Rabu, 13 November 2013

J150K : Event nan aduhai buat para seliers

EVENT J150K : Event silaturrahmi buat para pecinta sepeda lipat

Tahun ini selain event jamselinas 3 (jambore sepeda lipat nasional ketiga) yang diselenggarakan di Bandung bulan Mei lalu, para pecinta sepeda lipat kembali ditawari ajang untuk bersilaturrahmi: J150 alias Jogja 150 kilometer. Sesuai namanya, event ini diselenggarakan di Jogja, oleh sebuah komunitas yang menamakan diri “I Love Touring” yang bernaung di bawah komunitas IDFB (Indonesia Folding Bike). Event ini diselenggarakan pada tanggal 9 – 10 November 2013. Hari pertama, panitia telah menyediakan menu gowes “fun touring” (if you can “find” fun in this trip LOL) sejauh 150 kilometer. Sedangkan hari kedua para peserta bebas menentukan apakah akan gowes ke Goa Selarong atau keliling kota (saja) sembari berwisata kuliner.

Day 1 : Sabtu 9 November 2013 J150K

Karena jarak yang akan ditempuh lumayan jauh, panitia memberangkatkan para peserta (hampir) on time, yakni pukul 6 pagi. Dari EduHostels di Jalan Tentara Pelajar para peserta – yang telah dibagi ke grup-grup kecil dimana masing-masing grup dipimpin oleh seorang RC (road captain) – gowes ke arah Jalan Diponegoro – Jalan Sudirman – Jalan Cik Di Tiro – Jalan Colombo – Jalan Gejayan terus hingga menyusuri Selokan Mataram dan sempat mampir ke Candi Sambisari, Candi Sari, Candi Plaosan Kidul dan lain-lain.

menunggu rombongan dari EduHostels lewat

rombonganku dipimpin oleh Raditya

berjajar rapi di pinggir Selokan Mataram

Aku, Cipluk dan Ranz tidak gowes ke EduHostels karena kita bangun kesiangan. :-D Kita cukup menunggu rombongan lewat di bunderan UGM dan kemudian bergabung dengan grup yang digawangi oleh Raditya. Sekitar pukul 06.30 aku dkk meninggalkan bunderan UGM mulai gowes ke arah Selokan Mataram untuk menuju Candi Sambisari.

Adalah sesuatu yang sangat ‘mahal’ harganya jika kita bisa menyempatkan waktu untuk mengeksplore candi. (Bakal seharian ga bakal cukup waktunya, padahal jarak yang kita kejar untuk ditempuh adalah 150 kilometer.) Maka aku dkk harus merasa cukup puas jika berfoto-foto hanya dari kejauhan untuk kemudian melanjutkan gowes ke candi-candi berikutnya.

Candi Sambisari

narsis di kawasan Candi Sambisari

narsis berdua

Waktu di Candi Sari kita mendapatkan pembagian air mineral dan snack. Tetapi waktu rombonganku datang, snack yang disediakan sudah habis mungkin karena jumlahnya sangat terbatas. L (padahal kita bukan rombongan yang berangkat terakhir.)

di Candi Sari, berdua Ranz

di kawasan Candi Plaosan

Setelah melewati Candi Plaosan, salah satu anggota grup-ku mengalami ban bocor, kita semua menunggu yang bersangkutan mengganti ban dalamnya (belum sempat kenal si Om dari kota mana ya? Heheheh ...) hingga dilewati oleh kelompok-kelompok lain. Dari arah Candi Plaosan kita menuju Selatan ke arah Situs Ratu Boko, namun tidak mampir ke Ratu Boko melainkan teruuuusss lanjut ke arah Selatan.

lagi, di pinggir Selokan Mataram

menuju arah Selatan

Cipluk berdua Evie

Aku tidak menyalakan sports tracker di etape pertama ini, khawatir battery hape cepat habis, meski aku membawa powerbank. Kita sempat mampir di sebuah mini market untuk membeli minum. Walaupun pagi itu aku, Ranz dan Cipluk tidak sempat sarapan, aku tidak kepikiran untuk membeli cemilan di mini market ini. Hawanya Cuma pengen minuuum melulu, meski sinar mentari pagi itu belum terlalu menyengat.

Aku tidak tahu telah berapa puluh kilometer yang kita lewati, dan sampai manakah kita gowes ketika aku dkk mulai kelaparan. Kita pun heran apakah panitia tidak menyediakan cemilan – misal buah pisang atau apel – yang bisa disawer dalam perjalanan? Agar kita bisa tetap gowes sambil nyemil. (Aku ingat dalam catatan rute dari panitia tertulis bahwa makan siang akan disediakan di akhir etape kedua. AKHIR ETAPE KEDUA! Hal ini berarti kita masih harus gowes sekitar 70 kilometer lagi. KLENGER!!!) Demi menyingkat waktu tentu kita ga bisa setiap sekian (puluh) kilometer mampir mini market untuk sekedar ngadem atau beli cemilan. (Hadeeehhhh ...) Dan kita adalah rombongan yang paling belakang (setelah kejadian ban bocor).

di pitstop pertama

jelang berangkat etape kedua

masih semangat di etape kedua :)

Mungkin di titik kilometer 50, beberapa teman rombongan kita (yang ada di depan kita beberapa puluh meter) berhenti di sebuah warung mie ayam. Kita pun langsung ikut mampir untuk membeli es teh dan es degan. (Kebetulan Ranz sedang tidak mood makan mie ayam plus dia kebelet p*p maka bawaannya pengen ke toilet. LOL. Karena ga mau terlalu tertinggal di belakang, kita juga ga bisa mampir pom bensin untuk buang hajat. Repotnyaaahhh!) Waktu itu tiba-tiba sebuah truk evak berhenti menawari kita naik truk. Semula Ranz keukeuh untuk lanjut gowes (dan tentu aku bakal menemaninya gowes) sementara Evie (Srikandi 1 & 2) – teman gowes dari Jakarta yang gabung rombongan kita waktu kita berhenti ketika mengganti ban yang bocor – memutuskan untuk naik truk. Singkat cerita akhirnya aku, Ranz, Evie dan Cipluk ikut truk evak.

Kita sampai di pitstop pertama sekitar pukul 11.20 (molor sekitar 50 menit dari perkiraan panitia sekitar pukul 10.30). Kita beristirahat disana sekitar satu jam. Kebetulan di tempat istirahat ada warung makan sehingga banyak peserta yang menggunakan kesempatan itu untuk makan siang. (Note: panitia BARU menyediakan makan siang gratis di akhir etape kedua.) (Later, ketahuan bahwa terjadi miskomunikasi dimana banyak peserta yang makan siang di pitstop pertama ini mengira makan ini ditanggung oleh panitia sehingga banyak yang took it for granted makan tanpa bayar. NAH LO.)

Sekitar pukul 12.15 kita kembali melanjutkan gowes. (Namun bagi sebagian lain yang telah sampai di pitstop pertama sesuai waktu yang diperkirakan panitia sudah berangkat sejak pukul 11.45. Mentari kali ini bersinar sangat terik. Sejak pemberangkatan, kita tidak dibagi per rombongan, namun kita langsung berduyun-duyun meninggalkan pitstop pertama secara bersama-sama.

di kawasan Imogiri nan indah

trek dengan pemandangan yang indah

Cipluk + Evie di Jembatan Selopamioro

Trek etape kedua ini jauh lebih menantang dan bervariasi dibanding etape pertama : banyak yang berupa single trek sehingga kita harus satu persatu; trek yang permukaannya berupa makadam, batu-batu berserakan, hingga rerumputan.  Trek yang seperti ini ditambahi dengan mentari yang bersinar sangat terik hingga dengan mudah kita berkeringat dan diterpa dahaga.
Tak lebih dari 10 kilometer kita sampai di Jembatan Gantung Selopamioro yang terkenal untuk berburu foto bagi pecinta fotografi. Untunglah di dekat jembatan ada sebuah warung sederhana dimana para peserta langsung menyerbu untuk membeli minuman sembari ngantri foto dan lewat jembatan satu persatu.

rombonganku melanjutkan perjalanan, di belakang Raditya, sang RC

hello Cipluk :)

Dany (terpaksa) tergelincir karena mendadak botol minum Evie jatuh

Setelah melewati jembatan gantung Selopamioro, kita disambut trek rolling, meski tanjakannya tidak tinggi-tinggi amat. Trek rolling ditambah dengan pemandangan alam sekitar yang spektakuler (sangat menggoda iman untuk berhenti dan berfoto-ria untuk dokumentasi sebagai bukti bahwa KITA SUDAH SAMPAI DISINI!) membuat rombongan kocar-kacir.

Aku dan Ranz ‘sempat’ masih bertahan gowes bareng rombongan kita (di bawah RC Raditya) selama beberapa kilometer berikutnya namun akhirnya kita pun terpisah karena sesuatu dan lain hal (misal: karena terserang kram atau dengkul linu, dll) Semenjak meninggalkan Evie dan Cipluk di sebuah warung di pinggir jalan, melewati Tayux dan Da, sebagian rombongan ‘Bikeberry’ (komunitas seli Surabaya), aku dan Ranz serasa gowes hanya berdua: gowes sejauh 25 kilometer tanpa bertemu seorang pun peserta J150K! Di banyak tikungan maupun perempatan tak lagi kita temui marshall yang memberi petunjuk arah mana yang harus kita ambil, namun untunglah panitia telah menyediakan petunjuk yang entah ditempel di pohon, di dinding bangunan, atau pun di atas permukaan jalan. (Serasa gowes mencari jejak jadinya. J )

