Kamis, 31 Mei 2012

b2w: bersepeda dengan confidence

The English version of this post can be viewed here. :)

B2w menjelang tahun kelima: bersepeda dengan confidence

Tak terasa bulan Juli 2012 nanti aku memasuki tahun kelima bersepeda ke kantor. Tulisan ini untuk mengingat kembali awal aku bersepeda hingga ‘perkembangan’ aku bersepeda akhir-akhir ini.

Tanggal 26 Juni 2008 aku dan beberapa teman – yang semula hanya kenal di dunia maya di www.multiply.com – berkumpul untuk kemudian bersepakat mendirikan Komunitas b2w Semarang. (yang masih kuingat selain aku dan adikku, ada Mas Triyono, Mas Budenk, Mas Nasir, dan Firman.) Aku bahkan belum punya sepeda (milik sendiri), namun untung di rumah ada sebuah sepeda pemberian kakakku di awal dekade 90-an. J

Dengan sepeda merk ‘winner’ itu lah aku memulai ‘sejarah’ bersepeda ke kantor di awal Juli 2008. Jangan dikira keputusan itu mudah kuambil. Masalah utama adalah: JAIM. Hehehe ... Masak guru bahasa Inggris di sebuah English course cukup ternama di Indonesia berangkat ke kantor naik sepeda? Itu sebab aku berangkat seawal mungkin, sehingga aku sampai ke kantor para siswa belum datang agar tak seorang pun melihatku datang naik sepeda. :-p Pulangnya? Menunggu semua siswa pulang, baru aku keluar dari ruang guru dan pulang. (kacian yaaa? :-p)

Pertengahan November 2008, aku mendapatkan ‘loving surprise’ dari teman-teman Komunitas b2w Semarang: sebuah sepeda keluaran wim cycle road champion! Dua ‘alasan’ mengapa mereka patungan membelikanku sepeda. Pertama, sepeda ‘winner’ yang kunaiki terlalu tinggi untuk tubuhku yang mungil ini. :’d Kedua, mereka ingin aku pun ikutan gowes XC (cross country) karena aku ga mungkin ikutan XC jika naik ‘winner’. Selain karena sepeda ini terlalu tinggi untukku, shifter juga bermasalah. Di tahun 2008 – 2009 itu teman-teman Komunitas b2w Semarang suka mengadakan event XC bersama-sama; mulai dari XC di kawasan Alaska dekat BSB – Mijen, Banyumeneng, Wonolopo, sampai ke Medini, di daerah Ungaran. Dll.

dalam salah satu perjalanan XC di daerah Semarang Barat,
bersama Orange, the loving gift from loving friends

Mungkin ada hubungannya dengan sepeda yang kunaiki baru, atau mungkin karena aku mampu membangkitkan semangat pada diri sendiri bahwa tak perlu JAIM bersepeda ke kantor, plus bike tag yang kupasang di bawah sadel sepeda membuatku merasa sebagai salah satu ‘pahlawan lingkungan’ (lebay!) aku tak lagi merasa malu ketahuan para siswa bahwa aku berangkat ke kantor naik sepeda. J Bukankah aku seharusnya bangga telah ikut mengurangi polusi dan juga ketergantungan pada BBM?

Tak hanya tak lagi malu dan jaim, aku bahkan mulai ‘meracuni’ para siswaku untuk tak perlu malu berangkat ke sekolah naik sepeda. Berdasarkan pengamatan, anak-anak SMP di Semarang masih banyak yang berangkat ke sekolah naik sepeda. Namun ketika mereka telah menginjak bangku SMA, entah mengapa mereka mulai merasa malu karena memang jarang anak-anak SMA berangkat sekolah naik sepeda. Tentu aku menggunakan pengalamanku berb2w sebagai contoh nyata: tidak perlu malu bersepeda! J

