Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label gowes narsis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gowes narsis. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Juli 2023

Solo - Jogja - Nanggulan - Bhumi Merapi 2

 


Selasa 4 Juli 2023

 

Pagi itu kami jadi bersepeda ke Nanggulan, after sorting out our disagreement, lol. Awalnya, Ranz sempat ragu-ragu apakah dia bakal mampu. Vertigonya terus menempel ke kepalanya. :( Dia sempat ngecek grab, butuh biaya berapa jika kami ke Nanggulan ngegrab. (aku diam saja, meski tentu aku akan lebih suka gowes, jadi aku bisa menyalakan strava, dan setelah selesai, aku bisa mengunggah screenshot strava hari itu ke medsos.) Ranz sempat juga bertanya apakah ada Trans Jogja menuju arah Godean. Seingatku ada. Keputusan aku serahkan pada Ranz, apakah kami jadi full bersepeda, apakah akan naik Trans Jogja, atau ngegrab.

 

Ternyata kami sampai area Nanggulan full bersepeda! Untuk sarapan, kami mampir di satu warung makan sederhana di area Jl. Godean km 4,5. seperti ini loh bagiku 'terserah dia mau mampir kemana'. Aku tidak akan mengeluh kok mampir ke sini atau ke situ, yang penting kami makan sesuatu.

 

Di Jl Godean km 16, Ranz melihat seorang penjual rujak/lotis. Dia mampir dan membeli satu porsi lotis, dibungkus, dan kami bawa sampai Nanggulan.

 

Aku kira sesampai Nanggulan, Ranz akan mengajakku mampir ke Geblek Pari atau Kopi Klothok atau kemana kek dimana kami bisa istirahat sambil ngemil lotis. Ternyata engga, lol. Kami menyusuri rute yang juga kami lewati waktu event J150K, dimana di sisi utara ada selokan yang airnya mengalir dengan lancar. Waktu aku meminta difoto Ranz di daerah situ, dengan entengnya dia bilang, "Ini ga ada bedanya dengan di Selokan Mataram," betul juga. Rugi amat yak, jauh-jauh bersepeda sampai Nanggulan -- 30 kilometer jaraknya dari Jakal km 5 -- kok ternyata fotonya jika dilihat secara sekilas, kami nampak seperti di Selokan Mataram yang tidak begitu jauh dari area UGM, lol.

 




Ranz mengajakku ngemil lotis di pinggir selokan! Untunglah, seperti yang kukatakan di atas, airnya mengalir dengan lancar, dan area di pinggirnya bersih dari kotoran. (Ranz paling ga bisa makan di area yang penuh sampah!) Di sekitar situ juga akhirnya kami berfoto-foto.

 

Usai ngemil lotis dan foto-foto, Ranz menawari apakah kami akan kembeli ke jalan kami datang, atau lanjut. Aku ga yakin apakah kami akan bisa menemukan jalan untuk kembali ke Jogja dengan mudah, tanpa repot-repot ngecek google map, maka aku usulkan untuk kembali saja.

 

Di tengah jalan, di pinggir selokan area Nanggulan itu, kami bertemu dengan rombongan 'turis lokal' yang naik mobil yang atapnya terbuka. Ada sekitar 11 mobil dan di tiap-tiap mobil minimal ada 4 penumpang plus sopir. Hmmm … ini cara mereka menikmati indahnya area Nanggulan kali ya? Kalau buatku dan Ranz kan cukup dengan sepedaan.

 

Perjalanan baliknya, Ranz semakin nyantai mengayuh pedal Hezel. Katanya, otot di kakinya mudah terasa panas jika dia memaksa diri untuk ngebut dalam waktu lama. Beginilah kondisi tubuh Ranz setelah dia rajin ngegym. Kayaknya ga bakal mungkin kami mengulang kisah bikepacking yang dulu-dulu dimana kami bisa bersepeda sampai 3 - 7 hari berturut-turut dimana setiap hari kami menempuh jarak sekitar 80 - 120 kilometer. Ya sudahlah, aku pasrah.

