Sabtu, 10 Februari 2018

Mbolang Naik Sepeda Lipat? Hyuuuk.

SELIER BIKEPACKER

Ketika pertama kali bersepeda antar kota dengan jarak (lumayan) jauh dengan Ranz di tahun 2011 kita memilih naik sepeda lipat karena praktis. Pulangnya kita tidak perlu mengayuh pedal karena tinggal kita lipat, naikkan bus. DONE! (Bulan Juni 2011, kita bersepeda Solo – Jogja, dilanjutkan dengan bersepeda ke Kaliurang, pertama kali aku menjajal naik sepeda lipat di tanjakan. Kemudian di bulan Juli kita bersepeda Jepara – Semarang sepulang dari Karimun Jawa dengan harapan bisa mengobati mabuk laut setelah diombang ambing ombak dalam KM Muria selama 6 jam. Dilanjut bersepeda Solo – Pantai Nampu Wonogiri di bulan September 2011.)

bikepacking Semarang - Tuban - Agustus 2012
bikepacking Semarang - Tuban - Agustus 2012

Sebagai seorang newbie dalam sepedaan, aku bahkan tidak pernah memperhatikan jenis-jenis sepeda kecuali sepeda gunung dan sepeda lipat. Tidak tahu apa beda sepeda gunung dengan sepeda yang disebut hard tail, All Mountain, fullsus, bahkan juga sepeda balap. LOL. Yang berbeda dari semua jenis sepeda yang aku tahu waktu itu hanyalah sepeda lipat, karena sepeda lipat bisa dilipat. Itu saja. Aku juga bukan pemerhati merk-merk sepeda.

Tahun 2011 – 2012 itu aku dan Ranz sedang asyik-asyiknya mbolang dengan naik sepeda lipat, berusaha mencari waktu luang yang bisa kita miliki bersamaan untuk kemudian merencanakan dolan kemana. Tidak pernah ngeh bahwa ternyata di kalangan ‘turinger’ mereka memiliki persyaratan ini itu agar seseorang bisa dianggap melakukan perjalanan yang bisa dikategorikan turing. Ketika seseorang tidak memenuhi persyaratan itu, dia dianggap tidak layak mengklaim diri sedang turing. Salah satunya adalah harus naik sepeda yang mumpuni, yang memang dirancang untuk bersepeda jarak jauh. Istilah yang mereka gunakan adalah sepeda turing.
Solo - Sidoarjo November 2012

Aku lupa mulai kapan aku dimasukkan oleh seseorang dalam grup “Komunitas Bikepacker Indonesia” di facebook. Well, aku masuk banyak grup di facebook, namun tidak pernah begitu memperhatikan isinya apa saja. Hingga satu kali di grup satu ini ada seseorang yang melontarkan pertanyaan, “Bisakah kita melakukan turing dengan menaiki sepeda lipat?” HELL YEAH ... what kinda question is that? LOL. Lha terserah lah ya kita mau naik sepeda apa? Kok sampe segitunya ga pede? LOL. Di satu perjalanan Semarang – Jepara bulan Juni 2012, aku dan Ranz bertemu dua anak usia belasan tahun yang mengaku sedang dalam perjalanan menuju Surabaya, yang satu naik sepeda gunung, yang satunya lagi naik city bike. Nah tuh, naik sepeda yang mungkin diklaim sepeda hanya untuk pergi ke pasar bisa juga kan melakukan perjalanan ratusan kilometer? Di tahun yang sama Ranz naik sepeda BMX-nya dari Solo menuju Semarang! Yang penting niat dan mewujudkan niatnya itu menjadi kenyataan.

di atas sungai Bogowonto Maret 2013

bikepacking Solo - Purwokerto Maret 2013

Tahun 2013 ketika mengikuti satu event sepedaan di Jogja, seorang kawan sepeda berkata kepada Ranz, “Kalian berdua nyadar ga sih kalau kalian telah merusak tatanan turing? Sepeda lipat itu selayaknya dipakai hanya dalam kota. Bukan untuk turing dari satu kota ke kota lain.” Tentu saja dengan nada yang sangat ramah di telinga; bukan dengan nada mencemooh. J dia bercanda. Maka, aku dan Ranz pun hanya tertawa renyah mendengarnya.