mendadak nanjak :-P

wong ilang :D

Jembatan Gantung Soka
Ketika sampai di Jembatan Gantung Soka, kita bertemu dengan beberapa marshall yang sempat mengingatkan bahwa di tiap tikuungan selalu akan kita temukan petunjuk arah.  Kita gowes sepanjang 25 kilometer tanpa berhenti sama sekali karena khawatir terlalu terlambat, apalagi ketika gerimis mulai turun, padahal mantel Ranz ada di rak boncengan sepeda Cipluk. Kita sempat bertanya-tanya pada diri sendiri mengapa yang ada di belakang kita tak segera menunjukkan batang hidungnya, padahal kita gowes cukup pelan. (Apakah mereka telah naik mobil evak? Atau bagaimana ceritanya?)

in the middle of nowhere

salah satu trek yang kita lewati

di trek yang lain :)

Setelah mengikuti petunjuk arah yang muter-muter (dan ‘sadar’ bahwa kita telah ‘dikerjain’ panitia demi mengejar jarak 150 kilometer LOL) akhirnya kita pun kembali ke peradaban, saat kita sampai di Jalan Parangtritis. Hah, leganya! (Untunglah hujan ga jadi turun, kita hanya kegerimisan tipis.)

Kurang 500 meter dari pitstop kedua sebuah truk evak melewati kita. Oleh pasukan evakuasi kita ‘dipaksa’ ikut karena jam menunjukkan sekitar 20 menit lebih dari waktu yang ditentukan. (Kita diharap sampai di pitstop kedua paling lambat jam 15.00) Blessing in disguise karena pada waktu itu ban belakang Pockie (seli yang dinaiki Ranz) telah gembos poll.

nunut narsis di pitstop kedua, RM Waroeng Pohon

Akhirnya kita pun sampai di satu tempat dimana panitia menyediakan makan! Ada trancam yang enak, tahu tempe goreng, plus ayam opor. Jika di pitstop pertama Ranz yang mengambil piring makan (dengan menu nasi pecel, ayam goreng plus tahu bacem), di pitstop kedua aku yang mengambil makan dan berbagi dengan Ranz. J

Masih ada etape tiga dan empat yang berjarak kurang lebih 45 kilometer lagi. Jika kita berangkat sekitar pukul 16.00, mungkin kita akan sampai di EduHostels sekitar pukul 19.30 paling cepat.

Dikarenakan ban belakang Pockie gembos poll (dan Ranz mencurigai penyebabnya adalah bocor halus), tentu Ranz tak bisa melanjutkan gowes. Salah satu panitia telah memberi sebuah ban dalam sebagai ganti, namun panitia sangat sibuk dan tak ada mekanik yang disediakan untuk ‘mengurusi’ kejadian seperti ini. L

Sekitar jam 16.00 Cipluk dan Evie pun muncul di pitstop kedua (RM Waroeng Pohon – Sewon Bantul). Evie yang sedang ‘kedatangan’ tamu bulanan memilih untuk evak saja sampai di EduHostels. Kesempatan bagi Ranz untuk gowes dengan menaiki Kum Kum (seli milik Evie) sedang Pockie dinaikkan truk evak. Setelah Cipluk dan Evie datang, berdatangan pula lah teman-teman lain yang tadi ada di belakang kita.

Kita baru meninggalkan RM Waroeng Pohon sekitar pukul 17.00, bersama  beberapa orang lain. Oleh beberapa RC yang mendampingi, kita diajak untuk langsung menuju EduHostels – yang berarti mengabaikan rute yang telah dipilih oleh panitia demi menuntaskan 150 kilometer. LOL.

Kita sampai di EduHostels sekitar pukul 17.20. Jarak yang kita tempuh tak lebih dari 10 kilometer. Heheheheh ...

finish! yayyyy!

Da Ningrum, medalinya dan Om Erwin Bikeberry

aku juga bersama Om Erwin Bikeberry
Sekitar pukul 18.00 dalam perjalanan pulang kita mampir ke sebuah tambal ban untuk mengganti ban dalam Pockie. Ketika menunggu, kita melihat rombongan peserta yang gowes dari arah Utara menuju arah EduHostels, mereka adalah peserta yang ‘tunduk’ mengikuti rute yang ditentukan panitia. Wuuuaaahhh mereka h-e-b-h-a-t!!! Four thumbs up! J

Malam itu semua peserta diundang makan malam dengan menu sate klathak oleh Bikeberry. (Tapi Ranz dan aku ga datang. J)


Aku tidak menyalakan sports tracker di etape pertama. Di etape terakhir, di tengah jalan sports tracker mati sendiri, sehingga tak tercatat berapa puluh kilometer jarak yang kutempuh hari ini. 

to be continued :)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar