Minggu, 31 Mei 2015

Segowangi 16 ~ Mei 2015



Bulan Mei 2015 #Segowangi telah mencapai penyelenggaraan yang ke-16. Not bad, eh? :)

Segowangi 15 di bulan April hanya dihadiri oleh 7 orang dikarenakan hujan lebat. Sebulan kemudian ... Mungkin karena sebagian peserta yang (dulu) rajin ngikut kehilangan 'mood' sehingga mereka tak datang di bulan Mei ini, atau karena pada sibuk kondangan -- atau menyelenggarakan kondangan, seperti beberapa teman Komselis -- bisa kukatakan partisipan segowangi 16 kali ini tidak semeriah di bulan Februari maupun Maret. But still the show must go on ya. :)

Kali ini mengusung tema HUT SEMARANG KE-468 tahun, seperti bulan Mei tahun lalu. Jika tahun lalu photo session kita selenggarakan di Klenteng Tay Kak Sie, Gereja Blenduk, Gedung Batu Sam Poo Kong dan Tugumuda/Lawangsewu, kali ini kita adakan photo sessioatn di Taman Pandanaran, Gedung Batu Sam Poo Kong dan jembatan antara Puspanjolo - Lemahgempal. Sebenarnya kita mau berfoto-ria di bawah, agar jembatanna kelihatan, namun karena lokasi itu penuh dengan tenda-tenda dan persiapan Festival Banjirkanal Barat, kita hanya berfoto di jembatan. :)

Sila menikmati foto-foto, hasil jepretan Ranz. :)





































Bikepacking ke Taman Nasional Baluran

Siapa yang tidak ingin dolan ke Taman Nasional Baluran yang juga dikenal sebagai Africa van Java? ini salah satu kisah bersepeda yang ingin kubagikan di postingan ini. :)

Karena ngiler melihat foto teman yang bersepeda di savana TN Baluran yang luas dan membuatnya terlihat seperti sedang bersepeda di Africa lah yang membuatku bermimpi untuk kesana. Begitu mendapatkan waktu yang tepat, aku dan Ranz, soul mate bikepacking-ku, langsung mengeksekusi rencana yang terendap cukup lama. :)

Kita berangkat dari Solo dengan KA Sritanjung, kereta api ekonomi yang harga tiketnya hanya Rp. 100.000,0 menuju Banyuwangi pada hari Minggu 3 Mei 2015. Sepeda lipat -- moda transportasi yang bakal kita naiki menuju TN Baluran dari Banyuwangi -- tertata rapi di ujung pintu antar gerbong. Perjalanan Solo - Banyuwangi memakan waktu 13 jam, 1 hari penuh. Berangkat dari Solo pukul delapan pagi, sampai di stasiun Banyuwangi Baru pukul sembilan malam. Itu sebab hari Minggu malam kita menginap di satu penginapan yang terletak di sebrang stasiun.



Hari Senin pagi 4 Mei 2015 kita mulai gowes ke TN Baluran yang terletak kurang lebih 45 kilometer, dengan trek naik turun namun dengan pemandangan berupa pantai yang enak dipandang mata. Meski trek naik turun, permukaan jalan beraspal halus sehingga mudah bagi kita mencapai lokasi. Trek mulai menantang -- tak lagi berupa aspal halus, namun tanah berbatu, kadang aspal yang telah terkelupas parah -- sejak kita melewati pintu gerbang masuk TN Baluran hingga sabana Bekol yang berjarak 12 kilometer. Jika kita naik mountain bike dengan ban yang diset khusus untuk trek sejenis itu tentu sangat menyenangkan. Namun jika naik sepeda lipat dengan ban lebar 1,5 cm, ya silakan ketar ketir sepanjang perjalanan. LOL.



Untunglah kita beruntung, tak ada kendala yang berarti yang kita hadapi. Setelah bersepeda selama kurang lebih satu jam dari pintu gerbang masuk, akhirnya kita pun sampai ke sabana yang kita idam-idamkan. Yuhuuuuu ... Maka hal selanjutnya yang kita lakukan tentu bisa diperkirakan : foto-foto! Meski rerumputan yang ada tidak begitu berwarna kuning gegara hujan yang masih saja turun di awal bulan Mei itu (sehingga kesan serasa di Africa tidak kita dapatkan LOL), kita tetap excited.

Lumayan puas foto-foto, dan karena haus plus lapar, sementara di sabana Bekol itu tidak ada kantin, kita melanjutkan perjalanan ke Pantai Bama, yang terletak kurang lebih 3 kilometer.  Pantai Bama berada di satu lokasi dengan TN Baluran. pantai ini memiliki pasir putih, di antara pasir putih dan air lautnya terdapat lumpur yang mengakibatkan rerumputan tumbuh disana. Jika sore hari saat air laut turun, kita bisa melihat rerumputan tersebut, namun di pagi hari saat air laut pasang, rerumputan akan tertutup air laut.

Binatang yang banyak berkeliaran di pantai Bama adalah monyet-monyet yang dibiarkan tumbuh liar. Mereka dengan sigap mengobrak-abrik tas yang dibawa pengunjung yang lalai. Itu sebab kita harus terus hati-hati menjaga tas yang kita bawa.





