Rabu, 26 Juni 2013

B2W 27 Juni 2013

Prolog

Permata Bangsa International School tempatku ikut berbakti kepada negara -- mencerdaskan kehidupan generasi penerus bangsa -- semula berlokasi di Jalan Gombel Lama no 7 Semarang. Karena sesuatu dan lain hal (halah), kampus pindah sejak awal Juni 2013. Well, lebih tepatnya mulai pindahan sejak awal Juni. Lokasi gedung baru membuatku harus gowes lebih jauh -- meski hanya kurang lebih satu setengah kilometer -- dan menanjak lebih tinggi. Jika semula aku menanjak tak lebih dari 200 m dpl, di gedung baru aku harus menanjak sekitar 225 m dp. Cakep. LOL.

Hari ini 27 Juni 2013

Kali ini adalah kali kedua aku b2w ke gedung baru. Jika yang pertama (tanggal 12 Juni 2013) aku naik Austin, sepeda lipatku merk downtube nova keluaran tahun 2011, hari ini aku naik Orenj sepeda mtb hadiah teman-teman b2w Semarang di tahun 2008, merk wimcycle seri road champion.

Aku berangkat dari rumah jam 5 pagi, masih gelap gulita. Jalanan tentu masih sepi. Biasanya aku sering bertemu dengan pesepeda lain, entah mengapa pagi ini aku jarang melihat penampakan pesepeda. Di tengah-tengah tanjakan Rinjani akhirnya aku bertemu seorang pesepeda yang mengambil arah yang berlawanan denganku, kubunyikan bel "kring kring" untuk menyapanya, dan dia membalas dengan berucap, "hello". :)
mampir beli jajan :)
Oh ya, tas pannier yang biasanya nangkring di boncengan Austin kali ini kupasang di handle bar Orenj, aku merasa perlu membawanya meski isinya hanyalah mantel. :) Aku tetap menggendong backpack berisi Sylvie, my cute silver laptop dan baju ganti. Untuk peralatan mandi, aku sudah menyimpannya di kantor.

Selepas tanjakan Rinjani yang amat ramah pada pesepeda, aku melaju melewati jalan S. Parman, sampai di Taman yang akan membawaku memutar ke arah RS Elizabeth. Terus gowes ke arah AKPOL, Kaliwiru, nanjak Teuku Umar yang tanjakannya lumayan tajam, untunglah pendek saja jalan ini. :) Setelah melewati sebuah lembaga bimbingan belajar PG, aku menyeberang untuk mampir ke sebuah mini market. Well, aku sudah membawa bekal untuk sarapan dan makan siang sih, tapi toh perutku tetap saja sering keroncongan sehingga merasa perlu untuk membeli jajan. heheheh ...
Orenj bersama Pak Bon, seorang b2wer juga
Dari mini market, aku terus gowes ke arah Pasar Jatingaleh, mulai menanjak lagi hingga sampai di gedung sekolah yang lama, Gombel Lama no 7, dan mampir sejenak, untuk mengabadikan Orenj di depan pintu gerbang. Kebetulan Pak Bon yang melihatku lewat langsung menyongsongku, maka kuajak dia berfoto saja bersama Orenj. Setelah ngobrol dua tiga menit, aku lanjut gowes ke arah Gombel Golf.

Dari gedung lama ke gedung baru ada tanjakan yang lumayan curam, namun pertama kali lewat dengan Austin, aku mulus saja maka aku yakin kali ini bersama Orenj aku juga bakal mulus melewatinya.
Orenj di gedung Permata Bangsa International School yang baru
Akhirnya sekitar pukul 06.00, sampailah aku di gedung baru. Horeeeee ... Waktu akan memotret Orenj di papan nama, seorang penjaga malam keluar dari ruang khusus untuk satpam dan memandangku sambil geleng-geleng kepala. "Zaman sudah enak naik brompit dengan bensin kok Mbak-e malah milih ngonthel to?" katanya ketika pertama kali dia melihatku b2w tanggal 12 Juni lalu. hahahaha ...

Demikianlah kisah b2w pagi ini. Entar sore pulang enaaaakkkk, tinggal nggelondor turun! (kecuali ketika akan keluar dari pintu gerbang Gombel Golf yang treknya menanjak curam itu! :'( )

GG 07.52 270613
P.S.: 
jarak tempuh 10 kilometer (dari rumah ke sekolah), kutempuh sekitar 50 menit, titik elevasi antara 5 m dpl hingga 230 m dpl, average speed 11 km/h, max speed 36,5 km/h, energy 327 kcal

Bike to Campus di UGM?

sepeda kampus UGM, Kampus Biru
Waktu berkesempatan dolan ke Jogja wiken kemarin 22-23 Juni 2013 (untuk mengikuti event #raceplorer2 yang diadakan oleh Dagadu), di hari Minggu pagi aku dan Ranz gowes ke kawasan UGM untuk 'cari' sarapan. (Kita menginap di satu hotel di kawasan Dagen Malioboro.)
datang pada jam yang tidak tepat, jadi back light deh

di eks kampus yang dulu bernama 'Fakultas Sastra & Kebudayaan'
Setelah bernarsis ria di papan tulisan UNIVERSITAS GADJAHMADA, kita masuk kawasan boulevard. Sungguh kaget aku ketika mendapati sepeda-sepeda berwarna biru terparkir rapi di tempat parkir berwarna biru pula, dekat Gelanggang Mahasiswa UGM. Wah, apakah di UGM sudah diberlakukan larangan kendaraan bermotor masuk kawasan kampus? Kok aku ketinggalan info yak?
Dan ... jadi pengen bike to campus! Siapa ya yang mau biayain aku ngelanjutin kuliah lagi? heheheheh ...
LIB 17.12 260613

Rabu, 19 Juni 2013

Bikepacking Sebagai Gaya Hidup

BIKEPACKING SEBAGAI GAYA HIDUP

Jika saja di pertengahan tahun 2008 lalu aku tidak ‘ditemukan’ oleh seorang penggerak komunitas bike-to-work Semarang, gegara posting komplain tentang harga BBM naik, mungkin aku tidak akan suka bersepeda; apalagi memiliki pengalaman bertamasya naik sepeda (yang biasa kusebut sebagai ‘bikepacking’).

di satu event Desember 2009, B2W Semarang bersama SOC
Maka begitulah. Setelah bergabung dengan beberapa orang pehobi sepeda (aku belum hobi bersepeda waktu itu) untuk mendirikan Komunitas B2W Semarang di bulan Juni 2008, merasakan bersepeda ke tempat kerja, menjadi ‘local celebrity’ setelah diwawancarai beberapa wartawan koran lokal karena menjadi praktisi b2w, bertemu dengan ‘calon’ soul mate bersepeda di tahun 2010, dan memulai bertamasya naik sepeda bersama pertama kali di bulan Juni 2011. Keasyikan bersepeda dari satu kota ke kota lain – hanya berdua saja – itu ternyata membuat kita ‘ketagihan’ hingga rencana demi rencana untuk berbikepacking pun kita buat dan realisasikan. Sungguh, ini adalah satu petualangan yang dulu tak pernah terpikirkan olehku!

Dalam tulisan ini, aku akan bercerita tentang perjalanan kita mengunjungi Upacara Perayaan Waisak di Borobudur pada hari Sabtu 25 Mei 2013.