 

Sekitar pukul 14.10 kami sampai di Jl. Kyai Mojo. Aku mengajak Ranz mampir ke satu resto waralaba lokal, SS. Kami juga mampir kesini waktu ngikut event ultah JFB yang kesembilan di tahun 2018. kami nunggu makanan datang lumayan lama di sini, nyaris 30 menit!

 

Usai makan siang, kami melanjutkan perjalanan. Well, dari tempat kami makan siang sampai penginapan, kami hanya perlu bersepeda sejauh 5 kilometer. Kali ini tumben Ranz mengajak lewat kampus UGM, dia ogah melewati kemacetan di Jalan Kaliurang! Masuk UGM, kemudian kami melipir lewat lembah, dan keluar dari pintu gerbang di sebelah Utara, tak jauh dari kampus Fakultas Teknologi Pertanian (kalau tidak salah), ini sudah di samping Selokan Mataram.

 

Malamnya kami ke Maraville Café, satu kafe yang biasa kami kunjungi tatkala kami menginap di kawasan Jakal km 5.

 

Rabu 5 Juli 2023

 

Seperti yang sudah aku perkirakan, Ranz kepengen ke Bhumi Merapi. So, pagi ini setelah mandi, packing, sarapan (Ranz pesan gudeg via ojek online), kami meninggalkan hotel tempat kami menginap menuju Bhumi Merapi naik grab. Cuaca cukup muram. Gerimis turun now and again. Kami sampai Bhumi Merapi pukul 09.15, destinasi wisata ini buka jam 09.00. dan … saat itu, sudah lumayan banyak pengunjung!

 


 

Setelah membeli tiket masuk, per orang Rp. 35.000,00, kami masuk. Ranz yang kepengen membuat video di area 'langlang buana' langsung mengajakku kesana, tanpa perlu melihat-lihat lokasi lain.

 

Sekitar pukul 12.35 kami turun ke arah Jakal km 5. ada kabar duka dari keluarga Ranz: Budenya -- kakak dari ayahnya -- meninggal dunia, jadi Ranz diminta segera pulang ke Solo. Kami pun ga jadi naik KRL, tapi ngegrab ke Solo.

 

Menjelang pukul lima sore, keluarga Ranz berangkat menuju Jember, aku beli oleh-oleh terlebih dahulu, kemudian makan siang -- yang sungguh-sungguh kesorean -- di Wedangan Pak Basuki. Setelah itu, aku ke pool travel Citi*****. Aku naik travel pukul 18.00. alhamdulillah aku sudah sampai rumah sebelum pukul 20.00.

 

PT56 12.40 10.07.2023

 








Selasa, 28 Februari 2023

Sunmori ke Waduk Cengklik

 


Karena aku kembali harus 'rajin' dolan ke Solo untuk terapi, weekend tanggal 24 - 26 Februari 2023 aku berada di Solo lagi. Di hari Sabtu 25 Februari, aku sepedaan sendiri, sarapan di warung soto Hj. Fatimah yang terletak di Jl. Bhayangkara, kemudian muter lewat jalan-jalan yang aku merasa 'aman' aku ga bakal tersesat, hihihi. Sesampai stadion Manahan dan melihat street food court baru yang tertata rapi, aku berhenti dan nongkrong lumayan lama di sana.

 

Ranz bertanya aku pengen bersepeda kemana di hari Minggu, aku manut dia sajalah mau bersepeda ke mana. Seminggu sebelumnya kan dia sempat bilang mau mengajak ke Sukoharjo, ke RM ayam goreng Mbah Karto, tapi malah jadinya ke Omah Prahu Waduk Cengklik. One thing dari perjalanan itu: lumayan asyik juga lewat jalan yang jarang kita lewati. Aku dan Ranz kan cukup sering bersepeda ke arah Sukoharjo (plus lanjut Wonogiri), dan ke arah Jogja. Terakhir ke Waduk Cengklik (sebelum tahun ini) kalau tidak salah itu tahun 2015, waktu mengajak Dwi dan Tami ke Jembatan Landa.

 

Ranz menawari ke Waduk Cengklik lagi, tapi bukan ke Omah Prahu. Aku ya oke-oke sajalah, gapapa. Tapi waktu dia bertanya apakah aku ada ide, aku bilang aku pengen ke Alas Bromo (lagi). Terakhir ke sana waktu gowes virtual Jamselinas 2020. Ranz nampak rada ragu-ragu ke sana, dia bilang, "Tapi ini musim hujan, bla bla bla." Ya sudahlah, makanya aku manut dia mau nemenin aku bersepeda ke mana.

 

Minggu 26 February 2023

 

Seperti seminggu sebelumnya, pagi ini kami berdua sama-sama mager, lol. Setelah mandi, Ranz bertanya tujuan kita ke mana, lol. Piyeee, aku sudah membayangkan ke Waduk Cengklik (bahkan juga sudah membayangkan ke Omah Prahu lagi, aku juga tidak keberatan), malah Ranz ga jelas begitu. Lol.

 

Menjelang jam 8 baru kami meninggalkan rumah, menuju arah Colomadu untuk lanjut ke Waduk Cengklik. To our surprise, setelah melewati gapura Makuta Dewa, di sepanjang jalan (duh, aku lupa nama jalannya) ada CFD Colomadu. Perjalanan jadi tersendat, tapi ya gpp, toh kami ga terburu-buru mau kemana.

 


 

Di perempatan setelah melewati kawasan AU, Ranz mengajak belok kiri. Seminggu yang lalu, kami lurus masuk ke Kabupaten Boyolali. Oh ya, aku bilang ke Ranz aku pengen masuk ke Waduk Cengklik Park. Sesampai area Waduk Cengklik, ternyata suasana jauuuh lebih ramai ketimbang seminggu sebelumnya! Kami sarapan di satu warung di dekat WCP. Usai sarapan, aku mengajak Ranz masuk ke WCP, tapi melihat kerumunan para pengunjung yang banyak sekali di pintu masuk, Ranz ogah. Ya sudah, manut. (Aku manutan ya? Hihihi)

 

nasi pecel wader

 

Otw balik ke Solo, Ranz mengajak memutar ke arah Omah Prahu dulu. Kirain dia mau mengajak ke sana lagi, foto-foto lagi! Ternyataaaa engga! Cuma mlipir lewat sana doang. Ranz malah mengajak mampir foto-foto di De Tjolomadoe. Hokeee.

 

Setelah foto-foto di De Tjolomadoe (di tempat parkirnya doang, ga masuk gedung, so ga perlu beli tiket masuk), kami langsung pulang. Jarak tempuh 31 kilometer. Sesampai rumah, hujan turun, sampai malam!

 

MS48 18.06 28.02.2023

 




Senin, 27 Februari 2023

Samori ke Omah Prahu

 


Tanggal 18 February 2023 yang jatuh pada hari Sabtu adalah hari libur isra' Mi'raj. This is really something buat saya dan Ranz karena hari Sabtu adalah hari kerja buatnya! So? Mari kita dolan! Hihihi … Semula saya mau mengajaknya bersepeda Solo - Jogja di hari Sabtu, dan hari Minggunya bersepeda balik lagi ke Solo, itung-itung latihan endurance lah buat J150K. (biasanya kami menginap 2 malam di Jogja, baru balik lagi ke Solo.) Namun ternyata Ranz yang sudah lama pengen dolan ke Srambang Park - Ngawi lagi malah bilang, "Nanti hari Minggunya kita ke Srambang Park yuk!" hohoho … ya jelas saya tidak menolak diajak ke Srambang Park lagi!

 

Hari Jumat 17 February 2023 saya ke Solo naik travel, seperti biasa. Perjalanan kali ini sekalian saya niatkan untuk terapi di hari Jumat itu juga. Namun ternyata mbak Rina -- therapist saya maupun Ranz -- pergi ke Bali bersama keluarga. Ya sudah, akhirnya di hari itu, saya hanya menemani Ranz latihan di fitness center langganannya.  Siangnya sekitar pukul 13.00, Solo diguyur hujan. Ya sudah.

 

Sabtu 18 February 2023

 

Awalnya Ranz bilang mau mengajak saya bersepeda ke arah Sukoharjo, sarapan di RM Mbah Karto yang ayam gorengnya terkenal, apalagi Jan Ethes suka makan di sini. Wah, sudah bertahun-tahun kami tidak kesana, tentu saya tidak menolak. Jarak yang akan kami tempuh kurang lebih 35 kilometer pp. Ya lumayanlah.

 



 

Akan tetapi mendadak rencana ini berubah total. Ranz malah mengajak ke Waduk Cengklik, satu destinasi wisata yang pertama kali kami kunjungi saat saya pertama kali dolan ke Solo bawa sepeda lipat, 12 tahun yang lalu! Kali ini, ada tempat nongkrong baru yang bernama OMAH PRAHU. Jarak tempuhnya mungkin kurang lebih sama dengan ke arah RM Mbah Karto. Ya sudah, saya ngikut saja

 

Sabtu itu kami berdua sama-sama molor, lol. Hawa sejuk jelas membuat kami berdua malas bangun pagi. Hihihi. Di strava tercatat bahwa kami memulai gowes itu pukul 08.00 pagi. Makanya ga heran di perjalanan kami berpapasan dengan banyak pesepeda yang nampaknya juga baru berkunjung ke area Cengklik. Ternyata jarak yang kami tempuh dari rumah Ranz ke Omah Prahu hanya sekitar 13,5 km!

 



 

Di Omah Prahu kami hanya jajan gorengan karena perut saya tidak lapar sama sekali. (Jumat malam saya 'ngemil' mihun di Wedangan Pak Basuki, sementara biasanya saya 'puasa' makmal.) Foto-foto lebih penting di sini. Hohoho. Setelah kami rasa cukup, Ranz mengajak saya meninggalkan area, dan … dia mengajak ke Waduk Cengklik di arah yang berbeda: di titik yang pertama kali kami kunjungi.

 

Pulangnya Ranz mengajak sedikit memutar, dan kami 'brunch' di satu warung ayam bakar Taliwang di kawasan Banjarsari.

 

Sesampai rumah, jarak tempuh kami 31 kilometer. Ya gapapa, better than nothing lah. :D

 

MS48 20.38 27.02.2023

 beberapa foto lawas saat pertama kali saya dan Ranz ke Waduk Cengklik, di bulan Juni 2011, bisa dibaca di link ini. Link yang ini tentang gowes kami yang kedua ke lokasi yang sama. (hah! saya malah sudah lupa! hohoho)



Selasa, 28 Januari 2020

Gowes Imlek ke Watu Gajah Park




Tanggal 25 Januari 2020 tiba pada hari Sabtu, libur Imlek alias Chinese New Year. Setelah berdiskusi kita mau bersepeda kemana, akhirnya Ranz memutuskan untuk ke Semarang, karena pada hari Minggu 26 Januari aku harus mengikuti survey rute event "Back to Dahon 09022020" di pagi hari, dan di siang hari aku dan Ranz menghadiri acara istimewa di rumah Tami.



Sabtu 25 Januari 2020



Pukul 06.30 kita mulai meninggalkan kawasan Banjirkanal Barat; aku naik Cleopatra sedangkan Ranz naik Austin. Pagi itu cuaca mendung jadi enak buat bersepeda. Seperti biasa kita meilih rute Lapangan Kalisari ke arah RSUP Dr. Kariadi, di pertigaan kita belok ke arah Jl. S. Parman, kemudian kita belok ke arah Jl. Rinjani yang kemiringannya bisa kita anggap layak untuk pemanasan. :)





Selanjutnya kita ke arah pertigaan Kaliwiru, belok kanan ke Jl. Teuku Umar kemudian mendaki bukit Gombel. Kita berhenti di taman Tabanas untuk memotret Austin dan Cleopatra, sembari istirahat lah menata nafas. Lol. Sesampai ujung tanjakan Gombel, (aku sempat naik Austin, sedangkan Ranz menaiki Cleopatra), dua orang laki-laki yang mungkin usianya di atas 60 tahun (nebak2 sajaaa) menaiki road bike menyalipku pelan-pelan sambil mengacungkan jempol, "Wahhh … ibu hebat! Kuat nanjak Gombel!" duh … aku ngikik dalam hati. Ga tahu dia, sudah sejak tahun berapa aku mendaki bukit Gombel? Ternyata, waktu mereka menyalip Ranz yang berada di belakangku dan memotretku dari belakang, juga disapa oleh mereka, "Wah … istrinya kuat nanjak Gombel ya pak!" eaaaah … kapokmu kapan ndaaaaaaaa. Lol. Setelah Ranz bercerita tentang itu ke aku,  kita pun terkekeh-kekeh. Lol.



But, honestly, mengapa perjalanan mendaki Gombel kali ini terasa jauh lebih ringan ketimbang waktu aku mendakinya sendiri tanggal 10 Januari lalu? Apa karena aku naik Cleopatra (sampai taman Tabanas) atau karena aku ga sendirian nanjak yak?



Kita mampir di satu warung soto di daerah Banyumanik, tempat kita juga beberapa kali mampir sarapan disini sebelumnya (waktu bikepacking ramai2 awal tahun 2015, kemudian waktu bareng cewe2 pelor gowes ke Curug Gending Asmoro awal Juli 2018. sebelum sarapan, kita sempat bertemu dengan rombongan Federal Semarang yang akan bersepeda ke Museum Sangiran.





Setelah itu semua berjalan lancar. Ranz sudah tahu jalan ke arah Watu Gajah Park karena dia telah melihat papan petunjuk ke WGP waktu kita dolan ke Curug Gending Asmoro. Entah mengapa perjalanan kali ini terasa lebih ringan ketimbang waktu bersepeda ke Curug Gending Asmoro, karena tahu-tahu kita sudah melewati jalan dimana jika kita belok kiri kita akan sampai ke curug itu. Kita masih terus lurus. Tak jauh dari pertigaan itu, kita melewati tanjakan yang lumayan killing, padahal badan jalan sempit plus saat kita lewat, traffic lumayan padat. Dari pengalaman bersepeda ke Srambang Park bulan Desember 2019, aku berpikir mungkin orang-orang yang memenuhi jalan 'desa' itu juga akan menuju Watu Gajah Park. Hihihi …







Tak lama kemudian kita sampai hutan karet, yang dikenal dengan nama Alaska Ngobo. Dengan suka cita, kita pun mampir untuk berfoto-foto. Maklum, orang kota, kalau bertemu dengan hehijauan hutan, kita akan sangat suka berfoto ria lah. Waktu itu suasana masih cukup sepi, belum banyak orang yang lewat dan mampir. Saat akan meninggalkan hutan karet ini, tab-ku jatuh. (baca kisahnya disini)



Mungkin kita sampai di 'gerbang' menuju destinasi wisata Watu Gajah Park sekitar pukul 10.45. gerbangnya berupa patung gajah dengan ukuran cukup besar, di kiri dan kanan. Aku berhenti disini, ingin ngecek strava, sudah berapa kilometer kita bersepeda. 2 tahun lalu waktu bersepeda ke Curug Gending Asmoro, kita menempuh jarak 52 kilometer pulang pergi. Saat ingin ngecek strava ini aku baru ngeh kalau tab tidak lagi berada di tas pannier yang nangkring di rak pannier yang menempel di seatpost Cleopatra. :( aku sempat menuduh Ranz menyembunyikan tab -- untuk nggodain aku -- (dan Ranz juga berpikir aku menggodanya, lol) namun ternyata tab memang tak lagi berada di tas pannier. Dengan buru-buru Ranz langsung menaiki Cleopatra, kembali ke arah Alaska Ngobo untuk ngecek, barangkali tab terjatuh disana dan belum diambil orang.