Sekitar bulan April – Juni 2010, Komunitas b2w Semarang mengadakan talk show untuk mendesak pemerintah menyediakan jalur sepeda bagi para pesepeda yang jumlahnya dari hari ke hari meningkat. Dan, dengan diberlakukannya CAR FREE DAY oleh pemerintah di Semarang, semakin  memasyarakatkan sepeda. Sebagai salah satu ‘founding mother’ Komunitas b2w Semarang tentu aku sangat bahagia karenanya. Meski di tahun 2010 ini aku masih sering disoraki “ada pembalap perempuan!” ketika aku lewat di jalan-jalan kota Semarang karena aku mengenakan helm sepeda. J Usaha Komunitas b2w Semarang – dan beberapa instansi yang terkait – ini berhasil mewujudkan disediakannya jalur sepeda di Semarang di akhir tahun 2011, lepas dari campur tangan para politisi yang ingin melakukan usaha ‘pencitraan’ maupun ‘greenwash’ demi kepentingan pribadi mereka masing-masing. Meski pemanfaatannya belum bisa dimaksimalkan. (click these links here and there)

Event CFD yang dilaksanakan mingguan sebagai salah satu usaha pemerintah untuk membuat masyarakat lebih sadar akan pentingnya mengurangi ketergantungan pada BBM dan polusi udara nampaknya berhasil ‘menyepedakan’ masyarakat alias mengurangi rasa malu orang bersepeda. Mengenai apakah orang mulai mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, entahlah. Namun paling tidak, masyarakat tak lagi menganggap orang bersepeda ke tempat mereka beraktivitas aneh. Bisnis berjualan sepeda pun semakin menggeliat. Demikian juga dengan bengkel-bengkel sepeda mulai menjamur.

Dan aku secara pribadi semakin merasa pede bersepeda. Jika di awal kadang aku merasa agak ragu ketika akan menyeberang jalan, aku tambah luwes melakukannya. Maklum lah, aku bersepeda ke tempat kerja dimulai dari karena merasa ‘bertanggung-jawab’ untuk mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari karena keterlibatan dalam Komunitas b2w Semarang; bukan berangkat dari hobby bersepeda. Lama-lama justru bersepeda menjadi salah satu hobby yang paling sering kulakukan, ketimbang berenang, olahraga kesukaanku sebelum ini.

Dengan ‘meningkatnya’ status bersepeda dalam hidupku (lebayyy!) – tak lagi sebagai sarana berangkat ke kantor maupun ke tempat-temat lain yang ramah lingkungan – jarak bersepeda yang kutempuh pun semakin jauh. Bermula dari ikut event JOGJA ATTACK 5-6 Maret 2011 dimana para seli-ers gowes dari Jogja ke Candi Borobudur, b2w Semarang mengadakan event gowes keluar kota: misal Semarang – Kudus dan Semarang – Jepara untuk menjalin silaturahmi dengan Komunitas b2w di Kudus dan di Jepara.

Dan libur kenaikan kelas pada pertengahan bulan Juni – pertengahan Juli 2011, aku mulai melakukan kegiatan ‘bikepacking’ setelah bertemu partner yang cocok: Ranz dari Solo. Jarak Solo – Semarang yang 100 kilometer itu tidak pernah menyurutkan semangatnya untuk ikut event gowes di Semarang. Aku dan Ranz berbikepacking antara lain dari Solo ke Jogja; Semarang – Jepara – Karimun Jawa – Jepara – Semarang, Solo – Wonogiri – Pantai Nampu, Solo – Tawangmangu.
Begitulah. Bersepeda yang dulu tidak pernah masuk dalam kamus kegiatanku sehari-hari telah menjadi suatu kegiatan yang memberiku banyak pengalaman yang dulu ga pernah terbayangkan: ikut terlibat secara aktif menyuarakan pentingnya diadakannya jalur sepeda di Semarang, menjadi salah satu praktisi mengurangi global warming, bersepeda di daerah ‘hutan’ maupun menyeberang sungai, bersepeda dari kota ke kota, menyusuri daerah lain dengan naik sepeda, dan tentu mendapatkan banyak teman yang memiliki hobby sama. J

Dan ini adalah tulisan pertamaku untuk merayakan ‘anniversary’ keempat. Selama ini aku belum pernah khusus menulis dengan tema anniversary bersepeda. Aku semakin pede bersepeda ke kantor. Juga semakin pede gowes dari kota ke kota. Happy anniversary to myself!

