Selasa, 17 Oktober 2017

Menjemput Minul

Menjemput Minul

Latar belakang

Hari Minggu 8 Oktober 2017 aku menemani Ranz membawa kembali dua sepeda lipatnya ke Solo, yang dia bawa ke Semarang beberapa minggu sebelumnya untuk dipakai dalam 7amselinas. Pockie – sepeda lipat pocket rocket 20” – dipakai oleh Dwi karena Oddie – sepeda lipat miliknya – telah dia bawa ke Tangerang. (Dwi pindah ke Tangerang sejak Juli 2017 demi menyongsong masa depan.) Astro – sepeda lipat terbaru milik Ranz; polygon urbano 3.0 – untuk dinaiki Ranz sendiri. Ternyata ketika tahu kita berdua akan ke Solo pagi itu, Avitt ngikut, mengajak Minul, sepeda lipat urbano 2.0.

Ternyata hari Minggu malam waktu kita NR, ban depan Minul bocor. L ketika kita memutuskan tetap berangkat NR : aku naik Pockie, Ranz naik Jean Grey, dan Avitt naik Shaun, ternyata hujan kembali turun. Terpaksa kita tidak jadi keliling Solo. Kita hanya makan malam ayam geprek, kemudian mampir ke wedangan Pak Basuki yang kelezatan teh nasgitel-nya tidak ada duanya. Keasyikan ngobrol disini lah – bersama dua kawan pesepeda dari Solo, Awan dan Fuad – kita pulang terlalu malam, dan tukang tambal ban tempat kita menambalkan ban depan Minul sudah tutup. Akhirnya Senin pagi aku dan Avitt balik ke Semarang tanpa membawa sepeda. J

Jumat 13 Oktober 2017


Ranz berinisiatif membawa Minul ke Semarang, dan tidak menunggu Avitt menjemput ke Solo. Dan, kita ngedate di Kampung Kopi Banaran. J Ketika aku bilang ke Ranz ingin naik Cleopatra dari Semarang, dia menahanku melakukannya. Sebagai ganti, dia minta aku loading saja, dan ini berarti aku membawa Austin. Aku setuju, sekalian aku ingin ‘berdandan ala’ peserta 7amselinas. J Sejak mendapatkan goodie bag berisi pernak-pernik peserta 7amselinas, jersey peserta 7amselinas belum kupakai. Ranz pun setuju mengenakan jersey peserta 7amselinas. DEAL!

Austin di Gombel

Aku berangkat dari kawasan Banjirkanal Barat sekitar pukul 06.30. Perjalanan lancar sampai Sukun, sekitar satu jam kemudian. Di Gombel tidak ada kemacetan. Sesampai Sukun, kebetulan ada sebuah bus jurusan Solo yang sedang ngetem, aku langsung naik. Sedikit ketidaknyamanan karena mendadak Austin sulit dilipat ternyata tidak membuatku kesulitan; sang kondektur malah memintaku tidak usah melipat Austin, kecuali setangnya. Akhirnya Austin pun naik ke dalam badan bus (bukan di bagasi) dan diletakkan di antara deretan kursi paling belakang dengan kursi yang ada di depannya. Aku pun duduk di bangku di deretan belakang. Aku cukup membayar Rp. 10.000,00. Wah ... J

FYI, suasana bus cukup sepi. Mungkin karena sudah bisa mengira bahwa bus bakal sepi, sang kondektur menyuruhku langsung menaikkan Austin ke dalam bus, tanpa perlu melipatnya.

Bus sampai di terminal Bawen sekitar pukul setengah sembilan. Setelah turun dari bus, aku melihat 2 bus Trans Jateng sedang ngetem. Wah ... andai boleh membawa sepeda lipat ke dalam bus Trans Jateng, para lipaters dari kota Semarang bagian bawah ga perlu repot menaiki sepedanya ke Sukun yak? J


Setelah keluar dari terminal Bawen, trek turunan menyambutku, menuju Kampung Kopi Banaran. J ini berarti aku harus siap-siap menanjak waktu meninggalkan KaKoBa nanti. J

Aku sampai di KaKoBa sebelum jam sembilan. Ranz datang sebelum jam 10. Dan ... ternyata dia tidak loading! Dia naiki Minul dari Solo ke KaKoBa. Hmft ... curang dia! Aku ga dia bolehin nyepeda dari Semarang, dia sendiri ngonthel. Hadeeeeh ...





Kita meninggalkan KaKoBa sekitar pukul satu siang. Perjalanan menuju Semarang kita disuguhi cuaca yang sangat variatif: mulai dari panas, mendung, hingga hujan. Untunglah hujan tidak pernah turun terlalu lama, hingga kita tak perlu repot-repot merasa perlu mengenakan mantel. Kita memang harus berhenti, namun agar Ranz bisa menyelamatkan kamera yang dia bawa ke dalam tasnya yang water proof.

Kita sampai kos Ranz sekitar pukul setengah empat sore, sempat mampir ke angkringan dua kali. Yang pertama di Ungaran, yang kedua di jalan Suyudono.

LG 13.48 17/10/2017

Ini dia penampakan Minul :)



Rabu, 11 Oktober 2017

Video 7amselinas 2017

Di bawah ini bisa kita saksikan video resmi dari panitia, Komunitas Sepeda Lipat Semarang.

Jika tidak anda temukan wajah anda di video ini, jangan putus asa. Carilah di video-video lain yang diunggah oleh para peserta 7amselinas 2017. Search ajah di youtube. :)



7amselinas 2017 Day 3

Day 3 Minggu 17 September 2017

Khusus di hari ketiga ini, panitia menyediakan dua pilihan acara. Yang pertama, gowes Minggu pagi nyantai ke Maerakaca miniatur Jawa Tengah yang pernah sangat terkenal di pertengahan dekade sembilanpuluhan, namun kemudian terbengkalai sepuluh tahun kemudian. Syukurlah setelah para pesepeda kembali dolan kesini, membuat foto-foto ngehits – thanks to sosial media – membuat pemerintah kota Semarang kembali melirik tempat ini lagi. (Ge-er boleh dong ya? LOL.) Tahun 2017 ini Maerakaca kembali bersolek. Area mangrove yang telah ada pun dihiasi dengan jembatan bambu yang nampak artistik jika difoto.

Pilihan kedua adalah bersepeda 7up, alias 7 tanjakan. Adalah satu kebetulan jika angka 7 ini pas dengan penyelenggaraan jamselinas ketujuh di Semarang. J 7 tanjakan itu yakni Jalan Kawi, Jalan Siranda, Jalan Sumbing, Jalan S. Parman (yang juga dikenal sebagai jalan Gajahmungkur), Jalan Bendan yang melewati Stikubank, Jalan Bendan yang melewati Unika, dan terakhir yang paling terkenal yakni Gombel. Di antara ketujuh tanjakan ini, yang terkenal paling curam adalah jalan Sumbing. Khusus untuk pilihan kedua ini, peserta hanya dibatasi sejumlah 125 orang, karena akan ada reward khusus bagi yang lulus 7up.

Karena pilihan kedua ini diusulkan oleh om Ariyanto, maka dia lah yang mengurusi hal ini. Dan karena waktu pelaksanaan ini tidak meminta bantuan dari panitia lain, selain fotografer (Om Budenk dan Om Agung Tridja menyediakan diri menjadi fotografer). Panitia lain pun tumplek bleg menuju Maerakaca. Meskipun yang lain tumplek bleg, jumlah kita jauh lebih sedikit ketimbang ratusan peserta yang ikut ke Maerakaca. Jadi, jika di antara peserta yang merasa kurang dibantu dalam hal difoto maupun diberitahu titik-titik bagus mana untuk berfoto ria di dalam Maerakaca, mohon maaf.

Setelah Maerakaca, kita kembali melanjutkan perjalanan, menuju Kota Lama, untuk memberi kesempatan mungkin ada yang belum sempat berfoto-foto waktu night ride Jumat malam, bisa memuaskan diri untuk foto-foto kali ini.

Peserta bubar di Kota Lama. Mereka pun kembali ke hotel masing-masing untuk persiapan check out dan kemudian kembali ke kota tinggal masing-masing.

Setelah meninggalkan Kota Lama, aku dkk sempat mampir ke hotel Novotel dimana Om Mada menginap, untuk melihat kondisinya. Dari sana, sebagian dari kita mampir ke hotel Amaris, untuk melihat kondisi terakhir Shabrina.

‘Pesta’ naik haji para lipaters Nusantara yang ketujuh telah selesai digelar. Semoga kenangan-kenangan indah terus dikenang. Jika ada yang mengganjal di hati, mohon dimaafkan. Seperti kata pepatah, tak ada gading yang retak; sekuat apa pun panitia mencoba mempersiapkan acara ini, tentu ada bolong disana sini.

Thanks a million all folding bike lovers. WE ROCK!


LG 15.07 10 / 10 / 2017

  

7amselinas 2017 Day 2

Day 2 Sabtu 16 September 2017

Gowes Bareng Sikil Kemeng Ati Seneng

Para seksi repot dari pihak Komselis telah sampai di venue – Balaikota Semarang – pukul 05.30. demikian juga banyak lipaters dari banyak kota. Namun karena EO belum datang, sound system juga belum berfungsi, suasana nampak belum begitu terkendali. Untunglah peserta bisa menikmati suasana itu untuk berswafoto, maupun foto rame-rame dengan komunitas masing-masing. Untunglah (2) warna  jersey peserta yang didominasi warna ungu itu super keren sehingga tentu foto-foto yang dihasilkan nampak cerah ceria. J

Sementara menunggu sound system difungsikan, om AB menggunakan toa ketika memberikan briefing pada para marshall, toa juga kita gunakan untuk memberikan instruksi pada para peserta untuk bergabung dengan komunitas dari masing-masing kota dan menempati lokasi-lokasi yang telah kita tentukan.

Di antara kerumunan itu, masih banyak peserta yang baru datang dan melakukan registrasi ulang di lokasi yang telah kita tentukan.


Hampir pukul setengah 7, setelah beberapa personil EO datang, sound system mulai berfungsi. Suasana mulai nampak terkendali. MC nampak mulai menempatkan diri di atas panggung.

Menjelang pukul tujuh yang mewakili pak Hendi Walikota datang. Beliau lah yang melepas keberangkatan pasukan “Gowes Bareng Sikil Kemeng Ati Seneng”. Pasukan dibagi ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan kota. Satu pasukan diisi sekitar 30 orang dengan 1 orang marshall. Peserta dari Jabodetabek yang paling banyak – hampir 300 orang – dibagi dalam 10 kelompok dengan 10 orang marshall.

Mengabaikan kenyataan bahwa beberapa hari menjelang the big day aku hanya bisa tidur 2 – 3 jam, dikarenakan kesibukan seksi repot yang super, yang berarti tubuhku tidak begitu fit, aku ngeyel ingin ikut bersepeda, dan Ranz pun menemaniku gowes. Astro sudah dibawa ke Semarang je, mosok dianggurin? LOL. Hanya kita berdua dari seksi repot yang bersepeda. Yang lain, sadar diri bahwa tubuh (juga pikiran dan mental) telah lelah, mereka naik sepeda motor membantu kerja para marshall, atau naik mobil membawa konsumsi untuk dibagikan di sepanjang jalan, atau naik mobil sambil memantau situasi. Pak Budenk yang juga ikut repot membantu beberapa minggu menjelang the big day menyediakan diri menjadi fotografer.

Rute pilihan panitia sangat memanjakan mereka yang hobi nanjak, jadi mohon maaf bagi mereka yang kurang begitu menikmati gowes di tanjakan jika rute terasa begitu melelahkan. J Dari balaikota Jalan Pemuda, kita menuju Tugumuda. Untuk mengurangi penumpukan peserta di traffic light sebelum RSUP Dr. Kariadi, pasukan dibagi menjadi dua tujuan. (1) dari Tugumuda lurus ke Jalan Dr. Sutomo, menuju traffic light RSUP Dr. Kariadi (2) dari Tugumuda belok ke arah Barat, masuk Jalan Sugiyopranoto, kemudian menuju Jalan Suyudono ke arah kali Banjirkanal Barat, lanjut hingga Jalan Simongan. Setelah melewati Sam Poo Kong, lurus ke arah Timur, seusai jembatan, belok kanan, ke arah Jalan Kelud. Di Jalan Kelud ini, pasukan dari rute (1) dan rute (2) kembali menyatu.

Semarang sudah telanjur terkenal dengan jalanan yang penuh tanjakan, maka tanjakan lah yang kita pilih. Jika di event tahun 2012 Komselis memilih Gombel, event tahun 2014 Komselis memilih BSB lanjut ke arah Mijen, kali ini kita memilih di tengah, yakni Gunung Pati.

Setelah menyusuri Jalan Kelud, pasukan terus hingga jembatan besi (orang-orang sekitar menyebutnya sebagai ‘Kretek Wesi’) kita belok kanan, Jl. Dewi Sartika, yang merupakan penghubung antara kawasan Sampangan dengan kawasan Kalipancur, demi menghindari satu tanjakan, yakni Panjangan. J

Trek masih cukup bersahabat sampai perumahan Grand Greenwood. Di kawasan perumahan yang cukup elit ini, panitia menempatkan mobil pickup maupun truk untuk membantu mereka yang memilih loading, ketimbang menapaki tanjakan yang cukup curam.

Di tanjakan selepas Greenwood ini lah pasukan Gowes Bareng Sikil Kemeng Ati Seneng kocar kacir. LOL. Pehobi tanjakan akan terus ngacir, yang tidak begitu menyukai tanjakan akan menerima keadaan dengan menuntun sepeda lipat bersama peserta lain yang memilih ttb (alias tun tun bike). Namun tidak perlu khawatir, jumlah peserta yang ttb ratusan kok, jadi ga perlu malu. J

Setelah tanjakan yang cukup curam selepas Greenwood, trek sedikit datar beberapa meter. Setelah itu disusul tanjakan berikutnya, cukup curam juga, mana jalannya meliuk ke kiri kemudian ke kanan, dan cukup panjang.

Setelah beberapa tanjakan, menjelang sampai gapura masuk Goa Kreo maupun gapura selamat datang Waduk Jatibarang, trek menurun. Waktu menuruni trek turunan ini, aku melihat om Mada terbaring di sisi kiri jalan, dikerumuni beberapa kawan. Aku kaget, lhah barusan dia menyalipku di tanjakan sambil bersiul-siul gembira. Kupikir dia mendadak kakinya kram disebabkan trek yang menanjak, seperti yang kulihat di beberapa lokasi tanjakan sebelum itu. Beberapa saat kemudian aku tahu bahwa Om Mada terpeleset jatuh karena menghindari seorang anak yang mendadak menyeberang. Untung tak lama kemudian ambulans datang, Om Mada pun segera dimasukkan ke dalam ambulans dan dibawa ke rumah sakit.

Sore harinya aku mendengar kabar lagi bahwa Shabrina – putri nte Tia dari B2W Surabaya – juga jatuh di lokasi yang tak jauh dari lokasi Om Mada jatuh. Sementara Om Basuki jatuh di turunan Trangkil. Shabrina jatuh karena terpeleset, roda sepedanya menapaki pasir yang licin. Sementara di turunan Trangkil memang sebagian jalan itu sedang dalam kondisi pengecoran. Om Budenk kebetulan pas lewat lokasi, sehingga dia bisa langsung lihat kondisi Om Basuki. Seorang penduduk membantu dengan mengeluarkan kotak P3K-nya untuk memberikan pertolongan pertama.

Di gapura selamat datang Waduk Jatibarang, banyak peserta menumpuk disitu. Melihat trek yang ala roller coaster di depan mata, menurun panjang kemudian diikuti tanjakan panjang lagi membuat sebagian peserta malas melanjutkan perjalanan. Padahal panitia menyediakan kudapan berupa es kelapa muda dan gorengan di dekat pintu masuk Goa Kreo.

Ketika aku dan Ranz sampai di lokasi dimana panitia menyediakan kudapan, kulihat masih banyak es kelapa muda disitu, meski gorengan dan jajanan yang lain telah habis. Ini pasti karena banyak peserta yang enggan menapaki trek ‘roller coaster’ selepas waduk Jatibarang. J


Waktu menunjukkan pukul 11.00. Sudah sangat siang. Padahal perjalanan masih jauh. Aku dan Ranz sempat meminta izin ke Tayux untuk memandu peserta yang masih berkumpul disitu untuk kembali ke Balaikota lewat jalan datang, dan tidak perlu memutar ke Kandri dan turun lewat Unnes. Tayux mengizinkan. Maka kita mengajak peserta yang ‘tersisa’ disana.

Namun ketika kita keluar lewat gapura Goa Kreo, para peserta yang sedianya akan kita pandu kembali lewat jalan semula, diminta Tami untuk melanjutkan perjalanan ke arah Kandri, mengikuti jalur yang telah dipilih oleh panitia. Kebetulan di seberang gapura Waduk Jatibarang masih ada satu truck yang bisa dipakai loading peserta yang mungkin bakal bermasalah. Para peserta tersebut ternyata tidak keberatan untuk terus mengikuti jalur, lewat Kandri, kemudian turun lewat Unnes. Yuniar, ketua panitia 7amselinas memintaku dan Ranz untuk mengawal peserta yang berada di garis paling belakang ini, sambil naik truck. Kawasan Gunung Pati sebenarnya tidak terlalu jauh dari Balaikota, namun trek yang naik turun dan banyak jalan belok kiri kanan dan perempatan-perempatan yang ada membuat kita khawatir jika peserta tersesat. Meski, well, sehari sebelumnya Avitt dan Tami telah memasang petunjuk arah di perempatan-perempatan yang kita pikir crucial membuat orang tersesat.

Maka, aku dan Ranz pun duduk dalam truck, sambil mengawai para peserta yang tetap memilih gigih mengayuh pedal sepeda lipat masing-masing. Jika mereka berhenti untuk minum atau istirahat, truck yang kita tumpangi pun berhenti menunggu mereka bergerak lagi.

Dalam perjalanan selanjutnya, akhirnya beberapa peserta yang kita kawal ada yang kemudian memilih loading. Beberapa peserta yang masih tercecer, akhirnya dikawal beberapa marshall yang naik sepeda motor.

Truck yang kunaiki bersama beberapa peserta lain sampai di Balaikota sekitar pukul 13.00. Meski ketika masuk ke Jalan Pemuda aku telah melihat beberapa peserta naik sepeda lipat menuju hotel masing-masing untuk beristirahat, halaman balaikota yang cukup luas itu masih penuh dengan ratusan peserta lain. Di atas panggung utama terlihat MC sedang sibuk menghidupkan suasana. Mereka membagikan beberapa door prize. Aku juga melihat MC memanggil pihak United Bike untuk memperkenalkan produk terbaru mereka รจ sepeda lipat trifold. United pun membagi dua sepeda lipat untuk peserta yang beruntung siang itu.


Aku dan beberapa kawan seksi repot stay di pojok seksi konsumsi sampai sekitar pukul 15.00. Setelah foto-foto dengan background ‘wall of fame’ 7amselinas, kita pulang.

GALA DINNER

Aku dan Ranz kembali ke Balaikota sekitar pukul 18.30 untuk menghadiri gala dinner sekaligus malam puncak membagikan door prize. Masing-masing peserta resmi mendapatkan 3 kupon makan, masing-masing kupon makan bisa ditukarkan dengan berbagai jenis kudapan yang disediakan: nasi ayam, mie kopyok, tahu gimbal, nasi kebuli, garang asem, sate sapi, sate ayam. Untuk jajanan, panitia menyediakan kue mochi, ganjerel (ganjel rel), lumpia, dan wingko babat; semua khas jajanan Semarangan. Untuk minuman, peserta bisa memilih susu (disediakan oleh susu Karangdoro, langganan kawan-kawan pesepeda), es gempol, wedang tahu, dan air mineral.

Selain booth yang menyediakan berbagai jenis makanan, gratis untuk para peserta 7amselinas, juga ada booth yang menjual berbagai jenis makanan lain, selain booth sponsor, misal blibli.com dan zuna sports.

EO yang bertanggung jawab mengisi acara di panggung utama, dibantu oleh Om Duryanto yang penampilannya selalu menghebohkan itu.

Acara malam ini sedikit terganggu ketika ada sekelompok siswa sebuah sekolah negeri yang bikin suara memekakkan telinga dari mesin sepeda motor yang terus menerus digas selama puluhan menit di luar balaikota. Usut punya usut ternyata mereka sedang berusaha menarik perhatian masyarakat sekitar dalam rangka mempromosikan acara di sekolah mereka. L

Satu info penting yang disampaikan oleh pengurus id-fb  dalam acara gala dinner ini adalah bahwa jamselinas kedelapan akan diselenggarakan di Makassar, tahun 2018. Sementara jamselinas kesembilan akan diselenggarakan di Palembang, tahun 2019. Duh, luar Jawa terus selama 2 tahun berturut-turut nih.


MC menutup acara sekitar pukul 22.00. aku dan kawan-kawan seksi repot lain baru meninggalkan lokasi menjelang tengah malam karena masih banyak hal yang harus kita beresi. Rasa lega memenuhi rongga dada kami: acara utama telah selesai; tinggal satu hari lagi. Rasa lelah jelas juga kita rasakan, namun kita tak boleh patah semangat.

To be continued



7amselinas 2017 Day 1

Day 1 Jumat 15 September 2017

Pagi hari beberapa dari ‘seksi repot’ benar-benar repot: memasang umbul-umbul di sekitar Wisma Perdamaian yang kita gunakan sebagai tempat pendaftaran ulang, sekaligus ngecek lokasi itu. Avitt dan Tami memasang petunjuk arah di kawasan Gunung Pati sekaligus survey rute terakhir sebelum rute itu benar-benar terpilih untuk acara utama hari Sabtu 16 September. Kita terpaksa melakukan sedikit modifikasi karena di satu jalan yang sebelumnya kita pilih ternyata telah dipasangi tenda biru, akan ada acara disitu pada hari Sabtu 16 September. Sebagian seksi repot lain di Jl. Menteri Supeno, melanjutkan mengurusi goodie bag. Sebagian yang lain sibuk membawa barang-barang yang harus berada di Wisma Perdamaian menjelang pukul 15.00; waktu yang telah kita tentukan kita mulai menerima pendaftaran ulang.

Pendaftaran Ulang

Usai shalat Dzhuhur, sekitar pukul 12.30 aku telah sampai di Wisma Perdamaian. Lokasi terlihat telah cukup ramai dengan para tamu peserta, baik yang dari luar kota, maupun dari dalam kota. Untuk memudahkan para lipaters mendaftar ulang, 1000 lebih peserta kita bagi menjadi 10 ‘booths’. 1 booth melayani sekitar 100 peserta.

Menjelang pukul 16.30 Avitt dan Tami baru balik dari tugas memasang petunjuk arah di kawasan Gunung Pati. Mereka langsung bergabung dengan seksi repot di Wisma Perdamaian; tugas utama Avitt mengurusi para peserta yang memesan merchandise 7amselinas untuk cod.

Night Ride

Prakiraan kita untuk night ride ini adalah tidak semua peserta 7amselinas akan ikut; dengan alasan (1) bagi mereka yang memilih berangkat ke Semarang dengan bersepeda tentu lelah sehingga mereka akan memilih beristirahat mengingat trek pilihan panitia 7amselinas keesokan hari cukup menantang (2) sebagian peserta belum sampai Semarang. Ini sebab kita tidak memilih rute yang jauh, cukup untuk sedikit mengenal Kota Lama Semarang, terutama bagi mereka yang baru kali ini berkunjung ke Semarang. Bagi yang sudah pernah ikut dua event tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Komselis (Semarang Seline Banjir, dalam rangka ultah Komselis yang ketiga di tahun 2012; dan Joglosemar 2 bulan Maret 2014), Kota Lama selalu menjadi salah satu tujuan utama untuk night ride.

Kritik untuk diri sendiri: dengan alasan yang tertulis di paragraf di atas, kita panitia memang tidak begitu mempersiapkan diri untuk, misal, membagi peserta dalam kelompok-kelompok, kemudian menugasi rekan-rekan tertentu untuk menjadi marshall di kelompok-kelompok itu.

Setelah melihat beberapa vlog yang beredar di dunia maya, aku baru ngeh ternyata yang ikut night ride 7amselinas banyak juga ya? Banyak dari mereka yang ternyata telah mengenal Semarang, sehingga meski mungkin sempat nyasar di jalan-jalan tertentu yang waktu itu super padat, tidak ada kabar seorang peserta pun yang hilang di tengah jalan. J

Juga banyak peserta yang sengaja memisahkan diri dengan komunitas masing-masing untuk menikmati suasana malam hari kota Semarang, sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Menghadapi fenomena ini kita panitia tidak bisa melakukan apa-apa kecuali ikut bersenang diri bahwa para peserta tahu apa yang mereka inginkan dan melakukannya dengan orang-orang yang membuat mereka secara penuh menikmati Semarang.


To be continued





7AMSELINAS : SEKSI REPOT

7AMSELINAS

KOMSELIS : FINALLY, WE DID IT!

Ketika menengok Om Mada – mantan orang pertama di id-fb a.k.a indonesia folding bike – di hotel Novotel tempat dia menginap selama perhelatan akbar para pecinta sepeda lipat 7amselinas, aku mendengar Om Mada berbicara betapa lega dia akhirnya Komselis menjadi tuan rumah event naik hajinya lipaters di Indonesia alias jambore sepeda lipat nasional. Om Mada yang pernah tinggal di kota Semarang tahun 2005 hingga tahun 2012, pernah bergaul akrab dengan para Komselis-ers, bertekad tidak akan merasa lega jika Semarang belum jadi tuan rumah event tahunan ini.

Meskipun kelegaan ini harus disertai satu kecelakaan yang (tidak) kecil yang menimpa Om Mada, beliau jatuh di turunan jelang pintu gerbang Goa Kreo di kawasan Sadeng, karena menghindari menabrak seorang anak yang tiba-tiba nyelonong menyeberang dari satu sisi jalan ke sisi yang lain.

SEKSI  REPOT

Ikut serta dalam kepanitiaan event terbesar ini membuatku sadar betapa tidak mudah menyelenggarakan event seperti ini. Selama ini, aku dan Ranz terutama, terbiasa hanya menjadi peserta yang nyaman, yang tidak perlu mikir apa-apa, kecuali membayar biaya pendaftaran, memikirkan berangkat menuju lokasi penyelenggaraan naik apa, pulangnya naik apa, dan akan menginap dimana.

Plus, setelah penyelenggaraan jamselinas keenam di Bangka sehingga banyak yang absen karena lokasinya jauh sehingga jelas butuh uang transport yang tidak sedikit, 7amselinas Semarang menjadi tumpuan harapan banyak lipaters. Tidak mengherankan jika di bulan Mei lalu, saat Komselis membuka pendaftaran peserta 7amselinas, kurang dari 2 hari, telah terdaftar 1000 peserta.

Sekitar September para seksi repot sempat mengadakan rapat di angkringan di kitaran Tugumuda. Setelah akhirnya om Yuniar Wahyu Gunawan terpilih sebagai ketua panitia 7amselinas 2017, rapat kita adakan di kediaman om Yun, di Jalan Menteri Supeno.


Sekian bulan sebelum the big day, aku mengajak para personil Semarang VeloGirls untuk menghadiri rapat, menawarkan Ranz, Tami, Dwi, Hesti, dan Avitt untuk ikut berepot-repot menjadi seksi repot 7amselinas. Om Tayux yang hingga penyelenggaraan 7amselinas 15 – 17 September 2017 masih menjabat sebagai ketua Komselis menerima dengan tangan terbuka. Ranz yang sering harus pulang pergi Solo – Semarang – Solo tentu tidak bisa secara full membantu langsung, hanya sesekali ketika berada di Semarang. Dwi yang di bulan Juli 2017 hijrah ke Tangerang demi masa depan membantu seksi repot sebagai marshall di hari Sabtu 16 September 2017, berboncengan dengan Tami yang diserahi tugas sebagai salah satu PIC marshall yang sebagian diambil dari kawan-kawan KOMPAL (Komunitas Pancal Pedal) Gunung Pati. Di antara kita berenam yang paling sibuk adalah Avitt, si makhluk nocturnal, dengan dibantu oleh Hesti, terutama ketika Avitt diserahi tugas untuk mengurusi merchandise 7amselinas.

Tahun 2015 di event Gowes Asix Tweed Ride, ulang tahun keenam Komselis, yang dihadiri oleh kurang lebih 40 – 50 orang, sempat kuutarakan harapan bahwa 7amselinas ini bukan hanya tanggung jawab Komselis yang diserahi tugas oleh id-fb, namun seluruh pesepeda – terutama lipaters tentu saja – kota Semarang, hingga diharapkan kita bisa bahu membahu bersama memanggul ‘beban’ sebagai tuan rumah. Namun ternyata kenyataan di lapangan tidak semudah yang kita ucapkan. Dalam perjalanan menuju 7amselinas September 2017 ada duri-duri dalam daging yang merongrong, sehingga jika on the D day terlihat ada pihak-pihak yang sibuk bekerja, ada sekelompok orang yang menikmati kesempatan itu untuk berpesta, kemudian memprotes pihak yang bekerja, seperti yang terlihat oleh tamu-tamu 7amselinas dari luar kota, ya mohon dimaklumi.


Dalam tulisan ini, mewakili teman-teman di seksi repot, saya mengucapkan beribu-ribu terima kasih kepada para lipaters dari seluruh Nusantara atas partisipasinya, atas biaya, waktu dan tenaga yang telah dilimpahkan untuk meramaikan acara naik hajinya para lipaters Indonesia, atas pengertiannya jika di sepanjang event ditemukan hal-hal yang mungkin tidak menyenangkan dan kurang memuaskan. Apa lah kami jika tanpa kehadiran para tamu. 

to be continued. 

sebagian wajah-wajah seksi repot bisa ditonton di vlog di bawah ini :)

Gowes Batik 2017

GOWES BATIK 2017

Pada hari Minggu 1 Oktober, bersama dengan (minimal) 20 kota lain, B2W Semarang mengadakan gowes Minggu pagi dengan mengenakan busana batik, untuk ikut memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada hari Senin 2 Oktober 2017.

Karena ketidaktahuanku bahwa Balaikota digunakan sebagai venue upacara Hari TNI setiap tanggal 1 Oktober, aku tetap menetapkan Balaikota sebagai titik kumpul GOWES BATIK kali ini. Alhasil, di pagi hari itu, suasana sedikit chaotic. Tidak ada penyelenggaraan CFd (car free day) di Jalan Pemuda, di balaikota sangat ramai orang-orang yang akan ikut mengikuti upacara Hari TNI. Kita pun tergusur karena tempat kita berkumpul, digunakan peserta upacara untuk berbaris, sebelum mereka masuk ke halaman balaikota. Kita pindah ke trotoar di depan SMA N 3 Semarang, yang ternyata bukan pilihan yang pas karena kita lihat kawan-kawan yang lewat, mencari kita, tidak melihat kita yang di seberang. LOL. Akhirnya kita harus berdiri di jalan raya, untuk melambai-lambaikan tangan agar kita terlihat. J

Pukul 06.45 para peserta upacara TNI semua telah masuk ke halaman balaikota. Maka trotoar di depan balaikota pun kembali kosong. Kita kembali kesana, untuk foto-foto, sebagai dokumentasi, sebelum kita mulai bersepeda bareng.





Aku meminta Dhany Sus yang tinggi besar untuk menjadi road captain, agar mudah terlihat para pesepeda yang ada di belakangnya. LOL. Oh ya, selain beberapa personil B2W Semarang a.k.a Semarang Velo Girls, ada kawan-kawan Komselis, dan Bissec, para senior (karena usia mereka telah senior J), juga ada 3 tamu istimewa. Satu orang, yang menaiki sepeda lipat brompton, kebetulan sedang dolan ke Semarang, mengetahui event ini, beliau langsung gabung. Satu orang datang dari Kudus. Beliau orang ROBEK (B2W ROmbongan BEKasi) yang kebetulan sedang bertugas di Kudus, langsung cus menuju Semarang selepas shalat Subuh demi ikut bersepeda dengan mengenakan baju batik. Satu lagi, tante Ais, yang asli Jakarta dan sedang ditugaskan di Semarang sejak Lebaran, ikut bergabung.

Pukul 07.00, usai beberapa jepretan, kita mulai mengayuh pedal sepeda masing-masing. Dari balaikota kita menuju Tugumuda, kemudian kita belok ke arah barat, Jalan Sugiyopranoto. Sesampai Jalan Suyudono, Dhany Sus mengajak kita belok kiri, menyusuri jalan itu, hingga sampai sungai Banjirkanal, kita belok kanan, menyusuri Jalan Basudewa. Sesampai jembatan Banjirkanal Barat, kita belok kiri, untuk kemudian masuk ke Jalan Jendral Sudirman.

