Senin, 14 Agustus 2017

Semarang Hits Gowes Ke Pantai Baruna

Noorman 3Nergy Night Run 5K

SEGOWANGI 42

SEGOWANGI 42

Segowangi 42 kita selenggarakan pada hari Jumat 28 Juli 2017. Untuk memberi kesempatan yang ingin latihan nanjak, aku memilih tema “Nanjak Yuk Nanjak”.


Sungguh satu hal yang sangat membahagiakan waktu melihat begitu banyak wajah baru yang datang kali ini. Apa karena tema dan rutenya nanjak yak? Si kembar Om Leo dan Om Tatang yang jarang kelihatan di segowangi pun muncul. Yuhuuuuu ... Atau karena Om Leo ikutan promosi event ini di beberapa grup yang dia ikuti? Well, sudah lama sih aku tidak woro-woro di grup sepeda, semenjak si pembuat poster – Riu – menikah tahun lalu. J Kalau pas Avitt punya waktu senggang dan membuatkan poster, ya kupasang di akun instagram ‘b2wsemarang’. J

Di antara wajah-wajah ‘baru’ namun sebenarnya wajah lama yang datang kali ini selain si Kembar Om Leo dan Om Tatang, ada Tuhu dan istrinya yang datang jauh-jauh dari kawasan Pudak Payung, dan Om Steven Susilo, yang mengaku sudah cukup lama vacuum dari sepedaan.

Rute segowangi kali ini : Balaikota – Tugumuda – Jl. Dr. Sutomo – RSUP Dr. Kariadi – Jl. S. Parman – Jl. Rinjani – Jl. S. Parman – Taman Diponegoro – Jl. Kawi – Jl. Sriwijaya – Jl. MT Haryono – Bubakan – Kota Lama – Jl. Pemuda – Balaikota.

Sampai jumpa lagi di segowangi 43 ya kawan pesepeda!


LG 15.25 03/08/2017 

Jumat, 21 Juli 2017

LIVE! Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 4

LIVE! 
Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 4
                           
Jumat 7 Juli 2017 Bersepeda Rembang – Semarang 122 kilometer

Kita siap-siap mulai jam 05.30, mandi, ganti baju, packing yang terakhir kali, dan siap-siap. Pukul setengah tujuh kita turun (kamar kita di lantai 2), mengeluarkan sepeda, memasang pannier di sepeda masing-masing, kemudian menuntun sepeda ke dekat tempat makan (dining room) yang terletak di belakang lobby hotel.

Pukul tujuh pagi kita masuk ke dining room. Di dalam sudah penuh para tamu lain yang sedang makan, maupun antri ambil makan. Menu yang disediakan biasa saja, nasi putih, bakmi goreng, seafood soup, sosis, dan kerupuk. Juga ada roti dan selai di samping pemanggang. Untuk minuman, disediakan jus jambu (plus es batu, bagi yang ingin dingin), teh, kopi, dan air mineral. Semangka berwarna merah dan kuning disediakan buat yang ingin sarapan buah. Rencana mau meninggalkan hotel pukul tujuh pagi molor dah. LOL.

Usai makan, kita check out di resepsionis.

Jelang pukul delapan pagi kita keluar hotel. Angin kencang langsung menyapa kita. Waduh, angin pantura yang kencang ini bakal memperlambat laju sepeda nih. L Ranz yang langsung terkesan ingin buru-buru meninggalkan lokasi – menolak keinginanku memotret diri di depan hotel dengan Cleopatra dalam kondisi siap melanjutkan perjalanan – langsung memperburuk mood-ku. Fine. Angin kencang, Ranz yang maunya buru-buru. Good start, eh? L

Benar saja, aku tak bisa menggeber Cleopatra secepat sehari sebelumnya. Jika dalam perjalanan WBL – Rembang aku bisa melaju dengan kecepatan sekitar 25 – 28 kilometer per jam (kucek di cyclometer di handle bar Cleopatra), hari ini mentok hanya di 22 kilometer per jam, itu pun lebih sering hanya di kecepatan 18 – 20 kilometer per jam. Jika aku terus dipaksa untuk mencapai kecepatan 22 kilometer per jam, aku bakal tumbang di jalan. L

Bagi Ranz angin yang berhembus kencang itu sama sekali tidak dia rasakan. Makanya dia heran ketika aku tak mengayuh pedal Cleopatra secepat sehari sebelumnya. Beberapa kali dia nanya, “Kamu kenapa?”

“Emang kenapa?” tanyaku balik akhirnya, bete. LOL.

“Kok lajumu ga secepat kemarin?” tanyanya, lugu, namun nyebelin. LOL.

“Ya ampuuun. Mosok kamu ga ngerasain angin ini berhembus kencang sekali? Ga kayak kemarin??” aku nyolot. LOL.

“Aku ga mau kemalaman di jalan,” katanya lagi. Hadeeeh ... kalo pun kemalaman kan kita bakal sudah sampai Semarang kan ya?

Akhirnya aku pun mengancamnya, LOL, “Kalo kamu paksa aku cepat, tenagaku akan cepat habis, aku ga bakal bisa sampai Semarang lho! Entar kamu sendiri yang repot!”

“Lihat di cyclo! Kecepatan kita sekarang berapa?” tanyanya.

“Sembilan belas,” jawabku, setelah melirik ke cyclo.

“Owh ... lumayan juga ya? Tapi kok rasanya pelan sekali?” tanyanya heran.

“Ya iyalah ... lha wong kita dihadang angin? Meski kecepatan kita lumayan, rasanya ya lelet!” jawabku.

Akhirnya Ranz ngalah. Mengimbangi kecepatanku mengayuh pedal Cleopatra. Namun ya gitu deh, dalam perjalanan kita sama sekali tidak berhenti. Kita baru berhenti setelah menempuh jarak 25 kilometer, kita mampir di satu mini market, posisi kita sudah sampai di pusat keramaian Juwana. Aku beli teh botol di dalam kotak yang dingin. LOL. Ranz beli susu kotak. Ga pake lama, setelah habis, kita langsung melanjutkan perjalanan lagi.


Entah mengapa, setelah mampir mini market ini, mood Ranz melunak. Dia tak lagi terlihat maunya buru-buru. Di gapura selamat datang Pati, dia menawari untuk berfoto. (Sejak meninggalkan hotel Kencana, ini kali pertama kita foto) J Kemudian setelah kita menambah jarak 10 kilometer dari minimarket, dia bertanya apakah aku tidak ingin ngopi. HWAAAAH! Dia baik sekali!!! LOL. Aku langsung terus terang aku mengantuk, dan butuh ngopi! LOL. Waktu sarapan di hotel Kencana, aku ga ngopi karena ingin minum jus jambu.



You know why Ranz melunak? Dia pun ternyata mulai diserang kantuk. LOL.

Kita pun memperlambat laju sepeda, berharap menemukan satu warung kopi atau apa kek dimana kita bisa mampir ngopi. Ketika kita melaju dengan lambat sambil ngobrol itu, tiba-tiba seseorang menyapa, bertanya kita sedang dalam perjalanan dari mana mau kemana. Dia naik motor dengan memboncengkan seseorang. Mungkin karena dia melihat tulisan di kaos yang kita pakai “Bike 2 Work Semarang”, dia pun bercerita mengenal satu punggawa B2W Pusat, Jakarta, Om Poetoet. Waaaa ... dia kenal Om Poetoet!



Kita sedikit ngobrol sambil tetap melaju di jalan, aku dan Ranz naik sepeda, dia naik motor. Saat itu kita sudah masuk pusat keramaian kota Pati. Seseorang yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Onthelis dari Pemalang, bernama Abu Amar itu mengajak kita mampir di satu tempat untuk ngobrol-ngobrol sejenak. Wah, mumpung aku memang sedang butuh ngopi nih.

