Senin, 26 September 2016

Unnes Lagiiii

Meski aku sudah cukup puas dengan 'penampilanku' nanjak ke Unnes seminggu sebelumnya, hari Minggu 18 September 2016, aku kembali menapaki tanjakan yang sama. Sebenarnya aku ingin mencoba trek yang lain, namun karena Ranz buru-buru harus balik ke Solo, aku memilih trek yang sama lagi, yang aku sudah yakin jaraknya seberapa jauh, dan bakal butuh waktu seberapa lama. :)

Aku dan Ranz -- ditemani Edy Wi -- meninggalkan kosnya Ranz jelang pukul 07.00. Dari jalan Suyudono kita menuju Banjirkanal Barat, belok kiri ke arah jalan Bendungan, kemudian menyeberang ke jalan Kelud, lanjut hingga Sampangan.

foto dijepret oleh Edy

Karena tidak ada yang meminta sarapan, kita langsung menuju tanjakan. (Waktu bersama Dwi, dia yang mengajak kita sarapan dulu.) Namun, baru akan menjelang nanjak Trangkil, Ranz sudah ga mau melanjutkan perjalanan. Dia ga mampu, katanya. Setahuku memang dia mengeluh kelelahan setelah nglembur pekerjaan kantor selama kurang lebih 10 hari terakhir untuk mempersiapkan akreditasi, plus makannya tidak teratur. (I never understand her for this, Orang makan tuh kan enak ya, kenapa dia malas makan? LOL.)

Ranz -- yang naik Larung -- turun, aku dan Edy melanjutkan perjalanan.


Meski sempat bilang ke Ranz bahwa mungkin aku akan hanya sampai di gerbang Unnes, kemudian langsung turun lagi, ternyata aku tergoda keinginanku sendiri untuk melanjutkan. Karena harus buru-buru turun untuk mengantar Ranz ke Sukun, tentu aku tidak bisa melanjutkan perjalanan untuk ke Ungaran, maka, aku kembali menapaki trek menuju pertigaan Cangkiran -- Ungaran -- Gunung Pati.

Sesampai di jalan raya yang jika kita lanjutkan kita bakal sampai di Kalibanteng, Edy mengajak mampir sarapan. Aku memutuskan untuk mampir ke warung soto tempat aku dkk mampir di event seleksi Srikandi tahun 2015.

aku bersama om Hadjid

Usai makan, namun kita masih duduk-duduk di dalam, seorang pesepeda yang kukenal di facebook sebagai Om Hadjid -- yang merupakan salah satu sesepuh grup KOMPAL (komunitas pancal pedal) -- mampir. Untuk bukti kita "kopdar" Om Hadjid kuajak foto bareng. :)

Setelah itu, aku dan Edy melanjutkan perjalanan.

Entah gegara 'sial' atau karena memang aku kurang hati-hati, di satu jalan 'jelek' yang sedang diperbaiki (kawasan desa Kandri), aku terjatuh. :( Kepalaku terantuk aspal! Tapi, untunglah, aku mengenakan helm! Helm yang sempat kucurigai kurang begitu 'nempel' di kepala, rada kurang 'pas' jika dipakai. LOL.) Sempat pandangan mataku berpendar-pendar alias mata berkunang-kunang, namun untunglah kondisi seperti itu tidak berlangsung lama.

mumpung ada yang motretin, aku ikut mejeng, ini belum jatuh :D

Untunglah aku tidak ngebut, meski itu di trek turunan. Beberapa kali 'kasus' waktu aku jatuh, aku dalam kondisi ngebut. LOL. Dan ... biasanya aku jatuh ke arah kanan, kali ini ke arah kiri. LOL. Biar impas kali Na. LOL.

Setelah itu, aku hati-hati selalu. Ga terlena dengan turunan. LOL.



Berbeda dengan seminggu sebelumnya aku memilih tanjakan Kalipancur setelah melewati perumahan Grand Greenwood, kali ini aku memilih belok ke jalan Dewi Sartika, tembus ke Sampangan.