Setelah melewati pasar Karangayu, beberapa puluh meter di depan, di traffic light, kita belok kanan, masuk ke Jalan Anjasmoro. Lurus hingga pintu gerbang PRPP, kita berhenti sejenak untuk merapikan barisan (agar tidak ada yang tercecer), dan foto-foto. Om-om dan tante Bissec sebagian pamitan akan memisahkan diri jika kita akan masuk ke Jalan Indraprasta.





Setelah meninggalkan Jalan Madukoro, kita belok ke Jalan Indraprasta, Imam Bonjol, Kota Lama, dan kita mampir ke polder Tawang, untuk foto-foto. Setelah itu, lanjut ke Jalan Cendrawasih, belok kiri, di perempatan Sayangan, kita belok kanan, menuju Bubakan. Tujuan akhir kita adalah Kampung Batik, sesuai dengan tema kita kali ini : GOWES BATIK.

Setelah foto-foto di kampung yang dinding-dindingnya dihiasi mural bermotif batik, kita melanjutkan mengayuh pedal sepeda ke warung (susu) Karangdoro. Bagi penyuka susu, mereka kesini tentu akan memesan susu. Bagi yang bukan peminum susu – seperti aku – cukup pesan es teh saja. J

Kita berpisah disini. Setelah masing-masing cukup puas dengan minuman pilihan masing-masing, dan ngemil secukupnya, sebagian dari kita melanjutkan perjalanan kembali ke Jalan Dr. Cipto (sedikit contra flow dari warung susu Karangdoro), sebagian lain lagi ke arah Kota Lama, om Robek yang dari Kudus, (duh, lupa nanya namanya) ke arah stasiun Tawang karena menitipkan mobilnya parkir disitu.

Sampai bertemu di kisah gowes bareng lain lagi. Terima kasih partisipasinya nggih.


LG 12.56 02/10/2017







vlog karya Ranz



SEGOWANGI 44

SEGOWANGI 44

Penyelenggaraan segowangi di bulan September 2017 adalah penyelenggaraan yang ke-44, sejak Februari 2014. Personally, I have been deeply indebted to some people around me who have been very loyal in accompanying and supporting me to hold this monthly event: the girls in Semarang Velo Girls, especially Ranz and Tami.

Untuk bulan September tahun ini, tema yang kupilih adalah SHARE THE ROAD karena aku ingin lebih memasyarakatkan Undang Undang no 22 tahun 2009, terutama pasal 106 ayat 2 yang berbunyi kendaraan bermotor wajib mengutamakan keselamatan pejalan kaki dan pesepeda. Undang undang ini dibuat 8 tahun yang lalu, namun belum tentu seluruh lapisan masyarakat mengetahuinya, terbukti dari cara pengguna jalan memperlakukan para pejalan kaki dan pesepeda yang masih menganggap mereka hanya dengan sebelah mata. J

29 September 2017

Sepanjang hari Jumat itu, matahari bersinar sangat garang, hawa di kota Semarang cukup mudah membuat orang emosional gegara panas yang menyengat. Padahal beberapa hari sebelum itu, kota Semarang sering tertutup awan mendung. Kupikir hawa panas ini akan terus berjalan hingga malam hari. Namun ternyata aku salah. Sore hari, menjelang pukul lima sore, titik-titik gerimis mulai menghiasi jalan-jalan di kota Semarang secara merata. Menjelang pukul enam sore, beberapa kawan mulai menulis status tentang hujan di akun sosial media mereka masing-masing. Duh.




Menjelang puku setengah tujuh, Hesti mengirimiku WA, memintaku untuk menghampirinya sebelum berangkat ke Balaikota, untuk membantunya membawakan arem-arem yang akan dia bawa ke Balaikota. Tumben deh ya. Saat mau ninggalin kos Ranz, Avitt datang, menjemput Monel yang dititipkan di kos sejak 7amselinas karena dipinjam Evie. Avitt datang bersama Hemas, naik mobil, Minul ada di dalam. Setelah mengambil Monel, Avitt buru-buru berangkat. Sementara aku on the way menuju rumah Hesti, Ranz kuminta segera menuju Balaikota saja, sehingga jika ada kawan-kawan lain yang telah datang, akan ada Ranz yang “jaga gawang.”

On the way ke rumah Hesti, telah kurasakan angin bercampur hawa hujan. Sesampai rumah Hesti, gerimis mulai menyapa. Nah lo. Ternyata Hesti mengharapkanku datang naik Austin, sehingga satu dos berisi nasi bakar (ternyata bukan arem-arem J) bisa nangkring di rak boncengan Austin, sedangkan satu dos yang lain di rak boncengan Rocky, sepeda lipat milik Hesti.

Gerimis menderas menjadi hujan. Aku memberikan ide, satu dos yang akan kubawa dimasukkan ke dalam satu tas plastik saja, akan kugantungkan di setang Orenj. On the way ke Balaikota, baik aku maupun Hesti, telah mengenakan mantel.

Sesampai di Balaikota, ternyata sudah ada lebih dari 8 orang kawan pesepeda yang berteduh di bawah gerbang, di antaranya ada om Tuhu yang datang sendirian karena setelah segowangi akan menjemput sang istri tercinta di stasiun Tawang. Juga ada Pakguru Primazan, dan satu siswanya, Hizkia yang tinggal di kawasan Tembalang. Wuiiiih. Adik satu ini memang sangat antusias jika ada undangan bersepeda. J

Dos yang kubawa segera kubuka karena ingin tahu isinya apa. Seperti yang kutulis di atas, ternyata bukan arem-arem, melainkan nasi bakar, dengan berbagai varian lauk, ada ayam, teri, tongkol, pindang, pedo, usus, ati ampela, tempe telur asin. Yang mengejutkan adalah di tiap bungkus nasi bakar, ada tulisan VOTE AVITT FOR KOMSELIS1. Hahahaha ... Avitt yang tidak tahu apa-apa tentang hal ini kulihat langsung wajahnya memucat, dengan sorot mata tidak percaya, ada seseorang yang melakukan hal tak terduga ini. LOL.

Nasi bakar kubagikan pada mereka yang telah ada di lokasi, enak langsung dimakan, mumpung masih hangat, meski kita hanya berdiri saja, di bawah gerbang keluar balaikota. Ada beberapa orang lain – pemotor yang takut kehujanan karena tidak membawa mantel – yang berteduh di tempat yang sama pun mendapatkan rejeki yang sama.

