Rabu, 09 September 2015

Semarang, sorganya pesepeda




Seperti yang kutulis di postingan ini, Semarang menawarkan trek yang lengkap, mulai dari trek datar, aspal halus, trek tanjakan/turunan aspal halus, maupun trek offroad yang datar maupun tanjakan/turunan. 

Di tahun 2008, sebagai seorang newbie bersepeda – meski tentu aku telah bisa bersepeda sejak duduk di bangku SD – bersepeda di trek tanjakan tentulah merupakan satu siksaan, padahal tahu sendiri kan trek di kota Semarang, tanjakan/turunan adalah menu yang tersebar di seluruh penjuru kota, apalagi di pinggiran kotanya. You name it! Maka, aku pun waktu itu bisa dikategorikan sebagai anggota ‘komsatun’ alias komunitas sepeda penuntun. LOL. Bahkan di ‘tanjakan’ yang tak seberapa, misal Jalan Menteri Supeno dari arah Jalan Pahlawan, atau yang tak jauh dari kediamanku, Jalan Pamularsih. Bisa dipastikan aku tentulah menuntun sepeda yang kunaiki.

Oh ya, waktu itu, aku masih naik mtb merk WINNER, yang seusia dengan federal. Sepeda WINNER ini dibelikan oleh kakakku di awal decade sembilanpuluhan, dan jarang dibawa ke bengkel. Ketika ‘tiba-tiba’ aku kecemplung di komunitas B2W Semarang dan mulai bersepeda (ke tempat kerja) sepeda ini tentu langsung saja kunaiki – setelah kupompakan bannya – tanpa ngecek apakah ada parts lain yang harus diperbaiki. Walhasil, jika aku mencoba memindahkan gear-nya, rantai pun langsung lepas. Jika rantai lepas, aku tidak bisa memperbaikinya (hohohoho …), maka sepeda pun kutuntun. LOL.

You can imagine bagaimana ekspresiku ketika beberapa teman mengajak bersepeda ke arah Tinjomoyo atau Gunung Pati. HAH? Apa mereka ga sadar kalau ke dua lokasi itu berarti bakal gowes full tanjakan? Hadeeehhh.

Tanpa kusadari ternyata lama-lama, aku mulai bisa juga menapaki tanjakan tanpa menuntun. Horraaayyy. Thanks to … myself! LOL.

Beberapa trek yang kusarankan buat para pendatang baru di Semarang.
1)     Trek datar aspal halus, ini tersebar di seluruh penjuru kota, misal di jalan-jalan dalam kota. Aku pernah sangat suka bersepeda sepanjang jalan arteri alias Jalan Soekarno – Hatta, dari ujung Jalan Majapahit hingga RS Panti Wiloso – Citarum. Selain itu, masih di jalan arteri, pilihannya dari ujung dekat bunderan Kalibanteng, hingga Kaligawe. Namun harus hati-hati, jalan yang ini penuh dengan kendaraan-kendaraan besar, seperti truck. Yang di dalam kota, pilih saja seperti jalan Dr. Cipto atau jalan MT Haryono, kedua jalan ini cukup panjang, jadi lumayan memuaskan. LOL. 
2)    Trek datar offroad. Jika ingin yang lebih menantang – mungkin jalan beraspal membosankan dan bikin mengantuk LOL – anda bisa mencoba bersepeda ke Pantai Maron, Pantai Tirang, Pantai Baruna, maupun Pantai Cipta. Jika anda ingin menuju pantai Baruna maupun pantai Cipta, anda harus melewati jalan arteri, bisa dari arah bunderan Kalibanteng, atau mungkin keluar dari kawasan perumahan Tanah Mas. Jika anda ke pantai-pantai ini di musim kemarau, siapkan bandana/masker untuk menutup hidung anda dan kacamata untuk melindungi mata karena debu yang beterbangan. Jika anda kesana di musim hujan, persiapkan ban sepeda bakal menjadi seperti donat, full lumpur. :)
 
3)     Trek tanjakan/turunan beraspal. Di dalam kota Semarang anda bisa menemukan jalan seperti ini. Misalnya (a) jika anda bersepeda ke Simpanglima, anda bisa langsung memilih arah nanjak Siranda alias jalan Diponegoro. (b) Jika anda berada di kawasan Tugumuda, ambil arah ke Selatan, di pertigaan dekat RSUP Dr. Kariadi, belok kanan, anda akan mulai tanjakan Gajahmungkur alias jalan S. Parman. Beberapa meter dari pertigaan, setelah melewati RS William Booth, anda akan menemukan jalan belok kiri, itu Jalan Rinjani yang lebih ramah terhadap pemula. Anda bisa pilih belok kiri, atau lurus saja dengan resiko menapaki tanjakan yang jauh lebih menantang. (c) Jika anda berada di Jalan MT Haryono, ambil arah Selatan, anda akan bertemu dengan tanjakan Tanah Putih alias jalan Dr. Wahidin. (hohoho, baru nyadar, mengapa beberapa jalan di Semarang memiliki ‘nama julukan’ selain nama jalan itu sendiri ya?) Selain ketiga tanjakan ini, masih banyak lagi, misal jalan Tumpang atau jalan Papandayan atau jalan Bendan, yang bisa anda daki dari kawasan Sampangan. (d) Di daerah Timur, anda bisa mencoba tanjakan Sigar Bencah, (e) di daerah Barat anda bisa mencoba belok ke Selatan dari pasar Jrakah atau (f) sesampai di pasar Mangkang, belok ke arah Selatan, daerah yang biasa disebut Palir. Jika tanjakan-tanjakan itu belum memuaskan anda, anda bisa ke arah Ungaran, di daerah yang termasuk Kabupaten Semarang, disanalah sorga tanjakan, beloklah ke arah Bandungan, Gedong Songo, Umbul Sidomukti. Persiapkan sepeda dan dengkul anda karena ketinggian disini mencapai 1400 meter di atas permukaan laut. 
4)     Trek tanjakan/turunan offroad. Di tahun 2009-2011, tiga kali aku ikut XC-an atau offroadan di kawasan Banyumeneng, di kawasan Meteseh. Kata teman sepeda yang ‘menguasai’ kawasan ini, trek offroad buat sepedaan masih ada. J di tahun 2010, aku ikut XC-an ke kawasan Wonolopo, di daerah Ngaliyan, sayangnya kata teman yang dulu biasa jadi road captain, trek buat offroadan di sini sudah tidak ada lagi. Atau bisa juga ke kawasan Medini, di atas tempat pemandian air hangat di Nglimut. Tahun 2012 aku dkk pernah bersepeda ke Nglimut, yang tingginya sekitar 700 meter dpl, dengan trek beraspal. 

Cukup sekian dulu sharing trek di kota Semarang. Anda bisa juga tinggal klik postingan-postingan di blog ini, untuk mencari ide bersepeda. :)
 
LG 14.08 08/09/2015

2 komentar:

  1. keren, semarang memang berbukti-bukti ya tante ..
    salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul, Semarang memang berbukit-bukit :)

      Hapus