Rabu, 12 Februari 2020

Q & A from Back to Dahon




Dalam event "Back to Dahon" panitia membuka sesi tanya jawab yang akan dijawab oleh para panelis. (Nte Shinta sebagai presiden Id-Dahon, Om Poetoet sebagai ketua B2W Indonesia, Mr. Chang yang mewakili Dahon, Pak Hendra yang mewakili PT Roda Maju Bahagia, dan Nugie, mewakili pengguna yang kebetulan selebriti dan aktifis lingkungan.)


Pertanyaan pertama:

"Selama ini dahon meluncurkan produk yang berkualitas cukup bagus dengan harga yang bisa dijangkau masyarakat luas. Sayang dong jika dahon mampu memproduksi sepeda bagus, kok tidak sekalian memproduksi sepeda kelas premium, (kadang orang menyebutnya sebagai kelas sultan) kita semua tahu ada sepeda merk khusus yang hanya memproduksi sepeda kelas premium dengan harga berkali lipat dari dahon. Pastinya dahon bisa dong bikin sepeda sejenis itu. Pertanyaan saya adalah, akankah dahon memproduksi sepeda seperti itu? Dan kapan?"


Pertanyaan kedua:

"selama ini banyak orang yang membeli sepeda lipat dahon untuk kemudian di-upgrade. Frame dahon memang tangguh dan berkualitas bagus, namun kadang pengguna kepengen upgrade dengan diganti banyak parts yang sekiranya kurang mendukung untuk, misal ngebut, atau nanjak ke dataran tinggi. Kira-kira pabrik dahon.ion akan mengeluarkan dahon versi hanya frame saja kah? Soalnya sayang jika kita beli dahon dengan harga yang lumayan, tapi kemudian yang tetap kita gunakan adalah frame saja, parts yang lain kita ganti sesuai dengan kebutuhan dan keinginan kita."


Pertanyaan ketiga:

"Selama ini kita tahu event jamselinas, jambore sepeda lipat nasional, yang dihadiri oleh pecinta sepeda lipat segala jenis. Namun selain jamselinas, sekarang sudah mulai ada jambore sepeda jenis lain, misal jambore federal. Juga ada jambore sepeda lipat jenis lain. Lalu kapan dong kita mengadakan jambore sepeda lipat khusus buat dahon?"


Pertanyaan pertama dan kedua dijawab oleh Pak Hendra, selaku CEO PT RMB (Roda Maju Bahagia). Pak Hendra bilang bahwa dahon sudah memikirkan untuk memproduksi sepeda kelas premium. Untuk pertanyaan kedua pun, Pak Hendra mengatakan hal yang sama: tunggu saja tanggal mainnya.


Well, mungkin sebagai penjual, yang dikatakan oleh Pak Hendra itu bermuara ke motto para pelaku marketing, "apa lo minta, gue sediakan."


Namun, sebagai pesepeda, meski bisa dikatakan hobi koleksi sepeda, Ranz bilang, "Bukankah seperti yang dinyatakan oleh si penanya bahwa dahon selalu memproduksi sepeda dengan kualitas prima? Justru harga yang bisa dijangkau oleh masyarakat dengan kualitas sepeda yang di atas rata-rata adalah kelebihan dahon." maka, ketika mendengar jawaban Pak Hendra, aku dan Ranz saling menatap, bengong, trus tertawa. Looohhh … kok gituuuuu? LOL.


Terhubung dengan pertanyaan kedua, Om Heru dari Solo membawa satu sepeda (koleksinya) yang dipamerkan di tempat itu juga ke atas panggung, memamerkan bagaimana dia meng-upgrade sepedanya, hingga yang "tersisa" dari sepeda dahon itu hanya frame saja. Om Heru meminta masukan dari Mr. Chang yang telah bekerja di pabrik dahon puluhan tahun. Sayangnya Mr. Chang menjawab bahwa ketika 'membangun' sepeda, mereka meletakkan safety pada prioritas utama, dari, misal, hanya sekedar penampilan yang menarik. Nah, sepeda yang telah di-upgrade itu, bagi seorang Mr. Chang, sama sekali tidak memikirkan safety sang pengendara.


Untuk pertanyaan ketiga, nte Shinta memberi sinyal sangat positif bagi mereka yang hobi dolan untuk bersepeda di kota-kota selain kotanya sendiri: kemungkinan akan segera diselenggarakan jamselihon, alias jambore sepeda lipat dahon. Hohohoho …


Well, selain ketiga point di atas, saya rasa masih ada yang diperbincangkan, namun maafkan, saya lupa. Info menarik lain: akan ada gathering sepeda dahon klasik di Jogja di bulan Juli. Sedangkan untuk jamselinas yang akan diselenggarakan di Magelang, nanti pada tanggal 10 bulan 10 tahun 2020 (10 Oktober 2020), rasanya sudah cukup lama digaungkan yaaa.


LG 12-februari-2020


Back to Dahon




9 Februari 2020 terpilih sebagai tanggal terselenggaranya gathering para dahoners -- pecinta sepeda lipat dahon -- dan Semarang terpilih sebagai host karena sekalian launching pabrik "dahon ion" (dahon rakitan pabrik di Indonesia). Guess why? Yesss, karena pabrik dahon ion terletak di Kendal, tak jauh dari kota Semarang. Om Sinar dari "Sinar Baik" yang bersedia berepot-repot ria menyiapkan ini itu setelah ditelpon oleh nte Shinta, presiden Id-Dahon.



Oh ya, event ini KHUSUS hanya untuk mereka yang naik dahon pada saat event; ga peduli apakah itu sepeda milik sendiri, atau pinjam. Aku? Pinjam laaah … kan aku punyanya Cuma downtube nova (bukan DAHONtube nova loh yaaa) dan polygon urbano. Atau bagi yang duitnya banyak, kayak tinggal metik daun di pohon, boleh juga beli seperangkat sepeda dahon.ion di "Sinar Baik" langsung bisa ikut event!


Sebenarnya Dr. Hon sang founder dahon sudah mempersiapkan diri untuk hadir dan langsung menyapa para pecinta seli dahon, sayangnya karena beliau sedang berada di Cina, dan karena virus corona, Indonesia mencekal traveler yang datang dari Cina masuk ke Indonesia, Dr. Hon ga jadi datang deh.


8 Februari 2020


Para peserta event "Back to Dahon" yang ingin bersepeda di malam hari, diharapkan berkumpul di balaikota pukul 19.00. Aku ke balkot naik Shaun, dahon da bike klasik milik Ranz. Ranz sendiri datang kesini naik ojek, hihihi … Well, aku janjian dengan Riu untuk meminjam sepedanya!








Mungkin ada sekitar 50 - 60 pesepeda berkumpul di Balaikota malam itu. Setelah sesi foto oleh fotografer dari Sinar Baik, kita berangkat. Rute yang dipilih oleh panitia adalah Balaikota -- Tugumuda - Jl. Dr. Sutomo -- RSUP Dr. Kariadi -- Jl. Menteri Supeno -- Taman Indonesia Kaya -- Jl. Pahlawan -- Simpanglima -- Jl. Gajahmada -- Jl. Pemuda -- Jl. Agus Salim -- bundaran Bubakan -- Kota Lama. Di Kota Lama acara bebas, terserah para pesepeda ingin berfoto-foto di sebelah mana.


Setelah itu, panitia mengajak ke satu warung nasi goreng yang terletak di Jl. Kranggan Dalam untuk makan malam bersama. Bagi yang ingin menu lain, dipersilakan pergi ke tempat lain.