Demi sebuah obsesi bersepeda dari Semarang ke Borobudur untuk menyaksikan kemeriahan perayaan Waisak, karena kita sadar tidak akan mampu menempuh jarak 100 kilometer dengan tanjakan-tanjakan yang tidak bisa dianggap enteng dalam waktu singkat, aku dan Ranz – my (biking) soul mate – memulai perjalanan pada hari Jumat 24 Mei 2013. (Ranz sendiri yang berdomisili di Solo telah datang ke Semarang hari Kamis 23 Mei.) Pukul 05.30 kita meninggalkan kos Ranz dengan mengendarai sepeda lipat masing-masing – aku naik downtube nova 20” sedangkan Ranz naik dahon da bike 16” single gear – ke arah Selatan kota Semarang yang terkenal dengan trek menanjak: Gajahmungkur alias Jalan S. Parman, Kaliwiru, Teuku Umar, hingga Gombel. Lolos tanjakan Gombel, kita agak dimudahkan dengan trek yang flat beberapa kilometer hingga kita dihadang tanjakan lagi di kawasan Pudak Payung, terus menanjak hingga Ungaran, dimana kita memutuskan untuk berhenti sejenak untuk sarapan sekitar pukul 08.00
jalan alternatif baru di Ambarawa
Usai sarapan kita melanjutkan perjalanan ke arah Bawen – juga full tanjakan – hingga masuk Ambarawa dimana kita dimanjakan dengan turunan sampai jelang tanjakan Jambu. Istirahat kedua kita lakukan di sebuah rumah makan Eva Coffee House dimana kita sempat nunut shalat Dzuhur. Trek rolling tanjakan turunan terus mengiringi kita sampai masuk kota Secang.
call me narcissist :D
alun-alun Magelang
Sesampai Secang, kita tinggal mengayuh pedal sepeda dengan santai karena kontur jalan berupa turunan halus. Horreeeeee ... Memasuki kota Magelang sekitar pukul 14.00, kita gowes semakin pelan demi menjelajah kota. Sesampai pertigaan Mungkid baru kita ngebut lagi. Borobudur kurang 15 kilometer lagi! Kita sampai di papan tulisan TAMAN WISATA CANDI BOROBUDUR (TWCB) sekitar pukul 16.00. Yay!!!

Borobudur 3 km lagiiiiii

mejeng dulu di 'stupa' :)
Meski banyak orang bilang bakal sulit mencari penginapan di sekitar Borobudur waktu perayaan Waisak, kita mendapatkan penginapan yang tidak jauh dari lokasi, meski harga sewa kamar terhitung mahal untuk fasilitas yang hanya kamar + double bed + kipas angin + kamar mandi luar. Namun kita lega. Malam itu cuaca cerah; di luar TWCB, kulihat banyak mobil parkir dimana kata seorang penduduk mereka adalah turis yang memilih menginap di mobil karena tidak mendapatkan penginapan. (aku dan Ranz sempat berpikir untuk nunut menginap di masjid / pom bensin lho jika tidak mendapatkan penginapan. Namun di kitaran TWCB kita tidak melihat ada masjid, apalagi pom bensin.)

Hari kedua Sabtu 25 Mei kita check out dari penginapan karena kamar yang kita pakai telah dipesan orang lain jauh-jauh hari. Maka agenda hari ini adalah mencari penginapan lain sebelum menyaksikan perayaan Waisak. Dengan bantuan seorang teman, kita mendapatkan penginapan dengan fasilitas sama – kamar + double bed + kipas angin + kamar mandi luar – namun lebih murah karena letaknya lumayan jauh, sekitar 2,5 kilometer dari TWCB. Dan ... dalam perjalanan menuju ‘homestay’ ini kita melihat sebuah masjid yang lumayan besar, yang bisa dijadikan nunut menginap, andai tidak mendapatkan penginapan. J

Setelah beramah tamah dengan pemilik ‘homestay’, kita tidak langsung ke TWCB, namun gowes dulu ke Punthuk Setumbu (PS), satu lokasi yang lumayan tinggi dimana dari gardu pandang yang ada kita bisa memandang candi Borobudur dari ketinggian (bagi yang matanya awas tentu saja. LOL.) Well, sebenarnya trek menuju PS ini tidak begitu ramah bagi sepeda lipat, namun apa boleh buat, kita ‘punyanya’ ya seli, plus kita telah keukeuh untuk mencapai lokasi apa pun yang kita kunjungi dengan gowes. Di awal trek, kita masih bisa gowes. Setelah melewati satu tempat lapang yang digunakan untuk tempat parkir, trek mulai sulit dilewati naik seli, namun aku mengajak Ranz untuk tetap membawa seli kita, dan bukannya memarkirnya; meski resikonya adalah tentu angkat junjung seli di titik-titik tertentu.
otw ke Punthuk Setumbu 1

