Kamis, 01 Maret 2012

Gowes Tour ke Pantai Cahaya Weleri

GOWES TOUR KE PANTAI CAHAYA WELERI
26 FEBRUARI 2012

Untuk mengisi kekosongan kegiatan komunitas b2w Semarang, aku dan Ranz – yang meski penduduk kota Solo namun dengan suka cita mengaku diri sebagai anggota komunitas b2w Semarang maupun Komselis, if I am not mistaken – berencana mengadakan gowes bareng. Setelah menuju arah Utara – Kudus 10 April 2011 dan Jepara 29 Mei 2011 – kemudian menuju Timur – gowes napak tilas ke Stasiun Kedungjati 18 Desember 2011 – kali ini kita ingin gowes ke arah Barat. Pucuk dicinta ulam tiba ketika Wawan alias Herwantoro mengajak gowes ‘terakhir’ sebelum dia hijrah lagi keluar kota. Dia menyarankan untuk gowes ke Pantai Cahaya Sendang Sikucing Weleri. Kebetulan sekitar satu tahun yang lalu ketika Wawan mengajak gowes ke tempat yang sama, aku tidak bisa ikut karena di rumah ada acara keluarga, sedangkan Ranz ikut acara gowes Joglosemar ke Kaliurang, maka ajakan Wawan kali ini kita terima dengan gembira.

Sempat woro-woro di dinding komunitas b2w Semarang dan Komselis beberapa hari sebelum the D day 26 Februari 2012, namun ternyata pas berbarengan dengan acara keluarga Dhimas, anggota termuda Komselis yang sempat ikut gowes bareng ke Kudus setahun lalu, Dhimas sunat. :) Meski peserta kurang dari sepuluh, kita berdelapan – aku, Ranz, Wawan, Tami, Luna, Da, Bije, dan Bowo – tetap bersemangat. Tiga peserta (Rans, Da, dan Luna) naik sepeda lipat yang kebetulan semuanya bermerk sama, pocket rocket. Tiga orang (aku, Tami, Bije) naik mtb. Sedangkan Wawan dan Bowo naik sepeda jenis balap. (NOTE: Bije nyusul di tengah jalan, sekitar Krapyak, tidak mulai dari mabes.)


Kita meninggalkan mabes – yang telah kehilangan videotronnya – sekitar pukul 06.40 dikarenakan sang tour leader bangun kesiangan hingga datang ke meeting point pun tentu kesiangan. Kita memilih jalur Jalan Pahlawan – Simpang Lima – Pandanaran dst. Karena masih lumayan pagi dan hari Minggu pula tentu jalur jalan dalam kota tidak padat. Namun ternyata setelah melewati bunderan Kalibanteng, jalan mulai dipadati kendaraan-kendaraan besar, seperti bus dan truck.

Sesampai di (eks)) pom bensin dekat RM ayam goreng S*****i, Mas Nasir dan putri mungilnya Lala telah menunggu kita. Wah ... tidak nyangka ternyata Lala berani juga diajak bertualang lagi. FYI, Lala juga ikut waktu gowes ke Stasiun Kedungjati.


Melewati traffic light pasar Jrakah, jalanan semakin penuh dengan bus dan truck. Bahkan para sopir dengan ugal-ugalan memenuhi badan jalan sambil terus main klakson. Para peserta terus mengikuti Wawan yang berada di depan dengan berjajar satu per satu. Aku sempat kepikiran Mas Nasir dan Lala yang berada di belakang, namun aku juga tetap terus mengikuti laju sepeda Wawan. Belum pernah aku gowes ke arah Barat, ga nyangka ternyata jalanan yang ‘nampaknya’ datar jika dilewati naik mobil/bus, ternyata naik turun permukaan jalannya lumayan menantang dan matahari yang bersinar terik membuatku mudah merasa haus.


Kita berhenti untuk beristirahat plus sarapan di alun-alun kota Kendal sekitar pukul 08.20. Seperti saat gowes ke Kudus maupun Jepara, menu sarapan kita adalah soto ayam, kecuali Tami yang selalu tak lupa membawa bekal ketika gowes jauh: mie goreng. :)

Kita melanjutkan perjalanan sekitar satu jam kemudian. Sinar matahari semakin panas menyengat. Namun untunglah permukaan jalan tak lagi naik turun.


