Cari Blog Ini

Kamis, 05 November 2020

Napak tilas bersepeda Solo - Jogja - Solo day 3

 


Jumat 30 Oktober 2020

 

Jam 05.20 Radit sudah nginbox aku, "Sudah bangun Miss?"


 

Aku sudah melek, tapi Ranz masih tidur nyenyak. Kayaknya sih nyenyak. Radit Cuma tertawa waktu kuberitahu, katanya, "Ya wis, dikepenakke sik."


 

Mungkin baru sekitar jam 06.30 Ranz bangun dan memulai ritual paginya. Aku? Biasaaa … aku baru merasa wajib bangun setelah Ranz selesai melakukan ritual paginya. Hihihi …


 

Sekitar pukul 07.30 kita baru meninggalkan penginapan. Radit langsung kukabari dan dia bilang akan menunggu kita di mini market swalayan Gading Mas.


 

Ga pakai lama, kita langsung bertemu, dan melaju ke arah Utara. Ranz pesan pada Radit untuk tidak lewat jalan raya yang tanjakannya terasa curam. 9 tahun lalu, jelas aku dan Ranz lewat jalan raya, aku ga tahu jalan lain. Namun, ketika 2 kali ikut acara Joga Foldingbike, aku jadi tahu ada jalan lain menuju Kaliurang titik 0 dan tanjakannya tidak curam. Sebagai orang Jogja dan sudah sering bersepeda ke Warung Ijo -- warungnya para pesepeda Jogja katanya -- jelas Radit sudah tahu jalan.


 

Btw, kita sama sekali tidak janjian untuk bersepeda bertiga. Radit yang tahu aku sedang berada di Jogja menawari ketemu, maka kita bertemu ngobrol di café Sembari. Dan pagi ini, dengan suka cita Radit mendampingi kita untuk menjadi penunjuk jalan. Enak lewat jalan non jalan raya, ga perlu berpapasan dengan kendaraan bermotor yang jalannya ngebut-ngebut, dan ga perlu terhenti gegara traffic light.


 

Cafe Brick

 

Di jalan non jalan raya, aku lihat banyak dibangun perumahan-perumahan baru. Ini berarti mulai banyak persawahan menjadi perumahan. Akankah satu saat nanti, Kaliurang tak lagi terasa dingin?

 

 

Kita berhenti di Café Brick, satu café yang nampaknya banyak dikunjungi pesepeda demi berfoto karena bangunannya yang nampak Eropa banget. Kebetulan di seberangnya ada warung soto. Aku minta mampir untuk sarapan disitu.





 

Usai sarapan, kita melanjutkan perjalanan. Radit tetap mengajak kita mlipir lewat jalan dalam kampung, yang tanjakannya tidak securam jalan utama menuju Kaliurang. Istirahat berikutnya ketika kita "menemukan" warung makan yang ternyata terletak tak jauh dari perempatan menuju Museum Merapi. Di dekat perempatan ada loket pembayaran retribusi. Ranz beli es teh, aku teh hangat, Radit wedang jeruk hangat.  Sampai disini Ranz mulai komplain jalan yang terus menerus miring ke atas, dan kemiringannya terasa lebih curam, lol. Radit menyarankan agar kita jalan kaki saja dengan menuntun sepeda untuk menghemat tenaga; ketimbang mengayuh pedal sekitar 200 - 300 meter, kemudian berhenti lamaaa untuk beristirahat. :D

 





Honestly, baru kali ini Ranz manja banget, sampai berulang kali komplain, "Aku sudah ga mampu mengayuh pedal Petir." kemudian menyalahkan aku yang semula bilang, "Hari Jumat kita gowes dalam kota saja," dan bukannya mengajaknya bersepeda nanjak Kaliurang, lol. Ranz sempat mau gantian naik Austin, sedangkan aku menuntun Petir. Tapi ga lama, Ranz sudah bosan. Dia ngeluh Austin juga berat dikayuh. Hadeeeh. I am so sorry to Radit yang harus nonton drama Ranz manja ini, lol.




 



 

Setelah berulang kali kudu merayu Ranz, "Hayuuuk, tinggal sedikit lagi sampai." akhirnya kita sampai juga di pertigaan yang ada Tugu Urang, kemudian lanjut nanjak curam menuju Terminal Kaliurang, alias tempat parkir Tlogo Putri. Alhamdulillaaah. (Pulangnya sesampai penginapan, gantian aku yang ngomel, "Baru kali ini kamu manjanya kebangeten. Mana ada Radit pula!" dan dia Cuma meringis. Hadeeeh.

 


Mood Ranz masih buruk sesampai kita di Tlogo Putri. Untunglah dia masih mau berfoto di spot Tugu Urang itu, dan di depan patung burung Elang. Lol. Parah memang dia kalau sudah ngambeg, lol.

 





Sesampai Tlogo Putri, acara kita jelas makan siang. Seperti biasa, aku pesan nasi goreng (tiga kali kesini, pertama tahun 2011, kedua tahun 2017 berdua dengan Angie, dan ini kali ketiga, aku selalu memilih menu yang sama, di rumah makan yang sama, lol.) Radit memesan sate kelinci. Semula Ranz tidak mau ikut pesan makanan. Tapi setelah melihat pesanan Radit datang, Ranz memesan sate kambing.

 


FYI, cuaca jauh lebih sering mendung dan sedikit gerimis ketimbang sang mentari bersinar garang. Syukurlah nampaknya alam turut membantu kita untuk tidak terlalu terforsir tenaga kita.

 


Pulangnya jelas lancar jaya. Alhamdulillah.

 


In the future, aku masih berharap bisa bersepeda ke Kaliurang lagi tanpa ada drama Ranz komplain lelah. Semoga dia sudah punya sepeda yang diidam-idamkannya: seli element troy edisi B2W. Amiiin. Biar dia ga komplain, "tanjakannya bikin kesel." lol. Pesanku ke Ranz, "Kalau kamu sudah punya seli element troy, jangan kamu bikin single speed loh!" lol. Dia sendiri yang membuat Petir (dan Shaun) single speed, tapi ya gitu deh dia, lol.

 

 



Malamnya, Ranz menraktirku di café Maraville, Pogung. Mungkin dia sedikit menyesal bertingkah kayak anak kecil, manja ga ketulungan, lol.

 

Napak tilas bersepeda Solo - Jogja - Solo Day 1 & 2

Ketika tahu ada tanggal merah jatuh di hari Kamis 29 Oktober 2020, pikiranku langsung dengan cepat membuat rencana: hari Rabu 28 Oktober aku berangkat ke Solo, hari Kamis 29 Oktober aku dan Ranz bersepeda ke Jogja, hari Jumat 30 Oktober kita bersepeda dalam kota Jogja (I was expecting Malioboro still as quiet as a few months ago in the beginning of pandemic), hari Sabtu 31 Oktober bersepeda kembali ke Solo, hari Minggu 1 November bersepeda di area Solo sebelum aku balik ke Semarang.

 

 

Dan ternyata keinginanku ini dikabulkan oleh yang berkuasa mengabulkan. Hihihi … kebetulan Ranz mendapat 'cuti' seperti yang dicanangkan oleh pemerintah. (kantor Angie ga libur soalnya. Andai libur, mungkin kita akan dolan bareng, which means aku ga akan sepedaan. :D )

 




Rabu 28 Oktober 2020

 

Hari Rabu 28 Oktober aku berangkat ke Solo dengan naik travel Citi trans yang pool-nya terletak di Jl. Trilomba Juang, harga tiket Rp. 85.000,00, gratis bagasi. Oh ya, aku membawa Austin tentu saja. Mobil yang kunaiki meninggalkan pool pukul 11.00, aku sampai di rumah Ranz sekitar pukul 12.45. lumayan cepat, karena travel lewat jalan tol.

 




Siang itu Ranz mengajakku makan di warung makan adiknya yang terletak di area pasar oleh-oleh Jongke, tak jauh dari traffic light. Soto ayamnya enak pol lho, ga kalah sama soto ayam di RM Soto Hj. Fatimah. Sama-sama enak, tapi tentu aku lebih memilih ngelarisi jualan adiknya Ranz yang mantan chef hotel bintang 4. dia terpaksa dirumahkan gegara pandemi.

 




Sorenya aku mengajak Ranz ke 'Omah Lowo/Lawa' yang sekarang diubah menjadi museum/toko batik keris. Cuma lihat-lihat doang, ga berniat beli. Work from home membuatku merasa ga perlu beli baju baru. (ssshhhttt … alasan utama sih karena harga baju2nya mihil! Lol.) kita sempat mampir di café yang terletak di dalam situ juga. Aku memesan cappuccino hangat, Ranz ga pesan minum apa-apa karena ga ada coklat. (Kalau kita berdua ke café, biasanya aku pesan kopi, Ranz pesan coklat. She doesn't drink coffee.)

 




Dari sana, kita mampir ke Wedangan Pak Basuki, angkringan wajib kunjung karena teh nasgitelnya super ngangenin! Harga cemilan/jajanan yang lain memang mahal disini, tapi aku kesini hanya demi teh nasgitelnya, bukan yang lain. :D Sebenarnya dari Omah Lowo, Ranz menawariku mampir ke café Nue atau Pak Basuki. (Dia pingin minum coklat di café Nue itu.) Tapi, aku beralasan, "Café ada dimana-mana. Semarang juga buanyaaak. Tapi teh nasgitel yang super enak hanya ada di Pak Basuki." dan … yes, tentu saja Ranz mengalah. Hohoho …

 

Sekitar jam 22.00 kita balik ke rumah Ranz.

 

 

Kamis 29 Oktober 2020

 

 

Semalam Ranz bertanya kita mau berangkat jam berapa. Kujawab, "Santai, sebangunnya kita." (Dia suka ngeluh kalau pas hari libur, dia terpaksa bangun pagi karena di hari kerja dia sudah harus bangun pagi setiap hari, lol.) Ternyata jam lima pagi dia sudah memulai ritual paginya di kamar mandi. :)

 

Sekitar pukul 06.30 kita mulai mengayuh pedal meninggalkan area Jongke - Laweyan. Sengaja Ranz memilih jalan yang menuju Baki - Sukoharjo dan tidak lewat Kartasura agar kita tidak perlu terlalu sering berdampingan dengan bus di jalan raya. Ini adalah napak tilas pengalaman kita bersepeda Solo - Jogja 9 tahun lalu, Ranz juga mengajak lewat rute ini.  Bedanya waktu itu Ranz naik Snow White -- sepeda lipatku polygon urbano 3.0 buatan tahun 2010 -- karena di rak boncengan ada tas pannier yang berisi baju-bajuku -- sedangkan aku naik Pockie -- sepeda lipat pocket rocket buatan tahun 2009 -- tanpa pannier karena di Pockie tidak ada rak boncengan. Kali ini aku naik Austin -- sepeda lipat downtube nova buatan tahun 2011 -- dengan tas pannier mungil di rak boncengan, Ranz naik Petir sepeda lipat bazooka 14" yang dia buat jadi single speed.

 

Jika 9 tahun lalu Ranz sempat mengajakku beli jajanan sebelum meninggalkan pasar oleh-oleh Jongke, kali ini tidak, kebetulan juga tidak ada yang jualan jajan di pinggir jalan. Semalam aku tidak melakukan carbo loading padahal, hanya minum cappuccino di café Omah Lowo dan teh nasgitel di Wedangan Pak Basuki. Terakhir mengkonsumsi carbo ya Rabu siang, waktu maksi soto ayam.

 





Kita terus melaju tanpa berhenti sampai sekitar 15 menit, dimana di satu perempatan Ranz bilang jika kita belok kiri kita akan sampai di warung makan ayam goreng Mbah Karto - Sukoharjo. Loh, kok malah kita ke Selatan banget yak? Dan, ternyata memang benar, Ranz memilih rute yang membawa kita terlalu ke Selatan, hingga untuk 'kembali' ke jalan utama Solo - Jogja kita harus bersepeda ke arah Utara hingga kurang lebih 7 kilometer. Hohoho … Dalam hati sih aku sudah siap jika sampai harus mengayuh pedal sejauh 100 kilometer hari ini. Sekalian nge-grandfondo sajaaa. :D

 

Ketika akhirnya kita sampai di jalan propinsi Solo - Jogja, aku berpikir, kira-kira batas kota Solo - Klaten sudah kelewat belum ya? Secara aku sudah sengaja mengenakan sweater yang sama dengan yang kukenakan 9 tahun lalu je, untuk berfoto di perbatasan kota, untuk membandingkan tubuhku yang kian melar selama 9 tahun berlalu, lol. Jika sampai sudah kelewat, duuuuuh, musproooo keinginanku berfoto di titik sama mengenakan sweater yang sama. Lol.

 





Saat berpikir-pikir apakah kira-kira perbatasan kota telah lewat, mak jegagik yang kucari ada di depan mata! Horreeeee! Maka, dengan suka cita aku meminta Ranz memotretku disitu. Saat kubandingkan dengan fotoku 9 tahun yang lalu, hmmm … memang yang paling mencolok terlihat berbeda adalah tubuhku yang melebar ke samping, lol, namun senyumku tetap mempesona laaah. Lol.

 

 

Setelah berfoto -- Ranz menolak kufoto disitu -- kita melanjutkan perjalanan. Perutku mulai keroncongan. Tak lama kemudian kita mulai memasuki area pusat kota Klaten. Di Jalan Veteran, Ranz melihat ada sebuah warung makan sop ayam Klaten di seberang, Ranz menawariku mampir kesana. Aku langsung setuju. (Semula aku bilang ke Ranz ingin sarapan di RM Djatayu yang terletak tak jauh dari Candi Prambanan, tapi dia menolak. "Kejauhan! Keburu kelaparan!" komplainnya, lol.)

 





Selama sarapan, kita melihat banyak sekali pesepeda yang melintas, baik dari arah Solo ke Jogja, maupun sebaliknya, Jogja ke Solo. Ah … ini pas tanggal merah 29 Oktober 2020, Maulud Nabi. Apalagi semenjak pandemi, banyak orang yang mendadak bersepeda. :D

 

Usai sarapan, kita langsung melanjutkan perjalanan.

 

Alhamdulillah perjalanan lancar sampai kita masuk kota Jogja. Menjelang masuk Jalan Solo, aku mengajak Ranz belok kanan untuk masuk ke area Jalan Gejayan yang berubah nama menjadi Jl. Affandi. Di pertigaan sebelum sampai Universitas Sanata Dharma, kita belok kiri, masuk Jalan Colombo.  Kita mampir di satu angkringan karena Ranz merasa haus. Aku yang sudah tahu sebentar lagi akan sampai kawasan Bulaksumur, maka ga lama lagi akan sampai di hotel tempat kita menginap manut saja.

 

"Dari sini ke hotel masih seberapa jauh?" tanya Ranz.

 

"Di ujung jalan itu sudah RS Panti Rapih lho. And you know, ga jauh dari situ adalah Bunderan UGM. Dari situ ke hotel masih sekitar 1 - 2 kilometer lah." jawabku.

 

"Di ujung jalan itu, seberapa jauh kita ini dari ujung jalan itu?" tanya Ranz, penasaran, lol.

 

Kita hanya minum es teh, masing-masing segelas, kemudian kita lanjutkan perjalanan. Aku heran waktu melihat sebuah hotel yang cukup besar di sebelah kanan jalan, tidak jauh dari gerbang masuk UNY. Gile, ada hotel baru disini! Besar pula! Kira-kira target marketnya siapa? Keluarga wisudawan UGM/UNY? Wow.