ngemil apel dulu :)

nekad nyeli :D
PS – kata penduduk lokal – sangat terkenal dengan pemandangan ‘sunrise’ yang spektakuler, sehingga lokasi ini selalu penuh dengan pengunjung di pagi buta, terlebih lagi di weekend pas perayaan Waisak. Penduduk lokal pun mendapatkan pemasukan dari menjadi tukang parkir maupun pemandu para turis yang khawatir tersesat. Sebagian penduduk itu ‘menjaring’ turis dengan berkeliaran di kawasan TWCB.

Borobudur dari puncak Punthuk Setumbu
Setelah meninggalkan PS, kita langsung menuju TWCB, memarkirkan seli di tempat parkir yang banyak disediakan penduduk lokal, makan siang, dan ... menunggu lewatnya parade yang membawa air suci Waisak dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Bersama rombongan para bhikku/bhikkuni/umat Buddha yang membawa air suci, aku dan Ranz ikut masuk ke dalam TWCB.

Di dalam TWCB, pengunjung yang mungkin mencapai lebih dari 10.000 orang memadati lokasi. Banyak ‘turis’ dari kota-kota sekitar – misal Jogja, Magelang – sampai Jakarta, Surabaya, dll. Tentu juga turis manca negara ikut menambah semarak suasana. Semoga Candi Borobudur tetap berdiri kokoh karena diinjak-injak oleh ribuan orang dalam waktu bersamaan. (Hebatnya nenek moyang kita yang membangunnya ya?)

sebagian bhikku yang ikut parade

monumen Candi Borobudur dari dalam Taman

narsis itu HARUS :)

Karena berada di lokasi, aku ikut menjadi ‘saksi’ ricuhnya perayaan Waisak tahun ini karena pengunjung yang kurang menghormati upacara keagamaan ini. Mereka lupa bahwa upacara ini bukan ‘hanya sekedar’ ritual budaya semata. Semoga tahun depan panitia lebih siap dan tangguh menghadapi para pengunjung dan perayaan bisa berjalan dengan khidmat dan sakral. Amin.

Aku dan Ranz kembali ke homestay sekitar pukul 23.30, basah kuyup kehujanan.

Minggu 26 Mei kita membatalkan rencana untuk kembali ke PS untuk menikmati sunrise yang spektakuler. Hujan lebat semalam tentu membuat trek lebih sulit dilewati seli, plus malas berjibaku melawan hawa dingin dengan bangun di pagi buta. hehehehe ...

Sekitar pukul 07.30 kita sudah selesai sarapan dan pamitan dengan tuan rumah nan ramah. Rencana hari ini kita gowes ke Jogja!

Setelah berfoto sejenak di depan papan TWCB untuk dokumentasi, kita langsung gowes ke arah Candi Mendut. Sungguh di luar perkiraan jika dalam perjalanan kita bertemu dengan seorang bikepacker asal Jerman – Stephan – yang telah ‘mengembara’ di sepanjang Pulau Sumatra selama beberapa minggu sebelum menginjakkan kaki di Pulau Jawa. Semalam dia pun berada di TWCB, setelah selama 5 hari ngebut gowes dari Jakarta menuju Borobudur. Stephan telah keliling beberapa negara di Eropa dan Asia selama kurang lebih satu tahun lho, dengan naik sepeda! Kisahnya bisa disimak di www.cyclingeurasia.com

berdua Stephan di Candi Mendut
Di Candi Mendut, masih terlihat ‘sisa-sisa’ perayaan Waisak sehari/dua hari sebelumnya. Stephan nampak terkesan karena Candi Mendut lebih luas dibandingkan Candi Pawon yang dia kunjungi sehari sebelumnya. Dia juga terheran-heran mendapati banyak turis mancanegara di Borobudur/Mendut karena selama petualangannya di Pulau Sumatra selama beberapa minggu, dia hanya bertemu seorang turis manca.

