Jumat, 13 Desember 2013

Unforgettable B2W 14 Desember 2013 : Rantai sepeda putus!

Entah apa yang ada di benak dan hatiku tatkala hasrat untuk berbike-to-work begitu menggebu pada hari Sabtu 14 Desember 2013 padahal di minggu kedua bulan Desember ini aku sudah melakukannya tiga kali: hari Senin, Rabu dan Jumat. Karena seusai mengerjakan urusan dapur pukul 05.20, aku begitu "sakau" untuk bersepeda lagi, maka kupersiapkan lah barang-barang yang kubutuhkan : baju ganti, peralatan mandi (NOTE: hari Sabtu aku tidak berangkat ke kantorku di Permata Bangsa International School yang berlokasi di Gombel Golf course, melainkan ke Tembalang, maka aku harus membawa peralatan mandi) dan sarapan seadanya.)

Pagi nan cerah membuat aku kian semangat mengayuh pedal Orenj. Well, mungkin aku sedang jatuh cinta (lagi) kepada Orenj sehingga seminggu ini dia terus yang kupilih untuk mengantarku bersepeda ke kantor. (Austin duduk manis di garasi rumah. :) ) Kutinggalkan rumah sekitar jam 05.35. LBPP LIA (tempatku berbagi ilmu ke anak-anak generasi penerus) terletak di Jalan Ngesrep Tembalang, maka jalur yang kujalani sama dengan jalur ketika aku berb2w ke PBIS, kecuali selepas Pasar Jatingaleh, aku tidak perlu menyeberang untuk menapaki Jalan Gombel Lama, melainkan tetap di jalur kiri untuk terus menanjak Jalan Gombel (baru).

rantai putus! foto kujepret di seberang kampus Don Bosco

dengan rantai putus, kuabadikan Orenj di seberang gedung lama PBIS

Namun ternyata segalanya tidak berjalan semulus harapanku. :( Setelah melewati Jalan S. Parman, kemudian masuk Jalan Sultan Agung, jelang tanjakan dimana ada sekolah Don Bosco di sebelah kiri, mendadak rantai sepeda putus setelah aku memindah gear depan dari dua ke satu (gear belakang masih di posisi tujuh). Ada beberapa laki-laki yang sedang duduk-duduk di ujung Gang Lompobatang melihatku, salah satu dari mereka nyeletuk, "Ya ... rantainya putus Mbak!"

Kulihat sports tracker untuk ngecek sudah pada kilometer berapa: 6,9! Jarak rumah ke LBPP LIA Tembalang kurang lebih 12 kilometer. Hahhhh ... bingung lah aku: aku lebih baik menuntun balik Orenj, berarti trek mostly menurun, yang berarti aku harus menempuh jarak 6,9 kiometer lagi. Atau melanjutkan perjalanan, yang berarti menuntun Orenj menapaki tanjakan sejauh kurang lebih 5 kilometer. Hhhhhh ...

"Kalau boleh saya sarankan, mending Mbak lanjut perjalanan aja terus. Di bawah jembatan penyeberangan pasar Jatingaleh ada tukang tambal ban yang buka 24 jam. Tukang tambal ban biasanya punya peralatan yang bisa dipakai untuk menyambung rantai lagi," kata salah satu dari laki-laki itu.

I considered it a nice idea. Maka kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan, tentu dengan menuntun Orenj.

Tukang tambal ban di bawah jembatan penyeberangan pasar Jatingaleh ternyata tutup. (Ha ha ... padahal aku sudah memperkirakan hal ini. Beberapa bulan lalu aku mengalami ban bocor di sekitar itu, dan tambal ban disitu tutup, sekitar pukul 06.50). Namun kulihat tambal ban yang ada di jalan masuk pasar sudah standby, maka aku menuntun Orenj menyeberang jalan. And ... you can guess, si Bapak langsung dengan halus menolak, "Mboten saged Mbak," katanya.

Orenj mejeng dengan latar belakang tugu Taman Tabanas

mejeng di tempat yang sama dengan bulan Maret 2013 lalu

Baiklaaahhh!!! Aku tetap semangat melanjutkan menuntun Orenj menapaki tanjakan Gombel!!! YAY! :)

(Keinginan nanjak Gombel naik Orenj (lagi) belum terkabul. Hhhhh ... Karena ternyata aku HARUS menuntunnya. hohohoho ...)