Kita pun mampir di satu warung makan. Jam menunjukkan pukul 10.30. Om Abu cerita dia dan istrinya sedang dalam perjalanan dari Tuban menuju Pemalang. Mereka memang biasa menempuh rute Tuban – Pemalang, maupun sebaliknya, naik motor. Jika om Abu sendirian, dia akan naik sepeda onthelnya. Hwahhh ... LOL. Itu sebabnya dia langsung tertarik menyapa aku dan Ranz ya? Hobinya sama. J

Pukul 11.00 kita berpisah. Om Abu dan istrinya melaju terlebih dahulu. Aku yang habis minum segelas es kopi – sedangkan Ranz minum 2 gelas es teh – langsung merasa jauh lebih bergairah, tak lagi mengantuk. Apalagi, angin tak lagi terasa sekencang di pagi hari. Horeee.


Menjelang masuk Kudus, Ranz menawari untuk berhenti untuk berfoto di gapura selamat datang. Pukul 11.29. Namun waktu melewati alun-alun Kudus, Ranz tidak mengajak berhenti, katanya toh aku sudah punya foto Cleopatra di Simpang 7 Kudus itu. LOL.

Jelang pukul 12.30 kita berhenti di hypermart, seseorang telah menunggu kehadiran kita, Riu.! Yeay! Riu yang di tahun 2010 dulu membuatku iri dengan perjalanan-perjalanannya naik sepeda, LOL, yang sekarang ditempatkan kerja di Kudus, menunggu kita untuk menraktir kita makan siang. Alhamdulillahhh. Jika sudah rejeki, ga akan lari kemana yak? LOL. Tidak tanggung-tanggung, Riu menraktir kita di *stana *ie dan Es.

bersama Riu

Kita makan sambil ngobrol sampai pukul 13.30. Untunglah kantor Riu terletak tak jauh dari hypermart, dia cukup jalan kaki dari kantornya untuk menemui kita. Selama makan siang, kita menitipkan sepeda pada satpam, di belakang pos satpam. J

Usai makan siang, kita melanjutkan perjalanan. Ada seorang kawan lagi yang ingin menyambut kita lewat, om Joko, punggawa OOT singkatan “Onto Onto Thok” alias pasukan sepeda onthel Kudus. Rumahnya terletak sekitar 1 kilometer setelah melewati perbatasan Kudus – Demak (jika kita dari arah Kudus).

Siang itu cuaca panas sekali. Dan, bahwa rumah om Joko ada di sebelah kanan, dari arah Kudus, plus ada “pulau jalan” yang memisahkan jalur kiri dan kanan, hingga kita tidak begitu mudah menyeberang membuat Ranz enggan kuajak mampir. Akhirnya, kita hanya berhenti di seberang rumah om Joko, dan memintanya menemui kita menyeberang. J Kita sempat ngobrol sejenak dan berfoto bersama. Setelah itu, kita melanjutkan perjalanan.


Tak jauh setelah kita mengayuh pedal kembali, aku sudah merasakan kehausan yang amat sangat, disebabkan cuaca panas. Akhirnya kita mampir satu minimarket untuk membeli minum.

Rute Kudus – Semarang kita tempuh tanpa banyak berhenti untuk foto. Eh, malah kita sama sekali tidak berhenti untuk foto, bahkan ketika melewati alun-alun Demak, Ranz pun enggan kuajak mendokumentasikan keberadaan kita di depan tulisan SIMPANG 6 DEMAK. Alasannya sama : malas menyeberang. LOL.

Mendekati arah Semarang, jalanan penuh kendaraan, traffic padat merayap. Namun masih untung kita bisa terus melaju, meski tak sekencang yang kita inginkan.

Jelang pukul lima sore kita telah sampai Balaikota Semarang. Yeayyy! We are back home!

Sampai bertemu di kisah bikepacking kita berikutnya yaaa!


IB 10.00 22/07/2017

LIVE! Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 3

LIVE! 
Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 3
                  
Kamis 6 Juli 2017 Bersepeda WBL – Rembang 141 kilometer

Karena semalam sudah packing, pagi ini kita ga terlalu terburu-buru. Ranz bangun pukul 05.00, kemudian langsung melakukan ‘morning ritual’nya yang bisa butuh waktu 30 menit. J Setelah itu baru gantian aku yang mandi, kemudian mempersiapkan diri.

Sekitar pukul 06.15 kita sudah siap. Kita turun, mengeluarkan sepeda, kemudian memasang tas pannier di sepeda masing-masing. Pak Imron kaget melihat kita sudah siap begitu pagi. Dia berharap kita mau menunggu hingga sarapan diantar ke penginapan, baru kita meninggalkan Wisma Bintang Maharani. Kita pun mengiyakan. Menunggu sarapan datang, aku membuat kopi hitam di pantry, berharap aku ga bakal diserang rasa kantuk dalam perjalanan. J

Sehari sebelumnya sarapan datang pukul 06.30, namun pagi ini sarapan baru diantar ke penginapan hampir pukul tujuh pagi. Aku yang lapar, langsung memakannya (aku tidak makan malam malam sebelumnya); Ranz yang tidak bisa makan dalam waktu cepat memilih untuk tidak langsung makan sarapannya. Menu sarapan pagi ini nasi + pecel + telur ceplok + perkedel kentang.

penginapan Bintang Maharani,
di depang penginapan, itu pak Imron

Pukul 07.10 kita pamitan pada pak Imron. Setelah memotret sepeda di depan penginapan, kita pun mulai melaju meninggalkan kawasan WBL.

Kita melanjutkan perjalanan dalam diam. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri. J Kita sempat berhenti sekali tatkala kita melihat hamparan laut di sisi kanan (utara) untuk berfoto-ria. Kita berhenti lagi setelah menempuh jarak 12 kilometer, kembali untuk memotret. Kebetulan kita berada di atas jembatan Bengawan Solo yang melintas Lamongan. Di tiap pemberhentian, kita hanya melewatkan waktu tak lebih dari 10 menit.

Trek ternyata masih rolling, naik turun, hingga masuk Tuban. Namun, trek turunan lebih mendominasi, ketimbang tanjakan. Disitu aku merasa bersyukur, kita memilih gowes Sidoarjo – Semarang, dan bukan sebaliknya. LOL.

Spot berikut adalah ketika kita akan masuk Kabupaten Tuban. Kita melihat ada tugu selamat datang. Rasanya hatiku dag dig dug, kita akan napak tilas rute kita bikepacking Semarang – Tuban di bulan Agustus tahun 2012. Di alun-alun kembali kita berhenti untuk memotret sepeda. 5 tahun lalu kita makan malam di satu warung disamping alun-alun itu.


Beberapa kilometer dari alun-alun, sampailah kita di klenteng Kwan Sing Bio! Kita telah menempun jarak 40 kilometer! Yeay! Berhenti untuk memotret sepeda jelas wajib hukumnya. J bahkan semula aku berharap aku bisa menyempatkan diri untuk masuk klenteng dan mengabadikan keberadaanku di klenteng Kwan Sing Bio di tahun 2017! Waktu menunjukkan pukul 09.40.

Rasa haus mulai menyerangku. Seingatku 5 tahun lalu di seberang klenteng, di sisi pantai, ada banyak orang jualan berbagai jenis makanan. Namun pagi itu suasana sepi. Tak kulihat satu pun penjual. Aku dan Ranz memilih beristirahat di trotoar di seberang kelenteng. Ranz pun membuka bekal yang dia dapatkan dari penginapan, dan sarapan. Tak lama kemudian sekelompok orang yang mengenakan seragam satpol pp berhenti, tak jauh dari kita. Oh ... mungkin sudah ada peraturan baru bahwa orang-orang dilarang berjualan di trotoar, di sisi pantai itu. Hmmm ...

Beberapa satpol pp itu menyapa kita dan bertanya kita sedang dalam perjalanan dari mana kemana. Aku pun menjawab kita naik sepeda dari Sidoarjo dengan tujuan Semarang.

“Tujuannya apa?” tanya seseorang.

“Tujuan kita ke Semarang, pak,” jawabku sopan.

“maksud saya, bersepeda dari Sidoarjo ke Semarang itu tujuannya apa?” tanyanya lagi.

