Senin, 19 Juni 2017

Bersepeda santai

Sekian hari lalu, aku bersepeda santai di satu pagi yang masih sejuk, karena sang surya masih bersembunyi di ufuk Timur. Mungkin karena pagi itu cuaca berawan.

Di ujung jalan Pierre Tendean jelang masuk jalan Pemuda, aku melihat 3 anak-anak naik 'sepeda roda empat', bukan seperti sepeda yang dipunyai kakakku, tapi hasil modif anak-anak itu sendiri, katanya. :) karena tertarik, aku benar-benar mengayuh pedal Austin sangat pelan untuk menjajari anak-anak itu. Tak lama kemudian ada seorang laki-laki (mungkin) berusia enampuluhan tahun menyapaku, mengajak sepedaan bareng. Sepeda yang dinaikinya lumayan, heist 5.0. Bisa buat ngebut nih. :)  Karena ga enak menolak, aku menerima ajakannya.

kebetulan pas langitnya bagus :)

Kita pun menyusuri jalan Pemuda sampai di depan hotel Dibyapuri, kemudian langsung balik kanan. Si Om mengajakku sepedaan ke Simpanglima. Dia memandang Austin sambil berkata, "Sekarang sepeda seperti ini sedang ngetren ya?" Wah ... aku malah baru 'ngeh' kalau sepeda lipat sedang ngetren sekarang. :) Lebih lanjut, dia bilang, "Banyak teman saya yang membeli sepeda lipat akhir-akhir ini. Saya sih tidak mau karena merasa tidak cocok. Saya pernah mencobanya, rasanya pelaaaan sekali dan berat." Aku hanya manggut-manggut. (Memang begitu lah yang kurasakan jika habis membiasakan diri naik Cleopatra selama, let's say, 3 minggu berturut-turut.)

Dalam perjalanan menuju Simpanglima, si Om bercerita pernah bersepeda Semarang - Cirebon, selama 5 hari, bersama 20 orang pesepeda lain. "Naik sepeda ini Om?" tanyaku. Jawabnya, "Tidak ... wah ...kalau naik ini lama nyampenya, saya naik sepeda balap. Kawan-kawan saya yang lain juga naik sepeda yang sama jenisnya."

"Pulangnya gimana Om?" tanyaku.

"Pulangnya naik kereta api." jawabnya.

"Sepeda juga naik kereta api kah?" tanyaku, ingin tahu.

"Tidak ... sepeda naik mobil pickup. Mobil pickup ini memang telah mendampingi kita sejak berangkat dari Semarang." jelasnya.

Kemudian si Om juga cerita pernah bersepeda di Bali. Karena aku pernah bersepeda dari Gilimanuk ke Denpasar, aku tahu treknya yang lumayan menantang, full rolling, meski tanjakannya ga tinggi-tinggi amat. (aku anggap tinggi jika tingginya sampai lebih dari 1000 mdpl). maka aku berkomentar, "Wah .. Gilimanuk - Denpasar lumayan tuh treknya!" Si Om menjawab, "Ga berat lah treknya." Aku tertegun. LOL. Tapi, kemudian aku ingat, waktu itu aku naik Austin dan bawa pannier, si Om pasti naik sepeda balap, tanpa pannier. Ya ga berat dong kalo begitu. LOL. Dengan sopan, aku bilang, "Ga berat ya Om ... jika naik sepeda balap." Tapi, kemudian si Om bilang, "Tapi sampai di satu kota mana itu, saya ga kuat, saya loading sampai kota tujuan." Oooooo ... :) Sayangnya waktu kutanya, di Bali bersepeda kemana saja, si Om ga tahu. Dia rupanya hanya 'ngikut' kawan-kawannya. :)

Sesampai di Simpanglima kita sempat muter dua kali. Kemudian si Om mengajakku lewat Sriwijaya. Aku mengiyakan. (Sebelum itu, dia 'wanti-wanti' ke aku agar berani mencoba bersepeda di tanjakan. Kalau dari Pahlawan menuju Sriwijaya kan lumayan nanjak tuh.) Sesampai di jalan Sriwijaya, melewati 'gundukan' di depan Wonderia, si Om menjajariku (sebelumnya di belakangku) sambil bilang, "Wah ... Mbak Nana kayaknya sudah biasa nanjak nih. Tadi di tanjakan ga nampak ngos-ngosan, ga nampak kepayahan."

Akhirnya, aku pun 'buka kartu'. LOL. "Sekian tahun yang lalu, saya mengantor di Gombel Om. Waktu itu, saya usahakan sekitar dua sampai tiga kali bersepeda ke kantor."

