Sabtu, 31 Desember 2016

SEMARANG VELO GIRLS ON TOUR DE CIREBON Day 3

Day 3 Minggu 25 Desember 2016 Brebes - Cirebon

di gapura selamat datang di kota Cirebon; yeay!

Sehari sebelumnya Avitt sudah wanti-wanti sebaiknya kita segera mempersiapkan diri melanjutkan perjalanan pagi-pagi sekali karena Ghina bersama ibunya pagi itu akan pergi ke Semarang.  Maka kegiatan kita mulai dari pukul empat pagi: antri mandi. :D pukul enam kurang kita telah duduk melingkari meja makan untuk sarapan. Pukul setengah tujuh kita sudah siap di teras rumah Ghina.

Suwun Ghina telah menyediakan kita kamar untuk beristirahat dan sarapan untuk menunjang kita melanjutkan bersepeda ke Cirebon. J


Pukul tujuh kita telah kembali berada di jalur pantura. Kita mengenakan kaos berwarna biru cerah dengan tulisan “local bikepacker” tanpa tulisan yang mencolok di bagian punggung. Ini sebab kita tidak banyak disapa orang di jalan, “Dari Semarang ya Mbak? Mau kemana?” hihihihi ...

Setelah kita melewati ‘Brexit’, praktis kita jarang bertemu dengan bus-bus dari arah berlawanan. Mungkin banyak bus dari arah Jakarta yang lewat jalan tol. Kalau pun ada, Avitt dan Hesti hafal mereka bus-bus yang tidak memiliki klakson ‘telolet’. LOL. Jenuh lah kita. LOL. Dan kita pun ternyata ‘tertipu’ dengan petunjuk jarak. Sehari sebelumnya sebelum sampai gapura selamat datang Tegal, kita sempat melihat petunjuk jarak “29 kilometer Cirebon”. Wahhh ... kalau sedekat itu, kita bisa lanjut gowes nih.






Setelah melanjutkan perjalanan, kita baru tahu bahwa 29 kilometer itu adalah jarak menuju gapura selamat jalan Brebes. LOL. Kita pun mutung dengan petunjuk jarak yang ternyata memberi petunjuk yang tidak bisa kita percaya. LOL.

dadah pak Ganjar, kita mampir ke tetangga sebelah dulu yaaa

Masih untung ada petunjuk jarak yang teletak di ‘pulau jalan’. Dari situ, kita mendapatkan gambaran kira-kira kurang berapa kilometer lagi yang harus kita tempuh.

15 kilometer menuju gapura selamat datang kota Cirebon, kita mampir satu minimarket. Saat beristirahat itu Ranz baru nyadar bahwa ban depan Pockie bocor. Untunglah di samping minimarket ada tukang tambal ban. Yang lebih menyenangkan, tak jauh dari situ ada sejenis ‘lincak’ atau ‘balai-balai’ yang bisa kita pakai untuk mengistirahatkan tubuh. Lumayan. Siang itu, suasana cukup panas.


mari istirahat :D

Gegara ban bocor, seharusnya menurut prakiraan kita bisa masuk kota Cirebon pukul 12.00, kita jadinya sampai gapura selamat datang kota Cirebon satu jam kemudian. Aku yang berada di depan memilih rute ke kiri, mengikuti petunjuk arah ‘ke kota’. Tak jauh dari situ, kita menemukan petunjuk “KFC 800 meter, Grage City Mall.” Waaahhh ... aku heran, ternyata Grage terletak tak jauh dari gapura selamat datang kota Cirebon. Kukira Grage terletak di pusat kota. :D

Sesampai di Grage City Mall ... lhooo ... ini bukan Grage Mall yang kukenal! Weleh! Waktu itu titik-titik gerimis mulai menyapa. Aku bertanya pada seorang penjual mie ayam, ternyata Grage City Mall itu berbeda dengan Grage Mall. Karena aku berjanji nraktir siapa pun yang ikut bikepacking ke Cirebon cheeseburger-nya McD, kita pun mencari lokasi gerai fast food restaurant itu di google map. Kebetulan Ranz menemukannya tak jauh dari Grage Mall, maka kesanalah kita melanjutkan perjalanan.


seorang satpam Grage City Mall yang ngomong tanpa koma tanpa titik :D

kawasan di dalam Grage City Mall


Btw, Grage City Mall itu ternyata mirip dengan BSB di kota Semarang, menyerupai ‘kota mini’ Cirebon dengan mall, perumahan elite dan fasilitas-fasilitas lain. Untuk mencapai Grage Mall, kita membelah tengah Grage City Mall. :D atas petunjuk seorang satpam di GCM, kita menemukan Grage Mall dengan mudah. Dari sana kita bertanya pada seorang polantas letak McD. :D


cheeseburger! 

Gerimis kian membesar setelah kita sampai di McD. Setelah menutupi pannier dengan cover plastik, kita masuk. Saat menikmati makan siang yang kesorean itu, di luar hujan deras turun.

Pukul 16.10 kita meninggalkan McD menuju arah makam Sunan Gunung Jati. Rumah kakakku – tempat kita bakal menginap 2 malam – terletak di belakang RS Tangkil.



