Selasa, 31 Juli 2018

10 tahun bersepeda ke kantor

Kisah bermula dari satu ‘curcol’ sederhana di satu media social, 10 tahun yang lalu, tentang harga bahan bakar minyak yang naik. Hanya curcol dari seorang perempuan biasa. Dari sekian komen yang masuk, ada satu komen yang menyarankan, “Naik sepeda saja mbak Nana, kan tidak perlu beli bensin.”

Waduh. Aku kudu ja-im dong ya? Mosok naik sepeda? Lol.


Dari curcol sederhana itu, wadah pekerja bersepeda chapter Semarang terbentuk pada tanggal 26 Juni 2008, di rumah seorang kawan pesepeda yang kita kenal sebagai om Budianto. Kita menyebut diri ‘komunitas B2W (chapter) Semarang’. Kita memilih bentuk ‘komunitas’ yang sifatnya sangat cair dan tidak mengikat ketimbang ‘klub’. Ada sekitar 11 orang yang hadir pada rapat pertama itu, ada 2 perempuan di antaranya, aku dan adikku.

Awalnya jelas aku ja-im jika berangkat bekerja naik sepeda. (Apa kata siswa-siswaku nanti? Mosok Miss Nana berangkat bekerja naik sepeda?Lol.) kalau ‘hanya’ ke pasar, minimarket terdekat, masih okelah jika naik sepeda. Namun karena entah mengapa aku ‘terbebani’ tanggungjawab sebagai salah satu yang terlibat dalam pembentukan B2W Semarang, akhirnya satu hari di bulan Juli 2008 aku mulai naik sepeda ke kantor. Lol. Kelas masuk jam 15.00, aku berangkat dari rumah jam 14.00, agar tidak terlihat siswaku kalau satu guru kesayangannya berangkat bekerja naik sepeda. Wkwkwkwk … Jarak rumah ke kantor hanya 2,5 kilometer, aku hanya butuh kurang dari 10 menit naik sepeda.


Lama-lama, sifat ja-imku mencair juga.Lol. Bahkan setelah ada ‘bike tag’ bertuliskan PEKERJA BERSEPEDA SEMARANG di bawah sadel, aku malah merasa bangga: aku telah termasuk salah satu dari para penyelamat lingkungan. Lebay pol pokoknya. Lol. Bukankah jika kita bersepeda ke tempat kita beraktifitas sehari-hari berarti kita telah ikut mengurangi ketergantungan pada bahan bakar minyak yang dipercaya persediaannya di perut bumi terbatas? Dan kita juga telah turut mengurangi polusi yang dikeluarkan dari knalpot kendaraan bermotor?

Aku pun tak lagi malu jika terlihat oleh siswa-siswaku naik sepeda ke kantor. Perkembangan yang positif, kan? Lol.


3 tahun kemudian, di rumah telah ada satu sepeda lipat yang dibelikan kakakku untuk adik-adiknya. Aku pun mulai menggunakannya untuk mix-commuting. Menghadiri rapat koordinator wilayah B2W Jateng – DIY naik kereta dengan membawa sepeda lipat yang diselenggarakan di Jogja. Mengikuti event prajamselinas (jamboree sepeda lipat nasional) yang juga diselenggarakan di Jogja dengan naik bus. Aku pun semakin istiqomah bersepeda kemana-mana. Uhuk. Lol.Sejak tahun yang sama, 2011, aku pun mulai bikepacking alias dolan kemana-mana naik sepeda. Jika bukan karena sepeda, belum tentu aku telah menyambangi destinasi-destinasi wisata seperti Pantai Klayar (Pacitan), Pantai Nampu (Wonogiri) Pantai Pangandaran (Ciamis), Pantai Bandengan + Pantai Kartini + Pulau Panjang (Jepara), Pantai DampoAwang (Rembang), Pantai Gedong Berseri (Lasem), Karimun Jawa, beberapa pantai di Bali dan Lombok, hingga lokasi-lokasi lain.



Dan di bulan Juli 2018 ini aku telah mempraktekkan bersepeda ke tempat beraktifitas (kantor, toko buku, pasar, kulineran dll) selama sepuluh tahun. Paling tidak aku telah turut menjaga lingkungan, meski hanya sedikit yang bisa kulakukan .Alangkah bahagianya jika kian banyak orang yang menggunakan sepeda untuk moda transportasi sehari-hari, bukan hanya untuk alat berolahraga dan bersosialisasi saja.

Lalu, kapan kamu mau mengikuti jejakku dan para praktisi bike-to-work lain? Segera ya! Demi bumi yang lebih layak untuk kita tinggali. Demi anak cucu kita di masa datang.


LG 15.52 30072018

Sabtu, 28 Juli 2018

Gowes Pitnik ke Curug Gending Asmoro

Minggu 1 Juli 2018

Kita (baca => Semarang VeloGirls) sempat bikin rencana untuk dolan dekat-dekat waktu libur kenaikan kelas ini, namun kita tidak jadi merealisasikannya karena mood-ku yang sedang buruk, mudah up and down tak terkendali setelah kejadian pada tanggal 17 Juni 2018. Sebagai ganti, kita bikin rencana lain -- one day biking trip -- ke Curug Gending Asmoro. Ranz lah yang memberi usulan ini setelah tahu satu lokasi destinasi wisata yang terletak di Ungaran ini.


Kita berkumpul di seberang lapangan Kalisari pukul 06.00. Kita berlima -- minus Avitt -- meninggalkan tikum pukul 06.30. Avitt memang telah berpesan bahwa jika dia tidak muncul di tikum pukul 06.30, lebih baik dia kita tinggal saja, karena ini berarti dia akan menyusul kita dengan naik sepeda motor. Aku naik Cleopatra, sepeda polygon berban 26" karena Austin dinaiki Ranz; Dwi naik satu sepeda lipat milik Avitt yang katanya sudah laku dibeli satu customer, Tami naik Sunkis, sedangkan Hesti naik Rocky, semua naik sepeda lipat. :) Sebegitu nyantainya kita mengayuh pedal sampai kita butuh waktu dua jam hanya untuk mencapai puncak Gombel. lol.



Kita mampir di satu warung soto ayam di kawasan Sukun untuk sarapan.

Usai sarapan kita lanjut lagi, tetap dengan santai. Itu sebab kita baru sampai perbatasan masuk Kabupaten Semarang -- alias Ungaran -- sekitar pukul 10.00. Padahal setelah masuk Ungaran, kita masih harus melewati trek yang terus menerus rolling. Sudah lama tidak bersepeda lumayan jauh dengan trek rolling, ternyata rasanya klenger juga. lol. I have been very lazy recently. lol.




Dengan Ranz sebagai pembaca peta yang handal, kita dengan mudah mencapai Curug Gending Asmoro dengan mudah. 'Mudah' ini berarti kita ga perlu tersesat salah jalan, ngos-ngosan gegara trek rolling ya jelas lah. lol. Sekitar pukul 11.00 kita sampai lokasi.





Ternyata kita tidak perlu trekking jauh-jauh untuk mencapai curug, cukup berlelah-lelah waktu bersepeda. lol. (Tapi, eh, balik dari curug menuju tempat parkir lumayan bikin ngos-ngosan gegara treknya harus mendaki tangga. lol.)

Kita bersantai-santai lumayan lama disana. Hesti yang sedang 'belajar' nyeketch, menyempatkan diri nyeketch curug, sementara kita menunggu Avitt yang akan menyusul kita agar tak ketinggalan foto bareng-bareng. hohoho ...





Avitt muncul di curug sekitar pukul 13.00. Jelas kita sempatin foto-foto bareng, sebelum balik ke kota Semarang.

Otw balik ke Semarang, Rocky mendapatkan masalah, dua ruji ban belakang patah. Karena dengan patahnya dua ruji ini Rocky jadi oleng jika digowes, terpaksa Rocky pun dilipat, kemudian dinaikkan di boncengan sepeda motor Avitt, Dwi yang membonceng Avitt, Hesti mengayuh pedal sepeda yang semula dinaiki Dwi.





Sesampai Semarang, kita mampir ke satu rumah makan penyetan, untuk makan siang (yang kesorean). Setelah itu, Hesti membonceng Avitt untuk menitipkan Rocky ke rumah Afif di Tembalang karena Bjos Pit tutup di hari Minggu. Dwi mengayuh pedal sepeda yang dipinjamkan Avitt kepadanya.

Beberapa hari kemudian Dwi kembali ke Tangerang, libur kenaikan kelas telah usai. Entah kapan kita bisa bersepeda bersama berenam lagi. :)

IB180 14.37 28072018




otw back to Semarang

Rabu, 25 Juli 2018

TdP9 : limpahan rezeki terus berlanjut

Minggu 22 Juli 2018

Semalam kita sempat membahas mau nyunrise a.k.a berburu sunrise pagi ini. Kita ngajakin Om Dudeng dan Nte Effit. Om Poetoet jelas lebih memilih tidur. lol. Untuk itu Nte Ria memasang alarm hapenya jam 04.30.

Ketika alarm berbunyi, kulirik Nte Ria mengambil hp, kemudian menekan tombol "snooze" dan balik tidur lagi. Begitu berulang kali. Xixixixi ... Aku yang masih merasa pingin berbaring di kasur yang empuk lebih lama, diam saja. Kulirik Ranz pun ga ada tanda-tanda mau bangun. Apa boleh buat keindahan sunrise pagi ini kurang seksi untuk mengiming-imingi kita untuk segera bangun.


Menjelang pukul enam pagi, Ranz membangunkanku, :Kamu tau ini jam berapa?" tanyanya. "Jam lima?" tanyaku balik, rasanya belum lama dari saat alarm hp Nte Ria berbunyi. Eh, ternyata sudah hampir jam enam. hahahaha ... Tak lama kemudian terdengar suara Om Dudeng dari luar kamar manggil-manggil kita. Nte Ria pun bangun, membuka pintu kamar, ngelongok keluar, dan ngeles, "Ealaaahhh ... ga liat langit mendung apa kok ngajakin nyunrise?" wakakakakaka ...

Ga lama kemudian Nte Effit datang dan masuk kamar. Dia sudah siap bersepeda ke Pantai Timur. Akhirnya aku dan nte Ria siap-siap, sementara Ranz nyempetin mandi dulu.

Keluar dari kamar, kita lihat orang-orang sedang sarapan, ya sudah kita sarapan dulu saja, lumayan untuk mengisi energi.

Sekitar jam tujuh pagi kita keluar hotel Alamanda. Aku naik Austin, Ranz naik Pockie, nte Effit naik trifold-nya suaminya, nte Ria naik seli fnhon milik om Aris Darat dan om Dudeng naik selinya sendiri. Sebelum mengayuh pedal sepeda ke Pantai Timur, kita mampir dulu di panggung "certificate of completion". Biasanya kalo pagi-pagi gini, panggung sudah sepi, ga seperti sehari sebelumnya. tapi, eh, ternyata kok pagi itu panggung tetap ramai yak? Kita tetap harus ngantri. hahaha ...

Tentu kita ga akan mendapatkan pemandangan sunrise, sudah terlalu siang. Sang mentari sudah mulai terlihat, mendung telah pergi. Namun karena nte Effit penasaran letak "pantai pasir putih" di kawasan Pantai Timur itu, kita tetap menuju kesana. Aku bahkan iseng-iseng menyebut mengajak mampir ke Cagar Alam. Karena pagi itu kita tidak buru-buru balik ke Tasik -- panitia B2W Tasikmalaya mengundang kita menghadiri acara ramah tamah, pukul 11.00 yang berarti makan-makan enak lol -- kita pun nyantai.



Dan ... kita pun beneran masuk ke Taman Wisata Alam Pantai Pangandaran, lokasi yang sama yang kita kunjungi setahun lalu bersama para gadis pelor.

Ternyata pergi dengan duo tante Effit dan Ria tidak kalah heboh dengan tiga gadis pelor tahun lalu. lol. Ranz yang tukang foto tidak kuhitung lho ya, dia ga heboh dengan suara soalnya. hahahaha ... Duo tante itu selalu punya energi untuk ngobrol ramai dan tertawa-tawa. Om Dudeng yang jadi pengawal ngikutin kita saja dengan anteng. kekekekeke ... Motretin kita jika kita minta dipotretin, ikutan bergaya jika kita minta turut berpose di depan kamera. hohoho ...



Satu perbedaan yang mencolok di kawasan taman wisata ini dibanding tahun lalu adalah pengunjung jauh lebih banyak ketimbang tahun lalu. Banyak wisatawan yang datang berombongan, ada yang memakai guide, ada yang jalan sendiri seperti rombongan kita.

Om Dudeng dan Nte Ria terpaksa balik duluan ke hotel karena sepeda lipat yang dinaiki nte Ria -- milik om Aris -- harus segera balik, yang punya akan segera menitipkan selinya ke orang, seli om Dudeng juga. Sebenarnya aku dan Ranz ga keberatan ikutan balik ke hotel, tapi ternyata diam-diam nte Effit penasaran pada mata air di gua Cirengganis yang katanya bisa bikin awet muda. Dia pingin kian disayang sang suami dong. hohoho ... Akhirnya ya begitu deh, aku dan Ranz mengantar sampai ujung Taman Wisata Alam Pangandaran, dimana gua Cirengganis terletak.



Sesampai disana, ternyata lumayan banyak orang juga yang sedang mengantri mau membasuh wajahnya dengan mata air di gua itu. Bahkan ada dua laki-laki di mata air itu yang tidak hanya membasuh wajah, namun sekaligus mengguyuri badannya dengan air disitu. ealaaah ... yang mengherankan adalah ada seorang petugas disitu yang hafal wajahku dan wajah Ranz yang telah kesitu setahun yang lalu. Ternyata wajah kita unforgettable yak. lol.

Air di mata air di bawah gua Cirengganis nampak lebih jernih ketimbang tahun lalu. Tapi, tahun lalu meski air nampak keruh jika dilihat sekilas, namun jika kita mengambilnya menggunakan kedua belah tangan, air akan nampak jernih juga. Kali ini aku tidak sendirian membasuh wajah (tahun lalu saja pake acara para gadis pelor memaksaku mempraktekkan membasuh wajah di mata air ini lol) nte Effit plus Ranz pun ikutan membasuh wajah. Airnya memang terasa segar sih.


Setelah itu kita balik ke hotel. Dan ... baru ngeh kalo aku lupa menyerahkan kunci kamar ke nte Ria. jadi meski dia balik duluan, dia tetap tidak bisa masuk kamar untuk mandi duluan dan packing. hehehehe ...

Usai kita semua mandi dan packing, kita siap-siap ke RM Karya Bahari, tempat panitia B2W Tasikmalaya mengundang kita makan-makan. Sebelum ikut mereka, aku ingin memastikan dulu apakah ada yang bisa memberi kita tumpangan balik ke Tasik. Jika tidak, aku dan Ranz akan langsung menuju terminal dan balik ke Tasik duluan. Pengalaman tahun lalu, bus yang kita tumpangi butuh waktu yang lama untuk sampai Tasik, kita tidak mau kemalaman dong. Alhamdulillah, rezekiku dan Ranz tetap lah bagus. Ada satu panitia yang baik hati menyediakan tumpangan untuk kita berdua. Kita pun langsung menuju RM Karya Bahari.


Hidangannya tidak jauh berbeda dari yang kita makan tadi malam, udang bumbu asam manis, cumi, namun ada tambahan ikan bakar dan tumis pakis yang ternyata nikmat sekali. Sebelum makan, Ranz sudah melipat seli kita dan membantu loading di mobil "Abah Bulu" yang memberi kita tumpangan.

Usai makan, saatnya berpisah dengan keluarga Om Poetoet dan Nte Ria, juga panitia B2W Tasikmalaya. Aku dan Ranz nebeng naik mobil Abah Bulu. Dalam mobilnya ada 8 orang, termasuk kita berdua dan satu cucu Abah Bulu. :) Ibu Ani -- istri Abah Bulu -- menawari kita untuk beristirahat di rumahnya setelah tahu bahwa kereta yang akan kita naiki ke Solo baru meninggalkan stasiun pukul 21.00. Benar-benar rezeki demi rezeki yang terus menghujani kita. Alhamdulillah ...

Meninggalkan Pantai Timur Pangandaran sekitar pukul 12.00, kita sampai rumah Abah Bulu sekitar pukul 15.30. Aku yang (ternyata) teler sepanjang perjalanan, merasa sangat bersyukur bahwa kita ditawari untuk beristirahat dulu di rumah Abah Bulu, aku benar-benar butuh membaringkan tubuh. Dan ... kita tidak perlu menggelandang di jalan. hehehehe ... Meski, well, sebenarnya pingin sih foto-foto di alun-alun dengan sepeda, seperti dua tahun lalu. Tapi kali ini aku lebih butuh istirahat sih ketimbang foto-foto. Apalagi Abah Bulu dan Ibu Ani sudah berniat mengantar kita ke stasiun sehingga sepeda lipat kita sudah masuk ke dalam mobil Abah Bulu.

Sekitar pukul enam sore Ibu Ani menawari kita makan malam. Alhamdulillah ... Benar-benar terjamin kita.

Pukul 20.00 kita diantar ke stasiun Tasikmalaya. Perjalanan dari rumah Abah Bulu ke stasiun kurang dari 10 menit. Dekat sekali. :) Ibu Ani menawari kita untuk menginap di rumahnya jika kita berdua ingin ikut Tour de Pangandaran 10, dua tahun lalu. Wahhh ... matur sembah nuwun Ibu :)

KA Kahuripan datang sekitar 3 menit terlambat dari jadual yang tertera di tiket. Gerbong 4 tempat kita duduk penuh sekali dengan penumpang. Hmft ... :D Meski begitu kita harus tetap bersyukur atas limpahan rezeki yang telah kita terima ya.