Lepas tanjakan Gombel, di jalan sebelah kanan melihat sebuah toko jualan oli dengan 'geber' bertuliskan "GANTI OLI DAN SERVICE". Nah, I tried my luck! Kutuntun Orenj menyeberang jalan menuju toko tersebut. Namuuuun, ternyata si pegawai menolak dengan alasan tidak bisa. Orang itu kemudian menunjuk tambal ban yang terletak tak jauh dari situ. Akhirnya aku ke situ. Si Bapak yang sedang duduk-duduk di depan warung (NOTE: warung makan itu dikelola istrinya, sedang si Bapak membuka usaha tambal ban.) langsung menerimaku dengan hangat, meski ragu-ragu, "Saya coba dulu ya Mbak?"

Sekitar 10 menit kemudian kulihat beliau telah berhasil menyambung rantai. (Aku sudah legaaaa!) Namun ternyata setelah kucoba menaiki Orenj, rantainya langsung lepas! Ga putus lagi sih, tapi lepas. Yaaa ... :( Karena khawatir terlambat sampai di kantor, akhirnya kuputuskan untuk kembali menuntun Orenj. Pablebuat? :( :(

si Bapak mencoba menyambung rantai Orenj

sampaiiiiii!!!!!! 

Pukul 07.45 akhirnya aku sampai kantor. Hah! Aku cuma punya waktu 15 menit untuk mandi dan ganti baju. (Lhah, kapan sarapannya? huuuuuuuu...) Pokoknya lega dulu lah. Nanti usai ngajar pukul 12.00, aku akan menuntunnya lagi ke Bjo's Pit, bengkel sepeda milik Om AB, ketua Komunitas B2W Semarang saat ini.

What an unforgettable experience!!!

Tembalang 11.28 14/12/2013

Rabu, 11 Desember 2013

B2W 11 Desember 2013

Orenj di jalan masuk Gombel Golf course, tempat sekolahku terletak

Berbeda dari seminggu yang lalu dimana Semarang diliputi kabut gegara hujan lebat malam sebelumnya, hingga aku merasa perlu menuliskan kisahnya -- Bike to work menembus kabut (uhuk!!!) -- pagi ini cuaca Semarang cukup cerah. Rada kesiangan karena disibukkan urusan dapur, aku meninggalkan rumah sekitar pukul 05.05.

Agak heran ketika di jalan aku berpapasan dengan banyak pesepeda. Biasanya paling aku bertemu hanya 3-4 pesepeda di jalan, tadi pagi lebih dari 10 orang kalau tidak salah hitung. :) Apa karena cuaca cerah ya?

Yang ingin kutulis disini adalah ketika salah satu dari pesepeda yang berpapasan denganku di Jalan Rinjani (aku nanjak, dia turun) namun ketika aku melewati S***r**do di Jalan S Parman, dia menjajariku sembari menyapa, 

"Mau kemana?"

Mungkin  dia heran mengapa aku membawa banyak barang, backpack di punggung, tas pannier mungil di setang dan sebuah tas yang kugantung di setang sebelah kiri. (NOTE: backpack berisi laptop, tas pannier berisi mantel dan baju ganti, tas gantung berisi breakfast + lunch box.) 

"Mau ke kantor," jawabku.

Dia tidak nampak heran. Mungkin karena melihat bawaanku yang segambreng. LOL. Atau mungkin dia melihat bike tag di bawah sadel. :) 

"Kantornya dimana?" tanyanya lagi.

"Gombel," jawabku.

Dia tidak nampak kaget atau heran. hehehehe ... Tapi kemudian dia mengomentari jenis handle bar Orenj, yang katanya pinggirannya itu terlalu ke atas, harusnya agak miring ke depan. Handle sejenis itu bukan hanya untuk 'aksi' melainkan ada fungsinya, terutama di tanjakan. Ketika kaki kiri mengayuh pedal ke bawah, aku menekan pinggiran handle yang sebelah kanan, demikian juga sebaliknya. Dengan cara begitu, aku akan mendapatkan tambahan tenaga bantuan. WAH!!!

Setelah aku mengatakan, "Makasih," si pesepeda yang dari penampilannya nampak seperti pembalap, mendahuluiku. Kulihat kemudian dia turun ke arah Siranda.

Can anybody help explain it to me further? 

IB180 18.28 11/12/13

Orenj di halaman sekolah

Rabu, 04 Desember 2013

B2W 4 Desember 2013


Semarang tentu dikenal sebagai kota nan panas dan bikin sumuk. big grin Namun gegara hujan deras semalam, tadi pagi -- Rabu 4 Desember 2013 -- Semarang pun berkabut. Wahhh ... satu pemandangan yang tak lazim for sure. smile

Dan setelah seminggu yang lalu aku 'terlena' kemalasan bangun pagi untuk berbike-to-work (ngakuuuuu tongue ) akhirnya tadi pagi, bersama Orenj, aku bersepeda ke kantor kembali, menembus kabut meski tak begitu pekat, namun angin dingin senantiasa mencumbu pipiku sepanjang perjalanan sejauh kurang lebih 10 kilometer, dengan tingkat elevasi mencapai 225 meter dpl. 

Yuhuuuuu big grin
IB 18.18 4 Desember 2013

P.S.:
Belum sempat menulis review B2W bulan November. Jumlah bersepeda ke kantor tak cukup memadai untuk di-review. kekekekeke ... 

Selasa, 03 Desember 2013

GOWES NARSIS KE MANGROVE TAPAK DAN CANDI TUGU

GOMINGPAI NARSIS KE MANGROVE TAPAK DAN CANDI TUGU

Untuk mengawali kegiatan bersepeda di bulan Desember, pada hari Minggu 1 Desember 2013 aku dan Ranz gowes ke kawasan mangrove Tapak – Tugu Jrakah dan pulangnya kita mampir ke Candi Tugu. Dua kawasan ini jaraknya lumayan dekat, kurang dari 3 kilometer kalau tidak salah.
masih di kawasan Tugumuda, sebelum berangkat

mejeng di depan museum Mandala Bhakti 

on the way

Pagi itu kita meninggalkan Tugumuda – tepatnya di depan museum Mandala Bhakti tempat yang kita pilih untuk berkumpul – sekitar pukul 06.45 setelah Eko datang. Kita berdelapan – aku, Ranz, Eko, Tami, Faozi, Taufiq, Munir dan David – gowes beriringan ke arah Barat. Dengan pelan namun pasti kita memilih rute Jalan Sugiyopranoto – Jalan Jendral Sudirman – bunderan Kalibanteng – Jalan Siliwangi, hingga melewati pertigaan Pasar Jrakah. Di pertigaan kita terus melaju ke arah Barat, melewati IAIN Walisongo, RSUD Tugurejo. Sesampai kawasan wisata Taman Lele – yang dulu lumayan ngetop di dekade delapanpuluhan hingga sembilanpuluhan – kita menyeberang. Tepat di seberang Taman Lele ada sebuah jalan yang bertuliskan DESA TAPAK TUGUREJO, kita masuk ke jalan itu. Setelah mengayuh pedal sejauh kurang dari 2 kilometer, kita akan sampai di kawasan mangrove.
di jalan menuju kawasan mangrove 1

di jalan menuju kawasan mangrove 2

menuntun Austin, menyeberang 'jembatan' kayu

Ranz narsis!

Setahun yang lalu (16 September 2012, click this link) waktu gowes kesini berdua Ranz, jalanan masih berupa jalan tanah yang permukaannya tidak rata. Karena masih musim kemarau maka banyak pohon yang masih terlihat kering kerontang. Kondisinya berubah karena kali ini kita kesana setelah hujan sering turun, hingga pepohonan nampak lebih hijau. Dan permukaan jalan telah dicor sehingga sudah halus. Namun sungai yang harus kita lewati masih tetap tanpa jembatan. Untungnya kali ini ada dua bilah papan yang bisa kita gunakan untuk menyeberangi sungai sehingga aku tidak butuh bantuan Ranz untuk mengangkat Austin untuk menyeberang. Aku bisa menuntun Austin, Austin di papan yang satu sedangkan aku menapak papan yang satunya lagi. J


narsis semua daaahhh :D

foto-foto muluuuuuu

tumben aku motret nih, maka aku ga ada :D

nyebrang-nyebrang 
seems like we were in a forest yak?

lho arah mataku kemana yak?

lovely!

lovely 2! :)

pulang :)

cheers!!! :)