Jogja attack, event pra-jamselinas 

JAMSELINAS ~ jambore sepeda lipat nasional

mbolang Blitar - Malang, Juni 2014

Sejak pertama kali menyelenggarakan jamselinas di tahun 2011, para pengurus komunitas sepeda lipat dengan pede mencanangkan akan mengadakannya secara tahunan. Jika di awal-awal penyelenggaraannya, pesertanya mungkin ‘hanya’ mencapai angka duaratus hingga tiga ratus peserta, semakin lama peserta pun semakin membludak, hingga puncaknya di event jamselinas ketujuh dimana ada lebih dari 1300 peserta mendaftar.
Entah apakah ini hanya terjadi di kota Semarang, atau juga terjadi di kota-kota lain, namun menjelang penyelenggaraan Jamselinas ketujuh, banyak pesepeda di kota Semarang yang dulu memandang sepeda lipat hanya dengan sebelah mata (hanya sepeda anak-anak, atau hanya sepeda yang Cuma bisa dipakai ke area CFD) mulai memandang sepeda lipat adalah jenis sepeda yang seksi; mereka berbondong-bondong membeli sepeda lipat; berbondong-bondong mendaftarkan diri mengikuti jambore kebanggaan para pehobi sepeda lipat. Kenyataan bahwa banyak peserta jamselinas Semarang adalah ‘newbie’ di ajang jamselinas menunjukkan bahwa peminat sepeda lipat memang meningkat cukup signifikan.
dolan Wonosobo - Dieng, Januari 2012

Beberapa bulan sebelum penyelenggaraan jamselinas ketujuh, orang-orang juga berlomba-lomba mengikuti satu event bergengsi J150K alias Jogja 150 kilometer, yang berarti bersepeda menyusuri jalanan Jogja, yang dikhususkan untuk pengguna sepeda lipat. Jika tidak dibatasi oleh panitia, mungkin jumlah peserta juga bakal membludak hingga mencapai angka seribu. Di event ini pertama kali aku tahu ada satu komunitas yang menamai diri SELIER  BIKEPACKER. Wah ... Aku dan Ranz banget kan yaaa? :D


Solo - Jogja, Juni 2011

INDONESIA FOLDINGBIKE

Indonesia foldingbike atau yang biasa disingkat menjadi id-fb (baca : ai di ef bi) adalah satu wadah/komunitas pehobi sepeda lipat yang didirikan di Jakarta di tahun 2007; semula untuk mewadahi lipaters yang tinggal di Jakarta. Dalam ‘perjalanannya’ id-fb ini dianggap sebagai induk komunitas sepeda lipat di kota-kota lain seluruh Indonesia. (Aku menganggapnya serupa dengan B2W Indonesia yang merupakan induk dari ‘komunitas’ B2W di kota-kota lain di Indonesia.)

Menjelang ulang tahunnya yang kesebelas di bulan Maret nanti, member grup id-fb di facebook telah mencapai angka 11 ribu orang. Di satu status yang ditulis oleh akun bernama pengurus id-fb tentang ulang tahun ke-11 ini, seseorang komen bahwa dari angka 11 ribu ini hampir 90% nya berasal dari “federal cycle”. WOW.

Seorang kawan sepeda pernah bilang ke Ranz bahwa satu kali sekian tahun yang lalu, konon, para federalis ini salah satu yang memandang sepeda lipat dengan sebelah mata. Juga, konon, pernah juga terucap bahwa kalau turing itu ya naik sepeda federal. Kawan yang sama ini juga lah yang dengan bercanda berkata kepada Ranz bahwa kita berdua telah merusak tatanan turing. LOL. Setelah sekian tahun berlalu, mereka pun mulai beralih ke sepeda lipat! Ciamik kan yaaa. LOL.

Dan kenyataan bahwa komunitas federal mengadakan acara jambore nasional hanya tiap dua tahun sekali, berbeda dengan komunitas sepeda lipat yang dengan pede sejak tahun 2011 mengadakan event silaturrahmi lipaters terbesar se Indonesia ini setahun sekali. Plus ... event untuk lipaters ini tidak hanya jamselinas lho. Jika ada satu wadah sepeda lipat satu kota mengadakan event, berbondong-bondong para pehobi sepeda lipat – yang tentu juga hobi dolan – akan ikut. Satu penyebab mengapa event untuk para lipaters ini mudah mengundang partisipan tentu adalah bahwa sepeda lipat ini sangat fleksibel untuk dibawa keluar kota. 

Sekian bulan lalu, seorang kawan facebook yang baru menambahkanku di medsos milik Mark Zuckerberg ini bilang bahwa dia telah membaca petualanganku bersepeda antar kota antar propinsi di blog sejak masa sepeda lipat belum ‘sememasyarakat’ seperti sekarang. Dia yang semula juga naik sepeda federal juga mulai mencicipi naik sepeda lipat. Wahhh ...

Jadiii? Barang kali aku dan Ranz akan terus (merencanakan) dolan antar kota antar propinsi (antar pulau juga) dengan naik sepeda lipat, meski setelah mengalami bersepeda dari Sidoarjo ke Semarang dengan naik sepeda dengan ban berdiameter 26” di bulan Juli 2017, kita berencana akan mengulangnya lagi, entah bersepeda dari kota mana ke kota mana. J just wait and see.


LG 18.18 09/2/2018

JFB9UYUB Saklawase

JFB9UYUB

Ini adalah event ultah JFB ketiga yang kuikuti bersama Ranz. Yang pertama, bertajuk pitulungan, ultah JFB yang ketujuh, tahun 2016. Yang kedua J150K2 ultah kedelapan, tahun 2017. Untuk ultah yang kesembilan, kawan2 Jogja Folding Bike memberinya judul JFB9UYUB (sak lawase).
Aku berangkat dari Semarang hari Sabtu 3 Februari 2018. Semula berniat mengayuh pedal Austin dari kantorku yang terletak di Jalan Imam Bonjol menuju (terminal kecil) Sukun, sekitar 12 kilometer dengan 4 tanjakan – Jl. S. Parman, Jl. Sultan Agung, Jl. Teuku Umar, dan puncaknya adalah Gombel. Namun ternyata keinginan ini tidak diizinkan oleh Semesta; hujan mengguyur kota Semarang sejak pagi hari!

setelah acara usai :)

Jam 12.00 ketika aku menyelesaikan tugas mencerdaskan kehidupan generasi penerus bangsa, hujan sudah menjadi gerimis. Namun karena sepanjang hari hujan dan gerimis terus berkelindan dengan mesra, aku pikir ada kemungkinan kuat di perjalanan gerimis ini akan berubah menjadi hujan. L Akhirnya aku mengalah: aku memesan gocar. Ga asik aja rasanya belum nyampe Jogja kok sudah basah kuyup, meski tetap memakai mantel. :D

Sekitar jam 13.10 aku sampai Sukun. Satu bus patas Semarang - Jogja yang sempat kulihat waktu aku turun dari gocar pelan-pelan meninggalkan Sukun. L Aku harus menunggu kedatangan bus berikutnya. Ini malah membuatku memiliki waktu untuk mampir ke toilet sebentar, dan mengisi perut ala kadarnya di warung yang ada disitu.

Jam 13.30 bus patas yang kunaiki mulai beranjak meninggalkan Sukun. Selama perjalanan hujan terus menerus turun, meski kadang intensitasnya berkurang. Aku sampai di Jombor pukul 16.30, tepat seperti prakiraanku : 3 jam dari Sukun menuju Jombor. Aku langsung unfold Austin, kemudian menaikinya menuju Malioboro, dimana Ranz telah menungguku di titik kilometer 0.
Setiba aku di depan benteng Vredebur, Ranz langsung mengabariku kabar gembira (untuk kita berdua!) Om Ayung Lim dari Tasikmalaya yang baru saja nyampe Jogja, ditelpon oleh keluarganya, diminta untuk kembali ke Tasik karena anaknya akan segera melahirkan cucunya. Karena sayang kamar hotel yang telah dia bayar sewanya ditinggal begitu saja, dia berikan kunci kamarnya ke om Aryo, satu panitia JFB9uyub, dan oleh om Aryo, kunci diberikan ke Ranz. :D Well, sebenarnya kita berdua telah booking satu kamar di penginapan lain, tapi masih bisalah kita cancel. Ihirrr.

otw dari Jombor

snacking time di hotel

Setelah cancel pemesanan kamar lewat online, kita menuju hotel Indah Palace yang terletak di Jalan Sisingamangaraja Jogja, kira2 sekitar 500 meter dari tikum gowes JFB9uyub keesokan hari. Setelah memasukkan barang-barang ke dalam kamar, menikmati kudapan makanan kecil dari hotel, kita keluar mencari makan malam. Perutku sih sudah cukup kenyang, tapi Ranz masih lapar. J otw nyari makan malam, kita bertemu pasangan om Suwandhi (dari Bandung) dan om Fatih (dari Jakarta) yang juga sedang mencari tempat untuk makan malam. Akhirnya kita berdua ngikut pilihan mereka untuk makan di Bakso Balungan di jalan Kol. Sugiyono itu. Usai makan, kita memisahkan diri. Mereka berdua menuju guest house Omah Lawas dimana kawan2 Komselis menginap, sedangkan aku dan Ranz kembali ke hotel, karena Ranz merasa kurang enak badan.
Sebenarnya awal mulanya aku dan Ranz pun akan menginap bareng2 kawan2 Komselis. Namun Ranz yang maunya segala sesuatu dikerjakan secepatnya, dia sudah memutuskan untuk booking kamar, ketika kawan2 Komselis sedang memilah dan memilih mau menginap dimana. :D Dan, ternyata akhirnya kita berdua pun dapat penginapan gratis. Rezeki emak yang baik hati dan tidak sombong. LOL.