Aku terhenyak. J Kita ngapain ya? LOL. Jadi ingat seseorang, sekian tahun lalu, menulis status bahwa mereka yang bersepeda jarak jauh niscaya sedang mendekatkan diri pada Tuhannya, jika setiap kayuhan mereka persembahkan pada Tuhan. Well, tepatnya bagaimana, aku lupa. Tapi, ada kaitannya dengan spiritual lah. J

Aku dan Ranz tidak muluk-muluk sih. Perjalanan ini terjadi karena aku #sakaw, keinginan bersepeda jauh antar kota itu begitu menggerogoti sukma (duh, lebay. LOL) hingga aku bakal depresi jika kembali bekerja tanpa bikepacking terlebih dahulu. (lebay kwadrat) LOL. Alasan Ranz jauh lebih simpel, menemaniku yang sedang sakaw gowes jauh. LOL.

pantai di seberang klenteng Kwan SIng Bio

Meskipun begitu, aku pun menjawab pertanyaan satu bapak satpol pp itu dengan sopan, “Oh, tujuan perjalanan ini? Untuk mengisi liburan sih pak.” J Semoga jawabanku ini cukup memuaskan keingintahuan si bapak, dan bukannya membuatnya semakin penasaran. LOL.

Usai sarapan, Ranz ngecek jarak yang masih harus kita tempuh dari klenteng Kwan Sing Bio ke Rembang. Ternyata google map menyatakan bahwa kita masih harus mengayuh pedal sejauh 90 kilometer! Hal ini membatalkan keinginanku untuk sedikit eksplor klenteng. L Dengan sangat terpaksa, kita langsung melanjutkan perjalanan.

Sepanjang perjalanan, Ranz bergeming. Dengan galak dia menolak permintaanku untuk berhenti di spot-spot tertentu untuk foto-foto. Ketika melewati satu kawasan wisata pantai, Ranz tidak mau mampir, meski hanya untuk satu dua kali jepretan. Padahal sisi pantai di balik hutan bakau itu terlihat jelas dari jalan pantura yang kita lewati. Hadeeehhh ...

Mendekati Alas Jati Peteng, aku sudah ribut ingin berhenti untuk foto. Tapi Ranz menahanku, dia ingin foto-foto di spot dimana ada posko mudik satu mie instant. Waktu kita lewat daerah itu hari Senin dini hari, Ranz melihat posko itu masih ada. Bawelnya Ranz ini kadang ngeselin. LOL.


Namun, ternyata, setelah kita sampai di spot yang digunakan posko mudik itu, lokasi tersebut sudah bersih, tak ada bekas-bekas bahwa disitu pernah digunakan posko mudik. LOL. Hmfffttt ... Satu sisi positifnya adalah, kita ga berhenti untuk waktu yang lama, hanya 5 – 10 menit untuk memotret sepeda, kemudian kita melanjutkan perjalanan.

Sementara itu, kerongkonganku terasa kian kering. Sejak meninggalkan kwan Sing Bio, di sepanjang perjalanan aku berharap menemukan keberadaan warung kopi atau mini market, namun ternyata aku tak melihat satu pun. Air minum dalam bidon pun telah habis. Ternyata kita melewati daerah yang tidak ada mini marketnya dalam jarak belasan kilometer. LOL.

Di satu warung kelontong di kawasan Jenu, akhirnya kita berhenti untuk membeli minum. Kebetulan di warung ini ada kulkas sehingga bisa membeli air mineral dingin. Eitt, biasanya aku tidak pernah mau minum air mineral dingin jika sedang menggeber sepeda dalam jarak puluhan kilometer. Namun siang itu aku begitu haus, hingga aku memilih minum air mineral dingin.

Saat kita akan meninggalkan warung, seseorang datang naik motor, dan langsung menyapa kita! Wahh ... Yoni yang kuberitahu lewat sosmed bahwa aku sedang melewati Tuban mengejar kita, untuk sekedar menyapa dan berfoto bersama. J Dia memang tinggal di Tuban. 5 tahun lalu pun dia nyamperin kita ke hotel, mengajak kita mampir rumahnya, kemudian menemani kita gowes ke Goa Akbar.

Setelah beramah tamah dengan Yoni sebentar, kita kembali melanjutkan perjalanan. Ranz kembali ‘pelit’ ga mau begitu saja kuajak berhenti untuk foto-foto. LOL. Dia mau berhenti untuk foto lagi ketika kita melewati gapura perbatasan Jawa Timur – Jawa Tengah. Nah, ini spot penting soalnya, maka Ranz mengiyakan keinginanku. J Meskipun begitu, tak banyak foto yang kita hasilkan kali ini, tak ada foto dimana kita berpose bersama, dengan Orenj dan Cleopatra. Beda dengan 5 tahun lalu. :D

Tak lama kemudian kita pun melanjutkan perjalanan kembali. Setelah melewati perbatasan Jawa Timur – Jawa Tengah, trek cenderung datar, meskipun begitu hal ini tidak dengan mudah membuatku jenuh maupun ngantuk. Mungkin kopi hitam yang kuminum sebelum meninggalkan penginapan masih menyisakan efeknya. J Plus cyclometer yang nangkring di handle bar Cleopatra memudahkanku ngecek sudah berapa kilometer jarak yang kita tempuh, ga perlu mataku nanar mencari-cari petunjuk jarak yang biasanya ada di sisi jalan. J Aku dan Ranz sama-sama fokus mencari spot-spot dimana kita dulu mampir untuk berfoto maupun makan siang, 5 tahun lalu. Ranz makan di satu rumah makan Padang, sedangkan aku di satu rumah makan yang bersemboyan, “rasa bintang lima, harga kaki lima”. Namun ternyata setelah membayar, harganya minimal dua kali lipat lah dibanding harga warung di kaki lima yang sesungguhnya. LOL.

Kita berhenti di satu warung sederhana untuk membeli es teh. Si penjual seorang perempuan yang sudah cukup berumur, dibantu oleh anak perempuannya yang mengenakan cadar. (Jadi kepikiran, di desa seperti ini ada juga perempuan yang mengenakan cadar ya? LOL. Maafkan kenyinyiranku ini. LOL.) Hawa panas yang terus menerus mendera membuatku merasa minum segelas es teh tidak cukup membasahi kerongkongan. LOL. Maka, aku pun pesan gelas kedua. Harganya cukup murah, segelas hanya duaribu rupiah.

Usai membasahi kerongkongan, kita melanjutkan perjalanan.

Sorot sinar sang surya yang terlalu ramah menyapa dengan mudah menguapkan basah di kerongkonganku. Alias dengan cepat aku merasa haus lagi, ingin minum air dingin lagi. LOL. Sekitar satu jam kemudian, kita mampir di satu warung mie ayam bakso. Kali ini kita tidak hanya memesan es teh, namun sekaligus mie ayam satu porsi yang kita makan berdua. Jadi teringat jika kita dalam perjalanan melewati Karang Pandan – entah mau ke Tawangmangu maupun ke Candi Cetho / Sukuh, kita biasa mampir di satu warung mie ayam di pertigaan Karang Pandan itu, membeli satu porsi dan memakannya berdua. J Kita tidak terlalu merasa lapar, namun haus sekali. J

Sekitar pukul tiga sore, usai makan siang itu, kita melanjutkan mengayuh pedal sepeda. Kali ini kita tak lagi merasa perlu untuk mampir somewhere untuk beli minum maupun foto. Apalagi mendekati Lasem, jalanan dipenuhi truck-truck besar. Ranz kian tidak mengizinkanku berhenti untuk foto, meski laut yang menghampar di sisi utara begitu mengundang untuk foto. Kita mengayuh pedal sembari menikmati pemandangan laut, terkadang hamparan ladang garam, dengan sang mentari yang mulai turun di sisi Barat.

