Sabtu, 09 Juni 2018

Segowangi 52

Menurut jadual yang seharusnya, segowangi 52 kita selenggarakan pada hari Jumat 25 Mei 2018. Namun karena satu dan lain hal (baca => para gadis pelor sebagai punggawa segowangi memiliki kesibukan masing-masing di luar kota) kita undur pelaksanaannya pada hari Jumat 1 Juni 2018.

1 Juni 2018

Karena kebetulan segowangi 52 dilaksanakan di bulan Ramadan 1439 H, kita memilih NGABUBURIDE sebagai tema. Seperti pelaksanaan segowang, seperti pelaksanaan segowangi 6 (tahun 2014) dan segowangi 17 (tahun 2015) untuk makanan berbuka, kita "potluck", yang datang bawa makanan sendiri-sendiri dengan jumlah yang cukup untuk dibagi dengan yang lain.

Jumat pagi itu 'kebetulan' gunung Merapi meletus, abunya pun dibawa angin hingga ke kota Semarang. Meski di siang hari aku sempat melakukan sesuatu di luar rumah, aku tidak 'ngeh' akan hal ini. Baru sadar ketika sore hari sampai di balaikota, aku melihat tumpukan abu di tempat kita biasa duduk-duduk menunggu yang lain datang. Ealaaahhh ... Dengan alasan takut keberadaan abu ini akan mengganggu kesehatan, banyak teman yang semula akan datang, membatalkan kehadirannya. Mereka tidak berani keluar rumah. :D

Aku dan Ranz sampai di balaikota sebelum pukul 17.00. Orang ketiga yang datang adalah Tayux, yang sekarang resmi menyandang eks ketua KosmseliS, setelah menyerahkan tampuk "kedudukan" pada Riu. :Menjelang pukul 17.30, sudah ada sekitar 10 orang yang datang. Aku mengajak yang lain masuk, mendekati "taman balaikota", dan menggelar mmt sebagai alas kita duduk.

Usai bukber, dan shalat maghrib di mushalla di daerah situ, kita bersih-bersih tempat kita buka bareng, kemudian bersiap-siap untuk mulai gowes bareng. Menjelang pukul 19.00, satu demi satu kawan-kawan yang tidak ikut bukber namun ingin gowes bareng mulai berdatangan.

Sekitar pukul 19.15 kita mulai foto-foto, kemudian persiapan bersepeda. Untuk rute kali ini aku memilih Balaikota - Tugumuda - Jl. Dr. Soetomo - RSUP Dr. Kariadi - Jl. Menteri Supeno - Taman KB - Jl. Pahlawan - Jl. Imam Barjo - Jl. Pleburan - Jl. Singosari - Jl. MT Haryono - Bubakan - Kampung Batik (foto session) - Jl. Agus Salim - Jl. Pemuda - Balaikota.

Semua berjalan lancar, alhamdulillah.

Sampai bertemu di segowangi berikutnya yaaa.

IB 15.00 09062018


Rabu, 23 Mei 2018

Gowes Sejarah 3

Hari Minggu 6 Mei 2018 kita mengadakan Gowes Sejarah yang ketiga. Karena menjelang bulan Ramadan, tema yang kita pilih adalah mengenal sejarah masjid-masjid kuno yang telah ada sejak zaman kolonial Belanda.

5 masjid yang kita sambangi adalah

1. Masjid Taqwa yang ada di kawasan padat penduduk Sekayu
2. Masjid Menara yang kadang juga disebut sebagai Masjid Layur karena terletak di Jalan Layur
3. Masjid Besar Kauman, yang ternyata dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda yang non Muslin sehingga 'soko guru'nya tidak hanya berjumlah empat, namun banyak. lol.
4. Masjid Pekojan
5. Mushalla Wot Prau

Selain mengunjungi kelima masjid itu, Yogi -- kawan dari Lopen, komunitas pecinta Sejarah di kota Semarang -- juga mengajak kita mampir ke beberapa lokasi lain, misal bangunan Land Huis, satu-satunya bangunan peninggalan Belanda yang masih ada, yang dulu dimiliki oleh tuan tanah, terletak di jalan Kelengan Besar.

Saya belum sempat menulis dengan lebih detil untuk event ini. Di bawah ini ada vlog besutan Ranz, as always. :)


Austin back on road again - from Semarang to Solo

Rasanya sudah cukup lama aku tidak mengajak Austin dolan keluar kota dengan mengayuh pedalnya langsung dari Semarang. Februari 2018 Austin kuajak ke Jogja untuk menghadiri event JFB9uyub naik bus. Maret 2018 kita ke Magelang untuk menghadiri event 2ukun Agawe C5.