Well, next time diulang lagi, lanjut ke Ungaran ah. :D

LG 11.30 27/09/2016

Senin, 12 September 2016

Tanjakan Unnes

Tanjakan Unnes bagiku pribadi merupakan 'standard' kemampuanku mendaki ... entah mulai kapan. LOL, meski tentu bagi para pesepeda kota Semarang dan sekitarnya, buanyaaaaak tanjakan-tanjakan lain yang bisa dijadikan 'standard' bahwa seseorang mampu mengayuh pedal sepedanya melewati tanjakan tersebut. Anda bisa klik link ini untuk mengetahui betapa Semarang adalah sorga untuk para pesepeda :D

Aku lupa kapan tepatnya pertama kali mencoba mendaki tanjakan Unnes, mungkin sekitar awal tahun 2013, di satu hari Minggu pagi, aku naik Austin, Ranz naik Feby (bmx). Baru di tanjakan awal, aku sudah gagal menyelesaikannya. LOL. Tapi kan selalu ada opsi menuntun? Jadi, melanjutkanlah aku dengan ttb. LOL. Gowes nanjak Unnes ini gagal kuselesaikan sampai atas karena Ranz mendadak merasa punggungnya diganduli makhluk tak terlihat. :( Baru menjelang nanjak Trangkil, Ranz sudah mengajakku turun.

Berikutnya adalah waktu Gowes Seleksi Srikandi tahun 2013. Beberapa minggu sebelumnya aku gagal nanjak Unnes dengan naik Austin (dengan gear masih asli, belum di-upgrade), kali ini aku lancar jaya nanjak Unnes, dengan mengendarai Estrada, sepeda Xtrada 5 hasil pinjam Hendrik. Ternyata, di dengkul seorang perempuan paruh baya sepertiku (eh, mengaku sudah paruh baya .. kekekekeke ) jenis sepeda tertentu mempengaruhi hasil sepedaanku lho. :D

Untuk mempersiapkan diri mengikut seleksi Srikandi tahun 2014, aku meminta Ranz menemaniku latihan bersepeda nanjak Unnes, yang pertama naik Austin, bertiga dengan Andra. Apa? Naik Austin? Emang bisa? Ternyata, setelah Austin di-upgrade, aku bisa lho nanjak Unnes tanpa ttb. Hohohoho ... Yang kedua, aku naik Cleopatra (Ranz yang membawanya, eh, menaikinya ke Semarang), sedangkan Ranz naik Orenj. Setelah seleksi, aku ga pernah tergoda mencoba tanjakan Unnes lagi. LOL.

Menjelang seleksi Srikandi tahun 2015, aku mengajak Ranz menapaki tanjakan Unnes lagi. Aku bisa langsung mengayuh pedal Cleopatra tanpa jeda, namun sesampai puncak, perutku mual ga keruan. LOL. Latihan yang kedua dan ketiga lancar jaya, meski aku hanya sendirian.

Setelah itu? Berhentilah aku menantang diri sendiri menapaki tanjakan Unnes. Ranz juga ogah menemaniku nanjak Unnes. Ngelesnya selalu, "Buat apa?" Dia lupa bahwa dengkulku ini tentu tidak semumpuni dengkulnya :( Aku harus selalu melatih dengkulku nanjak, dia ga perlu latihan apa pun :(

Tahun ini ... hingga bulan September, tidak ada kabar tentang event gowes Srikandi, jadi ... yaaa ... ga ada alasan bagiku untuk merayu Ranz untuk menapaki tanjakan Unnes. Untunglah Dwi pernah menantang diri sendiri untuk bike to campus, namun tentu dia ga pede jika melakukannya sendiri hingga dia pun meminta kita untuk menemaninya. Dan ... karena Dwi-lah, kisah mendadak nanjak Unnes ini terlaksana.

Aku yang kesal dengan 'penampilan'ku sendiri kali itu, mengajak Ranz menemaniku nanjak Unnes lagi, but you know lah ... dia pasti malas dengan alasan ini itu ... itu ini ...

Pucuk dicinta ulam tiba. Mendadak aku mendapatkan 'sudden urge' untuk melakukannya lagi. Hari Minggu 11 September 2016, usai mengerjakan my morning chores, aku mengayuh pedal Cleopatra pelan-pelan menuju arah Sampangan. Dan ... aku lancar jaya menapaki tanjakan Unnes, tanpa jeda. Horeee :D Dan ... karena powerbank tidak ada di rumah, aku ga bisa ngecharge hape dalam perjalanan, aku tidak memilih arah ke Ungaran setelah meninggalkan Unnes, melainkan belok kanan ke arah Sadeng. (Shhhtttt ... aku butuh powerbank untuk ngecharge hape dalam perjalanan karena jika menyalakan sportstracker untuk mencatat jarak, battery hape cepat habis.)

Berikut tiga foto yang kujepret pada hari Minggu 11 September 2016 lalu.




Catatan jarak tempuh :

Dari Pusponjolo sampai pintu gerbang Unnes 8,55 kilometer (dari Pusponjolo langsung ke arah Jalan Kelud).
Dari pintu gerbang Unnes hingga warung soto tempat sarapan Seleksi Srikandi 2015 = dari 8,55 km ke 15,70 km
Dari warung soto ke Pusponjolo dari 15,70 km ke 30,15 km

Dengan catatan sesampai perumahan Grand Greenwood, aku tidak belok kanan ke arah Sampangan, melainkan lanjut nanjak Kalipancur, kemudian turun melewati Panjangan - Phapros dst.

LG 08.36 13/09/2016

Kamis, 08 September 2016

Sepeda Lipat

Wikipedia menjelaskan bahwa sepeda lipat mulai diproduksi sekitar akhir abad 19. Di link yang sama juga disebutkan bahwa ternyata sepeda lipat sangat berguna di zaman perang, terutama pada Perang Dunia kedua, tahun 1942 - 1945. Ga nyangka kan? :)

foto kuimpor dari sini

Namun, semoga dipahami, jika secara pribadi aku baru ngeh ada jenis sepeda yang bisa dilipat di tahun 2008, di tahun pertama kali aku mengenal beberapa orang yang kemudian dengan mereka kita kita berkumpul di bawah satu 'organisasi', yakni B2W Semarang. Om Budianto a.k.a Om Budenk adalah orang pertama yang kukenal memiliki sepeda lipat. (Eh, better late than never kan ya? :D )

Maka, di tahun 2008 itulah pertama kali aku mencoba menaiki sepeda lipat. Rasanya? Aneh! LOL. Setang yang bisa dilipat itu tentu jauh lebih ringan ketimbang setang jenis sepeda lain yang pernah kunaiki, misal sepeda mini atau sepeda gunung.

Setelah Om Budi, aku mencoba sepeda lipat milik seorang teman lain, Firman. Sepedanya rasanya jauuuh lebih mengerikan dinaiki, ketimbang sepeda milik Om Budi. LOL. Akhirnya kuketahui, ternyata jargon 'ana rega ana rupa' alias harga mahal tentu dibarengi dengan kualitas yang lebih baik, pun berlaku pada jenis sepeda lipat. LOL. Konon, sepeda milik Om Budi harganya lebih dari 3 juta rupiah (waktu itu! coba bayangkan berapa harganya sekarang.) Sedangkan sepeda milik Firman (ketua pertama B2W Semarang) harganya di bawah satu juta rupiah. Waktu menaikinya, rasanya aku bakal dengan mudah diombang-ambingkan angin. LOL. Sangat ringkih. LOL.

