Rabu, 25 Mei 2016

Oleh-oleh dari Perjalanan ke Jogja

Repost dari link ini. Foto-foto telah menghilang dikarenakan link ini pun berupa 'import dari multiply.com yang telah almarhum sejak tahun 2012. Jika ketemu foto-foto lama di event ini, akan ku-repost juga tentu. :)

Akhirnya impianku untuk nggowes di Jogja (lagi) pun kesampaian! It is so hilariously exciting!

(special thanks buat Cipluk yang telah ngompori aku untuk ikut menghadiri ‘gathering’ korwil b2w DIY dan Jateng)

Sabtu 15 Januari 2011

Menjelang pukul 06.00 pagi aku telah sampai di stasiun Pontjol dengan mengendarai ‘Snow White’ (nama yang ‘diberikan’ oleh Cipluk untuk ‘seli’ yang dibelikan oleh kakak laki-lakiku satu-satunya untuk adik-adiknya plus keponakannya yang semua perempuan). Sesampai di loket penjualan karcis, Wahyu memanggil namaku. Ah ... aku langsung merasa lega tatkala mendapati dua makhluk yang tak asing lagi – Wahyu dan Riu – di dekatku, plus aku yakin tentu mereka memiliki tujuan yang sama: JOGJA.

Namun ternyata aku tidak jadi berangkat ke Jogja bersama mereka berdua: mereka ditolak menaiki kereta Banyubiru karena mereka membawa ‘fixie’ dan bukan seli. :( untung tak lama kemudian Cipluk datang dan langsung menemukanku duduk di sebuah gerbong. (FYI, bagi yang masih asing dengan kereta api Banyubiru, para penumpang bebas mau duduk di mana karena di karcis tidak tertera nomor tempat duduk. Tempat duduk berupa ‘bangku’ panjang di sebelah kiri dan kanan, saling berhadapan. Di tengah berupa ‘space’ tempat orang berjalan lalu lalang. Aku bisa bebas ‘mendudukkan’ Snow White tepat di depanku.)

dalam gerbong kereta Banyubiru

Ini adalah pengalaman pertama bagiku berangkat ke Jogja naik kereta api. Zaman kuliah di UGM dulu selalu aku naik bus untuk pulang pergi. Kereta berhenti di beberapa stasiun yang bernama asing bagiku; misal ‘Gambringan’, ‘Salem’ (wah, langsung teringat nama kota di novel ‘Scarlet Letter’ gubahan Nathaniel Hawthorne) dll. Sama sekali tidak memberiku gambaran kereta sampai di kota mana. (Bandingkan dengan jika naik bus keSolo, dari Semarang kita akan melewati Ungaran, Salatiga, Boyolali, Kartasura.)

Di tiap stasiun tempat kereta berhenti untuk menaikkan maupun menurunkan penumpang, banyak perempuan penjual ‘pecel’ yang naik ke kereta untuk menjajakan dagangannya. (Peristiwa ini mengingatkanku pada puisi Hartoyo Andangjaya yang berjudul “Perempuan-Perempuan Perkasa”.) Cipluk yang ternyata belum sempat sarapan – karena berangkat dari Kudus pukul 04.30 – membeli dua ‘pincuk’ pecel: satu buatnya dan satu buatku. (Thanks sweetie. )

Cipluk ‘terpaksa’ turun di stasiun Purwosari Solo karena dia harus mengambil sepedanya ke rumah Ranz terlebih dahulu, sehingga aku melanjutkan perjalanan ke Jogja sendirian. (Aku udah keburu beli karcis Semarang – Jogja.) Sesampai di stasiun Tugu, dekat Malioboro Jogja, aku turun, ‘memasang’ seli yang sewaktu di stasiun Pontjol dilipat oleh Riu (call me a ‘procrastinator’ to practice to fold and unfold the bike by myself, LOL), kemudian ... nggowes! So exciting! Feel like coming home!

Sempet bingung aku mau kemana. Aku ga yakin Cipluk bakal nyampe jam berapa. Juga Wahyu dan Riu bakal turun di Maliobor sebelah mana, jam berapa. Itu sebab aku langsung nggowes menuju Jakal km 7,8 tempat sobatku mukim. Namun, belum juga sampai di masjid Syuhada, Kotabaru, aku mendapatkan sms dari Ranz yang sedang berada di Surabaya untuk menunggu kedatangan Cipluk, Wahyu, dan Riu di Malioboro. Aku balik lagi ke Malioboro. Nongkrong di salah satu bangku yang disediakan pemerintah Jogja di jalan yang paling terkenal di Indonesia itu, aku sms Riu mengabari bahwa aku berada di Malioboro, menunggunya. Akan tetapi belum sampai aku mendapatkan balasan dari Riu, hapeku mati: low bat.   Bingung what to do dan bagaimana aku bisa terhubung dengan Riu, Wahyu, maupun Cipluk, tanpa pikir panjang aku langsung nggowes ke Jakal km 7,8: aku harus ngecharge hape!