 

Aku memilih lewat Jalan Kaliurang. Dari Bunderan UGM, kita masih melaju ke Barat, kemudian di perempatan yang di sebelah kiri ada Mirota Kampus dan di sebelah kanan ada KFC, aku mengajak Ranz belok kanan, ke arah Utara. Langsung jalan terasa nanjak halus. :D

 

Menjelang traffic light di Selokan Mataram, jalanan mulai terasa padat merayap. Menyeberang Selokan, jalanan kian padat. Ranz sudah booking kamar di hotel Sellinan OYO di Gang Megatruh, jarak satu gang dari kosku zaman kuliah dulu, Gang Mijil. Meski jalanan padat, baik dari arah Selatan maupun Utara, untung kita tidak kesulitan menyeberang untuk kemudian masuk ke Gang Megatruh.

 

 

Sekitar pukul 13.30 kita sudah check in. Hotel Sellinan ternyata fully-booked, untunglah Ranz sudah booking seminggu sebelumnya. Saat kita akan check in, ada dua orang datang bertanya apakah masih ada kamar kosong. Dijawab oleh resepsionis, semua kamar terisi. Ah iya, ini long weekend! Ga nyangka, tidak hanya hotel-hotel yang terletak di kawasan Malioboro yang fully-booked, namun juga hotel-hotel yang terletak di Jalan Kaliurang km. 5.

 



 

Setelah check in, memasukkan barang-barang kita di kamar -- kita mendapat kamar nomor 9 di lantai 2 -- kita keluar lagi. Kita makan siang gudeg di satu RM gudeg yang cukup terkenal yang terletak di pinggir Selokan Mataram. Setelah makan siang, kita mengayuh pedal menyusuri Selokan Mataram sampai Jalan Gejayan, kemudian belok kanan, Ranz mencari 'tempered glass' untuk hapenya yang baru. Dari sana, kita masuk ke area UNY, untuk kemudian keluar di Jl. Colombo, kita mampir ke Mirota Kampus. Ranz bilang dia lupa bawa celana pendek untuk ganti, in case hujan.

 

Ternyata ketika keluar dari Mirota, malah aku yang belanja celana pendek untukku dan Angie. Hahaha … Ranz didn't get any. Dari Mirota, kita mampir ke satu angkringan lagi, Ranz haus, dia pingin minum es the. Setelah itu, kita kembali ke penginapan.

 





Malamnya kita nongkrong di Sembari Café, yang terletak kira-kira 1,5 kilometer dari penginapan. Radit yang memberi tahu kita lokasi café itu kemudian menyusul kita untuk ngobrol bareng. Pukul 21.30 kita meninggalkan café.

 

Sekitar pukul 22.15 aku dan Ranz sudah (mencoba untuk) tidur. :)

  

Selasa, 20 Oktober 2020

Strava (lagi)

 

#strava

#stravacycling

#kalori terbakar

 

Bagi sebagian kawan, mencatat kegiatan berolahraga adalah satu kegiatan mubazir dan tidak penting. Namun, bagi sebagian kawan lain -- termasuk aku -- hal ini penting untuk mengecek kedisplinan diri sendiri. Mungkin orang2 lain memiliki alasan yang berbeda. Just feel free ya?

 

Sebelum Ranz iseng download strava di gadgetku menjelang gowes Sidoarjo - Probolinggo - Cemara Lawang menjelang akhir Desember 2017, aku pakai sportstracker. Aku pakai itu hanya untuk mengetahui jarak bersepeda yang telah kutempuh dan waktu yang kubutuhkan, jadi jika aku ingin napak tilas rute yang sama aku sudah tahu seberapa jauh jarak yang akan kutempuh, seberapa lama waktu yang kubutuhkan, dan seberapa tinggi tanjakan yang akan kulewati, jika ada. Biasanya sih catatan ini kutulis di blog jadi mudah bagiku untuk ngecek.