Setelah mampir di Candi Mendut, ngobrol bertiga, sekitar pukul 10.30 kita melanjutkan perjalanan menuju Jogja bersama. Dalam perjalanan kita mampir ke Candi Ngawen yang terletak di Desa Ngawen Muntilan, sekitar 3 kilometer dari jalan raya Muntilan - Jogja. Candi Ngawen adalah Candi Buddha yang dibangun di abad yang sama ketika Dinasti Syailendra membangun Borobudur. Yang menarik adalah di bawah Candi Ngawen mengalir sumber air yang tak pernah kering sepanjang tahun! Jika kita menginjakkan kaki di dekat Candi, kita akan merasakan tanah yang gembur. Pemerintah telah membuatkan saluran air untuk mengalirkan sumber air dari bawah candi.
Candi Ngawen
Ada seorang satpam yang ditempatkan di lokasi untuk menjaga keamanan, meski tidak kutemukan plang papan nama CANDI NGAWEN. Dari arah jalan raya juga tidak ada papan petunjuk arah, jadi kita mengandalkan bertanya pada orang-orang sekitar yang dengan ramah menunjukkan arah. Untuk masuk Candi Ngawen, kita tidak ditarik biaya.
lanjut gowes ke Jogja
Dari Candi Ngawen, kita langsung gowes menuju Jogja. Sempat mampir di sebuah warung makan Padang yang sederhana di pinggir jalan raya. Harganya murah lho, hanya sekitar Rp 7000,00 per porsi, apa pun lauk yang kita ambil. Stephan pun nampak makan dengan lahap. Dia mengaku suka masakan Indonesia! Wah! :)

Usai makan, kita terus gowes. Seperti trek Secang – Magelang, kali ini kita pun diuntungkan dengan trek yang terus menurun halus. Aku dan Ranz mengantar Stephan ke Malioboro, dimana aku yakin dia akan menemukan penginapan yang murah. Katanya dia akan ‘stay’ di Jogja selama beberapa hari. Stephan sempat bilang bahwa dia akan stay di Indonesia lebih lama dari rencananya semula karena “Indonesia has many interesting places to visit!”
Ranz bersama Shaun, salah satu sepeda kesayangannya
di 'markas' Bikepacker Indonesia Jogja
Sekitar pukul 16.00 kita meninggalkan Malioboro menuju Solo (setelah Ranz menjemputku ke Semarang, gantian aku mengantarnya pulang.) Dari Solo menuju Semarang aku naik bus demi mengirit waktu dan tenaga. Sepeda kulipat dan kumasukkan ke bagasi.

Aku sampai rumah sekitar pukul 21.30. Excited, satisfied and ... relieved. :)

Bersepeda memang telah mengubah gaya hidupku, sebagai moda transportasi ke kantor, maupun untuk berwisata.

PT56 07.55 19/06/13

P.S.:

Ditulis ulang untuk mengikuti lomba “Kisah Perjalanan Bersepeda” yang diselenggarakan oleh www.nationalgeographic.co.id  

Link tulisan tentangku di beberapa koran lokal bisa diklik disini dan disini.

Jumat, 14 Juni 2013

Biking Soul Mate

Satu hal 'syarat' yang paling penting -- bagiku -- ketika bersepeda (terutama ketika menempuh jarak jauh, let's say lebih dari 50 kilometer) adalah a company alias teman bersepeda. Satu hal yang entah mengapa aku 'lupakan' ketika menulis "Bikepacking : what on earth is that?" (I am sorry ya Ranz? heheheh ...)
kita berdua mengenakan kaos disain Ranz di foto ini

Why a biking (soul) mate?

