Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Jogja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jogja. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Juli 2023

Solo - Jogja - Nanggulan - Bhumi Merapi 2

 


Selasa 4 Juli 2023

 

Pagi itu kami jadi bersepeda ke Nanggulan, after sorting out our disagreement, lol. Awalnya, Ranz sempat ragu-ragu apakah dia bakal mampu. Vertigonya terus menempel ke kepalanya. :( Dia sempat ngecek grab, butuh biaya berapa jika kami ke Nanggulan ngegrab. (aku diam saja, meski tentu aku akan lebih suka gowes, jadi aku bisa menyalakan strava, dan setelah selesai, aku bisa mengunggah screenshot strava hari itu ke medsos.) Ranz sempat juga bertanya apakah ada Trans Jogja menuju arah Godean. Seingatku ada. Keputusan aku serahkan pada Ranz, apakah kami jadi full bersepeda, apakah akan naik Trans Jogja, atau ngegrab.

 

Ternyata kami sampai area Nanggulan full bersepeda! Untuk sarapan, kami mampir di satu warung makan sederhana di area Jl. Godean km 4,5. seperti ini loh bagiku 'terserah dia mau mampir kemana'. Aku tidak akan mengeluh kok mampir ke sini atau ke situ, yang penting kami makan sesuatu.

 

Di Jl Godean km 16, Ranz melihat seorang penjual rujak/lotis. Dia mampir dan membeli satu porsi lotis, dibungkus, dan kami bawa sampai Nanggulan.

 

Aku kira sesampai Nanggulan, Ranz akan mengajakku mampir ke Geblek Pari atau Kopi Klothok atau kemana kek dimana kami bisa istirahat sambil ngemil lotis. Ternyata engga, lol. Kami menyusuri rute yang juga kami lewati waktu event J150K, dimana di sisi utara ada selokan yang airnya mengalir dengan lancar. Waktu aku meminta difoto Ranz di daerah situ, dengan entengnya dia bilang, "Ini ga ada bedanya dengan di Selokan Mataram," betul juga. Rugi amat yak, jauh-jauh bersepeda sampai Nanggulan -- 30 kilometer jaraknya dari Jakal km 5 -- kok ternyata fotonya jika dilihat secara sekilas, kami nampak seperti di Selokan Mataram yang tidak begitu jauh dari area UGM, lol.

 




Ranz mengajakku ngemil lotis di pinggir selokan! Untunglah, seperti yang kukatakan di atas, airnya mengalir dengan lancar, dan area di pinggirnya bersih dari kotoran. (Ranz paling ga bisa makan di area yang penuh sampah!) Di sekitar situ juga akhirnya kami berfoto-foto.

 

Usai ngemil lotis dan foto-foto, Ranz menawari apakah kami akan kembeli ke jalan kami datang, atau lanjut. Aku ga yakin apakah kami akan bisa menemukan jalan untuk kembali ke Jogja dengan mudah, tanpa repot-repot ngecek google map, maka aku usulkan untuk kembali saja.

 

Di tengah jalan, di pinggir selokan area Nanggulan itu, kami bertemu dengan rombongan 'turis lokal' yang naik mobil yang atapnya terbuka. Ada sekitar 11 mobil dan di tiap-tiap mobil minimal ada 4 penumpang plus sopir. Hmmm … ini cara mereka menikmati indahnya area Nanggulan kali ya? Kalau buatku dan Ranz kan cukup dengan sepedaan.

 

Perjalanan baliknya, Ranz semakin nyantai mengayuh pedal Hezel. Katanya, otot di kakinya mudah terasa panas jika dia memaksa diri untuk ngebut dalam waktu lama. Beginilah kondisi tubuh Ranz setelah dia rajin ngegym. Kayaknya ga bakal mungkin kami mengulang kisah bikepacking yang dulu-dulu dimana kami bisa bersepeda sampai 3 - 7 hari berturut-turut dimana setiap hari kami menempuh jarak sekitar 80 - 120 kilometer. Ya sudahlah, aku pasrah.

 

Sekitar pukul 14.10 kami sampai di Jl. Kyai Mojo. Aku mengajak Ranz mampir ke satu resto waralaba lokal, SS. Kami juga mampir kesini waktu ngikut event ultah JFB yang kesembilan di tahun 2018. kami nunggu makanan datang lumayan lama di sini, nyaris 30 menit!

 

Usai makan siang, kami melanjutkan perjalanan. Well, dari tempat kami makan siang sampai penginapan, kami hanya perlu bersepeda sejauh 5 kilometer. Kali ini tumben Ranz mengajak lewat kampus UGM, dia ogah melewati kemacetan di Jalan Kaliurang! Masuk UGM, kemudian kami melipir lewat lembah, dan keluar dari pintu gerbang di sebelah Utara, tak jauh dari kampus Fakultas Teknologi Pertanian (kalau tidak salah), ini sudah di samping Selokan Mataram.

 

Malamnya kami ke Maraville Café, satu kafe yang biasa kami kunjungi tatkala kami menginap di kawasan Jakal km 5.

 

Rabu 5 Juli 2023

 

Seperti yang sudah aku perkirakan, Ranz kepengen ke Bhumi Merapi. So, pagi ini setelah mandi, packing, sarapan (Ranz pesan gudeg via ojek online), kami meninggalkan hotel tempat kami menginap menuju Bhumi Merapi naik grab. Cuaca cukup muram. Gerimis turun now and again. Kami sampai Bhumi Merapi pukul 09.15, destinasi wisata ini buka jam 09.00. dan … saat itu, sudah lumayan banyak pengunjung!

 


 

Setelah membeli tiket masuk, per orang Rp. 35.000,00, kami masuk. Ranz yang kepengen membuat video di area 'langlang buana' langsung mengajakku kesana, tanpa perlu melihat-lihat lokasi lain.

 

Sekitar pukul 12.35 kami turun ke arah Jakal km 5. ada kabar duka dari keluarga Ranz: Budenya -- kakak dari ayahnya -- meninggal dunia, jadi Ranz diminta segera pulang ke Solo. Kami pun ga jadi naik KRL, tapi ngegrab ke Solo.

 

Menjelang pukul lima sore, keluarga Ranz berangkat menuju Jember, aku beli oleh-oleh terlebih dahulu, kemudian makan siang -- yang sungguh-sungguh kesorean -- di Wedangan Pak Basuki. Setelah itu, aku ke pool travel Citi*****. Aku naik travel pukul 18.00. alhamdulillah aku sudah sampai rumah sebelum pukul 20.00.

 

PT56 12.40 10.07.2023

 








Solo - Jogja - Nanggulan - Bhumi Merapi 1

 

bulan Maret 2013, di jembatan ini kami kehujanan, day 1 bikepacking Solo - Purwokerto

Kadang, saat berbincang tentang bikepacking, Ranz bilang, dengan nada seperti mengeluh, "sudah lama ya kita tidak bikepacking," atau dia mengunggah satu fotonya yang sedang sepedaan di IG, dengan kepsyen, "aku masih tetap sepedaan," yang aku 'baca' sebagai dia kangen sepedaan jarak jauh, selama beberapa hari in succession.

 

Dan saat ikut event J150K bulan Maret 2023, dia bilang bahwa pemandangan di Nanggulan -- rute yang harus kita lewati setelah check point bayangan entah yang keberapa, aku lupa -- bagus sekali untuk foto-foto. Aku setuju, tapi karena waktu itu, aku sudah ngambeg dan meninggalkan Ranz di belakang, dan aku harus ngebut untuk mengejar CUT OFF TIME yang jam 17.00, jelas aku ga menyempatkan diri berhenti di kawasan Nanggulan untuk foto-foto.

 

Dua hal inilah yang melatarbelakangi mengapa aku mengajak Ranz bersepeda ke Jogja lagi saat libur kenaikan kelas.

