Rabu, 20 Juli 2016

SEMARANG VELO GIRLS ON OUR 1st TOUR Day 3

Day 3 15 Juli 2016 Gowes Blusukan Menuju Tebing Breksi

Hari ketiga ini kita tinggal berlima. Hesti gowes balik ke arah Jogja karena dia janjian dengan seorang temannya yang menjemputnya di daerah Janti, sepulang dari Situs Ratu Boko, hari Kamis.

Kepalaku terasa sakit sekali, seperti dipukul-pukul palu. L Entah mengapa. Pagi hari kemarin aku juga merasakan hal yang sama saat bangun pagi di hotel Limaran 2.

Jelang pukul 06.00 Tami dan Dwi pamit untuk berenang. Ranz masih tidur, Avitt tiduran di atas lantai. Dia bilang hawa di kamar terlalu hangat sehingga semalaman dia (dan Dwi) tidur di atas lantai. Aku keluar, duduk-duduk di teras, menunggu sarapan diantar ke kamar. Tidak lama kemudian, tiga porsi nasi goreng hangat yang nikmat plus dua porsi nasi soto datang. Kupanggil Avitt untuk sarapan bareng.







Pukul 08.00 kita semua sudah siap melanjutkan perjalanan. Semua sudah mandi, sudah packing. Setelah check out, kita bersepeda ke arah Utara, ke Candi Plaosan. Candi Plaosan yang juga sering disebut “Candi Cinta” karena konon dibangun untuk tanda cinta pasangan Raja Rakai Pikatan dan sang Permaisuri Pramudya Wardhani merupakan salah satu candi favorit untuk kukunjungi. Auranya berbeda. Atau mungkin hanya perasaanku saja ya? :D




Pukul 09.00 kita meninggalkan Candi Plaosan, kembali bersepeda ke arah Selatan. Sebelum menyeberang jalan, kita mampir dulu di satu toko khusus oleh-oleh. Dwi, Tami, dan Ranz membeli oleh-oleh untuk orang-orang rumah.

Setelah menyeberang jalan, kita menapaki jalan yang sama dengan yang kita lewati kemarin. Namun setelah melewati hamparan sawah di sebelah kiri dan kanan (aku tidak tahu nama daerahnya), kita belok kiri (kemarin belok kanan), dan mulai menapaki tanjakan yang lumayan bikin ngos-ngosan.





Jika sehari sebelum ini kita bersepeda nanjak ke Situs Ratu Boko tanpa dibebani pannier, hari ini plus pannier karena kita telah check out. Pannier yang paling berat jelas yang ada di boncengan Pockie. As usual, Ranz tidak hanya membawa baju dan peralatannya sendiri, baju dan peralatanku ada di pannier yang sama. Hohohoho ... Yang kedua paling berat adalah Avitt. Poliss – demikian nama sepeda lipat yang dinaiki Avitt – yang baru pertama kali diajak mbolang ke luar kota, telah dibebani pannier baru berwarna merah cantik. Pannier yang baru dibeli Avitt dari Tayux, Om Ketua Komselis, ini (eh, belum dibayar ding kayaknya LOL, masih utang, LOL) tanpa isi saja beratnya sudah lumayan. Hohoho ... Pannier milik Tami dan Dwi mungkin sama beratnya, meski modelnya berbeda. Oh ya, hari ini Tami menaiki Kuma, seli milik Asrul, yang dipinjam Hesti. Dengan ban 20” diharapkan Tami akan lebih mudah menapaki tanjakan ketimbang jika dia naik Sunkiss yang ukuran bannya 16”. Hesti balik ke Jogja dengan menaiki Sunkiss. Dwi menaiki selinya sendiri yang diberi nama Oddie. Yang paling ringan bebannya tentu Austin, hanya satu pannier mungil di boncengan, dan satu pannier lebih mungil lagi di setang. :D


Kita sampai di pintu gerbang Abhayagiri resto pukul 10.05. To our disappointment, resto yang lumayan fancy ini belum buka. Ketika aku bilang mau masuk untuk foto-foto, oleh satpam, kita diberitahu tarif untuk foto-foto, “Per jam 500ribu rupiah Bu.” Hadeeeehhh ... LOL. Setelah berdiskusi apakah kita akan nongkrong di depan pintu gerbang Abhayagiri sampai pukul 11.00 (untuk membeli es teh yang “berganti nama menjadi” iced local Java tea dengan harga Rp. 25.000,00 per gelas LOL dengan bonus foto-foto keren) atau lanjut, ternyata anak-anak lebih memilih melanjutkan perjalanan. Baiklah ... bye bye Abhayagiri. See ya next time ...

Kita melanjutkan gowes dengan menempuh trek lanjutan dari resto ini. Buatku dan Ranz ini adalah rute napak tilas bersepeda ke Candi Barong danCandi Ijo, Desember 2013.









Di Candi Barong, setelah memarkirkan sepeda di tempat parkir yang disediakan, kita beli es teh. Setelah cukup puas, kita baru masuk ke kawasan Candi Barong.

Sekitar pukul 11.30 kita melanjutkan perjalanan, dengan siap-siap menghadapi trek naik turun dengan permukaan jalan yang tak begitu bersahabat untuk ban sepeda lipat. Bapak Satpam di Candi Barong memberi “bocoran”, jarak yang harus kita tempuh menuju Tebing Breksi sejauh 4 kilometer. Dari Breksi ke Candi Ijo 1 kilometer.











trek yang baru saja kita lewati, naik sepeda lipat, wow! :D


Trek yang kita lewati tetaplah terasa “menantang” meski tak lagi sesulit saat aku dan Ranz melaluinya akhir Desember 2013. J dan karena kali ini kita berlima, mood Ranz jauh lebih bagus ketimbang saat kita hanya berdua. LOL. (Shhhttt ... saat itu, aku yang ngeyel pingin ke Candi Ijo, Ranz ogah-ogahan. Kali ini, lagi-lagi aku yang ingin ke Tebing Breksi, karena aku ingin di kesempatan mbolang ini, minimal ada satu lokasi baru yang kita – aku dan Ranz – kunjungi. Syukurlah semua menganggap keinginanku ini satu hal yang menyenangkan, satu tantangan yang asyik, meski harus melewati hutan, kadang mlipir dengan pinggiran jurang. Tak satu pun komplen, dalam perjalanan kita terus menerus ketawa ketiwi. Bahkan ketika tahu bahwa kita telah memilih rute yang mengharuskan kita muter lebih jauh, kita hanya tertawa.)




Setelah berjuang kurang lebih selama satu setengah jam, akhirnya kita sampai di “BROWN CANYON KW”. Kekekekeke ... well, sebenarnya Tebing Breksi ini bisa dikatakan tidak jauh berbeda dengan Brown Canyon yang terletak di kawasan Meteseh Semarang, area dengan bekas galian. Namun pemerintah daerah Klaten dengan sigap mengembangkannya menjadi satu lokasi layak kunjung wisata dengan melengkapinya, misal dengan membangun kios untuk makan dan minum, toilet yang memadai dan mushalla. Brown Canyon tetap “seperti itu” sejak pertama kali aku dan Ranz “menyesatkan” diri kesana, tahun 2014.






Kurang lebih kita beristirahat selama satu setengah jam. Pukul 14.30 kita meninggalkan kios untuk makan dan minum untuk bernarsis-ria di “bangunan” bekas galian itu.

Sesuai rencana, pukul 15.00 kita meninggalkan lokasi itu (bye bye Candi Ijo ... next time lagi aja ya jika kita ada waktu ...) dan mulai meluncur turun. “pembalasdendaman” trek menuju Tebing Breksi nih. LOL. Pulangnya kita tidak melewati trek waktu berangkat, kita lewat jalan utama menuju Candi Ijo yang sudah lumayan halus diaspal.

Sesampai Prambanan, kita bersepeda menuju arah Timur, ke arah kota Klaten. Dari Prambanan, kita masih harus bersepeda sejauh kurang lebih 13 kilometer sampai stasiun Klaten.




Dalam perjalanan kita sempat digoda hujan, namun untunglah, rerintik hujan itu hanya sekelebat lewat. Kita berhenti di satu lokasi, memasang “cover bag” (yang berupa tas kresek hitam, LOL) untuk melindungi pannier masing-masing, kecuali Avitt yang memasang “cover bag” yang sesungguhnya untuk melindungi pannier merahnya. Sebelum lanjut gowes, hujan telah lewat. J “Gangguan” berikutnya kita harus mampir ke satu tukang tambal ban, ban Oddie bocor. Untunglah Ranz membawa “spare” ban sehingga kita tidak butuh waktu lama.