Nevertheless, ga sejak awal aku berencana untuk gowes Semarang - Solo untuk menghadiri ulang tahun @Seli Solo yang kedelapan. Semula seperti biasa aku baru akan berangkat ke Solo usai turut mencerdaskan kehidupan bangsa dengan naik bus, Sabtu 12 Mei 2018. Tapi, kemudian aku tergoda untuk dolan ke de Tjolomadoe, sehingga aku menerima tawaran berangkat bareng kawan-kawan lain naik KA Kalijaga. (dan ... naik kereta itu ngangenin lho ...) Dari stasiun Balapan, kita akan bersepeda ke de Tjolomadoe. Namun, rencana ini gagal kita laksanakan ketika kita kehabisan tiket. Aha ... seorang kawan -- sebut saja namanya Jack LOL -- yang menawarkan diri untuk membelikan tiket berangkat ke stasiun untuk beli tiket pada hari Senin 30 April, untuk mendapati bahwa tiket sudah habis. Ya maklum saja, itu adalah wiken terakhir sebelum bulan Ramadan datang. Budaya orang Jawa (kebanyakan) pulang kampung sebelum bulan puasa untuk nyadran.

Beberapa hari sebelum hari Sabtu itu, mendadak Avitt menawari bagaimana kalau kita gowes saja dari Semarang ke Solo. Aku langsung antusias karena membayangkan kita akan bersepeda berempat -- aku, Avitt, Hesti, dan Ranz. Tentu beda rasanya jika hanya bersepeda berdua saja, the more the merrier kan?:) Tapi aku langsung patah hati ketika Avitt bilang sebaiknya berangkat hari Jumat saja, siang hari dari Semarang, loading dulu ke Bawen, baru gowes, dengan alasan (1) ogah kepanasan di tengah jalan jika berangkat dari Semarang pagi. :( (2) hari Sabtu bisa tetap leluasa dolan ke de Tjolomadoe atau ke tempat lain. Aku ga bisa karena (1) aku masih harus mengajar sampai sore hari di hari Jumat itu (2) kondisi my Mom yang beberapa bulan terakhir ini sangat up and down membuatku merasa tidak nyaman meninggalkan rumah lebih dari dua hari satu malam. :(

Karena telanjur excited akan bersepeda Semarang - Solo, aku bilang ke Ranz kalau aku tetap ingin bersepeda Semarang - Solo dan memintanya menjemputku di Bawen. Pastinya Ranz juga sudah kangen dolan bersepeda jauh sehingga dia tidak menolak. :) Hari Jumat dia menjemput Avitt dan Hesti di Salatiga, dan menemani mereka bersepeda Salatiga - Solo; hari Sabtu dia menjemputku di Bawen dan menemaniku bersepeda Bawen - Solo.

Sabtu 12 Mei 2018

Aku berangkat dari rumah pukul 06.00, ga begitu pagi jika itu adalah awal bersepeda ke luar kota, namun ga terlalu siang juga sih. Di jalan masih lumayan sepi, jalanan ga begitu penuh kendaraan bermotor. Apa karena itu adalah hari Sabtu ya, dimana sebagian anak2 SMP-SMA dan pegawai kantor libur?

Honestly, aku berangkat dengan rada ogah-ogahan, belum 'dapet rasa'nya. LOL. (Sepedaan sendirian dan bakal menempuh jarak yang lumayan jauh dan trek bakal nanjak mulu!) Namun begitu sampai Gombel, semangatku bersepeda langsung naik, dan mengayuh pedal Austin pun terasa sangat nikmat. (ini bukan lebay. lol.)


Aku dan Ranz janjian bertemu di Bawen pukul 09.00. Ternyata Ranz sampai terminal Bawen sekitar pukul 08.05, aku datang setengah jam setelahnya. Kita nongkrong dulu di satu minimarket; Ranz barusan membeli coklat dan aku ikutan beli cappuccino. Kita mulai bersepeda menuju Solo pukul 09.00





Kita baru 'ngeh' bahwa pada hari itu ada event SEMAR LALI (Semarang - Boyolali) dimana kebanyakan pesertanya naik road bike dan sepeda hybrid. Maka dalam perjalanan kita sering berpapasan dengan para peserta SEMAR LALI, terutama setelah kita masuk kota Salatiga. Rute Semar Lali itu dari Semarang menuju Gubug - Kedungjati baru nanjak ke arah Tuntang, tidak langsung dari Semarang menuju Ungaran - Bawen - Tuntang dst.