Sore itu kita dibelikan bakso. Kakakku mengundang tukang bakso langganannya ke rumah. Malam, sekitar pukul 19.00 kita keluar sebentar ke minimarket untuk mengantar Avitt membeli air mineral. (Dia tidak bisa minum air mineral selain merk tertentu soalnya. LOL.) Dari sana kita kembali ke rumah kakakku, di jalan mampir beli sate ayam buat cemilan. :D Secara tak sengaja di tukang jual sate ini, Hesti bertemu dengan kawan kuliahnya yang asli Cirebon dan tinggal tak jauh dari situ. Dia juga sedang mengantri membeli sate. Nampaknya jodoh nih mereka. LOL.

bakso baksooo, menu makan sore kita :D

Jarak yang kita tempuh hari ini sekitar 68 kilometer. Syukurlah malam ini kita bisa langsung istirahat, belum perlu packing karena keesokan hari kita hanya city tour, bukan melanjutkan perjalanan ke kota lain. :D 

to be continued ...

Kamis, 29 Desember 2016

SEMARANG VELO GIRLS ON TOUR DE CIREBON Day 2

Day 2 Sabtu 24 Desember 2016 Batang - Brebes

di gapura selamat datang di kota Tegal, tak jauh dari  masuk kota Brebes

Kita memang sengaja tidak memulai kegiatan (antri) mandi sebelum pukul enam pagi karena merasa tubuh masih perlu diistirahatkan. LOL. Setelah pukul enam, kita mulai antri mandi satu per satu, kemudian membereskan bawaan, dan memasang tas pannier di rak boncengan sepeda masing-masing. Waktu itu om Hendrit sudah muncul di mess. Anjar tidak bisa mengantar kita sampai jauh sehingga (mungkin) om Hendrit yang mengambil alih mengantar kita sampai masuk Pemalang dan “menyerahkan kita” pada om Nanto.

alun-alun Batang

Pukul delapan kita meninggalkan mess menuju alun-alun. Kita sarapan di satu warung ‘soto Semarang’ meski penampilannya ga begitu mirip dengan soto Semarang. LOL. Pukul sembilan kita melanjutkan perjalanan. Anjar masih berada di depan sebagai road captain sedangkan Hendrit di belakang, berfungsi sebagai sweeper.

Masuk kota Pekalongan, kita berpisah dengan Anjar.


Melanjutkan perjalanan, Hendrit tetap memilih berada di belakang, sehingga kita bisa leluasa mengatur irama kayuhan pedal kita.

Setelah meninggalkan kota Pekalongan, menuju Pemalang, di satu mini market, ada seseorang yang memanggil-manggil. Ternyata, om Nanto berinisiatif menjemput kita disitu. Kita pun mampir di mini market itu, untuk ngadhem sebentar dan beristirahat. 15 menit kemudian kita lanjut gowes. Kali ini om Nanto menjadi road captain, Hendrit tetap sebagai sweeper.

masuk kota Pemalang

Di gapura selamat datang kota Pemalang, kita berpisah dengan Hendrit. Dia berjanji akan menghubungi seorang teman di Tegal untuk ‘menyambut’ kita setelah kita nantinya berpisah dengan om Nanto.


Kita tidak lewat jalan pantura namun masuk kota Pemalang. Siang itu kita diajak mampir alun-alun untuk makan siang dan istirahat. Om Nanto mengajak kita mampir di satu tempat langganan keluarganya berkuliner. Dan ... ternyata istrinya pun telah menunggu kita disana. J hanya Hesti yang memesan makanan khas Pemalang untuk menu makan siangnya – grombyang yang rasanya mirip rawon – sedangkan yang lain memesan mie ayam. :D Ga menarik ya? Hihihihi ...
 
masuk kabupaten Tegal

Pukul 14.00 kita melanjutkan perjalanan. Om Nanto yang ternyata ada acara keluarga siang itu mengatakan bahwa dia tidak bisa mengantar kita sampai Tegal, namun hanya akan sampai di gapura selamat jalan kota Pemalang. (Ugh ... pasti karena kita gowesnya super duper lelet. LOL.) Suwun telah mengawal kami om, suwun juga dengan traktiran makan siangnya. J jika tidak ada Hendrit maupun om Nanto, pastinya kita bakal lebih lama lagi nyampe Brebes karena bakal lebih sering berhenti untuk foto-foto di spot-spot tertentu. Hahahahahah ...

Di hari kedua ini kita mengenakan kaos ‘gowes Kartini’ dimana di bagian punggung ada gambar Lawangsewu dan simbol B2W dengan tulisan Semarang di bawahnya. Karena tulisan ‘Semarang’ inilah, kita dengan mudah menarik perhatian orang. Banyak yang menyapa, “Dari Semarang ya Mbak? Wahhh ... jauh juga. Tujuan kemana?” sebagian dari mereka naik sepeda motor dan mengajak berbicara.

Setelah berpisah dengan om Nanto, dan mulai jenuh dengan perjalanan (sehari sebelumnya ga sempat jenuh gegara trek yang rolling LOL), Hesti dan Avitt pun mulai menghibur diri dengan ikutan ‘menjaring’ “telolet”. Awalnya aku sempat heran melihat Hesti dan Avitt mengacung-acungkan jempol atau dua jari ke arah bus yang datang dari arah berlawanan, sambil berseru-seru, “Om telolet om!” namun setelah berhasil mendapatkan sapaan balik berupa klakson ‘telolet’ dan mereka berdua berteriak kegirangan, aku pun ketularan. LOL. Kadang aku ikut-ikutan mengacungkan jari sambil tertawa-tawa. Ranz yang di belakangku langsung berinisiatif untuk merekamnya dengan kamera. LOL. Kita benar-benar bergembira-ria. LOL.