Pasujudan Sunan Bonang

Ketika melewati jalan masuk menuju Pasujudan Sunan Bonang, mendadak Ranz berhenti dan menawariku foto. Uhuyyyyy. Lumayan, buat dokumentasi, aku mampir disini dengan naik Cleopatra! J

Aku cukup lega setelah sampai di Pasujudan Sunan Bonang. Ini berarti sekitar 4 kilometer lagi kita sampai di Masjid Agung Lasem. Ini juga berarti alun-alun Rembang akan kita capai tak lebih dari 12 kilometer lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Ga bisa unjuk narsis di Masjid Agung Lasem nih, apalagi mampir ke klenteng Tju Ang Kiong atau Rumah Candu. LOL. Ranz ga mau saingan di jalan raya bersama dengan truck-truck berbadan besar itu selepas maghrib.


Syukurlah jelang pukul lima sore, kita telah sampai di alun-alun Rembang. Kita sudah sampai! Yeay! Usai memotret Cleopatra dan Orenj dengan latar belakang tulisan ALUN ALUN REMBANG, kita menuju hotel Kencana, yang terletak di seberang pantai Dampo Awang, tempat kita menginap 5 tahun lalu. Aku senang Ranz mau memilih menginap di hotel ini lagi, napak tilas dong. J

Syukurlah di hotel Kencana kita mendapatkan kamar dengan harga yang paling murah, Rp. 240.000,00 dengan fasilitas twin beds, AC, kamar mandi dalam dengan air panas, dan sarapan. Air panas sangat membantu kita mengembalikan organ-organ tubuh rileks setelah mengayuh pedal sejauh 141 km hari itu.

Malam itu, aku menemani Ranz jalan ke alun-alun untuk makan malam. 5 tahun lalu kita cukup menyeberang dari hotel, sudah ada para penjaja makanan kaki lima. Sekarang sisi-sisi jalan raya itu sudah bersih. Tak apalah, meski ini berarti kita harus berjalan kaki sejauh 2 kilometer pulang pergi.

Sebelum tidur, kita packing terlebih dahulu, agar di keesokan hari kita bisa langsung cusss.

To be continued



LIVE! Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 2

LIVE! 
Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 2

Rabu 5 Juli 2017 Jelajah Wisata Bahari Lamongan dan Goa Maharani

Background:

Ketika kita bikepacking Semarang – Tuban di bulan Agustus 2012, kita tergoda untuk melanjutkan perjalanan menuju WBL setelah tahu bahwa jarak antara Tuban – WBL hanya sekitar 40 kilometer. Namun karena keterbatasan waktu saat itu, kita hanya dolan ke Goa Akbar, gowes keliling Tuban sedikit, kemudian langsung pulang ke Semarang. Sempat terbetik keinginan kapan-kapan akan ke WBL dengan naik sepeda dari Tuban, kita akan naik bus dari Semarang – Tuban, baru kemudian bersepeda ke WBL. Ternyata ... keinginan ini menjadi nyata setelah 5 tahun berlalu. LOL.

Di hari kedua ini kita tidak punya agenda mengayuh pedal sama sekali. Kita akan menikmati liburan dengan main-main di Wisata Bahari Lamongan! Yeayyy. Karena itulah, kita sangat santai. Ranz bangun jam 06.00, kemudian melakukan kegiatan ‘wajib’ pagi hari di kamar mandi. J Sementara menunggu, aku keluar dari kamar, menikmati udara pagi nan segar di balkon. Penginapan ini menghadap ke Timur. Kebetulan pagi itu mendung sehingga tak nampaklah sang surya di langit.

Sekitar pukul setengah tujuh, pak Imron – yang diberi tugas menjaga penginapan ini oleh si pemilik – datang ke kamar kita, mengantarkan sarapan. Menunya nasi rames dengan lauk daging bumbu pedas dan perkedel kentang. Lumayan enak.

Pukul delapan, aku dan Ranz turun ke lantai satu. Aku membuat secangkir kopi hitam di pantry, kemudian nongkrong di kursi yang disediakan di tengah-tengah lantai satu itu. Di lobby, Pak Imron sedang duduk dengan seseorang, dan asyik mengobrol. Sekitar pukul setengah sembilan, kita berjalan keluar, menuju WBL.

Setelah mampir ke minimarket yang terletak di seberang WBL (ssshhhttt ... mesin ATM satu bank swasta yang ada di dalam minimarket ini mengeluarkan uang limapuluh ribuan baru, masih kinclong! Sejak semalam kulihat banyak orang mengantri di ATM ini dan mengambil setumpuk uang limapuluh ribuan yang masih gres itu) dan mengambil beberapa lembar uang limapuluh ribuan dari ATM, aku dan Ranz menyeberang ke WBL.



Meski kemarin sore kita sudah mampir untuk foto-foto bersama Cleopatra dan Orenj, sepeda yang kita naiki, dengan wajah lusuh setelah menempuh jarak hampir 100 kilometer, sebelum membeli tiket, kita foto-foto lagi di halaman depan WBL. Meski masih pukul sembilan pagi, sudah banyak pengunjung yang datang. Sebagian dari mereka adalah anak-anak sekolah dari beberapa kota di Jawa Tengah maupun Jawa Timur yang sedang mengadakan ‘field trip’. Sebagian adalah pengunjung yang datang dengan keluarga besar maupun keluarga kecilnya.

Tanggal 5 Juli 2017 masih masuk ke masa libur lebaran, hingga harga tiket pun ikut harga tiket di masa lebaran. Kita berdua memilih tiket terusan yang berharga Rp. 145.000,00 untuk tiga lokasi: (1) Wisata Bahari Lamongan (2) museum 4 D (museum Sejarah Islam) (3) Goa Maharani.

Ada banyak wahana yang bisa kita nikmati di WBL. Meski telah menyediakan sehari penuh untuk menjelajah WBL, ternyata kita tak punya cukup waktu untuk menikmati semuanya. Ada lebih dari 35 jenis wahana gratis yang tersedia, namun kita hanya mencoba tak lebih dari 11. (1) istana kucing (2) bioskop 3 Dimensi (3) istana boneka (4) space shuttle (5) jet coaster (6) sarang bajak laut (7) planet kaca (8) anjungan Walisongo (9) Texas (10) kano (11) bumper car. Di arena ketangkasan, Ranz mencoba menembak. Untuk ini, kita harus membeli ‘peluru’ dengan harga Rp. 2000,00 untuk 3 butir peluru.

Kita makan siang di dalam arena WBL. Ada beberapa lokasi food court di dalam, kita tinggal memilih mau makan dimana. Oh ya, untuk masuk kedalam arena WBL, kita tidak diperbolehkan membawa makanan berupa nasi dan bakmi. Kalau hanya cemilan sebangsa biskuit, boleh.

Satu hal yang membuatku sedih dan tak berani menjepret foto adalah ketika kita masuk kedalam istana kucing. 10 tahun yang lalu, seingatku, yang kulihat adalah kucing-kucing lucu, menawan, dan bahagia, meski mereka berada dalam satu ruangan tertutup dengan kaca di satu sisi agar para pengunjung bisa ‘menonton’ kucing-kucing yang banyak didatangkan dari luar negeri itu. Namun kali ini yang kulihat adalah kucing-kucing yang nampak tertekan, tidak bahagia, karena terkungkung. L banyak dari mereka juga nampak tidak terawat.

Waktu pun cepat berlalu. Tahu-tahu waktu telah menunjukkan pukul 15.00. Maka kita pun cepat-cepat keluar dari area WBL menuju area Goa Maharani. Kita melewati deretan orang-orang penjual merchandise khas WBL. Kita sempat mampir ke satu penjual dan membeli beberapa t-shirt untuk oleh-oleh orang rumah. Usai membeli oleh-oleh, kita langsung menuju Goa Maharani, melewatkan museum 4 D karena waktu yang sudah mepet, hampir jam tutup.


Di kawasan Goa Maharani – yang ternyata namanya ditulis “Maharani Zoo dan Goa” (mengapa harus menggunakan kata ‘zoo’ ya? Bukan ‘kebun binatang’? LOL) – kita bisa melihat beberapa jenis binatang, mungkin itu sebabnya ada kata ‘zoo’ dalam namanya. J Namun, bagiku yang paling menarik dari kawasan ini ya Goa Maharani.