Sekitar pukul 11.00 Ranz sampai di Alaska, melihat celingukan kesana kemari ngecek apakah tab-ku tergeletak somewhere disana, atau jika diambil orang, ada orang yang bisa dia 'curigai' untuk mengambil dan menyimpannya untuk dikembalikan ke aku. Ranz tidak melihat penampakan tabku somewhere, namun dia melihat ada satu orang yang berulang kali memandangnya dengan sorot mata heran. Suasana Alaska sudah ramai saat Ranz sampai sana. Karena tidak menemukannya, Ranz kembali ke gerbang masuk WGP tempat aku menunggunya sambil berharap semoga tab masih rezekiku.



Panik, lemas, menyesali kecerobohan sendiri membuatku linglung waktu ditanya apakah aku akan tetap ingin masuk ke WGP atau lanjut pulang saja. Namun, hal pertama yang harus kita lakukan adalah 'menyelamatkan' akun media sosial yang ada di tab agar tidak disalahgunakan si penemu tab. Maka, kita berdua duduk-duduk di tembok rendah yang ada disitu, aku mengganti password facebook dan instagram, menulis pengumuman di facebook tentang kehilangan itu. Saat itu, Ranz ngecek hp-nya dan terkejut waktu menerima voice message di WA-nya, message itu dikirim dari nomor WA-ku yang ada di tab. Voice message dikirim sekitar pukul 10.30. message itu berbunyi, "maaf mbak/mas, saya menemukan hp ini di karetan Ungaran, tapi ga tahu ini milik siapa." dengan penuh harapan, Ranz membalas message itu, namun tidak berbalas. Aku mencoba menelpon nomorku di tab itu, namun malah jawaban yang kuterima, "panggilan dialihkan". Beberapa saat kemudian, malah nomor sudah tidak bisa kutelpon, nampaknya tab mati.



Antara berharap bahwa si penemu benar-benar beriktikad baik untuk mengembalikan tab, namun juga pesimis apakah benar-benar si penemu mau melakukannya, akhirnya Ranz memutuskan untuk menghindari hal-hal yang tidak bisa kita antisipasi, dia me-reset tab itu dari jauh, setelah aku mengizinkannya. Meski aku sudah mengganti password facebook dan instagram, nomor WA di tab itu masih bisa digunakan.



Kebetulan saat ini, hujan turun dengan deras. Kita pun berlindung ke satu warung makan yang ada di luar kawasan WGP. Ranz memesan satu porsi mie ayam, satu gelas es teh, aku memesan satu gelas teh hangat. Kita berlindung dari hujan sekitar satu jam, hingga hujan berhenti dan sinar matahari terlihat. Setelah meyakinkan bahwa mood-ku sudah membaik dan aku masih mau masuk ke WGP, Ranz mengajakku ke pintu masuk WGP. (duh, menulis ini mendadak jadi ingat kejadian kamera Ranz dicuri orang saat kita mbolang ke Bali. Saat itu Ranz juga masih mau melanjutkan perjalanan gowes ke GWK, padahal kesana tanjakannya lumayan curam dan jarak masih jauh dari gapura masuk ke Univ Udayana tempat kamera Ranz dicuri orang.)










