Cari Blog Ini

Selasa, 30 Maret 2021

Libur Isra Miraj: Dolan Jogja lagi! Day 3

 



Minggu 14 Maret 2021

 

Seperti sehari sebelumnya, aku rada enggan meninggalkan kenyamanan tempat tidur di pagi hari, lol. Rencana untuk nyemplung kolan renang puku 06.00 pun molor. Pukul 05.45 aku baru memanaskan air dalam kettle untuk membuat segelas cappuccino. Tak lama kemudian, Ranz bangun dan sibuk di toilet. Setelah selesai 'urusan' di toilet, Ranz menegurku, dengan nada heran, "Kamu ga berenang?" tentu saja aku tetap ingin berenang, setelah meminum cappuccino yang kuminum.

 

Pukul 06.15 kita berdua sudah berjalan menuju kolam renang, yang terletak di sisi Utara area Java Village Resort. Sesampai sana, sudah ada 1 keluarga besar yang bermain di kolam renang, tapi tidak seramai kemarin sore. Aku tetap langsung nyemplung kolam renang, tak perlu menunggu sepi. Ranz yang sudah siap memakai celana pendek berbahan tipis dan jersey yang tipis memilih duduk-duduk di pinggir kolam. Ketika keluarga besar yang telah nyemplung kolam sebelum kita datang memutuskan menyudahi bermain2 di kolam, aku praktis menikmati kolam renang sendiri. :D kemudian, aku merayu Ranz untuk mencoba menceburkan diri ke kolam renang juga. FYI, Ranz belum bisa berenang. Cuma sekali, sekian tahun yang lalu, menemaniku bermain air di satu kolam renang di Semarang. Mengingat Ranz ini phobia air, adalah kemajuan yang sangat berarti ketika Ranz berani mengalahkan rasa phobianya dengan ikut nyemplung ke kolam renang.

 

Kita 'bermain' air, eh, Ranz bermain air sedangkan aku berenang hingga pukul delapan. Setelah itu, kita kembali ke kamar, mandi, siap2 packing. Tumben loh, biasanya malam sebelum check out, Ranz sudah packing, kali ini dia pun packing pagi itu. Pukul 09.33 kita sudah check out.

 


 

 

Karena sehari sebelumnya kita sudah bersepeda sampai La Luna yang terletak di seberang mulut keluar Jl. Damai, dengan pede kita menuju kesana. Sesampai pertigaan itu, kita belok kiri masuk Jl. Damai. Berhenti sebentar untuk foto-foto di Café Brick. Setelah itu kita lanjut menyusuri Jl. Kaliurang.

 

Entah, jika tidak lewat Jalan Kaliurang -- dari perempatan Kenthungan menuju Selatan -- kok rasanya aku tidak benar-benar sedang berada di Jogja ya? Hihihi … maka, hatiku pun gembira selepas perempatan Kenthungan. Honestly, aku pingin sarapan gudeg, tapi malas kalau harus ngantri lamaaa di satu warung gudeg 'langganan' kita mampir di Selokan Mataram itu. Maka, ketika Ranz mengajak belok Gang Megatruh untuk jajan cilok di tempat dekat hotel tempat kita menginap bulan Oktober 2020, aku memutuskan jika warung makan gudeg Yu N***i buka, kita sarapan disitu saja. Well, ternyata yang jualan cilok belum buka, dan kita jadi makan di warung gudeg samping hotel O**.

 


 

 

Usai sarapan, kita pun siap menapaki jalan untuk kembali ke Solo. As usual, kita menyusuri Selokan Mataram. Kali ini, aku tidak mengajak Ranz untuk mampir angkringan dekat Candi Sambisari karena merasa perut masih cukup penuh setelah sarapan. Apalagi Ranz mengajak mampir lagi ke warung dawet Ngudi Rasa yang legendaris itu. Ternyata disini pun aku masih merasa cukup kenyang. Ranz yang juga memesan tahu petis, satu porsi 10 biji tahu, aku hanya memakan 2 tahu. (biasanya kita makan masing2 5 biji.) tapi, as usual, aku pesan 2 gelas es dawet tanpa tape.

 

di Klaten kita sempat mampir satu angkringan untuk minum es teh

 

 

Kita terus disinari sang mentari yang ramah sekali di sepanjang perjalanan. Sampai kita di satu area dekat Delanggu, gerimis mulai turun. Kebetulan kita pas melewati mini market, kita pun mampir untuk melindungi tas pannier dengan cover bag (baca => kita pakai tas kresek murah meriah, lol.) sebenarnya tas pannier-ku waterproof, tapi eman2 lah jika kecipratan air lumpur. Menjelang meninggalkan mini marke,t hujan sudah turun dengan sangat deras! Waw. Perfecto! Setelah berpanas-panas ria, kita berhujan-hujan deras.

 


 

 

Kita sampai Laweyan menjelang pukul 5 sore. Ranz menawariku untuk langsung ke pool travel Cititrans. Tapi aku lapar, aku memilih mampir ke warung makan adiknya Ranz dulu. Aku juga perlu ganti kaos. Aku pakai mantel, tapi kaos yang kupakai tetaplah basa karena keringat.

 


 

 

Pukul 17.30 aku sampai di pool travel. Mobil yang kutumpangi meninggalkan pool pukul 18.00. kita sampai pool Semarang pukul 19.45. pukul 20.00 aku telah sampai rumah. Alhamdulillah.

 

PT56 07.47 28/03/2021

Libur Isra Miraj: Dolan Jogja lagi! Day 2

 


Sabtu 13 Maret 2021

 

Pagi ini kita nyantai sekali. Semula aku mengajak Ranz untuk dolan ke La Luna Resort, tapi dia malas, lol. Akhirnya aku hanya nongkrong2 di teras memandang sawah sambil menikmati secangkir cappuccino. Oh ya, di kamar ada kettel jadi aku bisa bikin minuman panas sendiri.

 

Sekitar pukul 07.00 kita siap2 akan berenang. Namun mendadak Ranz membaca pesan di hapenya tentang pemberitahuan jadual vaksinasi. Dan, jadual Ranz adalah hari Sabtu 13 Maret 2021. yes, hari yang sama kita berada di Sleman! Ranz langsung terlihat emosional banget. Honestly, aku kesal melihatnya emosional begitu. Kalau emosi begitu kan, malah ga bisa mikir harus bagaimana mengatasinya, dia ngomel2 ga karuan, entah siapa yang dia omeli.

 

Dan aku jadi baper dong, dia ngomelin aku karena aku yang mengajaknya dolan di wiken itu.

 

Setelah bisa berpikir jernih, dia menelpon kantornya, kawan sekerjanya, juga rumah sakit tempat dia akan divaksinasi. Setelah yakin bahwa dia bisa mendapat giliran vaksinasi di kesempatan berikutnya, dia nampak tenang. Semula dia mau balik ke Solo naik grab. Ya aku persilakan dia balik sendiri, aku mau tetap stay di hotel, aku sudah membayar untuk 2 malam je, eman2 lah. melihat aku keukeuh tetap stay di hotel, dia akhirnya mengalah, tetap ikutan stay.

 

sarapanku

 

 

Tapi mood berenangku sudah hilang, yang ada rasa lapar yang amat sangat. Kita pun sarapan di resto hotel, kita membayar Rp. 70.000,00 untuk 2 orang karena kamar yang dibuking Ranz lewat booking.com itu tanpa sarapan. Oh ya, untuk kamar hotel, kita membayar Rp. 806.400,00 untuk 2 malam ya.

 

Usai sarapan, kita mandi, dan siap-siap keluar. Semula Ranz sempat mengajak "turun ke kota", kalau males gowes balik ke penginapan ya kita akan ngegrab. Namun ternyata kemudian Ranz malas, lol. Akhirnya dia setuju dengan ideku untuk 'ngopi' di La Luna Resort. Bulan Desember 2020 sebelum balik ke Semarang, setelah meninggalkan Tlogo Putri, Angie dan Fitri sempat mampir untuk ngopi disini, dan mereka berfoto-foto dengan background yang cantik, yang membuatku kepingin kesitu juga. :)

 

Menurut google maps, jarak Java Village Resort ke La Luna hanya 4 kilometer. Dari Jalan Griya Taman Asri, kita ke arah Selatan menuju Jalan Gito Gati, di perempatan kita belok ke arah kiri (Timur), sampai di perempatan berikutnya, kita sampai di Jalan Palagan. Di perempatan ini, kita belok kanan. Dan benar, kurang lebih 4 kilometer dari hotel kita menginap, kita pun sampai La Luna.