Siang itu matahari bersinar sangat terik di Jogja. Aku sampai di rumah sobatku, Detta, sekitar pukul 12.15, wet due to sweat. LOL. Disuguhi sirup jeruk yang dingin nikmat, sembari ngadem di dalam rumahnya, cukup membuatku malas berangkat lagi ke Balaikota tempat diselenggarakan ‘gathering b2w’. LOL.

Setelah mandi, makan siang, pukul 14.15 aku (akhirnya) berangkat nggowes ke Jalan Kusumanegara dengan sedikit petunjuk dari Detta, dari ‘Galeria’ yang terletak di Jalan Solo, lurus saja menuju Selatan. Perjalanan sempat terhenti sejenak karena perubahan cuaca yang ekstrim, dari panas ke hujan deras plus disertai angin kencang. Aku juga sempat masuk Bulaksumur – for old time’s sake – dan terheran-heran dengan adanya pos satpam di tiap ruas jalan masuk. (UGM no longer belongs to public? No longer welcome anybody who wants to pass by? L) Namun mungkin karena aku naik sepeda, satpam tidak menghentikanku untuk masuk kawasan Bulaksumur, untuk diinterogasi, misalnya, atau pun bayar retribusi. (Kok jadi kayak jalan tol?) Aku sempat muter ke Fakultas Ilmu Budaya (yang di zaman aku kuliah S1 namanya “Fakultas Sastra”), namun ga sampai masuk ke daerah Balairung, Gedung Pusat.

Dari UGM, aku melanjutkan perjalanan ke jalan Kusumanegara, kugenjot pedal Snow White dengan santai, karena toh meski acara gathering sudah dimulai, Riu dan Wahyu sudah ada di lokasi acara, mereka bisa diminta untuk laporan apa saja yang diperbincangkan. Saking semangatnya nggowes (atau juga saking malesnya mau nanya orang dimana Balaikota terletak LOL), aku sampai di Gembira Loka. Ck ck ck ... zaman kuliah S1 dulu rasanya Gembira Loka letaknya jauuuuuuhhhh banget dari kosku di Jakal km 5. Lha kok sekarang aku nyampe sana naik sepeda! ~ lebay mode on ~

Setelah bertanya dengan seorang penjual buah di pinggir jalan letak Balaikota, yang menjawab dengan sangat ramah, aku sampai juga di tempat diselenggarakannya ‘gathering b2w’. :-P

Aku bayangkan acara gathering akan selesai sekitar pukul 19.00 atau 20.00 karena tentu teman-teman ingin ber-night ride menikmati Jogja malam hari. Aku bayangkan setelah ngikut night ride, aku masih akan sempat nggowes balik lagi ke Jakal km 7,8 karena tas berisi baju kutinggal di rumah Detta. (Maklum, aku tidak tahu ‘rundown’ acara.) Namun ternyata tak kunjung usai sampai menjelang pukul 22.00. Dan ternyata pula mataku tak bisa kuajak kompromi. Sempet ciut hatiku membayangkan harus nggowes sendirian sampai rumah Detta dari Balaikota, di malam hari, (aku YAKIN orang-orang Jogja bukan kriminal, namun para new comers nya?) Dari Balaikota mau langsung ke hotel Gedong Kuning, tempat menginap para peserta gathering, namun ternyata seusai acara, teman-teman mau NR. Dengkul dan kakiku masih bisa diajak nggowes, namun mataku tidak bisa melek. LOL. Untunglah Darmawan menawari tumpangan. Kebetulan dia memang harus pulang ke rumah mertua yang letaknya tidak jauh dari rumah Detta.

Sampai di rumah Detta menjelang  pukul 23.00 kalau tidak salah. Melihat mataku yang sudah 5 watt, dia pun menyuruhku langsung masuk kamar dan tidur. I slept like a log. LOL.

Minggu 16 Januari 2011

Sekitar pukul 04.00 aku mendengar air hujan yang menggedor-gedor atap rumah. Waduh, acara nggowes keliling kota jadi ga ya? Hawa dingin menyurutkanku untuk segera nggowes ke Gedong Kuning untuk paling tidak meninggalkan rumah Detta pukul 05.30. Dalam keadaan gerimis halus, aku pergi pukul 05.50, terlambat 20 menit dari rencanaku sendiri. Untung gerimis ga berlangsung lama.

Sempat sms Riu dan Cipluk untuk ngabari bahwa aku berniat ikut nggowes keliling kota agar tidak ditinggal rombongan, aku sempat juga berpikir untuk nggowes sendirian aja, menyusuri jalan-jalan yang kukenal. Split into two, aku pun menggenjot pedal dengan amat santai. (bless me! LOL.)

Jawaban yang kudapat Riu menyarankanku untuk langsung ke arah Pakualaman, jadi ga perlu ke Gedong Kuning. (kalau tahu akhirnya mereka befoto-narsis-ria di jembatan dekat daerah Terban – aku ga tahu nama jalannya, tapi lanjutan Jalan Solo menuju Barat, sebelum sampai Tugu, konon km 0 Jogja – dari arah Jakal aku langsung kesono saja, dengan resiko menggendong backpack sepanjang nggowes keliling kota.) Namun kenyataanya aku sampai juga di hotel Gedong Kuning, menitipkan backpack, kemudian nggowes ‘mengejar’ rombongan. Setelah aku melewati Balaikota dan Taman Makam Pahlawan, Riu ‘menjemputku’ untuk kemudian bergabung dengan teman-teman dari Semarang dan Cipluk, plus satu penunjuk jalan (atau yang bisa kita sebut sebagai ‘marshall’)

Selama mengikuti gowes bareng ini, aku ingat waktu gowes bareng beberapa teman pada tanggal 30 November 2008 dimana kita semua merasa satu padu, aku tidak merasa berada di antara orang-orang asing. Ketika salah satu menyarankan untuk berhenti disatu tempat, semua berhenti dengan riang gembira. Tidak ada peristiwa, misal, ketika beberapa gelintir orang butuh berhenti untuk sarapan, mereka berhenti, yang lain silakan menlanjutkan perjalanan. Lah, orang asing sepertiku kan jadi bingung mau ngikut yang mana. (Mungkin karena aku ga ikut sejak awal perjalanan jadi tidak tahu bagaimana aturan mainnya.) Tapi, kalau pun aku jadi ‘hilang terlantar’ aku yakin bisa menemukan jalan Gedong Kuning, untuk mengambil backpack, dan melanjutkan melakukan apa pun yang harus kulakukan. (Orang-orang ‘asli’ Jogja – alias bukan pendatang – benar-benar ramah memberikan penunjuk jalan. Pengalaman waktu mencari hotel Gedong Kuning, aku bertanya pada seseorang yang dari logatnya tatkala menjawab pertanyaanku aku simpulkan dia bukan orang Jogja. Dia cukup ramah, namun memberiku arah yang salah. LOL.)

Rombongan tiba kembali di hotel sekitar pukul 10.30. Bersih-bersih diri, packing, istirahat sejenak, makan siang, dan kita semua meninggalkan hotel sekitar pukul 12.15. Riu menyarankanku untuk naik Joglosemar, meski aku pengen naik kereta lagi. Dan berhubung Cipluk memutuskan naik bus patas yang akan langsung membawanya ke Kudus, aku pun setuju naik bus. Aku dan Cipluk nggowes berdua di siang yang terik dari Gedong Kuning menuju terminal Jombor, selama kurang lebih1 jam. (Her two buddies from Kudus HEARTLESSLY left her because they took Trans Jogja bus to Jombor while she could not take a bus because she was riding fixie and not folding bike. DO YOU BELIEVE THAT???)

Kita berdua sampai di Jombor sekitar pukul 13.30. Setelah Cipluk beli tiket bus yang berangkat pukul 14.15, dia mengantarku ke tempat pemberangkatan bus Joglosemar yang terletak tak jauh dari Jombor. Aku mendapatkan tiket bus yang berangkat pada jam yang sama. Kemudian Cipluk langsung kembali ke terminal Jombor karena dia harus melepas ban sepeda fixienya agar bisa dimasukkan ke dalam bagasi bus. (wahh ... aku harus belajar darinya masalah melepas dan memasang ban nih, agar aku pun bisa mengajak si Orange jalan-jalan, tanpa merepotkan teman-teman. Kalau pergi dengan teman-teman b2w Semarang seperti Darmawan, Zacky, Eka, Nasir dll tentu aku tinggal menemani dan menonton mereka melepas dan memasang ban, LOL.)

Demikianlah ‘oleh-oleh’ perjalanan ‘dinas’ mengikuti gathering b2w DIY dan Jateng di Jogja.

Nana Podungge

GL7 11.15 17.01.11

Rabu, 18 Mei 2016

Purwokerto, we are back! (Day 4-5)

Sunday May 8, 2016 (Day 4)

Sebelum berangkat ke Purwokerto, Ranz menyempatkan diri browsing tempat-tempat yang bisa kita kunjungi. Ranz menyebut dua lokasi (1) Curug Cipendok (2) Watu Meja. Curug Cipendok kita pending – sampai kita berkesempatan dolan ke Purwokerto lagi J -- karena rasanya kok kurang afdol juga jika kita ke Purwokerto kita tidak gowes ke Baturraden. Curug Cipendok kita pending maka kita putuskan kita harus ke Watu Meja; satu destinasi wisata yang bisa dikatakan masih baru.

Seperti dua hari sebelumnya, kita meninggalkan rumah Tyas pukul 07.30. Sebelumnya kita menikmati sarapan yang disediakan oleh Tyas. Tyas menyediakan dua porsi nasi uduk untuk kita, kita hanya memakan yang satu porsi; yang satu porsi lagi kita bawa sebagai bekal. J
 
Menurut GPS, Watu Meja terletak kurang lebih 18 km dari Dukuh Waluh. Setelah melewati alun-alun Purwokerto, kita belok ke arah Selatan, menuju desa Sidabowa. To our disappointment, trek didominasi turunan yang berarti nanti pulangnya kita bakal harus nanjak. Hahahah … tentu saja kalau bisa memilih kita lebih suka berangkat nanjak, pulangnya tinggal nyantai menikmati turunan. :D berangkat kita masih punya tenaga full, pulangnya tinggal sisa-sisa … hihihihi ..




Di pom bensin setelah melewati Balai Desa Sidabowa kita berhenti, Ranz butuh mampir toilet. Sungguh di luar dugaan kita bertemu pasutri Iffan dan Desi yang memang sedang pulang kampong. Mereka membeli bensin dalam rangka mempersiapkan diri untuk kembali ke Semarang.



Aku lupa nama daerahnya tapi kita melewati jalan di pinggir sungai Serayu. Setelah pom bensin itu, ada perempatan, jika belok kiri (ke arah Timur) orang akan menuju kota Banyumas. Kita terus ke Selatan. Kita melewati sebuah jembatan eksotis yang sayangnya begitu sempit dan traffic lumayan padat sehingga kita tak bisa bernarsis ria disitu. :D Tak jauh dari jembatan, kita bertemu pertigaan, dengan tugu kecil di tengah. Waktu foto-foto disitu, ada rombongan pesepeda laki-laki dari arah kanan. Mereka lanjut ke arah Timur kita ke arah Barat Daya, tempat mereka datang. Meski jalan yang kita lewati cukup sempit, ini merupakan jalan propinsi menuju Cilacap. Kita bertemu bus tanggung jurusan Cilacap disini.


Di kilometer 17 dari Dukuh Waluh, kita menemukan plang petunjuk WATU MEJA VIEW 300 meter di sebelah kiri.  300 meter dari jalan raya, kita menemukan tempat untuk memarkir sepeda, menulis nama di buku tamu yang tersedia dan memasukkan uang secukupnya di kotak yang disediakan. Ada juga gallon air mineral dimana para pengunjung bisa mengisi botol yang mereka bawa untuk bekal trekking menuju gardu pandang.


Lokasi Watu Meja konon ditemukan oleh mahasiswa UGM yang sedang KKN di daerah itu satu tahun yang lalu, tahun 2015. Mendapati pemandangan yang cukup mengagumkan membuat mereka menyarankan pada penduduk sekitar untuk memanfaatkan lokasi tersebut untuk destinasi wisata. Karena baru saja ditemukan, trek menuju ke gardu pandang masih sangat menantang, meski bisa dikatakan jalan setapak yang disediakan oleh penduduk sekitar sudah lumayan membantu para pengunjung agar tidak terlalu kesulitan.



Setelah trekking mengikuti jalan setapak yang ada sejauh kurang lebih 2 kilometer, sampailah kita ke hutan pinus. Agak sedikit ke atas, kita pun sampai di gardu pandang. Pemandangan sungai Serayu dan bukit-bukit di sekitarnya dari ketinggian sangat membantu menghilangkan kelelahan dari trekking. Cuaca yang cerah cenderung panas memungkinkan kita menikmati pemandangan yang menakjubkan.




Saat aku dan Ranz tiba disana, banyak anak-anak remaja yang terlihat menikmati pemandangan sambil berfoto-foto. Lokasi sekitar bisa dikatakan cukup bersih dari sampah-sampah yang mengganggu pemandangan. (Semoga bukan karena destinasi wisata ini masih baru ya?) Tak jauh dari gardu pandang, telah ada beberapa warung yang menjual minuman dan makanan ala kadarnya.  Setelah foto-foto aku dan Ranz mampir di satu penjual untuk menikmati minuman dan mendoan yang lezat. Oleh si penjual, mendoan baru digoreng setelah kita memesan, jadi ditanggung masih panas.




Usai menikmati minuman dan mendoan, kita kembali menikmati pemandangan di gardu pandang. Setelah beberapa jepretan lagi, kita baru turun. Kebetulan waktu turun, kita memilih jalur ‘short cut’, kurang dari 1 kilometer namun trek sangat curam dan licin.


On the way kembali ke peradaban, LOL, di pertigaan tempat kita berpapasan dengan rombongan pesepeda, kita kembali berpapasan dengan mereka. LOL. Jodoh kali ya? Wakakakaka …

Sesampai Balai Desa Sidabowa, kita mampir ke salah satu rumah yang terletak tak jauh dari situ. Tahun 2000 duluuuu aku pernah berkunjung dan menginap di rumah Pak Warto, yang ‘pernah’ menjadi mertua kakakku. Istri pertama kakakku – anak kedua Pak Warto – meninggal tahun 2004.

Kita sempat ngobrol2 sebentar, makan siang di rumah makan Gudril yang terletak kurang lebih 200 meter dari situ, dan menyambangi jembatan gantung di belakang rumah untuk narsis. Kata Eni – anak ketiga Pak Warto – yang menraktir kita makan siang dan mengantar kita ke jembatan gantung, lokasi itu lumayan ramai dikunjungi para pesepeda di hari Minggu pagi.


Sekitar pukul empat sore kita pamitan. Cuaca mulai mendung. Tak lama kemudian gerimis mulai turun. Ranz langsung buru-buru menyelamatkan kameranya. Aku menyelamatkan diri dengan mengenakan mantel. LOL. Untunglah gerimis hanya berupa gerimis, tak membesar menjadi hujan. Ternyata Sidabowa – alun-alun ga terasa begitu jauh. Apa karena sudah sore ya?  Cuaca ga panas jadi tenaga kita tidak terforsir?

Menjelang pukul setengah enam kita telah sampai Dukuh Waluh. Kita langsung gantian mandi bersih-bersih. Usai makan malam, kita mulai packing.

Monday May 9, 2016 (Day 5)

Kita bangun jam 06.00, mandi, packing lagi. Kemudian sarapan. Kita meninggalkan Dukuh Waluh sekitar pukul 08.45. kita sampai stasiun sekitar pukul 09.30. Shaun mulai bermasalah, rantainya berulang kali lepas. Ini sebabnya Ranz mengajak berangkat agak pagi agar tidak sampai terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.

Di stasiun kita bertemu dengan Haryadi yang baru saja kembali ke Purwokerto dari long weekend di Semarang. J Pukul 10.30 kita menaikkan sepeda ke dalam gerbong, dan duduk manis menunggu saat KA Kamandaka berangkat. Kita sampai stasiun Poncol pukul 15.40.

Sampai bertemu di petualangan Nana dan Ranz berikutnya yaaa?

LG 12.12 18/05/2016

Purwokerto, we are back! (Day 3)



Saturday May 7 2016 (Day 3)

Agenda pagi ini (spontaneous agenda) adalah bersepeda bersama empat pesepeda Jogja Folding Bike (Nte Dyah, Om Chandra, Om Aryo dan Om Irfan 4 selier JFB yang lanjut gowes ke Purwokerto dari 12 partisipan yang berangkat dari Jogja dua hari sebelumnya) plus Nte Yatmi Federalis dari Tangerang yang kebetulan sedang pulang kampung. J


Sepedaan pagi ini ga jauh-jauh amat karena keempat selier akan segera kembali ke Jogja, Nte Yatmi juga sudah punya agenda sendiri. Kita berkumpul di alun-alun Purwokerto, kemudian bersepeda mencari landmark Purwokerto yang tidak kita temukan. Hihihihi … Gowes pagi ini diakhiri dengan sarapan bersama: soto (atau juga disebut sroto) Sokaraja / Purwokerto. (Akan kutulis sendiri kisah berburu sarapan soto Sokaraja ini.)













Usai sarapan bersama di rumah makan soto Jalan Bank (si empunya mengaku dulunya juga seorang pesepeda), keempat kawan JFB menuju stasiun, kurang lebih pukul 10.30. Nte Yatmi sudah ngacir sejak pertama kita sampai di rumah makan soto Jalan Bank yang masih tutup waktu kita samperin jam08.00. Aku kemudian menemani Ranz berburu oleh-oleh berupa kripik tempe Niti yang terkenal kriuk dan enak itu. Dari sana kita kembali ke Dukuh Waluh, acara lepas kangen dengan Asih kita lanjutkan. Kita ngobrol sampai sekitar pukul 18.00.

Pulang dari rumah Asih, aku teler berat usai mandi. :D

To be continued.
LG 10.00 18/05/2016

Purwokerto, we are back! (Day 2)



Friday May 6 2016 (Day 2)

Ada dua rencana yang terpaksa diubah hari ini. Pertama : hang out bersama Asih seharian. Karena malam sebelumnya Asih tidak fit sehingga tidak bisa bertemu, kupikir hari ini sebaiknya kita biarkan dia menyembuhkan diri dulu dengan tidak mengganggunya sama sekali. Maka kita memutuskan untuk dolan bersepeda somewhere. J Kedua : semula Ranz mengajak bersepeda ke Curug Cipendok. Sayangnya seorang rekan memberi signal yang kurang menyenangkan. Katanya, “Wah … tanjakan menuju Curug Cipendok berat Mbak Nana. Mending ke Baturraden saja deh.” Entah mengapa aku langsung ngeper. LOL. Aku mengajak Ranz gowes ke Baturraden saja. Di kawasan Baturraden ada dua lokasi yang masih membuatku kepengen balik. (1) Pancuran Pitu (2) Telaga Sunyi.

Karena diselimuti hawa liburan, aku dan Ranz pun malas bangun pagi. LOL. Kita baru beranjak bangun dan antri mandi satu-satu pukul 06.00. Tyas sang tuan rumah telah menyiapkan sarapan untuk mengisi perut. Pukul 07.30 kita meninggalkan rumah Tyas. Dari Dukuh Waluh kita hanya perlu mengayuh pedal sejauh 15 kilometer ke Baturraden. (Bandingkan jika kita ke Curug Cipendok, kita harus bersepeda sejauh 30 kilometer. :))


Perjalanan cukup lancar, tanpa diganggu hujan. Tiga tahun lalu kita disambut hujan lebat di lokasi yang terletak kurang lebih 5 kilometer sebelum Baturraden. Kali ini kita sempat berhenti di satu warung pecel untuk minum es teh dan ngemil gorengan di tengah jalan.

Sesampai terminal Baturraden, kita rasakan traffic mulai padat. Banyak bus pariwisata maupun mobil pribadi menuju pertigaan menuju Lokawisata Baturraden maupun Wana Wisata Baturraden. Maklum, ini adalah long weekend, tentu banyak orang memutuskan untuk berwisata, dimana Baturraden tentunya menjadi salah satu destinasi yang cukup banyak dikunjungi.




Mendekati gerbang masuk kawasan Wana Wisata kita bertemu rombongan Kaskus yang ternyata mengadakan kopdar besar-besaran. Banyak mobil antri masuk ke Wana Wisata. Tanjakan yang kian curam setelah melewati terminal membuat kita merasa perlu istirahat lagi. Di sebelah kiri gerbang, ada seorang penjual bakso sederhana yang kata Tyas baksonya nikmat sekali. Maka kita putuskan untuk mampir dan mencicipi bakso. Kita cukup pesan satu porsi untuk berdua. Benar kata Tyas, bakso Pak Ndut ini enak maka tak heran jika kita melihat banyak orang datang ke Baturraden hanya untuk ‘mbakso’ kemudian langsung pulang. J

Melihat Wana Wisata (Pancuran Pitu ada di dalamnya) begitu penuh pengunjung, aku pun mengajak Ranz melanjutkan perjalanan ke Telaga Sunyi. Namanya yang romantic (LOL) telah membuatku penasaran mengunjunginya sejak tiga tahun lalu. Maka setelah hujan mereda (hujan turun tepat ketika kita usai makan bakso dan akan melanjutkan perjalanan hingga perjalanan kita tertunda sekian menit.) kita pun langsung mengarahkan sepeda ke jalan yang akan membawa kita ke Telaga Sunyi.




Dari pertigaan dimana terletak pintu gerbang Wana Wisata, kita ke arah kanan. Petunjuk yang ada – bahwa trek berupa turunan dan tanjakan tajam yang berkelok-kelok – sempat  membuat Ranz enggan melanjutkan perjalanan. Hujan yang barusan turun pun membuat trek semakin terasa licin. Trek rolling tajam berkelok-kelok dan sempit plus traffic lumayan padat pun membuat Ranz mulai ngambeg. LOL.

Untunglah meski ngambeg Ranz tetap mau melanjutkan perjalanan. Trek yang didominasi turunan membuatnya sangat malas jika saat kembali ke kota Purwokerto kita harus kembali ke titik mula: nanjak berkelak-kelok dan jalan yang licin seusai hujan. LOL. (Shhhttt … Ranz naik Shaun, seli dahon da bike 16” single speed.)




Kurang lebih 2,5 kilometer dari gerbang masuk Wana Wisata kita sampai di Telaga Sunyi. Yeayyy … ternyata lokasinya bersebelahan dengan kawasan “Baturraden Adventure Forest”. To our surprise, si Bapak yang jaga loket Telaga sunyi memberi petunjuk yang menyenangkan, untuk kembali ke Purwokerto kita tidak perlu kembali ke titik mula, kita bisa melanjutkan perjalanan. Dari gerbang masuk Telaga Sunyi, kita cukup menapaki tanjakan satu kali, kemudian sedikit rolling yang tidak tajam, dan … bonus turunan menanti! Ranz pun langsung cerah ceria.  Hohohoho …

Si Bapak penjaga loket juga mengatakan bahwa kita tidak perlu trekking jauh menuju Telaga Sunyi. Dari gerbang masuk, kita hanya perlu berjalan sejauh 100 meter. Harga tiket masuk Rp. 10.000,00 per orang.




Hehijauan yang ada sangat menyegarkan mata yang memandang. Di halaman parkir kulihat mobil pribadi tidak lebih dari 10 jumlahnya. Pancuran Pitu dan Lokawisata Baturraden tentunya lebih menarik perhatian wisatawan. Lokasi Telaga Sunyi benar-benar sunyi sesuai namanya. J Meski dari bawah aku berharap bakal bisa sampai Telaga Sunyi, kita tidak membawa baju ganti maka kita tidak bisa nyemplung telaga yang airnya bening dan sejuk itu. (Sejuk? Dingin kali!!! LOL.)

Sayangnya ada satu gerombolan lelaki yang jika kita dengar logat mereka bicara mereka berasal dari Jakarta merusak mood Ranz karena mereka menguasai satu titik dimana para wisatawan bakal mendapatkan foto terbaik dengan background curug kecil di ujung telaga. Mereka (kurang lebih ada 8 orang) terus menerus berhenti di titik situ untuk foto-foto narsis. Mereka sama sekali tidak memiliki empati pada pengunjung lain yang tentunya kepengen foto-foto di lokasi itu. Hadeeehhh …

Sebelum meninggalkan Telaga Sunyi, kita sempat menikmati sepiring pecel ndeso dengan ketupat plus teh panas (buatku) dan es teh (buat Ranz.)

On the way kembali ke Purwokerto kita sempat berfoto-foto di tengah jalan. Trek turunan yang kita lewati mengingatkan kita pada trek saat kita meninggalkan Candi Sukuh dan Telaga Madirda. J

Di jalan yang kita lewati untuk kembali, sebenarnya kita cukup lurus saja untuk sampai ke Dukuh Waluh. Namun karena Ranz butuh mampir di satu lokasi yang terletak tak jauh dari UNSOED kita pun memutar lagi ke arah jalan yang kita lewati waktu berangkat. Gerimis sempat cilukba dengan kita beberapa kali. Untunglah sampai kita kembali ke Dukuh Waluh sekitar pukul 17.00 hujan ga jadi turun. J

Sekitar pukul 19.30 kita keluar lagi, ke rumah Asih yang ternyata mengaku sudah lumayan sehat sehingga bisa kita kunjungi. Kita ngobrol sampai pukul 22.00, tepat saat Tyas menelpon meminta kita segera pulang. :D

To be continued.
LG 09.00 18/05/2016

Selasa, 17 Mei 2016

Purwokerto, we are back! (Day 1)

Setelah tiga tahun berlalu, (klik link ini yang bercerita kita gowes dari Solo ke Purwokerto) kita berkesempatan kembali lagi. Kali ini kita tidak bersepeda ke Purwokerto, namun naik kereta api dari Semarang. What matters most is not the journey but the destination. :D Yang membuat berbeda memang agenda di balik perjalanan. Jika tiga tahun lalu, aku kepengen bersepeda dari Solo ke Purwokerto, kali ini karena aku ingin mengunjungi sobat lama, kawan kuliah semasa mengejar cita-cita (lebay boleh lah ya sekali-sekali ... lol) di American Studies UGM.

Dua hari libur nasional yang berjejer di awal bulan Mei (tanggal 5 dan 6)  adalah waktu yang tepat bagi kita untuk mbolang, jadi ga perlu mbolos kerja lama. :D

Day 1 5 May 2016

Kita telah sampai di Stasiun Poncol pukul 04.50. KA Kamandaka datang dari arah stasiun Tawang pukul 05.05. Syukurlah letak gerbong 1 tidak begitu jauh dari lokasi kita berdiri sehingga ga perlu repot menggotong seli dalam waktu lama. Tepat pukul 05.15 KA meninggalkan stasiun Poncol, persis seperti yang tertera di tiket.

Perjalanan lancar. Kita sampai di stasiun besar Purwokerto pukul 09.45. Sepanjang perjalanan gerbong 1 selalu penuh penumpang. Mungkin demikian juga adanya di gerbong-gerbong lain. Jika ada satu atau dua penumpang turun di satu stasiun, tak lama kemudian akan ada penumpang baru naik dan menduduki tempat duduk yang sempat kosong itu.


Pertama kali yang kita lakukan setelah meninggalkan stasiun adalah mencari rumah makan: kita butuh sarapan. :)  Usai sarapan, Ranz mengajak gowes ke arah Museum Panglima Besar TNI Jendral Sudirman. Disana ada beberapa diorama yang mengisahkan tentang perjuangan Jendral Sudirman memimpin perang gerilya di zaman Perang Kemerdekaan. Kita tidak lama disini karena tidak banyak yang bisa kita lihat meski taman hijau yang ada di sekitar gedung museum cukup mengundang untuk leyeh-leyeh. :) Oh ya, tiket masuk Rp. 3.000,00, dan parkir sepeda gratis :)


Dari sana, Ranz langsung mengarah ke arah Dukuh Waluh dimana terletak kampus UMP. Asih, sobat lama yang menjadi 'alasan pertama' kita mbolang ke Purwokerto lagi tinggal di daerah ini. Namun kita tidak menginap di rumah Asih. Jauh-jauh hari Ranz sudah mengajakku menginap di rumah saudara (jauhnya) jika kita dolan ke Purwokerto. Merupakan satu kebetulan jika rumah Asih dan Tyas (nama saudara Ranz) terletak di lokasi yang sama, Dukuh Waluh. :)


Setelah meninggalkan stasiun, kita gowes hingga sampai di kawasan Dukuh Waluh, kita menempuh kurang lebih 20 km. Not bad, huh? :D

Malamnya kita ke rumah Asih yang terletak tak jauh dari Dieng Swalayan. Namun karena Asih sedang tidak enak badan, dan dia khawatir akan menulari kita, kita belum bertemu. Sebagai ganti, aku dan Ranz nongkrong di satu gerai es krim. :) Kita ngobrol disana sampai sekitar pukul 21.00 kemudian balik ke rumah Tyas.

To be continued :)

IB 20.34 17/05/2016

P.S. :
Dalam perjalanan menuju Dukuh Waluh, kita melewati Jalan Jendral Sudirman dan mendapati hotel Mulia tempat kita menginap 3 tahun lalu telah berubah nama menjadi Hotel Besar. Ada kerinduan untuk menginap di hotel yang suasananya jadul ini, namun kita lebih memilih mengirit, menginap di rumah saudara. Hihihihi ...