9 Februari 2020



Tikum gowes "Back to Dahon" di Sinar Bike Coffee Corner yang terletak di seberang danau BSB, terletak kurang lebih 12 kilometer dari rumahku, di ketinggian yang lumayan bikin keringetan dan nafas bakal ngos-ngosan jika kita gowes kesana. Orang-orang Semarang tentu paham lah trek dari pusat kota menuju BSB. Karena lokasi yang lumayan jauh dari pusat kota, sementara panitia (yang dari luar kota) plus peserta banyak yang menginap di hotel-hotel yang terletak di pusat kota, melalui WAG khusus peserta dan panitia event "Back to Dahon" panitia yang dari Semarang menganjurkan untuk loading saja ke BSB pagi itu.


Ranz yang sudah lama tidak bersepeda di area Semarang -- apalagi nanjak sampai BSB -- tentu juga enggan kuajak gowes nanjak begitu pagi-pagi sekali. Plus aku yang menaiki sepeda Riu, (masih butuh waktu lebih lama untuk beradaptasi sebetulnya); maka pagi itu kita berdua pun loading naik taksi online.



Kita berdua sampai sana sekitar pukul 06.20. sesampai tikum, sudah lumayan banyak peserta yang datang. Berbagai jenis sepeda dahon berkeliaran disana sini, mulai dari yang bannya berdiameter 14" hingga yang berdiameter 26", dari yang klasik (buatan tahun 1980-an - 1990-an) hingga yang terkini, keluaran pabrik dahon.ion Kendal. Surprising kaaan.


Meski Dr. Hon -- founder dari sepeda lipat dahon -- tidak jadi hadir ke Kendal karena terkendala kasus virus corona (kebetulan dia saat ini berada di Cina), antusiasme para undangan tetap bisa terlihat dari body language mereka. Event sepedaan seperti ini merupakan ajang silaturrahmi yang menyenangkan karena bertemu dengan para pehobi sepeda (lipat) (khusus dahon kali ini) nyaris dari seluruh Indonesia Raya. Untuk event ini, Om Sinar -- owner dari Sinar Bike Coffee Corner -- mengundang 300 orang, yang dibagi ke kota-kota tertentu, baik dari pulau Jawa maupun dari luar Jawa.


aku dan Boil, di perempatan Palir

"Pasukan" dilepas oleh Om Sinar dan Pak Hendra (CEO PT Roda Maju Bahagia) sekitar pukul 07.15 setelah acara dibuka oleh MC dan mendengarkan sambutan Om Sinar, Pak Hendra, dan Om Poetoet dari B2W Indonesia. Pagi itu cuaca mendung, lumayan melindungi dari hawa panas yang biasanya memapar kita yang berada di kota Semarang. Ada sekitar 10 road captain (naik sepeda dahon), 19 marshall  (naik motor) yang mengiringi peserta sehingga diharapkan tidak akan ada peserta yang tersesat. Panitia juga telah membagikan nomor telpon marshall, mekanik, dan dokter kepada peserta, in case mereka butuh bantuan.


Fotografer? Komselis menyediakan minimal 3 tukang poto, belum lagi masih ada dari pihak Sinar Baik. Kalau aku sih, ada Ranz yang akan mengabadikan, meski tentu dia tidak sebebas mereka yang naik motor, karena Ranz juga naik sepeda, apalagi dia naik Shaun, sepeda lipat dahon 16" classic yang dia buat menjadi single speed. 10 kilometer pertama dengan trek yang turun terus menerus membuatnya juga tidak leluasa memotret ketika di perjalanan. (Kalau begini, mending trek tanjakan deh. Biasanya Ranz akan ngebut, kemudian di depan dia akan berhenti untuk memotret kita-kita yang sedang ngos-ngosan nanjak. Lha kalau trek turun, semua juga wushhh wushhh wushhh … hihihi …)





Setelah meninggalkan BSB, kita berada di turunan Silayur (entah nama jalannya apa ya? Jl. Prof. HAMKA?) Setelah melewati Lapas Kedungpane, kita belok kiri. Jika kita terus menuruni jalan ini, kita akan sampai perempatan Palir. Jika belok kiri, kita akan sampai perumahan Beranda Bali BSB, jika lurus kita akan sampai Masjid Kapal, jika belok kanan, kita akan sampai Mangkang. Nah, kita belok kanan.


Di perempatan ini, para road captain mengarahkan para dahoners yang naik seli 20" untuk lanjut belok kanan, sedangkan yang naik 16" plus classic, diminta untuk berkumpul dahulu di perempatan itu. Kita memberi kesempatan dahoners 20" untuk menikmati turunan dengan leluasa. Setelah itu, baru dahoners 16" dan classic menyusul turun.




Di jalan yang masih sejuk plus di pinggir kiri kanan masih penuh hutan, kita bertemu dengan para pesepeda yang mencoba tanjakan Palir yang lumayan terkenal itu. Sebagian dari mereka terlihat menuntun sepedanya dan terlihat iri pada kita yang tinggal turun. (atau ini hanya perasaanku saja yak? Hihihi …)


Satu masjid yang terletak kurang lebih 100 meter dari pasar Mangkang dipilih sebagai tempat untuk pitstop dan regrouping. Jika di BSB panitia menyediakan arem-arem dan jagung (dua-duanya uenag!), di pitstop ini panitia menyediakan pisang dan bolu gulung plus air galon. Oh ya, peserta diharap membawa tempat minum sendiri-sendiri hingga kita tidak perlu membuang botol plastik. Kulihat waktu menunjukkan pukul 08.05 waktu kita sampai sini.




15 menit kemudian pasukan diberangkatkan kembali. Patwal yang mengawal kita bertugas 'membuka jalan' ketika melewati pasar Mangkang, sehingga kita tidak terputus.


Alhamdulillah semua berjalan lancar, hingga semua peserta mencapai garis finish, di pabrik Roda Maju Bahagia, KIK, sekitar pukul 09.30.


Panitia menyediakan sarapan berupa nasi pecel, bakso Malang, dan mie kopyok. Es sirsat dipilih untuk dessert. Enak enak semua pokoknya.




Oh ya lupa, sebagai ganti Dr. Hon yang tidak bisa datang, panitia mengundang Nugie, sang musisi yang terkenal juga sebagai pesepeda. Nugie didampingi oleh sang keponakan, Anit. Keduanya ikut bersepeda sejauh kurleb 20,5 kilometer lho. Bahkan mereka di-endorse oleh Pak Hendra, menaiki sepeda dahon.ion baru gress. Selain mereka berdua, Om Poetoet dan Nte Ria juga naik sepeda dahon.ion lhooo. Kehadiran Nugie yang tidak diumumkan sebelumnya menjadi a surprising gift buat para pesepeda yang ikut. Sesampai pabrik RMB, Nugie pun dikerubuti para pesepeda yang ingin mengajak foto bareng. :)



Selain itu, sebagai ganti Dr. Hon yang tidak bisa datang, panitia mengadakan video call dengan Dr. Hon yang langsung dishare ke semua peserta. Dr. Hon yang masih tetap nampak sehat dan awet muda di usianya yang ke-80 nampak sangat antusias berbicara di telpon. Dr. Hon terlihat sangat bahagia melihat para dahoners yang berkumpul di satu lokasi, dan antusias memamerkan rumah/pabriknya di Cina bagaimana dia begitu mencintai sepeda-sepeda yang dia produksi.


aku dapat door prize! yuhuuuu

Selain video call dengan Dr. Hon, panitia menyediakan sesi tanya jawab dengan Mr. Chang yang mewakili Dr. Hon. (untuk sesi ini, mungkin akan kutulis di postingan tersendiri, jika ga malas. Hihihi …) Bagaimana dengan door prizes? Oh jelaaaaas … ada banyak door prizes dibagi-bagikan dalam event ini. Door prize utama berupa sepeda dahon.ion full bike, alhamdulillahnya merupakan rezeki tak terdua Dimas Adhi Luhung, satu member komselis yang hobinya mencari jodoh. Hihihi …


Dimas (bawah, tengah) dengan door prize-nya

Last but not least, nte Shinta sang presiden ID-Dahon bilang akan ada gathering dahoners berikutnya lhooo. Entah akan diselenggarakan di kota mana. Eh, who knows akan bisa mendatangkan Dr. Hon yaaa?


(aku? Ah, aku tetap istiqomah datang ke jamselinas sajaaa, hihihi … lha piye? Aku ga punya sepeda dahon jeee. Kecuali kalau diselenggarakan di Semarang/Kendal lagi, dan Komselis menjadi panitia lagiiiii. Hohoho …)


Panitia menyediakan 2 buah bus untuk mengangkut peserta untuk kembali ke pusat kota Semarang. Aku dan Ranz? Seperti biasa, kita lanjut gowes lagiii. Alhamdulillaaah tetap diberi kesehatan dan semangat yang tak padam. Uhukkk …


LG 14.29 11-February-2020

Kamis, 06 Februari 2020

SEGOWANGI 71

Segowangi ke-70 yang jatuh pada akhir bulan Desember 2019 tidak banyak dihadiri orang karena hujan turun. Seingatku cuma ada sekitar 8 orang. Dan berhubung hujan, kita hanya berdiri-diri di gerbang 'keluar' Balaikota, tempat kita biasa berkumpul sebelum bersepeda bareng. Ranz juga tidak sempat ngeluarin kamera. :) Setelah menunggu kira-kira 30 menit hujan ga juga reda, akhirnya aku dan Ranz ke satu angkringan yang terletak tak jauh dari Pleret Banjirkanal Barat, menyusul om Asep yang mengajak kesana buat nraktir kita. yuhuuuuu. oh ya, Denny juga ikutan kita kesana.


Segowangi ke-71 kita selenggarakan pada tanggal 31 Januari 2020. Sore itu sempat turun gerimis. Menjelang maghrib gerimis di kawasan Banjirkanal Barat hingga Tugumuda gerimis sudah reda. Di beberapa lokasi lain masih turun hujan, kata kawan-kawan. Meskipun begitu, yang datang ke lokasi lumayan banyak. Alhamdulillaaah ... Terima kasih, kawan-kawan. Dan, seperti bulan November/Oktober lalu, banyak wajah baru. the more the merrier asal kita ga bikin kemacetan di jalan-jalan yang kita lewati yaaa.

berikut beberapa foto hasil jepretan Ranz, seperti biasa. :)




















Senin, 27 Januari 2020

Gowes Imlek ke Watu Gajah Park




Tanggal 25 Januari 2020 tiba pada hari Sabtu, libur Imlek alias Chinese New Year. Setelah berdiskusi kita mau bersepeda kemana, akhirnya Ranz memutuskan untuk ke Semarang, karena pada hari Minggu 26 Januari aku harus mengikuti survey rute event "Back to Dahon 09022020" di pagi hari, dan di siang hari aku dan Ranz menghadiri acara istimewa di rumah Tami.



Sabtu 25 Januari 2020



Pukul 06.30 kita mulai meninggalkan kawasan Banjirkanal Barat; aku naik Cleopatra sedangkan Ranz naik Austin. Pagi itu cuaca mendung jadi enak buat bersepeda. Seperti biasa kita meilih rute Lapangan Kalisari ke arah RSUP Dr. Kariadi, di pertigaan kita belok ke arah Jl. S. Parman, kemudian kita belok ke arah Jl. Rinjani yang kemiringannya bisa kita anggap layak untuk pemanasan. :)





Selanjutnya kita ke arah pertigaan Kaliwiru, belok kanan ke Jl. Teuku Umar kemudian mendaki bukit Gombel. Kita berhenti di taman Tabanas untuk memotret Austin dan Cleopatra, sembari istirahat lah menata nafas. Lol. Sesampai ujung tanjakan Gombel, (aku sempat naik Austin, sedangkan Ranz menaiki Cleopatra), dua orang laki-laki yang mungkin usianya di atas 60 tahun (nebak2 sajaaa) menaiki road bike menyalipku pelan-pelan sambil mengacungkan jempol, "Wahhh … ibu hebat! Kuat nanjak Gombel!" duh … aku ngikik dalam hati. Ga tahu dia, sudah sejak tahun berapa aku mendaki bukit Gombel? Ternyata, waktu mereka menyalip Ranz yang berada di belakangku dan memotretku dari belakang, juga disapa oleh mereka, "Wah … istrinya kuat nanjak Gombel ya pak!" eaaaah … kapokmu kapan ndaaaaaaaa. Lol. Setelah Ranz bercerita tentang itu ke aku,  kita pun terkekeh-kekeh. Lol.



But, honestly, mengapa perjalanan mendaki Gombel kali ini terasa jauh lebih ringan ketimbang waktu aku mendakinya sendiri tanggal 10 Januari lalu? Apa karena aku naik Cleopatra (sampai taman Tabanas) atau karena aku ga sendirian nanjak yak?



Kita mampir di satu warung soto di daerah Banyumanik, tempat kita juga beberapa kali mampir sarapan disini sebelumnya (waktu bikepacking ramai2 awal tahun 2015, kemudian waktu bareng cewe2 pelor gowes ke Curug Gending Asmoro awal Juli 2018. sebelum sarapan, kita sempat bertemu dengan rombongan Federal Semarang yang akan bersepeda ke Museum Sangiran.





Setelah itu semua berjalan lancar. Ranz sudah tahu jalan ke arah Watu Gajah Park karena dia telah melihat papan petunjuk ke WGP waktu kita dolan ke Curug Gending Asmoro. Entah mengapa perjalanan kali ini terasa lebih ringan ketimbang waktu bersepeda ke Curug Gending Asmoro, karena tahu-tahu kita sudah melewati jalan dimana jika kita belok kiri kita akan sampai ke curug itu. Kita masih terus lurus. Tak jauh dari pertigaan itu, kita melewati tanjakan yang lumayan killing, padahal badan jalan sempit plus saat kita lewat, traffic lumayan padat. Dari pengalaman bersepeda ke Srambang Park bulan Desember 2019, aku berpikir mungkin orang-orang yang memenuhi jalan 'desa' itu juga akan menuju Watu Gajah Park. Hihihi …







Tak lama kemudian kita sampai hutan karet, yang dikenal dengan nama Alaska Ngobo. Dengan suka cita, kita pun mampir untuk berfoto-foto. Maklum, orang kota, kalau bertemu dengan hehijauan hutan, kita akan sangat suka berfoto ria lah. Waktu itu suasana masih cukup sepi, belum banyak orang yang lewat dan mampir. Saat akan meninggalkan hutan karet ini, tab-ku jatuh. (baca kisahnya disini)



Mungkin kita sampai di 'gerbang' menuju destinasi wisata Watu Gajah Park sekitar pukul 10.45. gerbangnya berupa patung gajah dengan ukuran cukup besar, di kiri dan kanan. Aku berhenti disini, ingin ngecek strava, sudah berapa kilometer kita bersepeda. 2 tahun lalu waktu bersepeda ke Curug Gending Asmoro, kita menempuh jarak 52 kilometer pulang pergi. Saat ingin ngecek strava ini aku baru ngeh kalau tab tidak lagi berada di tas pannier yang nangkring di rak pannier yang menempel di seatpost Cleopatra. :( aku sempat menuduh Ranz menyembunyikan tab -- untuk nggodain aku -- (dan Ranz juga berpikir aku menggodanya, lol) namun ternyata tab memang tak lagi berada di tas pannier. Dengan buru-buru Ranz langsung menaiki Cleopatra, kembali ke arah Alaska Ngobo untuk ngecek, barangkali tab terjatuh disana dan belum diambil orang.



Sekitar pukul 11.00 Ranz sampai di Alaska, melihat celingukan kesana kemari ngecek apakah tab-ku tergeletak somewhere disana, atau jika diambil orang, ada orang yang bisa dia 'curigai' untuk mengambil dan menyimpannya untuk dikembalikan ke aku. Ranz tidak melihat penampakan tabku somewhere, namun dia melihat ada satu orang yang berulang kali memandangnya dengan sorot mata heran. Suasana Alaska sudah ramai saat Ranz sampai sana. Karena tidak menemukannya, Ranz kembali ke gerbang masuk WGP tempat aku menunggunya sambil berharap semoga tab masih rezekiku.



Panik, lemas, menyesali kecerobohan sendiri membuatku linglung waktu ditanya apakah aku akan tetap ingin masuk ke WGP atau lanjut pulang saja. Namun, hal pertama yang harus kita lakukan adalah 'menyelamatkan' akun media sosial yang ada di tab agar tidak disalahgunakan si penemu tab. Maka, kita berdua duduk-duduk di tembok rendah yang ada disitu, aku mengganti password facebook dan instagram, menulis pengumuman di facebook tentang kehilangan itu. Saat itu, Ranz ngecek hp-nya dan terkejut waktu menerima voice message di WA-nya, message itu dikirim dari nomor WA-ku yang ada di tab. Voice message dikirim sekitar pukul 10.30. message itu berbunyi, "maaf mbak/mas, saya menemukan hp ini di karetan Ungaran, tapi ga tahu ini milik siapa." dengan penuh harapan, Ranz membalas message itu, namun tidak berbalas. Aku mencoba menelpon nomorku di tab itu, namun malah jawaban yang kuterima, "panggilan dialihkan". Beberapa saat kemudian, malah nomor sudah tidak bisa kutelpon, nampaknya tab mati.



Antara berharap bahwa si penemu benar-benar beriktikad baik untuk mengembalikan tab, namun juga pesimis apakah benar-benar si penemu mau melakukannya, akhirnya Ranz memutuskan untuk menghindari hal-hal yang tidak bisa kita antisipasi, dia me-reset tab itu dari jauh, setelah aku mengizinkannya. Meski aku sudah mengganti password facebook dan instagram, nomor WA di tab itu masih bisa digunakan.



Kebetulan saat ini, hujan turun dengan deras. Kita pun berlindung ke satu warung makan yang ada di luar kawasan WGP. Ranz memesan satu porsi mie ayam, satu gelas es teh, aku memesan satu gelas teh hangat. Kita berlindung dari hujan sekitar satu jam, hingga hujan berhenti dan sinar matahari terlihat. Setelah meyakinkan bahwa mood-ku sudah membaik dan aku masih mau masuk ke WGP, Ranz mengajakku ke pintu masuk WGP. (duh, menulis ini mendadak jadi ingat kejadian kamera Ranz dicuri orang saat kita mbolang ke Bali. Saat itu Ranz juga masih mau melanjutkan perjalanan gowes ke GWK, padahal kesana tanjakannya lumayan curam dan jarak masih jauh dari gapura masuk ke Univ Udayana tempat kamera Ranz dicuri orang.)










Tiket masuk WGP Rp. 15.000,00. WGP ini nampaknya cocok buat arena main anak-anak selain spot spot instagrammable buat para remaja dan dewasa. Sayangnya saat ini mendung menggayut di langit sehingga gunung Ungaran dan gunung-gunung lain yang seharusnya terlihat anggun tertutup awan.



Ranz dan aku meninggalkan lokasi sekitar pukul 14.45 setelah kita rasakan gerimis tipis kembali menyentuh kulit kita. Kita tidak mengambil jalan yang sama dengan jalan kita datang. Kita langsung menuju jalan raya yang menghubungkan Ungaran - Bawen. Saat sampai di jalan raya, di seberang kulihat ada halte Trans Jateng Ngobo. Jadi kalau kesini lewat jalan raya, itulah petunjuk kita belok kiri menuju WGP. :)


Saat melewati satu minimarket, Ranz mengajak mampir. Dia butuh membayar online shopping yang dia lakukan (shhhttt … out of the blue, dia beliin aku satu tab pengganti tab yang hilang di Alaska) disini gerimis masih terasa hanya menggoda, tipis tipis saja. Namun tak lama setelah kita melanjutkan perjalanan, mendadak hujan melebat. Kita pun buru-buru mencari tempat berteduh. Kita bawa mantel tapi hujan terlalu lebat sehingga kita memilih menunggu. Mungkin waktu menunjukkan pukul 15.50.



Jam 16.15 hujan tetap deras. Ranz mulai gelisah; dia paling tidak suka kita masih di jalan raya jika cuaca telah gelap. Mana kita berada di jalan yang memungkinkan kita disalip kendaraan-kendaraan besar, seperti bus dan truck. Pukul 16.25 kita meninggalkan lokasi. Kita berdua sama-sama mengenakan mantel. Hujan yang lebat ternyata dengan mudah membuat kita menggigil kediginan. Perutku pun kian keroncongan.



Kita sampai di resto SS Ungaran sekitar pukul 16.45. hujan sudah menipis tinggal gerimis. Karena kelaparan membuatku ga mampu terus melaju :D namun ternyata kata Ranz tanjakan dari situ tinggal sedikit. Tak jauh dari situ kita akan sampai gapura selamat jalan. Ya sudah, kita makan saja dulu. But to our disappointment, kita harus menunggu lama. Sampai pukul 17.30 belum ada tanda2 pesanan kita datang, minuman yang kita pesan pun belum datang. Ranz pun gelisah. Minuman kita (aku pesan segelas jeruk nipis panas, Ranz segelas es the) datang pukul 17.35. aku pun mengultimatum jika makanan belum diantar pukul 17.45 kita akan cancel pesanan. Untunglah ga lama kemudian makanan kita datang.



Pukul 18.20 kita keluar resto. Meski langit masih terlihat sedikit terang, Ranz sudah ngomel; kita bakal nyampai Semarang kemalaman. Karena hujan sudah berhenti, kita melanjutkan perjalanan tanpa mengenakan mantel. Namun, sesampai kita di sekitar pagoda Buddhagaya, Ranz komplain: kampas rem Austin habis! Jika dia mengerem, velg ban belakang Austin akan tergerus. She did NOT like such a situation. Dia kian ngomel. Hihihi. Dia bilang sesampai Banyumanik dia akan memesan go box yang akan membawa kita turun ke arah BKB.



Benar, sesampai area Banyumanik, Ranz mengajak berhenti, mencoba memesan go box. Aku sempat memintanya naik bus Taruna/Safari saja, kan sudah melebihi maghrib, bus itu masuk kota, sementara aku terus melaju naik Cleopatra. Ranz tidak mau. Dia tidak membolehkanku menuruni Gombel dalam kondisi gelap gulita dengan jalan basah yang mungkin bakal licin. Akan tetapi setelah panggilan go box-nya tidak ada menyambut, Ranz mengalah, kita lanjut gowes.



Sesampai Srondol, hujan melebat lagi. Kita pun mengenakan mantel lagi.


Alhamdulillah kita sampai kosnya Ranz pukul 20.00 safe and sound.


Dan Ranz bilang andai aku mengajak gowes ke WGP lewat Alaska Ngobo, dia bersedia menemani lagi. Aku masih penasaran andai tab tidak hilang, jarak di strava akan menunjukkan berapa kilometer dan berapa mdpl elevasi gain yang kita hasilkan. Ohh … maklum, aku ini pengabdi strava. Hohoho …



LG 12.12 28-Januari-2020