Austin waktu masih anyar gres! :D fresh from the box :p

Waktu itu, sepeda lipat belum lazim ditemukan di komunitas pesepeda, apalagi di masyarakat luas. Aku sendiri ga pernah berpikiran bakal punya sendiri. :) Harganya mahal je. :( Maklum, sebagai seseorang yang tidak begitu memperhatikan harga sepeda (waktu itu), lumrahnya harga sepeda kan ya paling-paling cuma beberapa ratus ribu rupiah. :) Hanya orang gila sepeda yang bakal mengeluarkan uang jutaan rupiah hanya untuk membeli sepeda. LOL. Pikirku waktu itu. :D

Ternyata ... semesta berkehendak lain. Kakakku satu-satunya yang tinggal di Cirebon menawari adik-adiknya yang tinggal di Semarang untuk memiliki sebuah sepeda lipat. Untuk apa? Ya ... hanya sekedar untuk memiliki. LOL. Desember 2010 sebuah sepeda lipat dengan diameter ban 20 inchi, mulai menghuni garasi rumah. Meskipun begitu, aku sama sekali tidak, atau belum, tertarik untuk menaikinya. :)

FYI, menurut artikel ini, sepeda lipat mulai populer di Indonesia semenjak komunitas bike to work alias komunitas para pekerja bersepeda merambah di banyak kota. Well, masuk akal ya jika kukatakan aku mulai mengenal jenis sepeda lipat di tahun 2008. :)

Snow White

Akhirnya aku tergoda menaiki sepeda lipat yang dibelikan kakakku, yang kuberi nama Snow White, ketika ada event gathering korwil B2W Jateng - DIY di Jogja di bulan Januari 2011. Eh, ternyata not bad lho! :D (Aku datang ke event ini karena dipacu kangen Jogja :D ) Berikutnya ikut event Jogja Attack Maret 2011.

Dan ... aku ga bisa berhenti mbolang naik sepeda lipat semenjak itu. Hahahahahah ...

Btw busway, sekarang sudah banyak jenis dan merek sepeda lipat, tidak hanya yang harganya berjuta-juta, namun yang hanya sekian ratus ribu rupiah. Meski nampaknya para pengguna sepeda lipat di masyarakat belum tentu mereka yang butuh sepeda lipat untuk meringankan mereka menempuh jarak jauh, dimana sepeda bisa dilipat dan dimasukkan dalam moda transportasi lain, misal bus atau kereta api. Banyak anak-anak yang kulihat naik sepeda lipat berangkat ke sekolah, atau hanya sekedar sepedaan di sekitar rumah. I bet, orangtua mereka mungkin berpikir sepeda lipat ini cocok untuk anak-anak karena diameter bannya yang hanya 16 inchi atau 20 inchi sehingga dianggap sepeda anak-anak.

Apa pun itu, biar sajalah yaaa?

IB180 20.20 08/09/2016

Rabu, 07 September 2016

Gowes ke Wana Wisata Gunung Bromo


Setelah tiga tahun berlalu, aku dan Ranz tidak bersepeda ke arah Karanganyar, akhirnya pada hari Minggu 4 September 2016 kita bersepeda ke arah sini lagi. Kali ini kita tidak hanya berdua, ada Dwi bersama kita. :)

Semula kita berencana untuk bikecamping ke Jepara tanggal 3-4 September, namun mendekati hari H, mendadak kita harus banting setir, berangkat ke Solo. :) Avitt sibuk di tempat dia magang, untuk keperluan penelitian skripsinya, Tami katanya mau mengurus perpanjangan STNK, dan Hesti kondangan, maka hanya tinggal kita bertiga -- aku, Ranz, Dwi -- yang berkumpul ke Solo. 

Hari Sabtu 3 September seharian kita sibuk di rumah dinas Walikota Surakarta di Loji Gandrung, menghadiri serangkaian acara Solo Lestari Bersepeda. Sorenya kita nongkrong di Balekambang. Malamnya kita ngendon di kamar gegara hujan lebat mengguyur kota.

Minggu 4 September 2016

Pukul lima pagi kita mulai antri mandi satu per satu. :) Jam enam lebih seperempat kita keluar, sarapan nasi liwet di satu penjual yang berjualaan tak jauh dari rumah Ranz. Sekitar pukul 07.00 kita mulai meninggalkan kawasan Jongke, ke arah Jalan Slamet Riyadi.

