Sabtu, 11 Maret 2017

SESAT J150K 2017 (Day 2)

Sabtu 25 Februari 2017

Jam empat pagi kita sudah mulai antri mandi, persiapan ini itu. Sekitar pukul 05.20 kita telah meluncur di jalan raya yang masih cukup lengang menuju LPP Garden. Disana, titik START telah mulai penuh.



“Pasukan” mulai diberangkatkan pukul 06.10, molor 10 menit dari rencana semula. Not bad, eh? Keluar dari LPP Garden, kita belok ke arah Timur, kemudian belok lagi ke arah utara, hingga kita tembus ke ring road. Di sekitar 20 kilometer awal, kita menempuh trek tanjakan halus, hingga mencapai Jalan Kaliurang km 17 kalau tidak salah, kemudian kita belok ke arah Barat. Luruuusss ... dan ... aku tidak tahu arah lagi. LOL.

Aku dkk sempat berhenti sebentar di depan pintu gerbang Univ. Islam Indonesia karena waktu itu ada rombongan Gamago (pesepeda dari UGM) berhenti disana, foto-foto dan ngemil-ngemil pisang. J Ranz memintakan beberapa pisang untuk kita. Selain berfoto-ria dan ngemil pisang, kita juga menunggu Hesti yang terganggu dengan pedal sebelah kiri, yang tidak mau berputar. Hal ini jelas mengganggu kestabilan Hesti mengayuh Rockie, nama sepeda lipatnya.



Lepas dari tanjakan, ketika trek mulai menurun halus, Ranz tak lagi bisa mengayuh pedal dengan leluasa; Shaun, sepeda lipat dahon 16” yang dia stel single speed, tidak bisa diajak ngebut dengan trek yang seperti itu. Jika ngebut, Ranz terpaksa bakal sangat ‘ngicik’; satu kondisi yang sangat tidak dia sukai karena mudah melelahkan kaki.

Tidak banyak yang bisa kukisahkan disini selain bahwa para peserta jauh lebih ‘kopen’ (apa ya Bahasa Indonesianya? LOL) ketimbang waktu penyelenggaraan J150K tahun 2013. Waktu itu tidak ada spot ‘water station’ atau yang juga disebut sebagai ‘pos bayangan’. Kali ini minimal ada 2 pos bayangan; kurang lebih 10 kilometer sebelum sampai di check point 1 dan 2. Jarak dari titik START menuju check point 1 dan 2 juga jauh lebih friendly dan reachable ketimbang yang lalu. 


Di penyelenggaraan tahun 2013, peserta dibagi dalam beberapa grup, masing-masing grup dipimpin oleh satu road captain. Satu road captain bertanggungjawab atas peserta dalam grup-nya. Pada prakteknya, tentu saja sulit ‘menyatukan’ sekian puluh pesepeda dengan ego masing-masing di bawah komando satu road captain. Itu sebabnya kondisi ‘ideal’ hanya bisa berjalan di beberapa puluh kilometer awal. Setelah kurang lebih 30-40 kilometer pertama, karena ketiadaan ‘pos bayangan’ yang menyediakan minuman dan cemilan, banyak pesepeda yang ‘membelot’; entah mampir ke minimarket, entah mampir ke warung mie ayam, dll. J check point pertama waktu itu setelah melampaui sekitar 60 kilometer pertama. 60 kilometer lumayan killing jika kita memulai hari tanpa sarapan, plus tanpa dukungan minuman dan cemilan yang tersedia di sepanjang perjalanan.



Penyelenggaraan tahun 2017 lebih tertata rapi. Peserta tidak dibagi dalam beberapa grup, tapi langsung berangkat setelah pasukan diberangkatkan. Untuk para ‘pemburu award finisher awal’, mereka dipimpin oleh road captain yang kecepatannya dalam bersepeda tak perlu diragukan lagi, mas Juwanto Reza, satu pembalap dari Semarang, terus berada di depan. Beberapa marshall lain, misal Supriyanto (Plat AB) dari Jogja kebagian seksi sibuk, maju mundur, mengecek ‘pasukan’. (eh, bener begini ga yaaa? LOL.)



Selain para marshall yang bersepeda, panitia pun menyediakan mekanik yang nomor telponnya telah disertakan di nomor peserta yang menempel di masing-masing sepeda. Plus panitia menyediakan marshall penjaga titik-titik rawan yang mungkin para peserta bakal tersesat, misal di pertigaan maupun di perempatan, meski panitia juga telah memasang ‘penunjuk arah’ di banyak titik-titik strategis.

Jika pada tahun 2013, aku, Ranz, Evie dan Cipluk sempat ‘digaruk’ truk evak jelang check point 1, juga jelang check point 2, kali ini, kita semua aman dari ‘garukan’, LOL, bahkan sampai di check point 2, kita sampai Pantai Baru Bantul tanpa sempat bertemu dengan truk evak, padahal kita bersepeda dengan sangat nyantai. :D Kita bersepeda sejauh 90 kilometer ‘aman’ tanpa ‘garukan’ panitia. LOL. Kita juga tidak perlu mampir mini market karena minuman dan cemilan – berupa pisang maupun ‘fit bar’ dll – mudah didapatkan di pos bayangan maupun di check point.

Yang mengherankan adalah Evie. Tahun 2013 lalu, dia terserang kram perut gegara sedang menstruasi, eh, kali ini, kejadian itu berulang kembali. LOL. Di Pantai Baru Bantul kita tidak sempat menikmati foto-foto dengan latar belakang pantai, namun hanya nongkrong sebentar, makan siang (Ranz tidak memakannya karena lauknya ikan, sebagai ganti, Ranz membeli indomie goreng di satu warung lokal) serta siap-siap untuk evak. Evie yang terkena kram perut, plus dia harus buru-buru balik ke penginapan karena malamnya dia harus balik ke Jakarta, tentu memilih kembali ke LPP Garden dengan naik truk evak. Ranz yang merasa sebagai ‘tuan rumah’ menemani Evie. Aku? Setelah memastikan Avitt dan Dwi akan terus bersama untuk saling mendukung dalam perjalanan selanjutnya, plus Hesti yang telah didampingi oleh Dany, pacarnya, aku memutuskan untuk menemani Ranz dan Evie. Horeee. LOL. (bye bye kesempatan untuk mendapatkan brompton sebagai door prize utama karena hanya ‘finisher’ lah yang akan mendapatkannya.)

Kita sampai LPP Garden sekitar pukul 15.30. Setelah sepeda Evie datang, kita meninggalkan lokasi, kembali ke penginapan. Sesampai penginapan, Evie langsung packing, mandi, dan siap-siap. Kebetulan sore itu hujan turun dengan deras. (Wew, Avitt, Dwi, dan Hesti kehujanan nih.) Evie meninggalkan penginapan sekitar pukul 18.00, dengan naik ‘grab car’ menuju stasiun Tugu. Aku dan Ranz kembali ke LPP Garden pukul 18.45 setelah hujan sedikit mereda.


Malam itu, selain makan malam bersama dengan variasi menu khas Jogja (bakmi Jawa, gudeg, sate klathak, dll), juga dibagikan door prize. Alhamdulillah aku mendapatkan sebuah helm karena bisa menjawab pertanyaan MC, “Siapakah pembaca doa malam itu, beliau adalah peturing nasional yang usianya telah cukup senior dan telah bersepeda ke banyak kota?” Jawabannya mudah, “Mbah Kung Endy!” yeayyy. :D 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar