Sabtu, 22 November 2014

Alasan ngeles berb2w :)


Ada banyak alasan yang dipakai orang untuk tidak bersepeda ke tempat kerja. Misal: harus mengantar anak ke sekolah atau istri ke kantor, pekerjaannya mengharuskannya keliling kota sehingga tidak praktis jika naik sepeda. Ini di luar alasan lain, misal tidak praktis karena harus membawa baju ganti dan sesampai kantor ganti baju kerja, dll.

Di tulisan tentang tiga mitos bersepeda di Jakarta, Om Gatot menyebut 3 hal


  1. Kondisi jalan raya (Jakarta) yang tidak ramah sepeda
  2. Polusi
  3. Tak ada kamar mandi dan tempat ganti baju
Kau boleh percaya maupun tidak di facebook aku punya teman yang begitu apriori dengan kegiatan bersepeda ke tempat kerja karena dia YAKIN SEYAKIN-YAKINNYA bahwa jalan raya (di Indonesia) begitu tidak ramah kepada para pesepeda sehingga yang memutuskan melakukan kegiatan b2w itu hampir sama dengan bunuh diri. :D (Dia juga bersepeda sih, namun 'hanya' untuk hobi saja, dan tentu melakukannya di jalan-jalan tertentu.) Tidak hanya karena para pengendara kendaraan bermotor yang tidak peduli dengan para pesepeda, namun juga karena polusi udara tentunya.

Dia bilang dia ga keberatan bersepeda ke tempat beraktifitas ASAL pemerintah membenahi dahulu sarana dan prasarana di jalan raya sehingga membuat para pesepeda merasa lebih nyaman di jalan raya. (Misal menyediakan jalur sepeda yang benar-benar terpisah dari jalur untuk kendaraan bermotor, seperti jalan-jalan di beberapa negara Eropa. Tidak hanya jalur sepeda seperti di beberapa kota di Indonesia yang tetap saja tidak menjamin keselamatan pesepeda. Bahkan jalur sepeda itu malah digunakan untuk tempat parkir.) Kalau engga, ya ogah lah :)

lajur sepeda di jalan Jend. Sudirman Purwokerto

Berbicara tentang bersepeda dahulu atau pembenahan sarana prasarana jalan raya dahulu, seperti berbicara tentang duluan mana telur dan ayam. Menurutku. Yang mana yang lebih penting dilakukan dahulu? Pemerintah membenahi jalan raya terlebih dahulu? Mungkin pemerintah 'malah' bakal berpikir, "jangan-jangan sudah kita keluarkan biaya yang banyak untuk membangun sarana prasarana untuk pesepeda, eh, ga ada yang mau bersepeda. Jadi pemerintah mau melihat dulu dong animo pesepeda seberapa banyak. 

Di lain pihak, masyarakat mau bersepeda ke tempat kerja asal pemerintah menyediakan jalan raya yang memadai. Kalau belum ada, ya ogah lah, ngapain bersepeda? (Yang berpikir begini tentu orang kaya yang bisa memilih alat transportasi yang mereka ingini. Rakyat yang berada di lapisan akar rumput dan pilihan satu-satunya bersepeda ya ga mungkin lah perlu menunggu-nunggu dulu fasilitas untuk para pesepeda.)

Lantas apakah mereka -- rakyat yang hanya punya sepeda sebagai moda transportasi -- tidak berhak memiliki fasilitas yang memudahkan mereka beraktifitas sehari-hari? 

jalur sepeda di Jalan Pandanaran Semarang

Inilah alasan utamaku untuk tetap bersepeda ke tempat kerja meski aku punya moda transportasi lain sebagai pilihan: menyemangati orang lain jangan takut / malu bersepeda ke tempat kerja. Asal kita hati-hati waktu bersepeda, misal tetap di sebelah kiri, pengalamanku selama ini sih lebih banyak pengendara kendaraan bermotor yang menghormati hak kita, ketimbang yang arogan. Ini kan juga termasuk pembelajaran pada para pengendara kendaraan bermotor untuk SHARE THE ROAD. Siapa tahu dengan semakin banyak orang berbike-to-work, pemerintah akan terketuk hatinya untuk kemudian menyediakan fasilitas yang jauh lebih memadai untuk para pesepeda. Ya, siapa tahu?

Untuk masalah udara terpolusi yang kita hirup, kita bisa menyikapinya dengan mengenakan masker atau buff.  Satu kali pernah aku mendengar omongan seorang dokter yang mengatakan bahwa ketika kita bersepeda di jalan raya, paru-paru kita otomatis memfilter udara yang masuk. Ini jika dibandingkan dengan para pesepeda motor yang tidak melakukan kegiatan apa-apa, selain duduk manis di atas jok motor. 

Untuk alasan ketiga, semoga tidak sulit bagi para sobat sepeda untuk menemukan tempat mandi dan ganti baju, jika di kantornya tidak tersedia. (Di kantorku sendiri "hanya" ada toilet kering. But still this is much better than nothing. hohohoho ...)

Last but not least, buanglah segala alasan ngelesmu! Ayo bersepeda ke tempat kerja! 


Kamis, 20 November 2014

Kisah Bike-to-work Jumat 21 November 2014

Biasanya aku bersepeda ke kantorku yang terletak di kawasan Lapangan Gombel Golf (di tengah bukit Gombel di Jalan Gombel Lama) sekitar 2 - 3 kali dalam seminggu. Waktu mengerjakannya bervariasi, misal Senin - Rabu - Jumat; kadang Senin - Kamis - Jumat. Minggu ini agak istimewa, aku bersepeda ke kantor 4 kali seminggu, berurutan dari hari Selasa 17 November sampai Jumat 21 November 2014. Kebetulan sedang tidak malas bangun pagi nih. Hehehehe ...

FYI, beberapa bulan lalu kadang aku 'ditemani' seorang lelaki paruh baya ketika gowes. Dia tinggal di kawasan Sampangan, dia lumayan rajin gowes pagi hari, untuk berolahraga, bukan untuk berbike-to-work. Biasanya kita papasan di pertigaan RSUP Dr. Kariadi, jelang nanjak Jalan S. Parman. Namun sejak bulan Juli, pas bulan Ramadhan, aku ga pernah lihat penampakannya lagi. :) Ketika gowes bareng sampai kawasan Pasar Jatingaleh (dia biasa nanjak Gombel, lanjut hingga Tembalang), kita sambil ngobrol, namun belum pernah kita saling nanya nama masing-masing. :)

Nah, tadi pagi selepas pertigaan traffic light ujung jalan Dr. Soetomo, aku lihat seorang pesepeda menyeberang dari arah Jalan Kaligarang. Kulihat dia menggendong backpack kecil, yang membuatku berpikir bahwa dia adalah seorang bike-to-worker. :) Dia bersepeda lambat, maka dengan mudah aku melewatinya, sembari tidak lupa aku menyapanya, "Mari Om, saya duluan." Namun ternyata kemudian dia mencoba menjajariku, hingga akhirnya kita pun bercakap-cakap.

Hari ini adalah hari pertama dia mempraktikkan berbike-to-work (aku tidak tanya apa atau siapa yang 'menginspirasinya'). Biasanya sih dia bersepeda di akhir pekan, Sabtu dan Minggu. Sudah lama dia ingin bersepeda ke kantor, namun ternyata tidak mudah baginya untuk memutuskan sesegera mungkin melakukannya. Alasannya simpel: ga siap ditanyain orang-orang sekitarnya, mengapa kok tampil beda, mengapa harus bersepeda jika punya kendaraan bermotor? :))

Hari ini, Jumat 21 November 2014 adalah hari dimana dia mendapatkan hidayah itu (aw aw ... LOL). Hatinya sudah mantap untuk mencoba bersepeda ke kantor.

Dan aku sangat excited mendengar kisahnya itu. :)

Kita berpisah di Taman S. Parman (eh, betul ga ya nama taman yang terletak di 'puncak' Jalan Diponegoro itu Taman S. Parman? LOL). Aku lanjut ke Jalan S. Parman yang menuju ke Akpol, dia belok ke Jalan Kawi V. Kantornya terletak di Jalan Sriwijaya. Karena ingin 'berkeringat' dari rumahnya (yang terletak di daerah Pasadena) dia nanjak dulu ke Jalan Rinjani selepas pertigaan RSUP Dr. Kariadi, dan bukan langsung belok ke Jalan Veteran.

Semoga ga kapok bersepeda ke kantor ya Om? Sehingga akan berlanjut di minggu-minggu selanjutnya. :)

Berikut adalah foto Cleopatra di depan papan nama Sekolah dan jalan masuk menuju lapangan golf Gombel yang kujepret tadi pagi. :)




GG 11.41 21/11/2014

Jumat, 14 November 2014

ANTARA AKU, SEPEDA, DAN B2W SEMARANG

ANTARA AKU, SEPEDA, DAN B2W SEMARANG

Ada keterkaitan yang sangat kuat antara aku, sepeda, dan B2W Semarang. Ketiga hal ini tak bisa dipisah-pisahkan begitu saja. Lebay? Mungkin iya mungkin tidak. Begini penjabarannya.

Olahraga yang kugandrungi – sebelum mengenal bersepeda – adalah berenang, meski di pertengahan dekade 90-an (ssstttt ... sebelum bisa berenang LOL) aku kadang sepedaan, buat olahraga, bukan untuk berbike-to-work. Aku mulai mempraktekkan bersepeda ke tempat kerja ya setelah “kecemplung” (secara tak sengaja) dalam komunitas B2W Semarang, sejak akhir Juni 2008.

Seperti yang pernah kutulis di tulisan yang lain, pertama kali aku b2w (baca: BIKE TO WORK) aku belum punya sepeda sendiri, aku naik sepeda merek “winner” yang di tahun 1992 dikirim ke Semarang oleh kakakku yang tinggal di Cirebon. (Dia memang sudah hobi bersepeda sejak duduk di bangku SD/SMP.) Sepeda “winner” ini seangkatan dengan sepeda federal yang sekarang booming (lagi) itu. J

kesempatan pertama gowes di Jogja bersama Orenj

Lah, ngapain “latah” ikut-ikutan b2w? LOL. Lha itu tadi, tak sengaja aku “tercebur” dalam komunitas B2W Semarang, malah ikutan “membidani” kelahiran komunitas satu ini pada tanggal 26 Juni 2008. Dan karena ikut aktif dalam pembentukan komunitas B2W Semarang, masak aku ga mempraktekkan bersepeda ke tempat kerja? Itu bahasa Italianya “jarkoni” alias iso ngajar tapi ora nglakoni. (Alias ngajakin orang bersepeda ke tempat kerja, eh, dirinya sendiri ga melakukannya.)

Gabung dengan komunitas sudah. Berb2w sudah. What else? Ikutan kegiatan teman-teman yang tergabung di B2W Semarang, yang kebetulan waktu itu suka offroad-an. NAH LO. Satu hal ini tak bisa kulakukan karena sepeda “winner” ku ga layak untuk diajak blusukan ke hutan, menyusuri sungai, dll. Maka dengan berat hati aku selalu ketinggalan kereta.

pertama kali naik Orenj ke Pantai Maron, Orenj masih baru, fresh from the oven :D

Eh, ga kusangka ga kuduga karena aku selalu ketinggalan itu, beberapa teman – dikompori oleh seorang teman yang prihatin melihatku naik sepeda “winner” yang ketinggian buat tubuhku yang mungil – malah menghadiahiku sepeda merk wimcycle edisi roadchamp, yang sama mungilnya dengan tubuhku, meski bannya ya ukuran 26. Tentu dengan harapan aku pun ikutan bertualang offroad-an. J

Mungkin sepeda yang kuberi nama “Orenj” itu adalah mahar buatku di dunia sepeda, atau bahkan mahar untukku dari komunitas B2W Semarang. Semenjak itu aku bahkan tak bisa lepas dari persepedaan. Sepeda lipat yang dibelikan kakakku buat adik-adiknya agar di rumah Semarang juga ada seli bahkan memberi peluang lebih agar aku bisa melanglang hingga kota-kota lain. (Meski Orenj pun telah merambah Jogja.) Seli yang kuberi nama “Snow White” karena warnanya putih ini telah membawaku memasuki dunia bikepacking. (Big thanks to my biking soul mate, Ranz who has helped make my dream come true.) Posisi Snow White – sejak dua tahun terakhir – telah digantikan oleh Austin – sepeda yang kubeli sendiri dengan uangku sendiri, eh, kakakku juga ikutan iuran deng. LOL.

pertama kali ikut XC ke Banyumeneng
Austin waktu masih baru :)
Snow White bersama Pockie di pinggir Pantai Maron

Kebetulan waktu ultah Kom5elis kemarin aku bertemu dua senior, Om Budenk dan Om Ndaru. Ternyata mereka “bangga” denganku yang telah melanglang ke kota dan propinsi lain dengan bersepeda, tetap konsisten dengan bersepeda. Ohhh, rasanya I was soooo touched.

penampilan Om Ndaru waktu XC ke Banyumeneng Januari 2009

Tulisan ini kudedikasikan buat para senior B2W Semarang, juga untuk memperingati ultah Orenj yang keenam (tepatnya tanggal 22 November nanti), dan aku memasuki tahun ketujuh dalam praktek bersepeda ke tempat kerja.


GG 11.12 06/11/2014 

Selasa, 11 November 2014

GOWES PIKNIK KE PANTAI BANDENGAN JILID 2


Akhirnya setelah berhasil mengadakan Gowes Ceria to Kudus jilid 2, kita – B2W Semarang – berhasil mengulang kisah “Gowes Piknik ke PantaiBandengan” jilid 2. Jika  peserta GCtK jilid 2 lebih sedikit dibandingkan GCtK yang pertama, jumlah peserta gowespiknik ke Pantai Bandengan jilid 2 lebih banyak dibandingkan yang pertama. :)

Aku dan Ranz sampai di titik kumpul – di halaman depan RodaLink – sekitar pukul 05.40, telat 10 menit dari jadual yang kubuat sendiri. (maklum yah, emak-emak kalo mau pergi harus beresin urusan dapur dulu #ngeles LOL.) Disana sudah ada Om Djoko – teman gowes dari FedSemar – dan seorang teGCmannya – memperkenalkan diri sebagai Pak Tri, tinggal di Ngaliyan dan David. Setelah itu satu persatu peserta pun berdatangan,  Om Aris Hien, Tami, rombongan dari Boja, Denny dengan seorang temannya, Asrul yang juga mengajak seorang temannya, Arwin, dll. Pukul 6 aku mulai mengajak teman-teman berkumpul, berdoa bersama, berhitung (ada 24 orang), dan berfoto bersama.


foto bareng sebelum berangkat


sebagian rombongan dari Batas Kota


Pukul 06.15, kita meninggalkan lokasi. Atas kesepakatan bersama, kita memilih arah menyusuri Jalan Majapahit, belok Jalan Palebon Raya, arteri, Jalan Wolter Monginsidi, hingga nembus Jalan Kaligawe. Di Batas Kota, ada 7 orang yang bergabung dengan kita, plus satu lagi – Irfan – yang dari penampilannya sudah biasa gowes jarak jauh, meski yang paling muda. Total semua peserta ada 33 orang.

Kali ini yang menjadi voorijder mobilnya Wawan, Wawan juga menyediakan mobil pickup (disetiri oleh adiknya) yang bisa dipakai untuk loading sepeda. (Wuaahhh, I owed you a lot, buddy!) Selain dua mobil milik Wawan, Fiker juga dengan baik hati dan tidak sombong ikut mengiringi kita, karena Wawan tidak bisa mengawal kita dengan penuh. Pekerjaannya telah menunggu. Bless them!

Dengan ketidakikutsertaan Eko dan Dwi – yang loading ketika kita gowes ke Kudus 7 September lalu – “pasukan” gowes kali ini lebih cepat. Lulu yang agak keteter di belakang pun mendapatkan dorongan dari Ranz – yang seperti biasa juga mendapat tugas mendokumentasikan (fotografer gratisan. Thanks a lot ya? Muach muach) kegiatan kita kali ini.


kanan-kiri, Wawan, yayangnya, yang paling kiri Bagas, adiknya Wawan

nyempetin diri narsis di depan masjid agung Demak

rombongan penggowes di belakang voorijder

Kita sampai di alun-alun Demak sekitar pukul 08.25. Oleh Om Hien kita diajak mampir ke sebuah warung soto Kudus yang juga menyediakan nasi pindang. Tempat parkirnya memang lumayan luas, bisa menampung lebih dari 30 sepeda. Tapi sayangnya tidak semua cocok makan menu soto Kudus yang kuahnya tidak bening itu. (misal: Ranz. J) Di warung ini, bergabung Om Teguh yang berasal dari Juwana Pati. Dia mau gabung sejak dari RL, namun kita sudah meninggalkan tikum sedangkan Om Teguh masih otw ke Semarang, maka dia memutuskan untuk menunggu kita di alun-alun Demak.

Jam 09.00 kita meninggalkan tempat kita sarapan bareng ini. Kita menyempatkan diri untuk berfoto-ria di depan Masjid Agung Demak: untuk dokumentasi. Ga pake lama, kita langsung “menggeber”. Oh ya, Lulu sudah mulai loading semenjak meninggalkan warung tempat kita sarapan. Gaya sepedaan kali ini yang lebih ngebut ketimbang waktu kita gowes ke Kudus membuatnya enggan memaksa diri untuk terus mengayuh pedal sepedanya.


suwun semangkanipun Bu :)

you know who :D

Fiker galau :P


Setelah kita belok ke kiri di daerah Trengguli, kita sempat berhenti sebentar untuk menyatukan pasukan yang masih ketinggalan di belakang. Kebetulan kita berhenti tak jauh dari dua orang pedagang semangka. Ga kita sangka, mereka memberi kita semangka gratis lho. (Oh, betapa murah hati mereka!) Setelah semua bergabung, dan sebagian besar dari kita menikmati semangka gratis yang manis, kita melanjutkan perjalanan.

Kita sampai di satu mini market di daerah Welahan untuk beristirahat sekitar pukul 11.10. (Tahun 2011 dulu kita nyampe sini sekitar pukul 12.00.) Sebagian beristirahat sambil ngadem di dalam mini market. Sejuk! J Sekitar setengah jam kemudian kita melanjutkan perjalanan. Sementara itu, ternyata ga hanya Lulu yang telah loading, ada beberapa orang lain lagi yang bergantian loading. J Disini, Wawan mulai pamit karena dia harus segera ke kantornya, sehingga beberapa teman yang loading pindah ke mobil Fiker.


pit stop ketiga







Beberapa lama kemudian kita mendapat kabar bahwa di kawasan kota Jepara hujan telah turun. Wah, kita harus siap-siap nih! Kita berhenti lagi di kawasan Pecangaan, untuk menunggu mereka yang masih di belakang. Memang tidak mudah menyamakan irama mengayuh pedal, apalagi sebagian dari kita benar-benar newbie, baru kali ini ikut ‘turing’ gowes luar kota, dan tidak semua menaiki sepeda dengan spec yang sama. Sampai disini, mobil pickup harus balik ke kota Semarang karena Bagas – adik Wawan – ada keperluan sendiri. Mulai dari sini, hampir semua mulai gowes lagi, kecuali Om Teguh yang memang baru sebulan lalu tempurung dengkulnya geser ketika melakukan sesuatu. Sebagai ganti, Fiker menaiki sepeda Om Teguh, seorang teman Fiker yang kemudian menyetir mobilnya.

Untunglah beberapa kali berhenti untuk menyatukan irama kayuh dengan yang lain  justru menguntungkan: ketika kita masuk kota Jepara hujan sudah berhenti. Cuaca sangat enak untuk bersepeda! :)










Sempat kececer di jalan menuju Pantai Bandengan setelah melewati Pantai Kartini – sebagian mampir ke warung makan, ada juga yang mampir masjid untuk shalat – sebagian besar sampai di Kampung Prau (yang terletak di sebelah Pantai Bandengan) sekitar pukul 13.30. (Atas saran Fiker kita belok ke Pantai Kampung Prau, dan bukan ke Pantai Bandengan, dengan alasan: masuknya gratis. :))

Setelah masuk, acara bebas. Ada yang jalan-jalan di pinggir pantai, ada yang leyeh-leyeh di warung yang ada, sekaligus memesan makanan disana. Entah mengapa aku tidak begitu berhasrat untuk makan. Ranz yang sebenarnya lapar juga tidak ingin makan, setelah melihat menu makanan yang ditawarkan.



Fiker berganti kostum :)

Om Hien, penjaga gawang komunitas East :)
Pak Tri, Irfan, pak Priyo, Om Djoko, rombongan gowes pp kedua








Rombongan Boja pamit terlebih karena mereka akan menempuh perjalanan pulang dengan bersepeda. Kemudian Om Djoko, Pak Tri, Pak Priyo (dari Batas Kota), dan Irfan menyusul mereka. Sekitar pukul 15.00, truck yang kita pesan untuk loading telah datang. Setelah semua siap kita pun keluar dari kawasan pantai, menuju truck yang parkir di dekat pertigaan jalan masuk ke Pantai Bandengan. Butuh waktu kurang lebih 30 menit untuk loading sepeda ke atas truck. Sekitar pukul 15.30 kita meninggalkan lokasi.

Alhamdulillah perjalanan pulang lancar. Yang pertama turun tentulah rombongan Batas Kota. Aku, Ranz, Tami, David dan Arif turun menjelang masuk Kota Lama (truck belok ke arah kiri ke Jalan Dr. Cipto) sekitar pukul 18.20. Otw gowes pulang, Arif belok ke arah masjid Kauman, kita berempat melanjutkan perjalanan ke warung Bakmi Jowo Pak Dul Numani di sebelah SMA N 5. Usai makan malam (aku cukup minum satu setengah es teh), kita berempat memisahkan diri. Aku sempat mengantar Ranz sampai di depan gang kosnya.

Sekitar pukul 20.05 aku ke kos Ranz, untuk kemudian mengantarnya ke Sukun. Hujan. Dan kita cukup lama menunggu hingga ada bus datang: bus yang sarat dengan penumpang! L Terpaksa Ranz pun berdiri sampai Solo malam itu! Hadeeeh.

Anyway, perjalanan ini lumayan memorable: Sedikit menyebalkan buat Ranz yang naik BMX sedangkan sebagai fotografer dia merasa bertanggung jawab harus mendokumentasikan seluruh peserta sehingga harus bolak balik depan belakang. Sangat menyenangkan bagiku karena ternyata dengan naik Cleopatra aku tidak merasa capek sama sekali. Hohohoho ... (Seingatku selama gowes Semarang – Jepara aku tidak pernah mendapatkan kesulitan. Yang pertama kali, bulan Mei 2011 dulu, sempat merasa sedikit klenger di tanjakan terakhir, jelang masuk kota, karena tidak membawa minum di sepeda. Setelah itu, semua lancar.)

Yang membahagiakan bagiku adalah ekspresi teman-teman yang begitu puas dengan perjalanan ini, terutama para newbie yang merasa ‘grateful’ karena kita telah memberi mereka kesempatan untuk merasakan turing. When you are happy with this biking journey, buddies, I am even happier to give you this chance.

  • My utmost gratitude for Wawan and Fiker for the cars that were very helpful for all of us.
  • For all participants, of course the journey would be less memorable without you all.
  • And as always my deep indebtedness for my loving as well as loved Ranz for the impressive documentation, and everything.



GG 16.12 11/11/2014