Cari Blog Ini

Selasa, 14 Mei 2019

Samori Sendiri


Disclaimer : postingan ini berisikan curhat :D


Tahun 2018 adalah tahun 'termalas' saya dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Diawali dengan sakitnya Ibu saya di bulan Januari 2018, yang mengharuskan beliau masuk RS dua kali. Kondisi beliau semakin menurun di bulan-bulan berikutnya, hingga wafat di tanggal 17 Juni 2018. Hal ini ternyata sangat mempengaruhi mood saya sepedaan, meski tetap saya usahakan untuk ikut hadir di beberapa event ultah komunitas seli di Jogja, Magelang, dan Solo. Dan puncaknya menghadiri jambore sepeda lipat nasional di bulan September di Makassar. Namun, di luar itu, saya sangat tidak bersemangat bersepeda yang rada jauh, sendiri. Misal, sepedaan ke Ungaran, yang di tahun-tahun sebelumnya bisa sekali tiap dua bulan. Bahkan bersepeda ke arah BSB -- yang dulunya saya anggap "hanya disitu saja" lol -- saya tidak pernah lagi.



Imbasnya adalah saya menjadi tidak pede jika nanjak. Padahal tetap saya usahakan jika mau berangkat ke Magelang/Solo/Jogja saya bersepeda ke Sukun -- yang berarti melewati rangkaian tanjakan Jl. S. Parman -- Kaliwru - Jl. Teuku Umar dan gongnya adalah Gombel.

mampir minimarket membeli chainlube, rantai Cleopatra butuh diberi pelumas

Entah saya dapat 'urge' dari mana tapi hari Sabtu 4 Mei 2019 saya mengarahkan Cleopatra -- sepeda polygon cleo 2.0 -- ke arah Barat, hingga pertigaan pasar Jrakah, dan belok ke arah Ngaliyan. Semula saya hanya akan menuju BSB, kemudian turun di daerah TPA Jatibarang, yang tembus ke SMA N 7. Namun, ternyata sesampai BSB, saya membayangkan tempe garit di warung soto Mbak Tiah yang terletak tak jauh dari titik ) Gunung Pati, saya kepengen. Akhirnya, dari BSB saya melanjutkan mengayuh pedal Cleopatra ke arah pertigaan Cangkiran, kemudian belok kiri.




Dari pertigaan Cangkiran saya harus menempuh jarak sekitar 7 kilometer dengan trek rolling nan aduhai. Saya lupa sudah berapa kali saya lewat trek ini, tapi setiap kali lewat, saya tetap terkejut dengan tanjakan yang mendadak di depan mata. Lol.


Waktu mampir di satu minimarket, saya membeli satu botol air mineral untuk mengisi bidon yang airnya sudah hampir habis. Tapi ketika mau beli satu bread yang biasanya saya beli untuk mengisi perut ketika sampai sini, bread yang biasa saya beli tidak ada. :( well, saya mengayem-ayemi diri sendiri, "I'll be fine." "I'll be okay."


Kemudian saya melanjutkan perjalanan. Tanjakan pertama yang dilewati terasa biasa saja. "Loh, ternyata ga curam," kata saya pada diri sendiri. Uhuk. Kemudian, tanjakan kedua yang lumayan saya harus membungkukkan badan, barangkali bisa menambah tenaga di kaki untuk mengayuh pedal Cleopatra. Saat nanjak, terdengar beberapa orang seperti memberi semangat dari sebuah rumah, "Ayo mbak … ayo mbak … ayo …" hihihi … Setelah tanjakan terlampaui saya lega.


Saya pikir 'perjuangan' saya sudah cukup. Lol.


Namun ketika melihat jalan di depan yang lumayan berkelok-kelok dan rolling, saya berpikir, nampaknya saya harus minum nih. Dengan trek rolling begitu, plus di pinggir kiri adalah jurang menganga, saya tidak berani mengambil bidon untuk minum sembari terus mengayuh pedal. Ketimbang mendadak kehilangan keseimbangan? Mending saya berhenti sebentar, untuk minum.


Dan … setelah minum beberapa teguk air, saya melanjutkan perjalanan, dan kudu melewati 2 tanjakan lagi yang bikin saya sungguh-sungguh ngos-ngosan. Hwaaaaaaaaaa … nah kan, saya lupa! Tanjakan yang terakhir saya lewati membuat saya begitu merindukan tanda lalu lintas bahwa saya sudah akan sampai di titik 0 Gunung Pati. Hwaaaaaa … lol.

soto Mbak Tiah dengan tempe garitnya yang lezat

Yes, akhirnya saya pun sampai di pertigaan Gunung Pati, yang menghubungkan Cangkiran - Ungaran - Desa Kandri. Nafas ngos-ngosan, keringat membanjiri tubuh. Kekekkeke … lemes pokoknya. LOL. Sempat kepikiran karena sudah mendekati bulan Ramadhan, jangan-jangan rumah makan soto Mbak Tiah tutup. Hwaaa … kalau ga ada asupan makanan/minuman masuk, aku ga yakin bisa melanjutkan perjalanan hingga balik ke peradaban nih. Lol.


Untunglah, warung soto Mbak Tiah buka. Dan tempe garitnya yang delicious itu masih, belum dihabisin para tamu sebelumnya. Lol. Alhamdulillahhh. Saya makan semangkuk kecil soto, dua tempe, satu perkedel, satu gelas es jeruk, dan satu biji tahu bakso, saya cukup membayar, Rp. 18.000,00. Wow!




Dari sana, dengan full tenaga, saya kembali ke kota. LOL.


Jarak yang saya tempuh hari ini 50,2 kilometer, dengan elevasi gain sekitar 735 mdpl. Kapan-kapan saya kudu latihan nanjak lagi, gaes, sebelum diajak Ranz gowes nanjak kemanaaa gitu. :D


LG 15.43 07-May-2019