GL7 15.45 310512

 P.S.:
1. click the following links for the talk show of JALUR SEPEDA in SEMARANG

2. Sebelum ngeblog khusus untuk menulis tentang sepeda di blog ini, tulisanku tentang bersepeda 'tersebar' di beberapa blog, di bawah label 'b2w' atau pun 'biking', klik link di bawah ini ya?
The Mystery in Life
Serba Serbi Kehidupan

Kamis, 24 Mei 2012

Gowes Penutupan JOGLO ATTACK 2012 : SOLO - SEMARANG

GOWES BERLANJUT

Dari Jalan Slamet Riyadi aku dan Ranz mampir ke warung es degan langganan Ranz. Setelah itu baru kita pulang, dan napping! YAY! Akhirnya sempat tidur siang. :)

Sore hari Ranz menawari apakah aku mau mencoba gowes Cleopatra, sepeda keluaran Polygon yang diberi tajuk ‘cleo 2.0’, yang diperoleh Ranz ketika mengikuti gowes tour Srikandi b2w bulan April kemarin. Waahhh ... memang itulah yang ingin kulakukan jika sempat dolan ke Solo. Maka sore itu kita gowes keliling kota, sekitar 15 kilometer.


Malem, aku mandi dan packing. Ranz menawari gowes Solo – Semarang keesokan harinya! Wahhh ... mau bangettt! Sudah lama pengen nyoba gowes Solo – Semarang namun belum tahu kapan bisa terwujud, tahu-tahu kesempatan sudah di depan mata! Asyiiikkk. Dan Ranz menawariku naik Cleopatra sedang dia naik Austin yang remnya langsung bermasalah setelah kupakai nanjak (plus turun tajam) Nglimut dan Ratu Boko. Hadeeehhh.


Minggu 20 Mei 2012



Hari libur memang kadang membuat kita males bangun pagi ya? Demikian juga aku dan Ranz pada tanggal 20 Mei, tanggal yang dipilih oleh Indonesia sebagai Hari Kebangkitan Nasional. :) tapi tekadku sudah bulat: gowes menuju Semarang!

Pukul setengah enam aku mandi, siap-siap. Untung semalam sudah selesai packing. Ranz hanya butuh memasang tas panier yang dia dapatkan waktu event gowes Srikandi di Cleopatra. Beberapa baju kotor masuk ke backpack b2w yang digendong Ranz di punggungnya, sedangkan beberapa baju yang masih bersih masuk ke tas panier.


Pukul setengah tujuh kita meninggalkan daerah Jongke.


Jika selama ini dalam perjalanan bikepacking kita sarapan terlebih dahulu di RM Soto Seger Mbok Giyem yang terletak di Jalan Bhayangkara Solo, kali ini tujuan kita sarapan di RM yang sama namun yang terletak di Boyolali. Tanpa ngemil apa pun, kita segera menuju arah Kartasura.


Bergaya ala pelatih Ranz mendampingiku gowes Cleopatra. (ribut dan cerewetnya ga seperti biasanya! Hadeeehhh ...) Sebelum sampai Kartasura, Ranz menyarankan setengah memaksaku mengayuh pedal dengan kecepatan 25 kilometer per jam, stabil. Mumpung track masih datar sehingga bisa ‘mencuri’ waktu. Namun setelah sampai di Kartasura, aku tidak bisa mencapai kecepatan seperti yang diharapkan Ranz. Ranz juga memintaku untuk latihan minum dari bidon dalam posisi terus gowes, mengambil bidon dari tempatnya, minum, kemudian mengembalikan bidon ke tempatnya kembali.

Naik sepeda memang baru membuat kita sadar bahwa ternyata track yang kita lewati itu adalah tanjakan (halus). Semenjak dari Kartasura sampai Boyolali tidak ada track turun sama sekali; terus menerus menanjak, berpuluh kilometer. Jika semula aku merencanakan istirahat pertama di RM Soto Seger Mbok Giyem, menginjak kilometer ke duapuluh, aku dan Ranz belok ke sebuah mini market untuk membeli air mineral dll. Sempat berfoto sejenak di depan mini market. Kurang lebih 15 menit kemudian kita melanjutkan perjalanan.