 



 

 

Pukul 10.00 itu ternyata terlalu pagi untuk nyampai disini, lol. Resto sudah buka sih, tapi petugasnya belum datang. To my disappointment, lokasi yang indah tempat Angie dan Fitri foto-foto ternyata termasuk bagian resort, dan kita berdua ga pede untuk masuk karena di pintu penghubung resto dan resort ada tulisan "hanya untuk pengunjung yang menginap di resort". Lah, kok gitu yak. Lol.

 

Sementara kita duduk-duduk menunggu petugas datang, aku perhatikan di seberang La Luna ada jalan, dan ternyata itu adalah Jalan Damai. Aku pun langsung bilang ke Ranz, "Itu jalan Damai. Kamu ingat Café Brick? Itu kan terletak di jalan Damai? Berarti jika kita menapaki jalan itu terus ke arah Timur, kita akan sampai Café Brick."

 

"Seberapa jauh dari sini?" tanya Ranz.

 

Entah, seingatku sih jalan Damai itu cukup panjang, aku ga yakin. Lol. (padahal tinggal cek di google maps yak? Lol.) kulihat banyak pesepeda dari arah Utara yang berbelok ke arah Jl. Damai, meski ada juga yang lurus terus menuju perempatan Monjali.

 

Karena perutku dan perut Ranz masih penuh -- kita sarapan di hotel -- dan aku sudah minum cappuccino sendiri di pagi harinya, dan ngopi hitam lagi saat sarapan di resto hotel, di La Luna aku hanya pesan jus melon, sedangkan Ranz memesan sup (aku lupa namanya).

 

Ternyata Ranz sama sekali tidak tertarik untuk memotret interior La Luna resto sama sekali, lol. Mungkin karena dia belum nemu angle yang tepat, dan moodnya terganggu dengan satu peristiwa yang terjadi pagi itu. (out of the blue dia mendapat info dia dapat jatah vaksinasi hari Sabtu 13 Maret itu! Padahal dia ada di Jogja bersamaku, lol.)

 

Setelah aku menghabiskan jus melon yang kupesan, dan aku membantu menyuap 3 - 5 sendok sup pesanan Ranz, kita pulang. Guess what? Ranz beneran ga mau kemana-mana lagi! Dia langsung mengajak balik ke hotel! Wew. Lol.

 

Austin dan Petir di antara sepeda2 milik hotel

di balkon lantai 2, kamar kita di lantai 1

 

 

Sesampai hotel, kita berfoto-foto di sawah yang terletak di samping hotel. Ketika mulai turun rerintik gerimis, kita masuk hotel.

 

Sorenya kita berenang. Sore ini lebih ramai dibanding sehari sebelumnya. Villa Jodipati yang terletak di samping kolam renang persis diinapi satu keluarga besar; anak2 remaja dari keluarga itu memenuhi kolam renang. Mereka tidak berenang dengan serius -- dibandingkan denganku yang jika nyemplung kolam renang, aku akan terus berenang, tidak akan ngobrol, tidak bermain dengan yang lain -- lebih ke melakukan 'quality time together' di kolam renang, lol. Aku diajak Ranz ke kolam renang pukul setengah 4 sore, aku baru nyemplung kolam renang pukul 5 sore, lol. Tapi lumayan loh, aku berenang 70 x 3 meter (lebar kolam renang kurang lebih 3 m) plus 20 x 15 meter (panjang kolam renang kurang lebih 15 meter).

 

Malamnya Ranz enggan kuajak keluar untuk cari makan malam; dia pesan grab-food, aku yang memilih: pempek. :)

 

Biasanya jika kita bepergian, aku yang mager meninggalkan penginapan. Kali ini kebalik, Ranz yang mager, lol.

Libur Isra Miraj: Dolan Jogja lagi! Day 1

 

fly over Purwosari di malam hari

Pandemi membuat Ranz enggan kuajak pergi jauh2 dari Solo, meski sebenarnya kepengen. Pablebuat? Tahun 2020, kita berdua sempat dolan ke Candi Cetho dan Candi Sukuh (naik motor berempat dengan Angie anakku dan satu sobatnya.) di awal bulan Agustus 2020. itu saja butuh strategi khusus untuk merayunya, dia rada ga percaya dengan higienitas penginapan yang kita inapi, itu alasannya waktu itu, plus jika di jalan terpaksa 'terbentur' kerumunan.

 

Bulan Agustus 2020 kita bersepeda ke Wonogiri, pp. padahal kita sudah bawa baju jika kita 'terpaksa' menginap. Bulan Oktober 2020 akhirnya Ranz setuju kuajak bersepeda ke Jogja dan menginap disana 2 malam. Bulan Desember 2020 kita bersepeda mengikuti event ulang tahun UGM, almamaterku, Ranz justru yang mengajak bersepeda ke Jogja, ga hanya keliling Solo untuk mengejar jarak tempuh 71 km.

 

Setelah aku anteng di rumah saja di bulan Januari - Februari 2021, tidak pergi kemana-mana, akhirnya di long weekend minggu kedua Maret (11 Maret hari Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW), aku ke Solo, dan mengajak Ranz untuk mau skip hari kerjanya di hari Sabtu untuk dolan ke Jogja.

 

Hari Kamis 11 Maret 2021 aku berencana berangkat dari Semarang naik travel pukul 09.00, tanpa beli tiket terlebih dahulu, gambling banget di saat long wiken. Ternyata benar, di satu travel 'langganan' aku mendapat info yang tidak menggembirakan: baru ada seat buatku ke Solo jam 14.00. duuuh, lama amat nunggunya, lol. Kemudian aku pindah ke travel yang terletak di Jl. Menteri Supeno. To my disappointment, ternyata sesampai sana, bangunan itu ada tulisan DISEWAKAN. :( memang travel ini sudah tidak melayani perjalanan Semarang - Solo sejak awal November 2020. rencana mau buka jalur itu lagi awal 2021. ternyata o ternyata, malah pailit. Hiksss …

 

Kemudian aku pindah ke travel yang terletak tak jauh dari kampus Undip lawas. Ada seat buatku di jam 11.00. well, lumayan lah ketimbang harus nunggu sampai jam 2 siang, which is jaraknya 3 jam sendiri dari jam 11.00 kan.

 

Jam 11 sudah berlalu, tapi belum ada tanda2 penumpang dipanggil untuk masuk kendaraan. :( not on time, eh? :(  ketika kita dipanggil untuk naik kendaraan 18 menit setelah jam 11.00, dengan semangat '45 aku menggotong Austin untuk kumasukkan travel (travel ini memang bagasinya mepet banget. Hiks :() tapi aku diminta naik dulu dan menempati tempat dudukku. Setelah semua penumpang masuk, aku dipanggil dibilangin bahwa Austin tidak bisa masuk kedalam kendaraan karena ga ada space di bagasi. Hhh … kesabaranku diuji ini. Katanya Austin mau diikutkan pemberangkatan jam 12.00. aku turun lah, ogah dong terpisah dari Austin. Cieee …

 

Tapi dibilangi bahwa travel yang berangkat jam 12.00 juga penuh penumpang, jika aku pindah jam 12.00 aku ga bisa. Akhirnya aku ngeyel minta Austin dimasukkan ke dalam kendaraan, dicoba dulu cukup ga. Dan … voila! Cukup kok! Alhamdulillaaaah.

 

Di tengah perjalanan, hujan turun deras sekali. Sampai keluar dari tol di area Colomadu, hujan masih turun. Untung sesampai pool, hujan sedikit mereda, masih gerimis sih, tapi lumayan lah, aku ga perlu pakai mantel untuk mengayuh pedal Austin menuju rumah Ranz. Untunglah, rumah Ranz terletak tidak jauh dari pool travel.

 

Malamnya, as usual, aku minta diajak ke Wedangan Pak Basuki untuk ngeteh. Setelah ngeteh, Ranz mengajakku ke fly over Purwosari, untuk hunting foto.

 

Jumat 12 Maret 2021

 

Ranz bangun untuk memulai ritual pagi sekitar pukul 05.15. sekitar 30 menit kemudian, aku gantian mandi dan siap2. kita meninggalkan rumah Ranz di kawasan Laweyan sekitar pukul 06.30. sebelum pukul 07.00 kita sampai di daerah Gentan dimana Ranz menawariku sarapan. Aku memilih satu warung sederhana di pinggir jalan karena kulihat ada menu 'timlo' yang ditawarkan. Selain sarapan timlo tanpa nasi, aku juga ngemil wajik coklat dan sosis Solo. Setelah itu kita melanjutkan perjalanan.

 



 

 

Perjalanan cukup lancar, tidak terganggu Ranz yang merasa ga enak badan, seperti bulan Desember 2020 lalu. Kadang mendung, kadang panas sekali. Melewati area Prambanan, kita berhenti di warung dawet Ngudi Roso yang terkenal itu.

 

Memasuki area Jl. Laksda Adi Sucipto Jogja, aku memperhatikan beberapa lokasi yang nampaknya dipakai untuk test antigen/rapid swab. Kita sempat keder juga loh, jika kita 'terciduk' sebagai pendatang memasuki Jogja dan harus test antigen terlebih dahulu. Untunglah kita bisa melenggang dengan nyaman.

 

Jika biasanya aku mengajak Ranz belok ke Jl. Affandi a.k.a Jl Gejayan / Mrican, kali ini kita terus masuk Jl. Urip Sumoharjo, dan baru belok ke Jl. Professor Yohanes. Aku sempat melihat toko buku SOCIAL AGENCY, yang dulu sempat menjadi satu pilihan jika aku berburu buku. Hmmm … it still exists. Alhamdulillah. Kita mampir di satu rumah makan yang menawarkan menu ayam bakar Taliwang: Ranz melihatnya di IG.

 


 

 

Usai maksi, kita melanjutkan perjalanan ke 'bunderan' UGM, Ranz memberiku kesempatan untuk foto disana. Dari situ, kita ngegrab ke hotel tempat kita menginap, Java Village Resort yang terletak di Jl. Taman Griya Asri, tak jauh dari perempatan Jl. Gito Gati. Mengapa ngegrab? Ranz ogah ngepit sambil nyari2 lokasi hotel, lol. Dan aku sudah kadung janji mengiyakan ajakannya ngegrab dari area bunderan UGM.

 

Kita sampai di hotel pukul 14.20. syukurlah, sudah jam check-in. (FYI, aku memilih hotel ini random saja, setelah gagal mau booking di D'Kaliurang Resort maupun Omah Pakem.) setelah check in di kamar no 125, kita jalan2 mengitari area resort, mencari dimana kolam renangnya berada, lol. Aku sudah kangen banget berenang!

 



 

 

Sore itu aku berenang kurang lebih satu jam. Ranz duduk-duduk di pinggir kolam menungguiku berenang. Dia belum bisa berenang. Hohoho …

 

Malamnya, kita berencana untuk keluar mencari makan malam sekitar pukul 19.00. eh, ternyata hujan turun. Hhh … ya sudah. Akhirnya kita makan di resto hotel saja. Hahahah …

 



 

 

Usai makmal dan hujan mereda, kita keluar sebentar untuk membeli air mineral dan sedikit cemilan.

 

Btw, ada berita menyedihkan kuterima hari Jumat ini: seorang kawan di grup alumni -- Kagama Virtual -- meninggal setelah hampir satu minggu dirawat di RS karena covid 19. usia beliau -- Ki Sumardiono Brotosumarto -- memang sudah 'cukup' sih, hampir 69 tahun. Well, meski jika berbincang tentang usia dan kematian, siapa yang bisa menebak? Masih banyak orang yang tetap survive setelah terkena covid 19 meski mereka berusia di atas 80 tahun. :(