Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label gowes AKDP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gowes AKDP. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 Juni 2025

Ngepit ke Sukoharjo (lagi!)

 


Well, aku berangkat ke Solo hari Kamis 29 Mei 2025 yang bertepatan dengan peringatan Hari (Raya) Kenaikan Isa Al-Masih. Ranz berjanji akan menemaniku bersepeda ke Waduk Cengklik. FYI, selain Omah Prahu yang pernah kami sambangi dengan naik sepeda 2 tahun lalu, di lokasi sekitar situ sudah banyak kafe-kafe lain yang dibangun, dengan pemandangan unggulan berupa sunset di Waduk Cengklik. Satu tahun yang lalu, aku, Ranz beserta mbak Niken, Deven dan Rama ke Waduk Cengklik juga -- naik taksi online -- untuk menikmati pemandangan sunset, namun kami tidak ke Omah Prahu, melainkan ke Amanat Café.

 

Tapi, eh, tapi, sesampai aku di Solo tanggal 29 Mei yang lalu, Ranz menjemputku bersama Deven, sarapan nasi liwet di samping pool shuttle yang kutumpangi, lalu ke Taman Balekambang, naik taksi online. (padahal aku membawa backpack! Ranz ga memberi kesempatan untuk balik ke rumah dulu untuk meletakkan backpack yang kubawa di rumahnya.) Kebetulan Deven belum pernah ke Taman Balekambang setelah direnov, dan sekalian pas ada pameran museum-museum (tidak hanya ada museum-museum dari Solo, tapi juga ada museum-museum dari kota dan propinsi lain.)

 

di stand Museum Mulawarman, Kal-Tim
 

 

di Minoa Cafe

Pulang dari Balekambang, istirahat sebentar, Ranz langsung mengajak ke Waduk Cengklik, bersama Deven lagi. Nah lo, kalau sama Deven jelas tidak mungkin kami bersepeda. Aku setuju-setuju saja karena kebetulan cuaca cerah, bisa berharap bakal dapat pemandangan sunset. Kami bertiga ke Waduk Cengklik naik taksi online, (it cost Rp. 73.000,00, berangkat dan pulang harga sama.) Kali ini kami ke Minoa Café, satu kafe baru lagi, yang kebetulan lokasinya bersebelahan persis dengan Amanat Café.

 

Walhasil, keesokan hari, aku MEMAKSA Ranz untuk menemaniku sepedaan ke Sukoharjo! Well, better biking to Sukoharjo than nothing at all, lol. Aku hampir saja 'menantang' Ranz bersepeda ke arah Karanganyar: ke Alas Bromo! Hohoho. Tapi, ke Sukoharjo yang pp hanya sekitar 35 kilometer saja Ranz ogah-ogahan, apalagi ke Alas Bromo yang bakal menempuh jarak sekitar 80 kilometer pp. awokawokawok.

 

Hari Jumat 30 Mei 2025, kami meninggalkan rumah Ranz sekitar pukul 07.00, aku naik Astro, Ranz memilih naik Shaun entah apa yang terjadi pada Petir, kok Ranz tidak naik Petir. Well, actually, I would prefer to ride Hazel than Astro, tapi, Ranz ngeluarin Astro, ya wislah, manut. Lol.

 


 

Sesampai Sukoharjo, seperti biasa, Ranz terus melaju menuju alun-alun, baru kemudian balik ke arah Jl. Jaksa Agung A. Suprapto, tempat di mana RM Ayam Goreng Mbah Karo Tembel terletak, ini warung ayam goreng kesukaan Jan Ethes, cucu pertama Presiden ke-7, Joko Widodo. :)

 

Pulangnya, Ranz mengajak mampir di satu gerai fast-food resto di satu mall di Solo Baru. Aku jajan iced coffee, Ranz memilih jajan es McFlurry, dan cheeseburger yang dibungkus dibawa pulang buat Deven.

 

Pulang dari sepedaan ke Sukoharjo ini, kami hanya leyeh-leyeh di kamar. Sorenya aku pulang ke Semarang.

 

PT56 13.40 11 June 2025

 

Senin, 13 Januari 2025

Bersepeda ke Sukoharjo Akhir 2024

 


Akhirnyaaa ,,, Ranz kangen bersepeda (rada jauh) ke Sukoharjo, tepatnya ke RM Ayam Goreng Mbah Karto, salah satu rumah makan kesukaan Jan Ethes, cucu Presiden ke-7, Joko Widodo. Horraaayyy.

 

Sabtu 28 Desember 2024 aku berangkat ke Solo naik shuttle Ara*** jam 14.00. (shhhttt … aku masih masuk kerja loh hari itu! Keren kaaan? Hohoho … padahal biasanya di bulan Desember itu, paling akhir aku masih kudu mengajar itu sehari menjelang Natal. Lha ini, 3 hari setelah Natal, aku masih masuk kerja! Envy me!!! Perjalanan lancar, hingga sampai Solo.

 

Sesampai pool Ara***, cuaca mendung, namun belum turun hujan. Namun karena ojek online yang kupesan cukup lama ga sampai -- lebih dari 5 menit! -- dan ternyata duluan hujan yang datang ketimbang ojolnya. Wahhh, aku bawa mantel sih, tapi you know lah, aku males banget jika harus pakai mantel! Tanpa babibu, si ojek rider out of the blue meng-cancel pesananku. Untunglah ga lama setelah itu, sudah ada ojek rider lain yang mengambil pesananku. Untungnya lagi, saat this second rider datang, hujan berhenti! YAY!!! Yaaa … tinggal gerimis tipis. Saat si ojek rider ini menawariku apakah aku akan mengenakan mantel, aku jawab ga perlu. Tentu dalam perjalanan ke rumah Ranz, aku umak-umik, semoga hujan ga turun lagi, sampai aku tiba di rumah Ranz. And … it came true! Alhamdulillah.

 

Semula kami berencana bersepeda ke Sukoharjo hari Minggu 29 Desember 2024, namun out of the blue Ranz menawariku ikut dolan keluarga besar mas Martin ke Ibarbo Park. Well, out of curiosity, aku ikut saja ke Ibarbo Park. Aku kangen Jogja! Well, meski ga ke Jakal km 5, meski ga sepedaan ke Malioboro. Gapapa lah. Yang penting, aku 'menengok' Jogja sebentar.

 

(Kisah dolan ke Ibarbo Park bisa dibaca di link sini yaaa.)

 

Senin 30 Desember 2024

 

Kami sudah siap bersepeda menuju Sukoharjo sekitar pukul 07.00. (ga perlu pagi-pagi, toh, kami hanya akan sepedaan ke arah Sukoharjo.) Dari rumah Ranz kami langsung menuju Sukoharjo. Padahal seingatku, sebelum ini jika kami berencana jajan di RM Mbah Karto, aku merengek ke Ranz untuk sarapan dulu, misal, mampir ke soto Hj. Fatimah. Entah kali ini perutku aman tentram damai sentosa, cacing-cacingnya sedang tidur nyaman, lol.

 


Kali ini, aku naik Hezel, kembali aku tidak membawa Austin saat berangkat ke Solo. Austin sudah tidak merasa iri jika tidak kuajak dolan ke luar kota, dan di Solo aku malah naik sepeda lain. Hoho … entah kalau di tahun 2025 ini aku dan Ranz punya kesempatan untuk bersepeda Solo - Jogja - Solo lagi. Mungkin aku tetap akan mengajak Austin. Jika aku naik Hezel, Ranz naik Petir.

 

Sesampai Sukoharjo, Ranz mengajakku menuju alun-alun dulu, tidak langsung ke RM Mbah Karto. Ya aku manut saja, kan malah senang, bisa menambah kilometer di strava, meski hanya 3 - 4 kilometer.

 


Kami sampai ke RM Mbah Karto sekitar pukul 08.30. to our surprise, meski hitungannya masih cukup pagi, di dalam sudah cukup ramai pengunjung! Untunglah, kami masih mudah mendapatkan tempat duduk.

 

Sekitar pukul 10.00, kami meninggalkan RM Mbah Karto. Perjalanan lancar, dan kami tiba di rumah Ranz sekitar pukul 11.20

 

Semoga di tahun 2025 ini, aku dan Ranz memiliki kesempatan untuk bikepacking lagi yaaa. Aamiin RYA.

 

PT56 13.06 13 January 2025

 



Rabu, 18 September 2024

Long time no biking: Another visit to Gajahmungkur Dam

 


Terakhir aku dan Ranz sepedaan bareng ke luar kota itu di bulan Juli 2023, kami bersepeda ke Jogja, satu rute 'biasa' kami tapaki, semenjak pandemi covid 19. Setelah itu, setiap kami dolan ke luar kota, kami mengajak Angie dan Deven, yang berarti kami tidak bersepeda.

 

Bulan Agustus lalu mendadak Ranz bilang, "kalau kamu mau ke Solo pas long weekend 15 - 16 September, aku mau menemanimu bersepeda ke Waduk Gajahmungkur." weh! Tumben! Padahal aku ga memintanya loh, biasanya dulu itu aku harus memohon-mohon dulu, lol, baru Ranz mau. Kali ini malah dia nawarin. WAW.

 

Meski ga begitu yakin Ranz beneran mau menemaniku bersepeda ke Wonogiri, hoho, di hari Sabtu 14 September 2024 waktu berangkat ke Solo setelah selesai mengajar, aku membawa helm, tapi aku tidak mengajak Austin. Gear Austin ga bisa bergerak, bakal susah buatku karena trek Wonogiri itu rolling je, naik turun melulu. Ranz menawariku naik Hezel, tapi aku bilang, aku memilih naik Astro, polygon urbano yang dia beli di tahun 2016. kok ga kubawa ke bengkel? Iya, masih males ke bengkel, lol.

 

Minggu 15 September 2024

 

Ranz bangun sekitar pukul 04.30 dan memulai melakukan ritual paginya. Ini berarti dia beneran mau mengajakku ke Wonogiri nih. Yuhuuuu.

 

Sekitar pukul 05.45 kami sudah sampai di Stasiun Purwosari. Seminggu sebelumnya aku bilang ke Ranz aku mau saja diajak ngepit pp, atau berangkat naik KA Batara Kresna baru pulangnya gowes. Untuk itu, Ranz harus hunting tiket KA Batara Kresna seminggu sebelum 15 September via KAI Access. (FYI, sekarang tiket KA Batara Kresna bisa dibeli di KAI Access seminggu sebelum hari H.)

 

Terakhir kami naik KA Batara Kresna membawa sepeda itu di awal Oktober 2022. Nampaknya waktu itu KA Batara Kresna belum begitu menjadi pilihan masyarakat untuk berangkat ke Wonogiri, masih relatif kosong. Di sekitar tahun 2023, (aku lupa mencatatnya, jadi lupa tepatnya kapan), Ranz mengajakku dan Deven naik KA Batara Kresna, dengan membeli tiket 'go show' on the D day. Ternyata, kami kehabisan tiket! Kami hanya bisa membeli tiket sampai di Stasiun Solo Kota. Waktu itu, Ranz mendapat info dari petugas di stasiun bahwa mulai saat itu, masyarakat bisa membeli tiket via KAI Access, minimal jam 00.00 on the D day.

 

Naaah, di tanggal 15 September 2024 itu, kami hanya mendapatkan 1 seat kosong, hanya aku yang bisa duduk, sementara Ranz harus berdiri. Kebetulan waktu itu, ada rombongan -- ada sekitar 40 orang -- yang mau 'piknik' ke Waduk Gajahmungkur. Pasti mereka inilah yang menyebabkan tempat duduk penuh! Ho ho …  Ranz baru mendapatkan tempat duduk di Stasiun Nguter.

 

Oh yaaa, aku jadi naik Astro, sementara Ranz naik Hezel.

 

Beda dengan 2 tahun lalu, aku mengajak Ranz sarapan dulu di satu warung di luar stasiun Wonogiri, kali ini aku langsung mengajak bersepeda ke arah Waduk Gajahmungkur. Aku bersyukur ternyata menapaki trek rolling menuju waduk, kondisi kakiku baik-baik saja, setelah lumayan lama aku ga berani menjajal tanjakan, demi 'ngeman' kaki.

 





 

Kirain Ranz mau langsung berhenti di RM Bu Trie, langganan kami makan siang saat dolan ke Waduk Gajahmungkur, ternyata Ranz tetap mengajak ke pintu masuk waduk, untuk foto-foto. Ya wis, aku manut. Dari sana, baru kami ke RM Bu Trie.

 

Karena sejak pagi kami belum sarapan, kami habiskan satu porsi ikan nila bakar yang kami pesan (ada 2 ikan dengan ukuran cukup besar untuk kami berdua), plus 2 gelas es teh dan es kelapa muda. Yang tidak kami makan hanya 2 bungkus bothok ikan.

 

Menjelang pukul 12.00, kami kembali mengayuh pedal sepeda yang kami naiki, kembali menuju kota Wonogiri. Aku sempat berpikir kira-kira Ranz beneran mau mengajak gowes balik sampai Solo, atau mau mengajak naik Trans Jateng. Meski tentu aku pengennya gowes full balik ke Solo, aku manut Ranz saja. Dan … ternyata kami benar-benar bersepeda kembali ke Solo! Waw, aku senang sekali! Oh ya, di tengah jalan, kami tukeran sepeda, karena aku sempat tertinggal di belakang sampai sekitar 100 meter. Namun, setelah aku naik Hezel, perjalanan kami lancar, aku malah sering harus mengerem Hezel agar aku selalu berada di belakang Ranz.

 

Sesampai Solo Baru, aku sempat mengajak mampir di satu gerai fastfood, tapi ga jadi karena Ranz tidak bawa gembok. Akhirnya kami mampir ke Saudagar Laweyan. Awalnya kami mau beli gelato, tapi ternyata gelatonya tutup, ya sudah, aku pesan es kopi cendol, as usual. Ranz pesan apa, aku lupa. Hahaha …

 

Pulang dari Saudagar Laweyan, Ranz langsung balik ke rumah, aku masih merasa perlu lanjut bersepeda sebentar, untuk 'crushing' es kopi cendolnya. Hahahaha …

 

Thanks a billion dear Ranz. Kapan-kapan kita gowes AKAP lagi yuuuk.

 

PT56 15.05 18/09/2024

 

I love this gate!




Senin, 03 Oktober 2022

SAMORI: KE WADUK GAJAHMUNGKUR (LAGI!)

 


Perjalanan ini adalah 'bayar utang'nya Ranz ke aku: akhir bulan Juli aku ke Solo dan Ranz berjanji menemaniku bersepeda ke Waduk Gajahmungkur. Namun ternyata kita tidak jadi bersepeda ke Wonogiri. Instead, aku diajak ke Sidoarjo demi menghadiri acara kondangan salah satu keponakan Ranz. :)

 

As usual, aku berangkat ke Solo naik travel Cit***ans pukul 09.00 hari Jumat 30 September 2022. biasanya sesampai Solo, aku akan nyamperin Ranz ke fitness center tempat dia latihan fisik, tapi hari itu beda. Ranz yang nyamperin aku ke pool travel: pagi itu dia harus masuk kerja. (biasanya dia libur di hari Jumat.) dari sana, kami makan siang -- yang kegasikan, lol -- di tempat 'biasa' aku memesan selat Solo.

 

Usai having 'brunch' kami langsung pulang ke rumah Ranz.

 

Sekitar pukul lima sore, aku menemani Ranz fitness sampai pukul setengah delapan. Oh ya, kebetulan di fitness center baru ini sedang ada event 'open house': satu member boleh mengajak seseorang untuk latihan disitu di hari itu, aku bisa ikut 'nyicipi' latihan gratis. Pukul 18.00 - 19.00 kebetulan ada 'kelas' yoga untuk pemula, so aku ikutan. :)

 

Pulang dari fitness center, aku tak kuasa menolak ajakan Ranz untuk makmal. Well, sekali-sekali 'cheating' deh, lol. FYI, sejak akhir Juli aku mencoba 'intermittent fasting': aku memberlakukan 16 jam puasa dari pukul 15.00 sampai pukul 07.00 keesokan hari. Jam makan dari jam 07.00 sampai jam 15.00. malam itu aku menemani Ranz yang kepengen makan penyetan: aku memesan satu potong ayam dan segelas es the. Hasilnya? Perutku rasanya langsung menggendut dengan sukses! Lol.

 

Sabtu 01 Oktober 2022

 

Sejak awal kami berdua sudah sepakat untuk naik KA BATARA KRESNA untuk berangkatnya, sama dengan kisah kami setahun yang lalu. Kalau yang tahun 2020 kami full gowes karena KA BATARA KRESNA sedang berhenti operasi dikarenakan pandemi covid.

 

Ranz: "Kok mau-maunya aku ngikutin keinginanmu ngepit full bolak-balik? What spell did you put on me?" tanya Ranz kemarin, wkwkwkwkwk.

 

Ranz memulai ritual paginya pukul setengah lima pagi. Aku setelahnya tentu saja. Kami sudah sampai stasiun Purwosari sekitar pukul 05.45. setelah Ranz mengisi kartu e-tolnya, kami melipat sepeda (aku naik Austin, Ranz naik Shaun), dan masuk ke dalam peron. Ternyata KA BATARA KRESNA sudah 'nangkring' di peron 1, jadi kita langsung membawa Austin dan Shaun masuk ke dalam gerbong.

 



 

 

KA berangkat sesuai dengan jam keberangkatan yang ditentukan, pukul 06.00. jarak kurang lebih 38 kilometer ditempuh dalam waktu kurang lebih 100 menit karena memang KA BATARA KRESNA meluncur dengan pelan, tak lebih dari 20km/jam.

 

Kami sampai stasiun Wonogiri pukul 07.45.

 

Setelah mampir sarapan ala kadarnya di satu warung makan tak jauh dari stasiun, (aku pesan kopi hitam agar tidak ngantuk) kami langsung mengayuh pedal sepeda masing-masing. Sesampai Jalan Jendral Sudirman, kami mampir satu minimarket untuk membeli air mineral.

 

Ranz tetap terlihat perkasa meski dia pernah mengaku sudah tak kuat ngonthel, lol. Di tanjakan, dia terus menerus berada di depanku. Aku sendiri menganggap ini sebagai latihan nanjak karena semenjak cedera kaki di akhir tahun 2021, aku ga berani ngepit di tanjakan.

 

Sekitar pukul 09.20 kami sampai di jembatan tempat kami berdua biasa pepotoan, lol. Otw juga lah, trek menuju waduk Gajahmungkur cukup cantik untuk diabadikan! Meski kami berdua sepakat untuk tidak perlu masuk ke area waduk, kami lanjut ke gerbang masuk waduk, untuk foto-foto disana. :) setelah foto-foto, balik lagi ke arah jembatan, untuk makan di RM Bu Tr**.

 





 

 

Karena saat kami tiba di rumah makan itu baru jam 10.00, dan mungkin karena itu hari Sabtu, tempat makan lesehan itu sepi, 'hanya' ada satu rombongan tamu yang sedang makan, 1 orang guru dan 6 muridnya yang mengenakan seragam SMP. Seperti biasa, Ranz memesan paket ikan nila bakar dan botok ikan, 1 gelas es jeruk, 1 gelas es teh dan 1 porsi es kelapa muda.

 

Kami meninggalkan rumah makan itu sekitar pukul 12.00, saat cuaca sedang panas-panasnya. :D dan seperti saat berangkat, Ranz tetap berada di depanku. Sampai di patung Nyi Rara Kidul, penanda bahwa kita sudah keluar kota Wonogiri, hingga trek tinggal datar hingga masuk area Solo Raya. Ternyata, benar yang dikatakan Ranz: dia perkasa di tanjakan, namun tidak bisa ngebut di trek datar. Sejauh kurag lebih 30 kilometer aku harus terus menerus mengayuh pedal Austin pelan, dan kadang menekan rem agar aku selalu berada di belakang Ranz. Kalau aku berada di depannya, kemudian 'lengah' ngebut, meninggalkan Ranz di belakang, bisa ngamuk dia, lol.

 

Memasuki kabupaten Sukoharjo, cuaca berubah: mendung dan angin sangat kencang! Kadang terasa tetesan halus gerimis. Aku bawa mantel sih, tapi rasanya aku lebih memilih kepanasan deh ketimbang kehujanan, lol.

 

Syukurlah hujan tak jadi menyapa kami. Saat kami masuk area Solo Baru, tiba-tiba sang mentari 'tersenyum' kembali. Waaah. Ga jadi hujan!!! Kukira Ranz mau ngajak mampir angkringan di seberang mall yang ada di area Solo Baru itu, ternyata tidak. Dia terus mengayuh pedal Shaun, hingga masuk Jl. Dr. Radjiman. Dia mengajak mampir di angkringan mas Kholil, tak jauh dari rumahnya. Kami pesan 2 gelas es the. Aku minum satu setengah gelas sendiri, lol. Karena kekenyangan, dan aku khawatir aku langsung tergoda berbaring di kasur karena kelelahan, aku bilang ke Ranz aku masih butuh ngepit kurang lebih 3 kilometer lagi, lol.  Ranz bilang sudah ga mampu menemaniku ngepit, ya wis aku lanjut bersepeda sendiri.

 

Aku sampai rumah Ranz pukul 17.00. aku jadinya bersepeda sejauh 13 kilometer lagi, lol. Dan … Ranz uring-uringan karenanya. Wkwkwkwkwk …

 

Minggu 2 Oktober 2022

 

Aku mengajak Ranz bersepeda ke CFD, untuk melihat keriuhan area CFD pada Hari Batik. Terlihat banyak event diselenggarakan untuk merayakan Hari Batik, tapi tak satu pun yang membuatku tertarik untuk bergabung.

 

Setelah sarapan nasi liwet, Ranz nawarin, "Ke Jogja yuk? Naik KRL? Tanpa sepeda ya?" ok. Deal. Gpp. Aku kangen Jogja. Meski yang kukangeni tuh kelayapan di Jakal km 5, tapi jalan-jalan di Malioboro ya gpp deh, lol.

 

Kami ke Jogja naik KRL jam yang 09.00. Sampai stasiun Tugu Jogja pukul 10.00. kami jalan-jalan ke Teras 2 Malioboro, kemudian lanjut jalan-jalan sampai Teras 1 Malioboro. Foto-foto, jajan, jalan balik lagi ke arah stasiun. Foto-foto di jalan, lol. Sesampai Slasar Malioboro, jajan lagi, foto-foto lagi.

 



 

 

Kami pulang ke Solo naik KRL yang berangkat jam 14.50. karena ternyata kereta sudah sampai di stasiun sebelum pukul dua siang, aku mengajak Ranz segera masuk peron, agar bisa dapat tempat duduk, sekitar pukul 14.10. eh, ternyata, meski jam keberangkatan masih lama, gerbong sudah penuh! Tempat duduk sudah nyaris penuh, dan sudah ada yang berdiri-diri. Untunglah aku masih bisa menyelipkan pantatku di satu tempat duduk, lol.

 

Malam itu, aku pulang ke Semarang naik travel Citi***** pukul 19.00. aku sudah sampai rumah sebelum jam 21.00. alhamdulillah.

 

Next time dolan lagi yuuuk. :)

 

PT56 15.32 3 October 2022

 

Sabtu, 16 Juli 2022

Solo Sunmori ke Demak

 


19 Juni 2022

 

'keberhasilan' ngikut event ultah Seli Solo yang ke-12 membuatku tergerak untuk berani bersepeda 'keluar kota' sendirian lagi. (FYI, sejak aku cedera kaki akhir Desember 2021, terapis yang menangani tidak membolehkanku bersepeda. Sebagai ganti, aku disarankan untuk berenang. Dia sempat heran waktu dengar aku cerita di tahun 2021, aku sama sekali tidak pernah absen berolahraga selama 365 hari, mostly sepedaan, kadang jalan kaki.) karena itu, sekitar dua bulan, blas aku tidak keluar sepedaan. Ketika mulai sepedaan lagi, paling hanya ke pasar krempyeng dekat rumah, hanya sekitar 3-4 kilometer, ini pun sudah plus muter. Tapi, aku berani sepedaan Solo - Jogja di bulan Mei karena ada Ranz yang menemani, hihihi. Kalau ada trouble on the way kan ada Ranz.

 

Nah, seminggu setelah ngikut event ultah Seli Solo, (Ranz tidak mendampingiku setelah sampai check point 1 hingga Bale Rantjah), I tried my luck to bike to Demak. Kebetulan waktu itu aku juga merasa kakiku lumayan mendukung. :)

 

Aku berangkat dari rumah sekitar pukul 05.30, tanpa ada persiapan apa pun. Bangun tidur, pipis, ganti baju, langsung keluar rumah. Sempet mempertimbangkan mau naik Austin atau Cleopatra, akhirnya aku memilih ditemani Austin. Entah mengapa. Hahahah …

 

Rasanya rada ngoyo sih awal-awal. Rasanya Austin kok lelet banget yak. Hihihi … tapi, aku mikir, aku tergantung mood saja deh. Jika sesampai Kaligawe moodku ngepit ke Demak pupus, ya sudah entar belok ke Jalan Wolter Monginsidi saja. :) 

 

Ternyata aku 'lulus' dari godaan rasa malas, wkwkwkwk … sesampai pertigaan Genuk itu, aku memilih mengayuh pedal Austin untuk lanjut menuju Demak. Selepas kawasan Sayung, menuju daerah Karang Tengah, aku melihat kemacetan di jalur yang menuju Semarang. Gile, ini masih pagi, tapi kok sudah macet seperti itu ya? Nampaknya pembangunan jalan tol yang sedang dilakukan membuat titik-titik kemacetan di tempat-tempat tertentu.

 

Aku tidak berniat untuk 'memaksa diri' untuk grand fondo (terakhir grand fondo Mei 2021, aku belok ke arah Karangawen kemudian tembus sampai pertigaan Gubug), kakiku masih harus kueman soalnya, lol, so, aku memantapkan hati dalam perjalanan balik ke Semarang aku akan 'bergabung' dengan kendaraan-kendaraan berbadan besar yang harus merayap.

 

 


 

Sekitar pukul 07.30 aku sampai Simpang Enam. Situasi ramai seperti sebelum pandemi. Well, aku sudah mengantisipasinya sih. Setelah memotret Austin di depan Masjid Agung Demak, aku langsung menuju tempat biasa aku dkk sarapan soto ayam jika lewat Demak.

 

 


Perasaan aku ga nongkrong lama di warung soto ayam 'langganan' itu, tapi ternyata ketika ngecek jam berapa setelah aku selesai sarapan, waktu menunjukkan pukul pukul 08.40. lama juga. Hihihi …

 

As predicted, memasuki kawasan Karang Tengah, aku langsung 'bergabung' dengan deretan kendaraan-kendaraan berbadan besar yang melaju lambat sekali. Alhamdulillah meski tidak bisa mengayuh pedal Austin dengan leluasa, aku ga sampai harus berhenti tanpa bisa melaju sama sekali sampai bermenit-menit.

 

Sekitar pukul 11.00 aku sudah sampai rumah. Alhamdulillah.

 

Kapan-kapan diulangi lagi ah. Siapa tahu mendadak aku tergoda grandfondo. Hihihi …

 

PT56 14.14 8 Juli 2022

 


Selasa, 21 Desember 2021

Duathlon ke Janti Park

 



Akhirnya aku dan Ranz 'berani' dolan bareng lagi, hahaha … setelah off sekian bulan gegara PPKM Darurat yang disebabkan oleh merebaknya covid 19 varian delta yang menggila di bulan-bulan Juli - Agustus.

 

Hari Jumat 3 Desember 2021 aku ke Solo dengan naik travel Cititrans yang berangkat dari pool pukul 10.00. sampai di pool Solo yang terletak di kawasan Purwosari menjelang pukul 12.00. dari sana, aku 'menjemput' Ranz yang sedang latihan fisik di DNA Fitness Center. (setahun terakhir ini dia sedang gila-gilanya latihan fisik disana.) aku sempat menemaninya latihan sekitar 40 menit.

 

Sekitar pukul 13.00 kita berdua sudah sampai di RM Tenda Biru untuk makan siang. Seperti biasa, aku memesan satu porsi selat Solo, kali ini aku memilih daging, sementara bulan Oktober lalu aku memilih 'galantin'. Ranz memesan satu porsi gado-gado. Kata Ranz, saat RM satu ini masih baru 'merangkak' menjadi satu RM yang bisa diandalkan, dua menu andalan yang mereka tawarkan adalah selat dan gado-gado. So? Kalau kesini, pesanlah salah satu dari 2 menu itu. :D kalau mau memesan menu yang lain, ya gapapa sih, tapi mending pilih RM yang khas jualan itu. Well, ini 'motto' jajan Ranz loh ya.

 

Sebelum pukul 15.00 kita sudah balik ke rumah Ranz yang terletak di kawasan Jongke. Setelah istirahat selama kurang lebih 1,5 jam, Ranz menemaniku ke terapis langganan keluarganya: lututku sebelah kanan cedera dan butuh diterapi: aku ga bisa jalan kaki lebih dari 1 kilometer! Hiksss … masih untung masih bisa mengayuh pedal sepeda. Pulangnya kita nyaris kehujanan.

 

Sekitar pukul setengah delapan hujan sudah reda; maka seperti biasa Ranz mengajakku ke Wedangan Pak Basuki: teh nasgitelnya bikin lidahku nagih.

 

Sabtu 4 Desember 2021

 

Hari ini aku memilih bersepeda ke Janti Park, yang terletak tak jauh dari Umbul Pelem/Manten tempat kita main air di bulan April lalu.

 




Perjalanan sejauh 20 kilometer kita lalui dengan lancar, cuaca mendung, tapi malah enak kita ga kepanasan. Hihihi … seperti bulan April lalu, kita juga mampir sarapan di satu rumah makan sederhana yang terletak di seberang SMP N 1 Gatak. Satu porsi timlo tanpa nasi hanya seharga delapan ribu rupiah, dan cukup mengenyangkan bagi perutku, juga perut Ranz.

 

Oh iya, jika bulan April lalu aku naik Astro -- sepeda polygon urbano milik Ranz -- karena aku berangkat ke Solo tanpa membawa sepeda, kali ini aku naik Austin. Ranz tetap naik Petir, sepeda lipat kesayangannya, dengan ban 14 inchi, single gear.

 

Di Janti Park ngapain? Jelaaas, aku berenang! Kolam renangnya lumayan besar, panjang 25 meter, lebar mungkin sekitar 15 meter. Kedalaman sekitar 1,8 meter. Dan … kondisi kolam renang yang ini relatif sepi! Jadi, aku bisa berenang 25 meter kali 40 dengan leluasa. Ada sih beberapa orang lain yang juga 'main air' tapi ga terlalu 'mengganggu' gerakanku berenang dari satu ujung ke ujung lain, begitu berulang kali sampai 40 kali.

 



Ranz ngapain? Duduk anteng menungguku sambil sesekali memotretku dengan hpnya yang anti air. Hohoho … sambil ngemil juga ding. Hahahah …

 

Usai berenang 1000 meter (25 meter 40 kali), aku main ikan, alias terapi ikan. Aku memasukkan kakiku ke kolam yang berisi sejenis ikan tertentu yang akan segera memakan kulit mati yang menempel di kaki orang. Awalnya aku geli rada ngeri, hahahahah, lama-lama, it was okay. Setelah itu, aku baru mandi.

 

Usai mandi -- ga pakai antri mandinya, syukurlah -- aku jajan kopi hitam, es the, dan cemilan di deretan yang jual jajanan. Di dekat sini ada kolam khusus bermain anak-anak. Nah, di kolam ini, pengunjung bejubel main air! Waaah … syukurlah kolam renang yang terletak di dekat pintu masuk itu cukup dalam, jadi jelas hanya yang bisa berenang yang akan 'main' disitu.

 

Setelah rambutku kering, jajanan dan kopi/teh habis, kita melanjutkan perjalanan. Bukan balik ke Solo, tapi Ranz mengajakku bersepeda ke Boyolali, ke satu resto tempat adiknya bekerja sebagai chef utama, namanya Omah Brem.

 

Sebelum menuju jalan penghubung Boyolali - Jatinom, Ranz sempat mengajakku blusukan mencari satu toko yang berjualan batere kamera, karena dia lupa ngecharge batere kamera yang dia bawa. How did she find such a place? Google maps, of course. Hihihi … Ranz yakin bahwa aku bakal mau difoto di Omah Brem nantinya, hohoho …

 

Ini adalah pertama kali aku menapaki jalan penghubung Boyolali - Jatinom untuk pertama kali. Jalan yang cukup sempit dengan banyak kendaraan berbadan besar berseliweran yang membuat jalan terkesan kian sempit. Plus karena kita menuju Boyolali, jelas jalan terasa miring ke atas, lol.

 

Saat kita berada di satu lokasi kurang lebih tinggal mengayuh pedal sejauh 1,5 km dari Omah Brem, hujan turun. Nah lo. Mau pakai mantel, males, orang sudah tinggal dikit lagi, lol. Kalau ga pakai, nanti basah. Hadeeeh. Lol. Akhirnya, kita berdua menepi, mencari tempat berteduh. Untungnya hujan ga lama, kurang lebih 15 menit kemudian curah hujan menipis, sehingga kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

 

Saat sampai Omah Brem, (aku lupa lihat jam), suasana resto pas sepi, belum ada diners yang lain. Baju yang kupakai sedikit basah. Aku langsung membayangkan wajahku bakal nampak lusuh, males banget kalau mau foto-foto, lol. Tapi, kalau aku beneran males foto, kasihan Ranz yang bela-belain browsing di google map tempat untuk beli batere kamera, plus mengajakku blusukan kesana. ''untung'nya suasana resto lagi sepi, jadi yang kusempatkan sedikit memoles wajah dengan bedak yang kubawa. Hahaha …

 




Untuk makan siang (yang kesorean), aku memesan steak daging kalkun, (satu hidangan 'specialty' di Omah Brem) dan pisang goreng, jus jeruk dan cappuccino hangat. Ranz memesan daging kalkun juga, tapi bakar, kalau tidak salah.





 

Setelah kita berdua selesai makan, semakin banyak orang yang datang untuk makan disana, rata-rata mereka berombongan atau bersama anggota keluarga lain. Usai makan, aku dan Ranz masih sempat berfoto-foto di dalam resto, meski sudah banyak diners lain, hihihi … biar Ranz tidak kecewa telah menyempatkan diri blusukan

 

Sekitar pukul empat sore, aku dan Ranz meninggalkan Omah Brem. Sisa genangan hujan masih terlihat di jalan kecil, namun di jalan raya, permukaan jalan sudah kering, tak nampak sama sekali bahwa hujan turun lumayan lebat beberapa jam sebelumnya. Alhamdulillah perjalanan pulang lancar sampai rumah Ranz yang terletak di kawasan Laweyan.

 

Jarak tempuh Laweyan - Janti Park 20 kilometer

Jarak tempuh Janti Park - Omah Brem 13 kilometer

Jarak tempuh Omah Brem - Laweyan 26 kilometer

 

Next time, mari kita ber-duathlon lagi, Ranz. :D eh, aku ding yang duathlon, karena Ranz tidak berenang. Hihihi …

 

PT56 12.39 21/12/2021

 



Senin, 18 Oktober 2021

Ke Wonogiri (lagi!)

 Background:

 

Sekitar akhir September, Ranz ke Semarang, setelah 3 bulan kita sama sekali tidak bertemu gegara PPKM Darurat. Waktu itu dia merayuku untuk dolan ke Solo lagi. (Aku terakhir ke Solo bulan April 2021, saat aku dan Ranz kemudian bersepeda ke Umbul Pelem/Manten.)

 

Aku: "Kalau aku ke Solo, kamu mau ngajakin aku kemana?"

Dia: "Emang kamu mau bersepeda kemana?"

Aku: "Terserah sih, pokoknya sepedaan."

Dia: "Ke Waduk Cengklik mau?"

Aku: "Ya, gapapa."

 

********

 

Aku berangkat ke Solo hari Jumat 8 Oktober 2021, naik travel. Setelah menemani Ranz latihan fisik di satu fitness center, aku diajak maksi di Tenda Biru; aku memilih menu Selat Solo dan es gempol. Sorenya, Ranz menemaniku berjalan kaki di sekitar daerah yang disebut 'Pajang', kalau tidak salah, sejauh 5 km. pulangnya mampir ke Wedangan Pak Basuki, yang sampai sekarang aku belum bisa move on dari rasa teh nasgitelnya yang lezat tiada duanya. :)




 

selat Solo Tenda Biru

soto ayam Hj. Fatimah



Hari Sabtu 9 Oktober, Ranz sibuk seharian di tempat dia bekerja. 'Terpaksa' aku keluar bersepeda sendiri. Untunglah, sekarang aku sudah berani, lol. Tujuan pertamaku adalah sarapan soto segeer Hj. Fatimah di Jl. Bhayangkara. "Salah satu soto terenak di dunia," pujiku sendiri, lol. Rasa es tehnya juga enak loh. Kemudian aku bersepeda sejauh kurleb 27 km. nanggung yak, kok ga sekalian kugenapi 30 km. ini karena aku kebelet pipis, tapi entah kok sepanjang jalan yang kulewati, aku tidak melihat ada pom bensin.



nyoba flyover Purwosari

keblasuk ini judulnya :D

underpass Transito


 


Sabtu sore, Ranz mengajakku bersepeda ke arah Gentan, dia pingin beli pentol, katanya. Dari sana, dia mengajakku makmal di satu warung bakmi di daerah Penumping. Kemudian, Ranz kembali menraktirku di satu kafe yang baru berdiri, tak jauh dari tempat Ranz berlatih fitness.

 

Minggu 10 Oktober 2021

 

Sebelum tidur, Ranz sempat bertanya aku ingin berangkat jam berapa, kujawab jam 06.00. meski aku ga yakin, aku bakal tidak mager, lol. Ternyata Ranz sudah memulai melakukan ritual paginya bahkan sebelum jam 05.00. waaah … bakal jadi kita berangkat jam 06.00 nih, ga pake molor, lol.

 

Jam 05.40 aku sudah selesai mandi dan siap2. Sebelum berangkat, kita baru 'ngeh' ternyata Ranz berpikir kita berdua akan ke Waduk Gajahmungkur, sedangkan aku tetap berpikir kita akan bersepeda ke Waduk Cengklik. Lol. Ketahuannya ketika Ranz bertanya, "Kira-kira waduk Gajahmungkur sudah buka belum untuk wisatawan?"

 

"Loh? Bukannya kita mau ke Waduk Cengklik?" tanyaku heran, lol. Aku sudah membayangkan kita bakal mampir ke Jembatan 'Londo' meski katanya sekarang sudah ditutup, tidak boleh dilewati lagi.




Ranz naik Petir, si bungsu

 


Akhirnya, setelah berunding sejenak, kita jadi ke Wonogiri, lol. Namun, berhubung tangan dan bahuku masih pegal gegara menemani Ranz latihan fisik di fitness center hari Jumat, aku mengajaknya berburu tiket KA BATARA KRESNA.

 

(Tahun lalu, 17 Agustus 2020, Ranz mengajak naik KA BATARA KRESNA, tapi gegara pandemi KA BATARA KRESNA dihentikan sementara operasinya. Kali ini, Ranz siap full gowes, aku gantian yang mengajaknya naik KA BATARA KRESNA. Well, terakhir aku naik KA Joglosemarkerto tahun  2019 je, kangen, pingin naik kereta. Setelah ngecek jadual pemberangkatan di KAI ACCESS, kita dapati KA BATARA KRESNA berangkat dari stasiun Purwosari pukul 06.00. lah, telat kita kalau jam segitu. Akhirnya Ranz mengajak berburu tiket dari stasiun Solo Kota. Nothing to lose sih. Kalau tetap terlambat ya gapapa, kita ganti arah saja, mungkin jadi ke Waduk Cengklik, atau, ke Alas Bromo lagi juga gapapa.

 

Kita berangkat ke stasiun Solo Kota naik grab. Sesampai sana, Ranz langsung berburu tiket. Kita tidak perlu swab antigen, hanya calon penumpang harus sudah punya kartu tanda vaksin 1 dan2. setelah beli tiket, kita melipat sepeda, dan … 1 menit kemudian KA BATARA KRESNA masuk peron stasiun Solo Kota. Horeeee …)

 

KA BATARA KRESNA sampai di stasiun Wonogiri pukul 07.45. setelah melepas hajat di toilet, lol, kita keluar stasiun. Aku merayu Ranz untuk mampir satu warung makan untuk sarapan ala kadarnya, karena aku ingat trek menuju waduk itu rolling. Setelah sarapan sepiring berdua (ngirit kita nih, lol) kita pun melaju meninggalkan area stasiun. Tak lama dari situ, kita sudah sampai di Jl. Jendral Sudirman, Wonogiri.

 







Bersepeda sejauh kurleb 5,5 km dari stasiun, kita telah sampai di jembatan dimana dari situ kita bisa memandang waduk dengan leluasa. Setelah berfoto beberapa kali, kita mau langsung mampir rumah makan Bu T**, tapi kok ternyata perut masih kenyang yak? Lol. Akhirnya aku mengajak Ranz menuju pintu gerbang masuk Waduk Gajahmungkur, kurang lebih 1,5 km dari situ.

 

Sesampai pintu gerbang masuk waduk, kita baru ngeh kalau ternyata Waduk Gajahmungkur masih ditutup untuk umum. Ya sudah, kita foto-foto saja. Seperti tahun lalu, ada beberapa orang yang 'kecelik' karena ternyata waduk masih tutup. Setelah merasa cukup foto-foto, kita kembali ke rumah makan Bu T. disana, ada rombongan pesepeda yang juga baru datang. Mereka kebanyakan naik sepeda balap.

 




Seperti tahun lalu, Ranz memesan menu yang sama, ikan nila bakar dua ekor, 1 es kelapa muda, 2 gelas es teh dan 1 gelas es jeruk. Bedanya, jika tahun lalu aku bisa menghabiskan2 ekor ikan nila bakar itu, kali ini aku hanya mampu makan 1 ekor, perutku masih kenyang. Padahal waktu sarapan, kita Cuma makan sepiring berdua, lol. Mungkin karena berangkat kita naik kereta ya, ga full gowes.

 

Pulangnya, jelas, kita full bersepeda. Meski mengaku sudah lama tidak bersepeda, as always Ranz tetap perkasa, dia naik Petir, sepeda lipat 14 inchi single speed, meski dia mengayuhnya pelaaaan, lol, gosong dah kulit kitaaaaaaaaaa, setelah lama tidak bersepeda berpanas-panas, lol.

 

Otw pulang, kita mampir sekali di pom bensin, aku kebelet pipis. Kemudian mampir juga di satu minimarket karena air mineral bekal kita habis. Sampai rumah Ranz pukul 15.30.



 


Aku pulang ke Semarang naik travel C***trans pukul 18.00. sebelum pukul 20.00 aku sudah sampai rumah. Alhamdulillah.

 

Next time dolan lagiiiiiii. Ben ora edan. Lol.

 

PT56 11.29 13/10/2021