Kita sempat berhenti ketika baru masuk kota Salatiga untuk sarapan soto di satu rumah makan. Setelah itu kita berhenti beberapa kali untuk membeli air mineral dan memotret, meski tidak lama. Kita sampai di patung kuda Boyolali sekitar pukul 13.00. Karena aku belum pernah mampir untuk bernarsis ria disini, tentu aku mengajak Ranz mampir kesini.



Kita sampai di de Tjolomadoe pukul 14.30. Setelah memarkir sepeda di tempat parkir, kita pun masuk untuk menikmati kemegahan bekas pabrik gula yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda itu.

Aku memperkirakan kawan-kawan lain yang naik bus tentu telah sampai di Solo sekitar pukul 13.00. Dan aku mengharapkan mereka akan menuju de Tjolomadoe sore hari, sekitar pukul 16.00 lah. Itu sebab aku dan Ranz terus menjelajah de Tjolomadoe sambil menunggu kawan-kawan lain datang. Namun sekitar pukul empat sore itu aku dikabari bahwa mereka akan ke tempat daftar ulang event 8ancakan Seli Solo terlebih dahulu, baru ke de Tjolomadoe. Waduw ... kita pun galau mau terus menunggu mereka atau kita langsung lanjut ke Laweyan saja, ke rumah Ranz.


Kita sedang makan siang kesorean, lol, di satu rumah makan yang terletak di seberang de Tjolomadoe ketika mendapat kabar dari Affrel (yang sedang dalam perjalanan Semarang - Solo naik bus) bahwa Hesti tidak jadi bersepeda ke de Tjolomadoe. Kupikir karena Hesti tidak jadi, maka Avitt dkk pun tidak jadi. (Kesimpulan yang salah ternyata. lol.)

Setelah pukul 18.00, usai makan siang yang terlalu telat itu kita pun gowes menuju Laweyan. Dalam perjalanan, Ranz melihat rombongan Avitt dkk menuju de Tjolomadoe. Nah lo. lol.

Well, anyway, aku lumayan menikmati bersepeda Semarang - Solo ini. Belum tahu kapan lagi bisa berbikepacking. ... Semoga kondisi kesehatan my Mom kembali membaik sehingga aku ga galau jika harus meninggalkan rumah dalam waktu berhari-hari. Amin.

IB 10.10 25052018


Minggu, 29 April 2018

Tweed Ride Hari Kartini 2018

Setelah terakhir kali mengadakan event Tweed Ride di tahun 2015 pada acara ulang tahun Komselis yang keenam, (eh, plus satu lagi waktu segowangi ke-35 (Desenber 2016) dimana aku memilih TweedRide sebagai dress code) akhirnya di hari Sabtu 21 April 2018, bertepatan dengan Hari Kartini, kita mengadakan Tweedride lagi, Yang Bersepeda Yang Bergaya atau Ride with Style. :D

Satu tahun lalu kita berencana mengadakan event Gowes Kartini seperti event yang kita adakan di tahun 2016 namun gagal karena ternyata anak-anak pelor (eh, Semarang Velogirls) lebih memilih ikut Tour de Pangandaran 8. :D  ternyata tahun ini gagal lagi karena berbagai hal, wkwkwkwkwk ... akhirnya yaaah ... sebagai ganti kita mengadakan TweedRide. Kita memilih mengadakannya di sore hari karena biasanya kalau berbusana khusus ala TweedRide, kita bakal mudah keringatan. Maklum lah, iklim Indonesia yang hangat (dan Semarang cenderung panas) sebenarnya kurang cocok jika mengadakan event yang aslinya berasal dari negeri Ratu Elizabeth ini.

Meski bertajuk TweedRide Gowes Hari Kartini, kebaya dan kain bukanlah dress code wajib. Maka, ya begitu deh, tidak semua peserta mengenakan kebaya dan kain. Yang unik adalah Avitt dan Jeffrey yang sengaja berdandan ala anak sekolah dengan mengenakan seragam sekolah (Avitt) dan seragam pramuka (Jeffrey). LOL. Ada beberapa perempuan yang mengenakan kebaya: selain aku, ada Da, Hesti, Tami, dan Iin.

Seperti biasa, kita berkumpul di balaikota, 'rumah' milik semua warga kota Semarang. (Benar begini kan? LOL.) Pukul 16.00 sudah mulai berdatangan kawan-kawan yang jomblo, eh, yang tertarik dengan tajuk Yang Bersepeda Yang Bergaya ini. LOL. Pukul 16.30 sudah semakin banyak yang datang, namun Avitt belum terlihat batang hidungnya. LOL. Wah ... serba salah nih, mau nungguin Avitt (plus Jeffrey dan Adhit) yang sedang on the way, tapi ga enak sama peserta lain, apalagi mendung yang menggantung di langit terlihat semakin tebal. (Padahal di Kota Lama sedang ada pameran kuliner, satu event yang kita harap bakal menyewa pawang hujan sehingga sore itu hujan dikirim jauh-jauh ke ...Ambarawa kek ... Magelang kek ... pokoknya tidak di rute yang kita lewati. LOL.