Menurut www.wisatajatim.info Goa Maharani terkenal di awal dekade sembilanpuluhan. Sejak tahun 2008, kawasan wisata ini menjadi dikelola menjadi satu dengan Wisata Bahari Lamongan, dan para wisatawan bisa membeli tiket terusan sehingga harganya bisa lebih rendah, dibanding beli tiket WBL sendiri kemudian beli tiket Goa Maharani sendiri.

Menurutku, keindahan stalaktit dan stalakmit goa Maharani tak kalah dengan goa
Gong di Pacitan. ‘Kalahnya’ hanya jika di goa Gong stalaktitnya bisa menghasilkan suara ‘gong’ jika dipukul, dan stalaktitnya pun panjang-panjang sehingga mudah diraih tangan, bahkan oleh seseorang sepertiku yang tingginya hanya 150 cm.
J masuk akal sih karena konon stalaktit dan stalakmit goa Gong masih ‘hidup’; konon jka diukur, tiap tahun ukurannya memanjang.

Namun, tetap, keindahan goa Maharani tetap bisa bersaing dengan goa Gong. Untuk menjelajahi goa Maharani, pihak pengelola telah menyiapkan trek sepanjang kurang lebih 350 meter. Di beberapa titik dalam goa telah disediakan lampu sehingga kita tidak perlu membawa senter. Dengan mudah kita bisa menikmati keindahan bentuk stalaktit dan stalakmit yang ada.

Yang tak kalah menarik adalah keberadaan Gallery Gemstone yang terletak tepat disamping Goa Maharani. Disini, para pengunjung bisa mngamati berbagai macam koleksi batu dari seluruh penjuru dunia, mulai dari amethys, emerald, jade, dan fosil kayu yang usianya sudah ribuan tahun! Cukup membuatku ternganga melihatnya. Amazing! Yang sangat istimewa adalah keberadaan beberapa batu mutiara yang dilengkapi kaca pembesar sehingga kita bisa melihat keindahan di dalam batu secera detail.

Ada satu lokasi yang juga menarik menurutku; yakni keberadaan ‘Mayan Village’. Kawasan ini ditata sedemikian rupa hingga menyerupai satu daerah Afrika (African look) dengan dibangun beberapa icon yang mengingatkan pengunjung tentang satu suku bangsa Afrika yang telah punah suku Maya. Selain patung-patung berwajah Afrika dalam ukuran besar, kita juga bisa mendapati miniatur kuil Aztec, yang bentuknya mirip Candi Sukuh.

Bagi anak-anak yang ingin belajar tentang jenis-jenis satwa, tentu mempelajari satwa-satwa yang sebagian khusus didatangkan dari luar negeri menjadi satu hal yang cukup menarik. Misal ada beberapa macam binatang albino, seperti ular, tikus, dan kanguru; selain juga ada berbagai macam jenis burung.

Pukul setengah lima sore, kita berdua telah lelah. J kita pun keluar dari kawasan Maharani Zoo dan Goa; kita kembali ke penginapan. Untunglah Wisma Bintang Maharania terletak hanya sekitar 300 meter dari situ. Kita cukup jalan kaki, tak lebih dari 15 menit. Saatnya istirahat.

Malam itu, usai mandi, kita packing. Keesokan hari kita akan melanjutkan perjalanan, mengayuh pedal sepeda dengan menempuh jarak lebih dari 100 kilometer. Usai packing, aku mengantar Ranz keluar untuk beli makan malam. Aku sendiri hanya perlu minum wedang jeruk hangat.

To be continued.



                      

Selasa, 18 Juli 2017

LIVE! Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 1

LIVE! 
Bikepacking Sidoarjo – Semarang Day 1

Aku menyadari bahwa aku begitu alive, begitu hidup dengan sepenuh kegairahan, tatkala mengayuh pedal dengan jarak tempuh ratusan kilometer di depan, dalam sehari. Bersama soulmate-ku, Ranz. J

Senin 3 Juli 2017

Hari Senin 3 Juli 2017 kita sampai di rumah Simbok Poncokusumo sekitar jam 08.00 untuk mengambil sepeda. Ini adalah kali pertama aku dan Ranz bersepeda antar kota dengan naik mtb. Biasanya kita naik sepeda lipat, berangkat kita naiki, pulangnya sepeda kita lipat, masuk ke dalam bagasi bus atau kereta.

Sekitar pukul 11.00 kita telah sampai Wonoayu, rumah sepupu Ranz dimana kita akan menginap semalam. Waktu bersepeda dari rumah Simbok ke Wonoayu, kita tidak berhenti untuk berfoto, kupikir hari Selasa waktu mulai gowes antar kota, kita akan lewat Sidoarjo lagi, buat foto2, namun ternyata tidak. Ya sudahlah. Jadi ada alasan next time main ke Sidoarjo lagi. heheheheh ...

Siang itu aku bobo J meski semalam aku kadang tertidur kadang melek selama perjalanan Semarang – Sidoarjo, mataku tetap butuh tidur yang sungguh-sungguh tidur. J sorenya aku dan Ranz jalan-jalan di kompleks perumahan itu, bersama 2 keponakan Ranz. Kata Ranz, perumahan ini dibangun sebagai ganti tempat tinggal para korban lumpur Lapindo.

Selasa 4 Juli 2017 Gowes Sidoarjo - WBL 98 kilometer

Dari google map, kita dapati bahwa jarak yang akan kita tempuh hari ini sekitar 90 kilometer, jika dari Wonoayu kita langsung menuju arah Krian – Gresik. Namun jika kita ke arah kota Sidoarjo terlebih dahulu, kemudian lewat Surabaya, jarak yang kita tempuh sekitar 110 km. Seperti biasa, aku dan Ranz ‘suut’ untuk menentukan siapa yang akan memutuskan. Kekekekeke ... Ranz menang, jadilah kita langsung belok ke arah Krian, tidak kembali ke arah Sidoarjo.

Pukul 06.30 kita sudah siap untuk mulai bersepeda. Namun sepupu Ranz meminta kita untuk menunggunya mempersiapkan sarapan.

di depan rumah sepupu Ranz

Pukul 08.00 kita meninggalkan rumah sepupu Ranz, setelah sarapan nasi pecel. Tak lupa kita juga dibekali satu plastik kacang telor dan tiga buah jeruk. Sebenarnya kita juga diminta membawa bekal nasi + pecel dan lauknya, tapi dengan sangat terpaksa kita tolak karena tas pannier sudah penuh, tak bisa kita selipin apa pun lagi.

Seperti yang kutulis di atas, kita langsung belok menuju arah Krian, lanjut ke Legundi. Trek yang kita lewati lumayan berkontur, rollingnya cukup terasa. Yang agak ‘mengganggu’ adalah sepanjang jalan, kita terus menerus dipepet oleh truck-truck yang melewati jalan yang sama. Kita benar-benar harus ekstra hati-hati. Matahari yang bersinar super cerah pun dengan mudah membuat kita berkeringat. J yeay.

Now and again, kita mengecek google map untuk memastikan kita berada di rute yang tepat. Ranz memilih jalur pantura untuk mempermudah perjalanan, karena jika lewat kota, meski terkadang mempersingkat jarak tempuh, namun jika tidak tahu, kita malah justru berputar-putar. J

Ranz tidak terlalu memacu sepeda dengan kencang, cukup dengan kecepatan rata-rata 25 kilometer per jam (menurut cyclometer yang menempel di handle bar Cleopatra). Setelah menempuh kurang lebih 15 kilometer kita mampir di satu mini market untuk membeli air mineral, air di bidon telah habis. (waktu berangkat bidon tidak terisi penuh.) meski baru sekitar jam setengah 10, panasnya terasa sekali.


Di satu bunderan (terminal kota Gresik, kalo tidak salah), kita salah belok. Bukannya menyusuri jalan pantura, namun kita justru masuk kota. Ranz baru ngeh ketika kita melewati pintu masuk tol, dan setelah sekian kilometer kita tidak berpapasan maupun dilewati truck. Nah lo. LOL. Kejadian ini membuat Ranz semakin rajin ngecek google map, khawatir kita kian ‘tersesat’. LOL. ‘keblusuk’ ini justru membuat kita lewat Taman Makam Pahlawan kota Gresik, kemudian arah yang kita tuju membawa kita masuk ke perumahan Gresik Kota Baru, dimana kita bertemu dengan spot cantik untuk foto-foto. J (nampaknya icon GKB ini masih baru, sehingga masih banyak orang lewat yang menyempatkan berhenti untuk berfoto-foto, bukan hanya kita yang passerby dari luar kota.

Sebenarnya aku sedikit merasa ngantuk. Ketika melihat penampakan satu gerai fastfood ketika melewati pusat keramaian GKB, aku ingin mengajak Ranz mampir, untuk membeli iced coffee-nya yang lumayan enak. Tapi, ketika aku bertanya apakah dia sudah lapar dan ingin makan, Ranz dengan tegas bilang tidak mau berhenti untuk makan sebelum kita mencapai jarak 50 kilometer, lebih dari setengah jarak yang harus kita tempuh. Ya sudah. Bye bye iced coffee.  

Setelah kita keluar dari perumahan Gresik Kota Baru, kita segera menemukan kembali jalur pantura, jalur yang membuat kita tak perlu sering-sering ngecek google map karena tinggal (nyaris) lurus saja. Meski di jalur ini kita kembali bersaing dengan kendaraan-kendaraan berbadan besar, Ranz tetap terlihat riang gembira karena kembali ke jalur yang dia harapkan. J Tidak hanya itu, tak lama kemudian, sekitar 15 menit berlalu, Ranz menawari apakah aku mau makan siang, saking leganya dia. Ranz mengajak mampir ke warung ‘Warung Bebek Urap Cak Ipul” di jalan raya Manyar. Ini pukul 12.40, jarak yang telah kita tempuh 48 kilometer.

Aku belum pernah pesan bebek untuk diri sendiri selama ini. Namun karena nama warungnya “bebek urap” dan aku kurang perhatian bahwa di daftar menu juga ada pilihan ayam, aku pesan bebek urap dua porsi, satu buatku, satu buat Ranz. Satu porsi bebek urap plus nasi Rp. 25.000,00; satu gelas jumbo es teh Rp. 5000,00. Penasaran apakah ‘bebek urap’ itu? Daging bebek dibakar, kemudian diberi urap / gudangan sebagai sayurannya. Hanya begitu. LOL. Untunglah, rasanya nikmat, sambalnya juga enak, tehnya pun pas dengan seleraku.

Setelah maksi, kita mencari tukang tambal ban karena ban depan Cleopatra mendadak gembos, ketika aku memarkirnya di depan warung Cak Ipul. Untung tak jauh dari situ ada tukang tambal ban, aku hanya perlu menuntun Cleopatra sekitar 300 meter. Setelah dicek, ternyata oh ternyata, ban dalam Cleopatra tidak hanya bocor, namun sobek sekian sentimeter. Entahlah apa penyebabnya. Untunglah (kita ‘beruntung’ lagi LOL) si bapak tukang tambal ban bersedia membelikan ban dalam. Problem solved!

Kemudian kita melanjutkan perjalanan. Trek kembali terasa rolling, naik turun terus menerus. Tak ada rasa kantuk maupun jenuh. Cleopatra terasa ringan dikayuh. Ranz menawari berhenti untuk foto-foto ketika kita melewati Alas Jati Panceng. Ini sekitar pukul 15.45, jarak yang telah kita tempuh sekitar 85 kilometer.

Di pagi hari kita memperkirakan jarak yang kita tempuh sekitar 90 kilometer, dari Wonoayu sampai WBL. Setelah melewati kilometer 90 (menurut cyclometer yang nangkring di handle bar Cleopatra) aku bilang ke Ranz yang katanya ingin ‘live’ di facebook. Namun ternyata, sesampai kita di pintu gerbang WBL, jarak yang kita tempuh kurleb 97 kilometer. LOL. Well, mung kin karena kita masuk ke kota Gresik, dan berputar-putar mencari jalan keluar. Setelah memotret sepeda dan diri sendiri LOL di depan WBL, kita ke penginapan Wisma Bintang Maharani. Penginapan ini terletak sekitar 300 meter sebelah Timur Goa Maharani, masuk gang.


Ranz telah booking satu kamar disini. Dia booking kamar non-AC dan kamar mandi luar, dengan harga Rp. 200.000,00, untuk mengirit budget. Namun kemudian Ranz sendiri memutuskan untuk meng-upgrade kamar yang akan kita tempati, menjadi kamar ber-AC. Aku sih senang-senang saja. Harganya terpaut Rp. 100.000,00 dan kita dapat sarapan gratis. Lumayan lah.

Untuk minuman selamat datang, kita mendapatkan dua botol air mineral dan sebungkus biskuit kelapa. Pak Imron – si penjaga penginapan – mempersilakan kita untuk ke pantry di lantai satu jika ingin membuat teh maupun kopi. Teh, kopi, dan gula disediakan disana. Tidak ada kompor, namun ada dispenser dengan air panas dan dingin.


Setelah check in, mandi, istirahat sebentar, sekitar pukul 19.00 kita keluar: Ranz butuh makan malam. Aku hanya butuh minum es teh. J Kita keluar berjalan kaki, mampir ke satu minimarket terdekat untuk beli pasta gigi dan air mineral, sebelum ke satu warung penyetan. 

To be continued!

Sabtu, 01 Juli 2017

SEGOWANGI 41

SEGOWANGI 41

Baru tahun ini, B2W Semarang tidak mengadakan segowangi di sepanjang bulan Ramadhan. Ya kebetulan aja waktu kita mengadakan segowangi ke 40, 25 Mei 2017, belum masuk Ramadhan; pelaksanaan segowangi ke-41, 30 Juni 2017, bulan Ramadhan sudah usai. J

Segowangi ke-41 yang kita laksanakan pada hari Jumat 30 Juni 2017 kita beri tema : halal bi halal, mumpung suasana Idul Fitri masih hangat. J dan karena bulan Juni adalah bulan ‘lahir’nya B2W Semarang, kupilih kaos/jersey warna kuning sebagai dress code. J


Di antara mereka yang datang, ada seorang ‘wajah lama’ yang sayangnya aku malah belum kenal. :D Namanya om Aryo. Dia bilang dia beli jersey ‘legendaris’ B2W Semarang (aku menyebutnya ‘legendaris’ karena ini adalah jersey pertama yang kita buat di tahun 2008) dan biketag B2W Semarang (yang pertama, yang bentuknya masih kotak) di tahun 2008 itu. Wuiiihhh ... Om Aryo datang karena ingin mengucapkan salam perpisahan karena beliau mau pindah ke Jember. Walaaahhh ... aku baru kenal malam itu, dia malah mau ninggalin kota Semarang. J



Satu wajah lama yang juga hadir adalah om Budenk, yang mencetuskan pembentukan B2W Semarang maupun Komselis. Selain itu, ada juga beberapa wajah yang sudah mulai jarang datang karena kesibukan masing-masing. Mungkin karena temanya ‘halal bi halal’ ya ... sekalian J

Ranz tidak datang kali ini karena masih ada acara keluarga di Solo – maklum lebaran. Aku minta tolong Avitt untuk memotret, menggunakan hapenya. Pak Guru Primazan juga membantu memotret, menggunakan hape Avitt. J



Rute : Balaikota – Tugumuda – Jl. Sugiyopranoto – Jl. Jendral Sudirman – Jl. Anjasmoro – PRPP – Semarang Indah – Jl. Indraprasta – Jl. Imam Bonjol – Jl. Tanjung – Jl. Thamrin – Jl. Pandanaran – Tugumuda – Jl. Imam Bonjol – Jl. Pierre Tendean – Jl. Pemuda – Balaikota.


