Senin, 22 Mei 2017

Viking Biking : the event!

VIKING BIKING perdana di kota SEMARANG

The D-day

Aku dan Ranz sampai di gubernuran sekitar pukul 04.45. nte Ria, om Bravo, om Poetoet, dan om Nuge sudah sampai disana, mengawasi sepeda-sepeda diset. Sepeda-sepeda ini adalah produk UNITED yang akan digunakan tamu-tamu VIP yang tidak membawa sepeda.

Christiania bikes :)

Sekitar pukul 05.30 mbak Ary mencariku, untuk menyerahkan jersey viking biking, hasil ‘kesaktian’ bu Lia dari Bappeda meminta Bank Jateng untuk mensponsori membuat jersey, untuk diberikan kepada para pesepeda yang datang dengan membawa nama ‘bike to work Semarang’. Berhubung jumlahnya sangat terbatas, kita tidak bisa memberi semua orang. Pada hari itu sendiri, aku mengenakan jersey viking biking hadiah B2W Pusat, jersey yang sama dengan yang dikenakan pak Casper, dubes Denmark. J


sebagian sepeda sponsor United

Sekitar pukul 06.00, pasukan bersepeda diberangkatkan oleh pak gubernur dengan ditandai lambaian bendera. Di baris terdepan ada pak Casper, pak Ganjar, pak Hendi, om Poetoet, dll. Banyak pesepeda yang rebutan ingin sejajar dengan pak Casper dan pak Ganjar, mungkin agar selalu masuk frame jika difoto. LOL.

Rute yang kupilih – setelah pak Ian ESP3 mengatakan pak duber ingin mengunjungi Gereja Blenduk dan Lawangsewu – adalah dari gubernuran kita menuju Simpanglima Jl. Ahmad Yani – Jl. MT Haryono – Bubakan – Kota Lama – Jl. Pemuda – Lawangsewu – Jl. Pandanaran – Taman Pandanaran – Jl. Trilomba Juang – Taman KB – gubernuran.

Meski pak dubes kurang berkenan jika ada voejrider, namun demi kenyamanan tamu negara selama perjalanan, pihak Bappeda tetap bekerjasama dengan polantas, selain dengan dishub dan satpol pp. Voejrider dari polantas yang membuka jalan, ‘pasukan dishub’ dan satpol pp yang sebagian mengenakan jersey VB senantiasa berada di kitaran pak dubes dan pak gubernur.

Barangkali rombongan peserta VB yang jumlahnya ratusan orang itu sedikit mengganggu lalu lintas para orangtua yang sedang mengantar anak-anak berangkat sekolah (sekitar jam 06.00 – 07.00) semoga tidak ada yang nggerundel ya jika para pesepeda ‘hampir’ memenuhi seluruh badan jalan, saat lewat di Jl. MT Haryono.

Sesampai Kota Lama, kita berhenti di Gereja Blenduk; selain berfoto bersama dengan latar belakang Gereja yang kondang ini, pak gubernur juga mengajak pak dubes untuk masuk ke gereja sebentar.

Setelah dirasa cukup, kita melanjutkan perjalanan, tujuan selanjutnya adalah polder Tawang, Kedubes Denmark memang tertarik untuk membantu pengelolaan sampah yang ada di Semarang, selain penanggulangan banjir.

Meninggalkan kawasan Kota Lama, jam menunjukkan lewat dari pukul 07.00. traffic yang biasanya penuh di kawasan Jl. Pemuda karena anak-anak sekolah telah berlalu. Rombongan pesepeda lancar melewati Jl. Pemuda, hingga sampai Lawangsewu. Pihak pengelola Lawangsewu telah mendapatkan kabar bahwa pak gubernur akan mampir membawa tamu negara, maka pagi itu, kita bisa masuk ke halaman depan gedung peninggalan Belanda. Disini, selain berfoto-foto, banyak insan pers yang menggunakan kesempatan ini untuk mewawancarai pak gubernur dan pak dubes.

Dari Lawangsewu, kita belok ke arah Jl. Pandanaran. Rombongan masuk gerbang belakang gubernuran menjelang pukul 07.30, tepat seperti prakiraanku. Sebagian peserta ada yang langsung cabut untuk berangkat ke kantor masing-masing, ada yang tetap stay untuk menikmati kudapan yang disediakan oleh pihak umum pemprov.

Dan pihak-pihak yang sibuk mempersiapkan ini itu pun lega karena acara telah terselenggara dengan lancar dan sukses. Alhamdulillah.

Siap-siap saja jika pak Casper ingin mengulang kesuksesan VB di Semarang tahun depan. J


LG 11.11 23052017







































Viking Biking - pre event

VIKING BIKING perdana di kota SEMARANG

Intro

Sebenarnya selentingan bahwa Viking Biking akan diselenggarakan di kota Semarang sudah terdengar sejak sekitar bulan Maret – April 2016. Entah apa yang menjadi kendala, akhirnya Viking Biking terselenggara juga di kota Semarang, pada tanggal 17 Mei 2017.