 

Aku belum memanfaatkan sportstracker untuk menjadikannya medsos: untuk berinteraksi dengan "atlit" lain.

 

Aku baru ngeh strava bisa jadi medsos kira2 setahun yang lalu, ketika seorang kawan men-screenshoot- "club leader" di satu grup sepeda alumni yang aku ikuti. (Aku memang gabung club sepeda alumni di strava, iseng2 saja awalnya.) Namaku tercantum di 10 "atlit" yang bersepeda paling banyak kilometernya. Aku heran, lha aku kan cuma nyepeda ke kantor? Kok bisa termasuk 10 teratas pesepeda paling "ngoyo"? Hihihi ... ini pasti karena orang2 di grup alumni itu bukan orang2 yang hobi gowes jauh setiap hari. Di grup "B2W Indonesia" jelas peringkatku di atas angka 100. 🤪🤪🤪maklum, kawan2 b2wer yang tinggal di Jakarta itu bersepeda ke kantor bisa menempuh jarak 50 kilometer pp sehari je. Hwaaaa😓😰🤣

 

Naaah, akhir2 ini aku baru ngeh memperhatikan satu fitur di strava: kalori.

 

Seorang kawan di satu grup alumni mengadakan healthy life challenge yang berupa berolahraga minimal 30 menit setiap hari selama 4 bulan. Semula dia mengajukan satu syarat saja: yang paling rajin akan mendapat hadiah utama, yakni sebuah sepeda lipat. Yang paling rajin berarti yang selama 4 bulan tidak ada hari off sama sekali plus setiap hari yang paling banyak menitnya. Simpel kan ya? Maka aku pun semangat sekali untuk memenangkan challenge ini.

 

Namun, out of the blue, kawan ini menambah satu point penilaian lagi: KALORI.

 

Aku perhatikan laporan kawan2 yang menyetorkan hasil workout mereka. Gile, kok bisa ya kalori yang "terbakar" bisa sampai ribuan kcal? Padahal dengan jarak dan waktu tempuh yang tidak jauh beda, stravaku mencatat kaloriku yang terbakar mentok hanya, misal, 600 - 700 kcal.

 

Kebengonganku ini dijawab oleh seseorang. Satu kali dia bertanya, "Mbak pakai gadget samsung ya? Gadget satu itu memang terkenal pelit untuk mengeluarkan catatan kalori yang terbakar. Saya pakai XOSS. Jika di samsung kalori terbakar saya mungkin hanya tercatat 650 kcal, di XOSS bisa sampai 2400 kcal." NAH LO.

 

Karena merasa hal ini tidak adil, aku curhat lah pada seseorang. 🤭🤭🤭dia bilang, "kok aneh gitu Miss? Tapi sakjane, sing bener ki kalori sing tenan terbakar ning njero awake dewe ki pira? Sing tercatat ning gadget samsung? (Utawa gadget hp liyane.) Apa sing sebangsane smart watch? Misale XOSS ngono kuwi?"

 

Lha embuh 🤭🤭🤭

 

Ini kuberi contoh. Seseorang bersepeda dengan menyalakan strava di 2 gadget yang berbeda. Anggap saja yang satu di gadget samsung, satunya lagi pakai XOSS. Catatan kalori yang terbakar jauh kan? Dan, karena orang ini (he is NOT in my friendlist 🤪) menyalakan 2 gadget yang berbeda, setelah selesai bersepeda, dia melakukan sinkronisasi, hasilnya adalah, di catatannya dia menempuh jarak bersepeda 2 kali lipat jarak yang sesungguhnya dia jalani. Ga usah heran jika di hari ini dia tercatat ada di posisi klasemen 10 besar tertinggi. Hihihi 🤪🤪🤭

 