Di Pantai Bama kita menginap dua malam. Disini ada sebuah kantin yang siap menyediakan para pengunjung sarapan dan makan siang. Untuk makan malam, kita harus mengantisipasi sendiri karena kantin tutup jam empat sore. :)  Oh ya, dua hal lain lagi yang harus diantisipasi ketika berkunjung ke Pantai Bama adalah tidak ada sinyal telpon (apalagi internet), dan tidak ada aliran listrik. Untuk mengganti aliran listrik, pengelola menyediakan genset, yang dinyalakan mulai pukul setengah enam sore hingga pukul sebelas malam. Jika anda ingin melarikan diri dari kepenatan kerja, dan tidak dikejar-kejar orang (lewat telpon, misalnya0, datanglah ke Pantai Bama! :)



Hari Rabu 6 Mei kita kembali bersepeda ke Banyuwangi. Kita kembali ke Solo dengan naik KA yang sama, Sritanjung, pada hari Kamis 7 Mei 2015. Sepeda lipat kita taruh di bawah tempat duduk dan di rak di atas tempat duduk. :)

Jika anda merasa bahwa anda mencintai lingkungan dan ingin menjaganya, ayolah coba berwisata dengan naik sepeda (bisa disambung dengan bus atau kereta api jika tujuannya cukup jauh). Kujamin, it is gonna be very exciting! :)

LG 19/06/2015

Kamis, 28 Mei 2015

Gowes ke Sekatul

Tahun ini sudah beberapa kali aku gowes ke Sekatul. Pertama kali di bulan Januari bersama Om Dije, Om Imam, David, dan Ranz. Yang kedua hari terakhir bulan Februari, bersama Tami, Ranz, Om Micky, dan Om Dije. Oh ya, pada waktu itu Rizky sempat menyusul kita, tapi hanya sebentar. Dia datang belakangan namun pulang duluan. :) Aku tidak menulisnya di blog karena ... sampai sekarang aku tidak mendapatkan foto-foto yang dijepret oleh Ranz waktu itu dan aku sendiri tidak memotretnya menggunakan kamera di hapeku. :)

Yang ketiga, aku gowes ke Sekatul sendirian, di awal bulan April. Karena sendirian, aku tidak banyak mampir kemana-mana, bahkan untuk sarapan juga tidak. Aku hanya berhenti satu kali di satu penjual gorengan di kawasan perumahan Jatisari, aku membeli beberapa gorengan dan sempat memakan satu tempe dan dua singkong goreng. Selepas terminal Cangkiran, aku sempat mampir di satu warung untuk membeli air mineral, namun tidak jadi karena hanya ada dalam ukuran botol 1,5 liter. Wah ... entar bikin setang Cleopatra goyang dah. :) Maka aku ga jad beli. Sampai di Sekatul pukul 07.30, very early, pintu pagar sudah dibuka tapi di dapur belum ada kegiatan apa-apa. :) Aku baru memesan makanan sekitar jam 10.00 :)

Yang keempat bersama Ranz, kapan ya? Lupa. :) Kali ini Ranz membawa kamera tapi karena mood-nya sedang jelek, dia sama sekali tidak memotret menggunakan kameranya. Hohohoho ... Kita berhenti sekali, sarapan di warung soto sebelum nanjak Esperanza. Setelah itu mampir di satu minimarket membeli air mineral, namun ga pake ngendon, karena kita langsung melanjutkan perjalanan. Pertama kali Ranz naik Haro, sepeda BMX-nya yang baru, dan perjalanan sangat lancar, beda dengan beberapa tahun lalu waktu Ranz naik Feby, dimana dia ngeluh mulu. :D

Berikut foto-foto yang kujepret waktu aku gowes ke Sekatul sendirian. :)

PS 19.39 28/05/2015







Selasa, 26 Mei 2015

Gowes ke Wana Wisata Penggaron

Sebagai seorang warga Semarang, tentu aku pernah dengar nama hutan ini, namun sama sekali belum pernah kesana. Mungkin jika aku tidak berhobi sepeda, aku belum akan pernah kesini. Hehehehehe ...

22 Mei 2015 pagi itu semula aku mengajak Ranz gowes ke perkebunan kopi Banaran yang terletak tak jauh dari Bawen, arah ke Salatiga. Selain kepengen gowes yang agak jauh, aku juga pengen beli kopi. :) 

Namun ternyata dalam perjalanan, mood kita berubah. :p Aku sempat mengajak Ranz mencari lokasi Goa Putri, satu lokasi yang duluuuuuuuuuuu pernah menjadi tujuan hiking aku dengan kawan-kawan lama. (Catat: duluuuuuuuuuuu sekali. LOL.) Goa satu ini terletak tak jauh dari terminal Banyumanik. Tapi ternyata kita tidak menemukannya. Ya sudah, kita melanjutkan perjalanan aja ke arah Ungaran.

Oh ya, kita sempat mampir Tembalang untuk sarapan soto. Ranz yang merasa asam lambungnya kumat, dia minta untuk segera mencari sarapan. Padahal semula rencana mau sarapan di Ungaran (jika jadi ke Banaran). 

Wana Wisata Penggaron terletak setelah kita melewati gapura perbatasan Semarang - Ungaran, di sebelah kiri. Dari jalan raya, kita masih harus mengayuh pedal sepeda kurang lebih sejauh 2,5 kilometer. 

Sesampai sana ... owalaaaahhhh ... that is really nice! :) 

See our pictures aja ya?

Pulangnya kita mampir ke Kampung Nasi, satu rumah makan yang terletak di Jalan Erlangga, bukan untuk makan nasi namun hanya untuk minum es karena siang itu Semarang panas sekali.

Well, jika ingin bertualang ke dalam hutan, berarti, aku ga perlu jauh-jauh gowes ke Semirang. Hihihihi ...

LG 08.55 27/05/2015