Om Eddy -- seorang senior cyclist di kota Semarang yang satu pagi kutemui ketika dalam perjalanan bike to work -- mengatakan bahwa bersepeda sendiri itu sunyi dan bakal mudah membuat kita terserang bosan. Jika ada seseorang yang bersepeda bersama kita, paling tidak ada seseorang yang akan kita kejar, jika kita tertinggal di belakang, yang akan membuat kita terus bersemangat untuk mengayuh pedal. Atau jika kita bersepeda terlalu bersemangat dan teman bersepeda kita tertinggal di belakang, kita akan memelankan diri untuk menunggu agar kita bisa bersepeda bersama lagi.

Well, more or less, aku setuju dengan apa yang dikatakan oleh Om Eddy. Namun aku punya banyak alasan lain mengapa aku butuh seorang Ranz untuk menjadi biking soul mate.

Pertama, hobi Ranz yang fotografi membuat perjalanan yang kita jalani bersama akan terdokumentasikan dengan baik. (Sedikit ngeles bahwa aku sangat narsis. xixixixixi ...) Ranz jagoan menjepret dengan kamera meski dia sedang bersepeda, apa pun sepeda yang dia naiki, Febby (sepeda BMX yang dia miliki), Shaun (seli 16"), Pockie (seli 20") maupun Karen (fixie), di segala medan yang kita lalui, tanjakan, turunan, offroad, apalagi jika trek halus mulus. Kebetulan belum pernah Ranz menaiki Cleopatra (polygon cleo 2.0) ketika gowes bersamaku. Yang pernah, aku naik Cleopatra, Ranz naik Austin (di kisah gowes Solo - Semarang), aku naik Cleopatra, Ranz naik Shaun (di kisah gowes ke Candi Cetho) atau aku naik Cleopatra, Ranz naik Pockie (di kisah gowes ke Alas Bromo)
di foto ini kita mengenakan kaos yang kita beli maupun kaos event

Kedua, Ranz lebih paham sepeda dengan spareparts-nya ketimbang aku yang hanya tahu menaikinya doang. LOL. So? kalau terjadi hal-hal di luar perkiraan, Ranz merupakan 'penolong pertamaku'. :) Misal (yang paling mudah namun aku belum pernah mencoba menanganinya sendiri): rantai lepas. heheheheh ...

Ketiga, Ranz sangat awas dengan rute yang telah maupun akan kita lewati. Praktis aku tinggal mengayuh pedal saja melewati rute yang harus kita lalui. Kadang kita butuh GPS atau ... yahhh ... cukup bertanya pada orang-orang yang kita lewati, tapi dengan adanya Ranz, aku tinggal ngikut. hahahah ...

Keempat, terutama ketika harus packing (ketika bertamasya naik sepeda alias bikepacking), Ranz sangat piawai mengatur bawaan kita sehingga semua barang bisa diatur dengan rapi (meski aku kadang 'menuduhnya' suka memperkosa tas pannier karena mengisinya dengan amat sangat fully-loaded. lol)

Kelima, mungkin karena Ranz merasa lebih muda dariku sehingga lebih kuat dariku, ketika berbikepacking, Ranz selalu yang merasa perlu bertanggungjawab untuk mengayuh pedal sepeda yang di boncengannya terbebani tas pannier kita. Di awal kita bersepeda (berdua) dulu, dia naik Snow White dengan tas pannier di boncengan, aku naik Pockie. Kemudian berlanjut hingga aku naik Snow White Ranz naik Pockie yang telah dipasangi rak boncengan di belakang, atau aku naik Austin, Ranz naik Shaun. Waktu gowes Solo - Semarang, berhubung aku naik Cleopatra dan Austin yang dinaiki Ranz belum ada rak boncengan di belakang untuk menaruh tas pannier, Ranz membawa backpackku di gendongannya. Tas pannier yang nangkring di Cleopatra isinya ga seberapa. Ranz is very loving and sweet, isn't she? :)

Selain Ranz, kita juga kadang ditemani si mungil namun perkasa Tami. Misal, ketika gowes ke Nglimut (kita juga ditemani Om Nasir yang jadi road captain), ketika kita gowes ke kawasan Mangrove di Mangkang, atau ketika kita gowes ke kawasan Tinjomoyo.

Selain Tami, aku dan Ranz pernah sekali bersepeda ditemani Andra, dalam kisah gowes ke Candi Ngempon.
kita mengenakan kaos yang kita beli, kecuali yang paling bawah sebelah kanan

How to get a biking (soul) mate?

Pertama tentu harus kenal dan tahu karakter teman-teman kita yang punya hobi yang sama : bersepeda. Untuk ini mungkin kita bisa gabung dengan komunitas atau pun klub bersepeda. Kemudian mencari pesepeda yang kira-kira memiliki karakter yang bisa klop dengan kita. Dalam tulisannya yang berjudul "The Black and White Adventure" Ranz menulis karakter kita yang bisa jadi bertolak belakang, aku kadang merasa kita justru saling mengisi. Misal: Ranz suka memotret aku suka dipotret. xixixixixi ... Aku suka membaca Ranz suka kubacakan cerita. Aku kurang rapi dalam packing, Ranz rapi sekali kalau packing.

Kedua, setelah mendapatkan beberapa teman yang berhobi sama, selanjutnya ya cobalah melakukan perjalanan bersama, untuk mengeklopkan karakter. Jelas butuh waktu untuk saling 'adjust', but it is worth trying. :)

Ketiga, sering-seringlah bersepeda berdua agar kita semakin paham karakter masing-masing. Jangan mudah patah semangat yak? :)

Tblg 11.32 150613

P.S.:
especially written for my one and only Ranz. We have been a (biking) soul mate for 2 years! Happy anniversary!


di Kaliurang Juni 2011, our first bikepacking
on Pulau Kecil beach, Karimun Jawa, our second travelling
near Gajahmungkur dam, on our (third) bikepacking to Nampu beach, September 2011



Nampu beach, Wonogiri, September 2011



Tawangmangu camping ground, our fourth travelling December 2011
at Sikidang crater, Dieng, our fifth journey January 2012


perbatasan kota Salatiga dari arah Boyolali Mei 2012
at one vihara Gunung Pati, June 2012
Kartini museum, Rembang, August 2012
masuk perbatasan propinsi Jawa Timur, bikepacking to Tuban, August 2012
gapura Wringin Lawang, Trowulan, November 2012 
on the way to Umbul Sidomukti, January 2013


on the way to Cetho temple, at Karang Pandan bus station, 26 January 2013
Kemuning tea plantation, Karanganyar, January 2013


di 'puncak' tanjakan Buntu, Banyumas
Baturraden, bikepacking to Purwokerto, March 2013


Ambarawa, on the way to Borobudur 24 May 2013
jelang tanjakan Jambu - Ambarawa 24 Mei 2013
Borobudur, before leaving for Jogja 26 May 2013

Jumat, 07 Juni 2013

Cycling Eurasia – cycling along Europe and Asia

Cycling Eurasia – cycling along Europe and Asia

Cycling Eurasia is the theme of Stephan – a bikepacker from Germany I met when I was on the way from Borobudur temple to Jogja. At that time I was still riding my bike when I saw a bikepacker riding his bike full of luggage in front of me. I greeted him without thinking that he was a foreigner. He in fact is from Germany and has been travelling by bike around some countries such as China, Thailand. Before arriving in Java island, he spent some weeks to explore along the coast of Sumatra island. Since he was heading for Jogja, I offered him to bike together with me and Nana, my biking mate. The first place we visited together was Mendut temple.
on our way to Ngawen temple
In Mendut, Stephan seemed to enjoy the exotic temple that was still full of visitors – both from Indonesia and abroad. Stephan was excited to see those foreign tourists since he said that he saw only one foreigner during his journey along Sumatra for weeks. In Sumatra he also hardly saw cyclists while in Java island he often found villagers riding bicycles in villages he passed by.

From Mendut temple, Stephan said he planned to search Ngawen temple he saw in his map. Nana and I agreed to accompany him to find it. Ngawen temple is located around 6 kilometers from Borobudur and to find it, we had to ask some people we met on the way because we didn’t find any sign to go there.