Tentu track terus saja menanjak. Matahari mulai menyapa kita dengan sedikit menggigit. Untunglah tak lebih dari 6 kilometer dari mini market tempat kita berhenti sebelumnya, kita telah sampai di RM Soto Seger Mbok Giyem. Yippeee ... :) Suasananya ternyata sama persis dengan suasana RM Soto Seger Mbok Giyem yang terletak di Jalan Bhayangkara Solo. Kali ini aku dan Ranz sama-sama merasa tidak butuh makan karbohidrat yang banyak, maka masing-masing kita memesan setengah porsi; aku soto ayam, Ranz soto daging (sapi). Untuk minum kita pesan es jeruk. Kita makan sambil istirahat cukup lama, sekitar satu jam.

Yang beda lagi dari perjalanan bikepacking kita sebelum ini, biasanya keluar dari RM Soto Mbok Giyem, kita beli beberapa jajanan, misal risoles, sosis, dll, kali ini kita tidak beli jajan apa-apa. Merasa ga butuh ngemil kali ya? :)

Satu jam kemudian kita melanjutkan perjalanan. Sempat berhenti sejenak ketika kita lewat atm B** karena aku butuh ambil uang cash. Dalam perjalanan berikut, Ranz tetap saja cerewet ngomentarin caraku gowes. (Lha, padahal waktu gowes ke Nglimut dia ga ribut lho.) Karena ga tahan diomelin melulu (qiqiqiqiqi) aku ngambeg. Wkwkwkwkwk ... Lha Ranz narget aku gowes seperti si pelatih para Srikandi narget pasukannya. Hadeeeehhh ... Untuk ini kita sempat berhenti sejenak di pinggir jalan kurang lebih 10 menit.



Setelah itu Ranz membiarkanku gowes sesuka-sukaku, asal aku terus gowes di pinggir kiri, mengikuti marka putih yang ada, ga lepas dari marka putih itu. Ga boleh agak nengah dikit.


Istirahat berikutnya di sebuah mini market; karena harus membeli air minum lagi; air mineral dengan cepat terminum habis. Sekitar 10 kilometer sebelum mulai masuk Salatiga. Ketika kita minum di teras sambil ngobrol, ada seorang bapak-bapak yang menghampiri kita untuk menyapa. Dia biasa gowes luar kota dan terlihat begitu antusias melihat kita berdua gowes. Dia memesan agar kita tidak lewat jalan lingkar karena itu membuat track yang kita lewati menjadi lebih panjang. Lebih baik kita lewat dalam kota saja, jaraknya lebih pendek.


Meninggalkan minimarket itu, kita terus gowes sampai melewati gapura selamat datang di kota Salatiga. Kebetulan jalanan lumayan padat karena ada perbaikan jalan. Waktu kita turun dari sepeda, menyempatkan diri berfoto, ada dua orang laki-laki naik motor khusus berhenti untuk menyapa kita. “Dari mana? Mau kemana? Hanya berdua saja kah?” Bahkan dia sempat memotret aku dan Ranz. Hihihihi ... Dan Ranz sempat memotret orang itu yang sedang memotretku. Qiqiqiqi ...


Setelah sesi foto-foto dirasa cukup, kita melanjutkan perjalanan. Aku benar-benar menikmati turunan dengan sekencang mungkin, setelah sebelumnya dipaksa melahap tanjakan, baik tanjakan halus maupun tanjakan curam puluhan kilometer. Ranz dengan lincah terus mengimbangiku, padahal dia naik Austin yang kondisi remnya tak lagi prima. Wew.


