Senin, 21 November 2016

Minggu Pagi Nanjak Sigar Bencah


Bahwasanya (tanjakan) Sigar Bencah terletak lumayan jauh dari tempat tinggalku, ini adalah alasan utama aku dan Ranz super jarang menyambanginya. J Entah mengapa kali ini Ranz mengiyakan keinginanku mencoba tanjakan yang konon lumayan menjadi momok bagi newbie, bukan karena curamnya, namun lebih karena tanjakan ini panjang meliuk dan penuh tipuan. LOL.



Hari Minggu 20 November 2016, kita berempat – aku, Ranz, Avitt dan Edy Wi – meninggalkan tikum – Lawangsewu pukul 07.00. aku dan Ranz tetap menaiki sepeda lipat kita, Austin dan Pockie, sedangkat Avit naik Ch3lo, sepeda balapnya, dan Edy naik sepeda yang bisa dia bawa turing. Kita mengambil rute Jalan Pandanaran – Simpanglima – Jalan Ahmad Yani – Jalan MT Haryono – Sompok – Pandean Lamper – Jalan Mrican. Kita sempat berhenti di ‘puncak’ tanjakan Kedungmundu karena rem Pockie bermasalah. Edy mencoba membetulkan rem Pockie.

soto bermangkuk gerabah
ujung jalan menuju Sigar Bencah yang rusak :(

Selepas pom bensin Kedungmundu, kita belok kanan ke arah Sambiroto. Di perempatan, kita belok kiri menuju Meteseh. Di ujung pasar Meteseh – jalannya sedang diperbaiki ternyata – kita berhenti untuk sarapan soto yang mangkoknya menggunakan bahan gerabah. Kita sampai disini pukul 08.00. :D

Usai sarapan, kita melanjutkan perjalanan. Sungguh di luar dugaan ternyata ujung jalan menuju Sigar Bencah itu sedang sangat amat buruk, berlumpur dan ada kubangan air disana sini sementara di pinggir jalan ada tumpukan material. Wew. Pasti licin dan jika sampai tak mampu menjaga keseimbangan tubuh, ampun dah, bakal jatuh ke kubangan lumpur. LOL.

Avitt di 'puncak' tanjakan Kedungmundu



Sekitar 2 tahun lalu aku dan Ranz pernah juga mencoba tanjakan Sigar Bencah ini, namun seingat kita jalannya baik-baik saja. Kita sudah lupa lewat jalan ini atau lewat jalan yang melewati perumahan Citra Grand. Dan ... ternyata aku juga lupa menuliskannya di blog. Perfecto! LOL. Waktu itu aku juga naik Austin, sedangkan Ranz naik Feby – sepeda BMX-nya, sebelum menjelma Hero. J

Ada dua alasan mengapa aku perlu berhenti di tengah tanjakan sekali. Pertama, agar aku tak terlalu meninggalkan Ranz yang ‘membimbing’ Avitt di awal-awal tanjakan Sigar Bencah. Kedua, tentu agar bisa memotret mereka menapaki tanjakan yang di bagian itu cukup curam. (heleh, aku lupa, ternyata ada ya beberapa bagian tanjakan Sigar Bencah yang lumayan curam? Kekekekekeke ...)

ini lucu yaaaa :D




Setelah melewati tanjakan Sigar Bencah, sampailah kita di kawasan Tembalang. Avitt mengajak kita mampir ke kampusnya, untuk ... mendokumentasikan keberadaannya di kawasan kampus bersama Ch3lo, sebagai bukti bahwa dia telah bike to campus. J

Siang itu sinar mentar cukup terik. Selepas meninggalkan kawasan kampus Tembalang, kita mencari satu warung tempat kita bisa membeli minuman segar. Untunglah kita melewati satu warung burjo! Kita pun mampir untuk membeli minuman.


Dari sana kita langsung turun menuju kawasan Tugumuda. Aku dan Edy langsung pulang, sedangkan Ranz dan Avitt mampir mbakso di Taman Gajahmungkur. (Aku harus buru-buru pulang karena sesuatu jadi ga bisa ikutan mampir mbakso.)

Next time, nyoba tanjakan Sigar Bencah naik Cleopatra ah. :D kali ini aku naik Austin karena semula Avitt bilang dia mau naik Polis, sepeda lipatnya. Ternyata, eh, ternyata dia naik sepeda balapnya. :D Avitt harus sering-sering latihan nanjak nih karena Ch3lo yang ringan belum begitu membantunya melibas tanjakan.


LG 13.17 21 November 2016 

Bike to Campus Tembalang

Bike to Campus Tembalang

Setelah beberapa bulan lalu, aku dan Ranz menemani Dwi melaksanakan ‘nadzar’nya untuk bersepeda ke kampusnya di Sekaran, di kisah ini, aku dan Ranz – bersama Dwi – menemani Tami ke kampusnya yang terletak di Tembalang.




Kita meninggalkan tikum – di ujung jalan masuk Bergota di Jalan Dr. Sutomo – sekitar pukul 07.00, menuju Jalan S. Parman. Aku naik Austin, Ranz naik Pockie, sedangkan Tami naik Siput dan Dwi naik Orenj. “Hidden agenda” dari Dwi adalah apakah dia bisa melewati tanjakan Gombel tanpa perlu “jack pot”. LOL. Ini karena dua kali nanjak Gombel, Dwi selalu “jack pot”; padahal hal ini tidak terjadi padanya saat nanjak menuju Sekaran, BSB, maupun Waduk Jatibarang. Dan ... kali ini, akhirnya Dwi pun bisa melampaui Gombel tanpa keluhan “jack pot”. Yeaaaaaaay.




Sesampai kawasan Tembalang, kita langsung menuju kampus Tami, menunggunya melakukan beberapa hal yang diperlukan untuk mendaftar ujian skripsi. (Dia akan segera menyusul Dwi yang telah ujian skripsi akhir Agustus lalu, dan Ranz yang ujian tesis bulan Oktober lalu. Tinggal Avitt nih yang belum kelar skripsinya. J ) Setelah kelar, saatnya mencari sarapan, karena aku telah kelaparan. LOL.

Rencana mau beli ayam geprek tertunda sementara karena warungnya belum buka. Sementara menunggu, kita bergeser ke warung ‘ketoprak’. Disini kita memesan satu porsi ‘ketoprak’ dan empat gelas es teh. :D Lumayan lama juga kita menunggu ketoprak-nya siap dihidangkan. Untunglah setelah datang, rasa bumbunya lumayan enak.






Dari warung ‘ketoprak’, kita kembali ke warung ‘ayam geprek’, kita bungkus pesanan kita. Dari sana, kita menuju waduk UNDIP untuk bernarsis-ria dan ... piknik di satu gazebo yang ada. J

Aku dan Ranz meninggalkan lokasi itu pukul 11.30 karena aku harus menghadiri satu rapat penting di kantor pukul 13.00, sementara Dwi dan Tami masih tinggal, menikmati suasana yang lumayan hening.


LG 12.36 21 November 2016 

B2W SEMARANG DI PESTA SEJUTA BUKU SEMARANG

B2W SEMARANG DI PESTA SEJUTA BUKU SEMARANG

Setelah mengudara di radio GajahmadaFM untuk memperbincangkan tentang “Semarang Velo Girls”, kita unjuk narsis kembali di hari Minggu 13 November 2016. Kali ini kita diundang oleh panitia pameran buku untuk mengisi salah satu booth yang mereka sediakan di venue mereka, yakni di Gedung Wanita Jalan Sriwijaya.


Ini adalah kali pertama kita mengisi acara di pameran buku, yang biasa dilaksanakan dari waktu ke waktu. Kebetulan sekali kita diundang pada hari Minggu – bukan pada hari kerja – sehingga tak sulit untuk “mencari orang” untuk menjaga booth. Kita berlima hadir di lokasi – aku, Ranz, Tami, Dwi, dan Avitt – ditemani oleh Edy Wi. Hesti yang masih jetlag gegara baru pulang dari Blitar meminta ijin untuk tidak bisa ikut.

Sekitar pukul 09.25 kita sampai di lokasi. Kita langsung disambut oleh Adelia – salah satu panitia pameran buku – dan kita diajak ke booth yang telah disediakan untuk kita. Karena kita dilarang berjualan merchandise atau apa pun juga, kita hanya memajang beberapa merchandise (sisa) yang masih kita punya : kaos, jersey, biketag, pin, sticker, dan topi segowangi.



Pameran dibuka untuk umum sekitar pukul 09.00 pagi itu. Ketika kita sampai disana, suasana sudah cukup ramai. Pada pukul 10.00 – 12.00 panitia mengadakan lomba mewarnai untuk anak-anak TK. Setelah itu, untuk anak-anak SD, panitia mengadakan lomba menggambar pada pukul 12.30 – 14.30.

Sembari memberi kesempatan pada para peserta untuk menyelesaikan karyanya, seorang MC mewawancarai para “undangan” yang mengisi booth-booth yang ada. Yang pertama diwawancarai adalah “Gerobak Batja” yang didirikan oleh alumni SMA 3 Semarang angkatan tahun 1999, kelas 3IPA1, kalau tidak salah ingat. LOL.



B2W Semarang mendapatkan kesempatan yang kedua. Kita diwawancarai tentang kapan B2W Semarang dibentuk, selama ini kegiatan apa saja yang telah kita laksanakan, apa harapan B2W Semarang di masa datang, dlsb. Secara ringkas kita – saya LOL – ceritakan bagaimana B2W Semarang terbentuk di 26 Juni 2008, kemudian kegiatan apa saja yang telah kita laksanakan – mengenalkan pada masyarakat bahwa sepeda bukan hanya merupakan alat olahraga, namun juga merupakan moda transportasi yang ramah lingkungan, ini yang utama, mendesak pemerintah kota Semarang untuk menyediakan lajur sepeda di tahun 2010 dan direalisasikan di penghujung akhir tahun 2011, dll, hingga yang “terkini” yakni mengadakan kampanye bersepeda sebulan sekali dalam bentuk “segowangi” alias Semarang Gowes Jemuwah Bengi, mengadakan event Gowes Kartini untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa kaum perempuan pun mampu bersepeda jarak jauh, hingga menjadi marshall dalam event funbike.



Harapan kita tentu saja bahwa semakin banyak orang yang beralih ke sepeda sebagai moda transportasi utama dalam hidup mereka demi menciptakan lingkungan yang jauh lebih ramah untuk semua, sekaligus membantu pemerintah menghemat bahan bakar minyak.

Terima kasih pada panitia pameran buku yang telah memberi kesempatan pada B2W Semarang untuk berpromosi. Terima kasih pada para teman pesepeda yang telah menyambangi booth kami. Terima kasih para “Semarang Velo Girls” yang senantiasa hadir saat dibutuhkan. J
Sampai ketemu di event promosi berikutnya. J


LG 11.51 21 November 2016 



Jumat, 11 November 2016

Semarang Velo Girls di Gajahmada FM

Hari Jumat 11 November 2016, kita -- Semarang Velo Girls -- mendapatkan kehormatan untuk mengisi acara sharedotcom di radio Gajahmada FM. Berhubung Hesti sedang keluar kota, hanya lima perempuan yang hadir di stasiun radio yang terletak di Jalan MT Haryono no. 161 Semarang. (Awet amat yak, sejak lebih empat puluh tahun yang lalu radio kesayangan remaja (beberapa dekade lalu) tetap beralamat yang sama. :) ) Aku, Ranz, dan Tami hadir di lokasi dengan naik sepeda, sedangkan Avitt dan Dwi berboncengan naik motor. (Alasan : cuaca yang labil -- hujan ... terang ... gerimis ... terang ... hujan ... dst plus rumah Avitt yang paling jauh di ujung Barat di antara kita semua. Dwi membonceng Avitt agar Avitt tidak kesasar. LOL.)

Meski sebelum ini B2W Semarang telah mendapatkan kesempatan untuk berbincang-bincang di beberapa radio di kota Semarang, ini adalah kali pertama kita diwawancara tentang Semarang Velo Girls. Yup, berhubung baru tahun ini juga kita -- secara tak sengaja -- mendeklarasikan diri sebagai Semarang Velo Girls. :)



Sofi -- sang penyiar sekaligus pewawancara -- bertanya mulai kapan B2W Semarang berdiri dan sedikit sejarah bagaimana B2W Semarang terbentuk. Pertanyaan lain yang berhubungan dengan 'bike to work' adalah berapa jumlah anggota B2W Semarang setelah terbentuk di tahun 2008. Jawabanku -- semoga bisa memberi gambaran yang 'sesungguhnya' pada khalayak ramai -- bahwa 'bike to work' adalah gerakan moral, untuk menggerakkan masyarakat bahwa yang penting dari berdirinya 'organisasi' bike to work di Jakarta maupun kota-kota lain adalah untuk memberi contoh bahwa sepeda tak hanya bisa digunakan untuk berolahraga, namun yang lebih penting lagi adalah menyadarkan masyarakat bahwa sepeda adalah satu-satunya moda transportasi yang paling ramah pada lingkungan, mengurangi polusi, membantu pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada BBM, sekaligus menyehatkan masyarakat. Bukan hanya sekedar memiliki jumlah anggota yang fantastis, namun kegiatan mereka bersepeda tidak mengurangi penggunaan moda transportasi yang menggunakan BBM sehingga menyebabkan polusi.