Rabu, 11 Mei 2016

Gowes Sejarah bersama KomseliS dan Lopen

Untuk ikut menyambut dengan gembira HUT kota tercinta Semarang yang ke-469, Komselis (Komunitas Sepeda Lipat Semarang) menggandeng Lopen sebagai komunitas kumpulan pecinta sejarah mengadakan satu event khusus yang diberi tajuk #GowesSejarah. Diselenggarakan pada hari Minggu 1 Mei 2016 tema yang diusung tahun ini adalah menelusuri jejak rel trem yang pernah dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda di awal abad ke 20.


Taman Pandanaran dipilih sebagai titik kumpul, mungkin karena ada icon yang bisa dipamerkan di foto, warak. :D Sebagai road captain ada Yogi dari Lopen yang mengaku grogi gegara harus nyepeda bersama para pesepeda karena dia tak biasa bersepeda. :D Ada kang Dur sebagai toa, lol. Ada Dany Saputra dan Victor Riu sebagai marshall. Well, kulihat hanya mereka berdua sih yang mengenakan rompi marshall. Meski tak ada sweeper, dan 2 orang marshall tentu terlalu sedikit untuk peserta yang melebihi 75 orang, semua partisipan berbaris rapi di sepanjang perjalanan. Motto SHARE THE ROAD tetap kita pegang teguh. Uhuk! Banyak wajah baru yang sebelumnya tak pernah kita lihat di event-event sebelum ini, mungkin karena embel-embel SEJARAH event ini menarik mereka-mereka yang biasanya tidak tertarik ikutan event yang diselenggarakan Komselis maupun B2W Semarang.

Selain Komselis dan B2W Semarang, terlihat beberapa komunitas sepeda lain yang bergabung, misal FedSemar alias Federal Semarang, Brompton Semarang, dll. Lowrider Semarang tidak terlihat karena mereka memiliki acara sendiri : menerima tamu Lowrider Kendal. :)

Setelah foto bersama untuk kepentingan dokumentasi, kita mulai gowes ke arah Barat, kemudian belok ke Jalan Kyai Saleh. Di ujung Jalan Kyai Saleh kita belok ke kiri, menyusuri Jalan Veteran. Tempat pertama yang kita kunjungi adalah Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal. Disini kita mendapatkan penjelasan bahwa yang nampak seperti 'selokan' di pinggir Jalan Sriwijaya adalah Kanal Siranda peninggalan pemerintahan kolonial Belanda. Kanal ini dibuat untuk mengurangi kemungkinan banjir di kawasan kota Semarang. (Shhhttt ... sejak zaman Belanda masih 'berkuasa' di kota kelahiranku ini Semarang telah mengalami masalah banjir ternyata!)

Dari Kanal Siranda kita melanjutkan perjalanan ke arah Timur. Di ujung Jalan Sriwijaya kita belok kanan, dan berhenti di depan Java Mall. Disini Yogi menjelaskan bahwa dulunya tepat di depan bangunan yang sekarang digunakan untuk Optik 55 terletak stasiun trem.

Dari sana kita balik kanan, menyusuri Jalan MT Haryono a.k.a Jalan Mataram. Titik berhenti berikutnya di depan sekolah SMA Sultan Agung Semarang. Ada apa ya? Aku sudah lupa. LOL. Satu yang kuingat, gapura yang ada di samping gedung sekolah ini adalah gapura duplikat karena yang asli telah dihancurkan. :(

Kita kembali melanjutkan menyusuri Jalan MT Haryono. Berikutnya kita mampir ke stadion Diponegoro. Stadion ini ternyata juga merupakan peninggalan pemerintahan kolonial Belanda. (Akibat ga langsung menuliskannya, lupa deh aku detilnya apa aja yang dijelaskan oleh Yogi dari Lopen. :( )

Selanjutnya kita dibawa mampir ke sebuah gedung peninggalan S.I. (Sarekat Islam).

Titik berhenti berikutnya di dekat bunderan Bubakan. Di daerah situ dulunya merupakan terminal/stasiun yang cukup besar, namun sekarang tidak ada bekas-bekasnya sama sekali. :( A very big loss buat pihak KAI maupun pemerintah karena kita telah kehilangan saksi (mati) sejarah. :(

Gedung terakhir yang kita kunjungi adalah gedung Sobokarti yang terletak di Jalan Dr. Cipto. Disini pihak panitia bagi-bagi hadiah dan door prize bagi yang beruntung.

Berikut ini foto-foto yang dihasilkan oleh tangan dingin Ranz. :)

Mari kita nantikan event selanjutnya dari KomseliS. Yuhuuuuu

IB 11 - 21 Mei 2016

ketiga kawanku ini bukan pesepeda, tertarik gabung gegara tema SEJARAH yang diusung :)
 ki-ka Mima, Kiki, Yudi































foto ini menunjukkan gerbang/gapura asli di dekat SMA Sultan Agung

gerbang duplikat

di dalam gedung S.I. (lihat tulisan di lantai)

di luar gedung S. I.




di ujung dekat bunderan Bubakan



om AB yang ketiban sampur bagi-bagi hadiah ... (baik banget yaaa? :D
Paketu Komselis dan istri