Jumat, 13 Desember 2019

S t r a v a

Strava bukan aplikasi pertama yang kudonlod untuk kupakai merekam kegiatan bersepeda/berjalan. kalau tidak salah aku mulai menggunakan aplikasi sportstracker tahun 2012, satu tahun setelah aku menggunakan hape android tahun 2011. Aku 'ketularan' Ranz menggunakan aplikasi ini. 😜 ketika beberapa teman mulai menggunakan aplikasi endomondo, aku ikutan nyoba. tapi, ternyata aku ga begitu cocok, aku pun kembali menggunakan sportstracker.

Ganti hape tahun 2014, kemudian ganti lagi awal tahun 2017, aku tetap mengunduh sportstracker untuk mengetahui seberapa jauh jarak aku bersepeda.

Desember 2017 ketika aku dan Ranz berada di Sidoarjo untuk memulai perjalanan bikepacking ke Gunung Bromo, dia mengunduh strava di gadget yang kupakai. Ternyata dia tertarik untuk mengaplikasikan app relive yang waktu itu bisa diakses via strava. Aku pun mulai menggunakan strava saat meninggalkan Sidoarjo menuju Probolinggo, kemudian lanjut ke Cemara Lawang keesokan hari.

Sejak saat itu, aku meninggalkan sportstracker. hihihi ... terutama ketika di akhir tahun 2017 aku tahu ada catatan tahunan yang bisa kita dapatkan dari strava: berapa hari dalam satu tahun kita berolahraga (sambil menyalakan strava tentu). Wah, asyik nih. Kita bisa tahu berapa hari dalam satu tahun kita sama sekali tidak melakukan olahraga. Juga berapa ratus/ribu kilometer yang telah kita tempuh dalam satu tahun itu.

Agustus 2018 aku ikut klub '13 tahun b2w' karena ada lomba bagi mereka yang rajin bike to work dan menyalakan strava. peserta wajib bergabung dengan klub ini di strava.

Aku lupa mulai kapan gabung klub 'Kagama Kita Gowes Bersama'. Aku ikut klub, tapi ga pernah ngecek ada apa saja di dua klub yang kuikuti itu. hihihi ... Sampai akhirnya beberapa bulan lalu (di tahun 2019) ada screenshot urutan 'leaderboard' di grup Kagama Virtual Cycling. Aku heran karena namaku tercantum di daftar 10 besar, padahal aku merasa bersepedaku seadanya saja, hanya bike to work dan bike to home. Kadang-kadang saja bersepeda di weekend, terutama ketika ada event, misal menghadiri ultah satu komunitas sepeda lipat.

Ternyata hal ini membuatku kian tertarik pada strava, dan mulai mencoba mengenali lebih jauh. Jika di sportstracker dulu aku sangat 'soliter' tidak memiliki network ('teman' baik yang aku follow maupun follow aku), di strava aku mulai lebih ramah. hihihi .. Aku follow beberapa orang, dan beberapa orang follow aku. Aku kadang online di strava untuk melihat-lihat aktifitas orang lain di hari itu, Kadang menulis komen, setelah tahu bahwa kita pun bisa menulis komen disana. hihihi ...

Selain ikut dua klub itu, aku cari-cari klub lain yang mungkin cocok kuikuti. Setelah nemu 'WCC Nusantara' aku bergabung. Kupikir aku cocok di klub ini, kan semua anggotanya perempuan, meski well, kubayangkan orang2 WCC pasti orang2 yang suka ngebut karena kebanyakan naik RB atau minimal MTB lah, sedangkan aku lebih sering naik Austin (yang seli) atau Larung (yang balap jadul tapi dengan grupset ala kadarnya lol).

Gegara memperhatikan akun orang-orang disana, aku mulai lihat ternyata ada challenges yang menarik disana, mulai dari gowes 10000 kilometer satu tahun, gowes 1250 kilometer sebulan, 100 kilometer satu hari, dll. Waaah ... asyik niiih. Dan ... gegara mulai ngikut challenge itu, aku semakin terpacu untuk gowes lebih sering dan lama, ga hanya saat bike to work maupun bike to home.

Aku mulai ikut challenge gowes 1250 kilometer bulan Oktober 2019. Bulan itu aku bersepeda 'hanya' sejauh 1000 kilometer. Bulan November 2019, malah 'hanya' 950 kilometer sebulan. Entah deh bulan Desember ini. By the end of the year, kira-kira bakal tercapai ga ya jarak gowes 1250 kilometer sebulan? Hmmm ... Wish me luck yaaa. (masih sering mager soalnya! hihihi ...)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.