Btw, busway, tulisanku ini lebih fokus ke masalah kalori yang terbakar ya? Barangkali ada yang bisa menjelaskan sebenarnya kalori yang terbakar di tubuh kita itu yang tercatat di smart watch atau di gadget? Barangkali ada yang bisa menjelaskan. Matur nuwun. 🙏





 

Rumah Sepeda Indonesia

"Gerakan moral" BIKE TO WORK INDONESIA secara informal telah diinisiasi sejak tahun 2004, dan 'diformalkan' sejak tanggal 27 Agustus 2005 oleh para pecinta sepeda yang ingin membuat Indonesia lebih baik. Lebih baik dalam hal apa? Minimal dalam rangka usaha membuat orang untuk 'kembali' menggunakan sepeda sebagai moda transportasi utama seperti sebelum dekade 1980-an. Jika banyak orang bersepeda, minimal polusi lingkungan akan menurun, dan negara bisa menghemat dalam penggunaan BBM selain tentu saja perawatan fasilitas umum yang lebih murah karena polusi menurun.

 

 

Om Poetoet ketua B2W Indonesia

Om Sinar dari Sinar Bike, yang menyediakan ruang untuk RSI cabang Semarang

Agar gerakan moral ini tidak hanya terhenti di ibukota, para founding fathers membuka kesempatan pada pecinta sepeda di daerah-daerah yang memiliki visi dan misi yang sama untuk membentuk koordinator wilayah di kota masing-masing. Kota Semarang menjadi 'kepanjangan' tangan B2W Pusat pada bulan Juni 2008.

 

 

Setelah bergerak selama 15 tahun, B2W merasa bahwa jalan kita untuk menciptakan Indonesia memiliki lingkungan tak berpolusi masih panjang dan lama: dibutuhkan orang-orang yang berintegritas, memiliki persistensi dan konsistensi untuk terus menerus menggelorakan semangat para pesepeda pada khususnya dan rakyat Indonesia pada umumnya untuk menggunakan sepeda sebagai moda transportasi utama sehari-hari. Dan yang tak kalah penting lagi adalah dana. Untuk kampanye tentu butuh dana yang tidak sedikit.

 



Setelah 15 tahun, B2W Indonesia merasa sudah tiba waktunya untuk merangkul para pengusaha UMKM untuk kian eksis -- apalagi setelah dunia dihantam pandemi covid 19 -- sekaligus untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan untuk kampanye. Untuk inilah RUMAH SEPEDA INDONESIA hadir! Di RSI para pesepeda bisa saling bersilaturahmi, kemudian saling mengedukasi, saling mendukung untuk kampanye penggunaan sepeda sebagai moda transportasi. Atau para penggiat sepeda bisa bekerja sama untuk menyelenggarakan acara-acara untuk mengedukasi sekaligus mengkampanyekan gaya hidup sehat dengan menggunakan sepeda sebagai moda transportasi utama. Untuk biaya yang dibutuhkan, para penggiat sepeda bisa memanfaatkan keuntungan dari penjualan merchandise yang dihadirkan oleh pengusaha UMKM. Para pengusaha UMKM yang ingin bekerja sama dengan RSI untuk menjual produk-produknya tentu saja yang ada kaitan erat dengan sepeda dan pernak perniknya ya.

 

Berikut ini misi-misi yang disebutkan oleh Om Poetet sebagai ketua B2W Indonesia saat ini:

 

1.     Misi advokasi: memberikan hak atas rasa aman bagi pesepeda di jalan raya, sebagai pengejawantahan UU nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Beserta UU turunannya.

2.     Misi edukasi: memberikan pemahaman dan meningkatkan kesadaran pesepeda akan haknya, sekaligus tanggung jawabnya dalam mematuhi peraturan lalu lintas.