Setelah masuk perbatasan kota Tegal, Avitt memasang foto kita di facebook. Seseorang yang dihubungi Hendrit akan menyambut kita. Dia – yang ternyata seorang anak remaja berusia 16-17 tahun – menunggu kita di daerah terminal. Saat itu gerimis mulai turun, meski masih jarang. Kanzul – nama remaja itu – tidak nampak. Saat dihubungi Avitt, ternyata dia sedang membeli jajanan. Karena khawatir kehujanan, kita terus melanjutkan perjalanan. Setelah sampai gapura selamat jalan Tegal, kita berhenti untuk foto-foto. Tak lama kemudian Kanzul meyusul kita.

Ternyata tak lama dari gapura selamat jalan kota Tegal, kita sampai di gapura selamat datang Brebes. :D ahaaayyy ... Dari sana Kanzul bilang kita tinggal menempuh jarak 6 kilometer untuk sampai alun-alun. Rumah Ghina – sobat Avitt di bangku kuliah – tempat kita bakal menginap malam itu terletak tak jauh dari alun-alun.

Kita sampai alun-alun Brebes pukul 17.45, disambut dengan hujan deras. Dwi dan Hesti mampir shalat di masjid situ. Aku, Ranz, dan Avitt menunggui mereka di minimarket di sebelah masjid. Ketika hujan sedikit mereda, kita ke satu warung lesehan yang terletak tepat di depan masjid, sehingga mudah bagi Dwi dan Hesti untuk menyusul kita. Waktu kita akan masuk warung, hujan turun lagi. cepat-cepat kita menutupi pannier dengan cover.

Sekitar pukul 19.30 Ghina datang menjemput kita. Kita berpisah dengan Kanzul disitu. Suwun jajanan kue putunya yang enak ya?


Saat istirahat telah tiba. Syukurlaah. J jarak yang kita tempuh hari ini sekitar 88 km.

to be continued

foto-foto lain nyusul :)

SEMARANG VELO GIRLS ON TOUR DE CIREBON Day 1

SEMARANG VELO GIRLS ON TOUR DE CIREBON

Honestly, sebenarnya bikepacking Semarang – Cirebon adalah keinginan kita (aku dan Ranz) yang telah cukup lama terencana, tepatnya sejak 4 tahun yang lalu. Syukurlah akhirnya kita memiliki kesempatan untuk menjadikannya kenyataan. Kali ini, kita tak hanya berdua berbikepacking-ria, namun berlima: plus Dwi, Hesti, dan Avitt. Sayangnya dengan alasan yang tidak jelas, Tami tidak bisa ikut kita. Jadi ga ada yang baperan deh. LOL. Untuk kita berlima, ini adalah mbolang kedua setelah bikecamping ke Pulau Panjang di bulan Desember 2016. Sebelum tahun 2016 usai, kita mengukir sejarah dengan bersepeda antar kota antar propinsi! Yeay! :D

Day 1 Jumat 23 Desember 2016, Semarang - Batang


Tanggal ini dipilih dengan alasan yang sangat simpel. Aku dan Hesti masih harus masuk kerja sampai hari Kamis tanggal 22 Desember. LOL.

Pagi itu kita berkumpul di depan museum Mandala Bhakti pukul 05.30. aku dan Ranz sampai disana tepat waktu. Namun aku harus balik ke kosnya Ranz untuk mengambil cover bag yang ketinggalan. Waktu aku balik ke tikum, aku melihat Edy dan Om Dije telah berada disana, juga Dwi dan Tami. Tak lama kemudian Asrul datang. Rencananya Asrul, Tami, Edy dan Om Dije akan mengantar kita sampai Kendal. Edy dan Om Dije naik sepeda, sedangkan Asrul dan Tami naik motor. Hesti datang lebih dari pukul 06.00.

Seperti biasa kita berangkat setelah foto-foto untuk dokumentasi. Kita mampir ke rumah Avitt terlebih dahulu di kawasan Krapyak. Sampai sana, Om Dije membenahi Pockie yang sedikit trouble. Kemudian kita foto-foto lagi di depan rumah Avitt. Sekitar pukul 07.00 kita melanjutkan mengayuh pedal sepeda kita masing-masing.

Seperti biasa, karena berencana kembali ke Semarang kita akan loading bus/kereta api, kita berlima naik sepeda lipat masing-masing. Aku naik Austin; Ranz naik Pockie, Dwi naik Oddie, Avitt naik Minul, sepeda lipatnya yang baru selesai di-upgrade satu hari sebelumnya (anyar poll LOL) sedangkan Hesti naik Rocky, sepeda lipat ‘baru’nya yang telah dia ‘reyen’ waktu kita bikecamping ke Pulau Panjang sekitar 2 minggu sebelumnya. Masing-masing membawa tas pannier yang berisi peralatan dan baju ganti yang cukup untuk 5 hari. Kecuali aku, yang ‘hanya’ membawa 2 tas pannier imut. LOL. Seperti biasa, pakaian2ku dan peralatan mandi berada di satu tas pannier besar yang nangkring di rak boncengan Pockie.