Tidak ada agenda apa-apa selain bernarsis ria di satu tempat yang mungkin digunakan sebagai ‘dermaga’ mereka yang naik perahu untuk menyeberang ke pulau Tirang. Waktu itu tidak ada satu pun pengelola persewaan perahu yang terlihat karena mereka sedang mengadakan acara pengajian. Mungkin kita menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk memuaskan hasrat bernarsis ria di hadapan kamera yang dibawa Ranz. J Usai foto-foto, kita kembali gowes ke arah jalan raya.


tangga yang lumayan bikin ngos-ngosan waktu menaikinya :)

kiri : tugu yang merupakan cagar budaya peninggalan kerajaan Majapahit

pemandangan yang dilihat dari atas candi

narsis teruuuuuusssss

nunut narsis berduaaaaa :D

Candi Tugu terletak di seberang RSUD Tugurejo. Cari lokasi pemakaman yang terletak di kawasan tersebut. Belok ke jalan yang terletak di Timur pemakaman, masuk sekitar 500 meter. Dari jauh puncak candi telah terlihat. FYI, candi dibangun di ketinggian sekitar 75 meter di atas permukaan laut dan untuk mencapai candi, kita harus menapaki tangga yang lumayan membuat nafas kita ngos-ngosan. LOL. Kali ini aku dan Ranz tidak ‘ngoyo’ dengan memanggul sepeda ke atas, namun meninggalkannya di bawah. J

Aku sempat beramah tamah dengan si Bapak yang jaga benda cagar budaya yang konon merupakan peninggalan kerajaan Majapahit; beliau ternyata masih ingat aku dan Ranz yang berkunjung kesini bulan April 2013(click this link). J Kondisi candi masih penuh coret-coretan, demikian juga tugunya. Yang menyedihkan adalah kita mendapati dua pasang muda-mudi yang sedang pacaran. L satu pasang di dalam candi, sedangkan pasangan yang lain kita ‘temukan’ di goa tempat meditasi. L

Jelang pukul 09.30 kita meninggalkan Candi Tugu. Untuk mengakhiri gowes, kita sarapan di satu warung soto yang terletak di Jalan Indraprasta.

Gowes hari ini sejauh 22,5 kilometer, menurut sportstracker yang kunyalakan di hape.

Sampai bertemu di event gomingpai berikutnya. J


GG 14.24 02 Desember 2013 

Selasa, 26 November 2013

GOMINGPAI KE MERCUSUAR SEMARANG

GOMINGPAI KE MERCUSUAR SEMARANG

Believe me, seumur-umur semenjak lahir di kota yang konon pernah dikunjungi Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok ini aku belum pernah menapakkan kaki ke kawasan pelabuhan Tanjung Mas dimana ada mercusuar Willem III. Sounds Dutch, eh? Yah tentu saja, karena mercusuar ini memang merupakan peninggalan pemerintah kolonial Belanda.

Sebagai seorang biking freak, tentu aku menyambangi mercusuar yang terletak tak jauh dari Pusponjolo ini dengan naik sepeda. Di hari Minggu pagi nan cerah tanggal 24 November 2013 aku bersama enam teman pesepeda lain gowes bersama. Mercusuar  Willem III merupakan tujuan kedua. Tujuan pertama kemana dong? Check this out.



Depan kampus Udinus – kampus dimana Ranz sedang menimba ilmu di waktu weekend – kita pilih sebagai titik kumpul. Dari ujung jalan Imam Bonjol itu kita gowes bersama ke arah jalan Hasanudin. Gowes sekitar 2 kilometer kita belok ke arah kanan, Jalan Taman Hasanudin. Kita melewati perumahan Permata Hijau dan Permata Merah. Tak lama kemudian kita sampai ke tujuan pertama : Vihara Welas Asih.
vihara Welas Asih
di depan altar vihara

vihara Welas Asih

Vihara Welas Asih termasuk bangunan ibadah yang terhitung masih baru. Menurut salah satu penjaga vihara, vihara ini dibangun kurang lebih 3 tahun yang lalu. Hampir semua bahan yang dipakai untuk membangun diimpor dari Tiongkok (instead of ‘China’ the guy we met mentioned ‘Tiongkok’. J) Bangunannya mengingatkanku pada vihara Avalokitesvara yang terletak di Watugong Pudakpayung. Atau memang semua vihara bentuknya mirip satu sama lain ya? J
Setelah puas menikmati keindahan arsitektur vihara Welas Asih sembari foto-fiti kita melanjutkan perjalanan. Kita lewat jalan arteri Sukarno – Hatta.