Satu jam kemudian, pukul 20.00, hujan belum juga reda. Akhirnya kita putuskan untuk pindah ke teras bangunan Balaikota. Disini kita malah bisa leluasa duduk-duduk, tanpa takut terciprat air hujan. Ada 3 orang pesepeda lain yang dari tadi duduk-duduk di teras bangunan sebelah Utara, akhirnya pindah bergabung dengan kita. Kemudian disusul kedatangan Surya dan Arif Daeng. Dilanjutkan dengan kedatangan om Soegy yang katanya dari tadi tertahan berteduh di Jalan Tendean. J setelah itu, kita justru bercengkrama, sembari menikmati nasi bakar. Masing-masing dari kita bisa menikmati lebih dari satu bungkus karena jumlahnya banyak, sedangkan kita hanya sedikit. J

Tak lama kemudian Dany Saputra dan Dhany Sus datang bergabung. Waaah ... rekor nih, meski hujan lebat, yang datang hampir 20 orang!

Pukul 20.30 hujan berhenti, hanya tinggal gerimis tipis. Kubayangkan masing-masing dari kita akan langsung pulang ke rumah masing-masing, toh kita telah bersepeda dari rumah ke balaikota, kemudian dari balaikota ke rumah. LOL. Namun ternyata, sebagian dari kita masih ingin tetap bersepeda, meski hanya ‘sebagai syarat’ bahwa kita bersepeda bersama di malam hari.

Akhirnya kita pun bersepeda. Dari Balaikota kita menuju Tugumuda, belok ke Jalan Pandanaran, Simpanglima, berputar ke arah Jalan Gajahmada, untuk berfoto bersama di ‘mabes Komselis’ atau mabes B2W Semarang juga sekitar 8 tahun yang lalu, setelah tergusur orang jualan. LOL.

Setelah foto-foto, kita masuk kawasan Undip, untuk kemudian belok ke jalan Erlangga. Tak kita sangka ternyata di jalan itu, banjirnya lumayan tinggi. Ketika kita mengayuh pedal, kaki otomatis masuk ke dalam air, hingga semua mengeluh sepatu basah kuyup. Beruntunglah mereka yang hanya mengenakan sendal jepit. LOL.

Meninggalkan kawasan Simpanglima, kita menuju Jalan Gajahmada. Disini, Pakguru Primazan pamitan untuk langsung pulang, Om Puji Widodo dan kedua temannya juga pamit pulang. Yang lain kembali ke arah Balaikota. Di perempatan Gajahmada – Pemuda, Tami dan Surya pamit pulang.

Hampir pukul setengah sebelas malam, aku kembali ke rumah. Oh ya, nasi bakarnya laris manis. J thanks to Avitt’s secret fans. Kita ga perlu jajan di angkringan. Hahahahah ...


LG 11.56 02/10/2017 

Sabtu, 07 Oktober 2017

Night Ride di Solo 19 Agustus 2017

Sehari setelah aku dan Ranz dolan ke Waduk Gajahmungkur Wonogiri (check this link, will ya?) hari Sabtu 19 Agustus 2017 kita diajak bersepeda malam a.k.a night ride bersama rekan-rekan #SoloNgepit yang sedang menerima tamu dari Bandung Eco Transport dan Subcyclist Surabaya.

Tikum di stadion Manahan - Solo, kita berputar mengitari Solo, kurang lebih 15 kilometer.

Vlog di bawah ini, seperti biasa, hasil besutan Ranz. :)


Blusukan Pitnik ke Museum Sangiran



old, but gold :)

Kisah bisa dibaca di link ini yaaa :)

Selasa, 26 September 2017

Gomingpai ke Masjid Kapal

Gomingpai  ke  Masjid  Kapal

Hari Minggu 24 September 2017 sebenarnya aku janjian dengan om Hien dan Surya untuk bersepeda ke Masjid Kapal yang terletak di kitaran Palir / Pandaan; waktu tahu ini, om Soegy pun ingin ikut. Aku mengajak ketemuan di depan museum Mandala Bhakti pukul 06.00. namun, ternyata jam segitu, aku baru selesai mengerjakan tugas pagi di dapur, (maklum, emak-emak LOL).


Pukul 06.20 aku sampai di depan museum, tidak mendapati siapa pun. Waktu aku bertanya ke om Hien lewat WA jadi atau tidak, dia malah punya agenda lain (Nah lo!), sementara Surya dan om Soegy di Simpanglima. Waktu Surya kuminta ke museum, dia malah memintaku ke Simpanglima. LOL. Aku malas ke Simlim, terlalu penuh orang, malah ga jadi sepedaan entar, Cuma nongkrong doang. LOL. Akhirnya kuputuskan sepedaan sendiri.

Sempat kepikiran bersepeda ke arah Mangkang saja, sudah lama tidak narsis di tulisan KOTA SEMARANG disana. LOL. Namun setelah sampai pertigaan Jrakah, aku tetap mengambil jalur belok kiri. LOL. Mendaki ‘bukit’ perumahan BPI, kemudian lanjut ke tanjakan Silayur, yang sebenarnya sekarang aku lebih suka menyebutnya ‘tanjakan Esperanza’ karena ada perumahan Esperanza di sebelah kanan, agar terkesan kebarat-baratan. LOL.


Sesampai ‘icon’ perumahan BSB, aku berhenti, memotret Cleopatra. Kemudian aku bingung mau lanjut kemana, mau ke masjid Kapal, barusan beberapa minggu lalu aku kesana, sendirian juga. Mau lanjut ke arah Mijen, kemudian belok kiri, turun lewat TPA Jatibarang, atau lanjut ke arah Cangkiran, dan belok kiri ke arah kilometer 0 Gunung Pati, atau kemana? Hingga akhirnya aku sadar, aku lapar. LOL. Jika melanjutkan perjalanan yang lebih menguras tenaga, aku butuh asupan makanan terlebih dahulu. Sempet berpikir akan sarapan soto, di daerah situ ada beberapa warung soto, namun akhirnya aku mampir ke satu warung bubur ayam, karena ga ingin membuat perutku terlalu kenyang.

Usai sarapan, aku melanjutkan perjalanan. Entah apa yang menuntunku, aku memilih belok kanan, ke satu jalan sempit yang di ujung jalan ada petunjuk LON JATEN VILLAGE. Yang penting muter deh, dan melewati trek sempit yang cukup eksotis pemandangannya ini. Jalan ini merupakan jalur alternatif yang menghubungkan daerah Pandaan dan Ngaliyan, jalanan cukup sepi dari kendaraan yang lewat, jadi cukup nyaman. Di beberapa kilometer awal, permukaan jalan aspal yang cukup halus, namun jika diteruskan kita akan mendapati beberapa titik dimana aspalnya sudah terkelupas hingga agak menyulitkan jika naik sepeda dengan ban yang slick. 


