Selasa, 11 Desember 2018

Komselis Anineversary



KOMSELIS BIKECAMPING FOR ANINEVERSARY

Akhirnya Komselis mengadakan event untuk mensyukuri nikmat “tambah usia keeksisan” di kancah sepeda  lipat Nasional. :D (tahun 2016 terlewati begitu saja, sedangkan tahun 2017 kita punya excuse untuk tidak mengadakan event anniversary, yakni kita masih kelelahan setelah menjadi penyelenggara perhelatan naik hajinya para pesepeda lipat Indonesia: 7amselinas.

Akhirnya, aku memiliki pengalaman berbikecamping lagi. Jarang-jarang je diniatin bikecamping begini. :D (padahal setelah bikecamping ke Pulau Panjang dua tahun lalu, Ranz dan aku sudah beli tenda baru, dan Ranz pun rajin melengkapi barang-barang yang dibutuhkan untuk camping. Dan … baru terpakai kali ini. Hohoho …)

Sabtu 27 Oktober 2018 ~ hari pertama                                                                                   

Sebagian peserta dan seluruh panitia diminta telah hadir di Taman Indonesia Kaya (ex Taman KB) yang terletak di depan SMA N 1 pukul setengah enam. Menurut itinerary, kita akan berangkat pukul enam pagi tepat. But you know, karena ‘jam karet’ adalah satu ‘budaya’ orang Indonesia, lol, juga kalau sudah kumpul dengan kawan-kawan yang sudah lama tidak bertemu kita bakal menikmati waktu untuk foto-foto, berhahahihi, dan lain sebagainya, akhirnya kita baru berangkat menjelang pukul setengah tujuh pagi. Tidak semua peserta yang berkumpul disini orang-orang Semarang lho, ada juga peseli yang juga seorang dokter gigi dari Surabaya yang datang, drg. Lya datang bersama dua peseli handal lain dariSidoarjo, yang merupakan tetangga Surabaya. Selain itu, bintang tamu kita – seorang dokter juga – yang kondang sebagai peturing perempuan yang telah melanglang buana dalam dan luar negeri berasal dari luar kota Semarang. Dr. Aristi ditemani oleh suaminya – yang juga seorang dokter – telah datang di kota Semarang dua hari sebelum tanggal 27 Oktober. Bagi suaminya – Mas Pram, demikian dr. Aristi memanggil suaminya – ini adalah mini turing pertamanya. Yuhuuuu.

 Tentu bukan hanya dokter Pram yang merupakan newbie turing, ada si centil nan teatrikal Mbak Ning – perwakilan Zuna Sport – yang dengan gagah berani mencoba trek pantura yang terkenal kejam dengan angina kencang dan udara panasnya. Uhuk … Mbak Ning ditemani oleh Nte Ria, si bola bekel, perwakilan dari B2W Indonesia. Nte Ria yang biasanya sibuk jadi panitia dalam event sepedaan, sehingga malah ga sempat nyepeda, lol, kali ini menjadi peserta biasa – meski juga ikutan membantu panitia mencarikan sponsor – dan dia justru bisa bersepeda sepanjang perjalanan. Mereka berdua – Mbak Ning dan Nte Ria – telah memadu janji bahwa mereka akan terus bersama dalam perjalanan yang penuh suka dan cobaan ini. Kekekekeke …

Di awal perjalanan, karena masih pagi, kita belum dipapar sinar mentari yang terik. Sang surya menyapa dengan manis dan manja (halah!) Setelah melewati daerah ‘batas’ antara Semarang dan Demak, banyak peserta yang telah menemukan irama kayuhan pedal masing-masing. Aku dan Ranz masih setia mendampingi Mbak Ning dan Nte Ria. Di satu titik, Ranz mendadak mendorong Mbak Ning hingga mereka berdua melesat jauh di depan. Aku mau ikut-ikutan mendorong Nte Ria yang Nampak belum berjodoh dengan sepeda lipat 16” yang dia pinjam dari Avitt, tapi kok rasanya aku terlalu heroic yak. LOL. Yang ada biasanya aku didorong Ranz. Lol.

Sekitar pukul 08.15 kita telah sampai di alun-alun Demak. Pitstop pertama. Not bad, eh? J kawan-kawan dari Dekseli – komunitas sepeda lipat dari Demak – menunggu kita disini, sambil menyediakan cemilan nan sehat, semangka dan jambu air. Semangkanya penuh air sehingga segar rasanya, sedangkan jambunya manis sekali hingga ga bosan-bosannya kita mencemil itu. LOL.