Tapi aku ga cerita banyak kok. Ceritaku berhenti disitu saja. :)

Anyway, thanks for accompanying me to go biking, sir.

IB 18.52 19062017

Rabu, 07 Juni 2017

Candi Ngempon : Aku datang lagi

Pertama kali aku ke Candi Ngempon yang terletak di desa Ngempon, Karangjati Kabupaten Semarang dengan naik sepeda di bulan Desember 2012. Bersama Andra dan Ranz, kita bertiga naik sepeda lipat. Waktu itu BRT a.k.a bus Trans Semarang masih membolehkan penumpang membawa sepeda lipat, jika memang kondisi bus memungkinkah alias sepi. Untuk mengirit waktu dan tenaga, kita naik BRT sampai terminal Sisemut Ungaran. Dari sana, kita mulai bersepeda.

Sekitar awal tahun 2016 (atau tahun 2015 ya), beberapa rekan pesepeda woro-woro bersepeda kesini. Aku ga (tertarik) ikut karena kebanyakan yang ikut laki-laki (eh, bukannya di tiap event sepedaan, perempuan sering menjadi minoritas yak? LOL). Khawatir jika terlalu lelet, malah mereka ga asyik gowesnya. J

Entah mulai kapan aku punya keinginan gowes ke Candi Ngempon naik Cleopatra, aku sendiri sudah lupa. Dan ... out of the blue, aku merealisasikannya hari Jumat 2 Juni 2017.

Sebenarnya pagi itu aku rada aras-arasen, tapi aku memang merasa butuh bersepeda, untuk melatih diri demi persiapan turing rame-rame. (Kalo hanya berdua dengan Ranz sih, nyante. LOL.) Semula, aku hanya ingin menambah kilometer di sportstracker, yahhh ... 20 kilometer pun sudah bagus.

Meninggalkan kawasan Pusponjolo, aku belok ke arah Jl. Simongan, lanjut ke Kaligarang. Di ujung Kaligarang, kebetulan traffic light sedang merah, aku malas berhenti, maka aku belok ke arah kiri. Entah mengapa – aku hanya mengikuti arah Cleopatra membelok – tak lama kemudian aku belok kanan, nanjak menuju Bergota. Sesampai Jl. Kyai Saleh, aku belok kanan, belok lagi ke arah Jl. Menteri Supeno. Sesampai Jl. Pahlawan, aku menuju Siranda. Nanjak Siranda, aku mulai mendapatkan ‘feeling’ yang baik, aku mau nanjak Gombel kalo gitu, kemudian turun lewat Sigar Bencah.


Selepas Gombel – sempat berhenti sekali untuk memotret Cleopatra dengan latar belakang Tugu Taman Tabanas ... ini bukan modus ga kuat lho yaaa – mendadak aku ingat keinginanku menyambangi Vihara Buddhagaya lagi, setelah lebih dari setahun aku tidak kesana. Akhirnya, aku tidak jadi belok ke Tembalang waktu melewati patung Pangeran Diponegoro, aku terus ke arah Pudak Payung.

Sesampai vihara, ternyata pintu gerbang masuk vihara tutup. Duh. Aku ingat sekitar 4 tahun lalu aku nyampe sini juga pagi hari, sekitar jam 7, tapi, aku sudah bisa masuk. Akhirnya aku hanya memotret Cleopatra di luar pintu gerbang. Pikir-pikir lagi, apakah aku mau langsung balik turun ke arah Tembalang, untuk menuju Sigar Bencah. Ternyata, aku malah justru melanjutkan perjalanan menuju Ungaran.


Di Ungaran aku berhenti di satu warung untuk sarapan. Si empunya warung ternyata masih mengenali wajahku. Waktu aku membayar, kebetulan ada seorang pemilik toko sepeda yang juga sedang membayar, si empunya warung langsung ‘promosi’, “Om ... si Mbak ini kuat lho ... dia bisa bersepeda ke Jogja!!” Owh ...

Setelah keluar dari warung, aku berpikir-pikir lagi, akan langsung pulang ke Semarang atau kemana. Mendadak aku ingat keinginan untuk mengunjungi Candi Ngempon lagi. hmmm ... Bagaimana ya? Sudah lumayan dekat sih, paling tinggal 10 km lagi, tapi ...

Rencana itu (hampir) kugagalkan. Aku ke alun-alun Bung Karno saja deh, memotret Cleopatra dengan latar belakang tulisan U N G A R A N. Namun, ternyata, aku lupa jalan menuju sana (jalan yang kulewati bersama Dwi dan Ranz beberapa bulan lalu). :D Aku malah balik ke jalan raya. Aku pelan-pelan mengayuh pedal Cleopatra, mencari jalan lain yang menuju alun-alun. Namun, aku tidak menemukannya. Ya sudah, aku lanjut saja. Aku mampir di pom bensin Lemah Abang untuk mampir ke toilet dan membeli air mineral. Air di bidon tinggal seperempat. Kemudian lanjut sampai pasar Karangjati. Setelah melewati Polsek Bergas, aku belok kiri.


Sempat ragu-ragu arah yang kutuju, aku bertanya pada seseorang yang berdiri di dekat pom bensin jalan menuju Pringapus itu. Dia menunjukkan jalan masuk di seberang pom bensin, lurus, sampai bertemu sebuah masjid, belok kiri. Luruuuus ... sampai bertemu satu pabrik, belok kanan. Aku mengikuti petunjuk itu. Setelah sempat bertanya ke orang lain lagi di jalan kampung yang kulewati, akhirnya aku sampai di gapura yang bertuliskan “Candi Ngempon”. Waaaa ... aku nyampeee!

Setelah memotret Cleopatra, aku memasuki jalan setapak yang dipenuhi lumut. Baru 2 meter mengayuh pedal Cleopatra, ban Cleopatra terpeleset lumut yang licin, aku pun jatuh terpelanting. Aku sempat menyadari bahwa aku akan jatuh, maka aku berusaha sedemikian rupa agar jatuhku tidak terlalu keras. (ini karena aku tidak ngebut waktu gowes.) Aku merasa baik-baik saja. Demi keselamatan, akhirnya aku memilih menuntun Cleopatra saja menuruni jalan setapak itu, hingga sampai Candi Ngempon.



Aku membawa Cleopatra ke dalam kawasan candi. Sempat dua kali memotret Cleopatra, ketika ada seseorang – dia sedang merapikan rumput yang mulai ditanam di kawasan dalam candi – menegurku, memintaku membawa Cleopatra keluar dan memarkirnya di luar. Aku mengiyakan. Saat itu aku baru menyadari, rantai Cleopatra lepas. Berusaha membetulkannya sendiri adalah upaya pertamaku. Ternyata gagal. L Aku terpaksa meminta tolong si Bapak yang tadi menegurku. Dengan baik hati, dia membetulkan rantai Cleopatra. Alhamdulillah. Rantai sudah bisa berputar.

Aku keluar dari kawasan Candi, menuju petirtaan Derekan. Aku mampir ke warung disana, minum es teh.


Tidak lama aku disitu, aku memutuskan melanjutkan perjalanan. Memandang jalan yang kulewati waktu datang, ah ... males lewat situ, aku putuskan untuk lewat jalan yang di bulan Desember 2012 lalu juga kulewati bersama Ranz dan Andra. Lebih jauh dan nanjak tinggi, namun jalannya lebih ‘manusiawi’. LOL.

Setelah menuntun melewati pematang sawah, sesampai di jalan yang aku yakin aku bisa menaiki Cleopatra, aku naik. Beberapa kayuhan, trek mulai nanjak, aku memindah gear. Mendadak, rantai lepas lagi, untung aku bisa menguasai keseimbangan sehingga tidak jatuh.


Mengingat jalan yang akan kulewati sangat eksotis, perbukitan, dan lebih jauh, akhirnya aku kembali ke arah datang. Gapapa deh harus melewati trek sempit yang licin itu, asal lebih pendek. J Aku menuntun Cleopatra, mungkin kurang lebih sampai 2 kilometer, sampai keluar di jalan raya yang menghubungkan Karangjati – Pringapus. Di satu tambal ban, aku berhenti, meminta tolong si Bapak untuk membetulkan rantai. Disitu baru ngeh kalau ternyata yang menyebabkan rantai bermasalah adalah RD yang patah. Waw ... jatuhku tadi seperti apa ya? Hhhhh ...

Si Bapak mau membantu, bersedia membelikan RD di satu toko sepeda di daerah Pringapus. Namun, ternyata dia tidak punya kunci L yang pas untuk melepas dan memasang RD. L Terpaksa, aku melanjutkan perjalanan, jalan kaki, sambil menuntun Cleopatra. Sepanjang jalan yang kulewati, semua bengkel (sepeda motor) tutup, mungkin karena sedang jam shalat Jumat.

Di jalan raya, aku melewati bengkel AHASS, iseng, aku mampir. Si mekanik yang baru datang dari shalat Jumat, langsung bilang, “Ga bisa Mbak ...” waktu kutanya apakah dia bisa membetulkan RD Cleopatra yang patah. L Dengan tetap penuh semangat, aku terus menuntun Cleopatra, hingga melewati pom bensin Lemah Abang.

my savior!