Sesampai di perkebunan kopi Banaran, kita berbelok. Sekitar pukul satu siang. Kita lanjutkan tema yang diusung oleh teman-teman Jogja Folding Bike: JAMBORE SEPEDA WISATA. Kita mampir ke Banaran untuk istirahat sekaligus berwisata. :) Di Banaran, kita tidak pesan makan ‘besar’, hanya satu porsi snack kombinasi (berisi satu potong mendoan, satu potong pisang goreng, dan tiga potong ubi goreng), satu porsi mendoan (berisi 3 biji mendoan), satu es jeruk buah buat Ranz dan satu jus jeruk buatku sendiri.


Jika dalam perjalanan dari Kartasura sampai Banaran sinar surya terus menyengat, tak lama setelah kita menikmati istirahat di Banaran, sinarnya mendadak redup: mendung! Maka sempurnalah istirahat kita. Angin sepoi-sepoi yang berhembus sempat melenakan, membuat malas bayangin gowes lagi untuk melanjutkan perjalanan. :)


Dua jam kemudian, pukul 15.00, kita melanjutkan perjalanan. Battery hp-ku sudah habis, maka aku tidak bisa mencatat perjalanan menggunakan sports tracker di hp. Dari Banaran masih ada tanjakan landai yang panjang yang harus kulahap, namun turunannya pun oke punya.



Pemberhentian berikutnya adalah ketika kita melewati gerbang selamat datang di Ungaran untuk berfoto! Kita sampai di Sukun kurang lebih pada pukul setengah lima sore. Kebetulan ada bus S*f*r* yang sedang berhenti menunggu penumpang. Aku dan Ranz bergantian sepeda dan tas. Setelah melepas roda Cleopatra, kemudian memasukkannya ke bagasi bus, Ranz naik bus. Aku menyeberang jalan untuk melanjutkan perjalanan.


Saat itulah kurasakan rem Austin yang memang sudah harus diganti agar bisa gowes dengan aman. (cannot imagine how Ranz did it from Solo to Sukun Semarang). Aku gowes pelan-pelan, terutama ketika melewati turunan tajam di Gombel. Tanjakan (meski sedikit) di beberapa ruas jalan tidak terasa sama sekali setelah melewati tanjakan-tanjakan dari Solo ke Semarang tentu saja.


Sekitar pukul 17.00 aku sampai di PT56. Legaaaaa. Senaaaaaanggg. Puaaaassssss. Dan sejenisnya itulah. Apalagi aku ga perlu tegang berjam-jam membayangkan Ranz gowes balik ke Solo dan menunggu kabar bahwa dia telah sampai rumah, safe and sound. (:-D I am sorry ya baby?)


This is really an amazing experience for me. Really really amazing as well as satisfying!



P.S.:
as always, my billion thanks to my darling Ranz for everything.

GL7 18.10 220512

































































Rabu, 23 Mei 2012

JOGLO ATTACK 2012 episode 1


JOGLO ATTACK 2012

Prolog

Setelah berhasil mengadakan event JOGJA ATTACK (yang pertama) pada tanggal 5-6 Maret 2011, Jogja FoldingBike (JFB) kembali mengundang komunitas sepeda lipat seluruh Indonesia untuk berkumpul kembali di Jogja pada tanggal 17-18 Mei 2012. Event kali ini diberi tajuk “Jogja Attack 2” alias “JAMBORE SEPEDA WISATA 2012”. Kebetulan pada tanggal yang hampir bersamaan Komunitas sepeda lipat Solo Raya juga merayakan hari jadi yang ketiga pada tanggal 18-19. Maka, jika kedua event ini digabungkan, terbentuklah nama “JOGLO (Jogja dan Solo) ATTACK 2012.

KOMSELIS sebagai salah satu wadah yang merangkul pehobi gowes dengan menggunakan moda transportasi sepeda lipat tentu tidak ingin melewatkan kesempatan ini dengan begitu saja. Atas koordinasi yang solid antara Mas Tunggal, Dany Saputra, Yuniar Wahyu Gunawan, dan Tedjohns, beserta para partisipan, Komselis pun menjadi salah satu komunitas dimana jumlah partisipan yang hadir dalam event JOGLO ATTACK lumayan banyak, berkisar 30-35 orang, yang terbagi dalam dua event – Jogja Attack saja atau Solo Attack saja – atau gabung di kedua event tersebut.