Setelah sekitar 30 menit beristirahat, sambil bersilaturrahmi dengan kawan-kawan Dekseli, kita melanjutkan perjalanan. Kali ini, rute yang kita lewati tidak lewat Trengguli. Sesampai pasar Bintaro Demak, ada jalan belok kiri, kita mengikuti jalur itu. Oke … ini adalah kali pertama buatku dan Ranz bersepeda ke Jepara tidak lewat Trengguli. Katanya jika kita lewat rute ini, kita tidak perlu bersaing dengan bus-bus maupun truk-truk, plus jaraknya lebih pendek ketimbang lewat Trengguli.

Yak betul, kita tidak berpapasan dengan bus maupun truk. Namun panasnya pantura tetap terasa. Di sisi kiri dan kanan jika kita kebetulan melewati persawahan, semua terlihat kering dan tandus. Nampaknya kita sudah melewati masa panen. Yang terlihat di area persawahan itu hanya tumpukan jerami kering. Well, musim kemarau tahun ini memang luar biasa panjang. Hingga akhir Oktober, hujan masih sangat jarang turun.
                                 
Setelah melewati jarak kurang lebih 15 kilometer, kita pun sampai di satu minimarket, dimana kawan-kawan yang telah sampai lebih dahulu langsung ngadhem ke dalam. J semua ingin menikmati AC untuk sedikit mendinginkan hawa tubuh yang terasa mengeluarkan asap gegara panas. (lebay! lol.) kebanyakan dari kita butuh minum sesuatu yang dingin untuk mendinginkan tenggorokan. Aku sendiri butuh beli permen kopi karena kantuk menyerang sepanjang perjalanan tanpa bilang-bilang. Lol.
                                                                                                                                                
20 menit dirasa cukup, kita kembali melanjutkan perjalanan menuju pistop 2, Ekowisata Rumah Edukasi Silvofishery (Reduksi), yang terletak di Desa Kedungmutih, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak. Jarak dari minimarket tempat kita beristirahat ngadhem sebelumnya sekitar 15 kilometer lagi. Disini, panitia telah bekerja sama dengan pengelola REDUKSI untuk menjamu kita dengan berbagai penganan yang juga sehat, mulai dari kacang rebus, singkong rebus, juga pisang rebus. Sambil beristirahat di gazebo yang ada di tengah-tengah kawasan mangrove ini, kita bisa menikmati hidangan yang ada. Plus tentu saja berfoto-foto. Sebagian dari peserta menyempatkan diri shalat dzuhur di masjid terdekat kawasan mangrove.

30 menit kemudian kita melanjutkan perjalanan. Setelah melewati perkampungan, kita mulai menapaki trek yang di kiri kanan terdapat tambak garam, kita pun dihajar angin yang sangat kencang. Terasa agak sia-sia ketika kita mengayuh pedal sekuat-kuatnya namun tetap rasanya sepeda hanya melaju sedikit demi sedikit. Gosh! Untunglah angin kencang ini tidak menyapa kita sejak kita meninggalkan alun-alun Demak. Wedeew. (jadi ingat, bulan Juli 2017 waktu meninggalkan Rembang menuju Kudus, aku dan Ranz pun dihadang angin kencang. Masih mending waktu itu kita naik sepeda dengan ban 26”, kali ini rasanya hampir tak tertahan ketika naik sepeda lipat. Hwaaaa.

Ketika Om Munir dari Dekseli bilang bahwa rute yang kita lewati tinggal lurus saja dan kita akan sampai di alun-alun Jepara, aku baru ngeh, kita tidak perlu melewati tanjakan yang biasanya menyapa kita menjelang masuk kota Jepara. Yuhuuuu. Well, meski angin kencang itu tetap terasa seperti kita menapaki tanjakan sih. Hohoho …

Sekitar pukul satu siang, akhirnya aku sampai di pit stop ketiga, Museum Kartini yang terletak tak jauh dari alun-alun Jepara. Sebagian peserta lain telah sampai dan terlihat menikmati hidangan makan siang yang disediakan oleh panitia. Sebagian yang lain masih berjuang di jalan yang panasnya bisa melelehkan seluruh es di Kutub Utara. LOL. Lumayan … panitia menargetkan pukul dua siang semua peserta sampai di pitstop ketiga ini.

Menjelang pukul tiga sore, kita kembali melanjutkan perjalanan ke pitstop terakhir, yakni Pantai Teluk Awur. Rutenya ternyata malah kita kembali ke arah kita datang, sekitar 5 kilometer dari Museum Kartini. Dengan kondisi perut penuh setelah makan siang, serta hati riang mengetahui bahwa perjalanan kita hampir usai, jarak 5 kilometer pun serasa hanya 100 meter. Hihihi …

Sesampai di Pantai Teluk Awur, para peserta berfoto satu per satu dengan latar belakang ‘wall of fame’, dokumentasi itu penting, kisanak! LOL. Setelah foto, kita menuju lokasi yang telah ditentukan oleh panitia dimana kita akan mendirikan tenda. Namun, ternyata tidak semua peserta berencana untuk menginap di tenda disini. Sebagian besar peserta dari Demak memilih pulang langsung ke Demak, hanya Om Munir yang menginap. Itu pun beliau menginap di satu hotel yang terletak tak jauh dari pantai. Beberapa kawan dari Semarang juga memilih pulang, mungkin karena ijin yang diberikan oleh keluarga tersayang di rumah hanya satu hari, ga pakai menginap. Hehehehe …

Yang menginap pun membagi diri dalam beberapa kelompok, dimana satu kelompok terdiri dari 3 – 4 orang dan mereka akan berada di satu tenda. Kita pun mulai memasang tenda. Sayang tidak semua tenda dalam kondisi bagus. L Itu sebabnya Ranz dan Hesti yang jagoan masang tenda gagal mulu waktu memasang tenda yang akan kita inapi bersama. Setelah dicek sama yang menyewakan, ternyata tendanya rusak. Kekekekekeke …

Setelah berhasil membangun tenda yang akan kita pakai bersama, aku dan Ranz mandi. Kita berpikir bahwa setelah mandi, kita akan terlihat lebih segar sehingga bisa berfoto-foto dengan latar belakang sunset. Namun, kondisi ‘ruang bilas’ yang kurang representative (jika dibandingkan kamar mandi yang tersedia di Pulau Panjang saat kita bikecamping 2 tahun lalu) membuat mood-ku buruk. L (maklum yak, aku camper yang manja. LOL.) Usai mandi, aku dan Ranz berinisiatif membuka mmt yang kita pakai untuk alas duduk di depan tenda kita. Akhirnya ya itulah, kita malah hanya nongkrong, dan tidak berfoto-foto. Karena hanya kita yang kepikiran membawa alas duduk yang bisa kita letakkan di depan tenda, banyak kawan lain yang bergabung duduk-duduk bareng kita. Sambil ngemil bakso (ada tukang bakso yang datang) kita ramai-ramai ngobrol.

Acara ‘perayaan’ ulang tahun diadakan sekitar pukul setengah delapan malam. Dengan ‘panggung’ seadanya ada hiburan nyanyi-nyanyi sembari kita makan malam di alas duduk yang diletakkan oleh panitia di depan panggung itu. Selain inti utama acara – mendengarkan sang bintang tamu Nte Aristi berbagi kisah turingnya ke beberapa Negara tetangga – tentu ada acara menyanyi lagu selamat ulang tahun bersama, meniup lilin, memotong tumpeng, hingga menyalakan kembang api yang melesat ke udara. Oh ya, agar kian meriah, panitia juga menyalakan api unggun, padahal malam itu ga dingin-dingin amat. :D Bagi-bagi door prize juga ga ketinggalan dong yaaa.

Acara usai pukul 22.00. Saat kita siap-siap untuk tidur, gerimis turun. Duh, gagal dah keinginanku tidur di luar tenda sambil menikmati kerlap-kerlip bintang di langit. Apalagi kemudian gerimis berubah menjadi hujan yang cukup lebat. Di tenda yang kuhuni, ada 4 makhluk manis yang berlindung, aku, Ranz, Mbak Ning dan Hesti. Aku dan Hesti yang di pinggir pun basah karena fly sheet tidak mampu melindungi tenda yang kita huni bersama. L Memang seharusnya Ranz bawa tenda sendiri. Hiks …

Sementara itu aku tidak bisa tertidur nyenyak: tab yang kubawa kucharge di warung terdekat. Ada beberapa kawan yang tidur disitu sih, tapi karena hujan aku tidak bisa kesana untuk mengambil tab, terpaksa tab terhubung ke listrik semalaman.



Minggu 28 Oktober 2018 ~ hari kedua

Setelah sempat klisak-klisik sekian puluh menit, sekitar pukul empat pagi aku keluar tenda, berjalan ke warung untuk mengambil tab. Hujan berhenti sekitar tengah malam. Di luar tenda, kulihat ada beberapa kawan yang juga sudah bangun. Kembali ke tenda, Ranz yang sudah bangun memintaku menemaninya mencari lokasi untuk melakukan ritual langganan di pagi hari. :D Tapi, kita gagal menemukan tempat itu. Terpaksa Ranz harus menahannya. LOL.

Sebenarnya panitia menawarkan acara gowes Minggu pagi ke area CFD Jepara. Namun ternyata tak satu pun yang tertarik meninggalkan area camping. Kita hanya ngobrol-ngobrol sambil ngemil kerang yang disediakan panitia. Yang lain foto-foto; sebagian lain lagi main air. Pengalamanku berenang di Karimun Jawa tahun 2011 lalu membuatku enggan berenang disini: jika air laut tertelan, duh asinnyaaaaaaaaaa. LOL. Aku dan Ranz hanya berfoto-foto, selain ngobrol dengan yang lain plus ngemil kerang.

Oh ya, pagi ini aku dan Ranz nunut mandi di kamar mandi (umum) hotel terdekat. (Beberapa kawan menginap disini.) Lumayaaan, kamar mandinya lumayan representative. Harusnya kemarin sore kita juga nunut mandi disini saja yaaa. LOL.

Pukul Sembilan, usai sarapan bersama, kita packing, siap-siap kembali ke Semarang. Panitia menyediakan 2 truck. Namun karena banyak yang sudah kembali ke kota masing-masing sehari sebelumnya (Demak dan Semarang), truck lumayan kosong. Sepeda-sepeda ditata di satu truck; beberapa kawan ada yang naik disitu. Aku, Ranz, om Sugeng (Jakarta) dan om Budenk naik di truck satu lagi. Oh ya, Nte Aristi dan suaminya di truck yang kita naiki juga, tapi duduk di samping pak sopir yang sedang bekerja.

Perjalanan cukup lancar. Sang mentari pun bersinar dengan sangat cerah, yang tentu membuat warna kulit kita kian cetar nan eksotis. LOL. Sekitar pukul 12.00, kita telah sampai di jalan Raden Patah.  Setelah menurunkan sepeda-sepeda, sebagian dari kita langsung bersepeda pulang ke rumah masing-masing; sebagian yang lain mampir dulu di warung angkringan yang terkenal hidangan arem-arem yang nikmat plus susu.

Dalam perjalanan pulang, aku, Ranz dan om Sugeng mengantar Nte Aristi dan suaminya ke satu hotel yang terletak di Jalan Plampitan, tempat mereka menginap.

Sampai bertemu di kisah perjalanan Nana dan Ranz selanjutnya!
(Better rare than nothing yak! Better late than never. Ya kan? LOL.)

LG 09.00 21 November 2018
 

Jumat, 21 September 2018

Sebelum Jamselinas 8 Makassar



Alhamdulillah akhirnya aku bisa juga ikut menghadiri acara jambore sepeda lipat nasional yang diselenggarakan di luar Pulau Jawa, yakni di Sulawesi Selatan. Jamselinas 6 2016 di Bangka adalah jamselinas pertama yang diselenggarakan di luar Pulau Jawa, dan karena sesuatu dan lain hal, aku tidak ikut tahun itu. :) (baca => biaya transportasi kesana mihil! lol)

Jamselinas 8 yang diselenggarakan di kota Makassar adalah jambore sepeda lipat kelima yang kuikuti. Yang kuikuti adalah jamselinas 2 di Surabaya, jamselinas 4 di Jogja, jamselinas 5 di Solo, jamselinas 7 di Semarang (ikutan sibuk menyiapkan acara karena diadakan di kota tempat tinggal) dan jamselinas 8.

Lah, jamselinas 8 juga diadakan di luar Pulau Jawa, yang nota bene biaya transportasi kesana juga mihil kan? :) Bedanya adalah, sejak pelaksanaan 7amselinas Semarang usai, aku dan beberapa teman panitia lain menyatukan keinginan (lebay lol) untuk berangkat ke Makassar, untuk itu kita mulai menabung untuk mempersiapkan biayanya. Avitt yang di antara kita paling muda dan tentu memiliki tenaga yang masih penuh, lol, menyediakan diri untuk bersibuk-ria membuka akun tabungan baru, dan kawan-kawan yang ingin berangkat ke Makassar, menabung di akun tabungan bersama ini.

Awalnya, aku dan Ranz tidak kepikiran bahwa kita kudu selalu ikut event yang pada satu masa dijuluki sebagai event naik hajinya pehobi sepeda lipat di Nusantara. :D Jamselinas 1 diselenggarakan di Jakarta, kalau tidak salah di bulan Oktober 2011. Kita tidak ikut karena masih lebih fokus ke dolan sendiri. :) September 2011 kita ke Pantai Nampu, dan Desember 2012 kita ke Tawangmangu lanjut ke Candi Cetho dan Candi Sukuh. Dan rasanya "keriuhan" ikut event Jogja Attack di bulan Maret 2011 masih terasa, plus kita dolan sendiri ke Karimun Jawa bulan Juli 2011.


Jamselinas 2 diselenggarakan di pertengahan bulan November 2012. Karena ada tanggal merah waktu itu, hari Kamis 15 November 2012, aku dan Ranz sekaligus merencanakan untuk dolan dulu ke Trowulan - Mojokerto, baru lanjut ke Surabaya. Selain berkunjung ke kota dimana kita bisa menemukan banyak peninggalan zaman kerajaan Majapahit, daya tarik jamselinas kedua ini adalah tawaran menu bersepeda ke pulau Madura, menyeberangi selat Madura dengan naik ferry.

Jamselinas 3 diselenggarakan di bandung di bulan Mei 2013. Jarak yang terlalu dekat dengan jamselinas 2 (hanya setegah tahun) membuatku dan Ranz memutuskan untuk skip. Sebagai ganti, tahun 2013 itu kita lumayan mbolang sendiri. :) Bulan Maret 2013 bersepeda Solo - Purwokerto, bulan Mei bersepeda Semarang - Magelang untuk ikut menonton perayaan Waisak, bulan Juni ikut acara raceplorer yang diselenggarakan oleh satu produsen kaos terkenal di Jogja; bulan Agustus bersepeda Solo - Pacitan untuk menikmati keelokan Pantai Klayar; bulan Oktober bersepeda nanjak ke Candi Sukuh. Dolan mulu pokoknya tahun 2013 ini. :D

jamselinas 4, hari ketiga

Jamselinas 4 diselenggarakan di Jogja, Ada dua hal utama yang meembuatku dan Ranz wajib ikut. :) Pertama, kita sudah mbolos di event jamselinas 3. Kedua, aku kangan Jogja yang kudapuk sebagai my second hometown. :) "Terinspirasi" apa yang kita lakukan di tahun 2012 -- gowes Solo - Mojokerto - Sidoarjo sebelum menghadiri jamselinas 2, aku dan Ranz berangkat ke Jogja naik sepeda. Jika di tahun 2013 kita bersepeda Semarang - Magelang (menginap dua malam dekat Candi Borobudur) - Jogja, kali ini kita gowes langsung Semarang - Jogja.

jamselinas 5

Komunitas Seli Solo menjadi tuan rumah Jamselinas 5. Lumayan, ga perlu keluar dana untuk menginap di hotel nih, kan Ranz tinggal di Solo. :) Dan kita melanjutkan 'kebiasaan' berangkat menuju kota penyelenggara jamselinas dengan bersepeda. Bahkan Ranz pun bersedia ke Semarang dulu sehari sebelum aku dkk merencanakan gowes Semarang - Solo. Kali ini kita tidak hanya gowes berdua, ada Tami yang ikut menemani karena penasaran mencoba trek Semarang - Solo dengan naik sepeda lipat. Dan ada satu kawan lagi, yakni pakde Djoko dari Fedsemar. Event jamselinas 5 ternyata dimanfaatkan oleh sebagian kawan-kawan federal untuk berkumpul di Solo. :) (tahun 2015 kebetulan tidak ada event JAMNAS FEDERAL).

Jamselinas 6 2016 diselenggarakan di Bangka. Karena kurang persiapan menabung, lol, dan memang sejak awal ragu-ragu mampu ikut ga, kembali aku dan Ranz skip event naik haji seliers Nusantara ini. Dari KomseliS (komunitas sepeda lipat Semarang) saja yang berangkat hanya tiga orang, Dany Saputra, Duryanto, dan satu lagi, aku lupa. Fikri,, kalau tidak salah.

KomseliS mendapatkan kehormatan untuk menjadi tuan rumah jamselinas ketujuh. Tahun 2014 pada penyelenggaraan jamselinas 4 di Jogja, sebenarnya pengurus idfb (indonesia folding bike, selaku induk semua komunitas sepeda lipat di Indonesia) telah meminta kesediaan Semarang untuk menjadi tuan rumah di event jamselinas 5. Namun karena waktu itu kita baru saja menyelenggarakan event joglosemar kedua,  Tayux menolak permintaan pengurus idfb. lol. tahun 2016 telah diminta oleh komunitas sepeda lipat Bangka, maka, ketika pengurus idfb kembali memilih KomseliS untuk menjadi tuan rumah jamselinas 7 tahun 2017 waktu kita berkumpul di Balekambang Solo (dalam event jamselinas 5) Tayux tidak menampiknya

Setelah mencoba melakukan segalanya semaksimal mungkin, persiapan selama beberapa bulan, akhirnya jamselinas ketujuh pun terlaksana dengan sebagaimana mestinya. Untuk pertama kali dalam sejarah jamselinas, lol, lebih dari seribu peserta mendaftarkan diri mengikuti jamselinas 7, dan nampaknya menjadi tonggak orang-orang tak lagi memandang bahwa sepeda lipat hanyalah sepeda yang layak dinaiki untuk ke warung sebelah rumah. lol. Dan aku pun turut bangga, dipercaya menjadi salah satu dari mereka yang bersibuk-ria mempersiapkan 7amselinas.

IB180 12.35 22/09/2018

Di bawah ini adalah video besutan Ranz. 

Minggu, 09 September 2018

Segowangi 55

Segowangi a.k.a Semarang Gowes Jemuwah Bengi yang ke-55 kita selenggarakan pada hari Jumat tanggal 31 Agustus 2018. Mumpung event ASIAN GAMES ke-18 belum usai, dan rakyat Indonesia sedang demam (lol) Jojo alias Jonathan Christie dan atlet-atlet lain yang menyabet medali (emas, perak, maupun perunggu), aku pun memilih "mendukung Indonesia dalam Asian Games ke-18" sebagai tema segowangi kali ini.

Seperti biasa kita berkumpul di Balaikota Jalan Pemuda puku 18.45. Untuk menandai bahwa kita akan mulai bersepeda bersama, kita berfoto bareng dulu di depan pintu gerbang keluar Balaikota sekitar pukul 19.15. Setelah berdoa bersama, kita mulai bersepeda meninggalkan Balaikota. Rute yang kita (eh, aku) pilih adalah balaikota - Tugumuda - Jalan Sugiyopranoto - Jembatan Banjirkanal Barat - Jalan Bojongsalaman - Jalan Pusponjolo Selatan - Jalan Pusponjolo Barat - Jalan Jendral Sudirman - Jalan Anjasmoro - PRPP - Semarang Indah - Jalan Indraprasta - Jalan Pierre Tendean - Jalan Pemuda - Balaikota.

Untuk menandai bahwa segowangi kali ini kita dedikasikan pada mereka yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam event ASIAN GAMES ke-18, kita berfoto bersama di Plered, dimana oleh pemerintah kota Semarang, disana disediakan satu spot yang cukup instagrammable untuk foto-foto, yang berhubungan dengan ASIAN GAMES.

Setelah foto-foto di Plered kita melanjutkan perjalanan. Sebenarnya lokasi berfoto bersama kedua adalah di depan gerbang PRPP untuk menandai bahwa saat kita bersegowangi di akhir Agustus ini, PRPP sedang diselenggarakan. Akan tetapi kita gagal berfoto-foto disitu karena jalan menuju lokasi tersebut penuh sesak kendaraan hingga macet. Ternyata Via Vallen sedang manggung di PRPP. Akhirnya kita putar balik menuju Jalan Sawojajar yang kemudian akan membawa kita ke Jalan Madukoro Raya.

Foto-foto berikut ini seperti biasa dijepret oleh Ranz.
















Jumat, 10 Agustus 2018

Segowangi 54

Dikarenakan ada kepentingan keluarga di hari Jumat terakhir bulan Juli, penyelenggaraan segowangi alias Semarang Gowes Jemuwah Bengi ke-54 kuundur satu minggu setelahnya. Kita baru bersegowangi pada hari Jumat tanggal 3 Agustus 2018. Mengingat kita telah memasuki bulan Agustus -- bulan dimana rakyat Indonesia bersukacita merayakan tanggal 17 Agustus sebagai hari kemerdekaan Indonesia -- aku memilih "merah darahku putih tulangku" sebagai tema segowangi ke-54. Dress code : jersey/kaos warna merah/putih.

Seperti biasa kita berkumpul di "rumah"nya rakyat Semarang yaitu di balaikota Jalan Pemuda menjelang pukul 19.00. Sekitar pukul 19.15 kita berfoto bersama untuk kemudian mulai mengayuh pedal sepeda bersama-sama menapaki rute yang telah kita sepakati bersama.

Kali ini kita menyusuri jalan Pemuda - Tugumuda - Jalan Pandanaran - Simpanglima - Jalan Jendral Sutoyo (Kampung Kali) - Jalan Kartini - Jalan Jolotundo - Jalan Gajah. Kita berhenti sejenak di depan gerbang masuk MAJT untuk berfoto bersama. Dari sana kita lanjut ke jalan arteri(Jalan Sukarno- Hatta) - Jalan Citarum - bunderan Bubakan - Jalan Agus Salim - Jalan Pemuda - balaikota.










Selasa, 31 Juli 2018

10 tahun bersepeda ke kantor

Kisah bermula dari satu ‘curcol’ sederhana di satu media social, 10 tahun yang lalu, tentang harga bahan bakar minyak yang naik. Hanya curcol dari seorang perempuan biasa. Dari sekian komen yang masuk, ada satu komen yang menyarankan, “Naik sepeda saja mbak Nana, kan tidak perlu beli bensin.”

Waduh. Aku kudu ja-im dong ya? Mosok naik sepeda? Lol.


Dari curcol sederhana itu, wadah pekerja bersepeda chapter Semarang terbentuk pada tanggal 26 Juni 2008, di rumah seorang kawan pesepeda yang kita kenal sebagai om Budianto. Kita menyebut diri ‘komunitas B2W (chapter) Semarang’. Kita memilih bentuk ‘komunitas’ yang sifatnya sangat cair dan tidak mengikat ketimbang ‘klub’. Ada sekitar 11 orang yang hadir pada rapat pertama itu, ada 2 perempuan di antaranya, aku dan adikku.

Awalnya jelas aku ja-im jika berangkat bekerja naik sepeda. (Apa kata siswa-siswaku nanti? Mosok Miss Nana berangkat bekerja naik sepeda?Lol.) kalau ‘hanya’ ke pasar, minimarket terdekat, masih okelah jika naik sepeda. Namun karena entah mengapa aku ‘terbebani’ tanggungjawab sebagai salah satu yang terlibat dalam pembentukan B2W Semarang, akhirnya satu hari di bulan Juli 2008 aku mulai naik sepeda ke kantor. Lol. Kelas masuk jam 15.00, aku berangkat dari rumah jam 14.00, agar tidak terlihat siswaku kalau satu guru kesayangannya berangkat bekerja naik sepeda. Wkwkwkwk … Jarak rumah ke kantor hanya 2,5 kilometer, aku hanya butuh kurang dari 10 menit naik sepeda.


Lama-lama, sifat ja-imku mencair juga.Lol. Bahkan setelah ada ‘bike tag’ bertuliskan PEKERJA BERSEPEDA SEMARANG di bawah sadel, aku malah merasa bangga: aku telah termasuk salah satu dari para penyelamat lingkungan. Lebay pol pokoknya. Lol. Bukankah jika kita bersepeda ke tempat kita beraktifitas sehari-hari berarti kita telah ikut mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak yang dipercaya persediaannya di perut bumi terbatas? Dan kita juga telah turut mengurangi polusi yang dikeluarkan dari knalpot kendaraan bermotor?

Aku pun tak lagi malu jika terlihat oleh siswa-siswaku naik sepeda ke kantor. Perkembangan yang positif, kan? Lol.


3 tahun kemudian, di rumah telah ada satu sepeda lipat yang dibelikan kakakku untuk adik-adiknya. Aku pun mulai menggunakannya untuk mix-commuting. Menghadiri rapat koordinator wilayah B2W Jateng – DIY naik kereta dengan membawa sepeda lipat yang diselenggarakan di Jogja. Mengikuti event prajamselinas (jamboree sepeda lipat nasional) yang juga diselenggarakan di Jogja dengan naik bus. Aku pun semakin istiqomah bersepeda kemana-mana. Uhuk. Lol.Sejak tahun yang sama, 2011, aku pun mulai bikepacking alias dolan kemana-mana naik sepeda. Jika bukan karena sepeda, belum tentu aku telah menyambangi destinasi-destinasi wisata seperti Pantai Klayar (Pacitan), Pantai Nampu (Wonogiri) Pantai Pangandaran (Ciamis), Pantai Bandengan + Pantai Kartini + Pulau Panjang (Jepara), Pantai DampoAwang (Rembang), Pantai Gedong Berseri (Lasem), Karimun Jawa, beberapa pantai di Bali dan Lombok, hingga lokasi-lokasi lain.