Ketika kita sampai di satu traffic light di daerah Cepiring, Wawan mengajak kita menyeberang ke kanan. Dia bilang di situ ada jalan pintas menuju pantai Cahaya. Setelah sempat bertanya kepada beberapa orang yang berdiri di ujung jalan itu untuk meyakinkan diri, kita berfoto ‘farewell’ karena Wawan dan Bowo tidak bisa terus mengikuti kita sampai ke lokasi. Wawan mengaku ada keperluan mendadak yang membuatnya harus segera balik ke Semarang. Maka sejak saat itu, tampuk tanggung jawab perjalanan dipindahalihkan kepada Bije. :)


Menurut ‘speedometer’ yang nangkring di sepeda Tami, dari ujung jalan itu sampai ke Pantai Cahaya kita gowes sekitar 10 kilometer. Ketika kita sempat hampir salah jalan (karena aku ‘keukeuh’ dengan pesan Wawan untuk teruuuusssss saja, hihihihi ...) ada seorang tukang becak yang baik hati memberi petunjuk. Well, tentu kita nampak sebagai turis (yang naik sepeda) yang menuju ke pantai tempat para turis berwisata. :) Atau mungkin sudah banyak juga ya para cyclist yang menuju pantai Cahaya – maupun pantai Sendang Sikucing – dengan naik sepeda.

Setelah sempat dibuat bingung dengan papan petunjuk “Pantai Cahaya” dengan “Pantai Sendang Sikucing” (lhooo ... sebenarnya nama pantai yang akan kita tuju namanya apa ya?) kita sampai ke satu pertigaan yang ada papan petunjuk ke arah mana yang bisa kita tuju jika kita ingin ke Pantai Cahaya atau ke Pantai Sendang Sikucing. :) Kita memutuskan untuk menuju Pantai Cahaya karena memang sejak berangkat dari Semarang tujuan kita adalah pantai satu ini.


Sempat ketar-ketir jangan-jangan pantai satu ini ga jauh beda dengan pantai Marina atau Maron Semarang. Qiqiqiqiqi ... ga worth banget lah gowes jauh-jauh, mana panas pula. :-P Sesampai di depan pintu gerbang, oh, terlihat bahwa pemerintah daerah telah memberikan perhatian yang cukup bagus untuk membuat pantai Cahaya layak dijadikan tujuan wisata. Dari luar terlihat ada pintu gerbang yang cukup memadai untuk menyambut wisatawan (bandingkan dengan pantai Maron Semarang :-P )


Sempat terjadi ‘insiden’ yang sebenarnya biasa kita – para pesepeda – hadapi. Ceritanya begini. Sesampai di depan pintu gerbang masuk Pantai Cahaya, kita langsung menata sepeda berjajar untuk berfoto (sebagai dokumentasi kenarsisan kita :-P) Namun belum sempat berfoto ria, oleh satpam penjaga pintu gerbang kita dihalau disuruh pergi karena menghalangi jalan. Dari jauh terlihat ada sebuah mobil angkot datang.

“Minggir-minggir, itu ada mobil datang!” kata satpam itu sambil menyingkirkan Pockie ke pinggir.

Padahal kita lihat mobil itu masih lumayan jauh jaraknya. Kalau hanya sekedar satu dua jepret, pasti kita sudah selesai unjuk narsis ketika mobil tersebut sampai di pintu gerbang.

“Biasalah. Karena kita naik sepeda tentu kita dianggap orang yang tidak mampu dibandingkan orang yang naik mobil itu,” kata salah seorang dari kita.

Dan ... ternyata mobil angkot itu tidak masuk ke dalam area Pantai Cahaya, tidak melewati pintu gerbang. Tentu karena jika mobil masuk, orang-orang yang ada di dalam harus membayar tiket masuk mobil, selain tiket buat mereka masing-masing. Rombongan kita sendiri – enam orang dengan enam sepeda – ternyata ‘hanya’ dikenai biaya Rp. 30.000,0 karena dihitung satu kelompok.

Setelah masuk ke kawasan Pantai Cahaya, yang pertama akan kita lihat adalah panggung pertunjukan ‘live’. Mungkin karena hari itu hari Minggu maka ada pertunjukan live music. Pasir di pantai ini tak jauh beda dengan Pantai Maron, yakni berwarna hitam, namun kondisi pantai jauh lebih bersih dari sampah yang memang tidak selayaknya dibuang begitu saja di pinggir pantai. Ada gedung pertunjukan lumba-lumba. Meski nampaknya Tami ingin menonton pertunjukan itu (hihihihi ...) kita ga masuk karena ... hmmm ... karena apa ya? LOL. Karena yang lain tidak kepengen masuk. Hahaha ...


Di pinggir pantai tersedia gazebo-gazebo untuk beristirahat sekaligus menikmati hembusan angin pantai dan memandang air laut. Juga tersedia ATV bagi mereka yang tertarik mencoba gundukan pasir yang ditata sedemikian rupa. Kantin tempat para wisatawan bisa melepaskan rasa dahaga dan lapar juga tentu tersedia. Sebagai penggemar minuman teh panas, aku rekomendasikan tehnya benar-benar mak nyusss. J (Special thanks buat Da dan Luna yang beliin.)


Setelah beristirahat dan menikmati suasana secukupnya, kita meninggalkan tempat kurang lebih pukul 14.00 karena Bije ada acara selepas ashar. (dan entah, ashar yang dia maksud itu jam berapa ya? Hihihihi ...) Gerimis yang lumayan cukup membasahi tanah hingga menghasilkan bau khas sempat turun sebelum kita mulai mengayuh pedal maka tak pelak beberapa dari kita pun mengenakan mantel – kecuali Bije dan Ranz yang mengaku tubuh mereka water proof. LOL. Namun ternyata, alam masih berpihak kepada mereka berdua. Belum sampai 10 meter kita meninggalkan kawasan pantai, gerimis telah berhenti total. Hanya tinggal mendung menggantung di langit sehingga kita tak lagi dipanggang sinar mentari tatkala kita gowes sampai di jalan raya.

Dalam perjalanan gowes kurang lebih 10 kilometer ke arah jalan raya, Bije mencoba peruntungan bertanya kesana kemari dimana kita bisa mendapatkan sewa mobil angkot atau pick up atau apa pun yang bisa mengantar kita balik ke Semarang. (Sebelum pulang, Wawan sempat bercerita dulu dia dkk menyewa mobil angkot yang membawa sampai alun-alun Kendal.) Kita baru mendapatkan bus yang bersedia kita carter sampai jalan masuk ke jalan Hanoman Semarang di pinggir jalan raya, tempat kita berpisah dengan Wawan dan Bowo beberapa jam sebelumnya. Sebelum pulang, kita sempat menikmati mie ayam yang lumayan lezat dengan porsi yang auduzubillah banyaknya. LOL. Untunglah aku tidak pesan satu porsi untuk diriku sendiri, karena semangkok berdua Ranz sudah sangat cukup membuat perutku gembul. :) Thanks to Da yang telah membayari kita.


Perjalanan naik bus BAYU PUTRA yang di belakang badan bus bertuliskan TUT MBURI BAHAYANI butuh waktu sekitar satu jam. Di pintu masuk jalan Hanoman Raya itu kita berpisah dengan Bije. Kelima srikandi gowes bareng menuju jembatan Sungai Banjirkanal Barat dimana kita berpisah dengan Tami.


Tak lama kemudian, di status fb-nya, Tami menulis perjalanan yang terekam di ‘speedometer’ sepedanya sekitar 73,86 kilometer.

Terima kasih kepada semua yang berpartisipasi dalam gowes yang konon adalah gowes farewell buat Wawan yang akan memulai hidup baru di kota lain, namun ternyata yang bersangkutan malah kabur pulang duluan. :-P (Jadi ingat gowes farewell melepas mas Tyo November 2009 ke Stasiun Kedungjati dimana dia kabur duluan, bedanya Wawan pamit dengan jelas dan memindahkan tanggung jawabnya ke Bije, sedangkan mas Tyo hilang tanpa kabar. Kabur gowes berdua Teguh tanpa peduli yang ada di belakang. Hahahahaha ... I will never forget it! LOL.)

Special thanks buat Bije yang telah mengawal kita dengan sabar dan mengusahakan angkutan bus hingga kita ga perlu ngonthel balik ke Semarang.

Thanks buat Luna dan Da yang telah menyediakan waktu khusus datang ke Semarang dan gowes bareng, plus traktiran teh dan mie ayamnya.

Thanks buat Wawan dan Bowo yang telah menemani kita sampai di jalan pintas masuk ke pantai Cahaya.

Thanks buat Tami yang menerima undangan gowes ini meski sebenarnya harus konsentrasi ke UN maupun ujian-ujian lain di sekolah.

Always big thanks buat Ranz for everything. Btw, hasil jepretan kamera prosumer-mu sangat oke juga kok. Lumayan buat pengganti jika Elena sedang dipinjam orang. :)

Sampai ketemu di event gowes berikutnya ya?
GL7 09.06 290212
















































































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar