Jumat, 20 Desember 2019

Seberapa sakti dengkulmu?

waktu ngikut Tour de Pangandaran 7


Guys, tentu pernah dengar kan komentar orang, "sing penting dengkule" ketika membahas tentang sepeda 'bagus' versus sepeda "kurang bagus" hingga butuh upgrade sepeda. Setelah upgrade sepeda, ternyata tetap ga mampu "mengikuti" kecepatan kawan bersepeda, misalnya, maka candaan berikutnya adalah "upgrade dengkul". lol.


Beberapa hari lalu ada satu pertanyaan di grup id-fb alias Indonesia FoldingBike, "yang biasa komen yang penting dengkulnya, tolong jelaskan teknisnya bagaimana?"


Well, aku ga sempat baca komen-komen lain secara serius, tapi hal ini langsung mengingatkan pengalamanku sendiri. Aku bersepeda (hampir) tiap hari, jauh lebih sering bike to work ketimbang naik motor ke kantor (ini bisa saja terjadi biasanya mungkin karena janjian bertemu Ranz di kantor, dia langsung dari Solo menuju kantorku; atau dulu ketika kadang pulang kerja langung ke rumah sakit menunggui Ibu yang sedang sakit). Semenjak tahu bahwa di strava ada challenges yang bisa menaikkan minatku gowes lebih rajin, (honestly, beberapa tahun terakhir gairah bersepeda ini turun drastis) aku kembali rajin bersepeda, menantang diri sendiri, misal, seminggu minimal bersepeda sejaun 200 km. Apalagi semenjak tahu bahwa ada 'reward' yang bisa kita pajang di akun strava, misal dengan ikut challenge grand fondo, bersepeda 100 km sehari. aku kian bersemangat. Di bulan Oktober 2019, aku mencatat rekor bersepeda sejauh 1000 kilometer sebulan. pencapaian yang wow buat diriku sendiri, lol.


Ranz juga bike to work setiap hari. Tapi dia aslinya jauh lebih malas bersepeda dibandingkan aku. lol. Beberapa kali dulu dia mengajakku loading ketika dolan bersepeda, misal saat kita gowes ke Umbul Sidomukti, dia sempat ngeluh ngajak cari loadingan, tapi aku yang keeukeuh untuk lanjut gowes, meski tentu kadang harus nuntun di tanjakannya yang spektakuler itu. lol. Kalau sRanz edang ke Semarang, aku tentu lebih suka mengajaknya naik sepeda saat pergi kemana-mana, tapi dia kadang kumat malesnya, dia akan merayuku untuk naik motor saja. lol.


Tapi, as you know, ketika kita gowes bareng, bikepacking antar kota kadang antar propinsi, dia jauh lebih perkasa lah ketimbang aku. Bahkan kadang saat dia dalam kondisi drop, misal saat kita gowes ke Klayar, tetap dia yang membawa pannier full-loaded berisi barang-barang kita. dia ga sampai hati jika aku yang membawanya.


Padahal jika sepeda lipat yang kita naiki dibandingkan, Austin jauh lebih mumpuni upgrade-annya ketimbang Pockie, sepeda lipat andalan Ranz (dulu) buat mbolang berhari-hari. Aku juga bersepeda jauh lebih sering ketimbang Ranz. Namun, tetaplah, dia jauh lebih perkasa ketimbang aku.


Apa karena dia lebih muda 20 tahun ketimbang aku? Hmmm ... belum tentu perempuan seusianya sekuat dirinya jika mereka naik sepeda dengan 'kualitas' sepeda-sepeda yang dimiliki Ranz. hohoho ... (dia pernah gowes Solo-Semarang-Solo naik dahon da bike 16" single speed, pernah gowes Solo - Semarang naik sepeda bmx)


lalu, ga bisa lah aku menjawab pertanyaan iseng (bagiku iseng) di grup id-fb itu. "teknisnya bagaimana?"


ketika aku membahas hal ini dengan Ranz sambil tertawa-tawa, dia bilang, "Kurasa ini mirip dengan membandingkan bakat dan latihan." Untuk 'mencapai' kemampuan Ranz bersepeda, aku kudu rajin latihan terus menerus, dia ga perlu latihan namun tetap saja bisa mengalahkan aku. 😜😛😝


Jadi ingat beberapa minggu lalu dia cerita dia menemukan satu obrolan di milis id-fb sekian tahun lalu. ternyata Ranz menjadi bahan obrolan di milis itu tentang pengalamannya bersepeda Solo - Semarang- Solo (2 hari) dengan naik Shaun, dahon da bike 16" single speed. di obrolan itu, ada yang bilang, "saya dengar dia nuntun sepedanya di tanjakan." Ranz bercerita ke aku tentang hal ini sambil bersungut-sungut, kenapa laki-laki merasa terancam dengan kenyataan bahwa aku bersepeda Solo-Semarang-Solo naik single speed sehingga memfitnah seperti itu?" kekekekekekeke ...


Kadang, Ranz memang suka bercanda dengan berkata, "ini karena otakku tuh adanya di dengkul". wakakakakakakakaka ...


IB 11.45 21-Desember-2019

Jumat, 13 Desember 2019

S t r a v a

Strava bukan aplikasi pertama yang kudonlod untuk kupakai merekam kegiatan bersepeda/berjalan. kalau tidak salah aku mulai menggunakan aplikasi sportstracker tahun 2012, satu tahun setelah aku menggunakan hape android tahun 2011. Aku 'ketularan' Ranz menggunakan aplikasi ini. 😜 ketika beberapa teman mulai menggunakan aplikasi endomondo, aku ikutan nyoba. tapi, ternyata aku ga begitu cocok, aku pun kembali menggunakan sportstracker.

Ganti hape tahun 2014, kemudian ganti lagi awal tahun 2017, aku tetap mengunduh sportstracker untuk mengetahui seberapa jauh jarak aku bersepeda.

Desember 2017 ketika aku dan Ranz berada di Sidoarjo untuk memulai perjalanan bikepacking ke Gunung Bromo, dia mengunduh strava di gadget yang kupakai. Ternyata dia tertarik untuk mengaplikasikan app relive yang waktu itu bisa diakses via strava. Aku pun mulai menggunakan strava saat meninggalkan Sidoarjo menuju Probolinggo, kemudian lanjut ke Cemara Lawang keesokan hari.

Sejak saat itu, aku meninggalkan sportstracker. hihihi ... terutama ketika di akhir tahun 2017 aku tahu ada catatan tahunan yang bisa kita dapatkan dari strava: berapa hari dalam satu tahun kita berolahraga (sambil menyalakan strava tentu). Wah, asyik nih. Kita bisa tahu berapa hari dalam satu tahun kita sama sekali tidak melakukan olahraga. Juga berapa ratus/ribu kilometer yang telah kita tempuh dalam satu tahun itu.

Agustus 2018 aku ikut klub '13 tahun b2w' karena ada lomba bagi mereka yang rajin bike to work dan menyalakan strava. peserta wajib bergabung dengan klub ini di strava.

Aku lupa mulai kapan gabung klub 'Kagama Kita Gowes Bersama'. Aku ikut klub, tapi ga pernah ngecek ada apa saja di dua klub yang kuikuti itu. hihihi ... Sampai akhirnya beberapa bulan lalu (di tahun 2019) ada screenshot urutan 'leaderboard' di grup Kagama Virtual Cycling. Aku heran karena namaku tercantum di daftar 10 besar, padahal aku merasa bersepedaku seadanya saja, hanya bike to work dan bike to home. Kadang-kadang saja bersepeda di weekend, terutama ketika ada event, misal menghadiri ultah satu komunitas sepeda lipat.

Ternyata hal ini membuatku kian tertarik pada strava, dan mulai mencoba mengenali lebih jauh. Jika di sportstracker dulu aku sangat 'soliter' tidak memiliki network ('teman' baik yang aku follow maupun follow aku), di strava aku mulai lebih ramah. hihihi .. Aku follow beberapa orang, dan beberapa orang follow aku. Aku kadang online di strava untuk melihat-lihat aktifitas orang lain di hari itu, Kadang menulis komen, setelah tahu bahwa kita pun bisa menulis komen disana. hihihi ...

Selain ikut dua klub itu, aku cari-cari klub lain yang mungkin cocok kuikuti. Setelah nemu 'WCC Nusantara' aku bergabung. Kupikir aku cocok di klub ini, kan semua anggotanya perempuan, meski well, kubayangkan orang2 WCC pasti orang2 yang suka ngebut karena kebanyakan naik RB atau minimal MTB lah, sedangkan aku lebih sering naik Austin (yang seli) atau Larung (yang balap jadul tapi dengan grupset ala kadarnya lol).

Gegara memperhatikan akun orang-orang disana, aku mulai lihat ternyata ada challenges yang menarik disana, mulai dari gowes 10000 kilometer satu tahun, gowes 1250 kilometer sebulan, 100 kilometer satu hari, dll. Waaah ... asyik niiih. Dan ... gegara mulai ngikut challenge itu, aku semakin terpacu untuk gowes lebih sering dan lama, ga hanya saat bike to work maupun bike to home.

Aku mulai ikut challenge gowes 1250 kilometer bulan Oktober 2019. Bulan itu aku bersepeda 'hanya' sejauh 1000 kilometer. Bulan November 2019, malah 'hanya' 950 kilometer sebulan. Entah deh bulan Desember ini. By the end of the year, kira-kira bakal tercapai ga ya jarak gowes 1250 kilometer sebulan? Hmmm ... Wish me luck yaaa. (masih sering mager soalnya! hihihi ...)

Minggu, 08 Desember 2019

Segowangi 69








Di bulan November 2019, kita menyelenggarakan Semarang Gowes Jemuwah Bengi untuk yang ke-69, pada tanggal 29 November 2019.

Setelah hujan 'absen' dari hari-hari kita selama berbulan-bulan, hari Jumat 29 November itu mendadak hujan turun di beberapa kawasan pinggir kota Semarang. Itulah sebabnya meski di area jalan Pemuda tempat kita berkumpul sebelum mulai bersepeda bersama tidak turun hujan, kawan-kawan yang tinggal di area Semarang Timur, Semarang Barat (Krapyak dan sekitarnya) juga Semarang Selatan memilih untuk tidak datang. 😓😒😑

Kali ini aku memilih rute Balaikota -- Tugumuda -- Jl. Sugiyopranoto -- Jl. Jendral Sudirman -- Kalibanteng (naik flyover) -- Jl. Siliwangi -- Jl. Muradi -- Jl. Abdulrahman Saleh -- Jl. Dr, Suratmo -- Jl. Simongan -- Jl. Kaligarang -- Jl. Dr. Sutomo -- Tugumuda.

Ajaibnya area yang kita lewati sepanjang bersepeda bersama, hujan sama sekali tidak mampir. :) hanya angin dingin yang menandakan bahwa hujan turun di area lain yang terasa.

Berikut foto-foto hasil jepretan Ranz.





















H u n c h


Aku bukan orang yang diberi 'kelebihan' berupa membaca masa depan. Namun, terkadang ada beberapa hunch yang benar-benar terjadi. Satu hal yang membuatku merasa bagaimanaaa begitu. Kok bisa ya?


Yang terakhir terjadi padaku adalah saat bersepeda nanjak Sigar Bencah hari Selasa 3 Desember 2019 lalu.


Tanpa rencana apa pun aku mengayuh pedal Cleopatra menuju Kalibanteng, kemudian belok ke arah jalan arteri Yos Sudarso. Namun aku tidak bermaksud menggeber Cleopatra hingga Kaligawe. Rasa lapar yang melanda membuatku belok ke arah Jl. Ronggowarsito, kemudian belok ke Jl. Pengapon, belok ke arah Jl. Raden Patah, untuk mampir warung susu Karangdoro yang lumayan terkenal di antara para pesepeda. Namun ternyata aku tidak beruntung karena ternyata warung tutup.


Aku ingat ada beberapa warung 'hik' di pinggir jalan arteri Jl. Sukarno Hatta yang berjualan berbagai macam buah yang siap disantap. Untuk mengisi perut, aku menuju kesana. Ternyata, kembali aku kurang beruntung. Beberapa warung itu pun tidak buka. (atau 'belum' buka ya?) Berhubung perutku masih terasa bisa menahan lapar. Aku terus mengayuh pedal Cleopatra.


Di depan kampus USM, ada jalan belok kiri, aku memilih menapaki jalan itu. Aku tidak tahu nama jalan itu, namun sebelum sampai area yang bernama kampung Malangsari (?) aku belok kanan, yang bakal melewati area perumahan Dempel Asri. Dari jalan itu, aku terus melaju ke arah Timur (?) sampai aku bertemu flyover Jl. Wolter Monginsidi. Disitu, aku belok kanan. Aku berhenti di satu warung kelapa muda.


Setelah minum segelas es kelapa muda dan ngemil dua biji lumpia, aku melanjutkan perjalanan. Dari Jl. Wolter Monginsidi aku belok ke jalan arteri SH, kemudian menyeberang ke Jl. Fatmawati. Karena mendapatkan 'urge' yang bagus, aku memilih lanjut ke arah Meteseh, kembali mencoba melewati tanjakan Sigar Bencah.


Seingatku tanjakan Sigar Bencah tidak se'killing' tanjakan menuju kampus Unnes Sekaran. Namun ternyata ingatanku menipuku. Lol. Meski tidak securam tanjakan menuju Unnes, tanjakan Sigar Bencah ini ternyata juga terasa berat. Hahaha … Nah, waktu melaju super pelan namun pasti ini tiba-tiba aku ingat pengalaman beberapa bulan lalu. Aku sedang menapaki tanjakan Panjangan alias Jl. Untung Surapati dari arah Jl. Simongan. Saat itu mendadak aku ditabrak orang dari belakang. Yang menabarakku seorang laki-laki yang hendak berangkat kerja, dia berhenti di belakangku, ikut membantuku berdiri, sementara aku ngomeli dia ngalor ngidul kok bisa-bisanya dia menabrakku padahal aku sudah di pinggir sekali. Waktu itu Cleopatra tidak bisa kunaiki lagi, BB-nya patah! Laki-laki itu meminta maaf, namun permasalahan ga selesai hanya dengan permintaan maaf kan ya. Ada seorang laki-laki lain yang ikut berhenti dan mencoba ikut membantu. Aku minta si penabrak memberikan KTP-nya ke aku sebagai jaminan bahwa dia akan mengganti biaya ganti BB. Sementara itu, aku bilang ke dia aku bisa menuntun Cleopatra ke arah Jl. Suyudono, tempat bengkel sepeda langgananku.


Nah, waktu nanjak Sigar Bencah itu aku mendadak kepikiran, kalau sampai hal itu terjadi lagi (aku ditabrak orang dari belakang), aku repot karena lokasiku jauh banget dari bengkel sepeda langgananku. Ga mungkinlah aku menuntun Cleopatra sejauh puluhan kilometer. Saat kepikiran itu, mendadak aku ditabrak orang dari belakang! Astagaaaah … kok bisa terjadi lagi yak? 😞😟😠



Aku sempat terjatuh meski aku bisa langsung berdiri lagi. Yang pertama kucek adalah apakah Cleopatra masih bisa 'berjalan'. Syukurlah Cleopatra bisa kudorong depan belakang, roda juga berputar seperti biasa. Tentu aku deg-degan dan rasanya pingin ngomel ke orang yang menabrakku. Kali ini yang menabrakku seorang remaja laki-laki yang mengaku akan berangkat ke kampus. Dia mengantuk, seperti tuduhanku kepadanya. Karena Cleopatra tetap bisa berjalan, aku merasa tidak perlu ngomel ngalor ngidul ke anak yang mengaku mahasiswa D3 Sipil Undip.


Setelah kejadian itu, dengan tertatih-tatih aku masih bisa melanjutkan perjalanan hingga 'puncak' Sigar Bencah, hingga sampai Tembalang, dan turun lewat Jl. Gombel Lama. Cleopatra benar-benar (terasa) baik-baik saja.


Sehari setelah itu, aku kembali menaiki Cleopatra. Aku berencana menapaki jalan sebaliknya, mendaki Gombel, kemudian turun lewat Sigar Bencah. Ketika menapaki jalan Sultan Agung, dua orang yang melewatiku mengomentari ban belakang Cleopatra, "Ban belakang oleng mbak!" kata dua orang itu. Aku tersenyum sambil berpikir apakah aku akan melanjutkan perjalanan atau balik kanan. Jika memang kejadian ditabrak dari belakang kemarin itu membuat ban belakang Cleopatra bermasalah, toh sehari sebelumnya aku berhasil lanjut nanjak Sigar Bencah dan menuruni Gombel dengan lancar. Berpikir begini, aku melanjutkan perjalanan.


Sesampai 'ujung' Teuku Umar, aku sengaja tidak memilih jalur flyover. Kali ini kembali aku ditegur seseorang tentang ban belakang Cleopatra. Akhirnya aku mengalah, balik kanan. Aku turun lewat Tanah Putih, lurus sampai Bubakan, mampir warung susu Karangdoro untuk jajan es the dan arem-arem. Setelah melanjutkan perjalanan sampai kurang lebih 36 kilometer, aku membawa Cleopatra ke bengkel langgananku, di Jl. Suyudono.


Seandainya waktu mulai nanjak Sigar Bencah itu aku tidak memikirkan kejadian di tanjakan Panjangan itu, akankah aku tetap di'sundul' dari belakang?


Setelah melihat postinganku di instastory, seorang kawan sepeda berkata padaku bahwa dia tidak berani nanjak Sigar Bencah karena jalan itu ramai, baik dari arah bawah maupun arah atas, plus tanjakan curam dan belokan yang tajam sangat tidak menguntungkan bagi pesepeda, apalagi menapaki tanjakan itu sendirian. Nampaknya dia benar. Next time, aku ga usah ngoyo 'latihan' tanjakan lewat Sigar Bencah lagi. Masih bejibun tanjakan lain lagi di kota Semarang. 😝


PT56 15.50 08-December-2019

Selasa, 03 Desember 2019

Bye bye KA Kalijaga

Aku lupa mulai kapan naik KA Kalijaga untuk dolan ke Solo. Setelah merasakan naik kereta api dengan membawa sepeda lipat, aku menyadari ternyata kereta api adalah moda transportasi tepercaya ketika kita membawa sepeda lipat. Meski sempat merasakan kesulitan menghadapi kru KA yang belum familiar dengan kebijakan bahwa sepeda lipat boleh dibawa ke dalam gerbong, aku harus mengakui bahwa sepeda lipat jauh lebih aman di dalam gerbong ketimbang masuk ke dalam bagasi bus.

Note: aku dan Ranz adalah traveler yang mengandalkan moda transportasi umum, seperti kereta api, bus, atau pesawat terbang (yang jarang kita naiki).

Khusus untuk KA Kalijaga karena tiket yang murah meriah, hanya sepuluh ribu rupiah, tentu menjadi pilihan utama, terutama jika aku punya waktu luang untuk berangkat ke Solo di pagi hari. Kalau di pagi hari aku ada kerjaan, ya terpaksa berangkat ke Solo siang hari, berarti naik bus. Sekian tahun hanya ada satu keberangkatan KA Kalijaga menuju Solo, yakni pukul 09.00. Setelah KA Joglosemarkerto beroperasi, ada alternative lain, berangkat ke Solo sekitar pukul setengah tiga sore.

23 Juni 2019, aku pertama kali naik KA Joglosemarkerto dari Jogja ke Semarang. Berangkat pukul dua siang dari stasiun Jogja, sampai stasiun Tawang menjelang pukul setengah enam sore.

Aku mulai berpikir wah nyaman nih buat traveler sepertiku. Berangkat ke Solo naik KA Kalijaga, jika ingin ke Jogja, tinggal melanjutkan perjalanan naik Prameks. Pulangnya ada KA Joglosemarkerto, jika tidak ingin naik KA Kalijaga yang meninggalkan stasiun Balapan jam 05.15 pagi.

Namun ternyata mulai 1 Desember 2019, KA Kalijaga berhenti operasi. 😞😟😠 Tidak ada lagi keberangkatan kereta api di pagi hari dari Semarang menuju Solo/Jogja. Ada satu keberangkatan KA Joglosemarkerto di pagi hari, tapi harus memutar dulu ke Purwokerto. 😞 Duh ...

Masih berat rasanya tak lagi ada KA Kalijaga.

Sebenarnya pemerintah itu melulu mencari profit dari moda transportasi yang seharusnya merakyat ini, atau benar-benar mau melayani kebutuhan masyarakat level bawah? 

Imam Bonjol 18.52 03-Desember-2019