on the way

Mungkin gowes hanya sekitar 5 kilometer kita sampai di pelabuhan barang Tanjung Mas. Sebelum memasuki mercusuar, kita sempatkan diri untuk unjuk narsis di kapal SUAR II yang sedang bersandar. J Setelah itu kita masuk ke kantor navigasi dimana mercusuar terletak. Dengan ramah si penjaga membolehkan kita narsis berfoto-foto di dekat mercusuar. Bahkan kita juga diajak untuk masuk dan naik hingga puncak mercusuar yang terletak di lantai 11, sekitar 32 m dpl. Mas Tri – nama sang penjaga merangkap tour guide kita – bahkan memberikan kuliah singkat tentang bagaimana para navigator memberikan pertolongan pada para nakhoda kapal ketika mereka akan ‘memarkir’ kapal mereka. J


aku berdua Wawan in action LOL


di pundak menara mercusuar

di pintu masuk mercusuar

Ternyata mercusuar Willem III ini merupakan satu-satunya mercusuar yang terletak di propinsi Jawa Tengah; telah berusia lebih dari dua abad dan tetap digunakan sebagaimana mestinya, tak tergeser oleh teknologi terbaru, GPS misalnya. Lampu suarnya mampu terlihat sampai kejauhan 20 mil. Karena merupakan peninggalan pemerintah kolonial Belanda, tak heran jika kadang ada turis dari Belanda yang datang berkunjung, untuk ‘menengok’ bangunan yang dibangun oleh nenek moyang mereka. J Konon waktu pertama kali  dibangun, lokasi mercusuar terletak 2 meter di atas permukaan jalan. Namun karena pelabuhan ini merupakan kawasan yang sering terkena banjir maka sekarang jika kita ingin masuk ke dalam mercusuar, kita justru harus turun ke bawah.


pemandangan pelabuhan dari atas mercusuar



Mercusuar Willem III ini telah dimasukkan ke salah satu benda cagar budaya sehingga harus selalu dijaga kelestariannya. Mengingat permukaan jalan kawasan pelabuhan ini mengalami penurunan 10 cm tiap tahun, mungkin satu saat nanti pemerintah butuh membangun mercusuar baru; namun mercusuar Willem III akan tetap berdiri kokoh di tempatnya.

Setelah puas mendengarkan kuliah singkat dan foto-fiti, kita pun pulang. Sebelum berpisah, kita mampir sarapan dengan menu makanan tradisional Semarang : mie kopyok. Semarangan banget deh pokoknya.

IB180CD 18.44 26 November 2013


Sabtu, 23 November 2013

SUKUH! WE ARE COMING AGAIN!


Akhirnya setelah sembilan bulan berlalu – semenjak kita gowes ke Candi Cetho dan tidak jadi mampir ke Candi Sukuh – aku dan Ranz punya kesempatan menyambangi Sukuh lagi. YAY! Sama seperti waktu kita gowes ke Candi Cetho, dalam perjalanan ini aku naik Cleopatra, sepeda gunung polygon Cleo 2.0 yang didapatkan Ranz dari event gowes Srikandi B2W Indonesia tahun 2012 sedangkan Ranz naik Shaun sepeda lipat dahon da bike 16” single gear. (I bet you would envy Ranz’ knees! LOL.)

aku dan Elvi sebelum berangkat

di mini market pertama kita mampir membeli bekal

di perbatasan Surakarta - Karanganyar

perbatasan Surakarta - Karanganyar merupakan salah satu spot wajib foto :)

Kita memulai perjalanan pada hari Sabtu 19 Oktober 2013 pukul 07.00; tidak sepagi waktu kita gowes ke Candi Cetho karena di rumah Ranz ada Elvi, teman sepedaan yang telah hijrah ke Jakarta. Setelah usai gowes blusukan di kawasan Solo sehari sebelumnya, Elvi berangkat ke Semarang, sementara Ranz gowes bersamaku. Perjalanan cukup lancar sampai Karanganyar. Untuk sarapan kita mampir ke rumah makan ‘baru’ yang membeli franchise Soto Seger Mbok Giyem Boyolali. (Aha! Bagi fans Soto Seger Mbok Giyem ini adalah berita menarik, bukan?)