Pertanyaan Sofi lain lebih mengacu ke kegiataan sepedaan para anggota Semarang Velo Girls. Berhubung kegiatan kita belum banyak, ya kita menyebut sepedaan kita ke Jogja bulan Juli lalu, selain kisah mbolangku dan Ranz ke Bali dan Lombok. :)

Setelah berbincang tentang kesukaaan saat sepedaan, kita berbincang tentang dukanya. :) Lelah, tentu itu adalah bagian dari kegiatan sepedaan, namun tentu ini bukanlah cerita duka. :) yang membuat kita prihatin adalah kearoganan para pengendara kendaraan bermotor, terutama yang ukurannya besar, seperti truck.



Mengenai harapan ... aku menyebut tentang keinginanku melihat anak-anak sekolah berangkat sekolah naik sepeda. Jika bisa, kian banyak orangtua yang merasa bertanggungjawab atas keselamatan anak-anak mereka -- sekaligus pengguna jalan umumnya -- agar tak membelikan atau membolehkan anak-anak mereka naik kendaraan bermotor di usia yang belum layak mendapatkan SIM.

Tanpa terasa satu jam berlalu dengan cepat. Pukul 20.00 kita mengakhiri kegiatan tanya jawab itu, dan kita mengundurkan diri. Terima kasih kami haturkan pada Sofi, sang penyiar, juga pada para kawan-kawan yang telah mendengarkan acara kita, yang telah mengirim sms/wa, plus yang telah merekam acara ini. Special thanks buat Tayux yang telah menjembatani kita dengan Sofi dari Gajahmada FM. :)

Sampai bertemu lagi di acara serupa di masa yang akan datang. Ciao.

IB 09.20 12112016





Selasa, 08 November 2016

Gowes ke Alaska

Hari Minggu 6 November, aku bersama Ranz, Tami dan Dwi -- ditemani Edy -- gowes nanjak lagi. Shhhttt ... kita sedang rajin latihan nanjak. Hihihihi ...

Seperti seminggu sebelumnya, kita berkumpul di depan Museum Mandala Bhakti, sekitar pukul 06.30. Kita meninggalkan lokasi kumpul sekitar pukul 07.00. Kali ini kita menuju arah Barat, Jalan Sugiyopranoto, lurus ke Jalan Jendral Sudirman hingga Kalibanteng. Selepas Kalibanteng, kita mampir ke satu minimarket karena Dwi yang masih mengantuk butuh doping kopi. :)

(Nyepeda baru 3 kilometer sudah beristirahat kita. hihihihi ...)

Entah pukul berapa kita melanjutkan gowes. Kita terus ke arah Barat hingga perempatan pasar Jrakah, kita belok kiri. Jika semula kita merencanakan akan sarapan sebelum nanjak Silayur a.k.a Esperanza, kita ga jadi karena ternyata perut masih lumayan penuh. (Bagiku pribadi, secangkir cappuccino yang kuminum tadi cukup nendang. :) )

Selepas tanjakan Esperanza yang cukup panjang hingga cukup melelahkan itu, kita mlipir ke pombensin untuk mampir ke toiletnya, plus beli minuman di minimarket yang ada.

Dari pombensin kita menuju danau BSB. Namun, ternyata ada ada warning bahwa danau bukan untuk umum. Dan teman-teman ga ada yang ingin 'melanggar' larangan itu. Hihihi ... Ya sudah, akhirnya kuajak teman-teman ke arah 'desa' Wonolopo. Aku suka jalan itu, ga terlalu lebar memang, namun kiri kanan yang berupa hutan sangat meneduhkan. :)

Sesampai ujung dimana ada bangunan sekolah SMK, kita belok kiri. Kita mengikuti jalan itu, hingga bertemu dengan ... alas karet, yang ternyata kita berada di balik kawasan BSB. Heleh. LOL.


Mengingat kita belum sarapan, begitu melihat ada seseorang yang membuka warung, kita langsung mampir! Lokasinya tepat di alas karet yang hehijauannya sangat sejuk dipandang. :) Si Ibu jualan macam-macam, ada bakso, mie ayam, gorengan, dll. :) Dan dia menyediakan alas dimana kita bisa duduk santai. :)

Pulangnya kita mampir ke rumah Avitt yang tidak dibolehkan Bundanya untuk ikut karena luka di punggugnya baru sembuh.

Next, kemana ya kitaaa? :))

IB 20.38 08112016

N.B.:
Ranz belum upload foto-foto. Tunggu yaaa :)

Minggu, 30 Oktober 2016

Pitnik akhir pekan ke Waduk Jatibarang



Telah cukup lama juga kita ga gowes bareng di hari Minggu. :D Akhirnya kesempatan itu datang lagi, tanggal 30 Oktober 2016. Yeayyyy. Kali ini, kita menuju arah Selatan, ke arah Gunung Pati.

Karena Tami sedang keluar kota, sedangkan Avitt mengaku kurang enak badan, maka anggota “Semarang Velo Girls” yang tayang kali ini hanya berempat. J Kita berempat ditemani Om Dije dan Edy Wi.



Setelah persiapan ini itu – itu ini, kita meninggalkan titik kumpul – depan Museum Mandala Bhakti – pukul 7 pagi. Kita menyusuri Jalan HOS Cokroaminoto, kemudian masuk di satu gang sempit, menuju Jalan Suyudono. Dari Suyudono kita melipir ke arah Bendungan, menuju Jalan Kelud. Di ujung jalan Kelud – sebrang taman Sampangan – kita berhenti untuk sarapan. Dwi rupanya telah “diwanti-wanti” oleh Tami untuk sarapan dulu, untuk menyimpan tenaga jelang tapaki tanjakan. J

Pukul 07.45 kita meninggalkan tempat kita sarapan soto. Menuju arah “Kretek Wesi” a.k.a jembatan besi yang menuju Sekaran. Kali ini kita tidak lurus ke arah Selatan, kita belok kanan ke Jl. Dewi Sartika, yang kemudian nembus ke kawasan Kalipancur. Kita mampir dulu di satu mini market untuk membeli bekal.





Tanjakan yang lumayan “killing” selepas perumahan Grand Greenwood ternyata dilewati dengan baik oleh Dwi dan Hesti yang baru kali ini melewati rute ini. Hebaaaat mereka!

Yang membuat perjalanan kita kali ini tersendat adalah pembangunan sebagian ruas jalan yang kita lewati. Pembetonan jalan ini memaksa pemakai jalan dari dua arah yang berlawanan bergantian menggunakan jalan. Kita harus berhenti sekian puluh menit untuk memberi kesempatan pemakai jalan dari arah yang berlawanan untuk melaju, hingga saat kita bergantian menggunakan jalan tiba.




Akhirnya kita sampai juga di gapura berwarna biru yang bertuliskan WADUK SERBAGUNA JATIBARANG.

Meski semula kita bertujuan gowes ke Goa Kreo, kenyataannya kita tidak jadi ke arah Goa Kreo. J dari gapura Waduk Jatibarang, kita menuruni jalan yang ada disitu, sampai bertemu pintu gerbang “Selamat Datang di Waduk Jatibarang” namun pintunya tertutup itu. Dari situ, kita belok ke arah kiri, tempat orang-orang yang ingin naik perahu / speed boat mengelilingi waduk.







Siang itu hawa panas sekali, hingga begitu menemukan satu warung, kita semua menikmati es teh, eh, kecuali Om Dije, yang ternyata lebih memilih teh panas. Aku sendiri habis es teh dua gelas. LOL. Yuhuuuu. LOL. Selain es teh satu gelas, Edy juga memesan segelas kopi hitam. Yang lain, cukup es teh satu gelas.

Dari warung itu, kita meluncur turun, mendekati lokasi tempat untuk naik perahu. Setelah memilih lokasi yang enak buat nongkrong, kita pun menggelar mmt, dan menikmati bekal yang kita bawa. J foto-fiti juga dong. J

Kita “terpaksa” meninggalkan lokasi itu sekitar pukul 12.00 karena Dwi harus buru-buru pulang, tugas negara untuk turut serta mencerdaskan kehidupan generasi penerus lah penyebabnya. :D

Sampai jumpa di kisah kita gowes bareng selanjutnya! J


LG 12.49 31/10/2016