JAMBORE SEPEDA WISATA 2012 – JOGJA

Kamis 17 Mei 2012

Pada hari Kamis tanggal 17 Mei 2012 terkumpullah para anggota Komselis yang akan ikut ‘menyerbu’ Joga di ‘mabes’ mulai pukul 05.30. Setelah masing-masing sarapan di warung yang tersedia di sekitar mabes, menaikkan sepeda lipat ke atas sebuah mobil pick up, Mas Tunggal memimpin doa, kita meninggalkan tempat sekitar pukul 07.00.

Perjalanan menuju Jogja lumayan lancar meski agak tersendat ketika akan menjemput dua partisipan di daerah Bawen, Iwan dan Iqbal. Sesampai di Jombor, kita melakukan koordinasi dengan pihak JFB yang memberi kita petunjuk untuk menuju Pondok Pesantren Darul Ulum, Banguntapan, Bantul. Sesampai di PP DU, kita disambut dengan makan siang yang memang kita tunggu-tunggu karena kelaparan. Kebetulan Luna dan Ranz telah sampai disana.

Dari PP DU, sebagian dari kita gowes ke Dinas Pariwisata Jogja yang terletak di jalan Malioboro, sebagian yang lain berangkat menuju kesana tetap dalam mobil.

Sampai di Diparta sekitar pukul 14.00. Ternyata halaman kantor Diparta sudah sangat ramai dipenuhi para peserta ‘funbike’ dari segala jenis komunitas sepeda yang ada (tidak hanya komunitas sepeda lipat). Hampir semua peserta telah mengenakan t-shirt yang disponsori oleh ‘dagadu’, sementara rombongan Komselis belum semuanya sampai di tempat. Rombongan ID FB (komunitas sepeda lipat Jakarta) pun masih dalam perjalanan menuju Jogja dikarenakan macet di tengah jalan. Akhirnya kita memutuskan untuk tidak mengikuti para peserta funbike yang telah dilepas oleh panitia menuju Candi Prambanan. Komselis akan menyusul kesana bersama-sama. Untuk ini tentu JFB menyediakan beberapa marshal yang akan membawa kita ke Candi Prambanan. Dan, dikarenakan datang terlambat, anggota Komselis semua mendapatkan t-shirt ukuran XL. :)


Kurang lebih pukul 15.00 rombongan Komselis menyusul gowes ke Candi Prambanan. Marshal yang mengayuh pedal dengan lumayan cepat, ditambah ban sepeda Cipluk sempat bocor, rombongan pun sempat terbagi menjadi dua. Terjadi saling menunggu, namun akhirnya kita bersatu lagi.

Rute yang dipilih oleh JFB lumayan menantang dan menarik karena menyediakan pemandangan yang sangat sejuk di mata – persawahan, pedesaan, dan pegunungan di kejauhan – meski tentu jumlah kilometernya semakin panjang dibandingkan jika kita lewat jalan raya. Kurang lebih sekitar 5 kilometer sebelum sampai Candi Prambanan, kita bertemu dengan rombongan IDFB yang oleh marshal dipilihkan rute yang lebih pendek – melewati jalan raya – agar tidak terlalu ketinggalan di belakang.

Rombongan Komselis dan IDFB sampai di Candi Prambanan menjelang pukul 17.00. total perjalanan dari Diparta ke Candi Prambanan kurang lebih 25 kilometer. Disana kita disambut oleh pengumuman door prize untuk para peserta funbike dan nasi kotak yang lumayan lezat. Usai pembagian door prize, para peserta funbike meninggalkan venue, sedangkan para peserta JOGJA ATTACK 2 – anggota komunitas sepeda lipat dari beberapa kota di Indonesia – tetap tinggal di tempat. JFB sebagai panitia menyediakan tenda-tenda untuk kita menginap. Untuk kebutuhan air untuk mandi dll, di kawasan Candi Prambanan tersedia toilet yang lumayan cukup memadai. Meskipun begitu, sebagian rombongan (misalnya anggota komunitas ‘bikeberry’ dari Surabaya) menginap di hotel.


Acara malam dimulai dengan makan malam prasmanan yang lezat sekitar jam 19.00. Acara berikutnya, apel pembukaan acara JOGJA ATTACK 2. Para peserta berbaris rapi bersama ‘kontingen’ masing-masing. Kemudian kita menyanyikan lagu INDONESIA RAYA dengan penuh khidmat. (sudah berapa lama kita tidak menyanyikan lagu kebangsaan ini? J ) Memang terkesan sangat nasionalis kita menyanyikan lagu besutan WR Supratman ini di halaman camping ground Candi Prambanan, salah satu tujuan wisata kebanggan bangsa (khususnya kebanggaan warga kota Jogja).

Setelah saling memperkenalkan komunitas masing-masing dan jumlah anggota yang hadir – karena berhubungan dengan berapa jumlah ‘velbed’ yang harus disediakan panitia – acara selanjutnya adalah night ride di kawasan sekitar Candi Prambanan.

Usai night ride, panitia menyediakan api unggun dan hiburan musik. Komselis ikut meramaikan suasana malam ketika Dimas – peserta termuda Komselis – ikut menyanyi dan seorang lagi yang ikut ngibing. :-D

Menjelang tengah malam, acara usai. Semua peserta diminta untuk segera masuk ke tenda masing-masing untuk beristirahat.

Jumat 18 Mei 2012

Sekitar pukul 05.00 panitia sudah mulai membangunkan peserta untuk segera bersiap-siap, mandi, dll. Untuk mengganjal perut, panitia menyediakan arem-arem yang lumayan mengenyangkan dan enak plus teh panas yang yummy.

Pukul 06.00 panitia membuka acara di hari kedua. Acara pertama adalah senam erobik bersama instruktur yang khusus diundang untuk memimpin. Sayangnya sebagian besar peserta nampaknya masih lebih memilih melanjutkan tidur dari pada ikut erobik. Meskipun begitu tidak mengurangi semangat mereka yang ikut senam dan juga instrukturnya.

Usai erobik sekitar 40 menit, kita diberi waktu sekitar setengah jam sebelum mulai gowes bersama – menyusuri candi-candi di sekitar kawasan Candi Prambanan dengan tujuan utama Candi Ratu Boko.


Kurang lebih pukul 08.00 – setelah rombongan Surabaya dan beberapa komunitas lain yang menginap di hotel tiba di venue – kita mulai gowes menyusuri candi-candi. Marshal memberi kita petunjuk di titik-titik mana kita bisa berfoto dimana latar belakangnya sangat indah. Beberapa candi yang ada di kawasan Candi Prambanan yang kita lewati misalnya Candi Bubrah (seperti namanya, Candi ini memang sudah ‘bubrah’ alias berantakan L), Candi Sewu, Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul, dan Candi Sujiwan. Setelah lewat Candi Sujiwan, kita keluar area Candi Prambanan menuju Candi Ratu Boko.


Menjelang sampai daerah Candi Ratu Boko pemandangan semakin indah dan rute pun semakin menantang: tanjakan! :) Tanjakan yang semula halus akhirnya sampai juga ke tanjakan terjal yang membuat kebanyakan dari peserta akhirnya memilih ttb. (Percayalah, ttb adalah penyakit yang menular dengan sangat cepat! Begitu ada satu dua orang ttb, yang lain akan langsung ikut melakukan hal yang sama!) Dua peserta Komselis yang LOLOS tanpa ttb adalah Ranz dan Tuhu! Dua jempol buat Ranz (maklum, dia naik Shaun, seli da bike – nya yang terbuat dari besi plus roda hanya 16 inchi), dan empat jempol buat Tuhu dikarenakan ukuran tubuhnya yang aduhai. Dua tanjakan terakhir sebelum sampai kawasan Candi Ratu Boko ini sama terjalnya dengan dua tanjakan terakhir menuju Nglimut, namun tanjakan di Candi Ratu Boko ini jauh lebih pendek. Tanjakan terakhir menuju Nglimut ini jelas tak terkalahkan ‘killing’nya. :)