Gowes JFB9UYUB 4 Februari 2018

Beberapa hari sebelumnya, panitia sudah mengumumkan bahwa mereka tidak lagi menerima pendaftaran ulang di hari Minggu pagi. Segala urusan pendaftaran ulang harus diselesaikan satu hari sebelumnya. Hal ini menyiratkan bahwa kemungkinan besar di hari Minggu pagi itu, kita bakal mulai gowes tepat waktu, yakni pukul 06.00, ga pake molor. LOL.

Pukul setengah lima Ranz sudah ke toilet, memulai ritual paginya. LOL. Jam lima gantian aku mandi, kemudian mempersiapkan diri. Pukul setengah enam kita keluar kamar, menuju dining room, tempat kita sarapan. Semalam Ranz sudah bilang kita mau sarapan lebih awal dari jam yang ditentukan hotel. Dan, ternyata benar, jam setengah enam itu, berbagai jenis makanan sudah disajikan.



Jam enam kita meninggalkan hotel menuju Museum Perjuangan di Jalan Kol. Sugiyono no. 24, satu jalan di Jogja yang mungkin tidak akan kutapaki jika bukan karena event ini. LOL. Sampai disana, sudah lumayan banyak pesepeda lipat yang datang. Kawan-kawan Komselis belum terlihat. Beberapa panitia terlihat menawarkan arem-arem untuk mengisi perut. Berhubung aku sudah kenyang ketika meninggalkan hotel, aku menolak ketika diberi. :D

Para peserta gowes JFB9uyub diberangkatkan sebelum pukul 06.30. Well, lumayan on time, ga pake molor panjang. Kali ini Ranz naik Pockie, sepeda lipat pocket rocket 20” yang telah dia pakai mbolang sejak tahun 2011, mungkin sepeda lipat yang paling pas untuk Ranz, bahkan jika dibandingkan dengan Astro, polygon urbano 3.0. J

Sejak awal, banyak pesepeda yang sudah langsung ngebut di depan. Terkadang kita berdua bahkan tidak melihat pesepeda di depan kita maupun di belakang kita. J Jika tidak ada marshall di titik-titik rawan, bisa-bisa kita tersesat nih. :D

Berhubung sewaktu kuliah di Jogja aku hanya mengenal kos (Jakal km 5 atau Jl. C. Simanjuntak) dan kampus Bulaksumur, tentu aku tidak tahu nama-nama jalan yang kita lewati yang menuju arah Kulon Progo. Pokoknya ngikut ajah.



Setelah mengayuh sepeda sejauh kurang lebih 15 kilometer, kita sampai di pitstop pertama, tak jauh dari Museum Suharto, mantan orang pertama Indonesia tahaun 1967 – 1998. Disini, kita tidak hanya diberi kesempatan untuk beristirahat, namun sekaligus menunggu pasukan yang masih ada di belakang, agar jarak yang terbentang tidak terlalu jauh; agar selama perjalanan terlihat gerombolan para pesepeda lipat yang mengenakan kaos warna biru dongker (black blue) dengan tulisan jfb9uyub di bagian depan.

Mungkin kita berhenti di pitstop pertama ini sekitar 30 menit. Aku dan Ranz yang tidak merasa lelah sama sekali ingin mendahului melanjutkan perjalanan, namun oleh panitia kita tidak diizinkan; weh, beda dengan waktu J150K2.

nanjak lho ini :D

Etape yang kedua masih menyuguhkan pemandangan yang hampir sama, hamparan sawah yang luas di sisi kiri dan kanan. Ketika kita sudah sampai di kawasan Kulon Progo, kita mulai juga melihat tumpukan gunung2 di ujung Barat. “Ini jalan yang kita lewati waktu kita gowes Solo – Purwokerto Maret 2013!” kata Ranz, mengingatkanku. Weleh ... kita sudah sampai toh di jalan ini?


Ternyata terkadang ingatanku sangat buruk. L Waktu kita sampai di satu turunan yang cukup curam dimana di bawah turunan itu ada jembatan, dan sungai di bawahnya adalah sungai Progo, Ranz mengingatkanku lagi. “Ini jembatan yang dulu kita foto!” waaaaa ...

Setelah melewati jembatan, trek nanjak yang cukup ngagetin menunggu. Weleh, kok aku ga ingat apa-apa tentang trek ini yak? L L L Setelah tanjakan itu, beberapa puluh meter di depan, ternyata masih ada tanjakan lagi. hohoho ... setelah itu, kita langsung belok kanan, menapaki jalan setapak. Wah, untunglah ga becek treknya. Hmm ...




Setelah beberapa meter melewati jalan setapak itu, kita diberi aba-aba untuk belok kanan, weleh, kembali ke arah Timur ini? Ini berarti kita dikerjain panitia. LOL. Apalagi ketika di satu jalan dimana kita belok kiri, kita bertemu satu panitia yang datang dari arah kanan. Waaah ... harusnya ga usah nanjak tadi! LOL.

Aku lupa melihat jam berapa kita sampai di satu tempat yang disebut Geblek Pari, Nanggulan, Kulon Progo ini, satu warung pinggir sawah dengan sajian khas pedesaan. Selain pemandangan sawah di sekitar, pemandangan gunung Menoreh sangat mengesankan!

ACARA ULANG TAHUN

Acara ulang tahun JFB dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Kemudian seperti biasa sambutan-sambutan. Dilanjutkan dengan pemberikan kenang-kenangan pada komunitas yang datang; satu kota diwakili satu komunitas sepeda lipat yang telah tercatat resmi oleh Indonesia FoldingBike. Yang paling ditunggu-tunggu, selain pembagian door prize dengan hadiah utama berupa sepeda lipat trifold dua biji, juga lelang frame sepeda lipat.




Untuk kudapan, pihak Geblek Pari menyediakan makanan-makanan khas desa, seperti geblek, pisang goreng, kacang rebus, dan beberapa jenis minuman, seperti teh, wedang sereh dan wedang rosela. Untuk makan besar, aku dan Ranz makan satu piring berdua; Ranz yang mengambilnya, berupa nasi, telur dadar, tempe goreng, oseng soun dan sayur terong.


Avitt menang 'ngebid' 

Acara selesai menjelang pukul 11.00. panitia mengumumkan bahwa ada satu armada truk untuk loading balik ke Jogja, meski beberapa hari sebelumnya diumumkan bahwa panitia tidak menyediakan armada loading. :D Aku, Ranz, dan kawan2 Komselis memilih gowes balik ke Jogjanya. Di jalan kita sempat digodain hujan. Sempat sekali kita berteduh, Cuma sebentar, hujan berhenti. Kemudian kita melanjutkan perjalanan, terutama setelah Ranz memasukkan kameranya ke dalam tas di handle bar sepeda Da. Tak jauh dari situ, kita melihat hujan turun di jalan depan kita, beberapa meter jauhnya. Waaah ... kita langsung berteduh di satu bangunan yang kebetulan ada di sebelah kanan. Dari situ, kita putuskan untuk mengenakan mantel.

Karena sudah pernah lewat jalan itu, aku dan Ranz hafal bahwa untuk menuju Tugu Jogja, kita cukup lurus saja di jalan yang kita lewati. Di sepanjang jalan, kita bertemu para peserta gowes jfb9uyub lain yang berteduh di banyak lokasi. Mungkin mereka lupa membawa mantel. Aku dan Ranz berpisah dengan kawan-kawan Komselis ketika mereka belok ke arah kanan, menuju arah Gamping. Aku dan Ranz terus lurus ke depan hingga sampai di Jalan Kyai Mojo, sekitar 1 kilometer sebelum sampai perempatan Pingit. Ranz mengajak mampir ke warung SS, dia kelaparan dan nyidam makan sambal di SS. J Waktu menunjukkan pukul 13.10.

Warung SS cukupramai meski kita tidak perlu mengantri untuk mendapatkan tempat duduk. Kita duduk di area lesehan, di bagian depan, hingga kita bisa melihat ke arah jalan, dimana kita melihat banyak peserta gowes jfb9uyub lewat untuk kembali ke Jogja.

Menjelang pukul setengah tiga, aku dan Ranz berpisah di depan warung SS tempat kita makan siang. Ranz menuju stasiun Tugu Jogja, aku langsung ke arah terminal Jombor. Mendung kembali menggayut di langit Jogja. Bahkan sekitar satu kilometer menjelang sampai Jombor, aku mulai kegerimisan lagi.

Seperti sehari sebelumnya, waktu aku sampai terminal, ada satu bus patas sedang ngetem. Namun ketika aku sedang melipat Austin dengan buru-buru, bus itu telah pergi meninggalkan terminal Jombor. Heleh. LOL. Akan tetapi beda dengan sehari sebelumnya, ternyata di belakangnya telah datang satu bus patas lain! Dengan suka cita, aku langsung membeli tiket, dan naik bus. Ini armada baru, bukan bus N****t*** maupun bus R***y***, melainkan bus H**y***o. Hanya 10 menit setelah aku naik bus, bus ini telah berangkat meninggalkan terminal Jombor. Owh ... cepat sekali!
Sepanjang perjalanan pulang ke Semarang, hujan dan gerimis silih berganti. Aku pun mempersiapkan mental jika nanti setelah turun dari bus, aku harus kehujanan saat menaiki Austin dari Sukun menuju Pusponjolo.