Dalam perjalanan menuju Kendal, Tami memisahkan diri di kawasan Randugarut. Jelang sampai Mangkang, Asrul memberitahuku bahwa ban belakang Austin kurang angin (pantesan rasanya berat banget. LOL.) maka om Dije pun memompanya.

Kita sarapan di satu warung soto setelah melewati Kaliwungu. Mungkin sekitar pukul 08.30. Perjalanan masih jauh, namun kita nyante saja. Nah, waktu sarapan ini, kita merayu Asrul dan om Dije untuk mengantar kita sampai melewati Alas Roban. Hahahahayyy ... untunglah mereka berdua setuju.

Tak lama setelah kita meninggalkan tempat sarapan, Asrul kembali memberitahu bahwa ban belakang Austin nampak kurang angin lagi. wew. Ini berarti ada yang tidak beres dengan bannya. Kebetulan kita berhenti tak jauh dari seorang tukang tambal ban. Namun, ternyata dia menolak menambal karena dia tak biasa melepas ban sepeda lipat. Weleh. Maka, Edy dan om Dije pun memutuskan untuk menambal sendiri. Dan ... ternyata ban luar Austin sudah nampak aus. (owh ... tiga tahun telah berlalu semenjak terakhir kali aku mengganti ban luar Austin depan dan belakang!) untunglah ada Asrul yang mengikuti kita naik motor, sehingga mudahlah bagi kita untuk mencari ban ganti: Asrul memboncengkan Ranz untuk mencari toko yang berjualan ban sepeda.

Aku tidak mengamati jam berapa akhirnya kita melanjutkan perjalanan lagi. Sempat ada kejadian yang tidak mengenakkan yang membuat perjalanan sempat tersendat : ada seorang perempuan yang sedang naik motor terjatuh di tengah jalan, untunglah saat itu kendaraan bermotor yang ada di belakangnya tidak dalam keadaan ngebut sehingga mereka langsung berhenti. Edy dan om Dije dibantu satu orang lokal situ mengangkat si perempuan ke pinggir jalan dan menyingkirkan motornya ke pinggir. Tatkala si pemotor yang menyebabkan perempuan itu terjatuh kabur, Asrul langsung mengambil keputusan untuk mengejarnya. Untung Asrul berhasil mengejarnya, dan ‘membawa’ orang itu kembali ke lokasi kejadian. Katanya sih si perempuan itu yang semula akan menyalipnya, namun sial, dia malah menyenggol motor laki-laki setengah baya itu, dan terjatuh.


Kita pun kembali melanjutkan perjalanan. Di kawasan perumahan Purin, Edy pamit harus pulang karena dia tidak bisa pergi lama-lama. Thanks ya sudah menemani sampai Kendal meski kakinya sedang dalam kondisi terluka.

Angin pantura pun terasa kian menantang waktu kita melanjutkan perjalanan. Tak lama kemudian kita melewati ‘gerbang’ selamat datang kabupaten Batang. Aku heran, belum melewati Alas Roban kok ternyata kita sudah masuk kabupaten Batang ya? Ternyata, oh, ternyata, jalan yang harus kita lewati menuju kotamadya Batang sangat panjaaaaaaaaaaaaaaaaang.

Demi menghemat tenaga, Ranz mengajak melewati jalan baru Alas Roban, yang meski lebih panjang namun tanjakannya tidak curam. Disini, Avitt yang ‘parno’ tanjakan, langsung memutuskan untuk meloading Minul dengan membonceng Asrul. Untunglah Minul yang berban 16” ukurannya mungil, sehingga mudah saja meloadingnya dengan naik motor.

Selepas Alas Roban sudah pukul 13.30. om Dije yang pamit mau pulang kita paksa untuk makan siang dulu. Di ujung jalan baru Alas Roban itu ada sebuah warung sederhana, kita makan disitu. Hanya ada beberapa tahu goreng, 2 potong ayam goreng dan satu mangkuk besar oseng-oseng kacang panjang, plus sambal. 2 potong ayam telah dipilih oleh Hesti dan Avitt. Eh, ada juga penampakan ikan goreng, namun tidak jelas ikan apa. :D om Dije memutuskan untuk minta digorengkan telur. Untunglah si ibu penjual punya persediaan telur ayam. Dwi dan om Dije masing-masing makan dengan telur dadar, aku dan Ranz sepiring berdua, sedangkan Asrul yang tidak makan telur, hanya memesan 2 porsi es coffee mix.

sebelum berpisah

Pukul 14.00 kita berpisah. Kita berlima melanjutkan perjalanan ke arah Barat, Asrul dan om Dije balik ke arah Semarang. Dari om Hendrit – salah satu personil B2W Batang – kita tahu bahwa kita masih harus mengayuh pedal sejauh 35 kilometer untuk sampai kota Batang. Alamak jaaaan. :D Dan ... sungguh di luar dugaan jika ternyata, oh, ternyata trek yang harus kita lewati full rolling. Waktu mampir di satu pom bensin untuk membuang hajat, Dwi mengeluh, “Kirain setelah lepas dari Alas Roban jalannya bakal datar, ternyata kita masih harus berkutat dengan tanjakan.” LOL.