 

Semula aku berencana berangkat ke Solo hari Minggu 2 Juli 2023. Hari Senin 3 Juli 2023 bersepeda Solo - Jogja. Hari Selasa 4 Juli 2023 bersepeda ke Nanggulan. Hari Rabu 5 Juli, Ranz ogah bersepeda balik ke Solo, dia mengajak naik KRL dari stasiun Tugu. Tapi, aku berusaha merayunya untuk tetap susur selokan sampai area Kalasan, dan naik KRL dari Stasiun Brambanan. Ini karena katanya jalan tol Solo - Jogja ada yang akan melewati Selokan Mataram, sekitar 4 kilometer. Rencana jalan tol ini dibangun 'di atas' Selokan Mataram. Ranz nampaknya setuju. Namun, kemudian aku ingat, bahwa dia masih ingin ke Bhumi Merapi, satu destinasi wisata yang terletak di Jakal km 21/22. so? Aku bilang, "Ga usah susur Selokan deh. Di hari ketiga kita ngegrab saja ke Bhumi Merapi. Pulangnya langsung kita naik KRL dari Stasiun Tugu."

 

Mengapa ngegrab? Jelas Ranz pasti ogah aku ajak bersepeda nanjak Jakal sampai kilometer 21/22. Dan, ya kita akan menghemat waktu jika kita ngegrab, ketimbang gowes.

 

Kenyatannya aku berangkat ke Solo di hari Sabtu 1 Juli 2023. ada event 'patjar merah' dimana di salah satu sesinya, Gibran Rakabuming -- walikota Solo -- dijadualkan datang mengisi sebagai salah satu nara sumber dengan topik pembicaraan, "Melihat Solo dari dekat sekali". Seperti biasa, aku berangkat naik travel Citi***** pukul 09.30. mobil yang aku tumpangi sampai di pool Solo pukul 11.10. dari sana aku menjemput Ranz yang sedang ngegym.

 


Sorenya Ranz mengajakku ke Ndalem Djojokoesoeman yang terletak di kawasan Pasar Kliwon naik grab. Jarak venue ini 5 kilometer dari rumah Ranz, dan … dia menganggap jarak ini jauh! Ya wis lah, manut. Tapi, ada satu hal lagi yang perlu kami perhatikan: apakah aman jika kita memarkir sepeda di pelataran parkir Ndalem Djokokoesoeman. Ya sudah, aku manut. Aku sempat ikut panel bincang-bincang dengan topik yang aku sebut di atas, meski ternyata karena sesuatu hal, Gibran tidak bisa datang. Oh ya, saat datang ke event ini, aku membeli novel LAUT BERCERITA karya Leila S. Chudori yang latar belakangnya terhubung dekat dengan peristiwa 1998.

 

Malamnya, kami berdua 'ngangkring' di Wedangan Pak Basuki. Setelah beberapa kali kesana, aku pikir teh nasgitelnya berubah rasa, tidak lagi 'sedahsyat' yang aku ingat/harapkan, saat itu, rasa tehnya kembali nikmat seperti sebelumnya.

 

Minggu 2 Juli 2023 pagi, aku menemani Ranz dan Deven dolan ke CFD. Aku sarapan nasi liwet. Siangnya aku ikut keluarga Ranz menghadiri arisan keluarga besar. Sore, Ranz mengajakku ngopi di 'kedai' kopi 1956. (Semula aku janjian dengan seorang kawan facebook yang bertemu di 'patjar merah' di sini. Tapi ternyata kemudian Vika ga bisa datang, Ranz tetap mengajakku ke kedai kopi ini, ya aku mau dong ya.)  Malamnya, kami makan ke food court 'Kenangan' yang terletak di daerah Gentan, bareng mas Martin dan mbak Niken. Aku naik motor boncengan Ranz, mas Martin, dan mbak Niken bocengan motor juga, plus Deven. Karena di kampung Ranz sedang ada yang membangun rumah, ada tumpukan material, mas Martin ogah ngeluarin mobil. Hoho …

 

Senin 3 Juli 2023

 

Kami memulai perjalanan dengan keluhan vertigo yang diderita Ranz. :( Bad vertigo left a bad taste in her mouth: bulan Desember 2022 kami bersepeda ke Jogja, tapi kemudian Ranz 'diserang' vertigo, hingga 3 malam menginap di hotel, kami tidak ngapa-ngapain, karena bahkan keluar dari kamar saja Ranz ga mampu. Aku 'hanya' sempat keluar sepedaan di kawasan Bulaksumur, plus sekali sampai Tugu, dan beli makan plus obat untuk Ranz.

 

Kami berangkat dari rumah Ranz sekitar pukul 06.20. Meski sang surya bersinar cerah, angin yang berhembus terasa dingin. Seperti biasa, kami sarapan di satu warung makan yang terletak tak jauh dari SMP N 1 Gatak, Sukoharjo. Kami memesan timlo tanpa nasi.

 

Di awal perjalanan, Ranz mengayuh pedal Hezel dengan cepat, kadang aku keteteran mengejarnya. Namun, setelah kami mulai masuk kabupaten Klaten, Ranz nampak santai sekali. Well, ini bukan sepedaan ikut event apa pun, jadi kami bisa mengayuh pedal sepeda sesantai yang kita ingini.

 

 




Kami sempat mampir pom bensin dua kali untuk pipis. Well, sakit perut yang mulai menggangguku sejak bulan November 2022 memaksaku untuk segera pipis jika aku merasa kebelet, tidak boleh ditahan jika aku tidak ingin diserang rasa sakit lagi.

 

Oh ya, ini adalah perjalanan pertama Solo - Jogja Ranz naik Hezel, sepeda camp hazy yang dia beli di awal tahun 2023 untuk dia naiki di event J150K, maka dia dengan suka cita berhenti di spot-spot tertentu untuk memotret Hezel.

 

To our disappointment, saat kami sampai di lokasi jualan es dawet Ngudi Roso, si penjual libur. Well, memang sebelumnya sudah aku perkirakan sih. Sebelumnya kan ada long weekend libur Hari Raya Idul Adha. Pasti ramai sekali. Dan, banyak penjual makanan atau apa pun juga yang memilih libur di hari Senin untuk istirahat. Apa boleh buat? Ranz menawari mampir di kedai dawet lain, aku menolak. Kapan dulu itu kami mencoba mampir di kedai lain, tapi rasanya mengecewakan. So? Mending ga usah sekalian.

 



 

Sesampai di Candi Kalasan, kami mulai merasakan titik-titik gerimis. Ranz mengeluh; di bulan Desember 2022, kami kehujanan saat akan masuk kota Jogja. Dan … Ranz pun sakit parah. Tapi, untunglah gerimis kali ini ya hanya gerimis, tidak membesar menjadi hujan.

 


 

Perjalanan lancar hingga kami sampai di bunderan UGM. As one 'ritual' kami mampir, aku memotret Austin dengan latar belakang tulisan UNIVERSITAS GADJAHMADA, dan Ranz pun memotretku di sini. Saat itu, lumayan banyak orang yang mampir dan antri foto. Ada beberapa mahasiswa yang menawarkan sewa jaket almamater untuk berfoto. Aku tidak tertarik karena warna jaketnya tidak seperti jaket almamater yang aku dapatkan di tahun 1986 duluuu. Entah mengapa kok warnanya berubah ya.

 

Aku blas tidak merasa lapar sampai di situ. Yang ada di benakku adalah: segera sampai penginapan, aku mau mandi keramas, kemudian … TIDUR! Tapi Ranz lapar dan dia menyebutkan ingin makan sesuatu yang rasanya terasa banget (I was thinking of nasi padang dengan rendangnya), hangat, dan berkuah. Nah, bingung kan aku, nasi padang kan biasanya kering, ga pakai kuah banyak. Dan, aku benar-benar tidak bisa menerjemahkan keinginan Ranz untuk makan apa. Jelas aku juga tidak tahu mau mengajak Ranz mampir di rumah makan mana?

 

Dan, jawabanku, "terserah kamu mau makan dimana. Aku ga lapar kok," memicu kekesalan Ranz. (haha, kami memang sering bertengkar!) setelah meninggalkan bunderan UGM, dia mengayuh pedal Hezel dengan cepat, menuju Jalan Kaliurang km 5. Aku ngikutin dari belakang. Dan, ini adalah untuk kesekian kali kami menginap di satu hotel yang terletak di Gang Megatruh, Ranz sudah hafal jalan menuju ke sana. Untunglah sebelum sampai hotel, ada outlet mie Yamin Panda. Ranz pun mampir ke situ. Dia memesan satu jenis mie ayam, dan minuman es choco oreo. Dia sama sekali tidak menawariku apa-apa, dan, aku belum ngeh bahwa dia marah padaku. (I was too insensitive, eh?)

 

Setelah makan, kami ke hotel, check in. untuk pertama kali kami mendapatkan kamar di lantai 3! Waduh. Untunglah kakiku baik-baik saja, jadi naik turun tangga sampai lantai 3 okay-okay saja. Dan seperti yang sudah aku bayangkan, aku langsung mandi keramas, kemudian leyeh-leyeh di tempat tidur. Ranz sibuk dengan gadgetnya. We didn't talk to each other at all, lol.

 

Ketika malam tiba, kebetulan perutku juga tidak lapar. Aku menunggu apakah Ranz akan mengajakku keluar makan malam, ternyata dia tetap tidak mengatakan apa pun juga padaku. Dia keluar sebentar, kemudian balik lagi membawa air mineral dan sedikit cemilan. Aku tidak merasa butuh ngemil, so aku langsung tidur.

 To be continued.

Selasa, 14 Maret 2023

J150K 2023 THE NEXT LEVEL ENDURANCE

 


Seperti tahun-tahun sebelumnya, J150K selalu diselenggarakan di hari Sabtu -- instead of Sunday, seperti biasanya event ulang tahun komunitas sepeda lipat -- karena tentu bersepeda sejauh 150 kilometer membutuhkan waktu tidak hanya sekedar 4 - 5 jam, kecuali bagi mereka yang pro ya. Peserta J150K tidak semua pembalap, ada juga yang penggembira, termasuk orang-orang seperti aku yang hanya seorang bike-to-worker, yang butuh waktu sekitar 10 jam untuk 'melahap' jarak 150 kilometer :)

 

Itulah sebabnya, aku pun berangkat ke Jogja di hari Jumat 3 Maret 2023. jika di tahun 2017 dan 2019, aku berangkat naik KA Kalijaga menuju Solo, kemudian dari Solo menuju Jogja naik KA Prameks bersama Ranz, tahun ini aku naik travel Citi*****. Selain karena KA Kalijaga sudah tidak lagi beroperasi, semenjak pandemi tahun 2020, aku sudah biasa pergi ke Solo maupun Jogja naik travel.

 

Dari pool Citi*****, mobil yang aku tumpangi berangkat pukul 09.00. mobil masuk jalan tol, keluar di pintu gerbang tol Colomadu, menuju Kartasura, kemudian belok ke arah Klaten, lanjut ke Jogja. Mobil sampai di pool Jogja pukul 11.35. sementara itu, Ranz naik KRL yang berangkat dari stasiun Purwosari pukul 11.26, dia turun di stasiun Lempuyangan. Aku mengayuh pedal Austin menuju almamater tercinta, Universitas Gadjahmada, untuk memotret Austin dengan latar belakang tulisan UNIVERSITAS GADJAHMADA dan FAKULTAS ILMU BUDAYA, sembari menunggu Ranz datang.

 

Sekitar pukul 12.45 Ranz sudah menyusulku di 'bunderan' UGM, kemudian kami bersama bersepeda menuju Jalan Kaliurang. Ranz mengajak mampir di satu kedai roti beraroma kopi, dan … aku tergoda dengan bau kopinya yang wangi. Maka, ketika Ranz menawariku mau minum apa, aku memilih iced cappuccino. Well, terakhir aku bikin iced cappuccino sendiri sekian minggu sebelumnya, lambungku langsung sakit sampai aku tak berdaya untuk ngapa-ngapain. Nah, kali itu kok aku ngeyel yak tetap memilih minum iced cappuccino? Well, at least, ingredients-nya beda kan ya dibandingkan yang aku buat sendiri: cappuccino sachetan yang biasa aku beli di supermarket dekat rumah. Sluman slumun slamet.

 

Setelah menghabiskan satu biji roti dan minum iced cappuccino (Ranz minum es coklat), kami melanjutkan perjalanan menuju hotel tempat kami menginap, hotel RedDoorz yang terletak 500 m di sebelah Timur Monumen Jogja Kembali.

 

Sore itu, Ranz mengajak ke pendopo Ambarrukmo dengan naik taksi online, untuk mengambil 'ride pack' J150K, karena jarak tempuh bisa sampai 20 kilometer pp. well, I don't mind riding Austin there, tapi karena Ranz ogah, ya wis lah, malah enak kan tinggal duduk manis di taksi? Lol. Malamnya kami keluar lagi untuk makan malam, sempat menyusuri Jl. Palagan sekitar 500 meter, ada satu warung nasgor/migor, tapi penuh, maka aku mengajak Ranz ke arah Selatan, Jl. Nyi Tjondrolukito. Untunglah kami menemukan satu warung sejeni. Aku memesan nasgor, Ranz memesan migor.

 

Malam itu, aku ternyata tidak bisa tidur! Es cappuccino yang rasa pahitnya terasa sekali itu membuatku tidak bisa tertidur! Apalagi hotel yang kami inapi terletak di pinggir jalan ringroad (Eh, namanya Jl. Pajajaran yak? Baru tahuuu saat naik taksi online, sang supir menggunakan google map yang menunjukkan direction dengan suara yang lumaya keras), jelas suara deru mesin kendaraan yang lewat bisa aku dengar dengan jelas. Payah ini. Keesokan hari aku akan bersepeda sejauh 150 kilometer, dan aku belum bisa tertidur hingga lewat tengah malam!

 

Sabtu 4 Maret 2023

 

Semalam Ranz berpesan jika aku sudah bangun terlebih dahulu, dia memintaku untuk memulai 'ritual pagi' terlebih dahulu, tanpa menunggu dia bangun, mandi dll. Tapi karena aku belum juga berhasil terlelap sampai jam 2 dini hari, aku tetap melanjutkan leyeh-leyeh di tempat tidur ketika aku mendengar suara adzan subuh sekitar pukul 04.20. apalagi di luar hujan. Duh, males banget baru mau berangkat menuju tikum event kok sudah hujan ya? Andai saat itu, Ranz mendadak enggan berangkat gegara hujan, aku pasti tidak keberatan, lol.

 

Namun ternyata jam 05.30 Ranz sudah mengajakku turun dari lantai 2 (kamar kami menginap terletak di lantai 2). Di lobby hotel, aku melihat 2 orang lain lagi yang sedang bersiap-siap berangkat menuju Monjali. Mereka mengenakan mantel. Tanpa babibu, Ranz langsung mengeluarkan sepeda. Jelas di luar masih gelap gulita. Waktu aku mengikuti Ranz keluar, ternyata sudah tidak hujan! Ahh, syukurlah. Kami berdua pun langsung mengayuh pedal menuju Monjali.

 

Panitia menyatakan bahwa 'pasukan' peserta J150K yang mencapai sekitar 1100 orang akan diberangkatkan pukul 06.00. aku dan Ranz lumayan berada di dekat balon start/finish. Sementara menunggu jam keberangkatan, MC mulai menyapa peserta dan mengobarkan semangat, eh, gerimis turun lagi. (hari ini aku sengaja membawa 2 mantel dalam tas.) aku lihat banyak peserta di sekitarku yang kemudian mengenakan mantel. Aku bertanya pada Ranz apakah dia akan mengenakan mantel, dia jawab tidak. Dan … aku ikutan. (hoho, padahal aku bawa 2 mantel loh!)

 

Setelah sambutan dari Bupati Sleman, Ibu Kustini Sri Purnomo dan Kepala Dinas Pariwisata DIY, Bapak Singgih Raharjo, pasukan peserta J150K dilepas pukul 06.10. paling depan sebagai voijrider adalah ada kepolisian DIY, dilanjut oleh marshall yang naik sepeda motor, dan road captain yang naik sepeda. Ke luar dari Monjali, peserta diajak menyusuri jalur utama ring road menuju Timur, ke arah Kalasan. Jika semula hanya gerimis saat kami meninggalkan titik start, di tengah jalan, gerimis menderas. Basah kuyub jelas, terkena air hujan, kena cipratan genangan dari bawah sepeda, plus cipratan genangan air yang dilalui kendaraan-kendaraan besar yang menyalip kami, lol.

 

Kami kehujanan nyaris sejauh 25 kilometer. Kurang 500 meter menuju Water Station 1 (waktu itu kami belum 'ngeh' bahwa WS sudah dekat) hujan sudah berhenti, Ranz mengajak mampir di satu pom bensin untuk pipis. Di sini aku lihat beberapa peserta yang juga mampir untuk pipis sekaligus melepas mantel. Ada yang melipat mantel dan menyimpannya di tas pannier yang nangkring di boncengan sepeda, namun ada juga yang membuang mantel yang baru mereka pakai di tong sampah. (niatku semula ya seperti ini, itu sebabnya aku membawa 2 mantel.)

 

Setelah keluar dari pom bensin untuk melanjutkan perjalanan, ternyata tidak lama kemudian kami tiba di WS 1, Jl Raya Piyungan - Prambanan. :)  di sini, panitia membagikan pisang dan air mineral. Ini sekitar jam 07.40. Setelah menghabiskan 1 pisang, dan minum beberapa teguk air, aku dan Ranz melanjutkan perjalanana. Strava menunjukkan angka 25 kilometer. (syukurlah meski kehujanan, tas cangklongku tidak aku selimuti plastik, 2 gadgets nampak baik-baik saja.)

 

Hujan sudah berhenti, aku pun berharap sinar matahari akan mengeringkan baju yang aku pakai. Kami sampai di Check Point 1 pukul 09.13, strava menunjukkan angka 52 kilometer. Di CP 1 (Jl. Imogiri Siluk, Ngatsuro) ini, panitia menyediakan arem-arem yang dibalut telur dadar, dan air mineral. Aku makan 1 arem-arem, minum beberapa teguk air, kemudian melanjutkan perjalanan.

 

Selepas CP 1 ini, panas sinar matahari mulai terasa menusuk :D  apalagi setelah kami sampai di area Depok, Parangtritis, kecamatan Kretek. Jalan panjang, di sisi kiri kanan sawah, membuat angin yang berhembus kencang kian terasa mengombang-ambingkan hati, eh, emosi, eh, apa ya? Pokoknya kayuhan kian terasa berat, lol.

 

Water Station 2 terletak di kilometer 74, di Jl. Pantai Goa Cemara, setelah melewati jembatan baru. Aku dan Ranz sampai sini pukul 11.00. hampir 2 jam dari CP 1. di sini panitia membagi roti berisi pisang maupun nanas kepada peserta, selain tentu saja air mineral. Tidak terlihat toilet yang layak di sini. Ada, tapi ya begitu deh kondisinya. Untunglah aku sedang tidak begitu kebelet pipis.

 

Meninggalkan WS 2, sinar sang mentari kian menyengat, apalagi menjelang tengah hari. Ranz sudah nampak ogah-ogahan di sini. Aku mulai memutar otak aku harus bagaimana untuk membangkitkan semangatnya. Aku melihatnya mulai mengayuh pedal dengan setengah hati. Pedal dikayuh 5 kali, kemudian kakinya berhenti mengayuh, menikmati suara dari crank … waduh.

 

Kami sampai di Check Point 2 pukul 12.30, daerah Kaliwiru, Tuksono, Kecamatan Sentolo, Kulon Progo. Strava di gadget menunjukkan angka 94 kilometer, namun panitia memajang poster CHECK POINT 2 KILOMETER 100. :) Hidangan makan siangnya nasi sop, disediakan juga teh plus es batu bagi yang ingin minum es teh. Tentu saja aku hanya berani minum air mineral, tidak berani yang lain. Ranz yang semula nampak ogah-ogahan, kembali nampak semangat karena sopnya enak. :)

 

(Intermezzo: aku sempat tidak pede untuk bersepeda sejauh 150 kilometer ini, mengingat (1) cedera kakiku belum sembuh 100% (2) perut yang beberapa kali bermasalah di beberapa bulan terakhir membuatku tidak bisa 'latihan'; perpaduan dua kasus ini (plus hujan yang turun terus menerus di bulan Januari/Februari) membuatku tidak bisa latihan sama sekali, padahal karena sudah jarak bersepeda jarak jauh, aku harusnya latihan menjelang 4 Maret 2023. itu sebabnya aku sendiri beberapa kali bilang ke Ranz untuk tidak usah ngoyo, kalau harus loading, ya loading saja, minimal setelah kami sampai di Check Point 2.)

 

Setelah makan siang, kami melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah kondisiku -- baik kaki maupun perut -- baik-baik saja. Emosiku juga terkontrol dengan baik. Ranz yang kadang nampak emosi melihat banyak peserta yang dikawal mobil-mobil untuk mereka loading, begitu mencolok mata! Lol. Dia ngomel-ngomel ngalor ngidul. Awal mula meninggalkan CP 2, Ranz masih baik-baik saja. Namun setelah sekitar 10 kilometer terlampaui, dia kian terlihat ogah-ogahan. Dia kembali ngomel tiap kali ada peserta yang nampak turun dari mobil tempat mereka loading, kemudian mengayuh pedal sepeda dan menyalip kami, lol.

 

Aku berusaha menenangkannya dengan mengatakan fokuslah pada dirimu sendiri. Aku ingat di J150K pertama kami, tahun 2013, aku sering merasa grusa grusu begitu ada yang nyalip kami, aku langsung mempercepat kayuhan, yang membuat nafasku terengah-engah, dan aku jadi cepat lelah. Ranz mengingatkanku untuk fokus ke speed-ku sendiri saja. Kali ini gantian aku yang bilang ke dia, "motivasi tiap peserta di event ini beda-beda tentu saja. Motivasiku adalah untuk ngetes diriku sendiri: masih mampu ga bersepeda sejauh 150 kilometer, setelah lama sehari-hari hanya bike-to-work. Kalau motivasi mereka yang lodang loding ya embuh lah ya.  Tentunya motivasimu sama kan dengan motivasiku?" Ranz menjawab dengan ketus, "tidak!" lol. Wis pol nyebeline bocah siji iki, lol.

 

"Aku kesal ketika mereka menyalipku dengan riang gembira. Ya tentu saja tenaga mereka masih full orang habis loading!" wkwkwkwk … aku ngekek ingat aku sendiri di tahun 2013 dulu itu, tapi ya tetap saja Ranz emosi. Karena akhirnya aku ga tahan harus terus menerus menahan diri di belakang Ranz, dan dia sendiri bilang, "Sana kalau kamu mau duluan," aku ya akhirnya memilih melaju di depan Ranz. Setelah aku tidak melihat penampakannya di belakangku, aku berhenti, menunggunya menyusulku. Begitu terus sampai di Water Station bayangan, mungkin sekitar kilometer 110. aku tidak sempat memotret Austin di sini, jadi tidak bisa ngecek jam berapa nyampai di sini.

 

Siti Solikah -- kawan sepeda -- yang menjaga di WS bayangan ini heran saat melihatku sendirian, aku bilang Ranz berada di belakangku. Tak lama kemudian Ranz pun muncul. Di sini panitia menyediakan tambahan air mineral. Siti bilang rute selanjutnya dikenal sebagai "jalur Luna Maya" menuju ke arah Nanggulan. Dan katanya Water Station 3 masih jauuuuuh, lol. Satu hal yang aku syukuri adalah, sang mentari telah bersembunyi di balik awan, tak lama setelah kami meninggalkan CP 2!

 

Menjelang tanjakan di area Nanggulan, Ranz kembali memelan, aku sudah tidak mampu menahan emosiku kali ini. :( aku bilang, "Kalau kamu pelan-pelan gini ngayuhnya, aku malah capek!" eh, malah dia njawab, "aku tuh ga capek. Aku males! Sana kalau kamu mau duluan, duluan saja!" dan … aku dengan segera mengayuh pedal Austin dengan cepat. Tidak peduli dengan pemandangan sekitar yang sebenarnya cantik sekali untuk foto-foto. Tujuanku hanya satu: jika di tahun 2019 aku bisa sampai di titik finish sebelum cut off time, kali ini aku harus bisa! Aku terus mengayuh pedal Austin, sudah tidak lagi berhenti untuk menoleh ke belakang untuk ngecek apakah Ranz masih terlihat.

 

Spot pemberhentian setelahnya adalah spot pembagian gelang berwarna hijau. Sampai sini, aku bertemu mas Totok -- eks ketua JFB -- dan om Aryo alias Karjok -- dari dia dulu Ranz biasa memesan t-shirt saat B2W Semarang jualan kaos. Plus satu lagi kru panitia yang aku belum kenal. Mas Totok heran melihatku sendirian, "Balamu ndi mbak?" aku pun langsung nyerocos curhat, lol. Bla bla bla … "pokoke engko nek Ranz tekan kene dorongo mas, aku ora tahan ngenteni!" kataku. Lol.

 

Setelah menerima gelang, dan diberitahu bahwa Water Station 3 masih jauh, aku langsung ngacir lagi. Trek rolling di depan mata sempat menciutkan hati. Piye jal ini panitia! Wis tekan kilometer 120-an kok ya isih dilewatke tanjakan sing lumayan curam meski pendek, ya tetap saja kian menguras tenaga. Hiksss …

 

Dan … akhirnya aku pun sampai di WS 3, di kilometer 130 sekitar jam 15.40. ini di Jl. Kebon Agung, Dukuhan, Trihanggo, Gamping Sleman. Akhirnya gelang yang aku pakai dapat centang semua! Plus dapat 1 gelang! Horeeee. Lol. Ini tiket untuk mendapatkan door prize utama, jika beruntung. Di sini panitia kembali membagi pisang dan air mineral.

 

Tak lama kemudian mas Totok muncul, dia bilang dia mendorong Ranz pas di tanjakan. Dia memintaku untuk menunggu Ranz sebelum melanjutkan perjalanan. Dan betul juga, ga berapa lama kemudian, Ranz muncul dengan roman wajah yang nampak mutung, lol. To my 'expectation' (tapi mungkin to mas Totok's surprise, lol) Ranz bilang ke dia kalau dia mau evak saja. Begitu mendengar Ranz bilang begitu, aku langsung pamit ke dia untuk melanjutkan perjalanan.

 

Aku tidak perlu khawatir tersesat, karena marshall benar-benar ada di hampir tiap perempatan/pertigaan, atau jika tidak ada, ada petunjuk yang dipasang di titik-titik tertentu oleh panitia. Mas Totok bilang jalan yang kulalui akan menuju Jombor. Nah, kalau sudah sampai Jombor, tinggal masuk ring road kan ya, terus sampai lah di Monjali.

 

Dari kilometer 130 menuju kilometer 150 nan dramatis. Tenaga tinggal sisa-sisa, semangat juga, lol, plus emosi yang naik turun, lol. Dari WS 3, rute yang dilewati sudah merupakan jalan raya yang banyak dilewati orang, jadi jalanan ramai, harus hati-hati. Ada banyak perempatan yang sewaktu-waktu harus siap berhenti, untuk kemudian melanjutkan mengayuh pedal lagi. Hanya 'begini' tapi kok rasanya bikin gowesku kian lelet, lol. Tapi, aku tetap bersyukur saat melewati beberapa peserta -- laki-laki -- yang nampak kelelahan di pinggir jalan, bahkan ada yang sempat curhat ke peserta lain yang lewat, "kakiku kram!" aku tentulah lelah, namun ga sampai kudu berhenti di pinggir jalan, terengah-engah, apalagi yang sampai kakinya kram, nampak banget memaksa diri.

 

yeay! akhirnya nemu foto ini!

 

Satu kali waktu melewati traffic light yang baru saja berwarna merah, sehingga harus berhenti, pas ada ambulance (panitia) lewat, panitia yang duduk di dalam, melongok ke luar jendela, sambil melambaikan tangan dan berseru, "lanjut terus saja tante, lanjut terus!" owh .. Aku tentu dengan suka cita terus mengayuh pedal, tidak jadi berhenti. Saat rasanya emosiku nyaris down (kok Jombor ga segera terlihat yak? Lol), aku berhenti di pinggir jalan sebentar, minum air mineral beberapa teguk, kemudian melanjutkan perjalanan lagi.

 

Akhirnya yang membangkitkan semangat pun di depan mata: tulisan JOMBOR belok kanan! Well, meski mungkin masih harus mengayuh pedal 5 kilometer dari tulisan itu, minimal sudah hampir sampai Jombor. Jiaaan, dramatis tenan, lol. Begitu beneran sampai flyover Jombor, rasa lelah dan down langsung hilang! Semangatku kembali bergelora! Iyalah, jarak tempuhku paling pol hanya tinggal 1 kilometer lagi! Hihihi …

 

Jam 17.00 aku pun masuk gerbang Monjali, menuju titik finish! Alhamdulillah! I FINISHED IT! YEAY! Seorang gadis manis mengalungkan medali kepadaku. Sayangnya tidak ada siapa pun yang memotretnya. Ya wis, rapapa. Hihihi … saat kebingungan aku mau memotret Austin dengan medali di tangan di sebelah mana, aku cek WA, ternyata Ranz sudah sampai Monjali. Dia mencariku, mengajakku untuk segera kembali ke hotel karena dia sudah ingin segera mandi.

 

Aku sempat berfoto sejenak dengan medali dan Austin tentu saja, difoto oleh Ranz, sebelum kembali ke hotel.

 

Sekitar pukul 19.00 kami berdua kembali ke venue, menghadiri acara gala dinner sekaligus pembagian door prize. Ranz yang sorenya sempat makan bakso plus sambal di titik finish (sebelum aku sampai) ternyata mengeluh asam lambungnya kumat. Hadeh. Di acara ini, aku dapat hadiah kaos, setelah dikerjain MC. Hahahaha … door prize utama? Well, belum rezekiku. Ya wis rapapa. Nek durun rezeki meh piye meneh? Ye kaaan?

 

Minggu 5 Maret 2023

 

Pagi ini Ranz mengajakku ngepit ke Jl. Palagan km 8 demi sarapan soto Sokaraja. Namun ternyata setelah kami sampai sana, warung masih tutup gegara penjualnya masih ikut kerja bakti, lol. Otw balik ke hotel, Ranz mengajak mampir di satu warmindo, ya wis rapapa. Aku makan nasi, sayur terong, plus ayam bumbu kecap.

 

Kami check out dari hotel pukul 09.30 karena Evie Permatasari yang sedang berada di Jogja mengajak kopdar. Dia menraktir kami di café Kebon Dalem, Tugu Jogja. Kami ngobrol ngalor ngidul bertiga. Menjelang pukul 12.00 Avitt datang bergabung. Sekitar pukul 13.00 kami berpisah. Avitt janjian dengan kawan lain lagi, demikian juga Evie. Aku dan Ranz langsung menuju ke stasiun Tugu. Kami naik KRL yang jam 14.50. saat kami sampai stasiun Purwosari satu jam kemudian, ternyata daerah situ baru saja diguyur hujan lebat. Wah, ada untungnya juga kami naik kereta yang jam segitu, bukan yang jam sebelumnya.

 

Kok aku ke Solo? Ga langsung balik ke Semarang? Iya, karena aku perlu terapi kaki dan perut lagi di hari Senin, janjian dengan mbak Rina terapis jam 08.00. Aku pulang ke Semarang di hari Senin, ambil keberangkatan travel Citi***** yang jam 11.00. aku sudah sampai rumah sebelum jam 13.00. alhamdulillaaah.

 

Aku rasanya masih mau ikut J150K lagi dua tahun ke depan! Yeay!

 

PT56 16.00 14/03/2023

 

Serba-serbi J150K 2023 #2

 

setelah mantengin ribuan foto, akhirnya nemu 1 foto ini 😢😥

Mbak RRM: "Jika masih nekad, kita masih memiliki semangat hidup!"

 

Yesss!

 

Kemarin Sabtu 4 Maret, setelah mencapai kilometer ke-130 adalah etape paling sulit bagiku, meski trek tinggal datar. R memutuskan untuk evak saja (yang aku syukuri ketimbang dia mau ngepit tapi super duper lelet sambil ngomelin orang-orang yang 'lodang loding' hingga aku kian lelah) jadi aku tinggal bersepeda sendirian. Masih banyaaak peserta di belakangku, tapi jaraknya jauuuh. Ada peserta di depanku, tapi ya begitulah jaraknya juga jauh dariku. Tenagaku tinggal sisa-sisa, ga bisa lagi menggeber Austin secepat mungkin untuk membersamai peserta yang di depanku. Yang bisa kulakukan ya menenangkan diri sambil berkata dalam hati, "You can do this, Nana. Come on, you are the tough one!"

 

Di saat yang bersamaan, mataku mencari-cari petunjuk kira-kira Jombor kurang berapa kilometer lagi? 

 

Begitulah, 19 kilometer yang membuatku tegang, begitu merindukan Jombor!😛😜😝karena kalau telah sampai flyover Jombor, titik finish sudah terpampang di depan mata!


 

Aku nekad! Aku masih memiliki semangat hidup! Yeay! Je m'aime! I love myself!

 

Semarang 06.03.2023

 

===================================

 

Ning Tia Tia

 

Masih ingat obrolan kita selepas Tour de Pangandaran tahun 2016? Yang aku heran melihat sekelompok perempuan bersepeda di sekitar kilometer ke-90 karena mereka masih nampak kinclong? Dandanan mereka tetap cethar membahana? Gile ya, sudah bersepeda sejauh kurang lebih 90 kilometer, pipi mereka masih merah merona nggemesin, lipstick pun masih nampak menempel cantik?

 

Naaah

 

Kemarin di #J150K2023 ada yang seperti itu loh. Malah lebih mengherankan karena sepeda-sepeda mereka pun masih kinclong dan jersey yang mereka pakai masih nampak bersih padahal di 25 kilometer pertama itu peserta diberkahi hujan lebat sampai di Water Station 1. #nyinyir

 

Dan beberapa kali Ranz melihat "pasukan" naik sepeda lipat merk tertentu naik turun mobil. Mereka turun saat kira-kira water station atau check point sudah tinggal 3 - 4 kilometer di depan. Setelah melewati CP dan WS? Loading lagiiii


No wonder ya jika nganu


#julidpagi

 

Semarang 7 Maret 2023

 

Rabu, 08 Maret 2023

Serba-serbi J150K 2023 #1

 


Serba serbi 1:

 

#J150K2023: The Next Level Endurance

 

Sabtu dini hari hingga pagi 4 Maret 2023, Jogja diguyur hujan. Aku sempat gamang; duh males banget jika baru mau sepedaan (mana jarak jauh pula) kok sudah kudu kehujanan.

 

Pukul 05.30 R sudah mengajak berangkat. Aku sempat mikir mau langsung pakai mantel ga ya. Ternyata, setelah keluar dari hotel yang berjarak hanya 500 meter dari venue, sudah ga ada tetes hujan. Ok, ga usah pakai mantel.

 

Di dekat titik start, sudah lumayan banyak peserta. MC mulai menyapa peserta sekitar pukul 05.45. Dikatakan bahwa makna "the next level endurance" itu berarti peserta akan diuji ketahanan mentalnya, tidak hanya jarak yang panjang, trek yang aduhai, namun juga cuaca: hujan, panas, berangin.

 

Tak lama kemudian, gerimis turun lagi. Sebagian peserta kulihat mulai mengenakan mantel. R kutanya mau pakai mantel ga, dia jawab ogah. Dan, aku ikutan enggan

 

aku ingat saat bersepeda Ngawi - Solo Desember 2019, kami kehujanan, tanpa pakai mantel karena semula hanya gerimis, hingga sudah basah saat gerimis menderas. Oke, gapapa deh hujan-hujanan

 

Peserta diberangkatkan pukul 06.10 oleh Bupati Sleman. Gerimis sudah menderas, bahkan sempat lebat sekali. Menjelang kilometer ke-25 di Water Station 1, hujan mereda. Aku sudah ingin matahari muncul agar baju yang kupakai mengering


 


 

Selepas check point 1 di kilometer 51, sinar mentari mulai terasa membakar. Saat menuju Water Station 2 di kilometer 74, di area sekitar Pantai Depok, Pantai Samas, angin terasa mulai menghambat laju sepeda. Panas yang menyengat plus angin: cakep! Mana jalannya lurus panjaaaang di sisi kiri kanan sawah, sungguh terasa membosankan

😆

mendadak aku ingin hujan turun lagi.

😱

 

😝

 

Di sini R mulai terlihat jenuh. Biasanya kami ga pernah berhenti mengayuh pedal saat sepedaan jarak jauh, kecuali jika memang niat berhenti, R sering berhenti setelah mengayuh sekitar 5 putaran. Aku kudu rajin ngerem untuk tetap berada di belakang/sampingnya. Suwi-suwi entek iki kampas rem Austin

 

Sesampai Check Point 2, saat makan siang dengan menu sop ayam yang lezat, R nampak excited lagi. Kemarin-kemarin aku sempat bilang ke R ga usah ngoyo kali ini, toh kita sudah 3 kali ikut J150K. Aku juga bilang sama mamas ga akan ngoyo mengingat cedera kaki yang belum benar-benar pulih plus sakit perut yang saat datang aku tak bisa bebas beraktifitas.

 

Kemarin Jumat waktu mengambil ride pack di pendopo Ambarrukmo, seorang dedengkot JFB bilang, "sesuk ora usah ngoyo mbak, santai wae wong kalian wis bola bali melu."

 

seorang kawan lawas lain bilang, "kok kalian belum pensiun? Aku cedera kaki dadi wis males melu event ngepit adoh-adoh ngene iki." Hoho dia ga tahu, aku juga cedera kaki.

 

Meninggalkan Check Point 2 di kilometer 100, R kembali terlihat ceria. Aku ngabarin mamas kayaknya aku akan lanjut gowes sampai titik finish, kan tinggal 50 kilometer lagi. Semesta menghadiahi kami dengan mendung setelah ini.

 

Namun ga lama, R mulai terlihat kendor lagi. Setiap papasan dengan mobil-mobil yang dipakai peserta untuk loading (mereka didampingi support car mereka sendiri) dan mereka turun saat mendekati water station maupun check point agar nampak full gowes, dia terlihat gusar dan kesal. Dan mulai ngomel.

 

Aku bilang, "don't compare yourself with them. Motivasi peserta J150K ini pasti macam-macam. Aku sendiri ingin "challenge" diriku sendiri masih mampu ga sih setelah cedera kaki plus jarang bersepeda jauh kecuali bersepeda ke kantor. Entah mereka. Meski nanti sama-sama finish, beda lah kepuasan yang kita rasakan." Dan ... R tetap ngomel-ngomel.

 

Aku sampai di water station bayangan terlebih dahulu ketimbang R karena aku mulai males kudu ngerem-ngerem melulu untuk tetap berada di belakang R. Kunikmati saja kayuhanku. Dari sini rute menuju Nanggulan. Aku gantian ngomel ke Ranz.

