak ketiban door prize sama sekali. Yaaa sudaaah. Lol.


Pukul setengah 11 kita telah kembali ke hotel.


ISTIRAHAAAAAAT.







23 Juni 2019


Kita super nyantai pagi ini. Kita baru meninggalkan hotel sekitar pukul 09.00, menuju Jalan Malioboro. Sarapan di salah satu warung disana, sembari nonton orang-orang lalu lalang. Maliboro terus menerus dipenuhi para turis.


Jam 11.30 kita pindah ke café LOKO yang terletak tak jauh dari stasiun Tugu, menunggu saat Ranz bisa check in. jam 12.10 dia check in, setelah itu, aku masih menyempatkan diri berputar ke arah Tugu, baru balik lagi ke stasiun menjelang pukul 13.00.


Aku kembali ke Semarang dengan naik KA Joglosemarkerto pukul 13.53. Kereta yang kunaiki sampai di stasiun Tawang pukul 17.10. alhamdulillahhh.


Kapok ngikut J150K? Engga laaah … aku sudah siap 'bertarung' untuk mendaftar lagi di event berikutnya. Kekekekekekeke … (klik link ini sekelumit kisah 'pertarungan sengit' untuk mendaftar J150K 2019)

Rabu 26 Juni 2019