Tiket masuk WGP Rp. 15.000,00. WGP ini nampaknya cocok buat arena main anak-anak selain spot spot instagrammable buat para remaja dan dewasa. Sayangnya saat ini mendung menggayut di langit sehingga gunung Ungaran dan gunung-gunung lain yang seharusnya terlihat anggun tertutup awan.



Ranz dan aku meninggalkan lokasi sekitar pukul 14.45 setelah kita rasakan gerimis tipis kembali menyentuh kulit kita. Kita tidak mengambil jalan yang sama dengan jalan kita datang. Kita langsung menuju jalan raya yang menghubungkan Ungaran - Bawen. Saat sampai di jalan raya, di seberang kulihat ada halte Trans Jateng Ngobo. Jadi kalau kesini lewat jalan raya, itulah petunjuk kita belok kiri menuju WGP. :)


Saat melewati satu minimarket, Ranz mengajak mampir. Dia butuh membayar online shopping yang dia lakukan (shhhttt … out of the blue, dia beliin aku satu tab pengganti tab yang hilang di Alaska) disini gerimis masih terasa hanya menggoda, tipis tipis saja. Namun tak lama setelah kita melanjutkan perjalanan, mendadak hujan melebat. Kita pun buru-buru mencari tempat berteduh. Kita bawa mantel tapi hujan terlalu lebat sehingga kita memilih menunggu. Mungkin waktu menunjukkan pukul 15.50.



Jam 16.15 hujan tetap deras. Ranz mulai gelisah; dia paling tidak suka kita masih di jalan raya jika cuaca telah gelap. Mana kita berada di jalan yang memungkinkan kita disalip kendaraan-kendaraan besar, seperti bus dan truck. Pukul 16.25 kita meninggalkan lokasi. Kita berdua sama-sama mengenakan mantel. Hujan yang lebat ternyata dengan mudah membuat kita menggigil kediginan. Perutku pun kian keroncongan.



Kita sampai di resto SS Ungaran sekitar pukul 16.45. hujan sudah menipis tinggal gerimis. Karena kelaparan membuatku ga mampu terus melaju :D namun ternyata kata Ranz tanjakan dari situ tinggal sedikit. Tak jauh dari situ kita akan sampai gapura selamat jalan. Ya sudah, kita makan saja dulu. But to our disappointment, kita harus menunggu lama. Sampai pukul 17.30 belum ada tanda2 pesanan kita datang, minuman yang kita pesan pun belum datang. Ranz pun gelisah. Minuman kita (aku pesan segelas jeruk nipis panas, Ranz segelas es the) datang pukul 17.35. aku pun mengultimatum jika makanan belum diantar pukul 17.45 kita akan cancel pesanan. Untunglah ga lama kemudian makanan kita datang.



Pukul 18.20 kita keluar resto. Meski langit masih terlihat sedikit terang, Ranz sudah ngomel; kita bakal nyampai Semarang kemalaman. Karena hujan sudah berhenti, kita melanjutkan perjalanan tanpa mengenakan mantel. Namun, sesampai kita di sekitar pagoda Buddhagaya, Ranz komplain: kampas rem Austin habis! Jika dia mengerem, velg ban belakang Austin akan tergerus. She did NOT like such a situation. Dia kian ngomel. Hihihi. Dia bilang sesampai Banyumanik dia akan memesan go box yang akan membawa kita turun ke arah BKB.



Benar, sesampai area Banyumanik, Ranz mengajak berhenti, mencoba memesan go box. Aku sempat memintanya naik bus Taruna/Safari saja, kan sudah melebihi maghrib, bus itu masuk kota, sementara aku terus melaju naik Cleopatra. Ranz tidak mau. Dia tidak membolehkanku menuruni Gombel dalam kondisi gelap gulita dengan jalan basah yang mungkin bakal licin. Akan tetapi setelah panggilan go box-nya tidak ada menyambut, Ranz mengalah, kita lanjut gowes.



Sesampai Srondol, hujan melebat lagi. Kita pun mengenakan mantel lagi.


