Kamis, 25 September 2014

Clip Segowangi #8

Ada yang "baru" dari segowangi kedelapan kali ini, Ranz ga hanya mendokumentasikan kegiatan kita dalam foto-foto, dia juga merekamnya dalam bentuk klip. Yayyyy ...

Sila dipantengin :)

video

IB 180 20.00 25/09/2014

Rabu, 24 September 2014

To Lasem, we'll come back (again)

Mission: failed!

Dua tahun lalu, aku dan Ranz telah sempat menyambangi Lasem dalam perjalanan bikepacking ke Tuban. Namun ternyata, kita kurang informasi waktu itu sehingga melewatkan dua lokasi bersejarah nan eksotis, Rumah Candu dan Vihara Ratanavana Arama. Berhubung aku tergila-gila pada segala yang berkaitan dengan wisata religi dan budaya China, aku pun berharap satu saat aku akan ke Lasem lagi. Pucuk dicinta ulam tiba jika Ranz, my biking soul mate, pun menyambut keinginanku ini dengan baik.

Beberapa kali merencanakan untuk gowes ke Lasem, sejak sekitar satu tahun yang lalu, namun selalu saja ada kendala yang membuat kita terpaksa urung melakukannya.

Hingga ... weekend yang baru lalu -- tanggal 20 - 21 September akhirnya kita berkesempatan dolan ke Lasem lagi. Yay! Untuk ini Ranz khusus mengambil libur pada hari Sabtu, hingga seusai pelaksanaan segowangi 8, dia ga perlu buru-buru balik ke Solo. Yay!

Sabtu 20 September 2014 pagi kita pun telah berada dalam perjalanan menuju Kaligawe, lanjut ke Demak, Kudus, Pati, Rembang hingga Lasem. Kita tidak banyak sengaja berhenti untuk foto narsis. Kita bahkan langsung menuju Lasem. Meski awalnya Ranz agak ragu untuk mampir ke Pantai Caruban -- pantai yang kita kunjungi dua tahun lalu, yang membuatku memutuskan bahwa aku lebih menyukai pasir pantai-pantai utara Pulau Jawa ketimbang pantai selatan karena butirannya yang lembut -- akhirnya kita mampir ke Pantai Caruban lagi.

Menuju gerbang selamat datang Pantai Caruban kita melihat bahwa di kiri kanan jalan, beberapa pohon telah ditanam untuk memberinya kesan lebih hijau. Di pantai aku melihat lebih banyak pengunjung ketimbang dua tahun lalu. Namun satu hal yang membuatku sedikit kecewa, jejak-jejak air pasang yang tinggi terlihat di hamparan pasir dimana dua tahun lalu aku bisa dengan santai mendudukinya tanpa khawatir baju yang kupakai bakal basah, sekarang tidak bisa lagi. Dan ... kejatuhcintaanku pada Pantai Klayar -- yang terletak di pesisir pantai selatan Pulau Jawa -- dengan karangnya nan megah dan ombak yang keras menerjang pantai membuat Pantai Caruban terlihat sangat biasa. Kecuali satu hal, karena tidak ada karang satu biji pun di pantai, aku serasa bisa melihat hamparan air laut hingga di ujung dunia, dan melihat betapa bumi ini memang bundar!

Aku dan Ranz sempat menikmati es kelapa muda yang begitu muda hingga buah kelapanya sangat amat sedikit. :)

Setelah merasa cukup memandang laut lepas di pantai Caruban kita melanjutkan perjalanan ke Lasem. Sebelum menuju hotel Wijaya -- tempat kita juga menginap dua tahun lalu -- Ranz mengajak bersepeda ke arah Kelenteng Cu An Kiong dan Kelenteng Gi Yong Bio terlebih dahulu. Dua tahun lalu kita begitu narsis hingga tak punya foto kedua kelenteng ini tanpa ada kita atau Pockie yang ikutan nampang. LOL.

Sekitar pukul 16.50 kita telah sampai di Hotel Wijaya. One surprising thing: jika dua tahun lalu semua pegawai terlihat sudah berusia lanjut, mulai dari resepsionis, hingga yang mengantar kita ke kamar, dan yang bersih-bersih hotel, kali ini kita melihat dua lelaki muda yang menyambut kita. Wahhh ...

Usai mandi sore bebersih diri, kita berdua keluar untuk makan malam. Ranz tidak akan pernah lupa dengan sate kambing Kobong, menu makan malam kita dua tahun lalu di Lasem. Ke sana lagi lah kita kali ini. :) Setelah itu, Ranz mengajakku mencoba menu lontong tuyuhan ("untuk menulis reviewnya," katanya), namun karena di sebuah warung dimana Ranz mengajakku mampir tidak ada tulisannya, kita pun salah kira. LOL. Bukannya dapat lontong tuyuhan, kita mendapatkan suguhan lontong pecel! xixixixixi ... (maklum, warung ini tidak memiliki pencahayaan yang terang.) Untunglah sambal lontong pecel ini enyaaak.

Sebelum balik ke hotel, kita sempat gowes ke arah Pamotan, kurang lebih 2 kilometer, kemudian kembali lagi ke pertigaan dimana terletak masjid Lasem. Kita mampir ke masjid Lasem untuk nunut ngerumpi, hingga pukul 21.30. Setelah itu kita balik ke hotel untuk beristirahat.

Minggu 21 September 2014 pagi Ranz terlihat begitu menikmati tidurnya, aku pun melanjutkan menikmati empuknya bantal dan tempat tidur hotel. :) (Bandingkan dua tahun lalu, pukul enam pagi kita telah melanjutkan perjalanan ke Tuban.)

Kita meninggalkan hotel sekitar pukul 07.40, menuju arah Timur. Tidak jauh dari hotel, ada pertigaan, kita ambil jalan yang lurus (jalur pantura jalannya belok ke arah kiri). Aku berpikir Ranz sudah tahu jalan, karena biasanya kalau dia belum tahu arah, dia akan ribut membuka google map terlebih dahulu sebelum kita melanjutkan perjalanan. But in fact, I was wrong. Ranz pun ternyata belum tahu jalan, dia pede aja terus mengayuh pedal Pockie, bahkan hingga nanjak yang lumayan tinggi dan jauh, sampai akhirnya kita bertemu orang dan bertanya dan mendapati kita salah arah. bwaaaaaaahhhh ... LOL.

Jika di jalan sebelumnya permukaan jalannya lumayan bagus, maka di jalan yang "benar" menuju Sendangcoyo, jalan setapak yang harus kita lewati telah rusak. Kita awalnya melewati tengah-tengah sawah (yang kering), kemudian mulai masuk hutan (yang tidak rapat pepohonnya namun ya tetaplah itu adalah hutan LOL). Ini adalah jalan rusak kedua yang kita lewati, yang paling rusak adalah trek yang kita lewati menuju Candi Ijo bulan Desember tahun lalu.

Sekitar pukul 09.35 kita pun sampai vihara Ratanavana Arama. To our disappointment, pintu gerbangnya yang tinggi besar itu ... T-U-T-U-P, bergembok besar pula. Ouch. Aku dan Ranz hanya bisa berpandang-pandangan sambil tertawa pahit. LOL. Lha piyeeee ikiii? LOL. Aku pun kemudian menghubungi Pak Yon -- salah satu tetua kota Lasem -- siapa tahu beliau bisa menghubungi pihak vihara untuk membukakan pintu gerbang. Pak Yon sendiri sedang sibuk rapat dengan para kyai Lasem untuk mempersiapkan penyelenggaraan Festival Lasem tanggal 5 - 12 Oktober 2014. Kemudian beliau juga mengabari bahwa yang membawa gembok pintu gerbang vihara sedang layat keluar kota.

Sekitar pukul 10.00 kita meninggalkan vihara, kembali ke peradaban. :D

Aku menawari Ranz untuk mencari lokasi Rumah Candu, namun Ranz khawatir jangan-jangan kita juga perlu guide untuk masuk kesini, akhirnya kita pun hanya sarapan mie ayam. Ha ha ha ... Kita sempat gowes ke arah Desa Tuyuhan, tapi kita tidak melihat satu pun warung yang buka, ya sudah.

Sekitar pukul 13.00 kita naik bus jurusan Semarang. Sampai di Kaligawe pukul 14.35. Dalam perjalanan gowes ke kos Ranz, kita mampir ke Festival Kota Lama. Pukul 16.30 kita balik ke kos Ranz.

Di bawah ini beberapa jepretan Ranz, belum banyak yang dia posting di fb, jadi ya yang kuposting terbatas. :)












Austin di depan Kelenteng Cu An Kiong
Pockie di tengah hutan yang kita lewati menuju vihara
Kelenteng Gi Yong Bio

gerbang masuk Kelenteng Cu An Kiong

dipotretin teman, latar belakang masjid Lasem

salah satu contoh pintu khas China

di tengah kawasan 'Pecinan'

Kelenteng Gi Yong Bio

mejeng usai makan sate kambing

Austin dan Pockie masuk kamar hotel :D


kita sudah nanjak setinggi ini, dan ... salah arah! LOL





di "gerbang" masuk Festival Kota Lama Semarang


NOTE:
gagal eksplor vihara Ratanavana Arama
gagal menyambangi Rumah Candu
gagal mencicipi lontong tuyuhan

Expenses:
bus Lasem - Semarang  Rp. 50.000,00 (dua penumpang + 2 sepeda)
hotel                              Rp.70.000,00
makan 3 x                     Rp. 75.000,00
mini market                   Rp. 50.000,00

NOTE (2)
Jika merencanakan ke Lasem lagi, sebelum berangkat harus menghubungi Pak Yon agar dia menemani kita sebagai guide untuk berkunjung ke kelenteng, vihara, dan rumah candu. :)

Selasa, 23 September 2014

Segowangi #8



Bulan September ini pelaksanaan Segowangi kumajukan di hari Jumat ketiga 19 September (dan bukan Jumat terakhir) karena rencana hari Jumat terakhir bulan September -- tanggal 26 September 2014 -- aku dan Ranz, juga beberapa partisipan segowangi akan berada di Jogja untuk ikut meramaikan jamselinas (jambore sepeda lipat nasional) keempat.

(Hah, ada 'untungnya' juga kita menggunakan istilah 'segowangi' -- Semarang Gowes JemuWAh WeNGI -- tanpa memasukkan unsur "jumat terakhir" ... jadi lebih fleksibel.)

Aku mengumumkan pemajuan pelaksanaan segowangi #8, seminggu sebelum tanggal 19 di grup B2W Semarang FB. Ternyata lumayan gampang mendapatkan perhatian dari para "segowangier", terbukti banyak juga yang datang pas Hari H.

Yang istimewa bulan ini adalah hadirnya Siti -- seorang pesepeda yang asli Klaten. Siti kebetulan sedang berada di Ungaran. Khusus untuk ikut segowangi, Siti turun "gunung" ke downtown Semarang. Yang kedua, aku sempat berbincang dengan salah satu peserta yang ternyata datang dari Mranggen, meski dia naik sepeda lowride 20". Wow!

Berikut, simak foto-foto yang dijepret oleh fotografer kesayangan, Ananda Ranz. :)

ngobrol dengan mas Rulli dari Rodalink

Miko, ga pernah absen dari segowangi :)

Om Ted, yang biasanya nyeli, kalo segowangi tampil beda :)

foto bersama, wajib sebelum mulai gowes








aku berdua peserta yang dari Mrangge

si Cantik Deka yang selalu ditunggu2 kehadirannya :)



the sisters yang rajin ikut segowangi

Siti dari Klaten :)

bersama dua anak kelas 7 SMP

the three musketeers yang sama-sama narsis :D




Om Tayux, ketua Komselis





Andra berdua suami :)

Arif dan Tami yang hobinya bertengkar namun tetap saling peduli :)

menunggu bakmi jowo disajikan :)