Selama ini, VB diselenggarakan di kota Jakarta, pihak kedutaan besar 3 negara-negara Skandinavia (Denmark, Swedia, Norwegia) menggandeng Bike 2 Work Indonesia untuk penyelenggaraannya. Pemilihan partner yang tepat karena seperti yang kita tahu bahwa B2W Indonesia bukan hanya sekedar kumpulan orang-orang pehobi sepeda, namun mereka adalah orang-orang yang concerned untuk mengkampanyekan penggunaan sepeda sebagai moda transportasi dalam kehidupan sehari-hari. Sepeda bukan melulu alat olahraga yang digunakan di akhir pekan; namun sepeda adalah moda transportasi yang paling ramah lingkungan, dan sangat mendukung mobilitas pengguna tatkala berada di lingkungan yang terkenal macet. Bagiku pribadi, sepeda adalah alat transportasi yang sangat fleksibel, aku bisa sekaligus berolahraga ketika berangkat bekerja. J

Akhir Maret 2017 tante Ria Serbeje – partner terpercaya om Toto B2W dan om Poetoet B2W – membuat grup WA untuk mulai mengkomunikasikan penyelenggaraan VB di kota Semarang. Selain kita berempat, ada mbak Ary, mas Inung dan pak Ian dari ESP3 yang berkedudukan di Semarang; ada om Nuge, sang seniman yang karya posternya sering dipilih pak Casper, dubes Denmark, untuk kampanya event; juga ada beberapa orang dari Kedubes Denmark.

Semula kita rencanakan VB Semarang diselenggarakan pada hari Jumat 19 Mei 2017. VB memang selalu dilaksanakan pada hari kerja karena memang tujuannya adalah mengkampanyekan penggunaan sepeda untuk berangkat ke kantor. Namun karena ternyata pada tanggal itu pak gubernur Ganjar Pranowo sudah menjadwalkan satu agenda penting, VB kita ajukan pada hari Rabu 17 Mei 2017.

Sempat dua kali aku diundang rapat ke kantor ESP3 untuk membahas hal ini. Yang pertama, aku ditemani Dwi dan Tami. Yang kedua, hanya Dwi yang menemaniku karena kebetulan pas tanggal itu Tami wisuda. Setelah itu, kita rapat bersama beberapa pihak yang pasti akan terlibat dalam pelaksanaan VB, yakni pihak dishub, satpol pp, protokoler pemprov, kominfo, bagian umum pemprov, selain pihak ESP 3, B2W Semarang, dan Bappeda. Waktu rapat yang pertama di kantor Bappeda, aku ditemani Dwi, Tami, dan Avitt. Rapat yang kedua – rapat pamungkas – aku ditemani Ranz.


Satu hari sebelum penyelenggaraan VB, nte Ria, om Poetoet, dan om Nuge sudah datang ke Semarang. Mereka sempat mampir ke kantor ESP3 untuk persiapan terakhir bersama mbak Ary, mas Inung, dan pak Ian. Saat ini, aku sedang sibuk di kantor, sembari menunggu Ranz hadir di Semarang. Untunglah VB diselenggarakan pada hari Rabu 17 Mei 2017, Ranz bisa datang. Jika tetap tanggal 19 Mei, dia ga akan bisa datang; ada acara keluarga yang maha penting pada tanggal itu. J

Malam menjelang VB, aku, Ranz, nte Ria, om Poetoet dan om Nuge kumpul di hotel tempat mereka menginap untuk membahas hal-hal yang perlu kita bahas. J

Alhamdulillah VB di kota Semarang terselenggara dengan sukses. Ratusan orang datang untuk menyemarakkan suasana. Pak Casper terlihat sangat bahagia. “This is the biggest crowd ever. I am very happy. Personally, I thank you very much.” Katanya langsung kepadaku. Semoga, di antara sekian ratus orang yang datang, mereka bakal tergerak hati untuk menggunakan sepeda sebagai moda transportasi dalam kehidupan sehari-hari. J


LG 09.00 23052017

Sabtu, 20 Mei 2017

Gowes Minggu Pagi: Serius tapi P$antai

GOMINGPAI : SERIUS TAPI P$ANTAI

Keinginan Ranz untuk dolan ke pantai, disambut oleh Tayux, paketu Komselis. Maka begitulah, gowes kita di Minggu pagi 14 Mei 2017 lumayan ramai. Taman Pandanaran dipilih sebagai titik kumpul karena lokasinya yang cukup di “tengah” kota.


Minggu pagi itu aku sampai TamPand sekitar pukul 06.35. Dari “Semarang Velogirls” sudah ada Avitt, Tami, dan Dwi. (aiiihhh ... tumben, Dwi gasik! LOL.) selain mereka bertiga, ada 3 perempuan lain yang sudah siap di lokasi, Da Ningrum direktur “dakukis” sekaligus “pensiunan” Srikandi (katanya sendiri LOL), Lulu, mbak dokter yang sedang mengambil spesialis THT, dan Hemas, sobat Avitt, yang sedang mengejar impian menjadi notaris di UGM, Jogja. Ranz kemana? Tumben dia terlambat! LOL. Dia baru nongol ketika kita sudah siap meninggalkan lokasi, seusai berfoto dan berdoa bersama. Avitt yang membawa kamera kakaknya untuk mendokumentasikan sepedaan kali ini langsung menyerahkan kameranya kepada Ranz, yang ternyata masih setengah tidur, setengah bermimpi. LOL.

Owh ya, ada satu pesepeda perempuan lagi yang muncul, Iin, didampingi Yan. Mereka nampak santai, mengenakan kaos lengan pendek. Berani tampil belang, In? Wkwkwkwkwk ...




Meninggalkan TamPand, kita langsung menuju arah Barat, ke Kalibanteng. Perjalanan lancar, ada 2 kawan lagi yang bergabung di perjalanan; Tedjohn boss-nya Diorama, dan Pratama Ilham sang “bolap” a.k.a bocah pembalap. LOL. Dari Kalibanteng, kita masih lurus ke Barat, melewati Kerkop, dan berhenti di traffic light, seberang SAMSAT. Setelah lampu berwarna hijau, kita menyeberang, menuju perumahan Graha Padma, perumahan elit kawasan Krapyak. (dekade lapanpuluhan dulu, perumnas Krapyak adalah perumahan untuk rakyat jelata. J) Ya ... kita akan menuju pantai Tirang.

Dalam satu postingannya di instagram, Dwi bilang pantai Tirang adalah pantai favoritnya yang terletak di deretan pantai kota Semarang. Memang harus diakui, pantai Tirang memiliki titik-titik cantik untuk dibidik dengan kamera. Tapi, harus jeli dalam memilih spot yang tepat.

Menuju pantai Tirang, kita masuk ke kawasan perumahan Graha Padma. Bertemu bunderan pertama, kita masih lurus, di perempatan berikutnya, kita belok kiri. Ikuti jalan sampai melewati jembatan, kita bisa langsung belok kanan dan menyusuri jalan di pinggir sungai hingga mentok, dimana sebelah kanan ada jembatan kecil. Kita belok kanan, menyeberangi jembatan itu, kemudian belok kiri, lurus hingga pantai.

Namun, kita tidak melewati jalan itu. Avitt yang memimpin di depan berbisik kepadaku, “Kita kerjain mereka yuk Miss? Kita ajakin lewat trek sempit di ujung sana?” Mengingat single track disitu lumayan asik spotnya untuk berfoto-foto, aku setuju. J  Maka, setelah melewati jembatan yang kusebut di paragraf sebelum ini, kita masih lurus. (ssshhttt ... sekian bulan lalu aku pernah lewat single track ini, sendirian, lihat seekor ular lewat lho! Hiiiii ... untung pas di depanku, ga terlindas ban Austin. Wedew.)







Setelah melewati single track, dan tak lupa bergaya di depan kamera, LOL, menyeberangi jembatan (yang hanya bisa dilewati sepeda/motor/orang jalan kaki), sampailah kita ke trek offroad. Syukurlah hari-hari sebelum tanggal 14 Mei itu cuaca sering panas. Jumat malam sempat hujan lebat, tapi hari Sabtu cuaca panas sepanjang hari, sehingga trek offroad yang kita lewati tidak terlalu berlumpur. Satu hal yang pasti, ‘path’ yang kita lewati kian sempit, dibandingkan pertama kali aku kesana. (setahun yang lalu? Dua tahun yang lalu? Lupa.)









Pantai Tirang memang tidak seramai pantai Maron, meski lokasinya “hanya” berseberangan. Namun ketiadaan jembatan yang bisa dilewati mobil, plus ‘path’ yang sempit sehingga mobil tidak akan bisa lewat, bisa menjadi alasan yang kuat mengapa pantai ini tidak ramai. Kebetulan hari itu ada event yang diselenggarakan disana, yakni penanaman mangrove, itu sebabnya dalam perjalanan kita cukup sering berpapasan dengan orang.










Aku lupa jam berapa rombongan kita sampai di pantai, kemudian mencari spot untuk berfoto-ria. Yang pasti, cuaca sudah cukup panas, bakal mudah ‘membelangkan’ kulit. LOL. Itu sebab kita tidak tinggal lama disana.

Pulangnya, Avitt kembali memimpin jalan, dia tahu jalan yang langsung menuju perumnas Krapyak, ada yang ingin sarapan nasi pecel. Namun ternyata sesampai sana, si penjual baru siap-siap membuka warung. Kita lanjutkan mengayuh pedal, hingga kita bertemu dengan warung soto. Ya sudah, kita sarapan nasi soto saja. Dalam kondisi kelaparan, apa pun enak dimakan kok. J






Usai sarapan, sebagian dari kita memutuskan untuk loading, pesan ‘grab’; Lulu sih ban belakangnya mendadak meletus; yang lain mungkin khawatir pasangan hidupnya tak lagi mengenali mereka karena mendadak berkulit eksotis. LOL.

Sampai bertemu di kisah sepedaan lain. J

IB 13.13 20/05/2017