Cari Blog Ini

Jumat, 06 Januari 2023

Sharing, flexing, and ruining

 

Candi Cetha, Januari 2013

Dari postingan saya kemarin yang berjudul "flexing, healing dan baper" ada yang menulis komen bahwa tidak pas jika kata 'flexing' dikontraskan dengan 'healing'; namun lebih pas jika kata 'flexing' dikontraskan dengan 'sharing'.

 

Komentar ini mengingatkan saya pada satu obrolan ringan dengan Radit, tentang destinasi wisata. Sekitar 11 tahun yang lalu, setelah saya mendapatkan partner dolan bersepeda, kami suka blusukan mencari lokasi yang menarik untuk dikunjungi dengan naik sepeda. Setelah itu, saya akan mengunggahnya di media sosial. Saya bermaksud sharing tentu saja, memberi ide para pembaca tulisan saya tujuan untuk bersepeda. Saya dengan suka cita akan menjelaskan letak lokasi sekaligus rute dan trek yang akan dilewati, jika ada yang bertanya secara detil.

 

Sebaliknya, Radit biasanya -- kadang -- hanya mengunggah foto lokasi yang dia tuju, atau yang dia lewati saat sepedaan, atau juga saat 'turing' naik motor lawasnya. Alasannya adalah: di zaman dimana orang-orang hobi foto, kemudian mengunggahnya di medsos, lokasi-lokasi eksotis seperti itu akan cepat diburu untuk dikunjungi, dan dijadikan background maupun objek foto.

 

Permasalahan bisa saja muncul setelah itu: jika para pengunjung itu tidak memedulikan kebersihan atau memelihara tempat tersebut, maka lokasi itu akan cepat menjadi lokasi yang kotor, rusak, dlsb.

 

Satu contoh. Tahun 2013 saya bersepeda dari Solo ke Candi Cetho, yang terletak di ketinggian sekitar 1400 mdpl. Orang-orang yang tahu saya -- perempuan, tak lagi bisa dikatakan masih berusia muda -- bisa kok mencapai Candi Cetho dengan naik sepeda. Masak yang laki-laki tidak bisa? Sekitar satu tahun kemudian, saya melihat unggahan foto serombongan orang bersepeda ke Candi Cetho. Yang saya sayangkan adalah mereka membawa serta (mengangkat melewati tangga) sepeda mereka, dan dengan sembarangan memarkirkan sepeda di tempat yang tidak semestinya: disandarkan di satu patung yang terletak tak jauh dari pintu pagar masuk. Itu patung pasti usianya sudah ratusan tahun. Mengapa mereka tidak punya kesadaran untuk turut menjaga peninggalan nenek moyang.

 

Candi Ngempon, Desember 2012

 

Contoh lain. Tahun 2012 saya bersepeda ke Candi Ngempon, yang terletak di daerah Bergas, Kabupaten Semarang. Saat itu, saya hanya berdua dengan pasangan dolan saya. Kami bebas membawa sepeda kami masuk area. Sebagai pecinta candi, tidak mungkin saya akan sembarangan memarkir sepeda saya dengan, misalnya, menyandarkan ke batu candi. Saya mengunggah kisah ini di blog saya.

 

Tahun 2017 saya ke Candi Ngempon sendiri. Si penjaga dengan galak melarang saya membawa masuk sepeda dengan alasan banyak orang yang sembarangan memarkir sepedanya saat masuk ke area yang seharusnya dijaga kelestariannya itu. Saya tahu setahun sebelumnya seorang kawan sepedaan menyelenggarakan event sepedaan rame-rame dengan tujuan Candi Ngempon, terinspirasi dari kisah saya bersepeda kesana.

 

 

Masih ada kisah lain lagi sih. Tapi nanti tulisan saya jadi terlalu panjang.

 

Salam ngeteh nasgitel di sore yang hujan.

 

PT56 17,18 06/01/2023

 

Flexing, healing, dan baper

 


Flexing, healing, dan baper

 

Dua diksi ini -- flexing dan healing -- jelas memiliki sifat yang sangat relatif, dan sangat kuat hubungannya dengan baper

 

Misal: foto saya ini.

 

Bagi yang tau lokasi Srambang Park ini, dan merasa dirinya ga mampu mencapai lokasi ini dengan naik sepeda, ada kemungkinan dia akan baper, dan menuduh saya flexing.

😆

 

bagi yang merasa lokasi Srambang Park itu mudah dicapai dengan naik sepeda, mereka akan memandang kegiatan saya ini: "healing"

😁

 

Setiap R berkunjung ke Semarang, biasanya kami berdua akan nongkrong di cafe Starf*cks untuk ngopi (saya) dan nyoklat (R). Kami akan ngobrol sekitar satu hingga dua jam di satu pojok cafe itu. Dan seringnya saya akan mengunggah foto makanan dan minuman yang kami pesan. Saya tidak bermaksud flexing, namun hanya untuk meninggalkan jejak genital, eh, digital yang saya bisa lihat lagi di tahun-tahun depan.

 

Namun, hal "sepele" (bagi saya) ini bisa jadi merupakan flexing bagi orang-orang tertentu.

Apakah saya peduli? Tidak! Hahaha ...

 

Merunut ke status saya kemarin: "flexing hanya untuk orang yang gagal" memang sangat relatif maknanya. Hal ini berhubungan dengan

 

(1) si pengunggah yang merasa hal yang dia lakukan itu membuat prestise-nya naik di mata kawan-kawan medsosnya. Padahal mungkin di mata kawan-kawan medsosnya, hal yang dia lakukan itu hal yang biasa-biasa saja

 

(2) seberapa baper kawan medsos melihat yang diunggah seorang thread starter

 

Segini saja dulu yaa.

 

IB180 11.00 05/01/2023

 

Minggu, 01 Januari 2023

Christmas Holiday 2022 ~ 3

 


Rabu 28 Desember 2022

 

To our disappointment, Ranz didn't get better at all. 😞 'kemajuan' hari ini adalah akhirnya dia mau mencoba minum omeprazol, obat aslam yang biasa diminum Angie maupun adikku ketika aslamnya kambuh. Selama ini, ga pernah dia minum obat apa pun ketika aslamnya kambuh. Pagi itu, dia memintaku ke apotik untuk beli obat omeprazol dan vometa. Dia ternyata sempat browsing obat untuk mengurangi mual dan muntah yang disebabkan oleh aslam.

 

Aku pun keluar ke apotik terdekat, di Jakal situ, dan beli roti O, Ranz pengin itu. Aku keluar hanya sebentar untuk beli itu, kemudian langsung balik ke hotel.

 

enak ini spaghetti-nya 😋

 

 

Siangnya Ranz menawariku mau makan apa. Aku bilang pengen spaghetti, gegara lihat postingan teman di medsos anaknya sedang makan spaghetti, kayaknya kok enak sekali. Hahahaha … maka Ranz pun memesankannya lewat aplikasi online. Selain memesan spaghetti, dia juga pesan chicken wings dan pisang goreng. Aku makan spaghetti-nya sendiri, Ranz ga ingin mencicipinya. Sore itu, dia aku suapi pisang goreng.

 

Malam, aku keluar sebentar ke Gading Mas untuk membeli beberapa kebutuhan.

 

Kamis 29 Desember 2022

 

Pagi itu aku meminta izin Ranz untuk keluar sepedaan sebentar. Aku memasuki area kampus UGM lagi, memotret Austin di satu gedung yang ada tulisan ALUMNI UGM. Kemudian aku sempat memutari perumahan dosen (dulu itu perumahan dosen) Bulaksumur. Dulu, aku suka sekali berjalan-jalan lewat sini, memandangi rumah-rumah yang mungkin dibangun sekitar dekade 1960an. Sampai sekarang aku masih suka melihat disain rumah lawas seperti ini.

 


 

 

Dari Bulaksumur, aku mengayuh pedal Austin ke arah Tugu. Sudah lama aku tidak memotret Austin dengan latar belakang Tugu. Padahal bulan Mei 2022, aku dan Ranz bersepeda ke arah Malioboro, baliknya ya kami memilih jalur 'contra flow' balik ke arah Tugu, tapi waktu itu ga kepikiran untuk memotret Austin dengan latar belakang Tugu.