Sekitar pukul 16.45 kita menata diri untuk berfoto ria bareng dulu, sambil menunggu Avitt. Untunglah ternyata ga lama kemudian Avit datang. Ga pake lama, kita langsung meninggalkan lokasi tikum. Dari balaikota kita menyusuri jalan Pemuda ke arah Tugumuda kemudian belok kanan ke Jalan Imam Bonjol. Om Budianto a.k.a Budenk mendahului dengan alasan akan mencari spot istimewa buat memotret kita. Untunglah ada Adhit yang masih bersama kita dan sempat memotret kita yang sedang mengayuh pedal sepeda masing-masing.

Selepas Jalan Imam Bonjol, mendekati jembatan Mberok menuju Kota Lama, gerimis mulai terasa bakal membasahkan tubuh. Begitu menyeberangi jembatan, gerimis telah menjelma hujan hingga kocar kacirlah kita, semua berusaha menyelamatkan diri dari guyuran air dari langit. LOL. (Duuuuh .... sepatu boots-ku terhujani! hahahahah ...)

Cukup lama juga kita nongkrong di pinggiran jalan, mencoba berlindung dari hujan dengan berdiri mepet tembok, berharap atap yang mungkin kurang dari satu meter lebarnya melindungi kita. Setelah kita rasa air hujan menipis, kita melanjutkan perjalanan. Semula kita akan mengakhiri acara di daerah Oudetrap, tak jauh dari Gereja Blenduk, namun karena disitu merupakan area terbuka, kita berpindah haluan, meski aku sendiri tidak tahu ini ide siapa. LOL. Pokoknya ngikut saja yang berada di depan. Kita berhenti di satu cafe baru yang terletak di kawasan Kota Lama.

Sementara itu, Om Budenk dan Arifsandro yang telah ngebut di depan (dan kita tidak jadi difoto oleh Om Budenk, hahahahahahah ...) kehilangan jejak. LOL. Untungah akhirnya mereka bisa menyusul kita. 3 anak yang sedang magang di tempat kerja Kie Kie Qiut pun bisa menyusul dan bergabung dengan kita.

Ada rejeki yang tak terduga yang kita terima sore ini; Iin membawa arem-arem karena kebetulan dia baru saja merayakan ulang tahunnya, dan Avitt membawa nasi bakar berbagi rejeki karena usahanya berjuala used bicycles lumayan maju. Alhamdulillah ...

Dii cafe Hero, ada acara pemilihan the best costume. Bagi peserta yang merasa mengenakan busana keren. Setelah ada 7 orang maju ke depan, pemilihan 3 orang yang bakal dapat hadiah dilakukan dengan seberapa meriah tepuk tangan yang didapatkan. kekekekekeke ... Sial lah yang tidak membawa banyak pendukung. hahahahahahah ... dari 7 orang itu, terpilih 3 orang, yakni Rio, om Dur, dan satu lagi kawan dari komunitas sepeda fixie.

Selain pemilihan the best costume, mendadak, ujug-ujug, makbedunduk, Komselis mengumumkan pengunduran diri (secara resmi di depan publik) Wahyu "Tayux" Suhardi sebagai ketua terpilih sejak bulan Oktober 2013, dan mengumumkan Victor Danar a.ka. Riu sebagai pengganti. Nah lo! LOL. Sedangkan Avitt diumumkan sebagai "community ambassador".

Sayangnya aku tidak bisa mengikuti acara hingga selesai karena ibunda tercinta sedang dirawat di rumah sakit. Aku harus buru-buru meninggalkan venue dan kembali ke rumah sakit.

Beginilah sekelumit kisah TweedRide Hari Kartini tahun 2018. Sampai bertemu lagi di event Tweed Ride selanjutnya yaaa.

Mari kita tetap bergaya sambil bersepeda!

Ciao!

IB 12.58 30042018































Foto-foto kuunduh dari grup facebook Komselis karena Ranz tidak bisa datang pas acara ini. 