Ini adalah kali pertama Dwi melihat area car free day di Solo. Aku bisa mengira-ira perasaannya, terheran-heran dengan panjangnya kawasan jalan yang ditutup untuk memanjakan masyarakat Solo. :)

di kawasan cfd


Baru kali ini aku tahu Jalan Slamet Riyadi bukan satu-satunya kawasan car free day di Solo. Ada satu daerah lain lagi yang juga dijadikan kawasan car free day, meski tidak secara resmi ditunjuk oleh pemkot, namun atas inisiatif warga sendiri. Aku tidak tahu nama daerah/jalannya. :) 

Setelah kita masuk kabupaten Karanganyar, kita juga menemukan kawasan car free day lagi yang cukup panjang. :) 

Berhubung sepincuk nasi liwet yang kita santap sebelum berangkat hanya mampu mengisi kerongkongan, tidak sampai ke perut, lol, kita mampir sarapan lagi di satu warung franchise, soto seger Mbok Giyem. :) Waktu kita gowes ke Sukuh, warung ini masih baru dan sepi. Kali ini sudah semakin ramai, bahkan ruangan untuk makan sudah bertambah lebih luas. :)



Jika empat tahun lalu aku dan Ranz tersesat, alias salah jalan waktu akan menuju Alas Bromo a.k.a Gunung Bromo, kali ini kita langsung ke lokasi yang tepat. :) malah kurang greget yak? wkwkwkwk ... 

membeli bekal dulu sebelum masuk hutan :D
love this road

Waktu sampai di pintu gerbang Wana Wisata Gunung Bromo, cyclometer di Oddie -- sepeda yang dinaiki Dwi -- menunjukkan kilometer 29. Wah ... lumayan juga jaraknya :D 

Waktu kita akan foto-foto di pintu gerbang Wana Wisata Gunung Bromo, kita melihat ada 4 anak laki-laki yang datang ke arah situ, naik sepeda juga. Langsung kita ajak mereka berfoto bareng. Ga  nyangka mereka ternyata dengan antusias menerima tawaran kita. :D 



Empat anak laki-laki itu ternyata tidak ikut kita masuk ke dalam hutan :D

Di dekat pintu masuk, kita melihat papan pengumuman dengan harga-harga yang harus kita bayar, misal, masuk kita harus beli tiket limaribu rupiah per orang, jika ingin camping sehari, kita juga membayar limaribu rupiah per orang, dst. Namun, karena tidak ada satu pun penjaga yang ada, kita langsung nyelonong masuk saja. :D

Dwi dan Oddie

Jean Grey

Oh ya, aku lupa menjelaskan kita naik apa kesini. Seperti yang kutulis di atas, Dwi menaiki Oddie, sepeda lipat Foldx -nya, aku naik Austin, kali pertama Austin menemaniku gowes ke arah Karanganyar. Ranz naik Jean Gray, sepeda mini yang biasa dia naiki untuk berangkat bekerja. 



Jika empat tahun lalu kita kesini setelah musim kemarau yang cukup panjang, sehingga banyak pohon-pohon yang terlihat gersang, tanpa dedaunan, kali ini musim hujan telah tiba, hingga jelas suasana di dalam hutan sudah berbeda. Semua pohon rimbun penuh daun. 




Kali ini kita menjelajah lebih masuk lagi ketimbang empat tahun lalu, hingga kita bertemu dengan deretan pohon-pohon pinus. :) Namun, seperti empat tahun lalu, dengan alasan khawatir tersesat lebih jauh ke dalam, akhirnya kita balik lagi ke arah semula, perempatan dimana kita seharusnya belok kanan (jika dilihat dari arah kita masuk). 





Selain kondisi pepohonan yang berbeda, satu hal lain lagi yang berbeda adalah Waduk Delingan a.k.a Tirtomarto. Empat tahun lalun waduk dalam kondisi kering kerontang, kali ini ada airnya! Yeay! :) 

Bersepeda sejauh 29 kilometer ternyata tidak semelelahkan bersepeda (plus nuntun) sepeda sejauh dua kilometer (saja) di dalam hutan. LOL. 