We spent around 20 minutes in Ngawen, then we continued our journey to Jogja. A friend gave me an address of Pak Jo, someone whose house was made as a homebase for bikepackers around Indonesia. Unfortunately when we arrived there, Pak Jo was not at home. This time we could no longer accompany Stephan because we had to continue our journey to Solo. We had to leave Stephan around Malioboro.

I thought it would be the last minute to spend with Stephan. In fact I was wrong.

**********
Two days later, Stephan called me to tell me that he would come the following morning and stay a night in Solo. I was happy to hear that because I thought there were some similarities between us: we both like cycling; during our journey, we both like any cultural events we find, nd we both also like tourist places in any city we visit: bikepacking is not just a matter of biking long journey without enjoying other things but biking itself. “There are many interesting places in Indonesia,” he said. I remember when we were at Mendut, Stephan asked me some questions about a parade he saw in Kutoarjo – one small town he passed from Jakarta to Magelang. At that time he asked someone about the parade and that person wrote in his small notebook, “khotmil quran”, “Isra’ mi’raj”. He then would ask someone else who can explain what those words mean.
Stephan's bike without the luggage :)
As a bikepacker who has travelled more than 17.000 kilometers, Stephan is a modest one: his bike is not ‘heavily’ upgraded, it is just a ‘standard’ one. no accessories in it. Stephan even ‘only’ wears sandals, not those shoes/sneakers made especially for cyclists. He just wears simple helmet, without gloves, buffs, or any other accessories/equipment.
preparing his luggage on his bike
Stephan checking his bike
When he arrived in Solo, I let him stay a night in my house. He seemed interested in some household equipment made of bamboos; he was also attracted at the pictures of my sister’s wedding party since in the pictures, my sister and her husband were wearing costumes that made them look like a king and a queen. The fact that there are 11 people of Ranz’s (extended) living together in 2 houses attched to each other was also interesting for Stephan to know.  
That night, after having dinner together (he ate 3 portions of fried rice! wow! LOL), Stephan told me that he wanted to go climbing Merapi mountain, but due to the changeable weather, he had to cancel that plan. Then we talked about the route he would take the following day. He would continue to East Java but he had to choose whether he would take the route in the middle (Ngawi and so on) or to the South (Sukoharjo – Wonogiri – Pacitan and so on). In fact I suggested him to visit Trowulan archeological sites. However, he chose to take the South route. FYI, he wanted to go to Malang and climb Bromo mountain. He also told me that he wanted to stay longer in Indonesia since, “There are many interesting places to visit here,” he said. J
at the parking lot of Kraton
The following morning, I accompanied him to go to a bookstore; he wanted to buy a map of Lombok island. Unfortunately we didn’t find one. Then I took him to Kraton Surakarta (the king’s palace. Arriving there, we were warmly welcome by the ‘abdi dalem’ (‘helpers’ of the king of Surakarta). They almost didn’t believe to see Stephan’s fully-loaded bike and his story that he arrived in Indonesia by bike all the way from Germany. They even gave us a special place to park our bikes. J Another nice thing was Stephan could ‘just’ buy a ticket for local people (not for foreign tourists).
before entering the gate of Kraton Surakarta

Stephan taking picture of one statue
From Kraton, I accompanied him biking to Sukoharjo, one small town, already out of Solo’s city. I gave him a phone number of a friend of mine living in East Java in case he needs a guide on his way to Bromo mountain.
about to leave Kraton

on one main road of Solo
Meeting Stephan – who has travelled more than 19000 kilometers along his journey around Europe and Asia – reminded me that biking long distance is a luxury to spoil ourselves, to enjoy the beauty of the world with its various rich different cultures. It is a big dream for me to travel abroad by bike; however it means nothing if we even do not know the beauty of our own country: by visiting those places by bike of course!.

Let us pedal our bike while enjoying the beauty of our world.

translated into English by Nana Podungge From Ananda Ranz' post


Tembalang 11.41 080613