Austin di stasiun Balapan

Kita sampai di stasiun Purwosari sekitar pukul 03.45. Dengan sedikit ogah-ogahan, Ranz yang juga teler mengantarku ke stasiun Balapan. lol. KA Kalijaga meninggalkan stasiun Balapan pukul 05.20. Aku sampai di stasiun Poncol sekitar pukul 08.10.

Syukurlah ... tinggal mengembalikan stamina agar kembali fit lagi.

Suwun semuanya, rasa terima kasih tak terhingga untuk mereka yang telah membantu kelancaran aku dan Ranz turut menikmati Tour de Pangandaran yang kesembilan ini.

IB180 10.20 26/07/2018

Senin, 23 Juli 2018

TdP9 : serangkaian rezeki yang kita nikmati


Pengantar

Beberapa bulan lalu, aku dan para gadis pelor (baca => Semarang VeloGirls) membahas tentang keinginan mbolang ke negeri para Daeng, dan apakah kita akan "memperbaiki" nasib (lol) di TdP8 tahun lalu yang kita terpaksa loading, sehingga untuk itu kita harus ngikut TdP lagi. Keputusan kita waktu itu, tahun ini kita skip Tour de Pangandaran dulu; duitnya disimpan buat ngikut event naik hajinya seliers.

Awal Juli, di grup WA para pengurus korwil B2W dari seluruh daerah di Indonesia, Om Poetoet -- orang nomor satu di B2W Indonesia saat ini -- menawari jika ada yang mau ikut TdP 9 tidak perlu mendaftar ke panitia, langsung ikut saja. Cukup mendaftar ke Om Poetoet. Setelah membahasnya sebentar dengan Ranz --- apakah dia bisa mbolos dari kantornya di hari Sabtu 21 Juli dan Ranz memperkirakan dia bisa bolos -- aku langsung mendaftarkan diri, aku dan Ranz. Ranz langsung ngecek ketersediaan tiket KA Pasundan (untuk berangkat) dan tiket KA Kahuripan (untuk pulang). Kemudian dia pun langsung booking.

Rezeki pertama : ikut event gratis, penginapan gratis. Alhamdulillah ... :)

Jumat 20 Juli 2018

Berbeda dengan tahun lalu dimana kita mengalami serangkaian drama, lol, alhamdulillah tahun ini semua berjalan dengan lancar. Pukul 09.00 tepat KA Kalijaga yang akan membawaku ke Solo telah meninggalkan stasiun Poncol. Pukul 11.40 kereta memasuki stasiun Balapan. Ranz telah menungguku di pintu keluar. Aku langsung memasang Austin, kemudian kita cepat-cepat mengayuh pedal ke stasiun Purwosari. (Satu hal yang paling kita sesalkan mengapa KA Kalijaga berhenti di stasiun Balapan, tidak sampai stasiun Purwosari, sehingga kita perlu ribet dulu pindah stasiun. :( ) Sesampai di stasiun Purwosari, check in, makan siang (Ranz membelikanku nasi pecel yang bumbunya pedas, jadi enak), menjelang pukul 13.00 KA Pasundan datang, kita pun langsung naik kereta.


Perjalanan lancar. Kita sampai stasiun Tasikmalaya pukul 19.45, terlambat 7 menit dari jadual yang tertera di tiket. Setelah memasang sepeda, kita pun melaju ke pendopo alun-alun. Kali ini tikum tidak di gedung Telkom namun di pendopo. Kita langsung mencari nte Ria Serbeje karena kita akan menginap bersama di City Hotel, hotel yang sama yang kita inapi di TdP7. Sempat bertemu om Chandra dari Fedtang a.k.a Selitang disana. Di dekat counter pendaftaran ulang, aku, nte Ria dan Ranz pun ngerumpi heboh. lol. Menjelang pukul 23.00 kita ke hotel. Waktu itu nte Ria sempat nawarin makan malam bareng om Dudeng, tapi aku ogah bikin perut kian empuk. lol. nte Ria keluar dari kamar juga karena mendadak ada yang harus dia urusin. Orang super sibuk! lol.

Sabtu 21 Juli 2018

Jika di TdP7 nte Ria sudah meninggalkan kamar seusai adzan Subuh karena harus mengatur marshall dll yang akan menjemput dan mengawal Bu Susi Pudjiastuti yang mulai ikut bersepeda di kilometer 90, tahun ini dia lebih santai. Ranz yang memulai ritual kamar mandi pukul setengah lima, nte Ria jam lima, aku setelah itu. :) Sekitar pukul 05.45 kita ke lantai 5 untuk sarapan. Di lantai 5 itu kita bisa melihat betapa langit super mendung. Ini gawat buat Ranz yang bawa dua kamera. (ssshhhttt ... 1 kamera kurang buatnya. lol.)

Tahun ini Om Poetoet tidak ikut bersepeda karena harus nyetir mobilnya sendiri yang berisi sang istri tercinta dan anak ragilnya, anak keduanya, Finza ikut bersepeda. TdP9 adalah debut buat Finza. :)

Pukul 06.15 kita bersepeda ke titik start. Sambil menunggu serangkaian acara sambutan dan ini dan itu, aku menonton orang-orang yang saling mendokumentasikan diri di kawasan itu, Ranz sibuk memotret sana sini, Finza anteng saja kadang berdiri, kadang jongkok, sesukanya lah. nte Ria sudah ga kelihatan, ngider entah kemana. lol. Om Poetoet jelas sibuk di panggung utama.

Pasukan Tour de Pangandaran 9 dilepas oleh Wakil Walikota Tasikmalaya pukul delapan pagi, meski tentu banyak ratusan peserta lain yang curi start terlebih dahulu. Finza yang semula akan naik mtb, mendadak memilih naik trifold waktu ditanyain om Poetoet mau naik sepeda yang mana. Aku dan Ranz berpikiran sama : mungkin dia penasaran treknya kayak apa ya kok nte Nana dan nte Ranz cuma naik sepeda lipat? hihihi ...

Di kilometer-kilometer awal kita bertiga masih sempat bareng, kadang Finza di belakang kita, kadang dia melesat di depan kita. Sampai di satu lokasi dimana sekian ratus meter ruas jalan sedang diperbaiki sehingga diberlakukan "buka tutup jalan". Di ujung buka tutup jalan ini kebetulan ada warung sederhana, Finza yang ternyata sakit perut dan butuh ke toilet mampir warung. Aku dan Ranz menungguinya sampai selesai. Ternyata setelah selesai, Finza malah mempersilakan kita jalan dulu karena dia masih kepengen santai. Dia yakin di belakang kita masih banyak peserta TdP9. Nah, di titik ini kita berpisah.



Perjalanan lancar. Sebelum sampai tanjakan mengejutkan yang disebut Tepung Kanjut di sisi kiri sudah ada n o t i c e bahwa bakal ada tanjakan curam di depan. Dua tahun lalu, tepat di dekat belokan menuju tanjakan ada beberapa marshall yang mengingatkan, "siapkan ganti gear, tanjakan curam menanti!" Kemarin tidak ada marshall yang seperti itu, namun berhubung ini bukan kali pertama kita ngikut, notice yang disediakan sudah cukup membuat kita siap-siap memindah gear. Banyak pesepeda yang mendadak rantai sepedanya patah disini karena salah strategi. Tanjakannya sih tidak panjang, namun ya itu, selepas belokan langsung menanjak curam.


Seperti biasa aku dan Ranz berhenti memotret diri di gerbang masuk kota Banjar. Ada yang 'baru' disini, panitia menyediakan air mineral dalam galon untuk refill bidon. Alhamdulillaaah ...

Di kilometer ke-50, pas Ranz menoleh ke satu rumah makan, dia melihat Om Poetoet beserta istri dan anak bungsu mereka sedang mau makan siang. Ini sekitar pukul 11.20, 10 kilometer menjelang Toserba Samudra tempat makan siang. Kita diajak makan siang bareng. Haseeek. :) Om Poetoet khawatir waktu melihat Finza tidak bersama kita, karena dia kurang tidur semalam sebelumnya. Ya kita beritahu bahwa Finza meminta kita melanjutkan perjalanan sementara dia masih ingin istirahat.

Untuk makan siang, aku memilih ayam (kampung) bakar sedangkan Ranz memilih sup ayam kampung. Yang istimewa disini adalah sambalnya, cukup nendang dan di lidah terasa nikmat.

Satu jam kemudian, Finza tak kunjung kelihatan lewat, kita melanjutkan perjalanan. Aku dan Ranz sempat mampir di Toserba Samudra untuk mengisi bidon, kemudian langsung lanjut gowes lagi.