Mungkin, aku telah menuntun Cleopatra sejauh 6 kilometer, ketika aku melihat sebuah kios tambal ban. Si Bapak empunya kios dengan baik hati mencoba membetulkan RD yang patah itu. Aku sendiri sebenarnya sudah patah hati, dan pasrah akan menuntunnya sampai alun-alun (lama) Ungaran. Tak jauh dari situ ada toko sepeda, milik si Om yang kutemui di warung makan paginya. Tentu dia punya RD dong.

Lewat whatsapp, Ranz menyarankan untuk bilang ke si Bapak agar melepas RD saja, dan memasang rantai tanpa RD, hingga Cleopatra berfungsi single speed. Waktu aku akan bilang begitu ke si Bapak, ternyata dia sudah berhasil “mengakali” RD agar rantai bisa berputar untuk sementara. RD yang patah itu dia ‘sambung’ dengan paku! Brilliant!

I WAS SAVED!

Si Bapak yang baik hati itu menolak kubayar dengan alasan dia tidak membuka bengkel sepeda. Mungkin dia kasihan melihat emak-emak kurang kerjaan nyepeda sendirian, mau menuju Semarang. LOL. Alhamdulillah yaaahhh J Semoga Bapak murah rejeki dan panjang umur yaaa.

Secara pelan namun pasti, aku mengayuh pedal Cleopatra kembali. Awalnya, sempat was-was, jangan-jangan RD nanti patah lagi. Setelah lewat 3 – 4 kilometer, Cleopatra baik-baik saja kunaiki, aku memutuskan untuk langsung turun ke Semarang, tidak perlu mampir ke toko sepeda yang terletak di Ungaran. FYI, sepanjang perjalanan menuju Semarang, aku tidak berani mengganti gear.

Pukul 14.45 aku sampai di satu bengkel sepeda di Jl. Dr. Sutomo. Greaaattt! Cleopatra was saved!

Yah ... inilah pengalaman pertama bersepeda sendirian yang cukup mendebarkan, namun ga bikin kapok. J

LG 19.39 03062017

N.B.:

Masih sangat mungkin menemukan orang-orang yang baik hati di sekitar kita. J

Selasa, 06 Juni 2017

Tips Bersepeda ke Kantor

Memasuki bulan Juli 2017 ini, aku akan memasuki tahun kesembilan mempraktekkan bersepeda ke kantor, atau yang bahasa kerennya bike to work. Alhamdulillah ternyata aku termasuk tipe mereka yang tetap keukeuh dengan pilihan moda transportasi yang menyehatkan ini.

di satu kesempatan, mumpung ada yang motret :)

Dalam postingan ini, aku akan memberi beberapa tips untuk mempersiapkan diri para newbie bersepeda ke kantor. (FYI, background, aku tinggal di kota Semarang, kota yang tidak begitu besar jika dibandingkan dengan Jakarta, asal mula gerakan moral ini dimulai.)


  1. Yakinkan diri bahwa tubuh kita telah terbiasa bersepeda 'sejauh' jarak rumah - kantor, sehingga kita tidak akan kepayahan. Ini penting agar ketika kita sampai di kantor, kita tidak akan kelelahan dimana nantinya justru akan mengurangi performa kerja kita. 
  2. Selain itu, kita juga harus tahu berapa lama kita bakal butuh mengayuh pedal dari rumah ke kantor hingga kita tidak akan datang terlambat. Sesampai kantor masih ada waktu untuk mandi dan berganti busana kerja. Ini terutama jika jarak rumah - kantor lumayan jauh, apalagi jika harus melalui tanjakan sehingga sesampai kantor kita bakal berkeringat. Namun, jika kita 'beruntung' karena jarak rumah - kantor kurang dari 5 kilometer, kita cukup mendinginkan tubuh dari hawa panas jalan, sebelum memulai bekerja. Kita bisa langsung mengenakan busana kerja saat mulai meninggalkan rumah. Atau, bisa juga waktu berangkat, baju kerja kita letakkan di backpack, atau di tas pannier, jika kita punya. 
  3. Jika kita merasa butuh melakukan ujicoba dulu untuk mengetahui seberapa lama kita butuh waktu bersepeda dari rumah ke kantor, kita bisa melakukannya terlebih dahulu di akhir pekan.
  4. Pastikan bahwa kondisi sepeda yang akan mengantar kita ke kantor dalam kondisi prima, terutama jika kita harus mendaki tanjakan. :) Jika perlu, kita bisa mengenakan bandana/masker untuk melindungi wajah dari paparan asap knalpot kendaraan bermotor. Helm dan sarung tangan jangan lupa ya.
  5. Jika kita butuh mandi terlebih dahulu sesampai kantor, kita harus yakin bahwa kantor kita menyediakan tempat mandi yang cukup memadai. Ada beberapa kawan yang mengatakan mereka cukup membawa kanebo untuk membersihkan tubuh. Ini, tergantung dari masing-masing kita ya.
  6. Pastikan bahwa tempat parkir kantor kita aman. Ini penting karena telah sering kita dengar kasus pencurian sepeda di tempat-tempat parkir kantor di Jakarta. Kita juga harus melakukan tindakan preventif dengan menggembok sepeda. Atau jika kita menaiki sepeda lipat, kita bisa mencari space yang cukup lapang di dalam gedung kantor untuk menyimpan sepeda. 
  7. Sayangnya sekarang bus Trans Semarang tidak 'ramah' sepeda sehingga para pekerja bersepeda di kota Semarang akan kesulitan jika kita ingin menyambung moda transportasi. Misal, jika kita tinggal di daerah atas, Pudak Payung. Waktu berangkat, kita cukup nyaman karena akan dimanjakan dengan turunan. Namun, saat pulang, kita tak semudah 5 tahun lalu, karena kita bisa naik bus Trans Semarang (jika kita naik sepeda lipat.) 
  8. Bagiku pribadi sepeda jauh lebih fleksibel di musim hujan karena meskipun turun hujan dan banjir di beberapa ruas jalan, kita tidak perlu kerepotan bakal mesin mati. Satu hal penting yang tidak boleh lupa adalah mempersiapkan mantel, terutama bagi mereka yang tubuhnya tidak "waterproof". LOL.