Dan di bulan Juli 2018 ini aku telah mempraktekkan bersepeda ke tempat beraktifitas (kantor, toko buku, pasar, kulineran dll) selama sepuluh tahun. Paling tidak aku telah turut menjaga lingkungan, meski hanya sedikit yang bisa kulakukan .Alangkah bahagianya jika kian banyak orang yang menggunakan sepeda untuk moda transportasi sehari-hari, bukan hanya untuk alat berolahraga dan bersosialisasi saja.

Lalu, kapan kamu mau mengikuti jejakku dan para praktisi bike-to-work lain? Segera ya! Demi bumi yang lebih layak untuk kita tinggali. Demi anak cucu kita di masa datang.


LG 15.52 30072018

Sabtu, 28 Juli 2018

Gowes Pitnik ke Curug Gending Asmoro

Minggu 1 Juli 2018

Kita (baca => Semarang VeloGirls) sempat bikin rencana untuk dolan dekat-dekat waktu libur kenaikan kelas ini, namun kita tidak jadi merealisasikannya karena mood-ku yang sedang buruk, mudah up and down tak terkendali setelah kejadian pada tanggal 17 Juni 2018. Sebagai ganti, kita bikin rencana lain -- one day biking trip -- ke Curug Gending Asmoro. Ranz lah yang memberi usulan ini setelah tahu satu lokasi destinasi wisata yang terletak di Ungaran ini.


Kita berkumpul di seberang lapangan Kalisari pukul 06.00. Kita berlima -- minus Avitt -- meninggalkan tikum pukul 06.30. Avitt memang telah berpesan bahwa jika dia tidak muncul di tikum pukul 06.30, lebih baik dia kita tinggal saja, karena ini berarti dia akan menyusul kita dengan naik sepeda motor. Aku naik Cleopatra, sepeda polygon berban 26" karena Austin dinaiki Ranz; Dwi naik satu sepeda lipat milik Avitt yang katanya sudah laku dibeli satu customer, Tami naik Sunkis, sedangkan Hesti naik Rocky, semua naik sepeda lipat. :) Sebegitu nyantainya kita mengayuh pedal sampai kita butuh waktu dua jam hanya untuk mencapai puncak Gombel. lol.



Kita mampir di satu warung soto ayam di kawasan Sukun untuk sarapan.

Usai sarapan kita lanjut lagi, tetap dengan santai. Itu sebab kita baru sampai perbatasan masuk Kabupaten Semarang -- alias Ungaran -- sekitar pukul 10.00. Padahal setelah masuk Ungaran, kita masih harus melewati trek yang terus menerus rolling. Sudah lama tidak bersepeda lumayan jauh dengan trek rolling, ternyata rasanya klenger juga. lol. I have been very lazy recently. lol.




Dengan Ranz sebagai pembaca peta yang handal, kita dengan mudah mencapai Curug Gending Asmoro dengan mudah. 'Mudah' ini berarti kita ga perlu tersesat salah jalan, ngos-ngosan gegara trek rolling ya jelas lah. lol. Sekitar pukul 11.00 kita sampai lokasi.





Ternyata kita tidak perlu trekking jauh-jauh untuk mencapai curug, cukup berlelah-lelah waktu bersepeda. lol. (Tapi, eh, balik dari curug menuju tempat parkir lumayan bikin ngos-ngosan gegara treknya harus mendaki tangga. lol.)

Kita bersantai-santai lumayan lama disana. Hesti yang sedang 'belajar' nyeketch, menyempatkan diri nyeketch curug, sementara kita menunggu Avitt yang akan menyusul kita agar tak ketinggalan foto bareng-bareng. hohoho ...





Avitt muncul di curug sekitar pukul 13.00. Jelas kita sempatin foto-foto bareng, sebelum balik ke kota Semarang.

Otw balik ke Semarang, Rocky mendapatkan masalah, dua ruji ban belakang patah. Karena dengan patahnya dua ruji ini Rocky jadi oleng jika digowes, terpaksa Rocky pun dilipat, kemudian dinaikkan di boncengan sepeda motor Avitt, Dwi yang membonceng Avitt, Hesti mengayuh pedal sepeda yang semula dinaiki Dwi.





Sesampai Semarang, kita mampir ke satu rumah makan penyetan, untuk makan siang (yang kesorean). Setelah itu, Hesti membonceng Avitt untuk menitipkan Rocky ke rumah Afif di Tembalang karena Bjos Pit tutup di hari Minggu. Dwi mengayuh pedal sepeda yang dipinjamkan Avitt kepadanya.

Beberapa hari kemudian Dwi kembali ke Tangerang, libur kenaikan kelas telah usai. Entah kapan kita bisa bersepeda bersama berenam lagi. :)

IB180 14.37 28072018




otw back to Semarang