Sesampai di halaman kawasan wisata Candi Ratu Boko, peserta diberi kebebasan untuk masuk ke kawasan wisata (membeli tiket masuk sendiri Rp. 26.000,00 per orang) atau hanya menunggu di luar saja. Imam JFB memberitahu bahwa tiket masuk Rp. 26.000,00 itu sebenarnya merupakan tiket terusan Candi Prambanan + Candi Ratu Boko, dimana wisatawan diantar naik ‘shuttle service’ berupa mobil/bus mini dari Candi Prambanan ke Candi Ratu Boko kemudian kembali lagi ke Prambanan.


Kembali gowes ke Candi Prambanan sekitar pukul 10.50 rombongan meninggalkan Candi Ratu Boko, langsung menuju Candi Prambanan. Berangkat kita menempuh jarak 11.4 kilometer, kembali kita menempuh jarak kurang lebih 6 kilometer.
Sampai di Candi Prambanan acara bebas. Kita disediakan nasi kotak untuk makan siang. Masing-masing peserta berkutat dengan komunitasnya.

Dikarenakan hari itu adalah hari Jumat, sebagian pun bergegas menuju masjid yang terletak tak jauh dari kawasan Candi Prambanan untuk shalat Jumat. Usai shalat Jumat, sebagian anggota Komselis gowes ke Jombor untuk pulang ke Semarang. (Kebetulan yang berangkat ke Jogja membawa mobil sendiri sudah pulang terlebih dahulu malam sebelumnya, tidak ikut acara hari Jumat.) Sebagian menunggu jemputan mobil yang disediakan oleh Om Desi dari Komunitas Seli Solo Raya yang akan membawa sepeda ke Solo, lima orang – Tuhu, Holic, Dimas, Ranz, dan aku sendiri – memutuskan gowes ke Solo.


Kita berlima meninggalkan Candi Prambanan pukul 13.10. Matahari bersinar dengan terik. Untunglah kita menuju ke Timur, membelakangi cahaya matahari sehingga tidak harus ‘berhadapan’ dengan sinarnya. Dalam perjalanan kita pun bertemu dengan beberapa rombongan dari Komunitas IDFB maupun Sel-b (Bandung) yang juga gowes ke Solo.

Dimas sempat keteteran dalam perjalanan namun dia tetap semangat terus gowes. Setelah kita belok ke arah Pakis – tak lagi gowes di jalan raya – kita mulai mengurangi kecepatan, mengimbangi Dimas. Meski ruas jalan praktis lebih menyempit, ‘pressure’ dari kendaraan lain yang lewat tidak sebesar ketika kita gowes di jalan raya.


Memasuki Solo dari arah Selatan – Sukoharjo – kita sampai di stasiun Purwosari sekitar pukul 16.30. Jarak yang kita tempuh dari Candi Prambanan sampai Purwosari kurang lebih 49 kilometer. Setelah Dimas melakukan komunikasi dengan Dany dan Tedjohns, kita melanjutkan gowes ke arah Serengan, tempat tinggal Tedjohns dimana Komselis akan menginap. Kita berlima sempat mampir sejenak di sebuah warung es degan di dekat bunderan Baron, dimana Dany dan Tedjohns menjemput kita.

Sampai di kediaman Tedjohns menjelang maghrib. Kita mandi, membersihkan sekaligus menyegarkan tubuh dan istirahat sejenak.

Belum sampai pukul 19.00 rombongan Komselis telah sampai di air mancur Manahan, meeting point untuk NR bersama komunitas sepeda lipat dari kota-kota yang lain. Disini IDFB membagi-bagikan jersey untuk semua peserta, untuk kemudian dipakai bersama sehingga ketika NR semua partisipan mengenakan jersey yang sama. NR rencana menempuh jarak kurang lebih 10 kilometer dan berhenti di pasar malam Ngarsopuro untuk kulineran.

Sampai disini, laporan terpaksa kuhentikan karena aku dan Ranz tidak ikut NR.

To be continued.