Senin, 25 Agustus 2014

Share the road, please?


Komunitas B2W telah berdiri sejak sekitar tahun 2006 di ibukota Jakarta. Semenjak itu komunitas sejenis berdiri di kota-kota lain, misal Semarang 'memiliki' komunitas B2W sejak tahun 2008. Harapan komunitas ini tentu saja budaya bersepeda ke tempat beraktifitas kian 'memasyarakat' hingga


  1. membantu pemerintah mengurangi ketergantungan pada BBM. Dengan menghemat penggunaan BBM, paling tidak kita memberi kesempatan pada generasi penerus kita untuk menikmati BBM
  2. mengurangi polusi udara sehingga kita bisa menikmati udara yang (lebih) sehat
  3. menjaga kesehatan diri, semakin banyak warga negara hidup sehat, semakin banyak harapan mereka akan mendukung program-program pemerintah untuk kemajuan negara
Semenjak itu semakin banyak event fun bike digelar. Kian tahun peserta fun bike kian banyak; entah karena mereka menyukai kesempatan bersepeda beramai-ramai, atau karena tertarik untuk memenangkan door prize. Kian tahun semakin mudah kita menemukan toko sepeda di pelosok kota. Event jambore pesepeda (misal jambore sepeda lipat, jambore sepeda federal, jambore Koskas, dll) pun digelar di kota-kota, dan selalu dibanjiri penggemar gowes.

Namun apakah ini berarti pengurangan ketergantungan pada BBM di negara kita telah mencapai angka yang signifikan? Entahlah. Dari pengalamanku bersepeda ke tempat kerja selama ini -- juga ketika mengikuti seminar yang diselenggarakan oleh MEDYC -- bisa kusimpulkan bahwa praktisi B2W tidak berbanding sama dengan para penggembira fun bike maupun mereka yang memenuhi jalan-jalan dengan sepeda di pagi hari maupun akhir pekan. Alasan yang mereka kemukakan, misalnya: di pagi hari harus mengantar anak-anak ke sekolah atau istri ke kantor sebelum berangkat bekerja, atau tugas mereka di kantor mengharuskan mereka 'mobile' dan sepeda dianggap kurang mendukung gerak mereka. Dll.

Sekian tahun telah berlalu semenjak komunitas B2W didirikan. Satu kemajuan yang dihasilkan adalah UU (Lalu Lintas) no 22 tahun 2009, terutama dalam pasal 106 yang berbunyi "SETIAP ORANG YANG MENGEMUDIKAN KENDARAAN BERMOTOR DI JALAN WAJIB MENGUTAMAKAN KESELAMATAN PEJALAN KAKI DAN PESEPEDA" dan pasal 62 yang berbunyi "PESEPEDA BERHAK ATAS FASILITAS PENDUKUNG KEAMANAN, KESELAMATAN, KETERTIBAN, DAN KELANCARAN DALAM BERLALU LINTAS".

Namun bisa kita katakan bahwa UU ini belum dikenal masyarakat dengan baik. Pasti banyak di antara para pesepeda maupun pejalan kaki yang merasa dianaktirikan di jalan raya. Masih terlalu banyak pengendara kendaraan bermotor memandang rendah pesepeda dan pejalan kaki.

Sebagai pengguna jalan raya, para pesepeda dan pejalan kaki harus tahu UU yang mendukung mereka ini. Jangan mudah digertak oleh mereka yang naik kendaraan bermotor. Jika mereka meneriaki kita "Ngeyel!" hanya karena kita ingin mendapatkan kesempatan terlebih dahulu untuk berbelok -- misalnya -- teriakin balik, "Hey, pengguna mobil, seharusnya kamu ngalah ke pesepeda! Berdasarkan UU no 22 tahun 2009 pasal 106!"

P.S.:
Berdasarkan pengalaman pribadi waktu bersepeda ke kantor tadi pagi hari Selasa 26 Agustus 2014 di perempatan Jatingaleh Semarang

GG 09.46 26/08/2014

Jumat, 08 Agustus 2014

Gowes Malam Halal bi Halal 08082014

Semula aku berencana untuk mengadakan gowes halal bihalal hari Minggu 10 Agustus 2014. Namun ternyata teman-teman gowes dari kawasan Semarang Timur mengharapkan gowes dilaksanakan hari Jumat malam saja, akhirnya aku pun woro-woro di dinding FB B2W Semarang untuk berkumpul gowes hari Jumat 08 Agustus 2014.

Jika biasanya aku memberi undangan untuk berkumpul pukul 18.30, kali ini aku mengundurkannya pukul 19.00. Prakteknya berangkatnya sama aja, sekitar pukul 19.30. Heheheheh ...