Meski trek yang kita lewati ternyata rolling, aku bersyukur anak-anak tetap nampak semangat bersepeda. Tak hanya waktu nampang di depan kamera lho. :D yang sungguh di luar dugaan adalah Avitt yang mendapatkan kepercayaan dirinya bahwa dia mampu. Avitt, Hesti, dan Dwi pun nampak seperti berkejar-kejaran di sepanjang jalan. Melihat mereka begitu bersemangat, aku dan Ranz pun ketularan semangat. LOL.

Sepanjang perjalanan, fenomena “OM TELOLET OM” sempat membuat kita terheran-heran. Kita heran melihat sekelompok anak-anak yang berburu ‘telolet’, terutama kala melihat mereka berlompat-lompat kegirangan setelah sang sopir bus membunyikan klakson ‘telolet’. (Sshhhttt ... sehari sesudahnya kita ketularan! LOL.)

Sekitar pukul 17.30 – di trek yang tinggal turunan menuju kota Batang – kita disambut Anjar. Kita girang tatkala Anjar memberitahu bahwa trek tinggal turunan. Horraaaay. :D


Akhirnya kita pun sampai di gerbang selamat datang kota Batang jelang pukul 18.00. Spot wajib foto! Yes! LOL. Setelah foto-foto kita melanjutkan perjalanan menuju rumah Anjar untuk dijamu. Sekitar pukul 19.30 kita beriringan menuju ‘mess atlit panjat tebing’; disanalah kita akan mengistirahatkan tubuh.

Dan ... sesampai mess, hujan turun dengan deras. Oh well. Sebenarnya alun-alun terletak tak jauh dari situ, namun gegara hujan, kita memang sebaiknya beristirahat saja, sebisa mungkin memulihkan stamina karena esok hari kita masih melanjutkan perjalanan, ga perlu keluar night ride atau hanya sekedar menikmati suasana alun-alun Batang.


Jarak tempuh di hari pertama ini sekitar 100 km.

to be continued

N.B.:

foto-foto lain nyusul :)

Rabu, 14 Desember 2016

Bikecamping ke Pulau Panjang Day 2

BIKECAMPING PULAU PANJANG – JEPARA

Minggu 11 Desember 2016

Honestly aku tidak bisa tidur nyenyak karena alas tidurku keras; meski Ranz telah menyediakan kantong tidur. LOL. Waktu aku bangun sekitar pukul 04.30; ketika melongok ke luar tenda; di luar kulihat ada Avitt, Uak, Tami, dan Edy. Hesti dan Dwi di tenda berwarna oranye (katanya Avitt semula juga di dalam tenda, namun kemudian pindah keluar menjelang fajar). Affrel, Arif, dan Wachid di tenda berwarna kuning.



Aku membangunkan Ranz untuk menyambut sunrise. Akan tetapiiiiiiiiiii ... mendung terus menerus menggantung di ufuk Timur hingga pukul enam pagi. No sunrise view this morning! LOL. Apa boleh buat? LOL. Padahal kita cukup duduk-duduk saja di depan tenda kita lho.

Pagi itu Ranz memasakkanku nasi goreng plus oseng sardin buat sarapan. Oh ya, kita beli nasi putih empat bungkus di warung (dekat toilet umum) yang telah buka sejak pagi hari. Yang lain masak mie instant goreng. Tami juga memasak oseng sardin buat makan yang lain-lain, selain buat dirinya sendiri dan Uak. (ehem ...) sebagian memasak air buat bikin kopi, teh, dan coklat.



Affrel dan Hesti makan nasi + sardin sebungkus berdua :D

Kita santai-santai sampai kita merasa bahwa panas sinar mentari mulai menyengat. :D Pengunjung ke Pulau Panjang pun kian ramai. Beberapa kelompok campers lain sudah berkemas sejak sebelum pukul 07.00. Hingga ketika para pengunjung (yang baru menyeberang) datang, mereka memandang kita dengan pandangan heran. LOL. Sebagian bertanya, “Camping disini sejak semalam ya? Ga takut ada ular?” LOL. Sebagian lain heran memandang sepeda-sepeda kita. LOL. Kok ya sempat-sempatnya nyebrang dengan membawa sepeda. LOL. Bahkan ada satu rombongan yang meminta ijin untuk berfoto dengan sepeda-sepeda kita sebagai properti. :D








Setelah selesai membereskan tenda (panas telah benar-benar menyengat, meski baru pukul 10.00), kita gantian berkeliling pulau dengan bersepeda; karena barang-barang kita perlu dijaga. Usai keliling pulau, kita baru kepikiran foto-foto bareng di pinggir pantai. LOL. Wajah sudah gosong terbakar sinar mentari pagi yang menyengat. LOL. Mana harus ngantri lagi dengan yang lain-lain. LOL. (Mau foto pagi-pagi kok belum mandi. LOL. Mana lapar, pingin sarapan dulu. LOL.)


ngadheeeem :D



Sekitar pukul 11 kita berbaris menuntun sepeda dengan membawa pannier dll menuju dermaga. Butuh waktu sekian puluh menit untuk memasukkan sepeda dan barang-barang lain ke dalam perahu. Demikian juga ketika mengeluarkannya dari perahu setelah kita sampai Pantai Kartini.






Sekitar pukul 12 kita meninggalkan Pantai Kartini. Demi menghemat waktu dan tenaga, kita memutuskan untuk cari mobil pickup untuk loading. (Kebetulan Uak juga harus buru-buru pulang karena panggilan kantor.) kita loading hanya sampai Trengguli, demi memenuhi undangan orangtua Affrel untuk mampir ke rumah mereka di Karangtengah – Demak.