Hayuk, jadilah orang yang peduli dengan kesehatan lingkungan. Mari bersepeda ke kantor.

IB 20.20 060617

Selasa, 30 Mei 2017

Gowes Bareng Ngecek Aspal

Pada hari Kamis 25 Mei 2017, kita ngecek apakah tanjakan selepas perumahan Grand Greenwood - Kalipancur sudah lebih ramah pada pengayuh pedal sepeda atau tidak. :) Terakhir kali kita kesini di bulan Oktober 2016, dimana sebagian ruas jalan sedang diperbaiki sehingga pengguna jalan harus gantian menggunakan jalan. Cek link ini ya.

Di tengah jalan, kita bertemu seorang pesepeda, yang mengaku bernama Erwin. Dia rumahnya di Sampangan, waktu bertemu, dia sudah selesai memutar nanjak Sekarang, ke Gunung Pati, kemudian turun Sadeng. Namun, waktu kutawari apakah dia mau ikut, ternyata dia setuju. :)

Di bawah ini foto-foto hasil jepretan Ranz menggunakan kamera Yi-nya. FYI, waduk Jatibarang sudah kian bersolek lhooo ... lumayan buat 'weekend getaway' ketimbang hanya nongkrong di rumah. :)






















Senin, 29 Mei 2017

Segowangi 40

Alhamdulillah ... di bulan Mei 2017, pelaksanaan segowangi alias Semarang Gowes Jemuwah Bengi telah mencapai angka 40. Satu usaha yang ternyata bisa dibilang mudah tak mudah. :) menjaga rutinitas dengan sepenuh dedikasi untuk mengkampanyekan penggunaan sepeda dalam beraktifitas sekaligus sebagai ajang silaturahmi para pesepeda kota Semarang bisa dibilang cukup menyenangkan, meski banyak kendala.

Dikarenakan hari Jumat terakhir bulan Mei adalah malam pertama penyelenggaraan shalat tarawih, dan biasanya di hari pertama orang-orang sedang full energi dan antusiasme untuk shalat tarawih, kita ajukan penyelenggaraan segowangi ke-40 satu hari sebelumnya, hari Kamis tanggal 25 Mei 2017, yang kebetulan jatuh pada hari libur nasional -- Kenaikan Isa Almasih. Entah karena kebetulan pas hari libur nasional, atau seperti biasa jika diselenggarakan di hari lain, banyak wajah-wajah baru yang muncul. :)

Sebagian 'wajah-wajah baru' itu mungkin masih malu-malu kucing difoto, jadi ya maaf jika ga kefoto. Sebagian dari mereka juga ternyata kalau bersepeda ngebut menyusuri rute yang kupilih, (mereka ternyata mantengin rute yang terpampang di poster buatan Avitt), jadi mereka juga tidak terjepret kamera yang dibawa Ranz selama perjalanan.

Sila dipantengin foto-foto jepretan Ranz di bawah ini.






















Alya, yang tinggal mbonceng pakde-nya :D