Sesampai di tanjakan Kalipucang nan panjang itu, kita mendapati bahwa permukaan jalan sudah mulus, tidak seperti tahun lalu yang masih cukup rusak, dan terjadi kemacetan panjang. Banyak mobil evak (milik pribadi maupun milik komunitas) yang melewati kita.

Setelah melewati tanjakan Kalipucang -- dan turunannya yang juga panjang -- kita mampir ke satu minimarket, bidon sudah kosong, kita harus beli air mineral. Aku sempat beli es krim buat berdua Ranz disini. Setelah itu baru melanjutkan perjalanan.

Menjelang pukul 17.00 kita akhirnya sampai di titik finish. Hmft ... catatan waktu kita lebih buruk ketimbang dua tahun lalu. lol. Melihat panggung "certificate of completion" yang penuh orang antri, aku males ikut berdesak-desakan. (Tahun lalu kita berenam ikut ngantriiii. lol.) Aku langsung mengajak Ranz ke pantai, mumpung matahari masih sedikit terlihat di ufuk Barat. Namun, sesampai pantai, ternyata sang mentari langsung bersembunyi di balik awan mendung. Hadeewww. Kita pun hanya nongkrong2 disitu, memandang orang-orang yang riuh rendah merayakan keberhasilan sampai di pantai.


Pukul 18.00 kita baru lihat ternyata nte Ria bersama nte Effit -- istri om Poetoet -- dengan anak ragilnya, Vio juga di pantai. Mereka foto-foto seru bersama om Tiyo -- punggawa B2W Bandung -- dan yang lain-lainnya. Setelah foto bareng, kita ke hotel Alamanda, tempat kita menginap. Nte Ria langsung ke panggung utama, mengecek persiapan pembagian door prize.

Usai mandi-mandi, pukul delapan malam, aku dan Ranz pun ke panggung utama. Para lelaki heboh ikutan berjoged saat si penyanyi menyanyi, juga rebutan door prize yang dilemparkan ke tengah penonton. Pukul sembilan malam, aku mengajak Ranz keluar mencari makan malam. Usai makan malam, kita balik lagi ke venue, menonton kehebohan para peserta menunggu pengumuman door prize utama, berupa sepeda turing surly seharga Rp. 17.000.000,00 Ih wow!

Acara selesai sekitar pukul 22.30. Aku mengajak nte Ria dan om Dudeng berfoto-foto di tulisan PANGANDARAN SUNSET. Pukul 23.00 om Dudeng pergi entah kemana, aku menemani nte Ria mencari makan malam. Om Chandra yang sempat kita temuin menyarankan seafood berupa 'pindang gunung'. om Poetoet yang sedang membahas sesuatu dengan om Tiyo ikut kita makan tengah malam. lol.


Menjelang pukul setengah satu dinihari kita usai makan, kembali ke penginapan, sikat gigi dan ... tidur. Nah lo. Balik lagi daaah tuh lemak yang sudah sempat kugerus kala bersepeda sejauh 107 kilometer. Hiksss ...

IB 180 08.49 24072018

Selasa, 17 Juli 2018

N O T I C E

INFO (tidak) PENTING

Dear penggemar blog saya yang ini. (euleh! sok top. lol)

Mendadak saya kehilangan antusiasme untuk menulis disini dalam waktu sekian minggu. Izinkanlah saya untuk membuat daftar excuses mengapa :)

1. Awal tahun ini Ibunda saya mulai sakit-sakitan, lumayan sering keluar masuk rumah sakit. Hal ini membuat saya tak lagi kreatif membuat program sepedaan di hari Minggu. Bahkan jika kawan-kawan mengadakan acara, baik NR maupun gomingpai (Gowes Minggu Pagi) a.k.a migoreng (Minggu pagi Gowes Bareng) saya lebih memilih tidak ikut. Saya hanya fokus ke segowangi.

2. Bulan Mei 2018 laptop saya error dan tak bisa diselamatkan. Sempurna! lol. Bagaimana saya mau menulis kisah sepedaan yang masih sempat saya ikuti, kalau tidak ada laptop?

3. Puncaknya adalah bulan Juni tanggal 17, 2018, Ibunda saya wafat. (Bisa dibaca sedikit tulisan saya tentang hal ini di blog saya yang lain.) Maka, meski soul mate saya telah meminjami saya laptop mungilnya, saya tetap tak punya antusiasme untuk menulis serajin tahun-tahun lalu. Belum. Saya masih lebih suka melamun, mendengarkan lagu-lagu Ebiet G. Ade, dan membaca buku. Syukurlah saya tidak kehilangan mood untuk membaca buku.

