Sabtu, 10 Februari 2018

Mbolang Naik Sepeda Lipat? Hyuuuk.

SELIER BIKEPACKER

Ketika pertama kali bersepeda antar kota dengan jarak (lumayan) jauh dengan Ranz di tahun 2011 kita memilih naik sepeda lipat karena praktis. Pulangnya kita tidak perlu mengayuh pedal karena tinggal kita lipat, naikkan bus. DONE! (Bulan Juni 2011, kita bersepeda Solo – Jogja, dilanjutkan dengan bersepeda ke Kaliurang, pertama kali aku menjajal naik sepeda lipat di tanjakan. Kemudian di bulan Juli kita bersepeda Jepara – Semarang sepulang dari Karimun Jawa dengan harapan bisa mengobati mabuk laut setelah diombang ambing ombak dalam KM Muria selama 6 jam. Dilanjut bersepeda Solo – Pantai Nampu Wonogiri di bulan September 2011.)

bikepacking Semarang - Tuban - Agustus 2012
bikepacking Semarang - Tuban - Agustus 2012

Sebagai seorang newbie dalam sepedaan, aku bahkan tidak pernah memperhatikan jenis-jenis sepeda kecuali sepeda gunung dan sepeda lipat. Tidak tahu apa beda sepeda gunung dengan sepeda yang disebut hard tail, All Mountain, fullsus, bahkan juga sepeda balap. LOL. Yang berbeda dari semua jenis sepeda yang aku tahu waktu itu hanyalah sepeda lipat, karena sepeda lipat bisa dilipat. Itu saja. Aku juga bukan pemerhati merk-merk sepeda.

Tahun 2011 – 2012 itu aku dan Ranz sedang asyik-asyiknya mbolang dengan naik sepeda lipat, berusaha mencari waktu luang yang bisa kita miliki bersamaan untuk kemudian merencanakan dolan kemana. Tidak pernah ngeh bahwa ternyata di kalangan ‘turinger’ mereka memiliki persyaratan ini itu agar seseorang bisa dianggap melakukan perjalanan yang bisa dikategorikan turing. Ketika seseorang tidak memenuhi persyaratan itu, dia dianggap tidak layak mengklaim diri sedang turing. Salah satunya adalah harus naik sepeda yang mumpuni, yang memang dirancang untuk bersepeda jarak jauh. Istilah yang mereka gunakan adalah sepeda turing.
Solo - Sidoarjo November 2012

Aku lupa mulai kapan aku dimasukkan oleh seseorang dalam grup “Komunitas Bikepacker Indonesia” di facebook. Well, aku masuk banyak grup di facebook, namun tidak pernah begitu memperhatikan isinya apa saja. Hingga satu kali di grup satu ini ada seseorang yang melontarkan pertanyaan, “Bisakah kita melakukan turing dengan menaiki sepeda lipat?” HELL YEAH ... what kinda question is that? LOL. Lha terserah lah ya kita mau naik sepeda apa? Kok sampe segitunya ga pede? LOL. Di satu perjalanan Semarang – Jepara bulan Juni 2012, aku dan Ranz bertemu dua anak usia belasan tahun yang mengaku sedang dalam perjalanan menuju Surabaya, yang satu naik sepeda gunung, yang satunya lagi naik city bike. Nah tuh, naik sepeda yang mungkin diklaim sepeda hanya untuk pergi ke pasar bisa juga kan melakukan perjalanan ratusan kilometer? Di tahun yang sama Ranz naik sepeda BMX-nya dari Solo menuju Semarang! Yang penting niat dan mewujudkan niatnya itu menjadi kenyataan.

di atas sungai Bogowonto Maret 2013

bikepacking Solo - Purwokerto Maret 2013

Tahun 2013 ketika mengikuti satu event sepedaan di Jogja, seorang kawan sepeda berkata kepada Ranz, “Kalian berdua nyadar ga sih kalau kalian telah merusak tatanan turing? Sepeda lipat itu selayaknya dipakai hanya dalam kota. Bukan untuk turing dari satu kota ke kota lain.” Tentu saja dengan nada yang sangat ramah di telinga; bukan dengan nada mencemooh. J dia bercanda. Maka, aku dan Ranz pun hanya tertawa renyah mendengarnya.