 

"Kalau mengayuh pedal pelan-pelan gini, aku kudu ngerem, aku capek! Ayuklah cepetan!"

 

Dijawab R, "aku tuh ga capek, aku cuma males!" Lha piye jal, yang capek tuh kan aku jika harus mengayuh pedal pelan2 plus ngerem bola bali. Katanya lagi "Kalau kamu mau duluan, sana duluan!" Aku langsung melesat menginggalkan R di belakang.

 

Sesampai di spot pembagian gelang, mas Totok seorang eks ketua JFB heran melihatku sendirian, "Balamu ndi mbak?" Aku langsung curhat dong, bla bla bla. Ada om Karjok juga di situ. Mereka berdua ngekek mendengar aku curhat, "R kesal melihat peserta yang lodang loding jadi dia aras-arasen ngepitnya."


"Water station 3 di sebelah mana sih?"

"Isih adoh mbaaak." Dijawab mas Totok. Duh, aku harus terus menyemangati diri sendiri.

 

Sesampai di Water Station 3, di kilometer 130, aku kembali ngemil pisang yang dibagikan panitia. Tak lama kemudian mas Totok sudah sampai. (dia marshall 'berjalan' naik motor.) Dia bilang, "kae R wis cedhak. Mau tak dorong. Entenana ya." Benar juga ga lama kemudian R muncul. Tapi, dia malah bilang, "mas, aku meh evak wae." Ya sudah, aku langsung melanjutkan perjalanan, sendirian lagi.

 

19 kilometer menuju flyover Jombor rasanya jauuuuh sekali. Traffic light yang ada dan jalanan yang penuh pengguna jalan kian memperlambat lajuku. Aku sebut-sebut nama Jombor siapa tahu tiba-tiba dia muncul di depan mata


Dan ... akhirnya aku pun sampai Jombor! Alhamdulilah! Kurang sedikit lagiiii!

 

Saat sampai Monjali dan menerima kalungan medali, aku langsung mengeluarkan hp, untuk motret. Ternyata R sudah sampai dan mencariku. Dia sudah pengen balik ke hotel untuk mandi.

 

Terima kasih kawan-kawan facebook yang menyemangati. I thank you so very much


Monjali 05.03.2023

 

Minggu, 01 Januari 2023

Christmas Holiday 2022 ~ 3

 


Rabu 28 Desember 2022

 

To our disappointment, Ranz didn't get better at all. 😞 'kemajuan' hari ini adalah akhirnya dia mau mencoba minum omeprazol, obat aslam yang biasa diminum Angie maupun adikku ketika aslamnya kambuh. Selama ini, ga pernah dia minum obat apa pun ketika aslamnya kambuh. Pagi itu, dia memintaku ke apotik untuk beli obat omeprazol dan vometa. Dia ternyata sempat browsing obat untuk mengurangi mual dan muntah yang disebabkan oleh aslam.

 

Aku pun keluar ke apotik terdekat, di Jakal situ, dan beli roti O, Ranz pengin itu. Aku keluar hanya sebentar untuk beli itu, kemudian langsung balik ke hotel.

 

enak ini spaghetti-nya 😋

 

 

Siangnya Ranz menawariku mau makan apa. Aku bilang pengen spaghetti, gegara lihat postingan teman di medsos anaknya sedang makan spaghetti, kayaknya kok enak sekali. Hahahaha … maka Ranz pun memesankannya lewat aplikasi online. Selain memesan spaghetti, dia juga pesan chicken wings dan pisang goreng. Aku makan spaghetti-nya sendiri, Ranz ga ingin mencicipinya. Sore itu, dia aku suapi pisang goreng.

 

Malam, aku keluar sebentar ke Gading Mas untuk membeli beberapa kebutuhan.

 

Kamis 29 Desember 2022

 

Pagi itu aku meminta izin Ranz untuk keluar sepedaan sebentar. Aku memasuki area kampus UGM lagi, memotret Austin di satu gedung yang ada tulisan ALUMNI UGM. Kemudian aku sempat memutari perumahan dosen (dulu itu perumahan dosen) Bulaksumur. Dulu, aku suka sekali berjalan-jalan lewat sini, memandangi rumah-rumah yang mungkin dibangun sekitar dekade 1960an. Sampai sekarang aku masih suka melihat disain rumah lawas seperti ini.

 


 

 

Dari Bulaksumur, aku mengayuh pedal Austin ke arah Tugu. Sudah lama aku tidak memotret Austin dengan latar belakang Tugu. Padahal bulan Mei 2022, aku dan Ranz bersepeda ke arah Malioboro, baliknya ya kami memilih jalur 'contra flow' balik ke arah Tugu, tapi waktu itu ga kepikiran untuk memotret Austin dengan latar belakang Tugu.

 


 Setelah memotret Austin, aku memilih jalan AM Sangaji, kemudian di perempatan pertama belok kanan, ke arah Terban. Saat kuliah S1 akhir -- KKN dan menulis skripsi -- aku ngekos di daerah Terban situ. Apa satu saat perlu juga aku bernostalgia di kawasan ini dengan menginap di hotel somewhere here? Hihihi … dari situ, aku terus ke arah perumahan dosen Sekip. Kemudian belok ke arah RS Dr. Sardjito, hingga tembus Selokan Mataram.

 

Sekembali aku di hotel, Ranz memesan nasi gudeg 'langganan' kami berdua jika dolan ke Jogja. Hari ini selera makan Ranz lumayan, menurutku. Menurutnya: dia mulai merasakan aslamnya kumat gegara perutnya kosong. Iyalah, dia hanya makan sedikit, setelah makan, dia muntahin itu karena perutnya mual sekali. Hiksss …

 

Waktu menyuapinya sarapan, aku mengajak Ranz keluar kamar, makan di 'ruang tamu' yang tersedia di lantai 2 hotel.

 

Ranz meminta kakak iparnya untuk menjemput ke Jogja. 

 


 

 

Kami meninggalkan hotel sekitar pukul 12.00. Ranz yang mendadak pengen bakso, membawa kami ke satu RM yang berjualan bakso 'Pak Tikno' di kawasan Maguwo.

 

Otw back to Solo, aku baru ngeh, betapa banyak traffic light yang harus dilewati yang membuat perjalanan tersendat dan membosankan. Hahahaha … kami sampai rumah Ranz sekitar pukul 14.30.

 

Honestly aku tidak tega meninggalkan Ranz sendiri, (dia terbiasa mandiri jadi anggota keluarganya ga akan ngeh bahwa dia itu sedang sakit dan butuh dilayani), tapi aku sudah kadung janji Angie untuk pulang ke Semarang hari Kamis. Beberapa kali aku 'terpaksa' mblenjani janji karena ini itu, aku ga enak jika harus melakukan itu lagi. Hiksss …

 

Sore itu, aku kembali ke Semarang dengan naik travel pukul 17.00. Sesampai pool travel di Semarang, sekitar pukul 18.45, ada tanda-tanda habis turun hujan lebat. Syukurlah aku tidak perlu mengenakan mantel saat kembali mengayuh pedal Austin balik ke rumah.

 

Note:

(1) honestly, aku menyesal karena belum jadi mewujudkan keinginan bersepeda ke Gumuk Pasir. Sudah lamaaaaaaaa, aku pengen bersepeda kesini, tapi Ranz ogah melulu. Ketika dia mau, eh, dia malah jatuh sakit. Hiksss …

 

(2) aku juga pengen menginap lagi di kawasan Candi Prambanan, entah mengapa kok aku juga suka ya saat menginap di kawasan ini. Terakhir aku dan Ranz menginap di hotel Galuh Desember 2020. seperti aku juga suka menginap di kawasan Candi Borobudur.

 

(3) satu hal yang aku sukai dari perjalanan ini adalah aku sempat bernostalgia masuk kampus UGM sendiri! Well, biasanya Ranz juga mau sih kuajak masuk blusukan di kawasan UGM. Tapi ternyata sendirian kok rasanya seperti saat aku kuliah dulu ya. Hohoho …

 

(4) I feel grateful bahwa Ranz ga pernah menolak kuajak bernostalgia menginap di kawasan Jakal km 5. Dia selalu mau (dan turut menikmati) kuajak bersepeda Solo - Jogja demi aku yang akan bernostalgia. plus dia mau-mau saja kuajak menginap somewhere di Jakal km 5, area saat aku kuliah dulu. 'blusukan di kawasan ini juga sangat menyenangkan buatku.

 

PT56 10.16 01/01/2023

 

Christmas Holiday 2022 ~ 1

 

my almamater, my pride

This is the 'worst' holiday ever for me. :(

(pakai tanda kutip yak)

 

Sebelum the D day, aku dan Ranz membahas kami akan pergi kemana. Ini mengingat pandemi covid 19 bisa kita anggap (nyaris) usai ya jadi kami berpikir boleh lah pergi rada jauh. (selama pandemi kami berdua 'hanya' dolan ke Jogja doang saat punya waktu luang untuk sepedaan keluar kota.) Mulai dari kota Surabaya, Jepara, hingga Magelang kami bahas sebagai calon destinasi. Namun, akhirnya kita kembali ke kota klangenan buatku: Jogja.

 

Hari Minggu tanggal 25 Desember 2022 aku berangkat ke Solo dengan naik travel Cititrans yang memberi keleluasaan membawa sepeda gratis. Waktu berangkat, cuaca cukup mendung di kota Semarang. Setelah mobil travel yang kunaiki meninggalkan pool (I was the only passenger!) dan masuk jalan tol, hujan mulai turun. Sepanjang jalan tol, hujan datang dan pergi.

 

Saat mobil keluar dari jalan tol daerah Colomadu, gerimis yang menyertai. Meskipun begitu, genangan air dimana-mana menunjukkan bahwa sebelumnya hujan deras tentunya. Out of my expectation, tiba-tiba Ranz menelpon mengabari bahwa dia akan menjemputku di pool travel dikarenakan hujan. Wah! Tumben ini! :)

 

Ranz menjemput bersama kakaknya + suami + Deven, keponakannya yang kecil. Dari pool Cititrans, kami ke area Solo Baru; tujuannya satu warung mie ayam + bakso. Ternyata ada yang nyidam mie ayam disini, entah siapa.

 


 

Malamnya, Ranz dan aku ke Wedangan pak Basuki; as usual, aku pesan teh nasgitel dan sebungkus mihun. Dari Wedangan Pak Basuki, Ranz mengajakku minum susu di kedai susu langganannya. Aku tidak minum susu, so disana aku hanya menemani Ranz saja.

 

Senin 26 Desember 2022

 

Pagi itu Ranz tidak bangun gasik seperti biasa jika kami berdua akan bersepeda keluar kota. Aku pun memulai mandi dan siap-siap sekitar jam 05.30. setelah aku selesai mandi, baru Ranz bangun dan mandi dll. Baru sekitar pukul 07.00 kami meninggalkan rumah Ranz di kawasan Jongke. (mungkin ini 'pertanda' bahwa Ranz was not really well ya? :( )

 

Seperti biasa Ranz memilih rute yang memungkinkan kami berdua sarapan timlo di kawasan tak jaauh dari SMP N 1 Gatak. Oh ya, di perjalanan kali ini, aku tetap naik Austin, sementara Ranz naik sepeda barunya yang dia beri nama 'Hazel': camp hazy edisi wonderful Indonesia Toraja Sulawesi. 

 


 


 

Setelah sarapan, perjalanan lancar seperti biasa. Menjelang sampai 'gerbang' pertanda masuk kota Klaten, gerimis tipis mulai menyapa. Tapi kulihat Ranz tidak siap-siap mengenakan mantel. Aku pun tidak mengenakannya, sambil 'ndremimil' semoga gerimis segera berhenti, dan bukannya menderas. Tentu kami berdua membawa mantel, tapi bersepeda jarak jauh dengan mengenakan mantel itu kurang nyaman, honestly.

 

as usual, aku 2 gelas, Ranz cukup satu gelas

 

Sesampai kawasan Bogem, Kalasan, seperti biasa kami mampir jajan es dawet Ngudi Roso yang sudah kondang. Untuk 'teman' minum es dawet, as usual (juga) Ranz beli tahu petis yang berjualan di samping warung es dawet. Dan seperti sebelum-sebelumnya, aku minta dibelikan 2 gelas es dawet. Segelas pertama itu bisa aku habiskan sekali minum loh. Setelah habis minum segelas es dawet, aku baru ngemil tahu beberapa potong, kemudian minum es dawet gelas kedua.

 

Dari jajan es dawet Ngudi Roso, kami mampir ke Candi Kalasan. Aku ga perlu minta Ranz, dia sendiri berinisiatif belok; iya, ini adalah perjalanan perdana Hazel, jadi perlu didokumentasikan! :)

 

 



 

Tak lama setelah kami meninggalkan kawasan Candi Kalasan, gerimis turun, dan lama-lama kian menderas. Ranz mengajakku berhenti di satu minimarket. Aku pikir untuk mengenakan mantel dan segera melanjutkan perjalanan. Toh, bisa dianggap kami sudah sampai Jogja. Setelah menunggu sekitar 15 menit dan tak ada tanda-tanda hujan mereda, Ranz mengenakan mantel dan mengajakku melanjutkan perjalanan.

 

Melewati Jalan Solo, jalanan padat dengan kendaraan, namun karena kami naik sepeda, kami bisa mlipir hingga bisa berhenti di 'ruang tunggu pesepeda' yang terletak tak jauh dari traffic light. Kami belok ke Jalan Gejayan (eh, nama barunya apa? Lupa!) kemudian belok ke Jalan Kolombo. Menjelang bunderan UGM, Ranz bertanya apa aku merasa perlu berhenti untuk foto, aku jawab ga usah, langsung ke hotel saja.

 

Masuk Jalan Kaliurang selepas Selokan Mataram, as usual jalanan pun padat kendaraan. Ranz yang sudah hafal jalan, dia bisa langsung 'menemukan' Gang Megatruh; kali ini kami menginap di hotel Sellinas yang terletak di Gang Megatruh. FYI, Gang Megatruh terletak di samping Gang Mijil, tempat aku dulu pernah ngekos selama 4 tahun saat kuliah S1, dan 1,5 tahun saat kuliah S2: "daerah kekuasaanmu ya?" tanya seseorang, lol. That's why aku selalu merasa excited saat 'kembali' ke area ini.

 

Setelah check in, Ranz mempersilakanku mandi terlebih dahulu, kemudian gantian dia. Meanwhile, Raditya mengajakku ketemuan. Semula aku mengusulkan malam hari, setelah maghrib, namun sekitar jam 4, Ranz yang sudah kelaparan mengajakku keluar, kebetulan pas hujan berhenti. Aku mengajak Ranz ke 'Angkringan 5rawung'.

 

ternyata sudah cukup lama Radit pengin tahu ini apa, hahaha

jika kau suka teh nasgitel, teh ini cucok!

 

 

Tak lama setelah aku dan Ranz nangkring di angkringan, Radit menyusul. Kami bertiga ngobrol sembari ditemani hujan yang datang dan pergi sesuka hati. :D sekitar pukul 7pm kami pulang. Otw back to our hotel, kami mampir minimarket membeli air mineral. It was raining, tapi karena aku berpikir lokasi dari angkringan ke hotel tidak jauh, aku tidak mengenakan mantel, dan waktu kami balik, hujannya ga begitu deras, so I thought. Sesampai hotel, kami keluar lagi, Ranz butuh membeli beberapa 'barang'. Aku mengajaknya jalan kaki ke minimarket Gading Mas (zaman aku kuliah S1 dulu, minimarket ini namanya PAMOR), dengan meminjam payung dari hotel. Aku lihat Ranz membeli counterpain, panadol (dia ternyata sudah merasa kurang sehat, hiksss …) kapur semut dan beberapa cemilan.

 

to be continued.