3.     Misi kampanye: menjadikan sepeda sebagai bagian aktifitas sehari-hari yang merupakan solusi tanpa polusi, membantu mengurangi beban jalan, mengurangi angka kecelakaan lalu lintas, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fossil, mengurangi biaya subsidi BBM, menyehatkan masyarakat, dan langkah nyata menuju peradaban baru yang ramah lingkungan

4.     Misi sosial: menjadikan wadah B2W sebagai bagian dari aktifitas yang memberi kebaikan dan manfaat pada sesama.

 




 

Setelah membuka Rumah Sepeda Indonesia di Jakarta pada tanggal 27 Agustus 2020 -- tepat di hari jadi b2W Indonesia yang ke-15, Om Poetoet meresmikan RSI cabang kota Semarang pada tanggal 10 Oktober 2020. Semoga keberadaan RSI benar-benar bisa memberi manfaat pada para pegiat sepeda untuk kian melakukan hal-hal terbaik untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Amin YRA.

 

PT56 13.13 20-10-2020

  

Minggu, 11 Oktober 2020

Healthy Life Challenge

 

Seperti yang pernah kutulis di link ini, akhir tahun 2019 aku dengan sepenuh excitement mengikuti challenges yang ada di strava, salah satunya adalah challenge untuk bersepeda sejauh 1250 km per bulan. Bulan Desember 2019 itu, aku ternyata tetap gagal untuk bersepeda sampai 1250 km. hihihi … Ternyata, begitu masuk tahun 2020, excitement-ku menghilang begitu saja. Aku tak lagi merasa tertantang untuk ngecek 'club leaderboard' di beberapa grup yang kuikuti.


 

Apalagi setelah pandemi, aku sempat ga berani bersepeda. Sebagai ganti sepedaan, aku berjalan kaki di pagi hari, di sekitaran rumah, sekitar 4 - 5 kilometer setiap pagi. Ini berlaku dari pertengahan bulan Maret 2020 sampai Mei 2020. Awal Juni, saat mulai diberlakukan 'new normal', aku mulai bersepeda lagi, masih tetap ga berani lama-lama, paling sekitar 20 kilometer saja, ini pun maksimal.


Snow White otw ke Demak

 


Tapi menjelang akhir Juni, aku mulai berani agak jauh, Semarang - Demak pp, sekitar 60 kilometer. Kemudian dilanjut Semarang - Kudus pp, sekitar 100 kilometer. Tetap sendiri, dan terus berusaha menghindari kerumunan. Ini tentu saja didasari pada rasa sakaw yang melandaku: sakaw ngepit antar kota.


Austin di trotoar yang lebar di Jl. Slamet Riyadi Solo

 


Dan, mendadak seorang kawan di grup alumni -- Kagama -- di bulan September menawarkan 'challenge' berupa berolahraga setiap hari minimal 30 menit, selama 4 bulan, dimulai dari tanggal 1 Oktober 2020 sampai 31 Januari 2021. WAW! Kesempatan aku menantang diri sendiri! FYI, seingatku, sejak awal tahun 2020 sampai sekarang, belum pernah sekalipun aku 'absen' tidak sempat menyalakan strava. Bahkan jika ketika seharian aku ga dapat mood untuk olahraga, dan habis maghrib hujan, aku tetap memaksa diri keluar untuk berjalan kaki, sejauh 2 - 3 kilometer dengan membawa payung. :D pokoknya sehari aku harus menyalakan strava meski hanya sekitar 20 - 30 menit.


 

Aku memang strava addict, apa boleh buat? Lol. Seperti yang pernah kutulis di blog, bulan Januari lalu waktu gadgetku hilang ketika bersepeda ke Ungaran, sehingga catatan bersepeda dari rumah sampai Ungaran hilang, aku minta Ranz yang bersepeda bersamaku, untuk download strava di playstore di gadgetnya, dan menyalakan strava dengan akunku, agar tercatat jarak bersepeda balik dari Ungaran ke rumah. Hohoho … aku tetap terobsesi by the end of the year 2020, saat menerima raport dari strava, aku akan melihat di raportku bahwa selama setahun ini, aku tidak pernah bolos sama sekali. :D


 

PT56 13.51 09/10/2020