Selasa, 21 Oktober 2014

Gomingpai ke Brown Canyon

GOMINGPAI KE BROWN CANYON

Sehari setelah nge-tweedride, aku dan beberapa teman lain di hari Minggu 19 Oktober 2014 bersepeda ke arah Timur, tepatnya di kawasan Pucang Gading. Kita gowes ke satu lokasi yang disebut BROWN CANYON oleh orang-orang Semarang. Kali ini kita memilih rute yang berbeda dengan waktu kita kesinipertama kali di bulan Juni 2014. Kita tidak terus gowes sampai ke Terminal Penggaron untuk kemudian menyeberang dan belok ke kanan, kali ini kita belok ke Jalan Fatmawati, dan masuk kawasan perumahan Klipang Pesona Asri. Selanjutnya? Jangan tanya, aku ga hafal. LOL.

Sebenarnya aku sudah meminta Om Imam Fajar untuk menjadi penunjuk jalan. Namun sampai jam yang kutentukan – pukul 06.15 – dia ga muncul, akhirnya aku meminta Om Aris Hien untuk memimpin di depan. Rute berbeda yang dipilih oleh Om Aris, membawa kita melewati lokasi yang berbeda hingga tentu akan sangat sayang jika dilewatkan begitu saja tanpa foto-foto. LOL. (Dasar narsis! LOL.)











Jika lokasi Brown Canyon dikunjungi melalui perumahan Pucang Gading, tempatnya tidak terlalu berdebu; namun lewat Klipang (juga jika lewat Meteseh) lokasinya sangat amat berdebu. Sangat disarankan mengenakan masker atau buff sehingga tidak akan terlalu mengganggu saluran pernafasan. Tapi tentu saja pemandangannya sangat mengesankan! Hanya saja, kita datang pada waktu yang kurang menguntungkan: jika memotret dari sisi sini, backlight akan membuat hasil jepretan kurang mengesankan. Pablebuat?
Well, memang Brown Canyon sebenarnya bukan lokasi wisata. Ini adalah kawasan kerukan padas. Entah siapa yang memberikan izin kepada siapa untuk mengambil padas di kawasan ini untuk membangun. Pada saatnya nanti bisa jadi semua padas telah dikeruk dan dibawa ke tempat lain hingga hanya akan menyisakan satu padang luas berdebu. Meskipun begitu, this place is worth visiting laaah. J


GG 15.05 21/10/2014
















The Tweed Ride #1 Semarang

THE TWEED RIDE #1 IN SEMARANG
YANG BERSEPEDA YANG BERGAYA
Tweed Ride apaan sih? Bisa dicheck di postingan sebelum ini disini. J
Di hari Sabtu sore tanggal 18 Oktober 2014, serentak bersama 11 kota lain – Jakarta, Depok, Bogor, Bekasi, Bandung, Tegal, Boyolali, Solo, Surabaya, Gresik, dan Palembang – kota Semarang pun menyelenggarakan perhelatan TWEED RIDE yang pertama di Indonesia. Kota Batam menyelenggarakannya hari Minggu 19 Oktober 2013.

Di beberapa kota lain undangan berkumpul untuk TR pukul 15.00 di Semarang kuundur menjadi pukul 16.30 dengan alasan (1) menunggu mereka yang masih harus bekerja di hari Sabtu dan mereka baru bisa pulang sekitar jam 4 sore (2) Jam setengah lima sore sinar matahari masih terlihat sehingga jika mengambil foto, busana khas untuk berTR masih terlihat jelas. (3) di jalan ketika gowes bareng, dalam suasana masih cukup terang, dengan mudah menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang di jalan karena meski bersepeda kita mengenakan busana resmi (tidak hanya sekedar jersey atau t-shirt).












Honestly, aku sangat senang melihat antusiasme teman-teman yang datang dengan mengenakan busana keren mereka. Sampai pangling aku! Terlihat mereka mempersiapkan busana mereka dengan serius. J Balaikota kupilih sebagai titik kumpul karena halaman balaikota cukup luas hingga bakal cukup menampung ratusan orang sekaligus, (alasan yang sama mengapa balaikota kupilih sebagai titik kumpul untuk event “segowangi”) meski yang ikut #TWEEDRIDESRG #1 kali ini hanya kurang lebih 30 orang. J






Setelah foto bersama, pasukan TR #1 kuberangkatkan pukul 17.00. Sengaja tidak kupilih rute yang panjang, karena (1) khawatir busana yang dikenakan beberapa teman bakal membuatnya kesulitan gowes (misal mengenakan rok dan sepatu berhak tinggi) (2) saat masuk shalat maghrib segera tiba. Rute gowes kita kali ini: Balaikota – Jalan Pemuda – Jalan Pierre Tendean – Jalan Imam Bonjol – Kantor Pos Besar – Jembatan Mberok – Stasiun Tawang – Jalan Cendrawasih – Jalan Jendral Suprapto – Taman Srigunting. Mengapa Taman Srigunting sebagai titik akhir? Karena kebetulan tema TR adalah “back to the 19th century” maka jika berfoto ria dengan latar belakang gedung-gedung di Kota Lama tentu sangat tepat. J














Ternyata kita telah sampai di depan Gereja Blenduk – disamping Taman Srigunting – pukul 17.30. lumayan, belum masuk waktu maghrib; rombongan masih bisa berfoto-ria. Prakteknya, kita tidak jadi piknik di Taman Srigunting, namun langsung meninggalkan lokasi untuk hunting makan di tempat lain. J
Sampai bertemu di event TWEEDRIDE kedua teman-teman. J


GG 14.08 21/10/2014
N.B.:
Waktu kita makan di sebuah warung Bakmi Jowo, kita menarik perhatian orang. Ternyata karena kita "dressed-up" dan kita naik sepeda! Ketika aku jawab, "Ini dalam rangka kampanye menggunakan sepeda sebagai alat transportasi sehari-hari, misal berangkat bekerja." Satu orang yang bertanya kemudian merespons, "Oh, seperti Jokowi itu ya?" NAH!