Alhamdulillah kita sampai kosnya Ranz pukul 20.00 safe and sound.


Dan Ranz bilang andai aku mengajak gowes ke WGP lewat Alaska Ngobo, dia bersedia menemani lagi. Aku masih penasaran andai tab tidak hilang, jarak di strava akan menunjukkan berapa kilometer dan berapa mdpl elevasi gain yang kita hasilkan. Ohh … maklum, aku ini pengabdi strava. Hohoho …



LG 12.12 28-Januari-2020

Senin, 15 Agustus 2016

Mendadak Nanjak Unnes

Well, sebenarnya ga mendadak sih :D Sudah beberapa minggu yang lalu 'wacana' ini -- bersepeda ke kampus Unnes -- diungkapkan oleh Dwi, si mahasiswa tingkat akhir Unnes. Sebelum lulus kuliah, minimal sekali dia memiliki pengalaman "bike to campus". :)

Kebetulan pagi itu yang memiliki waktu senggang menemani Dwi bersepeda nanjak Unnes hanya aku dan Ranz. Jadi, ya begitulah, di kisah kita kali ini, hanya ada 3 makhluk manis bersepeda. :D



Kita bertemu di perempatan jelang masuk Jalan Kelud Raya, sekitar pukul 06.40. Karena sama-sama belum sarapan, kita mampir sarapan dulu di warung soto di ujung dekat lokasi (eks) pasar Sampangan. Setelah sarapan, kita melanjutkan perjalanan.

Oh ya, aku naik Cleopatra, sepeda polygon cleo 2.0; Dwi naik Orenj, sepeda wimcycle roadchamp; sedangkan Ranz naik Haro, sepeda bmx.

Setelah satu tahun tidak menapaki tanjakan yang lumayan killing ini, terus terang aku sendiri ga pede akankah aku mampu sekali "tarikan" bersepeda nanjak ke arah Unnes ini. "Untunglah" Ranz yang menaiki Haro dan tidak membawa bidon ... plus Dwi yang newbie di rute ini memberiku excuse yang sangat masuk akal jika aku harus berhenti di tengah jalan, eh, di landing, agar (1) mengabadikan mereka yang berada di belakangku (2) aku ga dikatain ga mengerti perasaan yang lain yang kutinggal di belakang LOL meski sebenarnya alasan yang utama adalah aku butuh jeda untuk menenangkan nafas yang ngos-ngosan. LOL.





Dwi yang katanya sempat dagdigdug saat meninggalkan warung soto, akhirnya nampak tenang, setelah kita bercerita tentang seorang teman yang dengan tabah terus menerus menuntun sepedanya sepanjang nanjak ke Unnes karena tidak merasa perlu tertantang tanjakan itu. LOL. Kisahnya bisa dibaca disini. :) Ga kuat ngepit nanjak? Ga perlu sungkan, tuntun saja sepedamu. LOL.

Akhirnya pukul sembilan kita pun sampai Unnes. Yeay!

Sementara Dwi menunggu dosennya datang, untuk berkonsultasi skripsi dll, aku dan Ranz nongkrong di satu gazebo yang terletak tak jauh dari perpustakaan Unnes. Pinginku sih kita lanjut gowes ke arah Ngrembel, namun ternyata, Dwi baru usai urusannya pukul 14.00. Ya sudah, kita langsung gowes balik ke arah dimana kita datang.

Dan ... inilah kali pertama aku menapaki Trangkil bukan dalam posisi nanjak, namun turun! Haduuuwww! Rasanya aku nungging banget di atas sepeda gegara trek yang cukup curam. :( Tidak bisa begitu dinikmati ... Hiksss ... LOL. Well, lumayan laaahhh ... ada pengalaman baru buatku :D

Berikut foto-foto hasil jepretan Ranz, as always :D

LG 11.45 15 Agustus 2016









gazebo tempat aku nongkrong berdua Ranz, menunggui Dwi :D