LG 15.15 03/08/2017 

Senin, 19 Juni 2017

Bersepeda santai

Sekian hari lalu, aku bersepeda santai di satu pagi yang masih sejuk, karena sang surya masih bersembunyi di ufuk Timur. Mungkin karena pagi itu cuaca berawan.

Di ujung jalan Pierre Tendean jelang masuk jalan Pemuda, aku melihat 3 anak-anak naik 'sepeda roda empat', bukan seperti sepeda yang dipunyai kakakku, tapi hasil modif anak-anak itu sendiri, katanya. :) karena tertarik, aku benar-benar mengayuh pedal Austin sangat pelan untuk menjajari anak-anak itu. Tak lama kemudian ada seorang laki-laki (mungkin) berusia enampuluhan tahun menyapaku, mengajak sepedaan bareng. Sepeda yang dinaikinya lumayan, heist 5.0. Bisa buat ngebut nih. :)  Karena ga enak menolak, aku menerima ajakannya.

kebetulan pas langitnya bagus :)

Kita pun menyusuri jalan Pemuda sampai di depan hotel Dibyapuri, kemudian langsung balik kanan. Si Om mengajakku sepedaan ke Simpanglima. Dia memandang Austin sambil berkata, "Sekarang sepeda seperti ini sedang ngetren ya?" Wah ... aku malah baru 'ngeh' kalau sepeda lipat sedang ngetren sekarang. :) Lebih lanjut, dia bilang, "Banyak teman saya yang membeli sepeda lipat akhir-akhir ini. Saya sih tidak mau karena merasa tidak cocok. Saya pernah mencobanya, rasanya pelaaaan sekali dan berat." Aku hanya manggut-manggut. (Memang begitu lah yang kurasakan jika habis membiasakan diri naik Cleopatra selama, let's say, 3 minggu berturut-turut.)

Dalam perjalanan menuju Simpanglima, si Om bercerita pernah bersepeda Semarang - Cirebon, selama 5 hari, bersama 20 orang pesepeda lain. "Naik sepeda ini Om?" tanyaku. Jawabnya, "Tidak ... wah ...kalau naik ini lama nyampenya, saya naik sepeda balap. Kawan-kawan saya yang lain juga naik sepeda yang sama jenisnya."

"Pulangnya gimana Om?" tanyaku.

"Pulangnya naik kereta api." jawabnya.

"Sepeda juga naik kereta api kah?" tanyaku, ingin tahu.

"Tidak ... sepeda naik mobil pickup. Mobil pickup ini memang telah mendampingi kita sejak berangkat dari Semarang." jelasnya.

Kemudian si Om juga cerita pernah bersepeda di Bali. Karena aku pernah bersepeda dari Gilimanuk ke Denpasar, aku tahu treknya yang lumayan menantang, full rolling, meski tanjakannya ga tinggi-tinggi amat. (aku anggap tinggi jika tingginya sampai lebih dari 1000 mdpl). maka aku berkomentar, "Wah .. Gilimanuk - Denpasar lumayan tuh treknya!" Si Om menjawab, "Ga berat lah treknya." Aku tertegun. LOL. Tapi, kemudian aku ingat, waktu itu aku naik Austin dan bawa pannier, si Om pasti naik sepeda balap, tanpa pannier. Ya ga berat dong kalo begitu. LOL. Dengan sopan, aku bilang, "Ga berat ya Om ... jika naik sepeda balap." Tapi, kemudian si Om bilang, "Tapi sampai di satu kota mana itu, saya ga kuat, saya loading sampai kota tujuan." Oooooo ... :) Sayangnya waktu kutanya, di Bali bersepeda kemana saja, si Om ga tahu. Dia rupanya hanya 'ngikut' kawan-kawannya. :)

Sesampai di Simpanglima kita sempat muter dua kali. Kemudian si Om mengajakku lewat Sriwijaya. Aku mengiyakan. (Sebelum itu, dia 'wanti-wanti' ke aku agar berani mencoba bersepeda di tanjakan. Kalau dari Pahlawan menuju Sriwijaya kan lumayan nanjak tuh.) Sesampai di jalan Sriwijaya, melewati 'gundukan' di depan Wonderia, si Om menjajariku (sebelumnya di belakangku) sambil bilang, "Wah ... Mbak Nana kayaknya sudah biasa nanjak nih. Tadi di tanjakan ga nampak ngos-ngosan, ga nampak kepayahan."

Akhirnya, aku pun 'buka kartu'. LOL. "Sekian tahun yang lalu, saya mengantor di Gombel Om. Waktu itu, saya usahakan sekitar dua sampai tiga kali bersepeda ke kantor."

Tapi aku ga cerita banyak kok. Ceritaku berhenti disitu saja. :)

Anyway, thanks for accompanying me to go biking, sir.

IB 18.52 19062017

Rabu, 07 Juni 2017

Candi Ngempon : Aku datang lagi

Pertama kali aku ke Candi Ngempon yang terletak di desa Ngempon, Karangjati Kabupaten Semarang dengan naik sepeda di bulan Desember 2012. Bersama Andra dan Ranz, kita bertiga naik sepeda lipat. Waktu itu BRT a.k.a bus Trans Semarang masih membolehkan penumpang membawa sepeda lipat, jika memang kondisi bus memungkinkah alias sepi. Untuk mengirit waktu dan tenaga, kita naik BRT sampai terminal Sisemut Ungaran. Dari sana, kita mulai bersepeda.

Sekitar awal tahun 2016 (atau tahun 2015 ya), beberapa rekan pesepeda woro-woro bersepeda kesini. Aku ga (tertarik) ikut karena kebanyakan yang ikut laki-laki (eh, bukannya di tiap event sepedaan, perempuan sering menjadi minoritas yak? LOL). Khawatir jika terlalu lelet, malah mereka ga asyik gowesnya. J

Entah mulai kapan aku punya keinginan gowes ke Candi Ngempon naik Cleopatra, aku sendiri sudah lupa. Dan ... out of the blue, aku merealisasikannya hari Jumat 2 Juni 2017.

Sebenarnya pagi itu aku rada aras-arasen, tapi aku memang merasa butuh bersepeda, untuk melatih diri demi persiapan turing rame-rame. (Kalo hanya berdua dengan Ranz sih, nyante. LOL.) Semula, aku hanya ingin menambah kilometer di sportstracker, yahhh ... 20 kilometer pun sudah bagus.

Meninggalkan kawasan Pusponjolo, aku belok ke arah Jl. Simongan, lanjut ke Kaligarang. Di ujung Kaligarang, kebetulan traffic light sedang merah, aku malas berhenti, maka aku belok ke arah kiri. Entah mengapa – aku hanya mengikuti arah Cleopatra membelok – tak lama kemudian aku belok kanan, nanjak menuju Bergota. Sesampai Jl. Kyai Saleh, aku belok kanan, belok lagi ke arah Jl. Menteri Supeno. Sesampai Jl. Pahlawan, aku menuju Siranda. Nanjak Siranda, aku mulai mendapatkan ‘feeling’ yang baik, aku mau nanjak Gombel kalo gitu, kemudian turun lewat Sigar Bencah.


Selepas Gombel – sempat berhenti sekali untuk memotret Cleopatra dengan latar belakang Tugu Taman Tabanas ... ini bukan modus ga kuat lho yaaa – mendadak aku ingat keinginanku menyambangi Vihara Buddhagaya lagi, setelah lebih dari setahun aku tidak kesana. Akhirnya, aku tidak jadi belok ke Tembalang waktu melewati patung Pangeran Diponegoro, aku terus ke arah Pudak Payung.

Sesampai vihara, ternyata pintu gerbang masuk vihara tutup. Duh. Aku ingat sekitar 4 tahun lalu aku nyampe sini juga pagi hari, sekitar jam 7, tapi, aku sudah bisa masuk. Akhirnya aku hanya memotret Cleopatra di luar pintu gerbang. Pikir-pikir lagi, apakah aku mau langsung balik turun ke arah Tembalang, untuk menuju Sigar Bencah. Ternyata, aku malah justru melanjutkan perjalanan menuju Ungaran.