Aku dan Dwi yang sama-sama mengenakan celana panjang plus kaos lengan panjang aman dari serangan nyamuk-nyamuk yang jumlahnya bejibun! Ketika ada seorang penjaga hutan lewat, berhenti dan mengajak kita ngobrol, dia malah menawari Ranz untuk mengolesi tangan dan kakinya dengan obat nyamuk oles. LOL. 

Sampai kita keluar dari kawasan hutan, syukurlah kita tidak bertemu dengan harimau (entah ada atau tidak) atau pun ular, atau jenis binatang berbahaya lain. Hah! Baru sekarang kepikiran betapa beresikonya yaaa? :)

di angkringan

Dalam perjalanan balik ke Solo, kita mampir ke satu warung wedangan. untuk minum es teh dan menikmati sebungkus nasi. 

Perjalanan kembali ke kawasan Laweyan sama lancarnya dengan perjalanan berangkat. Setelah ini jika bersepeda ke arah Karangnyar, ngajakin Ranz ke Tawangmangu lagi ah :D napak tilas! :D

LG 15.15 07/09/2016

Kisah gowes ke Wana Wisata Gunung Bromo empat tahun lalu bisa dibaca disini :)


Selasa, 06 September 2016

Spoiler :D

Setelah menghadiri acara nonton bareng film BIKES VS CARS di Rumah Dinas Walikota Surakarta di Loji Gandrung, yang merupakan rangkaian kegiatan Solo Lestari Bersepeda sekaligus syukuran HUT ke-11 B2W Indonesia yang dipusatkan di Solo, pada hari Sabtu tanggal 3 September 2016, aku, Ranz dan Dwi dolan ke hutan wisata satu ini.

Aku belum menulis kisahnya. Foto-foto di bawah ini sebagai spoiler dulu yaaa? :D

tugu perbatasn masuk Kabupaten Karanganyar, spot wajib foto :D












Jika penasaran lokasinya dimana, klik link ini yaaa :)

LG 07/09/2016

Selasa, 23 Agustus 2016

Sepeda Turing?

Tulisan ini berangkat dari keprihatinan ketika ada orang-orang di sekitarku yang mengatakan belum bisa turing a.k.a bikepacking a.k.a mbolang naik sepeda hanya gegara belum punya "sepeda turing".

Lhah. Sebegitunya kah sepeda turing ini bakal menghambat seseorang dari keinginan merambah kota-kota lain dengan naik sepeda?

Karena pada prakteknya, selama lima tahun terakhir ini aku dan Ranz -- soulmate mbolangku -- ga pernah berpikir tentang hal ini, kecuali satu hal. Sepeda lipat.

Mengapa sepeda lipat?

Seperti yang kutulis di link ini, sepeda lipat kita pilih karena kepraktisannya. Selama ini, memang pengalaman dolan kita adalah berangkat naik sepeda, sejauh yang kita rencanakan, kemudian pulangnya kita akan naik angkutan umum, misalnya bus. Lebih banyak bus yang 'welcome' pada sepeda lipat ketimbang sepeda berban 26'. Apalagi kereta api. :)

Austin di Pantai Serangan Bali. Pemandangan yang jarang lho ini Austin 'terbebani' pannier. Karena biasanya semua pannier nangkring di Pockie. kekekekeke ...

Satu hal yang wajib ada di sepeda lipat kita adalah rak boncengan. Rak haruslah dipilih yang cukup tinggi sehingga ketika kita meletakkan tas pannier di atasnya, tas tidak akan menyentuh tanah, plus tidak akan mengganggu gerak kaki kita mengayuh pedal.

Mengapa tas pannier? Karena konon ketika kita bersepeda jarak jauh, punggung haruslah terbebas dari beban apa pun. Dengan meletakkan tas pannier di rak boncengan memang akhirnya menyebabkan kayuhan pedal lebih berat ketimbang tanpa beban. Namun, oleh para pakar turing, kaki lebih tahan terbebani ketimbang punggung dalam jangka waktu lama.