Senin, 09 April 2018

Penyambutan dan Pelepasan Kirab Trophy IVCA 2018 di Semarang

IVCA adalah singkatan dari International Veteran Cycle Association, merupakan satu 'wadah' para pecinta sepeda onthel alias sepeda tua. Menurut artikel di link ini, IVCA didedikasikan untuk pelestarian sejarah sepeda, bersepeda, serta kenikmatan sepeda sebagai mesin. IVCA sebagai wadah pecinta sepeda tua secara resmi didirikan pada tanggal 26 Mei 1986 di Lincoln, Inggris, meski menurut artikel di link ini, event IVCR (rally IVC) pertama kali diselenggarakan pada tahun 1981 di Grantham, Inggris. Sejak saat itu, pertemuan yang berhubungan dengan kecintaan pada sepeda tua diselenggarakan setiap tahun.

Tahun 2018 penyelenggaraan IVCA adalah penyelenggaraan ke-37, untuk pertama kali dilaksanakan di benua Asia, dan INDONESIA terpilih sebagai negara penyelenggara. KOSTI alias Komunitas Sepeda Tua Indonesia telah secara resmi tercatat sebagai anggota IVCA.

Untuk kian mempromosikan event IVCA 2018 yang diselenggarakan di Bali pada tanggal 12 - 16 April 2018, KOSTI mengadakan kirab trophy IVCA dari Jakarta menuju Denpasar. 10 pesepeda terpilih untuk mengiring trophy IVCA ini. Mereka menaiki sepeda tua selama 20 hari, menyinggahi minimal 20 kota.

Semarang 30 - 31 Maret 2018

Hari Jumat  30 Maret 2018 rombongan kirab trophy IVCA memasuki kota Semarang. Untuk menyambut mereka, SOC (Semarang Onthel Community) wadah para pecinta sepeda tua di kota Semarang mengerahkan para anggotanya untuk berkumpul di satu tempat tak jauh dari bundaran Kalibanteng. Sekitar pukul 10.00 para penyambut bersama 10 pesepeda onthel utama melanjutkan perjalanan dengan melewati Jalan Jendral Sudirman - Jalan Sugiyopranoto - Tugumuda - Jalan Pandanaran - Simpanglima - Jalan Pahlawan - berputar di depan kantor Gubernur - Simpanglima - Jalan Gajahmada - Jalan Pemuda - Jalan Tawang - Jalan Cendrawasih - Jalan LetJend. Suprapto - Taman Srigunting.

bersama nte Dwi Puspa, satu2nya perempuan dari 10 pesepeda utama


Setelah upacara penyambutan sederhana dilakukan, para peserta dipersilakan menuju Guest House Achterhuis yang terletak persis di samping Kafe Tekodeko. 10 pesepeda utama dipersilakan untuk beristirahat. Acara selanjutnya, di siang hari, adalah pameran sepeda tua di hall Achterhuis.


Malamnya diselenggarakan gala dinner untuk menyambut secara resmi. Saat ini, aku mengajak kawan-kawan yang menghadiri Segowangi 50 untuk mampir dan bersilaturahmi dengan para pecinta sepeda tua.


Sabtu 31 Maret 2018 mulai pukul delapan pagi para pecinta sepeda tua telah berkumpul di Jalan Letjend Suprapto, di samping Taman Srigunting untuk menghadiri pelepasan pasukan kirab. Upacara pelepasan dimulai pukul sembilan. Sedangkan pasukan kirab dilepas pada pukul 09.30. Mereka menuju Kudus. Kawan-kawan pecinta sepeda tua Kudus mengadakan acara penyambutan khusus, sebelum pasukan kirab melanjutkan perjalanan kembali menuju Tuban pada hari Minggu 1 April.

Sayang sekali aku dkk tidak bisa mengiringi mereka menuju Kudus karena aku sudah telanjur menerima undangan dari ITDP (the Institute for Transportation and Development Policy) untuk menghadiri acara URBAN TRANSPORT DAY di kafe Tekodeko pukul 10.00.

Jumat, 06 April 2018

Gowes Earth Hour 2018

Tahun ini kita kembali dijawil oleh Panitia Earth Hour, bersama komunitas-komunitas lain. Gowes malam bertemakan Earth Hour kali ini diselenggarakan di Hotel Noorman, lebih jauh ketimbang tahun lalu di Hotel Grand Candi. :)


Segowangi 50

Segowangi 50 kita adakan pada hari Jumat 30 Maret 2018. Kebetulan di hari itu kawan-kawan Semarang Onthel Community sedang mengadakan penyambutan rombongan kirab trophy IVCA atau International Veteran Cycling Association 2018. Maka, seusai gowes bareng, kita bergabung bersama kawan-kawan SOC di kafe Tekodeko Kota Lama Semarang. :)

Dress code : kaos/jersey ungu