Di Ungaran aku berhenti di satu warung untuk sarapan. Si empunya warung ternyata masih mengenali wajahku. Waktu aku membayar, kebetulan ada seorang pemilik toko sepeda yang juga sedang membayar, si empunya warung langsung ‘promosi’, “Om ... si Mbak ini kuat lho ... dia bisa bersepeda ke Jogja!!” Owh ...

Setelah keluar dari warung, aku berpikir-pikir lagi, akan langsung pulang ke Semarang atau kemana. Mendadak aku ingat keinginan untuk mengunjungi Candi Ngempon lagi. hmmm ... Bagaimana ya? Sudah lumayan dekat sih, paling tinggal 10 km lagi, tapi ...

Rencana itu (hampir) kugagalkan. Aku ke alun-alun Bung Karno saja deh, memotret Cleopatra dengan latar belakang tulisan U N G A R A N. Namun, ternyata, aku lupa jalan menuju sana (jalan yang kulewati bersama Dwi dan Ranz beberapa bulan lalu). :D Aku malah balik ke jalan raya. Aku pelan-pelan mengayuh pedal Cleopatra, mencari jalan lain yang menuju alun-alun. Namun, aku tidak menemukannya. Ya sudah, aku lanjut saja. Aku mampir di pom bensin Lemah Abang untuk mampir ke toilet dan membeli air mineral. Air di bidon tinggal seperempat. Kemudian lanjut sampai pasar Karangjati. Setelah melewati Polsek Bergas, aku belok kiri.


Sempat ragu-ragu arah yang kutuju, aku bertanya pada seseorang yang berdiri di dekat pom bensin jalan menuju Pringapus itu. Dia menunjukkan jalan masuk di seberang pom bensin, lurus, sampai bertemu sebuah masjid, belok kiri. Luruuuus ... sampai bertemu satu pabrik, belok kanan. Aku mengikuti petunjuk itu. Setelah sempat bertanya ke orang lain lagi di jalan kampung yang kulewati, akhirnya aku sampai di gapura yang bertuliskan “Candi Ngempon”. Waaaa ... aku nyampeee!

Setelah memotret Cleopatra, aku memasuki jalan setapak yang dipenuhi lumut. Baru 2 meter mengayuh pedal Cleopatra, ban Cleopatra terpeleset lumut yang licin, aku pun jatuh terpelanting. Aku sempat menyadari bahwa aku akan jatuh, maka aku berusaha sedemikian rupa agar jatuhku tidak terlalu keras. (ini karena aku tidak ngebut waktu gowes.) Aku merasa baik-baik saja. Demi keselamatan, akhirnya aku memilih menuntun Cleopatra saja menuruni jalan setapak itu, hingga sampai Candi Ngempon.



Aku membawa Cleopatra ke dalam kawasan candi. Sempat dua kali memotret Cleopatra, ketika ada seseorang – dia sedang merapikan rumput yang mulai ditanam di kawasan dalam candi – menegurku, memintaku membawa Cleopatra keluar dan memarkirnya di luar. Aku mengiyakan. Saat itu aku baru menyadari, rantai Cleopatra lepas. Berusaha membetulkannya sendiri adalah upaya pertamaku. Ternyata gagal. L Aku terpaksa meminta tolong si Bapak yang tadi menegurku. Dengan baik hati, dia membetulkan rantai Cleopatra. Alhamdulillah. Rantai sudah bisa berputar.

Aku keluar dari kawasan Candi, menuju petirtaan Derekan. Aku mampir ke warung disana, minum es teh.


Tidak lama aku disitu, aku memutuskan melanjutkan perjalanan. Memandang jalan yang kulewati waktu datang, ah ... males lewat situ, aku putuskan untuk lewat jalan yang di bulan Desember 2012 lalu juga kulewati bersama Ranz dan Andra. Lebih jauh dan nanjak tinggi, namun jalannya lebih ‘manusiawi’. LOL.

Setelah menuntun melewati pematang sawah, sesampai di jalan yang aku yakin aku bisa menaiki Cleopatra, aku naik. Beberapa kayuhan, trek mulai nanjak, aku memindah gear. Mendadak, rantai lepas lagi, untung aku bisa menguasai keseimbangan sehingga tidak jatuh.


Mengingat jalan yang akan kulewati sangat eksotis, perbukitan, dan lebih jauh, akhirnya aku kembali ke arah datang. Gapapa deh harus melewati trek sempit yang licin itu, asal lebih pendek. J Aku menuntun Cleopatra, mungkin kurang lebih sampai 2 kilometer, sampai keluar di jalan raya yang menghubungkan Karangjati – Pringapus. Di satu tambal ban, aku berhenti, meminta tolong si Bapak untuk membetulkan rantai. Disitu baru ngeh kalau ternyata yang menyebabkan rantai bermasalah adalah RD yang patah. Waw ... jatuhku tadi seperti apa ya? Hhhhh ...

Si Bapak mau membantu, bersedia membelikan RD di satu toko sepeda di daerah Pringapus. Namun, ternyata dia tidak punya kunci L yang pas untuk melepas dan memasang RD. L Terpaksa, aku melanjutkan perjalanan, jalan kaki, sambil menuntun Cleopatra. Sepanjang jalan yang kulewati, semua bengkel (sepeda motor) tutup, mungkin karena sedang jam shalat Jumat.

Di jalan raya, aku melewati bengkel AHASS, iseng, aku mampir. Si mekanik yang baru datang dari shalat Jumat, langsung bilang, “Ga bisa Mbak ...” waktu kutanya apakah dia bisa membetulkan RD Cleopatra yang patah. L Dengan tetap penuh semangat, aku terus menuntun Cleopatra, hingga melewati pom bensin Lemah Abang.

my savior!

Mungkin, aku telah menuntun Cleopatra sejauh 6 kilometer, ketika aku melihat sebuah kios tambal ban. Si Bapak empunya kios dengan baik hati mencoba membetulkan RD yang patah itu. Aku sendiri sebenarnya sudah patah hati, dan pasrah akan menuntunnya sampai alun-alun (lama) Ungaran. Tak jauh dari situ ada toko sepeda, milik si Om yang kutemui di warung makan paginya. Tentu dia punya RD dong.

Lewat whatsapp, Ranz menyarankan untuk bilang ke si Bapak agar melepas RD saja, dan memasang rantai tanpa RD, hingga Cleopatra berfungsi single speed. Waktu aku akan bilang begitu ke si Bapak, ternyata dia sudah berhasil “mengakali” RD agar rantai bisa berputar untuk sementara. RD yang patah itu dia ‘sambung’ dengan paku! Brilliant!

I WAS SAVED!

Si Bapak yang baik hati itu menolak kubayar dengan alasan dia tidak membuka bengkel sepeda. Mungkin dia kasihan melihat emak-emak kurang kerjaan nyepeda sendirian, mau menuju Semarang. LOL. Alhamdulillah yaaahhh J Semoga Bapak murah rejeki dan panjang umur yaaa.

Secara pelan namun pasti, aku mengayuh pedal Cleopatra kembali. Awalnya, sempat was-was, jangan-jangan RD nanti patah lagi. Setelah lewat 3 – 4 kilometer, Cleopatra baik-baik saja kunaiki, aku memutuskan untuk langsung turun ke Semarang, tidak perlu mampir ke toko sepeda yang terletak di Ungaran. FYI, sepanjang perjalanan menuju Semarang, aku tidak berani mengganti gear.

Pukul 14.45 aku sampai di satu bengkel sepeda di Jl. Dr. Sutomo. Greaaattt! Cleopatra was saved!

Yah ... inilah pengalaman pertama bersepeda sendirian yang cukup mendebarkan, namun ga bikin kapok. J

LG 19.39 03062017

N.B.:

Masih sangat mungkin menemukan orang-orang yang baik hati di sekitar kita. J