Pockie, otw mbolang ke Tuban

Dalam petualangan bersepeda kita berdua selama kurang lebih lima tahun ini, kita berdua memang lebih sering naik sepeda lipat, karena ogah repot mengirim sepeda (besar) lewat ekspedisi, misalnya, setelah selesai mbolang. Jika jarak yang kita tempuh lumayan jauh, butuh waktu 4-5 hari, Ranz akan menaiki Pockie, sepeda lipat 20"nya. Jika hanya butuh waktu 2-3 hari, Ranz naik Shaun, sepeda lipat 16"nya.

Namun, tahun lalu, Ranz naik Haro, sepeda bmx-nya waktu kita mbolang ke Jepara dan menginap semalam disana, setelah dia membeli tas pannier yang khusus dipasang di bawah sadel. (Check this link.)

Haro dengan gembolannya

Bagaimana denganku? Aku lebih sering naik sepeda lipat, Awal mulanya aku naik Snow White, sepeda lipat polygon urbano 3.0. (Eh, Ranz yang naik Snow White, aku naik Pockie yang waktu itu belum dipasang rak boncengan yang memadai.) Kemudian naik Austin, sepeda lipat downtube nova. Dua kali aku naik Cleopatra, waktu dolan ke Candi Cetho dan Candi Sukuh.  Di saat yang sama, Ranz naik Shaun. LOL.



So?

Masihkah kamu memaksa dirimu sendiri untuk terlebih dahulu memiliki "sepeda turing" sebelum mengeksekusi keinginanmu bikepacking? Karena sebenarnya sepeda apa pun oke, asal nyalimu siap untuk itu. (ssshhhtttt ... teman-teman lowrider Semarang juga ada yang punya pengalaman mbolang luar kota lho? Naik sepeda jenis lowrider! hebat kan mereka?)

LG 13.13 24/08/2016

Untuk tips sebelum bikepacking, klik link ini yaaa?

Senin, 22 Agustus 2016

Segowangi 31

Berhubung aku berencana menghadiri acara peringatan ulang tahun BIKE TO WORK INDONESIA yang ke-11 di Solo pada tanggal 26-28 Agustus 2016, (dan para dara pesepeda yang tergabung di SEMARANG VELO GIRLS menolak untuk 'menggawangi' segowangi jika tetap diadakan pada tanggal 26 Agustus) pelaksanaan segowangi ke-31 aku ajukan di hari Jumat ketiga, yakni tanggal 19 Agustus 2016.


Seperti biasa, aku dan Ranz sampai di Balaikota jelang pukul 18.45. Belum ada penampakan pesepeda lain. Namun, tak lama kemudian satu persatu pesepeda mulai berdatangan. Nampak juga beberapa wajah baru.

Segowangi ke-31 ini kuberi tema DIRGAHAYU NEGERIKU INDONESIAKE-71 dengan dress code kaos atau jersey warna merah atau putih.

Rute yang kupilih kali ini Balaikota -- Jalan Pemuda -- Jalan Gendingan -- Jalan Imam Bonjol -- Jalan Hasanudin -- Jalan Satria Utara -- Jalan Brotojoyo (Pondok Indraprasta) -- Jalan Indraprasta -- Jalan Imam Bonjol -- Tugumuda -- Jalan Sugiyopranoto -- Jalan Jendral Sudirman -- Kalibanteng -- Jalan Pamularsih -- Jalan Puspowarno Raya -- Jalan Puspowarno Selatan -- Gereja Bongsari -- Jalan Pusponjolo Selatan -- Jalan Suyudono -- Lemahgempal (Kalisari) -- Jalan Dr. Sutomo -- Tugumuda -- Jalan Pemuda -- Balaikota.

Tidak ada sesi berhenti untuk foto-foto di satu tempat :)

Berhubung Semarang Barat (katanya) dipayungi mendung, Avitt khawatir hujan, maka dia datang naik motor. Walhasil, dia diberi tanggung jawab sebagai seksi dokumentasi, membantu fotografer utama kita, Ranz. :)

Suwun rekan-rekan yang telah datang untuk terus menjalin silaturahmi bersama. :)