Bus H**y***o yang kunaiki ini ternyata rada pelan jalannya. L Jika biasanya bus patas hanya butuh waktu 3 jam dari Sukun – Jombor atau sebaliknya – tanpa macet, kali ini kita butuh waktu tiga setengah jam. Bus sampai di Sukun pukul setengah tujuh malam! Sudah mulai gelap. Namun untunglah, tak ada tanda-tanda titik-titik gerimis turun! Alhamdulillah! Setelah unfold Austin, dengan suka cita aku mengayuh pedal untuk menuju area Tugumuda.

Aku telah sampai rumah sebelum pukul setengah delapan, tepat ketika aku mulai merasakan titik-titik gerimis jatuh dari langit. Yeay! J

Sampai ketemu di pengalaman Nana dan Ranz bersepeda berikutnya yaaa.


LG 15.00 08/02/2018 

Vlog besutan Ranz.


Jumat, 09 Februari 2018

R O M L I

R O M L I

Praktek mengikuti satu event sepedaan tanpa mendaftar resmi sebenarnya telah kulakukan di awal-awal aku ikut sepedaan bersama kawan-kawan B2W Semarang angkatan jadul. FUN BIKE yang kita kadang ikuti bersama. Zaman itu masih belum banyak event sepedaan yang diselenggarakan oleh komunitas. Yang paling penting waktu itu adalah kumpul bersama dan sepedaan bareng; dari pada pusing mikir rute, kita mengikuti saja rute yang ditentukan oleh panitia FUN BIKE. Memiliki kaos/jersey yang diselenggarakan panitia itu tidak penting; apalagi untuk sekedar mendapatkan kudapan/snack di akhir bersepeda. Kita sadar diri lah, kita kan tidak mendaftar, jadi yaaa ... ga dapat snack lah, apalagi door prize. J


Itulah yang disebut sebagai ROMLI alias ROMbongan LIar. Konon, ada lho komunitas ROMLI, yang berisi orang-orang yang hobinya mengikuti event namun tidak mendaftr secara resmi.

Aku sendiri tahu istilah ROMLI baru di awal tahun 2016, ketika ikut event Tour de Pangandaran 7; satu event besar yang diselenggarakan oleh B2W Tasikmalaya, didukung penuh oleh B2W Indonesia (pusat). Waktu mendengar istilah ROMLI pertama kali itu aku dan Ranz tertawa-tawa, yaolooh, ternyata ada namanya juga yak. LOL.

Tour de Pangandaran 7

Tour de Pangandaran 8

Tour de Pangandaran itu sendiri, menurutku pribadi, mirip dengan event FUN BIKE, meski jarak tempuhnya mencapai 107 kilometer. Jarak 107 kilometer itu dibagi menjadi dua etape. Pistop pertama di halaman depan TOSERBA SAMUDRA, untuk makan siang, setelah para peserta menempuh jarak kurang lebih 60 kilometer. Peserta resmi mendapatkan jatah makan siang disini. Untuk mengambilnya, peserta diberi kupon makan. Pitstop yang kedua di Pantai Pangandaran, peserta kembali mendapatkan jatah makan malam disini, dengan terlebih dahulu menyerahkan kupon makan.

Berhubung tata cara penyelenggaraannya seperti FUN BIKE, bisa dipahami jika ada buanyaaaaaaaaaaaak pesepeda yang menjadi ROMLI. Pertama, mereka tidak merasa butuh memiliki/mengenakan jersey resmi peserta. Kedua, mereka dengan mudah bisa mendapatkan warung untuk membeli makan/minum di sepanjang perjalanan Tasikmalaya – Pangandaran.

Sampai disini, aku berpikir bahwa para peserta ROMLI itu tidak menyebabkan masalah pada panitia. Dengan catatan mereka tahu diri bahwa mereka tidak memiliki hak apa pun yang diberikan oleh panitia kepada peserta resmi: misal evak dan makan/minum. Konon, ada juga lho peserta ROMLI yang membawa sendiri armada untuk evak rombongan mereka sendiri.

7AMSELINAS 2017 SEMARANG

Jamselinas a.k.a jambore sepeda lipat nasional yang merupakan satu event bergengsi para pehobi sepeda lipat adalah satu event yang selalu ditunggu-tunggu penyelenggaraannya setiap tahun. Biaya pendaftaran yang dikenakan kepada para peserta, konon, disayangkan oleh sebagian pesepeda lipat di Nusantara, karena dianggap cukup tinggi. Mereka tidak memikirkan bahwa uang sekian ratus ribu rupiah itu worth spending  lah ya dengan fasilitas yang diberikan oleh panitia : mulai dari armada evak hingga jamuan makan malam yang biasanya penuh dengan hidangan yang memanjakan perut peserta. (ditanggung energi yang dikeluarkan waktu acara bersepeda sepanjang jambore akan langsung kembali berikut bunganya di acara makan malam. LOL.)

Event jamselinas yang telah diselenggarakan sejak tahun 2011, menurutku mencapai puncak ‘kejayaan’nya di penyelenggaraan yang ketujuh, ditandai dengan ribuan orang mendaftar sebagai peserta hanya dalam tempo sekian hari pendaftaran dibuka. Akhirnya untuk membatasi peserta – agar panitia tidak terlalu repot J -- pendaftaran ditutup setelah jumlah peserta mencapai angka seribu orang. Hal ini membuat banyak pesepeda (lipat) yang berpikir untuk menjadi romli saja.

rombongan Komselis dalam Jogja Attack Maret 2011, cikal bakal jamselinas

Namun ternyata, para peserta romli itu tidak semuanya paham statusnya yang hanya seperti benalu. Di event Tour de Pangandaran – sebelum mencapai TdP7, jadi di event2 TdP sebelumnya – para panitia berbaik hati menyediakan evak untuk peserta romli yang keser-keser di jalan. Ini berarti mengurangi jatah bantuan yang diberikan kepada peserta resmi. Nah, bisa jadi kebaikhatian ini akan terus menerus ‘diharapkan’ orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dan, terkadang, memang panitia merasa tidak enak hati jika ada peserta romli yang, misal, mengalami kendala dalam perjalanan.

7amselinas



Dalam event 7amselinas 2017 di Semarang, diketahui bahwa ada sekian gelintir (atau mungkin puluh, panitia tidak sempat mendata) peserta romli. Kesibukan mengurus peserta resmi tentu membuat panitia tidak sempat meneliti peserta romli satu per satu, apalagi tidak semua peserta resmi berkenan mengenakan jersey resmi yang dibagikan panitia sebelum hari H, hingga menyulitkan panitia untuk mengenali. Belum tentu peserta yang tidak mengenakan jersey resmi adalah peserta romli. Tidak masalah jika peserta romli ini paham bahwa dia hanya benalu, hanya ikutan bersepeda di rute yang sama yang ditentukan panitia, tanpa meminta hak-hak yang hanya pantas diberikan kepada peserta resmi. Namun jika kemudian dia ikutan mengambil makanan yang disediakan (yang ditata secara terbuka, pesepeda boleh ambil sendiri sesampai di lokasi, tanpa perlu menunjukkan/menyerahkan kupon snack), bisa dipahami lah jika panitia kesal. Hal ini akan menyebabkan peserta resmi yang sampai di lokasi belakangan bisa tidak mendapatkan snack yang disediakan secara pas-pasan.

Bisa dipahami lah jika di event-event sejenis lain di kesempatan berikutnya para romli ini membuat panitia kesal.

So? Silakan saja jika ingin menjadi peserta romli. Hanya sekedar ikut bersepeda di rute yang ditetapkan oleh panitia, ya oke-oke saja. Tapi, please, sadar diri lah bahwa anda itu benalu bagi panitia. Jangan mengambil hak-hak yang hanya layak diberikan kepada peserta resmi.

Begitu lho. J


LG 10.35 08/02/2018 

Senin, 29 Januari 2018

SEGOWANGI 48 ~ welcoming Imlek

SEGOWANGI 48

Di awal tahun 2018 ini penyelenggaraan segowangi telah mencapai angka ke-48! Alhamdulillah. Layak dirayakan ya? Bentar lagi ulang tahun yang keempat! Yuhuuu ... Sayangnya, yang biasa mencetuskan ide untuk ngapain sedang super sibuk mempersiapkan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaannya. Well, yes, Ranz sibuk melulu akhir-akhir ini.

Sebenarnya Ranz sudah melontarkan ide ke aku sih, tinggal aku iyain atau engga. :D gantian akunya yang juga sibuk memilah dan memilih harus ngapain. :D (ngeles ini judulnya!)