tempat kita sarapan

melewati Taman Pancasila Karanganyar

on the way menuju Karang Pandan

on the way menuju Karang Pandan 2

Usai sarapan kita melanjutkan perjalanan. Sayangnya kali ini perjalanan ‘terganggu’ dengan rasa kantukku yang tak terelakkan. Sebegitu mengantuknya hingga aku tak bisa mengayuh pedal sepeda dengan cepat. Jika sebelum mampir sarapan, aku selalu berada di depan Ranz, setelah sarapan, aku selalu berada di belakang Ranz. Hingga setelah Ranz bertanya, “What’s wrong with you?” aku bilang, “Ngantuuk!” Dan ... aku langsung berhenti dan membaringkan diri di bawah pohon untuk ... memejamkan mata! YAY!!! LOL. Aku tidak peduli menjadi tontonan orang lewat karena aku benar-benar ngantuk! (Shhhttt ... semalam kita asyik ngobrol sampai baru tertidur jelang pukul satu dini hari!)

Sempat nunut tidur di sebuah rumah makan (dengan menelungkupkan kepala di meja) yang terletak di samping pohon tempatku membaringkan diri sebelumnya selama 15 menit, pesan segelas coffee mix, meminumnya, akhirnya aku dan Ranz melanjutkan perjalanan. Hihihihi ...

Terminal Karang andanP

gapura masuk Kawasan Cetho - Sukuh

selepas pertigaan tanjakan kian curam
Kita sampai di pertigaan Karang Pandan sekitar pukul 11.00. Well, not bad lah. J Seperti biasa kita mampir di sebuah warung sederhana yang berjualan es degan Ndlik. Sayangnya kali itu si penjual tidak punya es degan. Sebagai ganti kita pesan es campur. Untuk mengganjal perut, Ranz memesan satu porsi mie ayam di warung sebelah., kita makan berdua.


nanjak lagiiii

tanjakan ini lumayan tinggi lho, dan Ranz naik seli 16" single gear :D

nanjak teruuusss

pertigaan Ngargoyoso - Tawangmangu - Karang Pandan

di pertigaan dimana kita muncul di hari kedua, seusai dari Telaga Madirda

Lepas pukul 12.00 – setelah belanja beberapa botol air mineral dan camilan di sebuah mini market di daerah Karang Pandan itu – kita lanjut gowes. Setelah tanjakan halus sepanjang kurang lebih 15 kilometer dari Karanganyar sampai Karang Pandan, trek berikutnya tanjakan yang lebih curam. Thanks goodness I was riding Cleopatra with its 24 gears! YAY! LOL.


pemandangan indah dalam perjalanan

bertemu dengan Yash dan keluarga

pemandangan di dekat pertigaan Cetho - Sukuh - Kr Pandan
h
Ranz menapaki tanjakan yang terlihat killing (dan memang beneran curam)

Dalam perjalanan kita kebetulan bertemu dengan Yash – rekan gowes dari Seli Solo – bersama ayah dan adik perempuannya.

Setelah hampir dua tahun berlalu semenjak kita ke Sukuh, ternyata kita lupa seberapa tinggi dan panjang tanjakan menuju Sukuh setelah melewati pertigaan Sukuh – Cetho – Karang Pandan. LOL. ARRRRGGGHHHH! Di pertigaan itu kita kembali mampir ke sebuah toko kelontong untuk membeli lebih banyak bekal, untuk mengantisipasi di Sukuh tidak ada orang yang jualan. Hal ini berarti beban tas pannier di rak boncengan Shaun yang dikayuh Ranz semakin berat. Hadeeehhh ...


look! aku nanjak di atas sanaaa :D

aku sudah tak nampak dari bawah :)

nanjak lagiiiii

lagi-lagi nanjaaaakkk 

Sempat terheran-heran ternyata tanjakannya sangat tinggi dan panjang (wkwkwkwk ...), digodain gerimis tipis, bertemu rombongan ibu-ibu di sebuah pemukiman dan mendapatkan info bahwa di kawasan Candi Sukuh kita bisa menemukan penginapan, akhirnya menjelang pukul empat sore kita sampai di Candi Sukuh. YESSS!!!