 


 Setelah memotret Austin, aku memilih jalan AM Sangaji, kemudian di perempatan pertama belok kanan, ke arah Terban. Saat kuliah S1 akhir -- KKN dan menulis skripsi -- aku ngekos di daerah Terban situ. Apa satu saat perlu juga aku bernostalgia di kawasan ini dengan menginap di hotel somewhere here? Hihihi … dari situ, aku terus ke arah perumahan dosen Sekip. Kemudian belok ke arah RS Dr. Sardjito, hingga tembus Selokan Mataram.

 

Sekembali aku di hotel, Ranz memesan nasi gudeg 'langganan' kami berdua jika dolan ke Jogja. Hari ini selera makan Ranz lumayan, menurutku. Menurutnya: dia mulai merasakan aslamnya kumat gegara perutnya kosong. Iyalah, dia hanya makan sedikit, setelah makan, dia muntahin itu karena perutnya mual sekali. Hiksss …

 

Waktu menyuapinya sarapan, aku mengajak Ranz keluar kamar, makan di 'ruang tamu' yang tersedia di lantai 2 hotel.

 

Ranz meminta kakak iparnya untuk menjemput ke Jogja. 

 


 

 

Kami meninggalkan hotel sekitar pukul 12.00. Ranz yang mendadak pengen bakso, membawa kami ke satu RM yang berjualan bakso 'Pak Tikno' di kawasan Maguwo.

 

Otw back to Solo, aku baru ngeh, betapa banyak traffic light yang harus dilewati yang membuat perjalanan tersendat dan membosankan. Hahahaha … kami sampai rumah Ranz sekitar pukul 14.30.

 

Honestly aku tidak tega meninggalkan Ranz sendiri, (dia terbiasa mandiri jadi anggota keluarganya ga akan ngeh bahwa dia itu sedang sakit dan butuh dilayani), tapi aku sudah kadung janji Angie untuk pulang ke Semarang hari Kamis. Beberapa kali aku 'terpaksa' mblenjani janji karena ini itu, aku ga enak jika harus melakukan itu lagi. Hiksss …

 

Sore itu, aku kembali ke Semarang dengan naik travel pukul 17.00. Sesampai pool travel di Semarang, sekitar pukul 18.45, ada tanda-tanda habis turun hujan lebat. Syukurlah aku tidak perlu mengenakan mantel saat kembali mengayuh pedal Austin balik ke rumah.

 

Note:

(1) honestly, aku menyesal karena belum jadi mewujudkan keinginan bersepeda ke Gumuk Pasir. Sudah lamaaaaaaaa, aku pengen bersepeda kesini, tapi Ranz ogah melulu. Ketika dia mau, eh, dia malah jatuh sakit. Hiksss …

 

(2) aku juga pengen menginap lagi di kawasan Candi Prambanan, entah mengapa kok aku juga suka ya saat menginap di kawasan ini. Terakhir aku dan Ranz menginap di hotel Galuh Desember 2020. seperti aku juga suka menginap di kawasan Candi Borobudur.

 

(3) satu hal yang aku sukai dari perjalanan ini adalah aku sempat bernostalgia masuk kampus UGM sendiri! Well, biasanya Ranz juga mau sih kuajak masuk blusukan di kawasan UGM. Tapi ternyata sendirian kok rasanya seperti saat aku kuliah dulu ya. Hohoho …

 

(4) I feel grateful bahwa Ranz ga pernah menolak kuajak bernostalgia menginap di kawasan Jakal km 5. Dia selalu mau (dan turut menikmati) kuajak bersepeda Solo - Jogja demi aku yang akan bernostalgia. plus dia mau-mau saja kuajak menginap somewhere di Jakal km 5, area saat aku kuliah dulu. 'blusukan di kawasan ini juga sangat menyenangkan buatku.

 

PT56 10.16 01/01/2023

 

Christmas Holiday 2022 ~ 1

 

my almamater, my pride

This is the 'worst' holiday ever for me. :(

(pakai tanda kutip yak)

 

Sebelum the D day, aku dan Ranz membahas kami akan pergi kemana. Ini mengingat pandemi covid 19 bisa kita anggap (nyaris) usai ya jadi kami berpikir boleh lah pergi rada jauh. (selama pandemi kami berdua 'hanya' dolan ke Jogja doang saat punya waktu luang untuk sepedaan keluar kota.) Mulai dari kota Surabaya, Jepara, hingga Magelang kami bahas sebagai calon destinasi. Namun, akhirnya kita kembali ke kota klangenan buatku: Jogja.

 

Hari Minggu tanggal 25 Desember 2022 aku berangkat ke Solo dengan naik travel Cititrans yang memberi keleluasaan membawa sepeda gratis. Waktu berangkat, cuaca cukup mendung di kota Semarang. Setelah mobil travel yang kunaiki meninggalkan pool (I was the only passenger!) dan masuk jalan tol, hujan mulai turun. Sepanjang jalan tol, hujan datang dan pergi.

 

Saat mobil keluar dari jalan tol daerah Colomadu, gerimis yang menyertai. Meskipun begitu, genangan air dimana-mana menunjukkan bahwa sebelumnya hujan deras tentunya. Out of my expectation, tiba-tiba Ranz menelpon mengabari bahwa dia akan menjemputku di pool travel dikarenakan hujan. Wah! Tumben ini! :)

 

Ranz menjemput bersama kakaknya + suami + Deven, keponakannya yang kecil. Dari pool Cititrans, kami ke area Solo Baru; tujuannya satu warung mie ayam + bakso. Ternyata ada yang nyidam mie ayam disini, entah siapa.

 


 

Malamnya, Ranz dan aku ke Wedangan pak Basuki; as usual, aku pesan teh nasgitel dan sebungkus mihun. Dari Wedangan Pak Basuki, Ranz mengajakku minum susu di kedai susu langganannya. Aku tidak minum susu, so disana aku hanya menemani Ranz saja.

 

Senin 26 Desember 2022

 

Pagi itu Ranz tidak bangun gasik seperti biasa jika kami berdua akan bersepeda keluar kota. Aku pun memulai mandi dan siap-siap sekitar jam 05.30. setelah aku selesai mandi, baru Ranz bangun dan mandi dll. Baru sekitar pukul 07.00 kami meninggalkan rumah Ranz di kawasan Jongke. (mungkin ini 'pertanda' bahwa Ranz was not really well ya? :( )

 

Seperti biasa Ranz memilih rute yang memungkinkan kami berdua sarapan timlo di kawasan tak jaauh dari SMP N 1 Gatak. Oh ya, di perjalanan kali ini, aku tetap naik Austin, sementara Ranz naik sepeda barunya yang dia beri nama 'Hazel': camp hazy edisi wonderful Indonesia Toraja Sulawesi. 

 


 


 

Setelah sarapan, perjalanan lancar seperti biasa. Menjelang sampai 'gerbang' pertanda masuk kota Klaten, gerimis tipis mulai menyapa. Tapi kulihat Ranz tidak siap-siap mengenakan mantel. Aku pun tidak mengenakannya, sambil 'ndremimil' semoga gerimis segera berhenti, dan bukannya menderas. Tentu kami berdua membawa mantel, tapi bersepeda jarak jauh dengan mengenakan mantel itu kurang nyaman, honestly.

 

as usual, aku 2 gelas, Ranz cukup satu gelas

 

Sesampai kawasan Bogem, Kalasan, seperti biasa kami mampir jajan es dawet Ngudi Roso yang sudah kondang. Untuk 'teman' minum es dawet, as usual (juga) Ranz beli tahu petis yang berjualan di samping warung es dawet. Dan seperti sebelum-sebelumnya, aku minta dibelikan 2 gelas es dawet. Segelas pertama itu bisa aku habiskan sekali minum loh. Setelah habis minum segelas es dawet, aku baru ngemil tahu beberapa potong, kemudian minum es dawet gelas kedua.

 

Dari jajan es dawet Ngudi Roso, kami mampir ke Candi Kalasan. Aku ga perlu minta Ranz, dia sendiri berinisiatif belok; iya, ini adalah perjalanan perdana Hazel, jadi perlu didokumentasikan! :)

 

 



 

Tak lama setelah kami meninggalkan kawasan Candi Kalasan, gerimis turun, dan lama-lama kian menderas. Ranz mengajakku berhenti di satu minimarket. Aku pikir untuk mengenakan mantel dan segera melanjutkan perjalanan. Toh, bisa dianggap kami sudah sampai Jogja. Setelah menunggu sekitar 15 menit dan tak ada tanda-tanda hujan mereda, Ranz mengenakan mantel dan mengajakku melanjutkan perjalanan.

 

Melewati Jalan Solo, jalanan padat dengan kendaraan, namun karena kami naik sepeda, kami bisa mlipir hingga bisa berhenti di 'ruang tunggu pesepeda' yang terletak tak jauh dari traffic light. Kami belok ke Jalan Gejayan (eh, nama barunya apa? Lupa!) kemudian belok ke Jalan Kolombo. Menjelang bunderan UGM, Ranz bertanya apa aku merasa perlu berhenti untuk foto, aku jawab ga usah, langsung ke hotel saja.

 

Masuk Jalan Kaliurang selepas Selokan Mataram, as usual jalanan pun padat kendaraan. Ranz yang sudah hafal jalan, dia bisa langsung 'menemukan' Gang Megatruh; kali ini kami menginap di hotel Sellinas yang terletak di Gang Megatruh. FYI, Gang Megatruh terletak di samping Gang Mijil, tempat aku dulu pernah ngekos selama 4 tahun saat kuliah S1, dan 1,5 tahun saat kuliah S2: "daerah kekuasaanmu ya?" tanya seseorang, lol. That's why aku selalu merasa excited saat 'kembali' ke area ini.

 

Setelah check in, Ranz mempersilakanku mandi terlebih dahulu, kemudian gantian dia. Meanwhile, Raditya mengajakku ketemuan. Semula aku mengusulkan malam hari, setelah maghrib, namun sekitar jam 4, Ranz yang sudah kelaparan mengajakku keluar, kebetulan pas hujan berhenti. Aku mengajak Ranz ke 'Angkringan 5rawung'.

 

ternyata sudah cukup lama Radit pengin tahu ini apa, hahaha

jika kau suka teh nasgitel, teh ini cucok!

 

 

Tak lama setelah aku dan Ranz nangkring di angkringan, Radit menyusul. Kami bertiga ngobrol sembari ditemani hujan yang datang dan pergi sesuka hati. :D sekitar pukul 7pm kami pulang. Otw back to our hotel, kami mampir minimarket membeli air mineral. It was raining, tapi karena aku berpikir lokasi dari angkringan ke hotel tidak jauh, aku tidak mengenakan mantel, dan waktu kami balik, hujannya ga begitu deras, so I thought. Sesampai hotel, kami keluar lagi, Ranz butuh membeli beberapa 'barang'. Aku mengajaknya jalan kaki ke minimarket Gading Mas (zaman aku kuliah S1 dulu, minimarket ini namanya PAMOR), dengan meminjam payung dari hotel. Aku lihat Ranz membeli counterpain, panadol (dia ternyata sudah merasa kurang sehat, hiksss …) kapur semut dan beberapa cemilan.

 

to be continued.


Christmas Holiday ~ 2

 


Selasa 27 Desember 2022

 

Ranz mengeluh vertigonya kumat, dan kepala bagian belakang bawah sakit sekali. Tapi ketika aku tanya apakah asam lambungnya kumat, dia bilang dia tidak merasakannya. Untuk sarapan pagi itu, Ranz memesan satu porsi nasi gudeg. Aku menyuapinya beberapa sendok, kemudian dia minum panadol, dan melanjutkan tidur. Sesekali bangun mengeluh kepalanya sakit dan pandangannya berputar. :( terpaksa rencana untuk bersepeda ke Gumuk Pasir di Parangkusumo batal kami lakukan.

 

Di hari berikutnya kami berencana untuk bersepeda ke Kalasan. Rabu siang kami akan bersepeda ke Suwatu Mill and Bay. Namun ternyata waktu aku akan reservasi, jawabannya adalah Suwatu fully booked sampai tanggal 31 Desember. Waktu aku memberitahu Ranz tentang hal ini, dia membatalkan booking kamar hotel di Kalasan. Dia berharap dia akan segera membaik, dan hari Rabu kami bisa bersepeda ke Gumuk Pasir.

 

Aku sebenarnya kepengen keluar sebentar sepedaan ke kampus UGM, tapi aku ga enak hati jika meninggalkan Ranz. Sorenya, sekitar pukul setengah empat, Ranz menawariku apa aku ga ingin keluar, aku bilang aku pengen sepedaan ke UGM. Dia memintaku menungguinya mandi terlebih dahulu. Aku yang semula tidak kepikiran untuk mandi (toh aku hanya akan memotret Austin saja), jadi mandi, dengan harapan Ranz sudah bisa keluar sepedaan.

 

Ranz pun ternyata berharap bisa ikut keluar sepedaan sebentar. Namun, baru keluar kamar, Ranz membatalkan keinginannya ikut. Dia masih merasa dunianya berputar. Hikss … dia hanya berpesan minta dibelikan panadol extra. Aku masuk UGM lewat jalan masuk di sebelah Utara yang hanya bisa dilewati orang yang berjalan kaki, atau membawa sepeda. Masuk, aku lihat ada Fakultas Pertanian (lah, baru ngeh ternyata Fakultas Pertanian pindah! Seingatku dulu ada di dekat perempatan yang ada Mirota Kampus itu), tak jauh dari Fakultas Pertanian, ada Fakultas Teknologi Pertanian.)

 

I love this pic! thanks seseembak yang lewat dan motretin.


 

Aku memotret Ausin dengan latar belakang Gedung Pusat. Dari sana, aku langsung menuju Fakultas Ilmu Budaya, sudah lama ingin memotret Austin dengan latar belakang tulisan FAKULTAS ILMU BUDAYA UGM dengan font berwarna merah. Pertama melihat tulisan ini bulan Juni 2022 waktu lewat bersama seorang kawan Kagama. Ternyata butuh enam bulan untuk mewujudkannya. Hohoho … kebetulan pas memotret Austin disini, ada seorang perempuan lewat, aku meminta tolong untuk dipotret. Ihiiir.

 

Aku menyempatkan diri masuk kampus FIB. Duuuuh, kangeeeeeeeeeeeeen!!! Rasanya ingin balik muda lagi, untuk kuliah S1 lagi! Hihihi … waktu sampai di gedung yang ada di belakang, dimana dulu aku dkk menyebutnya 'Plaza' saat kuliah S2, aku pun jadi kangen masa-masa kuliah S2, bersama Professor Hugh Egan. Hahaha … Kantin Sastra maupun Bonbin sudah tidak ada ya. Semua kantin dikumpulkan di area Lembah UGM. Aku melihat gedung-gedung baru di area 'belakang' (well, zaman kuliah S1 dulu, bagian depan Fakultas Sastra itu yang menghadap Barat ya), well, no more bangunan lawas dengan kursi-kursi yang ada 'tinggi'nya. Dulu beberapa kali kuliah di situ. Waktu pembekalan KKN juga di situ.

 


 

Setelah puas berputar (eh, belum puas sih, tapi aku ga enak ati meninggalkan Ranz terlalu lama), aku menuju pelataran halaman gedung Grha Sabha Pramana, memotret Austin disana. Dari GSP, aku ke arah apotik UGM yang terletak di 'lurusan' Jl. Kolombo (itu apa ya nama jalannya?) seberang RS Panti Rapih bagian Utara. Dari apotik, aku mampir Mirota Kampus. Supermarket ini juga ngangenin, saat awal kuliah S2, aku ngekos di Jl. C. Simanjuntak. Saat Angie menengokku dan menginap di kos beberapa hari, aku biasa beli roti disini sepulang dari kuliah untuk dicemil Angie.

 

Guess what I wanted to buy here? Sisir! Hahahaha, iya jenis sisir yang selama beberapa tahun terakhir aku rasakan paling cocok dengan jenis rambutku hanya ada di Mirota kampus! Di Semarang, aku ga pernah nemu model sisir yang begini. Well, aku punya beberapa tas yang aku pakai untuk pergi. Aku penginnya di tiap tas ada sisir satu, jadi ga bakal aku kelupaan bawa sisir saat ganti tas. Haha … itulah sebab aku merasa butuh mampir Mirota Kampus.

 

Setelah keluar dari MK, aku disambut gerimis. Wedew. Aku pun ngebuttt, semampuku sih, sampai hotel. Malam itu aku suapi Ranz dengan roti yang aku beli di MK, sebelum dia minum panadol extra. 

 

to be continued.