Ternyata, akhirnya, aku mengarahkan Cleopatra menuju masjid kapal. LOL. Jika beberapa minggu lalu aku sampai sini baru pukul tujuh pagi, suasana masih sepi, belum ada satu pun warung makanan / minuman buka, kali ini aku sampai pukul 08.45. Kulihat sudah ada beberapa mobil pengunjung yang terparkir di halaman dalam masjid, selain kendaraan roda dua. Warung-warung pun sudah buka.

Aku tidak stay lama, hanya memotret Cleopatra dari dua titik yang berbeda, aku pun tidak tertarik untuk masuk ke dalam masjid. (Yang pertama, aku sempat masuk dan naik sampai lantai 3 masjid.) Sebelum meninggalkan lokasi, aku mampir ke satu warung yang terletak tak jauh dari pintu masuk, aku butuh minum es teh.

Waktu menikmati es teh, aku mendengar seorang pengunjung yang akan meninggalkan lokasi bertanya ke tukang parkir arah ke Semarang. Tukang parkir menunjukkan arah ke kanan, setelah keluar dari masjid. Waaahhh ... Trek baru niiih. Yang pertama dulu, aku memilih trek kembali menuju arah Desa Wonolopo, berputar, hingga sampai ke pasar Mijen, kemudian turun lewat TPA Jatibarang.

Setelah menghabiskan es teh yang kubeli, aku meninggalkan masjid Kapal, dengan memilih jalur ke arah kanan. Trek di awal cukup bersahabat, datar, hingga bertemu dengan turunan yang lumayan tajam. Wah, kalo berangkat lewat sini berarti harus melewati tanjakan curam nih. Setelah itu sedikit rolling. Sesampai satu perempatan, belok kanan. Lurus terus sampai lewat satu perempatan lagi yang sempat membuatku heran. Duh, pilih arah yang mana ya jika mau ke arah Ngaliyan? Untunglah di perempatan itu ada satu petunjuk; jika dari arah aku datang, jika belok kiri, kita akan menuju Mangkang, jika belok kanan, ke arah Palir, jika lurus, ke Kedung Pane/Ngaliyan. Hokeee ... aku pilih jalan yang lurus terus.


Jalan yang kulewati ini cukup lebar. Aku sempat berpapasan dengan bus pariwisata. Hmmm ... berarti para ‘wisatawan’ yang menuju ke masjid Kapal, lewat jalan yang ini. Teruuuus saja hingga aku muncul di kawasan Ngaliyan / tanjakan/turunan Silayur. Haseeek, aku sudah sampai satu daerah yang aku kenal. LOL.

Sampai rumah, cyclometer di setang Cleopatra menunjukkan jarak yang kutempuh hari itu adalah 40 kilometer, berangkat 22 km, pulang 18 km.

LG 13.06 26/09/2017



Jumat, 22 September 2017

Check rute 7amselinas : Gowes Bareng, Sikil Kemeng, Ati Seneng

Kawan-kawan panitia, bersama para marshall, (berencana) mengadakan cek rute 7amselinas untuk hari Sabtu 16 September 2017 pada hari Minggu 27 Agustus 2017. Dikarenakan pada hari itu, aku harus berada di kantor karena ada LIA ENGLISH COMPETITION, aku melakukan cek rute sendiri. :) Well, sebenarnya sebelum memasuki bulan Ramadhan, beberapa dari kita telah cek rute, namun tanpa marshall, dan waktu itu dari Waduk Jatibarang, kita langsung balik ke arah perumahan Greenwood. Plus, aku naik Cleopatra. (Check this link, please.)

Jumat 25 Agustus 2017, aku meninggalkan rumah sekitar pukul 05.40, naik Austin. Dari Pusponjolo, aku langsung belok ke arah Simongan, melewati Sam Poo Kong, kemudian setelah lewat jembatan, belok kanan, ke Jalan Kelud. Lurus langsung menuju Sampangan. Selepas jembatan besi (Kretek Wesi), belok kanan, melewati Jalan Dewi Sartika.

Sesampai perumahan Grand Greenwood, nah ... siap-siap tanjakan maut. LOL.


Setelah 3 tahun berlalu aku tak lagi lewat tanjakan Greenwood ini naik Austin, terus terang, aku harus berjuang secara ekstra. LOL. Jika naik Cleopatra aku bisa langsung sampai gapura Waduk Jatibarang tanpa henti -- meski di tengah perjalanan harus ngomel-ngomel LOL sembari terus mengayuh pedal -- waktu naik Austin, aku butuh berhenti dua kali di tanjakan selepas Greenwood ini. LOL. Ga hanya untuk memotret Austin di jalan miring itu, namun tentu untuk mengembalikan nafas yang ngos-ngosan. LOL.

Aku sampai di gapura Waduk Jatibarang pukul 07.00, aku butuh waktu sekitar 1 jam 20 menit, jarak yang kutempuh kurang lebih 12 kilometer (saja!) LOL.

Aku tidak stay lama disitu, hanya memotret Austin dan sedikit menata nafas. Aku melanjutkan perjalanan mengayuh pedal Austin ke arah Kandri karena obrolan di grup WA Panitia Jamselinas, rutenya dibuat menjadi kian nggemesin. LOL. Selepas gapura Waduk Jatibarang, trek kembali menanjak.



Aku mulai diserang rasa lapar, hingga aku harus 'berdamai' dengan rasa lapar dan trek yang terus menerus rolling. LOL.

Sebenarnya kawan-kawan panitia merencanakan rute pulang lewat Pongangan, namun karena aku khawatir tersesat, lol, aku meneruskan perjalanan hingga mendekati titik 0 Gunung Pati. Aku berhenti untuk sarapan di warung soto Mbak Tiah, langganan kawan-kawan pesepeda kawasan Gunung Pati.



Pukul sembilan aku melanjutkan perjalanan. Catatan : rute ini sama dengan rute yang telah kulewati beberapa kali, namun dibalik, nanjak lewat Unnes, turun lewat Sadeng. Meskipun begitu, aku sempat hampir tersesat gegara ada satu jalan yang ditutup untuk satu perayaan, entah kondangan pernikahan atau yang lain. Aku perlu bertanya pada beberapa orang yang kudapati di jalan. LOL.




Di turunan dari Unnes, ternyata jalannya sedang dicor. Hmmm ... Ada dua jalan yang sedang dicor, berarti. Satu, setelah melewati Jalan Dewi Sartika (di belakang perumahan Greenwood), satu lagi setelah lepas Tangkil.

Aku balik menuju Lemah Gempal, sampai di kos Ranz pukul 10.30. Legaaa!

IB180 12.22 23/09/2017