aku dan Ranz gantian menaiki Cleopatra, sedangkan Shaun kita dorong ajah :)

aku dan Ranz gantian menaiki Cleopatra, sedangkan Shaun kita dorong ajah :)

istirahat duluuuuu

belokan tajam menuju Sukuh

sejauh mata memandang, pohon cemara di lereng Gunung Lawu
dari ketinggian 1222 m dpl

meski dengan wajah kuyu, narsis tetap jalan :)

Ranz ga mau kalah narsis dong :D

selaluuuuu Shaun mejeng duluan di tempat yang kita kunjungi :D


Di dekat loket pembelian tiket, ada sebuah warung sederhana. Disana aku bertanya dimana aku bisa menemukan penginapan. It was my luck karena ternyata si pemilik warung itu mempunyai kamar yang dia sewakan, dengan biaya sewa yang sangat murah: Rp. 50.000,00 semalam! J Kamar lumayan luas dengan tempat tidur yang bisa cukup ditiduri empat orang – dengan ukuran sama denganku dan Ranz alias mungil LOL – dengan kamar mandi di dalam. Cool!


ah leganyaaaaaaaaaaa, akhirnya nyampe jugaaa

mejengnya atu-atu yaaa

mentari senja di Sukuh

Candi Sukuh dari depan

mejeng duluuu sebelum turun hujan lebat :)

Sempat ragu apakah sore itu kita langsung eksplore Candi Sukuh atau tidak – karena gerimis menderas – akhirnya kita memilih stay di kamar. Aku sudah tidak tahan, ingin segera mandi dan ganti baju yang tak bau keringat. LOL. Setelah mandi dengan air dingin, hujan mereda, ah, kita memang ‘ditakdirkan’ untuk berjalan-jalan ke CandiSukuh sore itu. J Jalan-jalan lah kita. J


minta tolong potretin orang :)

patung phallus setinggi 2 meter

Candi Sukuh dari belakang

sebagian relief

Sore itu ada beberapa pengunjung di dalam taman wisata Candi Sukuh. Ada juga sebuah keluarga yang baru datang dan memarkirkan mobil di tempat parkir yang tak seberapa luas. Namun baru kurang lebih 30 menit mendadak hujan deras turun, kita pun langsung lari cepat-cepat kembali ke penginapan: eman-eman kamera Ranz jika kena air, bakal rusak nanti. J


our dinner, nasgor dan mi instan goreng

Malam itu kita (ternyata) tak perlu kelaparan. Sang tuan rumah bersedia menyiapkan makan malam untuk kita berdua. Horeee ... (waktu ke Cetho bulan Januari lalu, kita kelaparan gegara tak ada warung yang buka, dan penjaga penginapan tidak menyediakan makan malam/sarapan. Menu seadanya – nasi goreng + telur ceplok nan lezat plus mie goreng + telor – pun kita nikmati dengan santai. Tuan rumah juga menyediakan dua gelas besar teh panas.
Usai makan malam kita tak bisa kemana-mana karena hujan tak kunjung reda. Maka malam itu kita hanya ngendon di kamar saja, ngobrol, dan tidur cepat untuk memulihkan tenaga.


berburu unjuk narsis :)

look! Ranz ga mau kalah :D

di gerbang selamat datang Taman Hutan Rakyar

Minggu pagi 20 Oktober 2013 kita keluar kamar sekitar jam 05.30. Pintu pagar Candi Sukuh masih digembok maka kita hanya berjalan-jalan di sekitarnya. Kita sempat jalan-jalan ke Taman Hutan Raya KGPAA Mangkunegoro I yang pintu gerbangnya terletak kurang lebih 100 meter dari Candi Sukuh. Kita ga berani masuk lebih dalam untuk mencari camping ground yang ada di dalam Tahura tersebut karena khawatir kesiangan.


narsis yuk narsis :D

sejak kapan Ranz juga narsis hayooo? :D

Sukuh dibawah guyuran mentari pagi

maafkan kenarsisanku ya teman-teman :D
narsis berdua :)

patung yang 'wah' itu :)

bersiap melanjutkan perjalanan

Sekitar pukul 09.25 kita meninggalkan kawasan Candi Sukuh setelah merasa cukup puas berkeliling dan foto-fiti. Tujuan kita hari ini adalah Telaga Madirda. Dari tempat parkir Candi Sukuh yang tak seberapa luas itu ada jalan ke arah kiri, kita mengikuti jalan itu. Jalan sempit – mungkin hanya cukup dilewati sebuah mobil saja – namun beraspal cukup halus. Beberapa meter dari tempat parkir menurun halus, namun setelah itu trek berupa turunan tajam dengan pemandangan yang spektakuler indahnya. Usai turunan curam, jalan membelok kanan dengan tajam dan ... kita langsung disambut tanjakan terjal! Perfecto! LOL.