Ketika kita turun di jalan lingkar Demak, hujan turun. (Wachid ikut mobil pickup lagi dan turun di daerah Jebor.) Setelah memasang pannier di rak boncengan masing-masing plus menutupinya dengan cover bag, kita kembali mengayuh pedal. Hanya kita berdelapan kali ini: aku, Ranz, Tami, Dwi, Hesti, Edy, Arif dan Affrel. Uak yang buru-buru pulang ke Semarang didampingi Avitt yang juga merasa harus segera pulang.



Di rumah Affrel, kita dijamu teh panas yang rasanya menghangatkan tenggorokan dan perut, setelah kita kehujanan. :D Selain itu juga ada nasi + ayam bakar yang yummy plus buah salak dan jeruk. (Waaahhh ... lumayan menghemat pengeluaran! LOL.)

Sekitar pukul 16.45 kita melanjutkan perjalanan kembali ke Semarang. Affrel pun ikutan kita gowes bareng, meski oleh orangtuanya dia dirayu untuk naik mobil saja, bareng mereka yang juga akan kembali ke Semarang selepas maghrib. Namun Affrel lebih memilih bersepeda bersama teman-temannya. Good boy! J

Alhamdulillah perjalanan pulang lancar. Kita terus mengayuh pedal diiringi gerimis yang kadang menderas. Di kawasan Kaligawe kita harus melewati genangan banjir. Namun karena kita sudah basah sejak dari Demak, it was not a big deal. LOL.

Kita berpisah di Jalan Pemuda. Aku, Ranz, Edy, dan Arif beriringan ke arah rumah Dwi. Hesti dan Tami ke arah Jalan P. Tendean, lanjut ke rumah masing-masing. Affrel terus menuju Sampangan. Di rumah Dwi, kita mengambil tenda yang telah diantarkan kesana oleh Avitt sebelum dia mengantar Uak ke Gunung Pati. Selanjutnya, aku, Ranz dan Edy ke arah BKB, mengembalikan tenda yang kita sewa. Dari sana, Edy lanjut pulang ke rumah. Aku mengantar Ranz ke kosnya.

Legaaaaaaaaa. J meski, well, camping lebih melelahkan sih ketimbang menginap di penginapan. LOL. Sekali-sekali gapapa laaah. :D

See ya in the next bikecamping adventure! Yuhuuu ... (lagi??? hohohohoho ...)


LG 14.48 14/12/2016 

Bikecamping ke Pulau Panjang Day 1

BIKECAMPING PULAU PANJANG – JEPARA

Akhirnyaaaa ... aku (pribadi) nambah lagi satu pengalaman merealisasikan jargon “there will always be the first time to do anything” : bikecamping! Yuhuuu ...

(well, waktu ngikut JOGLOATTACK tahun 2012 itu kita juga camping di camping ground Candi Prambanan, tapi waktu itu kita :hanya” gabung, tanpa ikut ribet nyiapin ini itu itu ini.)

Sebenarnya rencana telah kita canangkan sepulang kita berenam – para ‘velogirls’ dari kota Semarang – sejak sepulang dari mbolang Jogja bulan Juli lalu. Itulah sebabnya kita sangat excited waktu kita akhirnya mampu menjadikan keinginan ini menjadi kenyataan. Hanya saja, ketika kita mbolang ke Jogja itu kita hanya berenam (Raditya “hanya” menemani kita di hari kedua, waktu susur selokan Mataram, plus mengantar kita ke Situs Ratu Boko, sehingga kitaa bisa masuk situs itu g-r-a-t-i-s tisss.) kali ini kita ditemani beberapa teman laki-laki. Selain aku, Ranz, Tami, Dwi, Avitt, dan Hesti, ikut pula Edy Wi, Uak – yang sudah resmi jadi yayangya Tami sejak bulan Juni 2016 (ehem ...) Arif Daeng, meski dalam kondisi kurang sehat namun tetap nyidam pingin ikut (lol), plus Affrel, si adik bontot karena dia yang paling muda di antara kita semua. Sesampai Demak, Wachid – yang juga gabung kita dalam event Gowes Kartini – juga ikut bergabung.

Preparation

Sebelum hari H – berbulan-bulan sebelumnya – Ranz sudah mulai “mengumpulkan” pernak pernik yang kita butuhkan waktu camping: nesting; kompor; pisau lipat; lampu yang bisa dicharge; hammock; fly sheet, dll. Sejak tahun 2013 Ranz sudah punya tenda (single layer) yang waktu itu rencana akan kita gunakan di Pantai Klayar, namun tidak jadi. Karena Ranz mendadak sakit dalam perjalanan waktu itu, kita lebih memilih menginap di penginapan dimana dari situ kita tetap bisa memandang keindahan pantai Klayar yang aduhai.

Khusus untuk bikecamping ini, Ranz juga meminjam satu tenda (double layer) dari sepupunya. Plus, kita menyewa satu tenda lagi di satu tempat persewaan alat-alat outdoor. Dengan satu buah tenda yang dibawa Edy, kita membawa 4 buah tenda dalam bikecamping kali ini: 2 tenda (double layer) bisa dipakai untuk 8 orang (masing-masing tenda 4 orang); dan 2 tenda (single layer) bisa dipakai untuk 4 orang (masing-masing tenda 2 orang).

Sabtu 10 Desember 2016

Bulan Desember memang identik dengan hujan yang turun setiap hari. Alhamdulillah hari Sabtu pagi itu, Semarang hanya disaput mendung, tanpa butiran gerimis dari langit. “Restu dari Semesta!” begitu kataku pada diri sendiri. J




Seperti biasa kita berkumpul di Balaikota. Namun rencana paling lambat meninggalkan tikum pukul 06.30 terpaksa molor. Arif yang kurang sehat badannya – pilek dan tenggorokan gatal – datang dengan menaiki sepedanya yang sebenarnya juga kurang fit untuk dinaiki jarak jauh. LOL. Om Dije yang sempat datang untuk “say goodbye” tidak merekomendasi sepeda Arif itu untuk dinaiki. Akhirnya, Arif ganti Orenj. Untuk ini, dia harus ke rumah Dwi dulu untuk menukar sepedanya dengan Orenj.


orang lewat balaikota, yang tertarik pada kita :)

Kali ini, aku naik Austin; Ranz naik Pockie; Dwi naik Oddie; Hesti naik sepeda lipat barunya yang belum diberi nama (hanya kita sebut “adik bungsu” lol); Tami naik Siput (folker putih milik Uak), sedangkan Avitt yang barusan melepas kepemilikan Poliss kepada orang lain dengan berbesar hati menaiki sepeda motornya. Alhamdulillah yah, hingga dia bisa sangat membantu membawa sebagian beban yang sebelumnya nangkring di rak boncengan Pockie.

Eh, dalam perjalanan akhirnya Tami naik Orenj; gantian dengan Arif. Nampaknya Orenj hanya ‘jinak’ pada pesepeda perempuan. LOL.


pas mau melewati rel KA, ada KA yang lewat :)

Rombongan meninggalkan tikum menjelang pukul tujuh pagi. (too late is better than never. Hahahahah ...) Atas rekomendasi Edy, kita tidak lewat Kaligawe, karena katanya kawasan itu banjir yang cukup dalam. Dari Balaikota kita belok ke Jalan Thamrin, kemudian belok menyusuri Kampung Kali, lurus sampai jembatan (baru) selepas Jalan Kartini hingga Jalan Gajah. Kita menuju arah Tlogosari. Dari Tlogosari kita menyeberang rel kereta api yang jalannya sempit namun penuh pengguna jalan. Waktu kita akan menyeberang, pas satu kereta api lewat!

Kita terus mengikuti Edy sebagai penunjuk jalan ... sampai di satu jalan ... kita disambut banjir! Hahahahaha ... Kita menghindari Kaligawe untuk menghindari banjir, namun ternyata memang banjir sangat amat ingin menyapa kita. LOL. Banjir di jalan itu nampak cukup dalam; mungkin bakal akan membasahi pannier yang berada di rak boncengan Pockie maupun “adik bungsu”. Akhirnya Ranz memutuskan untuk kembali, dan menyusuri jalan menuju Kaligawe.

Di jalan raya Kaligawe kita memang harus melewati genangan banjir, namun nampaknya tidak sedalam banjir yang tadi kita temui.



waktu berhenti di satu spbu, Arif mengistirahatkan diri :)

Selepas pertigaan Genuk, perjalanan lancar. Kita mengayuh pedal sepeda masing-masing dengan kecepatan sedang. Avitt pun berinisiatif “mengambil alih” tugas Ranz sebagai tukang dokumentasi. LOL. Avitt cukup menggunakan hapenya untuk memotret kita.

Kita sempat berhenti sebentar di satu pom bensin karena ‘nature calls’. LOL. Tidak lama, kita langsung melanjutkan perjalanan. Jelang sampai Karangtengah, Affrel pamit mau mampir ke rumah orang tuanya sebentar untuk mengambil hammock. Untuk menghemat waktu; kita tidak ikut mampir. Bahkan kita sarankan Affrel untuk naik motor; untuk sementara Avitt naik sepeda Affrel. J

Avitt menaiki sepedanya Affrel :)

Kita terpaksa berhenti lagi ketika di depan kita ada ‘pemeriksaan’ sepeda motor; apakah pengendaranya membawa SIM dan sepeda motor dilengkapi dengan STNK. Nah lo; tadi Avitt belum sempat menjelaskan pada Affrel dimana dia meletakkan STNK. Karena khawatir Affrel bakal kena masalah; kita berinisiatif berhenti, menunggu Affrel lewat. Kita mencoba menelpon Affrel; namun tidak diangkat.

Sementara yang lain menunggu Affrel; aku dan Arif melanjutkan perjalanan menuju warung soto di daerah Tembiring, untuk sarapan. Arif nampak sangat ‘mengkhawatirkan’, lol, mungkin disebabkan (1) tubuhnya memang kurang fit (2) belum sarapan.

sarapan,  kakak2 centil merubungi dedek ragil :D


Tak lama setelah aku dan Arif sampai di tempat sarapan – waktu event Gowes Kartini kita juga sarapan disini, atas rekomendasi Mas Tunggal, eks ketua Komselis – ternyata yang lain pun berdatangan. Rupanya, Affrel sudah cukup hafal kebiasaan para polantas di Demak: mereka mengadakan razia di tempat “tersebut” jelang pukul 10.00. dia – yang asli Demak – tahu bagaimana bisa sampai terminal Demak tanpa perlu melewati perempatan dimana para polantas mengadakan razia. LOL.

Seusai sarapan – sekitar pukul 10.50 – matahari besinar sangat terik. Wew. Ini terlalu siang.  Kita sempat khawatir kita sampai Pantai Kartini lebih dari jam 16.00 dan kita bakal ditolak untuk menyeberang ke Pulau Panjang. L



waktu istirahat di satu mini market, Arif istirahat lagi :)

Wachid bergabung dengan kita setelah kita melewati Trengguli. Kita beristirahat lagi sewaktu bertemu dengan mini market jelang masuk daerah Welahan. Mungkin ini sekitar pukul 12.00. Matahari tetap bersinar dengan terik.

Waktu melanjutkan perjalanan, Ranz mengeluh asam lambungnya kumat. L (Dia hanya makan satu dua sendok soun dalam sotonya waktu sarapan.) jika asam lambungnya kumat, Ranz tentu bakal kesulitan jika harus mengayuh pedal dengan cepat, apalagi beban pannier yang cukup berat di rak boncengan Pockie. Padahal kita harus secepat mungkin sampai Pantai Kartini; agar tidak keduluan hujan; hingga kita bisa menyeberang ke Pulau Panjang. :D

Disinilah Avitt menjadi savior. Pelan-pelan dia mendorong laju Pockie agar Ranz tidak terlalu harus kerja keras. Kadang gantian Uak yang mendorong. Sesampai gapura selamat datang Jepara, Uak kembali lagi untuk gantian mendorong Hesti dan Dwi; ini untuk kali pertama buat mereka gowes jauh dengan membawa pannier di rak boncengan; naik sepeda lipat. J

debut Hesti gowes jarak jauh naik seli :)



duet folker :)

Kita semua sampai di gapura pukul 14.30. alhamdulillah ... ternyata tidak “selama” yang kita perkirakan semula. Gapura ini menjadi ‘tanda’ bahwa tanjakan yang harus kita lewati telah berlalu. LOL. Trek selanjutnya tinggal trek yang menyenangkan. :D

Sekitar pukul 15.10 kita sampai di pertigaan yang jika belok kanan kita menuju terminal. Disini kita berbagi tugas. Avitt, ditemani Uak dan Tami ke mini market untuk belanja kebutuhan kita selama di Pulau Panjang; sedangkan Ranz ke pantai Kartini untuk memastikan bahwa masih ada perahu yang bersedia menyeberangkan kita ke Pulau Panjang. Yang lain juga langsung menuju Pantai Kartini.

(Note : waktu event Gowes Kartini yang lalu, para pesepeda bisa masuk Pantai Kartini gratis, kali ini kita harus beli tiket; harganya Rp. 7000,00 per orang. Wedew. LOL.)

Syukurlah tak sulit bagi kita untuk mendapatkan perahu yang akan membawa kita bersebelas – plus 10 sepeda – menyeberang. Kita ‘cukup’ membayar Rp. 330.000,00. Setelah mendapatkan kepastian kita bisa menyeberang, sambil menunggu Avitt, Uak, dan Tami yang sedang berbelanja, kita mampir ke warung yang ada untuk sekedar mengisi perut.

wajah2 lelah, meski tetap ceriah :D

Kita menyeberang ke Pulau Panjang sekitar pukul 16.30, dalam kondisi gerimis mulai turun. (big thanks to dua kru perahu yang membantu para perempuan yang ada membawakan sepeda-sepeda ke dalam perahu, ketika 4 laki-laki yang ada sedang shalat di mushalla. Avitt dkk waktu itu belum balik dari belanja.) oh ya, ternyata waktu akan menyusul  ke Pantai Kartini, mereka bertiga ‘tersesat’ masuk ke kawasan tempat menyeberang ke Karimun Jawa! LOL.

sebelum memasang tenda di pinggir pantai, kita letakkan sepeda disini

Apa pun yang terjadi ... sekitar pukul 17.00 kita telah sampai di Pulau Panjang dengan selamat, disambut gerimis. Syukurlaaaah. J

Gerimis yang datang dan pergi, menemani kita mendirikan tenda, mumpung sinar mentari masih bisa kita andalkan memberi penerangan. J Saat empat tenda telah berdiri, suasana masih belum begitu gelap.






FYI, kelompok kita bukan satu-satunya yang berkemah di Pulau Panjang di malam minggu itu. Ada beberapa kelompok lain yang juga melakukan hal yang sama dengan kita. Mungkin karena para ‘campers’ ini lah; satu warung tetap buka sampai malam, in case, para campers tidak membawa bekal. Warung ini juga menyediakan jasa ngecharge loh. J Toilet dengan air berlimpah juga ada.

Gerimis masih menggoda kita hingga pukul 20.00. Namun, setelah itu, cuaca terang. Dengan penuh tanggung jawab dan rasa kasih sayang pada sesama (halah :p), kulihat Uak mengeringkan ‘mmt’ yang kita gelar di depan tenda hingga kita semua bisa nongkrong di atas lapak yang bersih dan kering; di bawah cahaya rembulan dan bintang.


Indahnya merealisasikan impian menjadi kenyataan. :D 

To be continued