Aku sempat tergoda untuk menawari Ranz dan yang lain-lain gowes sampai Solo. :D Namun, eman-eman tiket KA Prameks yang telah dibeli sejak Lebaran. J




Sekitar pukul 16.30 kita sampai stasiun Klaten. Yang pertama kita tuju tentu adalah angkringan, untuk mengisi kerongkongan nan kering dengan es teh yang menyejukkan. J Jelang pukul 18.00 kita masuk stasiun, setelah melipat sepeda masing-masing. KA Prameks yang kita naiki akan masuk stasiun Klaten pukul 18.45. Ternyata KA baru datang pukul 19.00. jika ketika berangkat kita terbagi dalam 3 gerbong, kali ini hanya 2 gerbong, aku berdua Ranz di satu gerbong; Dwi, Tami, dan Avitt di satu gerbong sebelah.

Kita sampai di stasiun Purwosari pukul 19.30 disambut gerimis. Kali ini kita benar-benar harus mengenakan mantel, meski rumah Ranz terletak tak jauh dari stasiun.

Untuk “merayakan” usainya bikepacking kita kali ini, kita mampir ke Wedangan Pak Basuki untuk ngeteh. (nikmatnya teh nasgitel disini tak tertandingi!) Aku, Tami, dan Dwi memesan teh panas, Ranz dan Avitt es teh. Saat kita berada di dalam, hujan turun dengan amat deras, hingga kepulangan kita tertunda sampai pukul 21.30.

Kita berempat – aku, Tami, Dwi, dan Avitt – kembali ke Semarang hari Sabtu pagi, dengan naik KA Kalijaga, yang meninggalkan stasiun Purwosari tepat pukul 05.15. Kita sampai di stasiun Poncol pukul 08.15.

Sampai bertemu di petualangan kita berikutnya yaa?

VIVA VELO GIRLS FROM SEMARANG!


LG 09.20 21/07/2016

SEMARANG VELO GIRLS ON OUR 1st TOUR Day 2

Day 2 14 Juli 2016 SUSUR SELOKAN MATARAM HINGGA KE RATU BOKO

Pukul lima pagi kita memulai kesibukan di hari kedua ini. Sebagian mulai mandi, sebagian sarapan, sebagian masih molor, menunggu kamar mandi kosong. LOL. Sekitar pukul 07.30, kita sudah siap meninggalkan hotel Limaran 2.

di depan hotel Limaran 2

Kita janjian bertemu dengan Radit di bunderan UGM pukul 08.00. Pokoknya, jika kita berada di kawasan dekat bunderan UGM, wajib hukumnya untuk bernarsis ria dengan latar belakang tulisan UNIVERSITAS GADJAHMADA, dan jika cuaca cerah, gunung Merapi di Utara bisa ikut terlihat.



Sebelum mulai menyusuri selokan yang dibangun sejak zaman Kolonial Belanda, Avitt harus membetulkan pedal sepedanya di tukang tambal ban di seberang RS Panti Rapih. Setelah itu, kita kembali masuk kawasan UGM karena salah satu alumninya – aku LOL – ingin berfoto-foto di Gedung Pusat. J


gedung pusat, a.k.a rektorat :D

Setelah meninggalkan kawasan UGM, kita mulai menyusuri Selokan Mataram. Di tahun 2016 ini, bagiku dan Ranz, ini adalah kali kedua kita menapaki jalur yang sama. Yang pertama, bulan Februari, seusai acara ultah JFB.


Radit mengajak kita lewat jalan yang biasanya hanya dilewati pejalan kaki :D





salah satu trek di pinggir Selokan Mataram


Panas mentari terasa cukup menyengat, meski belum terlalu siang. Bisa dipahami ketika kita sampai kawasan Candi Sambisari, yang pertama kita serbu adalah angkringan. J semua pesan es teh, kecuali Radit. Dia memesan teh hangat. Kutengarai, dia tidak minum es. LOL. Barangkali tubuhnya sama “jadul”nya dengan selera musiknya. LOL. (Orang "jadul" biasanya minum hangat, bukan es. LOL.)


tempat kita "ngangkring"

latar belakang : Candi Sambisari

candi utama Sambisari

Kita menyempatkan waktu untuk masuk ke Candi Sambisari setelah “mengademkan” diri. J ga pake lama, yang penting adalah foto-foto untuk dokumentasi bahwa kita masuk ke dalam Candi. J

Usai merasa cukup puas bernarsis-ria di Candi Sambisari, kita kembali menyusuri Selokan Mataram. Tujuan berikutnya adalah Candi Kalasan. Untuk ini, kita “akhirnya” harus meninggalkan Selokan Mataram, kembali ke “peradaban”, Jalan Solo. LOL. Candi Kalasan terletak di sebelah Selatan jalan utama Jogja – Klaten.



candi Kalasan nan megah namun rapuh :(

Kondisi Candi Kalasan yang kurang aman untuk “dipanjat” LOL, membuat kita tidak tinggal lama disana. Kita cukup memandang candi dari jauh. Aku dan Ranz terakhir kesini tahun 2014, aku masih menyempatkan diri masuk kedalam relung candi.

Dari Candi Kalasan, kita menyeberang jalan utama lagi, untuk menyambangi Candi Sari. Bangunan Candi Sari yang dulu adalah asrama untuk para bikkhu mempelajari agama Buddha masih sangat kokoh, jika dibandingkan Candi Kalasan. Kita berenam masuk kedalam candi dan merasakan sejuknya hawa di dalam.
Candi Sari

di "pintu masuk" Candi Sari

Setelah meninggalkan Candi Sari, lagi-lagi kita menyeberang jalan, setelah memarkirkan sepeda di satu tempat parkir yang memang disediakan. Kali ini bukan untuk mengunjungi candi, melainkan menikmati segar dan nikmatnya segelas es dawet! Yuhuuu ... Dawetnya yang halus, bisa langsung masuk kerongkongan, tanpa perlu dikunyah dulu, sehingga buatku untuk menghabiskan segelas es dawet, aku tidak butuh waktu lama. J


masjid unik yang kita lewati

nge-es dawet

Dari warung es dawet, kita langsung menuju hotel Galuh, tempat kita menginap di malam kedua kita “mbolang”. Untuk penginapan ini, Ranz telah booking satu kamar untuk 5 orang (karena waktu merencanakan turing ini, kita hanya berlima, tanpa Hesti). Kamar untuk 5 orang ini, tanpa AC, harga sewanya Rp. 385.000,00, lebih mahal ketimbang hotel Limaran 2.


kamar tempat kita menginap di Hotel Galuh

Kita sampai hotel Galuh pukul 14.00. Setelah istirahat sebentar, pukul 15.00 kita kembali mengayuh pedal sepeda menuju arah Selatan. Tujuan kita sore ini adalah (reruntuhan) Kerajaan Ratu Boko. Jika sepanjang menyusuri Selokan Mataram trek yang kita lewati full datar, kali ini kita harus menapaki tanjakan.



Sekitar pukul 16.00 kita telah sampai di tempat parkir. Atas “usaha” Radit, kita bisa masuk kedalam kawasan wisata ini g-r-a-t-i-s! Ya! Gratis! Lumayaaan. LOL. (Harga tiket masuk Rp. 25.000,00)



Well, mengapa Ratu Boko? Instead of Candi Plaosan yang juga tentunya bagus difoto di saat senja? Shhhttt ... ini gegara para “korban” film AADC2. LOL.








Berhasilkah kita membidik foto sunrise sebagai latar belakang pintu gerbang reruntuhan kerajaan Ratu Boko? Sayangnya, kita gagal mendapatkan apa yang kita inginkan karena sang mentari yang malu-malu bersembunyi di balik awan kelabu. LOL. Apa boleh buat? Ga hanya kita yang “kecele”. LOL buanyaaak pengunjung lain yang juga terpaksa gigit jari. J

Sekitar pukul 18.00 kita meninggalkan kawasan Ratu Boko, kembali ke penginapan.

To be continued.


LG 13.00 20/07/2016