Ini adalah gowes malam pertama (semenjak aku 'didapuk' menjadi ketua B2W Semarang karena ketua yang terpilih tahun lalu hijrah ke Jakarta untuk urusan pekerjaan) dimana Ranz tidak bisa menghadirinya. Well, mulai tahun ajaran 2014/2015 ini, Ran tidak bisa berkelit meninggalkan jadual bekerja hari Sabtu, meski kuliahnya di Udinus belum kelar. :) Apa boleh buat? I missed her, but the show must go on. :) (Semoga di acara SEGOWANGI di akhir bulan Agustus nanti Ranz bisa ikut menghadirinya.)

Yang ikut hadir untuk gowes lumayanlah. Semula berkisar antara 30 orang berkumpul sekitar pukul 19.15. Kita sudah berfoto-foto (kebetulan dapat pinjaman kamera nih, nampaknya it is high time for me to have one camera, meski yang pocket ajah) sebelum mulai gowes bareng. Mendadak satu gerombolan si berat, eh, gerombolan pesepeda datang masuk ke dalam halaman Balaikota. Menilik jersey yang mereka kenakan, aku mengenali mereka sebagai rombongan pesepeda dari PDAM. Mereka sempat ngikut SEGOWANGI bulan Februari dan Maret 2014. Kemudian Pak Budi (ex camat) dan anak semata wayangnya datang. Oh ada Pak Budi, ada juga rombongan pesepeda dari PDAM.

Kali ini aku meminta Pak Suryadi untuk menjadi RC, karena dia mengenal rute yang kupilih dengan baik. :) Keluar dari Balaikota kita belok kanan ke arah Jalan Thamrin. Setelah masuk Jalan Thamrin kita belok ke Kampung Kali, lurus hingga Jembatan 'baru', kita mengikuti Jalan Onta yang kemudian membawa kita sampai ke Jalan Majapahit. Setelah melewati Lotte Mart, kita belok kiri ke arah Jalan Gajah. Aku memang memilih lewat Jalan Gajah untuk melewati MAJT. Sayang kita tidak bisa bernarsis ria di MAJT karena sekarang kita dilarang membawa sepeda masuk ke areal halaman MAJT.

Selepas Jalan Gajah kita sampai ke Arteri (Jalan Sukarno-Hatta), kita belok kiri. Terus lurus hingga sampai bundaran Bubakan, kita ambil arah ke kanan, menuju Kota Lama. Tujuan akhir adalah ANGKRINGAN BLENDOEK yang juga kita tuju di acara SEGOWANGI bulan Juli yang lalu. Acara kulineran bareng di tengah-tengah gowes bareng begini dipercaya sangat berguna untuk semakin mempererat silaturahmi, kata Sandi. :)

Berikut beberapa foto yang sempat kujepret, menggunakan kamera pinjaman. :)

































Selasa, 05 Agustus 2014

Gowes ke Jembatan Landa

4 Juli 2014

Sesampe rumah Ranz -- sekitar pukul 04.00 pagi -- kebetulan kita berdua sama-sama dikaruniai 'monthly guest', kita ga perlu sahur, kita langsung molor! (Padahal di bus aku juga sudah molor mulu!)

Pukul 09.00 kita bangun, mandi, dan ... siap gowes! Kali ini aku pengen ke Jembatan Landa yang terletak tak jauh dari Waduk Cengklik, ga jauh juga dari bandara Adi Sumarmo - Solo. Setelah puas foto di Jembatan Landa, kita balik ke arah Solo, untuk nongkrong di Taman Balekambang. Malemnya, Ranz ngajak aku gowes ke arah Solo baru, untuk menraktirku di sebuah restoran yang berbentuk double decker, alias bus tingkat. :)

Berikut foto-foto narsis kita berdua :)



siap-siap sebelum in action :D













BIKEPACKING BLITAR – MALANG: A DREAM-COME-TRUE (Day 5)

CITY TOUR KOTA MALANG (5th day 3 Juli 2014)

Rencana semula hari ini kita gowes ke Sidoarjo. Namun ternyata karena satu dan lain hal aku menundanya. Akhirnya kita ‘hanya’ keliling kota Malang saja. Atas rekomendasi Juli, tujuan pertama adalah Jalan Ijen. Jalan Ijen yang penuh dengan gedung-gedung lama peninggalan zaman kolonial Belanda konon dulu merupakan lokasi paling elit, ditinggali oleh kaum elit kota Malang pada zamannya. Jalannya cukup luas dengan ‘pulau jalan’ yang ditumbuhi tanam-tanaman sehingga memberi kesan asri.



Setelah meninggalkan Jalan Ijen, kita berburu lokasi dimana Candi Badut terletak. Ternyata bagi kita lumayan sulit menemukan lokasi Candi Badut yang terletak di tengah-tengah perumahan ini. Kurang lebih kita butuh 2 jam untuk menemukan lokasinya, dan mendapati bahwa pintu masuk candi, dikunci oleh si penjaga, karena sang penjaga sedang keluar kota. Yaaaa. L

CANDI BADUT



Candi Badut terletak di dusun Karang Besuki, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Diperkirakan dibangun sekitar 1400 tahun lalu sehingga dianggap sebagai candi tertua di Jawa Timur, dan merupakan candi ‘peralihan’ gaya klasik dari candi-candi di Jawa Tengah ke Jawa Timur. Candi Badut. Pada ruangan induk masih bisa kita temukan lingga dan yoni, simbol Siwa dan Parwati.
Candi Badut terbuat dari batu andesit, dan berdiri di atas batur setinggi 2 meter. Batur ini sangat sederhana tanpa relief, membentuk selasar selebar sekitar 1 meter di sekeliling tubuh candi.
Dikarenakan pintu masuk candi dikunci, aku “terpaksa” masuk ke dalam lokasi dengan melewati pagar berduri yang sedikit terbuka. :D Terus terang ini bukan ideku sendiri, melainkan aku hanya ikut-ikutan dua orang lain yang hadir sebelum aku, yang satu turis bule, yang satunya lagi, mungkin guide-nya, yang nampak sudah sangat mengenal lokasi Candi Badut.




Ketika meninggalkan Candi Badut, aku dan Ranz terpisah. Nah lo. Seingatku Ranz berada di depan, aku bersepeda pelan-pelan di belakangnya. Namun tatkala aku meninggalkan perumahan dimana di belakangnya Candi Badut terletak, aku tidak melihat Ranz di ujung jalan menuju jalan raya itu. Mengira Ranz sudah meninggalkanku, aku terus gowes, hingga menemukan Universitas Brawijaya. (Aku menggunakan kampus Unibraw sebagai titik tempat aku menemukan jalan kembali ke rumah Juli.) aku bersepeda sangat pelan, dan aku tetap tidak menemukan Ranz.


Ketika aku memutuskan istirahat di satu mini market, Ranz menelponku! Dimanakah gerangan dirinya? Masih berkutat di perumahan dimana Candi Badut terletak! Hedeeeh. Aku tidak melihatnya ketika gowes keluar perumahan, dia pun tidak melihatku. Pas. Aku yang beranggapan Ranz ngambeg sehingga meninggalkanku (karena kita tidak jadi gowes ke Sidoarjo hari itu), aku terus gowes pelan-pelan. Ranz yang mengira aku masih tersesat di dalam perumahan terus menerus berputar-putar di perumahan mencariku. What a drama. LOL.

Akhirnya? Setelah kita bertemu, kita malah memutuskan untuk sesegera mungkin spulang ke Solo! Ga jadi ke Sidoarjo! LOL. Dari sana kita menuju Terminal untuk mencari tiket pulang ke Solo. Ah ... rupanya kita sedang beruntung. Ga pakai sulit dan repot, kita langsung mendapatkan tiket bus Rosalia Indah tujuan Solo, berangkat jam 18.30. kita diminta telah sampai di terminal pukul 18.00.




Dari terminal kita balik ke rumah Juli untuk packing dan pamitan. (Untung rumah Juli tidak jauh dari terminal). Pukul 18.00 kita sudah kembali ke terminal, melipat sepeda, dan memasukkanya beserta tas pannier ke dalam bagasi. Jika waktu naik KA, kita tidak perlu membayar kelebihan bagasi (namun membayar porter untuk membawakan sepeda ke dalam gerbong), kali ini kondektur bus meminta kita membayar. Untuk 2 buah seli, satu tas pannier (yang beratnya sama dengan satu seli LOL), dua dus berisi keripik tempe, kita membayar Rp. 30.000,00. Untuk dua tiket Malang – Solo, kita bayar Rp. 180.000,00.

Bus meninggalkan terminal pukul 19.00, karena harus menunggu seorang penumpang yang entah menghilang kemana. (sampai kita berangkat, si penumpang yang bersangkutan tidak kelihatan batang hidungnya.) mampir ke satu rumah makan untuk sahur sekitar pukul 00.30. (aku lupa di kota mana). Kita sampai di Kerten sekitar pukul 03.45.

Well, Sidoarjo ga jadi kita kunjungi kali ini. Next time deh. J

Expenses:
1)      Penginapan dua malam di Blitar Rp. 480.000,00
2)    Tiket KA Solo – Blitar Rp. 130.000,00
3)     Tiket bus Malang – Solo Rp. 180.000,00
4)    Tiket masuk Museum Angkut Rp. 180.000,00
5)     Makan (malam) 4 x, kurang lebih Rp. 200.000,00
6)     Air mineral, cemilan dll kurang lebih Rp. 150.000,00
7)     Tiket masuk candi/museum (Candi Sawentar, Candi Penataran, Makam BK, Rp. 30.000,00
8)    Porter + Kondektur Rp. 50,000,00


GG, IB, PT56 15.29 30/07/2014 

nyampe Kerten! :)