Untunglah jalanan tidak terlalu lengang, beberapa kali kita bertemu orang dalam perjalanan hingga bisa kita tanyai arah menuju Telaga Madirda sehingga kita tidak salah arah, meskipun tidak (terlalu) banyak belokan / pertigaan / perempatan. Sekitar pukul 10.10 kita pun sampai di Telaga Madirda. To our disappointment, suasana Telaga ramai orang-orang yang nampaknya sedang having fun beroutbound-ria. Juga nampak sekelompok anak-anak muda yang menginap di musholla yang terletak tak jauh dari telaga.

Telaga Madirda tidak terlalu luas namun lokasinya cukup strategis karena dikelilingi oleh bukit-bukit yang membuatnya berhawa sejuk. Di dalam telaga banyak ikan yang terlihat asyik berenang kesana kemari dengan jinak; akan tetapi ada ‘kepercayaan’ bahwa pengunjung telaga dilarang memancing ikan di telaga itu. Satu hal yang sangat kusayangkan adalah bertebarannya sampah dimana-mana. Terlihat jelas bahwa para pengunjung tidak memiliki kesadaran yang baik untuk tidak membuang sampah sembarangan. L  


Telaga Madirda!

mejeng di samping telaga

Ranz ga mau kalah mejeng :D

Telaga Madirda nan bening

Patah hati gegara melihat rerumputan di sekitar telaga kotor karena sampah yang bertebaran, aku tidak begitu mood untuk tinggal lebih lama. L Setelah beberapa jepretan dan segelas teh hangat yang kubeli di sebuah warung sederhana di samping musholla, aku dan Ranz meninggalkan tempat.


beniiinggggnya Telaga Madirda

mejeng dulu di samping warung sederhana + musholla 

Perjalanan pulang ternyata tidak semudah yang kubayangkan semula: tinggal menikmati bonus yang berupa turunan saja. :D Dari Telaga Madirda kita kembali ke arah dimana kita datang, sampai di pertigaan pertama, kita belok kiri dimana kita langsung disambut turunan curam.  Namun setelah itu, trek naik turun tajam. Sempat beberapa kali tidak yakin dengan arah yang kita tuju, kita bertanya pada orang-orang yang kita temui di jalan. Untunglah semua menjawab dengan ramah. Kita sempat melewati tempat outbound AMANAH yang selama kita gowes ke Cetho/Sukuh sebelum ini tak pernah kita lihat kecuali papan petunjuk arah. LOL. Hingga akhirnya kita sampai di pertigaan Tawangmangu – Karang Pandan – Ngargoyoso. Yeahhhh ... ini adalah pertigaan wajib foto tiap kita lewat sini. Hihihihi ... Setelah sampai di satu tempat yang kita sudah cukup familiar, legalah kita. LOL.

Dari pertigaan itu, perjalanan pun lancar, kita tak lagi perlu bertanya kesana kemari arah yang harus kita tuju. LOL.

Matahari bersinar cukup terik, sangat berkebalikan dengan kisah gowes kita pulang dari Candi Cetho bulan Januari 2013 lalu dimana kita diguyur hujan deras. J

Untuk mengakhiri kisah gowes kita kali ini, aku dan Ranz mampir di RM Selat Mbak Lies yang telah kondang kelezatannya.

Kita sampai di rumah Ranz di kawasan Laweyan sekitar pukul 15.00. Tuntas sudah obsesi gowes (kembali) ke dua candi yang bentuknya menyerupai piramid peninggalan Suku Aztec; Candi Cetho di Dukuh Cetho Desa Gumeng Kecamatan Jenawi dan Candi Sukuh di Dusun Sukuh Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso.


GG – Tblg 25-26 Oktober 2013