Semoga saya bisa segera bangkit dari keterpurukan ini. Wish me luck.

IB180 12.57 17072018

Sabtu, 09 Juni 2018

Segowangi 52

Menurut jadual yang seharusnya, segowangi 52 kita selenggarakan pada hari Jumat 25 Mei 2018. Namun karena satu dan lain hal (baca => para gadis pelor sebagai punggawa segowangi memiliki kesibukan masing-masing di luar kota) kita undur pelaksanaannya pada hari Jumat 1 Juni 2018.

1 Juni 2018

Karena kebetulan segowangi 52 dilaksanakan di bulan Ramadan 1439 H, kita memilih NGABUBURIDE sebagai tema. Seperti pelaksanaan segowang, seperti pelaksanaan segowangi 6 (tahun 2014) dan segowangi 17 (tahun 2015) untuk makanan berbuka, kita "potluck", yang datang bawa makanan sendiri-sendiri dengan jumlah yang cukup untuk dibagi dengan yang lain.

Jumat pagi itu 'kebetulan' gunung Merapi meletus, abunya pun dibawa angin hingga ke kota Semarang. Meski di siang hari aku sempat melakukan sesuatu di luar rumah, aku tidak 'ngeh' akan hal ini. Baru sadar ketika sore hari sampai di balaikota, aku melihat tumpukan abu di tempat kita biasa duduk-duduk menunggu yang lain datang. Ealaaahhh ... Dengan alasan takut keberadaan abu ini akan mengganggu kesehatan, banyak teman yang semula akan datang, membatalkan kehadirannya. Mereka tidak berani keluar rumah. :D

Aku dan Ranz sampai di balaikota sebelum pukul 17.00. Orang ketiga yang datang adalah Tayux, yang sekarang resmi menyandang eks ketua KosmseliS, setelah menyerahkan tampuk "kedudukan" pada Riu. :Menjelang pukul 17.30, sudah ada sekitar 10 orang yang datang. Aku mengajak yang lain masuk, mendekati "taman balaikota", dan menggelar mmt sebagai alas kita duduk.

Usai bukber, dan shalat maghrib di mushalla di daerah situ, kita bersih-bersih tempat kita buka bareng, kemudian bersiap-siap untuk mulai gowes bareng. Menjelang pukul 19.00, satu demi satu kawan-kawan yang tidak ikut bukber namun ingin gowes bareng mulai berdatangan.

Sekitar pukul 19.15 kita mulai foto-foto, kemudian persiapan bersepeda. Untuk rute kali ini aku memilih Balaikota - Tugumuda - Jl. Dr. Soetomo - RSUP Dr. Kariadi - Jl. Menteri Supeno - Taman KB - Jl. Pahlawan - Jl. Imam Barjo - Jl. Pleburan - Jl. Singosari - Jl. MT Haryono - Bubakan - Kampung Batik (foto session) - Jl. Agus Salim - Jl. Pemuda - Balaikota.

Semua berjalan lancar, alhamdulillah.

Sampai bertemu di segowangi berikutnya yaaa.

IB 15.00 09062018


Rabu, 23 Mei 2018

Gowes Sejarah 3

Hari Minggu 6 Mei 2018 kita mengadakan Gowes Sejarah yang ketiga. Karena menjelang bulan Ramadan, tema yang kita pilih adalah mengenal sejarah masjid-masjid kuno yang telah ada sejak zaman kolonial Belanda.

5 masjid yang kita sambangi adalah

1. Masjid Taqwa yang ada di kawasan padat penduduk Sekayu
2. Masjid Menara yang kadang juga disebut sebagai Masjid Layur karena terletak di Jalan Layur
3. Masjid Besar Kauman, yang ternyata dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda yang non Muslin sehingga 'soko guru'nya tidak hanya berjumlah empat, namun banyak. lol.
4. Masjid Pekojan
5. Mushalla Wot Prau

Selain mengunjungi kelima masjid itu, Yogi -- kawan dari Lopen, komunitas pecinta Sejarah di kota Semarang -- juga mengajak kita mampir ke beberapa lokasi lain, misal bangunan Land Huis, satu-satunya bangunan peninggalan Belanda yang masih ada, yang dulu dimiliki oleh tuan tanah, terletak di jalan Kelengan Besar.

Saya belum sempat menulis dengan lebih detil untuk event ini. Di bawah ini ada vlog besutan Ranz, as always. :)