Atas usul Ahok KW alias Kie Kie Qiut, tema segowangi kali ini adalah “Segowangi welcoming Chinese New Year” . Imlek masih beberapa minggu lagi sih, tapi kata “welcoming” kan bisa digunakan jauh-jauh hari juga kan ya? Dan ... alhamdulillah Avitt si empunya toko virtual BikeVitGarage a.k.a Ratu Krapyak sempat membuatkan flyer. (Shhttt ... dengan alasan aku ga ingin terus menerus merepotkan Riu yang selama lebih dari dua tahun telah membuatkan flyer segowangi, namun sialnya aku tak bisa membuatnya sendiri, LOL, aku kadang menunggu Avitt menawarkan diri membuatkan flyer. Hihihi ...)




Untuk dress code aku spontan memilih warna merah merona. (lha padahal di bulan Desember aku memilih warna merah ngejreng. Kekekeke ... apa bedanya?) Sedangkan untuk rute (ternyata) agak mirip dengan rute segowangi47. Yaitu, balaikota – tugumuda – jalan Sugiyopranoto – jembatan Banjirkanal Barat (berputar) – jalan Indraprasta – jalan Imam Bonjol – Stasiun Poncol – Stasiun Tawang – Kota Lama – jalan Pekojan – Klenteng Tay Kak Sie (photo session) – jalan Pekojan – jalan Gajahmada – jalan Pemuda – balaikota.

Hari Jumat siang itu Semarang cukup panas. Sore sedikit mendung, namun tidak ada tanda-tanda hujan. Ketika aku dan Ranz sampai di balaikota sekitar pukul 18.40, sudah terlihat beberapa pesepeda, misal Arifsandro dan seorang kawan kerjanya; duh mereka rajin sekali. :D Tak lama kemudian om Leo datang. Waaahhh J




Pukul tujuh malam sudah kuhitung sudah lebih dari 30 orang berkumpul. Alhamdulillaaah. Banyak juga kulihat wajah-wajah baru. J Melihat yang datang sudah cukup banyak, om Leo pun mulai mengejarku untuk segera berfoto-foto bersama untuk kemudian mulai gowes. Waduw ... padahal beberapa rekan yang rumahnya lumayan jauh yang sudah mengabari sedang on the way belum nampak batang hidungnya je. Akhirnya aku mengajak teman-teman berfoto bareng terlebih dahulu.




Ketika foto bareng ini, setelah beberapa kali jepretan, mendadak hujan turun. Hwaaa ... Ranz yang membawa lensa baru untuk kameranya langsung kabur menyelamatkan diri. LOL. Kawan-kawan pun langsung mengikuti. Kita berteduh ke teras balaikota!




Saat menunggu hujan berhenti, beberapa kawan pun datang. Iin datang dikawal Kie Kie Qiut, dan yang lain-lain. Ada dua pesepeda yang pernah mengajakku ngobrol di bengkel ADI BIKE di samping RST datang. Waaah ... mereka tahu dari mana yak? J


drama apakah ini? :p






Ternyata, hujan malam ini terus datang dan pergi, sesuka hati. J tiap kali kita melihat hujan mulai reda, kita sudah mau mempersiapkan sepeda untuk dinaiki, eh, hujan turun lagi. Begitu terus menerus hingga pukul sembilan malam. Waktu aku mau mengajak Ranz nekad bersepeda di bawah guyuran air hujan, dia bilang, “Aku ga mau basah, entar malam kan aku langsung balik ke Solo. Aku ga mau sakit.” Duh ... tubuhnya memang akhir-akhir ini tak lagi water proof. LOL. Ya sudah. Aku mengalah. J Dan nampaknya yang lain pun juga ogah kehujanan kala bersepeda malam-malam. J










Menjelang pukul sembilan malam, ketika kulihat ga ada tanda-tanda hujan akan benar-benar berhenti, kecuali mungkin hanya untuk sementara, aku membubarkan pasukan. Ini pun setelah beberapa kawan meninggalkan lokasi. Yang pertama pulang adalah Om Leo dengan seorang perempuan, mungkin keponakannya, dengan mengendarai sebuah mobil yang datang menjemput. Kemudian Om Andy yang mengenakan jersey bertuliskan WESEL POS (ternyata pensiunan Kantor Pos) juga pulang. Dia datang ke balaikota naik mobil, jadi dia cukup mencantolkan sepeda di bike rack yang dia pasang di belakang mobil. Ada juga dua pesepeda lain yang memanggil taksi, kemudian pulang duluan. :D

Duuuhhh ... maaf ya kawan-kawan. Malam ini kita hanya bersilaturrahmi di teras balaikota, tanpa bersepeda keliling kota bersama-sama. Semoga di bulan Februari nanti lebih bersahabat (cuacanya). Suwun telah meluangkan waktu untuk hadir ke balaikota dan ngobrol-ngobrol dengan riang gembira.


LG 12.50 29/01/2018