Jogja attack, event pra-jamselinas 

JAMSELINAS ~ jambore sepeda lipat nasional

mbolang Blitar - Malang, Juni 2014

Sejak pertama kali menyelenggarakan jamselinas di tahun 2011, para pengurus komunitas sepeda lipat dengan pede mencanangkan akan mengadakannya secara tahunan. Jika di awal-awal penyelenggaraannya, pesertanya mungkin ‘hanya’ mencapai angka duaratus hingga tiga ratus peserta, semakin lama peserta pun semakin membludak, hingga puncaknya di event jamselinas ketujuh dimana ada lebih dari 1300 peserta mendaftar.
Entah apakah ini hanya terjadi di kota Semarang, atau juga terjadi di kota-kota lain, namun menjelang penyelenggaraan Jamselinas ketujuh, banyak pesepeda di kota Semarang yang dulu memandang sepeda lipat hanya dengan sebelah mata (hanya sepeda anak-anak, atau hanya sepeda yang Cuma bisa dipakai ke area CFD) mulai memandang sepeda lipat adalah jenis sepeda yang seksi; mereka berbondong-bondong membeli sepeda lipat; berbondong-bondong mendaftarkan diri mengikuti jambore kebanggaan para pehobi sepeda lipat. Kenyataan bahwa banyak peserta jamselinas Semarang adalah ‘newbie’ di ajang jamselinas menunjukkan bahwa peminat sepeda lipat memang meningkat cukup signifikan.
dolan Wonosobo - Dieng, Januari 2012

Beberapa bulan sebelum penyelenggaraan jamselinas ketujuh, orang-orang juga berlomba-lomba mengikuti satu event bergengsi J150K alias Jogja 150 kilometer, yang berarti bersepeda menyusuri jalanan Jogja, yang dikhususkan untuk pengguna sepeda lipat. Jika tidak dibatasi oleh panitia, mungkin jumlah peserta juga bakal membludak hingga mencapai angka seribu. Di event ini pertama kali aku tahu ada satu komunitas yang menamai diri SELIER  BIKEPACKER. Wah ... Aku dan Ranz banget kan yaaa? :D


Solo - Jogja, Juni 2011

INDONESIA FOLDINGBIKE

Indonesia foldingbike atau yang biasa disingkat menjadi id-fb (baca : ai di ef bi) adalah satu wadah/komunitas pehobi sepeda lipat yang didirikan di Jakarta di tahun 2007; semula untuk mewadahi lipaters yang tinggal di Jakarta. Dalam ‘perjalanannya’ id-fb ini dianggap sebagai induk komunitas sepeda lipat di kota-kota lain seluruh Indonesia. (Aku menganggapnya serupa dengan B2W Indonesia yang merupakan induk dari ‘komunitas’ B2W di kota-kota lain di Indonesia.)

Menjelang ulang tahunnya yang kesebelas di bulan Maret nanti, member grup id-fb di facebook telah mencapai angka 11 ribu orang. Di satu status yang ditulis oleh akun bernama pengurus id-fb tentang ulang tahun ke-11 ini, seseorang komen bahwa dari angka 11 ribu ini hampir 90% nya berasal dari “federal cycle”. WOW.

Seorang kawan sepeda pernah bilang ke Ranz bahwa satu kali sekian tahun yang lalu, konon, para federalis ini salah satu yang memandang sepeda lipat dengan sebelah mata. Juga, konon, pernah juga terucap bahwa kalau turing itu ya naik sepeda federal. Kawan yang sama ini juga lah yang dengan bercanda berkata kepada Ranz bahwa kita berdua telah merusak tatanan turing. LOL. Setelah sekian tahun berlalu, mereka pun mulai beralih ke sepeda lipat! Ciamik kan yaaa. LOL.

Dan kenyataan bahwa komunitas federal mengadakan acara jambore nasional hanya tiap dua tahun sekali, berbeda dengan komunitas sepeda lipat yang dengan pede sejak tahun 2011 mengadakan event silaturrahmi lipaters terbesar se Indonesia ini setahun sekali. Plus ... event untuk lipaters ini tidak hanya jamselinas lho. Jika ada satu wadah sepeda lipat satu kota mengadakan event, berbondong-bondong para pehobi sepeda lipat – yang tentu juga hobi dolan – akan ikut. Satu penyebab mengapa event untuk para lipaters ini mudah mengundang partisipan tentu adalah bahwa sepeda lipat ini sangat fleksibel untuk dibawa keluar kota. 

Sekian bulan lalu, seorang kawan facebook yang baru menambahkanku di medsos milik Mark Zuckerberg ini bilang bahwa dia telah membaca petualanganku bersepeda antar kota antar propinsi di blog sejak masa sepeda lipat belum ‘sememasyarakat’ seperti sekarang. Dia yang semula juga naik sepeda federal juga mulai mencicipi naik sepeda lipat. Wahhh ...

Jadiii? Barang kali aku dan Ranz akan terus (merencanakan) dolan antar kota antar propinsi (antar pulau juga) dengan naik sepeda lipat, meski setelah mengalami bersepeda dari Sidoarjo ke Semarang dengan naik sepeda dengan ban berdiameter 26” di bulan Juli 2017, kita berencana akan mengulangnya lagi, entah bersepeda dari kota mana ke kota mana. J just wait and see.


LG 18.18 09/2/2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar